Home » Cerita Seks Umum » SI Rambut Merah Bab 22

SI Rambut Merah Bab 22

BAB XXII

Cahaya dari Masa Lalu

NARASI HIRO

Sudah beberapa hari ini Moon tak muncul. Aku mulai tak senang. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa Devita mulai dominan? Dan aku pun akhirnya tahu apa penyebabnya.

Siang itu aku melihat Mas Faiz sedang bercumbu dengan Moon. Aku tentu saja geram. Karena yang kutahu siang hari adalah waktunya kesadaran Moon. Langsung aku damprat mereka.

“Apa yang kalian lakukan?” kataku.

Mas Faiz langsung mendorongku. “Maaf, Hiro. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Tidak yang seperti dipikirkan bagaimana. Ini beneran koq,” kata Moon. “Moon tidak akan bangun lagi, jadi tidak ada salahnya kan aku bercumbu dengan kakakmu?”

Aku langsung maju untuk mencengkram kerah baju Moon saat itu, tapi dia terlalu gesit dan memukulku hingga aku jatuh. Keras sekali pukulannya. Tidak, masih keras Moon. Ini pukulannya Devita.

“Kamu bukan Moon, kamu Devita,” kataku.

“Kenapa kamu bisa tahu?” tanyanya.

“Karena pukulan Moon tak selembek ini,” jawabku. “Kak, panggil Dr. Hughes. Aku tak mau tubuh Moon diambil alih olehnya.”

“Trus, apa yang akan kamu lakukan? Menghapus kepribadianku? Itu sama saja dengan membunuh Devita. Apakah yakin kakakmu mau?” tanya Devita mengancamku.

Mas Faiz tak bisa menjawab.

“Mas! Kumohon, apa Mas Faiz rela membiarkan dia mengambil alih tubuh Jung Ji Moon?” tanyaku.

“Mungkin kakakmu tak bisa menjawabnya, karena servis yang kuberikan kepadanya tiap pagi,” jawabnya. “Terlalu enak ya?”

“Apa??” aku terkejut.

“Hiro, aku tak bisa melawannya. Dia Devita,” kata Mas Faiz. Aku tahu Mas Faiz tak akan tega.

“Baiklah kalau begitu, satu-satunya cara adalah aku harus membuatmu tertidur bukan? Aku akan menghajarmu!” kataku.

“Ayo mulai!” kata Devita.

Dan kami pun terlibat perkelahian hebat pagi ini. Aku berusaha menyerang Devita dengan tubuh Moon ini, tapi ia berhasil mengelak dan menangkisku. Ternyata ia cukup kuat. Bahkan aku dibantingnya berkali-kali.

“Kembalikan Moon!” kataku.

“Sudah kubilang, dia tidak mau,” katanya.

Aku pun kembali dihajarnya berkali-kali.

NARASI FAIZ jr.

Apa yang harus aku lakukan? Aku sekarang melihat Moon dengan kepribadian Devita menghajar Hiro. Hiro tak akan mungkin mampu melukai tubuh kekasihnya itu. Apa yang harus aku lakukan? Kalau misalnya Devita tak bisa dikendalikan, kepribadian Moon akan menghilang selamanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tahu bagaimana perasaannya Devita saat ini.

Kerinduannya benar-benar sudah besar. Rasa cintanya juga terlalu besar. Aku tak tahu kalau Devita bisa seperti ini. Apakah ini salahku?

Aku hanya bisa menyaksikan mereka berdua berkelahi. Hiro dengan mudah dikalahkan berkali-kali. Dan setiap kali memukul tubuh Moon, Hiro sepertinya tak ada tenaga sama sekali. Aku tahu sekarang. Hiro tak tega.

BUK! Kini pukulan itu telah mengenai wajah Moon. Tapi Devita sama sekali tak bergeming.

“Kamu sudah dilatih oleh Jung Ji Moon bukan? Seginikah pukulanmu?” tanya Devita.

“Kamu cuma beruntung saja,” kata Hiro.

“Aku tahu, kamu tidak tega menyakiti Moon bukan?” kata Devita. “Bagaimana kalau Moon tidak bangun lagi? Bagaimana kalau aku yang mengendalikan tubuh ini sekarang?”

Devita yang kukenal tidak seperti ini. Iya, dia mencitaiku. Tapi dia tidak akan menyakiti orang-orang yang aku sayangi. Bukan dengan cara seperti ini. Baiklah. Devita, kalau misalnya memorymu tidak bisa dikembalikan lagi. Maka, ayo kita bikin memory yang baru. Tanganku mengepal. Sudah cukup.

“Hentikan!” teriakku.

Hiro dan Moon pun berhenti.

“Hentikan! Sudah cukup!” kataku. “Dede, hentikan ini. Bersabarlah, aku akan menolongmu, semuanya sudah sangat dekat. Aku sudah berusaha menolongmu sekarang ini. Tinggal sedikit lagi, sedikit lagi.”

“Sayang, apa kamu tidak tahu betapa aku ingin sekali menyentuhmu? Rinduku ini sangat, sangaat dalam. Aku mencintaimu, sangaaat mencintaimu,” kata Devita.

“Tapi tidak dengan cara seperti ini. Bukan dengan cara menyakiti orang-orang yang aku sayangi. Hentikan, kalau kamu tidak berhenti. Maka aku tidak akan peduli lagi kepadamu. Aku akan menghancurkan memorymu seutuhnya. Aku akan tetap menerima dirimu sekalipun kamu tak ingat kepadaku,” kataku.

“Tidaaak! Aku tetap akan di sini. Tubuh ini sudah menerimaku, aku akan melenyapkan semua orang yang menghalangi jalanku, aku sudah berusaha agar engkau melihatku. Aku ingin memberitahumu lihatlah aku Faiz, lihatlah! Aku sudah mendapatkan cita-citaku, tapi aku tidak ingin kembali lagi ke tubuh itu. Aku ingin di sini, aku ingin di sini,” kata Devita. “Aku stress Faiz, stress. Tiap hari hanya melihatmu menatap tubuhku yang tidak berdaya. Sedangkan kamu sama sekali tak pernah menyentuhku, kalau aku tidak memaksanya. Aku juga butuh kamu, tidakkah kamu tahu betapa aku merindukanmu selama ini. Aku sangat merindukanmu.”

“Tapi tidak dengan cara seperti ini!” bentakku.

Tiba-tiba Hiro berjalan ke arahku. Pundakku di pegangnya. “Kita akan cari cara lain untuk menolong Devita. Yang jelas, aku akan membuatnya tidur terlebih dulu. Kamu hubungi Dr. Hughes!”

Aku mengangguk. Hiro lalu berbalik. Wajahnya lebam-lebam karena pukulan Devita tadi. Aku langsung mengambil ponselku dan kuhubungi Dr. Hughes.

“Devita, aku punya sebuah gerakan. Gerakan inilah yang membuat Moon jatuh. Aku tak pernah bisa menjatuhkan Moon kecuali dengan gerakan ini. Sayang waktu itu aku memakai pedang. Jadi aku akan menganggap tanganku sebagai pedang,” kata Hiro.

Hiro membuka kakinya. Tangan kanan dan tangan kirinya sejajar. Telapak tangannya dibuka, ia mengibaratkan tangannya itu adalah pedang. Devita sudah bersiap.

“Maju saja kalau kamu bisa,” kata Devita.

Hiro mengambil nafas dalam-dalam. Dia lalu maju ke arah Devita. Devita pun juga maju, ia akan memukul Hiro, tapi…Hiro berputar ke kanan. Dia seperti membawa sebuah samurai yang bersiap untuk ditebas. Devita kaget ketika tubuh Hiro sudah ada di bawahnya. Lalu BUK!

Hiro memukulkan lengannya ke perut Moon. Devita tersentak, ia tak mengira terkena body blow dari Hiro. Kemudian secara reflex Hiro langsung menangkapnya. Devita pun pingsan. Tapi, tak ada tanda-tanda Moon akan bangun.

****

NARASI MOON

Gelap lagi. Tak adakah yang bisa memberitahuku aku di mana sekarang?

Aku menutup mataku. Makin gelap, gelap sekali. Aku bahkan bisa merasakan jiwaku sekarang ditelan kegelapan. Tapi, ada sesuatu yang menyentuhku. Aku pun membuka mataku. Suasanya berubah. Aku melihat diriku di tengah taman buka yang berwarna-warni. Di mana aku? Aku mendapati seorang anak kecil di depanku. Duduk di depanku sambil memegang tanganku. Senyumannya sangat cantik.

“Siapa?” tanyaku.

“Aku Devita, kesadaran Devita yang ada pada tubuhmu Jung Ji Moon,” jawabnya.

“Kenapa kamu ada di sini?”

“Karena kita sama-sama berada di jurang pemisah.”

“Maksudnya?”

“Kalau kita bertemu seperti ini, artinya kita sama-sama tidak sadar. Tubuhmu sedang tidak sadar.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Dia menggeleng. “Ikut aku sebentar yuk, aku ingin menunjukkanmu sesuatu.”

Aku berdiri, dia menarik tanganku. Aku tiba-tiba berada di sebuah jajaran slide. Seluruh yang ada di sampingku seperti bergerak mundur, sedangkan aku sedang berjalan maju. Kepalaku pusing melihat itu semua. Dia berhenti, aku juga berhenti. Slide pun berhenti. Dan seperti naik roller coaster, kami naik lalu turun dan sampailah ke sebuah layar film besar.

“Dede…?? Nih, teman main baru. Namanya Faiz,” terdengar suara seseorang wanita.

“Itu adalah aku ketika kecil. Lucu ya? Itu ibuku dan itu Faiz. Kami sejak kecil sudah bersama-sama, bermain bersama-sama,” kata Devita kecil.

Mereka semua lucu. Keduanya bermain lego. Kadang dibongkar, terus dipasang lagi. Kulihat Devita yang masih kecil itu menepuk-nepuk pundak Faiz. Lalu mencium pipinya.

“Waaaa…Faiz dicium, waduuuh…anak ini masih kecil sudah genit ya?” kata ibunya Devita.

“Faiz juga seneng aja dicium hahahaha,” tampak itu ibunya Faiz.

Devita kecil kemudian mengangkat tangannya seperti menggeser. Slide pun berjalan cepat dan sangat cepat. Kemudian muncullah sebuah gambar seperti film. Ada Devita ada Faiz. Mereka sedang bermain.

“Faiz, kalau kamu sudah besar nanti kepengen jadi apa?” tanya Devita.

“Hmmm…apa ya??” Faiz kecil sedang berpikir keras. “Ah, kepengen jadi seperti ayah!”

“Hah? Seperti ayahmu? Ayahmu memang jadi apa?”

“Ayahku pemimpin perusahaan besar, orangnya keren, dia kuliah di luar negeri. Aku kepengen nyusul dia, kepengen kuliah di luar negeri juga.”

“Koq ayahmu nggak pernah jenguk kamu?”

“Soalnya ayahku sibuuuukkk banget orangnya. Jadi dia tak sempat melihatku,” Faiz kecil tersenyum. “Kamu mau jadi apa?”

“Aku kepengen jadi agen rahasia.”

“Hah?? Agen rahasia? Kaya’ James Bond gitu?”

Devita mengangguk.

“Tapi kamu kan cewek, mana ada agen rahasia cewek?”

“Ada dong, kamu aja nih yang nggak pernah tahu. Ada banyak tahu. Tuh ada Charlie’s Angel, ada Nikita, ada Black Widow.”

“Lha? Itukan di komik ama film.”

“Udahlah, gini aja deh, nanti aku akan buktikan bahwa aku bisa jadi agen rahasia. Itu cita-citaku.”

“Oh, jadi kamu terinspirasi dari mereka ya?”

“Iya, dan biasanya yang jadi pasangannya itu ganteng-ganteng orangnya.”

“Oh ya? Kaya’ aku dong? Hahahaha.”

Devita terdiam.

“Sorry, sorry. Oke deh, nanti kita akan buktikan kalau kita bisa menggapai cita-cita kita,” kata Faiz.

“Janji ya?” Devita mengangkat kelingkingnya.

“Janji Dede!” Faiz mengaitkan kelingkingnya di kelingking Devita.

Kemudian film itu seperti di-pause.

“Ini adalah alasanku menjadi seorang agen rahasia,” kata Devita kecil.

“Kalian sama Faiz sudah bersama-sama ya dari kecil,” kataku.

Devita kecil mengangguk. “Lihatlah berikut ini!”

Filmnya kembali berputar. Tapi film yang lain. Aku melihat Devita sudah tumbuh dewasa. Mereka berjalan bersama ke sekolah. Mereka tampak bahagia. Aku bisa melihat bagaimana Devita tampak khawatir ketika Faiz sakit, demikian juga sebaliknya. Mereka terkadang bertengkar keci, tapi kemudian baikan lagi.

“Faiz, aku mencintaimu. Tahu nggak sih kamu?” kata Devita sambil menulis diarynya. “Kita sudah sahabatan sejak lama. Aku takut perasaan ini akan pergi darimu. Faiz…aku cinta kamu. Inilah yang bisa aku ungkapkan.”

“De..?? Dede??” panggil ibunya Devita.

“Iya bu, ada apa?” kata Devita dari dalam kamar.

“Kamu nggak nemui Faiz? Faiz mau pindah lho,” kata ibunya Devita.

Buru-buru Devita segara beranjak dari kamarnya. Ia mendapati ibunya berada di luar kamarnya. “Faiz!?” itu saja yang keluar dari mulutnya. Ia segera berlari menuju rumahnya Faiz. Tampak Faiz saat itu sudah packing membawa kopor. Sebuah mobil taksi tampak terparkir di luar rumahnya.

“Faiiizzzzzz!?” seru Devita. “Tungguuuuuu!”

Devita ngos-ngosan begitu sampai di depan Faiz. Faiz memasukkan kopornya ke dalam bagasi.

“Kamu akan pergi?” tanya Devita.

“Iya, aku akan pergi. Kamu tak apa-apa kan di sini sendirian?” tanya Faiz.

“Bodoh, aku tentu saja akan kangen ama dirimu,” kata Devita.

“Kan kita bisa kirim email,”

“Mana cukup?”, Devita menangis. Ia terisak dan matanya mulai mengeluarkan air mata.

“Dede, sudahlah jangan menangis. Kalau menangis kamu terlihat jelek.”

“Biarin. Kenapa kamu harus pergi? Kita sudah bermain bersama selama ini, kita sekolah bersama. Bahkan…bahkan…ibumu sudah baik kepadaku, menganggapnya sebagai anak sendiri. Faiiz…aku akan kangeeen sekali kepadamu….”

Devita lalu memeluk Faiz. Aku bisa dengar suara hati Devita, “Aku cinta kepadamu Faiz, inilah jatuh cinta, aku cinta kepadamu. Jangan pergi…kumohon!”

“Aku tak akan melupakanmu Dede. Aku akan kembali. Aku akan terus ingat kepadamu,” kata Faiz. Faiz mengusap rambut Devita untuk menenangkannya.

“Janji kepadaku. Berjanjilah!” kata Devita

“Janji apa?”

“Janji hanya aku yang boleh jalan denganmu, kamu tak boleh jalan dengan perempuan lain!”

“Idiih, koq gitu janjinya?”

“Ayo janji!” Devita menatap matanya dengan tatapan berkaca-kaca.

“Iya deh, aku janji,” kata Faiz.

“Beneran!?” tanya Devita.

“Iya, beneran,” Faiz menyeka air mata Devita.

Sesaat kemudian Devita mencium Faiz. Mereka berciuman seperti seorang kekasih. Ciuman pertama mereka.

“Ini adalah ciuman pertamaku dengan Faiz. Di sinilah seluruh perasaan cintaku selama ini aku curahkan kepada Faiz. Dan membuat Faiz mendapatkan kenangan terindah di dalam hidupnya. Dia tak akan melupakan peristiwa ini. Dan iya, dia tidak pernah lupa,” kata Devita kecil.

Devita melepaskan bibirnya. Menyudahi ciumannya yang sesaat itu.

“Ingatlah, ini adalah hadiahku untukmu, jangan lupakan aku! Berjanjilah!” kata Devita sambil menyentuh dada Faiz.

Faiz mencium kening Devita. “Aku tak akan melupakanmu Dede.”

Kemudian ibunya Faiz datang. “Faiz, ayo! Eh…ada Dede?? Lhoo…kenapa nangis sayang?”

Devita langsung memeluk ibunya Faiz. “Dede, bakal kangen ama budhe Putri…huuuuuuuhuuuuuhuuu…Dede juga bakalan kangen ama Faiz…huhuuuuhuuuhuuu…”

“Udah dong Dede, kalau Dede mau. Dede bisa koq teleponan ama kita,” kata ibunya Faiz.

“Tapi Dede bakal kehilangan kalian…hhuuuhhuuuuuhuu…,”

“Sudah ya nak. Kalau jodoh kita pasti ketemu koq, janji deh,” ibunya Faiz menenangkan Devita.

“Janji?”

“Iya janji.”

“Janji ya, kalau nanti ketemu Dede, Dede kepengen nikah ama Faiz, budhe nggak boleh nolak!”

“Lho lho lho?” ibunya Faiz ketawa. “Koq gitu?”

“Dede cinta banget ama Faiz. Janji ya, nanti nikahin Dede ama Faiz!? Dede nggak bisa hidup tanpa Faiz,” kata Devita sambil sesenggukan.

“Iya, In Syaa Allah ya, janji. Nanti kalau Faiz minta menikah ama kamu, ibu janji akan merestui kalian,” kata ibunya Faiz sambil mencubit hidungnya Devita.

Mereka pun berpisah. Ibunya Faiz kemudian menepuk punggung anaknya, “Duh, ini anak ibu. Masih segini saja sudah ada calon mantu.”

Faiz dan ibunya melambai kepada Devita. Devita pun membalasnya. Kemudian dia menyeru kepada Faiz, “Faiiizzz….aku cinta kamu. I Love You! Jangan pernah lupain Dede, nanti kalau kita ketemu lagi nikahin Dede yaaaaa??!”

Walaupun tahu Faiz tak akan mendengar Devita terus berteriak seperti itu hingga mobil taksi itu tidak terlihat lagi. Dede menoleh ke rumah Faiz yang kosong. Kenangan masa kecilnya yang tak terlupakan.

Entah kenapa, aku jadi menangis. Aku seolah-olah tahu perasaan Devita. Aku mengerti perasaannya sekarang. Dan aku tahu betapa sakitnya ia tak bisa bersama Faiz dengan kondisi seperti ini. Aku pun memeluk Devita kecil.

“Aku faham perasaanmu Dev, aku paham sekarang,” kataku.

Dia menggeleng. “Tidak Moon, kamu tidak faham.”

“Apa maksudmu?”

Tiba-tiba semuanya terlihat putih. Semuanya serba putih. Aku seperti di sebuah ruangan putih dan di depanku ada Devita kecil yang aku peluk. Dia tersenyum kepadaku.

“Saat ini, aku telah mengacaukan semuanya,” katanya.

“Kenapa? Apa maksudmu?”

“Lihat di tanganmu!” kata Devita kecil.

Aku melihat tanganku. Sebuah pistol, sejak kapan??

“Apa yang…terjadi?” gumamku.

“Aku telah mengacaukan semuanya. Aku berniat menguasai tubuhmu Moon. Hanya karena aku terlalu cinta kepada Faiz, terlalu sayang kepadanya, terlalu rindu kepadanya. Aku ingin bisa bersama dia dengan tubuhmu. Tapi, itu tak mungkin. Kamu adalah milik Hiro, dan Faiz tak bisa menyentuh tubuh ini. Kamu adalah si rambut merah yang sangat dicintai oleh Hiro, bukan aku. Maafkan aku Moon, yang telah merebut kesadaranmu. Maafkan aku.”

“Devita, jelaskan kepadaku!”

“Aku merebut tubuhmu, agar aku bisa bersama Faiz. Aku menyakiti Hiro. Ini salahku. Hanya ada satu jalan. Karena diriku sudah terlalu kuat dan terlalu dominan menguasaimu,” Devita kecil memegang pistol yang ada di tanganku dan mengarahkannya ke kepalanya. “Tembak aku, agar seluruh memory-memory ini hilang dan engkau tidak akan mendapati diriku lagi. Kepribadianku akan lenyap dengan cara ini. Sehingga engkau dan Hiro bisa bersama selamanya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*