Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 27

Si Rambut Merah Bab 27

BAB XXVII

Full Frontal

KTT G-20. Dan acara ini diselenggarakan di Indonesia, tepatnya di Srikandi Hall. Tempat ini sudah diamankan oleh pihak berwajib dalam radius 2 km. Setiap kendaraan yang keluar masuk diperiksa dengan teliti. Hingga mungkin semut yang berbaris pun tak akan luput dari pemeriksaan pula.

Kami meminta bantuan Robi sekali lagi. Kali ini ia harus memberitahukan rencana jahat Genesis kepada komandannya. Sekalipun itu sangat mustahil bagi Robi untuk bisa meyakinkan komandannya maupun menghentikan acara ini. Aku ada di dalam Srikandi Hall. Bagaimana aku bisa sampai di sana? Ceritanya panjang. Kalau diceritakan sekarang bakal membuang waktu…..

Aku bercanda.

Ceritanya singkat, aku diberikan jalan biar bisa masuk oleh Robi. Well, paling tidak sepupuku ini orangnya cukup baik. Kami dan tim sudah bersiap siaga terhadap semua kemungkinan yang akan terjadi. Dan satu hal yang tidak kami duga adalah bagaimana Genesis tiba-tiba saja bergerak nantinya. Aku dan Moon berada di balkon. Dari atas kami bisa melihat bagaimana pers sudah dipersiapkan di sana. Dari luar gedung saja aku bisa melihat tank-tank besar.

Setelah Presiden RI menyambut para undangan, konferensi pun dimulai. Para pemimpin dunia itu mulai berbicara tentang masalah perekonomian, ancaman kekurangan pangan global dan lain-lain. Aku sendiri sampai bosan dan mengantuk mendengarkannya. So far keadaan aman terkendali.

“Ini aneh, kenapa aman-aman saja ya?” gumamku.

“Kau benar, ini terlalu aneh. Seharusnya sekarang ini waktu yang tepat bagi Genesis untuk bertindak karena seluruh para pemimpin sudah ada di sini,” kata Moon.

Bahkan sampai jam makan siang pun tak ada yang aneh. Makan siang juga di selenggarakan di Srikandi Hall ini. Aku jadi lapar melihat mereka makan. Dan sesaat setelah para pemimpin itu makan tiba-tiba salah satu dari mereka terjatuh, Bruk! lalu di sambung yang lainnya. Satu per satu mereka semuanya jatuh. Apa ini?

“Moon?!” kataku.

“Aku tahu, tunggu jangan gegabah!” kata Moon. “Everyone stand by! They’re moving.”

Dan tiba-tiba dari belakang ruangan muncul sesosok orang yang sangat kita kenal. Suni. Dari arah lain dengan kelebatan seperti kabut muncul yang lainya, Lucifer. Dan para tentara langsung menodongkan senjata ke arah para wartawan. Merampas kamera-kamera mereka. Tidak, mereka bukan tentara biasa, mereka anak buah Suni.

“Kawan, tampaknya aneh. Kenapa para prajurit di luar Srikandi Hall tenang-tenang saja?” seru Mas Faiz di codec.

“Fuck!” kata Moon.

“What’s wrong Moon?” tanya An Li di codec.

“Tentu saja, mereka semua adalah anak buah Genesis! Pantas saja. That’s why!” kata Moon.

“Oh, jadi itu sebabnya para prajurit itu adem ayem saja?? Pantas!” kataku.

“Go Everyone! Move!” kata Moon.

Aku dan Moon segera berlari menuruni tangga. Well, si Jung Ji Moon ini sangat seksi dengan baju tempurnya. Full press body. Kedua pinggangnya ada dua pistol yang siap digunakan. Di bootnya ada pisau dan di punggungnya ada samurai. Dia benar-benar bad-ass. Aku juga diberi baju yang paling tidak cocok untuk pria. Aku langsung mempersiapkan pistol Glock milikku.

“Hiro, ini saatnya perang. Siapapun tentara yang ada di tempat ini adalah musuh. Habisi mereka!” katanya. “Hari ini kita Full Frontal. Wilayah ini ternyata sudah dikuasai musuh.”

“Aku sudah berhadapan dengan mereka,” suara Mas Faiz di codec. Dia pasti beraksi lagi dengan baju hyper suitnya. “Ingat, sisakan Lucifer, dia bagianku!”

Kami berdua sudah turun ke lantai pertama. Ketika ada dua tentara yang melihat kami, tak tanggung-tanggung Moon langsung menembak keduanya. DOR! DOR! Fuuck! Begini ya cara dia menghabisi lawan? Entah aku bisa apa nggak. Persetan! Ayo!

Mendengar suara tembakan tentu saja tentara-tentara dan pasukan elit yang mengamankan KTT G-20 itu kebingungan. Moon dan aku segera masuk ke Srikandi Hall dan menembaki siapa saja yang memakai atribut seorang prajurit.

Perang pun tak bisa dielakkan. Sembari kami menembaki mereka, aku dan Moon dihujani peluru M-16. Tiba-tiba beberapa prajurit tertembak.

“Come on guys! We cover you!” suara salah satu temannya Moon di codec. Dia pasti menggunakan sniper rifle.

“Thanks Won!” kata Moon.

DUARR! Terdengar suara ledakan di luar gedung, juga rentetan senjata.

Aku dan Moon terus berjuang melumpuhkan prajurit demi prajurit. Aku tak banyak menceritakan aksiku, karena yang jelas aku tidak mahir dalam pertempuran menggunakan senjata seperti ini. Yang jelas aku masih ingat bagaimana Moon mengajariku. Dua kali tembakan setiap menembak. Kami hampir mendekati ruang tempat para pemimpin dunia itu menikmati makanan yang diberi obat bius.

Moon bergerak dengan lincah. Dialah yang paling banyak menembak musuh dan melumpuhkannya. Dia menggunakan dua pistol di tangannya. Keren, mirip banget seperti adegan Lara Croft menembaki musuhnya. Saat pelurunya dan magazinenya habis, dia membuang pistol itu dan berpindah ke pedang. Satu hal yang aku kagumi lagi dengan pedang dia juga sama bad-assnya. Aku pun benar-benar kagum kepadanya. Dia menyabet musuh-musuhnya, bahkan peluru bisa dia tangkis dengan pedang. Wait…what?? Tapi nggak semua sih, dia lebih banyak menghindar karena refleknya bagus.

“Bantuan datang, Robi dengan teman-temannya,” ujar Mas Faiz di codec. “Aku akan langsung ke Srikandi Hall.”

Kami pun sampai di tempat yang dituju. Kami melihat Suni dan Lucifer sedang memasangi alat ke kepala para pemimpin itu. Suni menoleh ke arah kami. Belum sempat kami bertindak, tiba-tiba Lucifer sudah ada di dekat kami dan Moon ambruk ke lantai. Tangan dan kakinya terikat secara tiba-tiba. Bagaimana mungkin? Dan dalam sekejap mata aku sudah melihat Lucifer ada di dekat Suni lagi sambil membawa pedang milik Suni.

Wajah Suni ada perubahan. Dari pipi sampai telinganya ada luka jahitan. Itu bekas luka yang dibuat oleh Moon terakhir kali. Dan itulah yang membuat Suni menjatuhkan M-Tech portablenya waktu itu.

“Well, well, what we’ve got here,” kata Suni dengan wajahnya yang mengerikan itu.

“The fuck! Let me go!” kata Moon.

“Moon!” aku segera menolong Moon, tapi sepertinya tali itu sulit dilepaskan. Seperti tali yang terbuat dari plastik untuk membungkus kardus. Terlalu kuat dan tak bisa dipotong kecuali dengan gunting atau alat pemotong lainnya. Dan pedang Moon sekarang ada di tangan Lucifer.

“I dont’ know if the lovey dovey could bring this mess. But, with your reputation Moon, I’m not sureprize,” kata Suni. “But, luckyly everythings done. One more step I’ll take all this memories. Hahahaha.”

Apa yang harus aku lakukan? Ibaratnya sekarang yang ada di hadapanku ini adalah Big Boss dalam Video Game. Akhirnya aku pun melakukan tindakan bodoh.

“Hoi Suni! What if before you succeed your mission, we settle our unfinished bussines?” aku menantangnya.

“Let me take care of it!” kata Lucifer.

Tangan Suni menahannya.

“No, this is mine,” kata Suni. “So, you wanna fight with me, huh?”

Aku berdiri sekarang. Terpaksa aku menantang dia, kalau tidak…aku tak ada cara untuk mencegahnya mengambil para pemimpin dunia ini. Tapi dugaanku salah.

“Lucifer, take their memories,” kata Suni.

“What?!” gumamku.

“You think, you can stop me? No way kid,” kata Suni.

Baiklah, setidaknya rencana full frontal ini sudah kacau lebih dulu.

NARASI FAIZ Jr.

Aku galau hari ini. Devita aku titipkan kepada ayah dan ibuku. Dia tak ikut misi ini karena kondisinya masih lemah. Tapi dia akan membantu An Li sebagai operator. Kami sudah melakukan persiapan matang dari rencana bagaimana masuk, posisi sniper dan lain-lain. Aku hanya punya satu rencana. Full Frontal. Posisiku harus dekat dengan gedung Srikandi Hall. Aku juga meminta Robi untuk melaporkan hal ini ke komandannya. Karena KTT G-20 akan digagalkan oleh teroris.

“Everybody, Let us pray!” kata Moon memimpin kami. Dia adalah pemimpin dalam misi ini. “I hope the best for the world. We don’t know if we will live after this or not. But, we had a hope, we had guts. And that’s why we are here.”

Setelah beberapa saat berdo’a kami pun sudah siap menuju pos masing-masing. Aku dan Hiro menemui ayah dan Ibu dulu. Tampak di rumah ada Bunda Iskha juga. Eh, ada Bunda Vira juga. Ini kenapa semuanya ngumpul gini sih? Jadi melankolis banget.

“Ayah, ibu, aku berangkat. Titip Dede ya!?” kataku.

“Go on my boy!” ayah memelukku. Ibu juga memelukku.

“Kamu nggak harus melakukan ini nak,” kata ibu.

“Tapi aku harus bu, tak ada cara lain. Aku satu-satunya yang punya kekuatan ini,” aku menunjukkan gelangku ke ibuku. Gelang Hyper Suit. Wajah ibuku menunjukkan kesedihan. “Ibu jangan bersedih. Aku bersama Hiro, ada Moon dan teman-temannya juga.”

“Iya, tapi ibu tetep khawatir!” kata ibuku makin memelukku dengan erat.

“Sudah, Junior nggak akan kenapa-napa koq. Dia bisa menjaga diri,” kata ayahku.

Ibu tampak menangis.

“Aku berangkat yah,” kata Hiro. Ayah juga memeluknya.

“Junior, jaga Hiro!” kata ayahku.

“OK dad,” kataku.

Bunda Iskha sekarang yang gantian meluk Hiro. “Anak bandel! Kenapa juga kamu harus ngurusi ini? Hah?”

Hiro cuma menunduk. “Maaf bunda, sekali lagi maaf. Tapi kalau kita tidak berjuang. Siapa lagi yang bisa?”

“Janji, kamu harus pulang dengan selamat!” kata Bunda Iskha. “Bunda sedih kalau kamu sampai kenapa-napa!”

“Hiro janji!” kata adikku itu.

Kemudian kami ke Bunda Vira, “Hei, anak-anak nakal?! Kalian nggak perlu ngelakuin ini gara-gara kalian punya pasangan yang cakep-cakep. Kalian udah macho, udah keren. Kenapa juga ngelakuin hal berbahaya seperti ini sih? Bunda juga bakal kehilangan kalian nanti.”

Aku dan Hiro berpandangan sambil tersenyum.

“Sini! Sini!” Bunda Vira memeluk kami berdua. “Kalau kalian nggak pulang dengan selamat, awas ya! Bunda nggak bakal lagi do’ain kalian.”

“Kami janji,” kataku.

Hiro kemudian berbalik dan pergi menyusul Moon. Aku pun sampai di depan An Li. Heh? Koq ada dia? Aku melihat Devita di sebelahnya.

“What’s wrong with you?” kataku.

“Oh sorry,” kata An Li langsung pergi menyingkir.

Devita tertawa geli. Aku juga.

“So, kamu di sini. Sama An Li sebagai operator,” kataku.

“Yah, mau gimana lagi?” kata Devita. “Sialan, aku yang mau nangis jadi ketawa.”

“Jadi operator yang baik. Bantu aku,” kataku.

“You got me,” kata Dede. Dia lalu memelukku.

“Ayah, ibu, semua. Ini calon mantu. Jangan sampai lecet ya?!” kataku ke mereka semua.

“Iyaaaaaa!” jawab mereka.

Kami pun berpisah setelah itu.

***

Melihat persiapan dan pengamanan KTT G-20 yang sangat matang ini membuatku berpikir. Bagaimana mereka para teroris bisa menggagalkan KTT ini? Aku sudah ada di sekitar Srikandi Hall. Menyamar sebagai anak muda yang sedang jogging. Aku sudah memakai gelang Hypersuit di lengan dan kaki. Belt-nya pun sudah aku pasang. Semuanya aku sembunyikan biar tidak mencolok.

Jalan raya di sekitar tempat itu dalam radius 2 km sangat sepi. Bahkan penjual makanan keliling saja nggak ada. Aku mampir ke toko swalayan sebentar untuk membeli minuman jus sambil terus memonitor radio. Setelah membayar di kasir, aku pun segera keluar. Dan saat itulah terdengar suara Moon di codec.

“Everyone stand by! They’re moving,” kata Moon.

Mereka bergerak? Apaan para prajuritnya masih adem ayem gitu. Tapi dari sikap mereka sekalipun adem ayem, mereka siaga. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Apa yang terjadi?

“Kawan, tampaknya aneh. Kenapa para prajurit di luar Srikandi Hall tenang-tenang saja?” seruku di codec.

“Fuck!” kata Moon.

“What’s wrong Moon?” tanya An Li di codec.

“Tentu saja, mereka semua adalah anak buah Genesis! Pantas saja. That’s why!” kata Moon.

“Oh, jadi itu sebabnya para prajurit itu adem ayem saja?? Pantas!” kata Hiro.

“Go Everyone! Move!” kata Moon.

Shit! pikirku. Kenapa kita kecolongan. Tentu saja mereka biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Mereka anggotanya Genesis. Tentara kita telah disusupi Genesis! Tanpa banyak cingcong aku pun segera menekan belt-ku.

“Scanning DNA! DNA Approved!” terdengar suara khas komputer itu. Langsung kutekan tombol angka 512 yang ada di belt. Nanobot-nanobot kecil segera menyulam hyper suit. Dalam hitungan detik aku sudah berubah menjadi Black Knight. Tak lupa aku pun menutupi mukaku agar tak kelihatan. Kecepatanku melebihi kecepatan manusia normal, bahkan sekarang aku sudah berada di depan Srikandi Hall. Para prajurit tidak, prajurit Genesis langsung menembakiku. Mereka sepertinya tahu siapa aku.

Dengan kecepatan tinggi aku melumpuhkan mereka satu per satu. Salah seorang dari mereka melemparkan granat. Aku menendang granatnya hingga kembali ke arah mereka dan DUARRR! Tak ada satu pun peluru yang bisa menembusku. Tentu saja keributan ini langsung memancing para tentara yang lain.

Aku bisa dengar teriakan orang-orang yang panik. Aku makin mendekati Srikandi Hall, saat itulah ada bantuan. Sebuah helikopter menembaki tank-tank yang ada di depan Srikandi Hall.

“Mas Faiz, ini aku Robi. Bantuan datang! Komandan mengetahui ada yang tidak beres dengan para tentara ini. Mereka tidak terdaftar dalam pasukan!” kata Robi di radioku.

“Thank’s. Aku akan masuk Srikandi Hall,” kataku.

“Serahkan semuanya kepada kami! Pasukan Kopasus sudah datang!” katanya.

“Bantuan datang, Robi dengan teman-temannya,” ujarku di codec. “Aku akan langsung ke Srikandi Hall.”

Dengan langkah cepat aku sudah berada di pintu Srikandi Hall. Di mana mereka? Aku melihat mayat-mayat bergelimpangan di dalam Hall ini. Hingga aku sampai di tempat di mana kulihat Moon terbaring di lantai terikat dan Hiro juga terbaring di sana. Tampak Suni dengan luka jahit di pipinya menoleh ke arahku.

“Well, well, what we’ve got here? Another man on suit?” katanya.

“Hiro?! Hiro?! Kamu tak apa-apa?” tanyaku.

“Terlambat kak, mereka sudah dapatkan memory-memory dari para pemimpin itu!” kata Hiro. Ia masih meringis menahan perutnya yang sakit. “Tapi tenang saja, M-Tech portablenya ada di Lucifer. Dia yang membawanya. Ambil alat itu dan kita bisa mengembalikan memory mereka masing-masing!”

“Kamu bisa berdiri?” tanyaku sambil membantu Hiro. Hiro dengan susah payah berdiri.

Aku mengambil pisau di sepatunya Moon, lalu melepaskan ikatannya. Moon segera berdiri. Baiklah tiga sekawan sudah siap menghadapi mereka sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*