Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 26

Si Rambut Merah Bab 26

BAB XXVI

There is Light Called A Hope

NARASI FAIZ Jr.

Berita pecah Penjara Federal dibobol dan Dr. Edward dibawa lari. Keberadaannya sekarang tidak diketahui. Siapa yang berada di balik ini pun tidak tahu. Dan yang lebih mengejutkan adalah fotoku dengan Hyper Suit terpampang di mana-mana. Dianggap sebagai “The Messenger of Devil”. What the hell?

Dan satu lagi, Hiro benar-benar terkesima dengan bajuku ia bahkan merengek kepada Profesor Andy untuk dibuatkan satu. Tapi sayang bajunya memang cuma satu. Dan aku selalu berkata “In your dreams!” kepadanya.

“Hirooo! Kalau mainan jangan ngotori halaman!” teriak ibuku. “Itu bersihin papan dan kayu-kayunya! Kotor tauk!”

“Oh iya, iya bunda Putri!” kata Hiro.

Sudah dua hari ini kami di rumah. Kami sudah bersiap untuk misi selanjutnya. Yaitu ke konferensi tingkat tinggi G-20 yang akan diselenggarakan di Indonesia, lebih tepatnya di Jakarta. Sampai saat ini FBI kebingungan tentang siapa yang bertanggung jawab atas ini semua. Tapi kami nanti punya rencana khusus untuk itu. Saat ini yang ingin kami lakukan adalah bagaimana caranya untuk menggagalkan rencana genesis mengambil memory para pemimpin dunia itu. Tapi aku ada urusan lain selain itu.

Dr. Edward ada di rumahku. Dia memakai komputerku dan seluruh akses ke server M-Tech. Sebuah Hard Disk portable telah disiapkan. Dia mendownload semua data yang ada di server M-Tech.

“Walaupun datanya dihapus, aku masih bisa merecovery S-Formula. Permasalahannya tinggal menunggu ayahmu memberikan kepada kita M-Tech portablenya,” kata Dr. Edward.

“Jadi, setelah ini Devita bisa bangun lagi?” tanyaku.

“Kuharap, kita semua ingin yang terbaik bukan?” Dr. Edward tersenyum kepadaku.

Aku masih berada di dekat Devita sampai sekarang. Kubelai rambutnya. Dia kelihatan kurus karena tidak pernah makan dan hanya menerima nutrisi dari infus. Dia masih koma sampai sekarang.

NARASI MOON

Sudah lama tidak berada dalam satu misi. Tubuhku rasanya masih kaki untuk bergerak. Turun dari parasut saja sampai pegal-pegal. Untunglah An Li membantuku memijat pundakku.

“Aku tak menyangka kamu bisa sampai seperti ini,” kata An Li.

“Kamu tahu aku tidak suka dengan pusat yang tiba-tiba membatalkan misinya,” kataku.

“Mau bagaimana lagi S-Formula sudah di tangan mereka. Aku tak tahu juga kalau tiba-tiba mereka punya rencana jahat kepada para pemimpin dunia,” kata An Li. “Bagaimana kalau kita sebarkan saja hal ini kepada mereka? Pasti mereka akan menggagalkan KTT itu sehingga rencana Genesis gagal bukan?”

“Siapa yang bilang? Aku? Atau kau? Apa kamu tidak sadar? Aku dibuang dari NIS! Dan kamu, kamu ke sini hanya ambil cuti. Dan kamu bukan orang berpengaruh di NIS. Kamu mau bikin gara-gara dengan beberapa negara sekaligus? Lagipula aku yakin adanya KTT G-20 di Indonesia ini sangat penting,” kataku.

An Li menghentikan pijatannya, “Kamu benar. Arghh..kenapa keadaan semakin rumit?”

“Satu-satunya jalan kita harus menggagalkan rencana Genesis tepat pada hari itu. Tak ada cara lain,” kataku.

“Aku akan tanya kepada komandan, siapa tahu dia akan membantu kita,” kata An Li.

“Kita punya harapan lain, Devita. Kalau Dr. Edward berhasil dengan S-Formula yang baru dan mengembalikan kesadarannya, maka kita akan dapat bantuan dari BIN,” kataku.

Aku melihat Hiro tampak sedang membawa kayu-kayu yang hancur. Balok-balok kayu itu kemudian diletakkannya di halaman belakang. Jumlahnya cukup banyak sehingga terlihat menggunung. Sepertinya ada sesuatu yang berbeda dari Hiro. Aku bisa merasakannya. Perban yang membalut tangannya itu tampak kelihatan lusuh. Dia pasti baru saja melakukan menu latihannya hari ini. Dia terlihat lebih kuat daripada biasanya. Dia menoleh ke arahku. Dia melambaikan tangannya dan tersenyum. Lalu kembali lagi ke halaman depan.

“Aku heran, bagaimana dia bisa jadi pacarmu?” tanya An Li.

“Kenapa memangnya?”

“Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan kalian.”

“Iya, memang terjadi sesuatu.”

“Moon, aku takut kamu hanya jadikan Hiro sebagai pelarian saja. Dia masih remaja, pikirannya masih labil. Takutku nanti ia akan kecewa. Apalagi kamu tahu kan bagaimana tugasmu?”

“Aku akan pensiun.”

“Hah? Kamu serius?”

“Entahlah, aku sudah cocok sama Hiro. Aku akan melakukan apa saja untuk itu.”

“Ayolah Moon, tak semudah itu kamu mengundurkan diri. Kamu tahu itu.”

Aku tahu itu. Aku pun bingung. Setelah misi ini selesai, apakah aku masih bertemu dengan Hiro ataukah tidak. Hiro….

***

Aku berkumpul dengan semuanya di ruang tengah. Hari ini ibunya Faiz masak besar, karena kedatangan tamu yang lumayan banyak. Masakan Indonesia cukup enak rupanya. Aku tak pernah tahu tentang kuliner Indonesia, jadi ini pertama kalinya aku makan gulai dan rendang. Masakan bersantan, plus daging sapi dan kambing. Rasanya cukup enak. Ini adalah pertama kalinya aku makan masakan ini.

“Enak?” tanya Hiro ketika duduk di dekatku sambil membawa piring berisi daging kambing.

“Enak sekali, kalau tahu masakan kalian seperti ini aku sudah pindah ke negara ini sekal dulu,” ujarku.

“Hahahaha, masih banyak yang lebih enak lagi. Tapi masakan kambing macam ini bikin kolesterol. Kamu tak khawatir dengan berat badanmu kan?”

“Tak masalah, aku lebih banyak gerak daripada diam.”

“True, aku bisa lihat itu. Oh ya, satu lagi. Boleh aku bisikkan sesuatu?”

“What?”

Hiro membisikkan ke telingaku, “Kambing juga bikin libido orang naik.”

Tiba-tiba aku menghentikan kunyahanku. Ia nyengir kepadaku. “Sungguh?” tanyaku.

“Katanya sih begitu,” katanya.

“Yah, kita lihat saja nanti,” kataku cekikikan.

Dia menatapku penuh arti. Tapi kemudian aku cubit pinggangnya, “Ntar yah, kalau misi selesai.”

“OK,” katanya.

Semenjak Hiro sering berlatih. Ketahanan tubuhnya tinggi. Dia juga selain tubuhnya makin kuat, juga kuat di “yang lain”. Terus terang aku termasuk wanita yang kuat. Dulu ketika dengan Suni, aku kuat mengimbangi Suni, tapi dengan Hiro aku sama sekali diKO olehnya. Dia masih muda, tapi tenaganya luar biasa. Tapi aku suka dengan pria seperti ini.

Setelah makan malam, Dr. Edward memberitahukan sesuatu kepada kami.

“Kita bisa mulai?” tanyanya.

Faiz mendorong ranjang yang ditempati oleh Devita ke ruang tengah. Inilah saat-saat yang ditunggu. Bertepatan dengan itu Faiz Hendrajaya datang. Dia langsung memberikan M-Tech Portable ke Dr.Edward.

“Ini milik Suni yang terjatuh waktu itu,” kata Tuan Hendrajaya.

Dr. Edward kemudian memakai laptopnya. Dia memeriksa alat itu. Dia mencatat nomor-nomor tertentu dan dengan beberapa ketikan ia mendapatkan data-data di monitornya. Dr. Edward kemudian memasangkan sebuah alat ke kepala Devita. Alat yang sama digunakan oleh Suni dan Lucifer ketika itu. Alat itu dihubungkan dengan kabel ke sebuah Hard Disk portable, seperti kabel firewire atau semacamnya.

“Aku tidak yakin tapi kita harus coba. M-Tech portable ini punya ID dan setiap ID-nya akan membuat log yang tersimpan di server. Dari log inilah aku bisa mengurai rekaman angka biner yang lewat melalui alat ini ketika memory Devita ditransfer ke Jung Ji Moon. Dan sekarang di server M-Tech, aku telah mengekstrak data sebanyak 320 Terabyte. Dan aku akan mengirimkan data itu untuk menjadi memory Devita dengan memalui M-Tech portable ini,” jelas Dr. Edward.

“Lakukan Doc,” kata Faiz junior.

“Baiklah, berdo’alah sekarang,” kata Dr. Edward. Jarinya sebentar lagi akan menekan tombol enter dan……..CTAK!

“There is light. It called hope!” kata kakaknya Hiro. “Let’s us pray.”

Selama beberapa detik tak ada reaksi. Program telah berjalan. Aku melihat di layar laptop Dr. Edward tampak ada sebuah status bar yang sedang berjalan. Statusnya sekarang sudah 10% dan terus berjalan. Kami semua berharap-harap cemas. Dan….sesuatu bereaksi. Devita menggeliat.

“Aaarrhhh…..!” jeritnya.

“Dede! Dede?!” panggil Faiz.

Makin lama, tubuh Devita gemetar dan matanya langsung terbuka, tapi tatapannya kosong. Tubuhnya menggeliat, ranjangnya sampai bergetar. Ia seperti orang yang terkena serangan epilepsi.

“Pegangi tubuhnya!” kata Dr. Edward.

Aku kemudian membantu Faiz memegangi Devita. Aku merasakan bagaimana rasanya ketika otak kita dialiri aliran listrik seperti itu. Kepala seperti dipaksa dijejali oleh balok beton yang keras, sampai kepala serasa meledak. Devita menjerit lagi.

“Faiizzz….faiiiizzz…Faiiiiiiiiiiiizz!” Devita menjerit sambil memanggil nama kekasihnya.

Faiz memegangi tangan Devita. Hingga gemetarnya hilang. Aku melihat di status bar laptopnya Dr. Edward sudah 100% dan muncul tulisan Complete. Devita sudah tenang. Matanya terpejam.

“Dede?” panggil Faiz.

Devita sedikit demi sedikit membuka matanya. Dia tampaknya keheranan.

“Aku di mana?” tanyanya.

Dr. Edward melepaskan alat di kepala Devita. Devita kubantu untuk duduk. Dia melihat Faiz. Lalu menoleh kepadaku.

“Bagaimana S-Formulanya??” tanya Devita.

Aku langsung memeluknya. “Welcome back Dev, Welcome back!”

“Hei, actually what’s going on? Terakhir kali kita berada di M-Tech Building bukan?” kata Devita kebingungan.

Faiz mencium kening Devita, “It’s no problem Dede. Everything its gona be okay.”

“So, it’s worked!” kata Dr. Edward. “This is the answer.”

Tuan Hendrajaya menepuk pundak Faiz, “Well done son, well done. Hai Devita?!”

Devita menoleh ke arah Tuan Hendrajaya, “Anda, Pak Hendrajaya? Ayahnya Faiz??”

“Iya, bagaimana keadaanmu?” tanya Tuan Hendrajaya.

“Agak bingung,” jawab Devita.

“Kamu penasaran dengan ayahku kan? Sekarang dia ada di hadapanmu,” kata Faiz junior.

“Iya, aku bisa tahu kenapa kamu mengidolakan dia,” kata Devita.

“Trus Dev, katanya kamu kepengen jadi menantunya,” kataku.

“Heh? Tahu dari mana? Eh…,” Devita menoleh ke Faiz junior. Faiz junior mengangkat bahunya. “Kamu tahu dari mana?”

“Jadi saudara-saudara, Devita ini dulu ketika Faiz pergi dia berkata gini, ‘Faiizz. I Love You! Jangan pernah lupain Dede, nanti kalau kita ketemu lagi nikahin Dede yaaaaa?'”, aku menirukan gaya Devita ketika kecil dulu.

Aku dicubit oleh Devita, “Apaan sih? Darimana kamu tahu?”

Semua orang kemudian tertawa. Devita masih kebingungan darimana aku tahu masa lalunya. Paling tidak, sekarang memorynya telah kembali. Dan dia tidak akan ingat lagi terhadap apa yang dia lakukan ketika menjadi aku.

NARASI FAIZ Jr.

Aku senang, harapanku terkabul. Devita telah sadar lagi. Melihat nafsu makan Devita yang besar, membuatku lebih senang lagi. Aku hanya melihatnya makan saja hari ini sudah membuatku kenyang.

“Ngapain lihat-lihat terus?” tanya Devita.

“Seneng aja,” jawabku.

“Ih, kaya’ udah lama nggak lihat aku,” kata Devita.

“Hai, mas bro!” Susan datang ke meja makan sambil menyapa kami.

“Hai Susan. Dede, ini Susan sepupuku. Ketika kamu koma dia membantuku menjagamu,” kataku.

“Hai Susan,” sapa Devita.

“Wah, aku iri sama mbak,” kata Susan.

“Iri kenapa?”

“Tahu nggak mbak? Kalau hampir tiap malam Mas Faiz ini nemenin mbak sampe pagi. So sweet ya punya cowok kaya’ Mas Faiz.”

“Ah, Susan. Sana sanah!” aku mengusirnya.

“Hihihihi…ciieee, yang malu-malu,” Susan lalu menyingkir sambil cekikikan.

Muka Devita memerah, “Beneran kamu ngelakuin itu?”

“Nggak, ah. Jangan dipikirkan,” kataku. “Makannya dilanjutin aja, kamu sudah tiga minggu nggak makan.”

“Jadi…kamu ngambil kesempatan dong pas aku koma.”

“Maksudnya?”

“Kan kamu juga perlu gantiin bajuku, menyeka tubuhku dan lain-lain….” wajah Devita tambah memerah.

“Jadi, kamu nggak suka aku gantiin baju, menyeka tubuhmu dan lain-lain?”

“Nggak koq…”

Devita berhenti makan.

“Aku suapin ya?”

Dia menggeleng.

“Trus?”

“Temanilah aku malam ini. Aku sangat merindukanmu,” Devita menggenggam tanganku.

“Aku juga, sangat merindukanmu,” kataku. Aku lalu beranjak dan berlutut di hadapannya.

“Faiz, ngapain?”

“Dede, sebenarnya aku tak tega meninggalkanmu sendiri waktu itu. Saat terakhir engkau memelukku, saat terakhir kali waktu kamu menciumku waktu itu, aku sadari satu hal. Seharusnya aku memelukmu dan tak kulepas lagi saat itu. Seharusnya aku menciummu lebih lama lagi waktu itu. Selama aku berpisah denganmu aku tak pernah melepaskan bayangan wajahku dari dalam hatiku. Dan ketika bertemu denganmu aku tahu satu hal. Bahwa aku sangat mencintaimu. Tahukah kamu? Aku juga merindukanmu saat ini. Ketika kamu koma kemarin, serasa jiwaku hilang saat itu. Aku takut kehilanganmu. Aku takut sekali ketika nanti kamu terbangun kau tidak mengingatku lagi,” kataku sambil menggenggam erat tangannya.

“Aku tahu Faiz, aku tahu.”

“Dede, malam ini aku memintamu sesuatu. Maukah kamu menikah denganku?”

Wajah Dede makin memerah. Aku bahkan bisa melihat telinganya makin memerah.

“Dan maaf, aku nggak sempat beli cincin atau semacamnya, nggak sempat. Cincinnya besok aja yah yang penting ucapannya dulu…”

“Faiz, kamu banyak bicara!” Devita memotong pembicaraanku lalu tiba-tiba aku diciumnya. Well, itu berarti iya. “Tentu saja, aku mau. Bodoh banget sih?”

NARASI HIRO

WAAAAAAAAAAHHHHH?? Mas Faiz….anjiiiiirrrrr! Ngelamar Devita???

Baiklah, mereka berdua sebenarnya ditonton oleh ribuan pasang mata. Hahahaha, lebay. Nggak. Hampir semua penghuni rumah melihatnya. Ayah, Moon, Susan dan orang-orang Korea itu, Dr. Edward, sampai bunda Putri juga melihat itu. Mereka tak menyangka aja ada tontonan bioskop di sini. Yang pertama mengajak nonton itu Susan. Pertama menggeretku, lalu ayah, bunda Putri akhirnya yang lain ikut-ikut melihat.

“Kamu lihat? Cara dia melamar Dede mirip cara kamu melamar Iskha,” bisik bunda Putri ke ayah.

“Oh..iya, aku ingat,” kata Bunda Putri.

“Aku nggak seberuntung Iskha, andai kamu melakukannya kepadaku,” bisik Bunda Putri sambil bersandar di lengan ayah.

“Ayah, serius?” bisikku.

Ayah dan Bunda Putri menoleh ke arahku. Kompak banget nolehnya sampai-sampai aku nggak berani mau bertanya lagi.

“Kalau kamu besok nggak ngelamar aku dengan cara yang lebih daripada ini, aku nggak bakal sudi menikah denganmu,” bisik Moon.

Waduh? Aku kaget ketika Moon berbisik di telingaku. Aku langsung menoleh ke arahnya. Ia menjulurkan lidahnya. Arrghhh…koq begini siihh??? Aku menghela nafas. Aku bukan orang yang seromantis itu.

BUAAK! Punggungku dipukul dengan keras oleh Moon, “Aku cuma bercanda jangan dianggap serius!” kata-katanya keras sekali. Sampai-sampai semua orang menoleh ke arahku. Bahkan Mas Faiz yang baru saja melamar Devita juga menoleh ke arah kami. Moon, langsung menutup mulutnya. Aku meringis kesakitan.

Devita menutupi mukanya. Ia makin malu ketika melihat kami.

Bunda Putri langsung menuju ke mereka berdua. Mas Faiz berdiri. Bunda Putri langsung merangkul Devita agar tak malu-malu lagi.

“Iiihh…anak ibu ini, kaya’ nggak ada waktu lain aja. Kan Dede barusan bangun koq udah ditodong minta kawin??” kata Bunda Putri sambil mencubit lengannya Mas Faiz. “Tuh, jadi merah gini mukanya mau meledak aja. Duuhh…Dede, kamu udah gedhe ya sekarang. Padahal budhe kepengen ngomong banyak ama kamu ketika kamu masih koma kemarin.”

“I…iya budhe,” kata Devita.

Mas Faiz hanya nyengir saja. Orang-orang Korea teman-temannya Moon bertepuk tangan. Susan tambah gembira banget, girang sekali.

“Selamat yaaaaa kalian berdua!? Om, om kasih selamat dong!” kata Susan sambil menggeret ayah.

“Iya iya, udah dari sini aja,” kata ayah.

Malam itu setidaknya ada kebahagiaan tersendiri di antara kami. Ayah berbincang-bincang dengan Mas Faiz, Bunda Putri dan Devita. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku pergi keluar ke halaman. Menghirup udara. Sebentar lagi, misi untuk menyelamatkan dunia di mulai.

Moon mengikutiku.

“Mau lihat sesuatu?” tanyanya.

“Apa?” tanyaku.

“Nih, ngomong-ngomong soal nama Iskha aku sepertinya familiar banget. Ternyata aku baru ingat Iskha seorang penyanyi legendaris itu kan? Di youtube ada videonya, ketika dia dilamar saat konser. Dan aku tak menyangka itu adalah orang tuamu,” kata Moon sambil menyodorkan ponselnya.

Aku menyaksikannya. Hei, iya itu ibu! Wah, ada yah di youtube?? Aku baru tau. Ibu baru saja konser. Dan kemudian ayah bernyanyi sebuah lagu. Aku nggak tahu liriknya, soalnya lagu Jepang. Setelah itu beliau memberikan kejutan kepada ibu, melamarnya di hadapan para fans. Hooooo….so sweet banget!

“Aku tak menyangka ayah seromantis ini ya,” kataku.

“Itulah, aku sangat heran. Ayahnya bisa seromantis ini, anaknya koq tidak?” tanya Moon.

“Aku akan melamarmu dengan cara seperti ini suatu saat nanti,” kataku.

“Yakiin??”

“Yakin,” jawabku.

“Bisaaa?” Moon menggodaku.

“Iyalah, siapa takut?”

“Baiklah, buat aku tidak akan pernah menolak lamaranmu kelak. Aku akan tunggu saat itu,” kata Moon.

“Fine. It’s a deal then.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*