Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 25

Si Rambut Merah Bab 25

BAB XXV

Prison Break

“An LIIII!” Moon langsung melompat memeluk rekan senegaranya itu. An Li ini orangnya kecil, sedikit gemuk, rambutnya keriting memakai kacamata.

“Moon, Moon! Enough!” kata An Li yang ditarik-tarik oleh Moon. “What’s wrong with you?”

“I missed you!” kata Moon.

“Yeah me too, so kiss me maybe?” kata An Li. Dia langsung ditonjok oleh Moon. “AAAAARGGGHH! What was that for?”

“Don’t do it in front of my boyfriend,” kata Moon.

“Which one?” An Li menoleh ke arah aku dan Mas Faiz.

Moon langsung mendatangiku dan memelukku. Dia lalu mencium pipiku. “Please interduce, he is Hiro and his brother Faiz. They’re son of Faiz Hendrajaya. The richest man in this country, who build M-Tech Mobile Industries.”

“Glad to met you, I’m An Li,” kata An Li sambil membungkuk, lalu menyalamiku dan Mas Faiz.

“Glad to met you too,” jawabku.

“Where is my team?” tanya Moon.

Dari luar rumah masuklah, satu, dua, tiga, lima orang. Mereka memakai baju hitam. Mereka juga sudah membawa beberapa koper dan tas ransel.

“Hello Moon,” kata salah satu dari mereka. Kemudian Moon berbicara lagi dengan bahasa Korea yang aku tak mengerti.

Moon lalu menjelaskan, “Mereka adalah agen-agen terbaik dari NIS. Dan mereka sangat dendam kepada Sunni. Kita akan menyelesaikan misi kita bersama mereka.”

Setelah itu mereka berbincang-bincang dengan bahasa korea. Karena aku tak begitu mengerti pembicaraan mereka. Maka aku habiskan hari itu untuk berlatih saja. Hari ini, aku mencoba gerakan baru dan mencoba powerku.

****

NARASI FAIZ Jr.

Ini misi Prisson Break. Itulah kode misi kita. Yang kita lakukan adalah menaruh Weaves Geometric Survilance ke dalam penjara. Caranya dengan ayah mengunjungi Dr. Edward lagi. Hari itu aku menemani ayah untuk masuk ke penjara federal. Pengamanannya berlapis. Dari pintu luar kami sudah discan. Aku melihat semua keadaan di dalam. Dari atap para penjaga pasti sudah siap menembak siapapun narapidana yang ingin keluar dari penjara ini.

Di luar ini juga dikelilingi pagar listrik. Membuat makin sulit untuk seorang narapidana lolos dari dalam penjara. Setelah itu kami masuk, pada lapis kedua. Para penjaga membuka pintunya. Aku melihat masih ada beberapa lapis lagi, tapi kami para pembesuk hanya sampai pada lapis ini. Kami berada di ruang tunggu bersama ayahku. Memang benar kata ayah, kedudukan ayah diperhatikan di dalam penjara ini. Para penjaga pun sampai menaruh hormat.

Mungkin tak ada yang curiga kenapa ayah membesuk Dr. Edward karena memang mereka dulu pernah bekerja sama. Nampaknya orang-orang FBI juga tak curiga, walaupun mereka tahu ayah sudah dua kali ke tempat ini. Entah bagaimana cara ayah sampai berhasil menemukan Dr. Edward. Aku mendengar suara bel sekali. Lalu dua kali. Sepertinya suara bel itu adalah suara pintu dibuka. Pintunya kemungkinan dikendalikan di ruang sekuriti.

Dan wajah Dr. Edward pun muncul dengan borgol di tangan dan kaki. Sipir melepaskannya di ruang besok. Kami terpisah oleh kaca anti peluru. Melihat kami Dr. Edward sedikit heran. Dia pun mengambil gagang telepon yang terhubung dengan kami. Ayah kemudian bicara.

“Good Afternoon Dr. Edward,” sapa ayah.

“Good AFternood, Mr. Hendrajaya. Why do you visit me again? What’s the matter?” tanya Dr. Edward.

“Pakai bahasa Indonesia saja,” kata ayah. Ayah lalu memberikan gagang teleponnya kepadaku.

“Hello Dr. Edward,” sapaku.

“Junior? Kamu sudah sebesar ini?”

“Ya, apa kabar Doc?” tanyaku.

“Seperti kamu lihat, setiap hari ya seperti ini. Tak ada yang membesukku,” kata Dr. Edward.

“Saya punya rencana besar hari ini.”

“Rencana apa?”

“Anda sudah tahu tentang S-Formula bukan?”

“Iya.”

“Apa ada cara untuk menolong Devita?”

Dr. Edward menggeleng.

“Bullshit, pasti ada cara untuk menolong mengembalikan memory-memorynya.”

“S-Formula sebenarnya bisa didapatkan lagi dengan data backup yang dimiliki M-Tech, tapi bukan itu masalahnya. Aku bisa saja membuat S-Formula yang baru, aku tahu semua source codenya. Permasalahannya bukan aku tahu atau bisa membuat lagi atau tidak. Permasalahannya adalah memory yang sudah dipindahkan tak bisa dipindah lagi ke tempatnya semula. Hal itu karena ketika memory-memory itu digabungkan ke dalam otak, terjadi merging. Penyatuan inilah yang membuat seseorang akan punya banyak kepribadian. Akibatnya yang dominanlah yang menang. Sedangkan pemilik memory awal dia akan seperti bayi yang baru lahir. Tak ada memory,” jelas Dr. Edward.

“Apa tak ada cara? Apakah cara kerjanya sama dengan memindahkan data dari satu komputer ke komputer yang lain?”

Dr. Edward tertawa, “Memang sebenarnya semudah itu, jadi algoritmanya merekam seluruh bentuk dari otak yang ingin dipindahkan. Seperti merekam seluruh posisi di mana memory-memory itu berada di bagian otak. Kemudian dipindahkan ke tempat otak tujuan, seperti mengirim data. Otak diibaratkan seperti Hard Disk. Kemudian otak yang sebelumnya dihapus dengan dimatikan seluruh titik-titik memorynya. Yah, semudah itu. Hanya saja, aku tidak membuat S-Formula bisa untuk copy. Hanya remove.”

“Jadi, kalau ada alat yang pernah bisa memindahkan memory itu maka…”

“Iya, maka kita bisa merekam seluruh memory yang pernah dipin…,” Dr. Edward terbelalak. Ia menatap mataku. “Apa…Apakah ada alatnya?”

“M-Tech portable. Sang pemimpin Genesis menggunakan alat itu untuk melakukan pemindahan memory dari Devita ke Moon,” kataku.

“AAAHH…itu dia! Pantas, pantas saja, mengapa mereka ngotot agar data itu disimpan di M-Tech building, jadi karena itu. Benar, benar, aku bisa, kalau seperti itu aku bisa mengembalikan memory-nya!” seru Dr. Edward. “Berarti aku cuma butuh M-Tech Portable milik mereka yang pernah dipakai untuk memindahkan memory.”

“Untuk itu, sepertinya ada. Ketika Moon menembak Suni, alat itu terjatuh, iya bukan ayah? Apa ayah menyimpannya?” tanyaku ke ayahku. Ayah mengangguk.

“Tapi, kalau memang demikian bagaimana caraku keluar dari sini? Apa ada pengacara yang bisa membuatku keluar dari tempat ini?” tanya Dr. Edward.

“Terlalu lama kalau kita harus berurusan dengan pengadilan. Dunia sedang dalam bahaya. Kalau kata Anda bahwa mereka akan mengambil memory para pemimpin dunia, maka hanya ada satu kesempatan untuk itu,” kataku.

“Apa? Satu kesempatan di mana?”

“KTT G-20, di mana seluruh pemimpin negara-negara besar akan bertemu. Itulah saat yang tepat bagi mereka untuk melakukan aksinya,” ujarku.

“KAU BENAR! That’s why. Kapan KTT itu akan diselenggarakan?”

“Kurang lebih sekitar seminggu lagi,” kataku.

“That’s worst.”

“Baiklah Doc, rencananya begini. Jam 12 malam nanti, jangan tidur di tengah tempat tidur. Tidurlah merapat ke tembok,” kataku.

“Kenapa?”

“Lakukan saja!”

“Jangan-jangan kamu…kalian…??” Dr. Edward menatap aku dan ayahku dengan wajah gemetar.

“Tenang aja, kami akan urus semuanya. Dan Doc, kami ada hadiah untukmu. Aku titipkan kepada sipir nanti. Gengam erat hadiahku itu,” kataku sambil mengedipkan mata.

Dr. Edward pun tampak gembira. Matanya sampai berkaca-kaca.

Kami kemudian pergi. Sebelum pergi aku memberikan ke sipir action figure Minions. Aku beri alasan itu dari anak Dr. Edward, dan agar diberikan ke dokter Edward. Sang sipir menerimanya dan memberikannya ke Dr. Edward tanpa curiga. Padahal alat itu berisi Weaves Geometric Devices. Alat yang akan mengirimkan gambaran visual kepada kita nantinya tentang apa yang ada di sekeliling Dr.Edward. Dr. Edward mengatakan terima kasih.

***

Malam itu kami bergerak. Aku sudah bersiap dalam radius 1 km dari depan bangunan penjara federal itu. Kelima teman Moon sudah bersiap untuk membidik para penjaga menara. Moon? Dia sedang bergelantungan di atas pesawat pribadi ayah. Dia akan terjun dari atas. Hiro? Dia adalah kartu as kami nanti.

An Li mengecek komunikasi, “Everybody check?”

“I’m sick in here,” ujar salah satu dari temannya Moon.

“I’m good,” ujar yang lain.

“Me too.”

“So tell me guys, how do you feel right now? To break maximum security prison?”

“Sky Angel ready,” itu suara Moon.

“I’m hungry,” suara Hiro.

“Black guy is ready here,” kataku.

“OK, we have a visual from WGD. All is set! OK, move!” seru An Li.

Yang pertama dilakukan adalah Moon akan turun dengan parasutnya. Pesawat yang ditumpanginya kulihat dari bawah melintas di atas kami. Kemungkinan ada pada ketinggian 30.000 kaki. Karena malam itu gelap, tak ada yang bakal tahu kalau dia akan turun dengan parasut.

“Angel down!” kata Moon di codec.

“Black Guy move,” kataku.

Aku kemudian menekan tombol segi enam di belt-ku.

“Scanning DNA! DNA approved!”

Aku kemudian menekan angka untuk mengaktifkan armornya. Dalam sekejap robot-robot kecil itu membentuk bajuku. Sekarang aku sudah terbungkus oleh Hyper Suit. Lalu kuaktifkan penutup wajahku. Dalam sekejap tubuhku sudah terbungkus semuanya.

“Prof, kau bisa dengar aku?” tanyaku.

“Sangat jelas anak muda, bagaimana rasanya?” tanya Profesor Andy di alat komunikasiku.

“Aku berasa ringan. Terima kasih prof, aku akan gunakan baju ini untuk menyelamatkan dunia,” kataku.

Dengan cepat aku sudah berlari saja. Aku bisa merasakan otot-ototku dibantu untuk bisa menggerakkan seluruh tubuhku lebih ringan. Kecepatan lariku sekarang 10 kali lebih cepat daripada biasanya. Tidak, bahkan lebih cepat.

“Here we goes, the flash is comming!” kata An Li. “Everybody stand by!”

“On my mark!” kataku.

Untuk soal hancur-menghancurkan, aku sangat suka sekali. Begitu para penjaga mengetahui ada makhluk alien aneh dengan kecepatan tinggi akan menabrak gerbang mereka yang punya ketebalan baja 5 cm, mereka langsung menembakku. Rentetan peluru aku terjang. Alarm pun berbunyi. Seluruh lampu sorot menyorot ke arahku. Aku pun mengerem lariku bersiap untuk menghantam pintu bajanya. BLAM!

Energi 10 kali tenaga gajahku menghajar gerbang baja itu hingga kedua bagiannya terpental ke dalam penjara. OK, hari ini aku benar-benar melakukan Prison Break. Prang! Prang! Prang! Prang! Empat lampu sorot hancur oleh sniper. Aku terus masuk dan berbuat onar. Aku serang para penjaga dengan tangan kosong.

“Sejauh ini aman-aman saja,” kata Profesor Andy di alat komunikasi. “Bajunya perfect.”

Dengan mudah aku menjebol teralis besi yang menghalangi. Seluruh peluru para sipir berusaha mengoyak bajuku tapi tak ada satupun yang melukaiku. Aku pun berlari cepat ke arah mereka lalu kulumpuhkan, tanpa harus kubunuh. Satu, dua, tiga, lima orang lumpuh. Aku makin masuk ke dalam. Pintu dengan kaca anti peluru aku hancurkan dengan mudah. Wooohoooo…I’m fucking awesome!

“Jangan sombong dulu nak, aku tahu kamu merasa hebat sekarang di sana,” kata Profesor Andy.

“I’m on the roof,” kata Moon.

“Don’t worry, all the guards had been take down,” kata An Li.

Tak berapa lama kemudian terdengar bunyi ledakan. Aku dengar dari radio para sipir, “May day! May day! Supermax being ambushed! We Are under attack!”

“Moon? Are you done?” tanyaku.

“Package with me! I’m ready to go. Hiro! Your turn!” kata Moon.

“Ok, honey!” ujar Hiro.

Terdengar suara bising dari langit. Yup, itu Hiro. Kami mencuri helikopter Apache. Selagi para sipir sibuk melawanku, helikopter itu sudah datang dan pilotnya? Salah satu saudara jauh kami. Namanya Robi, anak dari paman Zahir. Dia adalah salah seorang anggota Kopasus. Sengaja kami ajak karena lebih baik memanfatkan keluarga sendiri untuk urusan seperti ini.

Tak berapa lama kemudian helikopter itu mulai pergi dan memberikan ciuman terima kasih dengan memuntahkan peluru dan sebuah rudal ke bagian bangunan penjara dan beberapa bus serta mobil. Tujuannya adalah agar tak ada yang mengejar kami nantinya. Aku segera keluar dari penjara itu dari tempat aku masuk. Semua para narapidana heboh. Aku bisa dengar jeritan-jeritan mereka yang tak mengerti apa yang terjadi.

“Package safed. We are going home everyone!” kata Moon.

“Mission Acomplished!” kata An Li.

Yang lain pun bersorak-sorai. Benar-benar malam yang hebat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*