Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 20

Si Rambut Merah Bab 20

BAB XX
Crying

NARASI DEVITA

Kenapa? Kenapa aku harus sadar ketika mereka berdua sedang bercinta? Kenapa? Jung Ji Moon? Jung Ji Moon? Banguun! Banguun! Sialan kenapa dia tidak bangun? Aku langsung masuk ke kamarnya Faiz. Di sana tidak ada dirinya. Kemana dia? Aku hanya bisa memandang tubuhku sendiri, tubuhku yang koma tak bergerak. Aku bingung sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Aku telah melanggar janjiku sendiri untuk setia kepada Faiz. Tapi…kan bukan salahku juga, aku tiba-tiba tersadar saat mereka sedang bercinta. Tapi, tapi…tapi…..

Aku tak mengelak. Aku benar-benar tersadar saat Hiro memuntahkan spermanya ke dalam rahimnya Jung Ji Moon. Dan aku bisa merasakan bagaimana kerasnya kemaluan Hiro saat itu. Bagaimana juga hangatnya spermanya membasahi rahimnya Jung Ji Moon. Sama seperti ketika aku merasakan bagaimana kerasnya kemaluan Faiz ketika orgasme.

Aku rindu sekali dengan Faiz. Tapi hanya gara-gara aku di tubuhnya Moon, dia tak mau menyentuhku. Padahal selama ini aku selalu menunggu saat-saat bersama dengan dirinya. Dan kenapa ketika aku baru saja berjumpa dengan ia harus mengalami hal seperti ini? Aku adalah seorang wanita, aku punya perasaan. Dan ketika kamu tak menyentuhku itu sakit. Aku seolah-olah kamu singkirkan. Apakah yang menghalangimu Faiz? Apakah tubuh ini? Padahal aku ada di sini. Kenapa hanya perkara tubuh ini saja kamu seperti itu?

Aku menangis, menangis hari itu. Rasanya aku ingin tidur lagi dan terlelap, sehingga Moon saja yang bangun terus sekarang. Tapi…tidak, kalau aku lebih banyak bertemu dengan Faiz, mungkin semuanya akan berbeda. Iya, aku ingin terus bersama Faiz, aku ingin terjaga terus, aku tidak boleh tidur. Aku tidak boleh tidur.

***

NARASI FAIZ Jr.

Aku baru saja dari Profesor Andy melihat perkembangan Hyper Suit dan ternyata hasilnya di luar dugaan. Keren sekali. Dan aku pun mencobanya. Profesor Andy mulai sedikit berubah sikapnya. Uang yang aku berikan rupanya benar-benar membuat perubahan. Rumahnya lebih rapi. Taman-tamannya mulai dibersihkan. Aku memang menyuruh orang untuk membersihkan rumahnya dan rumah kacanya. Walapun orangnya tidak suka aku berbuat seperti itu tapi ia membiarkanku.

Profesor memberikanku 4 buah gelang. Dan satu set ikat pinggang.

“Apa ini?” tanyaku.

“Begini, karena ini adalah baju tempur masa depan. Sengaja aku buat seperti ini. Kamu tentu pernah tahu film-film futuristik tentang Kamen Rider, Iron Man dan lain-lainnya?”

“Iya, saya tahu.”

“Jangan kau kira cerita fiksi itu bisa diterapkan di dunia nyata. Jauh! Tapi aku punya kejutan untukmu. Hyper Suit bukan sekedar baju tempur biasa. Dia kurancang dengan menggunakan teknologi Nanobot. Silakan pasangkan keempat gelang ini di pergelangan tangan dan pergelangan kakimu.”

Aku menurut saja.

“Tak perlu lepas baju?”

“Tak usah. Langsung pakai saja.”

Aku pun memasangnya. Ketika aku pakai langsung keempat benda itu menjepit pergelangan tangan dan kakiku.

“Nah, ikat pinggangnya silakan dipakai di pinggang.”

Aku memakainya di pinggang. Langsung saja ikat pinggang itu menjepit pinggangku kuat.

“Di ikat pinggang itu ada tombol kecil. Itu untuk melepaskannya. Untuk menguncinya tinggal kamu putar bagian tengahnya ke kanan!”

Aku memutar bagian tengah ikat pinggang itu. Bentuknya persegi enam. Ada semacam layar LCD di tengahnya. Begitu aku putar ada bunyi KLIK!

“Scanning DNA!” suara komputer. “DNA approved.”

“Scanning DNA??” gumamku.

“Iya, aku menggunakan DNAmu agar hanya kamu saja yang bisa memakainya,” jawab Profesor. “Jadi tak sembarangan orang mampu menggunakannya. Kecuali aku tentunya hahahahahahah…”

Aku begidik mendengarkan gelak tawanya.

“Lalu cara menggunakannya?” tanyaku.

“Gampang, di sabuk itu ada tombol angka satu sampai enam yang memutar di bentuk segi enamnya. Kamu bisa lihat!”

Aku melihat di bagian segi enamnya. Iya, ada angka 1 sampai enam memutar dari atas ke bawah.

“Tekan 512. Sebenarnya ini kombinasi angka dariku sendiri sih. Kalau kamu ingin diubah aku bisa melakukannya,” ujar Profesor.

“Tak apa-apa, baiklah 5…1….2,” kutekan tombolnya.

“Hyper Suit Loading!” suara komputer lagi.

Dari gelang-gelang yang ada di tangan dan kakiku tiba-tiba muncul sesuatu. Seperti sebuah air yang merambat menyelimuti tubuhku. Bukan di situ saja dari sabukku juga. Air berwarna kelabu itu menyelimuti seluruh tubuhku. Bukan, itu bukan air. Aku memicingkan mataku. Aku bisa lihat itu robot! Robot kecil! Robot-robot kecil sebesar tungau yang membentuk sesuatu seperti menyulam baju. Mereka bergerak sangat cepat. Inikah yang disebut Nanobot itu?

“Bagaimana? Impresive?” tanya profesor.

Sekarang tubuhku, kecuali kepalaku terbungkus oleh baju tempur. Aku tak bisa melihatnya penuh. Profesor Andy mengerti. Lalu dia membawakanku cermin. Aku disuruh untuk melihat penampilanku. No Shit! That was awesome!

Diriku kini terbalut sebuah baju yang bisa menampilkan seluruh ototku. Ada garis hitam vertikal dari leherku sampai ke perut. Dan dari ikat pinggangku sampai ke kaki. Di kakiku sendiri sudah terbentuk semacam sepatu boot. Tanganku pun total terbungkus seperti sarung tangan. Bentuknya sederhana, tidak seperti tokoh serangga Kamen Rider itu. Ini lebih tepatnya seperti baju full press body. Baju itu total menutupi seluruh tubuhku hingga kepala.

“Prof, kenapa kepalaku tidak ditutupi?” tanyaku.

“Gampang, tekan saja tombol di samping ikat pinggangmu!” kata profesor.

Aku meraba di ikat pinggangku. Ada sebuah tombol lagi. Kutekan. Dan….tiba-tiba mukaku tertutup semua. Sebuah helm? Ya, aku bisa melihat diriku dengan jelas di depan cermin. Sebuah helm menutupi kepalaku. Mataku tertutup kaca berwarna merah. Tak ada celah sama sekali. Tapi, sekalipun tertutup, aku masih bisa bernafas normal. Bahkan aku masih bisa mencium bau ruangan laboratorium ini.

“Ini luar biasa prof, aku bisa merasakan tekanannya,” ujarku gembira.

“Bagus kalau begitu. Aku belum menambahkan fitur alat komunikasi. Hal ini agar kamu bisa berkomunikasi dengan orang lain, mungkin ponsel, bahkan aku bisa saja menambahkan teknologi M-Tech ke baju itu. Itu kalau kamu setuju saja,” jelas Profesor.

“Sangat setuju. Lakukan saja. Berapapun aku akan membayarnya,” ujarku.

“Terima kasih, tapi apa yang kamu berikan kepadaku sudah cukup. Aku senang sekali hasil karyaku dihargai semahal ini. Faiz, dengarlah!” kini profesor Andy bicara serius.

Aku membuka helmku dengan menekan lagi tombol tadi. Dalam sekejap robot-robot kecil sebesar gurem itu mengurai helm yang tadi membalut kepalaku.

“Aku tahu siapa musuhmu. Mereka sangat berbahaya. Aku hanya berpesan kepadamu. Kalau kamu bertemu dengan Luke, hajar dia sampai tak bisa melihat hari esok. Aku akan berikan baju ini kepadamu, kupercayakan ini kepadamu,” kata profesor Andy dengan mata yang menatap tajam.

“Kau bisa percayakan kepadaku prof. Aku juga punya urusan dengan dia,” kataku.

Devita, sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan menolongmu. Tunggulah. Aku sudah siap untuk menghajar Luke dan mengembalikan dirimu seperti sedia kala.

Setelah kunjungan dengan profesor, aku pulang. Semalaman aku berada di rumah profesor sampai pagi. Ketika matahari terbit aku sudah sampai di rumah. Rumah sepi. Ke mana orang-orang? Aku tak melihat mobilnya bunda Iskha. Ibu tampak sedang menyapu halaman, mencabuti rumput.

“Udah pulang Faiz?” tanya beliau.

“Iya bu,” jawabku.

“Kemana bunda Iksha dan yang lain?” tanyaku.

“Ya mereka pulang toh? Lagian Rara dan yang lainnya kan juga harus masuk sekolah. Capek kalau bolak-balik mereka kemari. Mereka cuma nitipin Hiro saja. Hiro tadi kena jewer karena sudah dua minggu membolos,” ibu tertawa geli.

“Jadi?”

“Jadi…hari ini dia bakal masuk sekolah. Soalnya ibunya nggak memberikan lagi ijin bagi dia untuk tidak masuk.”

Aku sedikit tertawa, “Ya sudahlah. AKu mau mandi dulu.”

Kulihat Hiro sedang push-up di ruang tamu.

“Hai, Mas!” sapanya.

“Masuk sekolah?”

“Ya mau gimana lagi.”

Hiro pun berdiri. “Aku mandi dulu.”

Aku sebenarnya mengantuk. Ah tapi mending bikin sarapan dulu. Habis itu tidur deh. Lagian perutku belum terisi dari kemarin. Aku pergi ke kamarku dulu melihat keadaan Devita. Oh iya, mulai kemarin aku telah meminta Susan untuk membantuku merawat Devita yang sedang koma. Susan ini anak dari tante Hani. Dia baru lulus perawat sebenarnya langsung aku todong untuk merawat Devita. Sebenarnya hubunganku dengan Tante Hani tak begitu akrab. Karena dia sendiri keluarga jauh. Tapi mau gimana lagi. Lebih baik meminta bantuan dari sanak famili daripada orang lain.

Susan sudah mulai bekerja kemarin ketika aku tinggal. Sekarang aku lihat dia berada di kamarku sambil menonton tv. Kulihat Devita masih tertidur pulas seperti biasa.

“Hai mas?!” sapa Susan.

“Sudah sarapan?” tanyaku.

“Ah, nanti saja,” jawabnya.

Aku meletakkan jaketku ke gantungan baju.

“Mas Faiz, mau ganti baju? Aku keluar dulu kalau gitu,” katanya.

“Nggak, nggak usah. Kamu di sini saja. Tugasmu menjaga Devita. Aku ambil bajuku saja,” kataku.

Aku membuka lemari bajuku dan mengambil baju untuk kupakai di rumah. Kemudian aku pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku. Setiap kamar di rumah ini punya kamar mandi di dalam jadi tak perlu repot antri. Setelah ganti baju sekalian mandi aku pun keluar. Kubawa bajuku untuk aku taruh di laundry.

Setelah itu aku berniat bikin sarapan di dapur. Eh, di sana sudah ada Jung Ji Moon. Tumben dia masak. Yang kutahu agen rahasia NIS ini tak bisa masak. Begitu masuk dapur aku langsung di sapa olehnya.

“Hai sayang, baru pulang?” sapanya.

“Sayang? Kamu???”

“Ini aku Dede,” katanya.

OK, ini aneh. Bagaimana mungkin dia Devita? Harusnya sekarang dia berubah jadi Jung Ji Moon.

“Serius?” tanyaku.

“Iya. Aku bantu bikin sarapan ya?”

“OK,” jawabku.

Aku pun membantu dia membuat sarapan. Membikin omelet, Poach Egg dan Smash Potatto. Dan yang terakhir aku memasak air untuk aku buat kopi. Saat itulah sesuatu yang tak terduga terjadi. Moon dengan kepribadian Devita tiba-tiba berlutut di hadapanku.

“Kamu ngapain?” tanyaku.

Dia menempelkan jari telunjuknya ke bibir. “Ssshh…”

Dalam sekejap ia menurunkan celanaku, hingga melihat kemaluanku yang masih tidur.

“Dede, jangan! Kamu gila apa? Kalau ada yang tau gimana?”

Dia tak mempedulikanku. Punyaku digenggamnya dan dikocoknya. Walaupun dia bertubuh Moon, tapi perlakuannya membuat penisku ereksi juga. Sedikit demi sedikit mulai bangun. Dan….HAP…penisku ditangkap oleh mulutnya. Ia menyedot-nyedot dan mengulumnya. OOhhhh….fuck…kalau sudah begini, mau dia Devita atau bukan tetep saja rasanya nikmat. Saat itulah Hiro tiba-tiba muncul.

“Hai Mas?!” sapanya. “Nggak lihat Jung Ji Moon?”

Aku melirik ke bawah. Moon menggeleng. Gila apa aku bilang dia ada di bawahku sedang memberikan service?

“Oh, nggak. Aku nggak tau,” jawabku.

“Oh ya sudah. Masak apa nih?” tanyanya.

“Bikin omelet, poach…,” gilaaaaakkk…punyaku digelitiki, bikin geli.”…Egg, sama…smash potatto. Nih…!”

“Kenapa mas?”

“Oh, nggak apa-apa. Ambil nih semua!” kataku sambil menyerahkan piring-piring berisikan makanan ke arahnya. Hiro tentu saja tak melihat Moon karena dapurku tertutup setengah badan. Dari luar akan tampak aku saja sendirian di dapur, tapi di bawah siapa yang tahu.

Hiro menerima piring-piring itu. Setelah itu ia pergi ke meja makan. Kuluman Moon..eh..Devita mulai menggila. Kepalanya maju mundur, penisku benar-benar keras sekarang. Aku meremas rambutnya dan kuacak-acak. Enak banget. Lagian gara-gara kentang kemarin, sewaktu dia menggodaku, penisku kepingin muntah sekarang. Di mengocok dengan cepat batang kemaluanku. Pinggulku juga bergoyang hebat. Daannnn…..Aku pun sampai. Spermaku menyembur dimulutnya. Ehh…dia telan?

“Tunggu, tunggu, itu tubuh Moon. Devita kamu gila!” bisikku. Ia menyedoti dan mengisapnya sampai habis.

“Nggak apa-apa, toh aku saja yang merasakan. Moon tak merasakan ini, tenang aja,” katanya.

“Tapi meskipun begitu itu tubuh Moon!” kataku. Segera kubenahi celanaku. Devita berdiri dan berkumur-kumur di wastafel. Biar bau sperma di mulutnya tak ketahuan tentu. Setelah itu dia menciumku dan pergi. Aku masih mengatur nafasku. Hampir saja copot jantungku. Dan kulihat air yang kumasak tadi sudah habis gara-gara terlalu lama kubiarkan mendidih. Segera aku angkat dan kuisi lagi.

***

NARASI MOON

Di mana aku? Kenapa gelap? Hiro?? Hiro?? Di mana Hiro???

Aku meraba-raba dalam gelap. Tak ada yang bisa aku gapai. Kemana semua orang? Kemana? Hiro? Kamu di mana? Hiro?

“Moon?” ada yang memanggilku.

“Moon?” aku dipanggil lagi.

“Siapa?” tanyaku.

Tiba-tiba semuanya terang. Aku melihat wajah seseorang. Ayah???

“Pagi ayah?!” itu suaraku? Suaraku?

“Anak ayah sudah bangun! Ayo sini!” kata ayahku. Dia lalu menggendongku. Aku diputar-putarnya di udara. “Hari ini anak ayah pertama kali berangkat sekolah, bagaimana perasaanmu?”

“Aku senang ayah,” jawabku.

“Ayah, sudah. Ayo Moon mandi,” itu suara ibu. Ibuku aku bisa lihat beliau. Rambutnya merah sama seperti aku. Matanya hijau. Dia sangat cantik. Aku mewarisi kecantikan ibuku. Ayah langsung menurunkan aku. Aku dibimbing ibuku menuju ke kamar mandi.

Di kamar mandi ini, aku dimandikan ibuku. Setelah mandi lalu dikeringkan, dipakaikan baju seragam. Aku ingat memory ini. Ini adalah saat pertama kali aku berangkat sekolah. Aku rindu kepada mereka. Aku sangat merindukan ayah dan ibuku.

Aku setelah itu berangkat sekolah di antar oleh ayah dan ibuku. Ayah masih dengan baju militernya menggandengku. Ibuku juga menggandengku. Kami berjalan menyusuri trotoar. Sekolahnya dengan rumah tak begitu jauh. Aku sangat bahagia hari itu. Ketika sudah sampai di gerbang sekolah, ayah menggendongku dan menciumi pipiku.

“Jadi anak yang pintar ya Moon!” kata ayahku. Wajahnya sangat teduh. Aku memeluknya. “Ayah sedang ada tugas negara. Do’akan ayah bisa segera pulang ya?”

“Aku nanti kalau besar ingin seperti ayah,” jawabku.

Aku menangis. Inilah alasanku menjadi seorang agen. Aku ingin seperti ayahku. Berjuang untuk negaraku.

“Iya, ayah akan tunggu saat itu Moon. Kamu anak ayah yang paling hebat,” kata ayah. Bayangan memory itu aku ingat semuanya. Aku ingat semuanya.

Ayaaaahh….aku merindukanmu. Aku menangis, menangis dalam gelap. Hiro…aku membutuhkanmu. Kamu di mana?? Kamu di mana??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*