Home » Cerita Seks Umum » SI Rambut Merah Bab 21

SI Rambut Merah Bab 21

BAB XXI

Dominan

NARASI HIRO

Aku masuk sekolah lagi. Dan itu suck! Aku tidak semangat sekolah hari itu. Apalagi dengan keadaan Moon seperti itu. Total aku ijin sampai 2 minggu. Biasanya kalau orang biasa, sudah dipanggil itu orang tuaku. Tapi mereka tahu siapa orang tuaku, jadi agak tak begitu berani pihak sekolah memanggilku. Aku pun langsung pergi ke ruang guru dan meminta maaf kepada mereka karena tidak masuk lama. Terutama wali kelasku. Karena aku memang harus menyelesaikan sebuah urusan. Tapi aku berjanji bahwa aku tidak akan lupa belajar.

“Hai Hiro, lama nggak muncul,” sapa Yunita. Tiba-tiba Yunita langsung merangkulku. Namun ia langsung mundur. “Wow…”

“Kenapa?” tanyaku.

“Gila, baru hampir tiga minggu nggak ketemu badan kamu kekar banget!” katanya.

“Oh ya?” aku nggak percaya. Segera aku melintas ke jendela kelas yang mana ada kaca yang bisa memantulkan bayanganku. Benar ternyata. Bajuku sampai ngepress. Dadaku terlihat tegap, lenganku juga terlihat berotot. Ini efek latihan yang diberikan oleh Moon. Sebenarnya tidak juga sih, aku menambahkan latihanku. Seminggu awal memang otot-ototku serasa meledak rasanya. Tapi setelah itu mulai terbiasa. Dan aku melakukannya setiap hari. Kalau aku disuruh lari 10km, aku tambah malam hari menjadi dua kali lipatnya. 100 push up aku tambah lagi dua kali lipatnya. Dan seterusnya. Dan itu aku lakukan tanpa sepengetahuan Moon.

“Hai Bro!” Joshua langsung menepuk pundakku. “Anjrit!”

Aku menoleh saja.

“Lu makan apaan sih? Keras banget kulitmu,” kata Joshua sambil memijat-mijat tangannya.

“Hiro, nanti makan di kantin bersama ya, aku kangen ama kamu nih,” Yunita mengedipkan mata. “Ya udah, sampai nanti.”

Joshua langsung komentar, “Ciee….cieee…sukses nih pedekatenya ama Yunita?”

Aku menghela nafas. Dengan langkah lesu aku menuju ke kelas.

“Eh, kenapa lu?” tanya Joshua.

“Tanya saja Rara. Ntar juga lu tahu kenapa,” jawabku.

Hari ini ada pelajaran olahraga. Aku segera ke lokerku untuk mengambil baju olahraga dan ganti baju. Teman-temanku juga heran melihatku.

“Anjrit! Lo nggak masuk buat bentuk badan ya?” kata mereka.

Dan, sukseslah hari itu aku jadi pembicaraan anak-anak satu sekolahan. Hiro jadi kekar. Hiro makin tampan. Kyaaaa….ada Hiro. Bahkan maaf, bukan sombong ada anak cewek yang pingsan gara-gara aku sapa. Lebaaaaaayyy! Tapi, aku tak suka mereka. Aku sudah suka ama Jung Ji Moon. Dia sudah menempati hatiku sekarang. Bukan yang lain.

Ketika jam pelajaran olahraga dimulai, kami lari keliling lapangan sepak bola dua kali. Aku menambah porsinya jadi lima kali. Kalau dua kali sih aku nggak keluar keringat sama sekali. Aku sudah terbiasa lari 10 km setiap hari. Cuma segini saja sih biasa. Guru olahragaku sampai minder melihatku. Hari itu kami bermain sepak bola. Sedangkan yang cewek bermain basket.

Setelah pelajaran olahraga selesai kami ganti baju lagi. Di kelas aku langsung diceletukin oleh Niken.

“Hei Hiro!?” sapanya.

“Apa?” tanyaku.

“Kamu berubah ya sekarang,” katanya.

“Berubah gimana, perasaan biasa aja deh,” kataku.

“Halah, nggak usah merendah gitu. Kamu jadi lebih seperti pria sekarang, bukan lelaki,” katanya.

“Awas, ntar lo naksir ama gua. Ntar Joshua berantem lagi ama aku,” kataku.

“Hahahaha, ya nggaklah. Joshua ya tetep cintaku dong, emang aku cewek gampangan apa. Eh, tapi tu si Yunita. Dia nanyain kamu terus tiap hari. Hironya ada? Hiro kemana? Kenapa Hiro nggak masuk? Apa Hiro sakit? Kirim salam buat Hiro kalau sudah masuk ya? Hiro sukanya makan apa? Hiro suka nonton film apa?” ujarnya.

Aku tak menanggapinya.

“Lho, koq kamu nggak tertarik??” Niken heran.

“Kenapa emangnya?”

“Biasanya kamu yang paling ngebet kepengen tahu banyak tentang Yunita, kamu yang naksir ama dia. Sekarang dia naksir elu tuh. Dia bilang ama gue, ‘Ken, kaya’nya aku suka ama Hiro deh’. Gitu. Lu harusnya seneng dong. Kencan kalian sukses gitu.”

“Aku sekarang sudah nggak tertarik lagi ma Yunita.”

“Haaaaahh??? Koq bisa??”

“Karena aku sudah menemukan cinta sejatiku.”

“Siapa? Siapa?”

“Jung Ji Moon.”

Niken kaget tentu saja. Dia tak menyangka.

“Anak Korea itu??”

“Dia bukan sembarangan anak korea tahu. Aku cinta mati ama dia. Dan dia juga cinta mati ama aku. Jadi aku tak akan mengejar Yunita lagi sekarang. Dan dia sekarang sedang dalam masalah. Aku akan membantu dia sampai permasalahannya selesai.”

“Permasalahan apa?”

“Ah, bukan urusanmu.”

“Hiro! Hiro!?” Aku tak menghiraukan Niken.

Setelah jam pelajaran berakhir, aku berada di kantin. Aku tak makan banyak, agar aku tak kelebihan kalori. Lagian tadi di rumah aku sudah makan sarapan buatan Mas Faiz. Poach Egg ama omelet. Smash Potattonya nggak aku sentuh. Aku cuma pesan segelas susu coklat sambil mainin ponsel. Saat itulah Yunita datang.

“Hai Hiro?” sapanya.

“Hai,” jawabku tanpa melihat dirinya.

“Koq kamu dingin gitu?”

Aku mendongak melihatnya sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Tampak Yunita membawa sarapannya. Sepiring nasi uduk dengan sepotong tempe goreng dan sambel, plus minumnya teh hangat. Sederhana sekali.

“Aku khawatir banget, kemana aja kamu?” tanyanya.

“Aku nggak kemana-mana koq. Di rumah aja.”

“Kamu sudah makan?”

“Sudah. Silakan dinikmati!”

“Mari makaan.”

Hari ini Yunita sedikit lain. Dia mencoba mendekat kepadaku. Mencoba menunjukkan perhatiannya kepadaku. Bahkan setelah pulang sekolah ia menggandengku. Katanya ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Kami pun bertemu di atap sekolah.

“Hiro…maaf ya, aku selama ini tidak peka. Selama ini aku tak tahu. Aku baru tahu kalau kamu sudah suka sama aku sejak lama. Dan….semenjak kencan kita terakhir, aku merasa…..aku merasaa…..aku merasa suka kepadamu. Aku kangen sama kamu, setiap hari aku ingin tahu kamu. Aku ingin tahu kenapa kamu tidak masuk, kenapa kamu tidak memberi kabar. Hiro, kalau kamu mencintaiku selama ini, aku juga,” kata Yunita.

Aku sudah duga ia akan ngomong ini. Aku pun mendekat ke arahnya. Aku pegang pipinya dan kuusap.

“Nit, aku tahu. Aku tahu kamu pasti akan bilang ini ke aku. Tapi….semua sudah terlambat,” kataku. “Aku sudah menyukai orang lain. Dan dia membutuhkan aku sekarang. Aku tak mungkin mencintai orang lain selagi dia membutuhkanku saat ini.”

Yunita pun menangis. Mungkin sekarang hatinya patah. Ia tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti ini. Yunita langsung memelukku. Ia mendekap erat tubuhku.

“Hiro,…please biarin aku mencintaimu. Aku terlanjur mencintaimu, maafkan aku yang tidak peka selama ini. Maafkan aku,” kata Yunita.

“Yunita, semuanya tak akan mungkin. Walaupun kamu mencintaiku, suatu saat nanti akan ada orang yang akan mendekatimu. Kamu bisa jadi kekasihnya. Tapi bukan aku. Aku bertekad seumur hidupku aku hanya akan mencintai dia seorang,” kataku.

“Boleh aku tahu siapa pesaingku itu?”

“Kamu tak akan mampu mengalahkan dia. Dia wanita tertangguh yang pernah aku kenal. Dia juga mengajariku cara mencintai seorang wanita. Dia feminim sekaligus bad-ass. Dan aku menyukai dia karena itu. Dia adalah Jung Ji Moon.”

Tangisan Yunita berhenti. Dia melepaskan pelukannya.

“Ternyata dia. Pantas saja. Iya, dia lebih dewasa. Dia lebih menarik. Dia lebih cantik. Maafkan aku Hiro,” Yunita pun pergi sambil masih terisak. Semoga saja dia tidak bunuh diri karena patah hati. Aku pun turun dari atap sekolah.

Di bawah ternyata Joshua dan Niken telah menungguku.

“Gila lu ya, Yunita yang dulu kamu kejar sekarang kamu lepas gitu aja?” kata Joshua.

“Trus kenapa? Aku udah nggak cinta lagi ama dia,” kataku.

“Aku kasihan ama Yunita. Hatinya pasti hancur sekarang. Sampe nangis kaya’ gitu,” kata Niken.

“Maaf, tapi inilah cinta. Harus ada pilihan. Dan aku sudah memutuskan siapa orang yang aku cintai sekarang ini,” kataku.

“Ya sudahlah. Itu sudah jadi keputusanmu. Oh ya, aku sudah tahu semuanya dari Rara, tentang apa yang terjadi. Aku turut berduka atas yang terjadi kepada Jung Ji Moon. Semoga kalian cepat mengatasi persoalan ini,” kata Joshua.

“Makasih bro,” aku mengepalkan tanganku dan dia meninjunya pelan.

“Masalah apa sih?” tanya Niken.

“Ah, kamu nggak usah tahu. Ini urusan keluarga,” Joshua merangkul Niken. “Jalan yuk, biarin si kunyuk ini jalan sendiri.” Joshua meninggalkanku sambil tersenyum.

****

Aku pulang sekolah sambil naik sepeda. Setelah itu aku segera ganti baju dan langsung menyelesaikan menu latihanku yang tertunda. Saat itulah aku melihat Moon sedang…nyuci baju??? What?? Sejak kapan?

“Hai Moon?! Tumben nyuci baju,” kataku.

“Aku bukan Moon. Aku Devita,” katanya.

“Hah?” sebentar. Ada yang aneh. Biasanya Moon yang selalu ada di saat siang hari. Lalu kenapa Devita sekarang?

“Ayolah, ini tidak lucu. Jangan bercanda. Kamu pasti Moon bukan?”

“Aku Devita, mau aku tampar?” gila, beneran ini Devita. Nggak seperti Moon. Dia tak mungkin berkata seperti itu. Dia pasti akan langsung memukulku dan mengajak sparring kalau nggak suka kepadaku.

“Ok Ok,” aku mengangkat tanganku. Kenapa Devita bisa sadar pas siang hari? Ah, mungkin nanti malam dia akan berubah jadi Moon.

Namun dugaanku salah. Ketika aku sudah menyelesaikan menu latihan dan jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sembari aku mempersiapkan segala hal untuk keperluan sekolah besok. Aku melihat Moon sedang memasak. What?? Dia masak? yang benar aja!

“Moon? Tumben masak,” kataku.

Dia melirikku dengan pandangan aneh. Devita??? Aku langsung mengangkat tanganku dan menyingkir. Ini aneh. Kenapa Moon tidak muncul? Jangan-jangan, Devita lebih dominan sekarang. Oh tidak. Tidak mungkin.

“Makan malam siaaaappp!” serunya.

Mas Faiz keluar dari kamarnya. Juga Susan, sepupu kami. Yang diperkerjakan oleh Mas Faiz dua hari yang lalu untuk menjaga Devita yang masih koma karena kesadaran Devita sekarang ada di Moon. Tapi ini mustahil. Tidak ada Moon? Hei, dia ada di hadapanku. Tapi tubuh Moon sama sekali tak bisa aku jangkau.

“Dede? Kamu masak?” tanya Mas Faiz.

Di meja makan terhidang banyak sekali masakan. Bunda Putri sampai terkejut.

“Waduh ada pesta apa ini koq banyak banget masakannya?” tanya beliau.

“Aku buat spesial buat Mas Faiz bu, coba deh,” kata Moon…eh…maksudku Devita. Duh, kenapa aku jadi cemburu gini.

Akhirnya kami pun makan malam dengan masakannya Devita. Devita menampilkan kemesraannya ke Mas Faiz. Mas Faiz mencoba menolak, tapi ia dipaksa untuk disuapi oleh Devita. Aku tak suka. Sangat tak suka. Apa maksudnya Devita berbuat seperti itu? Ke mana Moon? Kenapa Moon tidak hadir?

“Moon, kalau kamu dengar aku sadarlah!” panggilku. Semua orang menatapku. “Moon, sadarlah!”

“Hiro, apa-apaan sih? Nanti saja habis makan!” kata Bunda Putri.

Mata Moon menatapku. Dengan personality Devita seperti ini, aku tak suka. Sama sekali tak suka. Perasaanku serasa diaduk-aduk.

“Dede, sebaiknya nggak usah…,” kata Mas Faiz.

“Moon masih tidur dan dia tak mau bangun. Itulah jawabannya kenapa Moon tak muncul lagi sekarang, mengerti?” kata Devita dengan sinis.

Aku gusar dan segera berdiri. Aku tinggalkan meja makan tanpa menyentuh makanan sama sekali. Mas Faiz mengusap wajahnya. Ia menghela nafas panjang.

NARASI MOON

Aku masih dalam kegelapan. Aku masih menangis dalam gelap. Tak ada yang bisa aku lihat. Aku juga tak tahu aku berada di mana. Aku mencoba berdiri. Aku hanya bisa melihat tubuhku saja saat ini, jalan yang aku tapaki sama sekali tak bisa aku lihat. Sebenarnya aku ada di mana. Aku berputar-putar, mencari secercah cahaya. Hingga aku pun melihat sebuah titik dari kejauhan. Itu cahaya.

Aku pun berlari, berlari, terus berlari. Aku mencoba menggapai cahaya itu, jauh sekali sepertinya. Tapi aku tak menyerah, aku harus menggapainya. Nafasku hampir habis tapi aku terus berlari hingga aku bisa meraih cahaya itu. Makin lama makin terang, terang dan terang. Tiba-tiba aku berada di semak belukar. Aku berada di sebuah daerah yang penuh dengan tanaman-tanaman liar. Di mana aku?

Tunggu dulu. Ini …iya aku ingat, ini pulau tempatku latihan. Pohonnya, rumputnya, aku masih ingat ada kodok beracun di dekat sungai yang membuatku terkena paralysis selama seharian. Aku berlari, berlari lagi hingga sampai ke sebuah sungai. Aku melihat diriku di sana. Menggigil. Pakaianku compang-camping. Hujan mengguyurku tadi malam. Tak ada selimut, tak ada api.

Aku bisa melihat tubuhku mulai bisa digerakkan. Aku mengerang sekuat tenaga dan menjerit. Aku sembuh dari paralisys dengan perjuangan yang keras. Aku segera meminum air langsung dari sungai. Setelah itu aku berdiri. Aku kelaparan. Apa yang bisa aku makan? Tumbuhan tales, biasanya bisa dimakan. Aku pun mencarinya. Di pulau ini aku hanya membawa pisau. Ya senjataku satu-satunya. Aku pun hari itu menebang pohon tales dan memakan batangnya yang manis. Yang penting aku bisa hidup.

Ini adalah ujian terberatku menjadi seorang agen rahasia yang handal. Aku harus survive.

Aku mulai mengingat memory ini. Aku berada di pulau ini. Mulai dari gigitan bisa ular, kalajengking, aku rasakan semua. Ajaibnya aku selamat. Dan yang paling menegangkan dalam hidupku adalah, aku harus berhadapan dengan seekor panther yang kelaparan.

Aku ingat itu semua. Panther itu benar-benar kelaparan. Ketika secara tak sengaja kami bertemu dia menyeringai, mengitari aku. Mencari titik-titik kelemahanku. Mungkin saja saat itu dia berpikir enaknya sebelah mana daging yang paling lezat untuk dimakan terlebih dahulu. Atau mungkin jangan-jangan Panther itu lebih memilih cara untuk menghabisiku. Dengan menerkamku ataukah dengan cara yang lain? Seperti menggunakan kuku-kukunya yang tajam itu misalnya.

Aku sudah bersiap dengan pisauku di tangan. Aku mengambil sebatang kayu dari dahan pohon yang tergeletak di tanah. Jantungku berdegup kencang. Bagaimana aku bisa mengalahkan macan kelaparan ini? Tatapan matanya sangat menakutkan, hembusan nafasnya saja bisa aku rasakan di seluruh kulitku. Apa yang harus aku lakukan kalau dia menerkam? Langsung menusuknya? Tidak, dia tidak akan bisa dilumpuhkan dengan sekali tusuk. Kayuku pun tidak akan mungkin bisa menghalaunya, tenaganya mungkin besar. Mungkin aku harus menahan mulutnya agar tak menerkamku.

Panther itu mulai membungkuk. Inilah saatnya. Aku akan diterkam olehnya. Menghindar secepat mungkin. Itulah yang ada di instingku sekarang. Aku tak akan bisa berlari. Sudah seharian aku belum menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Barangkali aku bisa memakan daging Panther ini walaupun mugkin nanti rasanya tak enak.

“Ayo, datang. Engkau ingin makan aku bukan?” kataku.

Binatang itu pun tiba-tiba melompat dengan mulut terbuka siap untuk menerkam. Tangan kiriku mengacungkan dahan pohon tadi ke arahnya. Kayu itu langsung patah terkena terjangannya. Aku pun berkelit ke kanan. Hampir saja cakarnya mengenai tubuhku. Belum…saatnya aku jatuh. Aku berguling-guling di atas tanah yang lembab. Sang panther tampaknya gusar. Dia mengaum lagi.

Aku merobek bajuku. Kemudian kuikatkan robekan itu di tangan kananku agar pisauku tak jatuh, apapun yang terjadi kepadaku. Setelah yakin telah rapat, aku sudah bersiap kalau macan hitam ini akan menerkamku lagi.

“Ayo! Ayo! kamu lapar bukan?” kataku.

Dan benar, sang macan segera menerkamku, kini aku ambruk ke tanah terlentang dan aku menahan rahangnya dengan kayu yang bertumpu kepada kedua tanganku. Macan itu menindihku, Denyut nadinya bisa kurasakan. Hawa panas tubuhnya bisa kurasakan. Tidak, tanganku tidak kuat menahannya, tenaganya sangat kuat. Aku lalu menusukkan pisauku ke tubuh sang macan.

Sang macan pun mengaum. Aku mencoba menendang macan itu. Sang macan terpental. Ia semakin marah dan mengayunkan cakarnya ke arahku. Kayu yang aku pegang pun terpelanting. Beberapa detik kemudian ia menerkamku lagi. Dan kini aku menunduk dan mengacungkan pisauku ke atas. Sang macan tak bisa menghindar karena tiba-tiba yang ada di hadapannya adala sebilah pisau. Pisauku pun menembus dagunya. Karena tanganku terikat dengan pisauku. Maka ketika sang macan mencoba untuk menyingkirkan pisauku, aku ikut terombang-ambing. Cakarnya kemudian mencoba merobek tubuhku, tapi hanya berhasil mengoyak bajuku saja. Aku lalu mencabut pisauku. Dengan cepat aku melesat ke bawah tubuhnya dan kuhujamkan pisauku berkali-kali. Sang macan mencoba meraihku dengan cakarnya. Aku langsung bergerak, menghindar. Ia akan menerkamku lagi sekalipun penuh luka di tubuhnya.

Sang macan kini tetap menatapku dengan tajam, seolah-olah bicara, “Aku masih belum menyerah wahai makananku.”

Sial, dia masih hidup. Padahal lukanya sebanyak itu. Darah mengucur dari tubuh Panther itu. Dia merendahkan tubuhnya. Aku tahu. Ini serangan terakhirnya. Ia akan menghabiskan seluruh energinya untuk menerkamku. Aku pun sudah bersiap.

“Ayo, makan aku!” kataku.

Dan benar, sang macan melompat ke arahku dan aku berlari ke arahnya, tapi posisi tubuhku merendah. Tangan kananku yang terikat dengan pisau aku arahkan ke atas. Lalu aku menunduk ke bawah tubuh sang macan. JLEB SREEEEEEEEETTTT! Sang macan mengaum keras sekali. Seperti menjerit kesakitan. Sang macan terkapar. Dan tubuhku bermandikan darah.

Sebuah kejadian yang tak akan aku lupakan. Adrenalinku berpacu saat itu. Aku hanya berfikir, aku ingin hidup. Itu saja. Dengan langkah gontai, aku mendekati sang macan yang sekarat dengan perut yang sudah terbelah serta isinya keluar semua itu. Sang macan sudah lemah. Ia sepertinya sudah tak punya tenaga lagi. Tanpa perasaan bersalah, aku pun memotong leher macan itu hingga putus. Malam itu aku pun makan malam dengan dagingnya. Setelah itu tempat itu kutinggalkan keesokan harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*