Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 24

Si Rambut Merah Bab 24

BAB XXIV

This is My Girl

NARASI HIRO

Aku dan Moon berangkat ke sekolah bersama-sama. Bedanya adalah kali ini aku naik mobil dan aku yang nyetir. Sebenarnya bukan mobilku sih, aku pinjam mobil dari Bunda Putri. Belum punya SIM padahal, alaah cuek. Bukannya nggak mau pakai sepeda lagi. Aku sesekali ingin menikmati naik mobil bersama Moon. Di sepanjang jalan aku menggenggam tangannya, seakan-akan tak mau melepaskan dirinya. Moon pun demikian. Dia tak ingin melepaskanku begitu saja.

Setelah bergulat dengan kemacetan yang luar biadab. Kami sudah sampai di sekolah. Ketika aku masuk ke sekolah dengan mobil semua murid langsung tertuju kepadaku. Terlebih aku dan Moon keluar dari mobil yang sama. Dengan langkah mantab aku pun berjalan menuju ke kelasku.

“Sebenarnya aku tak perlu bukan masuk ke sekolah,” bisik Moon.

“Sekali ini aja deh, aku tahu koq kamu sudah pernah sekolah SMA. Mengulang masa-masa sekolah kan juga tidak salah,” kataku.

“Yeah, you’re right,” kata Moon.

Tentu saja sikapku yang menggandeng Moon sampai masuk kelas membuat cemburu orang-orang. Di depan kelas aku berpapasan dengan Joshua. Dia tampak baru saja datang dengan Niken.

“Halo bro?” sapanya.

“Hai, bro!” balasku. Kamu melakukan tos dengan kepalan tangan.

“Hai, Jung Ji Moon?!” sapa Joshua.

“Hai,” balas Moon.

“Lama banget kamu nggak nongol Moon, kemana aja?” tanya Niken.

“Kencan ama Hiro,” jawabnya singkat.

Aku menoleh ke arahnya.

“Adududuh, kencan sampe tiga minggu,” Joshua ngakak.

“Masalah buat lo,” kataku.

“Ya udah deh, kudo’akan hubungan kalian langgeng sampai kakek nenek,” kata Joshua. “Jadi sudah resmi nih pacarannya?”

“Yep, she is my girlfriend,” kataku.

KRIIIINNGGGG! Suara bel masuk. Kami pun masuk ke kelas masing-masing.

Aku bahagia sekali hari itu. Bisa sekolah ditemani oleh Moon. Aku masih ingat bagaimana ia dulu mengajakku jalan-jalan, pokoknya having fun seharian dan diakhiri dengan bercinta. Ingin rasanya kembali mengulangi masa-masa itu. Kejadian itu tepat sebelum memory Devita dimasukkan ke otaknya oleh Suni.

Jam istirahat tiba. Semua murid memanfaatkan waktu mereka. Ada yang ke perpustakaan, ada yang ke kantin. Aku dan Moon? Ada di ruang senam. Iya, di ruang senam. Lebih dalam lagi, di tempat gudangnya ruang senam. Di sana ada tumpukan bola-bola, matras dan berbagai peralatan olahraga lainnya. Aku memilih tempat ini untuk….ehmm….

Akulah yang mengajak Moon. Begitu masuk ruangan ini aku segera menciumnya. Gila apa di sekolahan ML, ketahuan bisa berabe. Tapi aku tak peduli. This is my Girl. And she is right in front of me. Kami berciuman, french kiss. Lidah kami saling menjilat, saling menghisap.

“Hiroo…nanti ketahuan gimana?” tanyanya.

“Kamu suka tantangan bukan? bagaimana kalau tantangannya seperti ini?” tanyaku.

“Hhhmmhh…smoochh…mhhmm… tapi kalau ketahuan kamu bisa diskors,” jawabnya sambil sesekali kuciumi.

“Ayolah Moon, aku kangen sama kamu,” kataku.

“Aku juga, cepetan yuk,” katanya.

Moon berpegangan kepada sebuah tatakan balok senam. Ia menaikkan roknya, dan menurunkan G-Stringnya. Aku menurunkan celanaku dan langsunglah pusakaku sudah tegang. Aku benar-benar horni sejak tadi. Mungkin karena rasa cinta kami sudah saling klik. Benar kata orang, bercinta dengan orang yang dicintai itu rasanya selangit dan yang pasti kepengen gituuuu melulu. Pionku sudah kucolok-colok di lubang memeknya.

“Hiro….,” desan Moon. Ia melirikku dengan pandangan sayu.

Aku segera mendorong pantatku ke depan. BLESSS! Luar biasa. Aku memasuki lubang memeknya lagi. Ouuwwwhh….lagi-lagi lubang itu meremas-remasku. Aku diamkan menikmati sensasi remasan-remasan dari kemaluan Moon. Moon memejamkan mata, dia sedang merasakan kerasnya batangku di dalam kemaluannya. Aku pun mulai memajumundurkan pinggangku. Pantat Moon berasa sangat menggiurkan dari belakang sini. Putih dan kalau dicubit membekas kemerahan. Aku pun meremas-remasnya.

“OOohhh…Hiro…hhhmmhh,” desahnya.

“Eh…benarkah? Tapi sejak kapan ya mereka jadian???” terdengar suara ribut-ribut. Ternyata murid-murid yang baru olahraga telah selesai. Dan ruangan tempat aku bercinta dengan Moon ini bersebelahan dengan ruang ganti cewek. Aku tetap menggenjot Moon dan Moon menyumpal mulutnya agar tak bersuara.

“Hiro hari ini gandengan tangan ama Jung Ji Moon, aduuuhh…patah hatiku,” kicau salah satu cewek.

“Tapi kenapa Hiro yang macho itu jadian ama Moon? Aku tak rela. Apa cewek lokal nggak ada yang menarik sampai-sampai milih orang Korea?”

“Iyalah, kamu ama dia ya jauh cakepnya.”

“Ngomong-ngomong Hiro nolak cintanya Yunita lho, gosip gosip…lu tahu kan?”

“Wah, jadi gimana itu koq bisa nolak?”

“Katanya Hiro sudah suka lamaaaa banget ama Yunita, tapi si Yunitanya cuek-cuek aja nggak ngelihat sinyal-sinyal Hiro. Akhirnya Hiro jalan kan sama si Korea itu, ehh…Yunitanya malah baru suka ama Hiro. Terlambat kan? Akhirnya ditolak tuh. Dulu aku lihat dia dari atap sekolah sambil nangis. Ada Hiro juga di sana. Kayaknya barusan ditolak gitu cintanya.”

“Kasihan ya si Yunita. Tapi ya gitu juga sih, dia jual mahal.”

“Ya nggak bisa disalahin juga dong, Hironya juga penakut.”

“Tapi kan sekarang tidak, badannya bo’ keker. Udah kaya, badannya atletis, dan dia pinter juga kan? Trus milih Moon, ya sudah sewajarnya sih.”

“Aku dikasih adiknya aja deh nggak apa-apa.”

“Maksudmu Joshua? Dia kan udah punya gandengan ama Niken.”

“Yaaahhh…”

Aku tak mempedulikan percakapan mereka, konsentrasiku adalah pada kegiatanku dengan Moon. Aku makin lama makin mempercepat goyanganku. Moon mulai memeluk balok senam itu sambil menyumpal mulutnya. Ia menegang, mengejang. Ia orgasme sepertinya sambil menjerit tertahan. Aku pun sudah mau keluar. Aku lalu menyembur ke dalam memeknya. UUuuggghhh….Nikmat banget. Mau hamil kek, nggak masalah. Aku akan tanggung jawab koq. Lagian aku cinta mati ama gadis ini. Setelah gelombang orgasme reda aku mencabut batangku. Lalu kubenahi bajuku. Kami berciuman hot sebelum keluar dari ruang senam ini.

“Makasih Moon,” bisikku.

“Untukmu apa saja Hiro,” katanya.

Ponselku berbunyi. Dari Mas Faiz, aku angkat.

“Bro, ada kabar dari ayah. Dr. Edward ketemu,” kata Mas Faiz. “Kalau nanti sudah sekolah, segera pulang ya! Aku ceritakan nanti detailnya.”

“OK Mas,” jawabku. Setelah itu Mas Faiz menutup teleponnya.

“Ada apa?” tanya Moon.

“Dr. Edward ketemu,” jawabku.

“Oh ya? Bagus kalau begitu,” kata Moon.

“Semoga Devita bisa tertolong,” kataku.

Ketika kami kembali ke kelas, di jalan kami bertemu dengan Yunita. Yunita menatap kami berdua. Melihatku bergandengan tangan ia sepertinya menyembunyikan sakit hatinya dengan senyuman. Aku tahu hatinya sakit melihat kami. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Ini adalah pilihanku.

“Hai Hiro, Hai Moon,” sapanya.

“Hai,” jawabku.

“Selamat ya, kalian sudah jadian,” katanya. “Rasanya aku tak bakal bisa bersaing lagi. Kalau boleh…aku ingin berikan ini ke kamu Hiro.”

Aku melihat Yunita mengulurkan kepadaku sebuah gelang dari manik-manik warna-warni yang sepertinya ia buat sendiri. Ada namaku di sana. Aku menerimanya.

“Sebenarnya aku sudah lama ingin berikan ini kepadamu. Nggak apa-apa kan Moon?” tanya Yunita sambil melihat ke arah Moon. Moon mengangguk. “Kau lebih dewasa, kamu juga lebih cantik. Semoga kalian bisa bahagia sampai kakek nenek ya. Baiklah, sampai jumpa.”

Yunita kemudian pergi sambil menundukkan wajahnya.

“Kamu nggak bilang sesuatu?” tanya Moon.

“Bilang apa?” tanyaku balik.

“Anything. She must be broken heart right now,” kata Moon.

“Aku tahu. Tapi apakah aku bisa menenangkan dia dengan diriku yang sekarang ini? Satu-satunya yang bisa mengobatinya hanyalah dengan aku mencintai dirinya. Dan itu tak mungkin aku lakukan,” kataku.

Moon melihat gelang yang ada di tanganku itu. Dia tampaknya tertarik dan melihatnya. Diamatinya tulisan namaku di gelang itu.

“Sepertinya cintanya sangat mendalam kepadamu. Semoga dia mendapatkan lelaki yang baik,” kata Moon.

***

Pulang sekolah aku langsung segera pulang, nggak mampir-mampir dulu. Dan aku sudah disambut oleh ayahku dan Mas Faiz. Mereka berdua sepertinya baru saja terlibat pembicaraan serius. Melihat diriku datang dengan Moon. Suasana langsung hening.

“Ada apa?” tanyaku.

“Moon, aku ingin memberitahukan kepadamu tempat di mana Dr. Edward sekarang,” kata ayah.

“Where is it?” tanya Jung Ji Moon.

“Di supermax ADX, Penjara Federal,” jawab ayah.

“That’s worst,” kata Jung Ji Moon.

“Aku sudah menemuinya, dia didakwa membunuh dengan pembunuhan tingkat satu. Dimasukkan ke dalam sel khusus. Tidak ada yang bisa sembarangan menjenguk dia. Terpisah dengan narapidanya lain. Terkurung di dalam pintu baja lapis lima. Sepertinya hal itu sengaja dilakukan oleh seseorang,” kata ayah.

“Genesis,” gumam Moon.

“Tapi untunglah aku bisa menjenguknya, walaupun sangat alot. Dia sangat bersyukur ketika melihatku menemuinya. Dia berkata, ‘Pasti ini tentang S-Formula bukan?’ aku pun menjawab, ‘Iya, ini tentang S-Formula.’. Kemudian aku ceritakan semuanya yang terjadi. Dia tampaknya menyesal sekali. Dia berkata, ‘Seharusnya aku sudah musnahkan S-Formula itu. Sebentar lagi pasti terjadi sesuatu yang besar. S-Formula itu hanya permulaan, setelah itu mereka akan menculik para pemimpin negara di dunia dan otaknya dikosongkan. Lalu mereka akan menguasai dunia dengan cara itu. Aku tak bisa keluar dari sini. Seandainya mereka tak memfitnahku telah membunuh seseorang, aku pasti bisa menolong kalian.’ Begitu ceritanya,” sambung ayah.

“Kita butuh bantuan. Dan saya ingin Anda menjenguknya lagi kalau bisa,” ujar Moon. “Sebentar!”

Moon tiba-tiba berlari menuju kamarku. Eh, kenapa? Tak berapa lama kemudian dia kembali lagi. Dia mengambil action figured Minions kecil dari kamarku. Aku agak bingung apa maksudnya mengambil action figured itu.

“Anda bisa berikan ini ke Dr. Edward? Tenang aja, mereka tak akan mendeteksi apa yang ada di dalamnya,” kata Moon.

Ayah menerima Minions kecil itu sambil mengerutkan dahi. “Ok, trus?”

“Saatnya menghubungi rekan lama,” kata Moon. Dia mengambil ponselnya. Menekan beberapa nomor lalu menelpon seseorang. “An Li?! I need your help.”

Kemudian Moon berbicara dengan bahasa Korea. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan. Dia kemudian menutup ponselnya.

“Baiklah, saya berterima kasih banyak kepada kalian,” kata Moon sambil membungkukkan badan. Semua rambut merahnya menutupi kepalanya. Aku jatuh cinta kepada rambutnya itu.

“Sudah, sudah, tak perlu begitu Moon. It’s OK,” kata ayah.

Moon bangkit dan tersenyum. Senyumnya sangat manis. Aku lalu berdiri di sebelah Moon.

“Ayah, aku ingin bisa dengan Moon dalam misi ini,” kataku.

“Apa? Hiro, kamu masih 17 tahun. Ini bukan mainan,” kata ayahku yang agaknya terkejut.

“Aku tahu. Aku ingin bersama Moon hingga ini semua berakhir. Aku tahu kemampuanku tak bisa disamakan dengan Moon yang sudah profesional. Paling tidak aku ingin melihat dia dari dekat,” kataku.

“Hiro jangan!” kata Moon. “Belum saatnya.”

“Maksudnya?”

“Kamu belum cakap untuk yang satu ini,” kata Moon.

“Kalau menurutku biarkan saja Hiro ikut,” kata Mas Faiz.

“Junior?! Kamu tahu apa yang kamu bicarakan?” tanya ayahku.

“Aku tahu ayah, dan jangan khawatir. Aku akan menjaga Hiro nantinya. Toh dia juga adikku,” kata Mas Faiz. “Aku ingin memperlihatkan sesuatu kepada kalian semua.”

Kami semua menoleh kepada Mas Faiz. Di meja ada sebuah koper kecil. Mas Faiz membukanya. Ada empat gelang dan sebuah belt. Kami bertanya-tanya apa itu. Mas Faiz memasang keempat gelang di masing-masing tangan dan kakinya. Kemudian dia pasang beltnya. Dia menekan tombol di tengah belt tersebut. Sebuah suara terdengar.

“Scanning DNA!” terdengar seperti suara komputer. “DNA Approved!”

Mas Faiz kemudian menekan tiga buah tombol di tengah beltnya. Dan aku tak percaya terhadap apa yang aku lihat. Dari gelang dan beltnya tiba-tiba ada sesuau yang merayap. Mas Faiz mulai ditutupi oleh sesuatu berwarna hitam, bukan,…abu-abu. Tidak, warnanya lebih gelap tapi tidak terlalu hitam. Dan kemudian semua tubuhnya tertutup, kecuali kepalanya. Itu…sebuah suit! What the hell??

“Mas Faiz?! WOW!?” seruku. “KEREEEEEEENNN! Ada lagi buatku?”

“In your dreams!” kata Mas Faiz. Aku langsung cemberut.

“Apa yang kamu pakai ini?” tanya ayah.

“Ini adalah Hyper Suit. Aku bisa menjadi manusia super dengan baju ini. Ayah tak perlu khawatir,” ujar Mas Faiz.

“Bagaimana kamu mendapatkannya?” tanya ayah. “Ini bukan baju yang sembarangan dijual di Tanah Abang.”

“Betul, aku membelinya dengan seluruh sahamku yang ada di M-Tech yang ayah berikan kepadaku,” jawab Mas Faiz.

“Apa???! Kau gila Junior,” kata ayah. “Itu saham bukan sembarangan kamu buang begitu saja. Kamu sama saja menjual seperempat dari M-Tech.”

“Aku tahu. Tapi ini darurat. Ini demi keselamatan dunia. Kuharap ayah mengerti,” kata Mas Faiz.

Ayah menghela nafas panjang. “Damn it! Baiklah, lakukan apapun yang kalian ingin lakukan. Moon, aku ingin kau menjaga Hiro. Kau juga Junior!”

“Makasih ayah!” kataku.

“Dasar, generasi benar-benar telah berubah,” kata ayah. “Hati-hati kalau begitu. Jangan sampai aku membaca surat kabar anak orang terkaya di negeri ini tewas di negeri orang.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*