Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 19

Si Rambut Merah Bab 19

BAB XIX

NOooo!

NARASI HIRO

Aku menciumi Moon. Lebih dari itu kami french kiss. Aku berada di bawah guyuran hujan. Saling membelai saling meraba, bercumbu di sebuah atap gedung yang tak terpakai. Aku memejamkan mata menikmati setiap sentuhan. Baju Moon sudah basah, menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi. Aku pun jadi lebih bernafsu dengan dirinya.

“Ohh…Hiro,” desahnya.

Awalnya adalah kami mencari tempat untuk berlatih. Untunglah aku menemukan sebuah gedung tua yang tak terpakai. Kami di sini akan berlatih bertarung. Intinya jangan sampai diketahui umum. Aku diajari oleh Moon cara menggunakan pisau, juga cara menggunakan pedang. Entah benda-benda seperti itu bagaimana bisa ia mendapatkannya.

“Fisikmu sudah terlatih Hiro, sekarang waktunya berlatih bertarung. Ayo! Serang aku!” katanya.

Aku pun menerjangnya tapi pukulanku memang tak begitu keras karena tak tega memukulnya. Dia dengan mudah menangkap tanganku dan langsung membantingku. BRUK!

“Aawww….,” sakit banget.

“Yang sungguh-sungguh, anggap aku sebagai musuhmu!” kata Moon.

“Bagaimana bisa?” tanyaku.

Tiba-tiba Moon maju dan akan menginjakku, aku segera berkelit. Kini aku sudah kembali berdiri. Dia sungguh-sungguh. Baiklah, dalam bertarung ada kuda-kuda khusus nggak sih? Aku tak pernah belajar beladiri. OK, aku tiru saja kuda-kudanya Moon. Kedua tangan berada di depan dada. Tubuh miring ke kiri. Kaki terbuka lebar.

Moon bergerak lagi kini entah bagaimana sudah ada di bawah dan DUESSHH! AKu kena uppercut. Gigi atas dan gigi bawahku berbenturan hebat. Aku untuk sesaat pusing dan hilang keseimbangan, keras sekali pukulannya. Hampir saja aku jatuh tapi aku hentakkan kakikku kuat-kuat. Pandanganku masih berputar. Ini cewek, pukulannya sekeras ini.

Moon kembali maju. Aku mencoba memukulnya. Eh, dia bisa menangkap pukulanku, dan BUK! Ugh…kena ulu hatiku. Aku langsung ambruk, meringis.

“Cara mukul kamu bukan begitu Hiro. Lihat aku!” Moon memperagakan cara memukul. “Ketika memukul kepalkan tangan seperti ini. Tekuk jari-jarimu! Letakkan ujung jari telapak tangan di pangkal masing-masing ruas jari, lalu kepalkan tanganmu. Inilah cara untuk mengepalkan tangan. Kedua, ketika memukul kerahkan energi dari pundakmu, selain dari tanganmu tentunya. Hal ini akan menimbulkan efek yang luar biasa. Kalau kamu ingin lebih tambahkan energi tubuhmu. Dan kakimu jadikan kakimu yang paling kuat sebagai tumpuan. Seperti ini!”

WHUZZ! Moon memperagakan cara memukul. Gila, aku bisa dengar angin berhembus dari pukulannya.

Setelah rasa sakitku reda, aku mencoba meniru gerakan Moon. Ya, aku bisa merasakan energi dari pukulanku dengan cara seperti ini. Aku sendiri tak percaya.

“Dalam berkelahi yang nomor satu adalah kecepatan. Seberapapun kuat dirimu, tapi kalau kamu lambat, kau hanya akan jadi bulan-bulanan saja. Kedua, pertahanan. Cara bertahan adalah dengan mengangkat kedua lenganmu sejajar dengan kepalamu. Cara ini biasanya dipakai oleh para petinju. Selain itu cara bertahan yang lain adalah dengan kaki. Kamu bisa menaikkan salah satu kakimu untuk memberikan efek pertahanan yang lebih kuat,” Moon memperagakan bagaimana cara bertahan dengan tangan dan kaki. Luar biasa. Aku pun menirukan gerakannya.

“Sekarang, coba lawan aku lagi!” kata Moon.

Aku sekarang mencoba sungguh-sungguh untuk memukulnya. Dia menangkis. Oh iya, refleknya bagus, dia kemudian membalas, aku menangkis. Selama beberapa waktu kami saling memukul, menangkis, membalas, menendang dan lagi-lagi tanganku bisa ditankap dan dibanting. Tapi aku langsung berdiri dan menyerangnya balik.

Selama sepuluh menit sparring, aku tak pernah menyentuh Moon. Padahal aku sudah sungguh-sungguh. Selain gerakan-gerakan di atas, aku juga diajarkan cara melemparkan pisau. Lalu cara menggunakan pedang. Ia memamerkanku cara menggunakan samurai. Aku pun belajar menggunakan pedang kayu. Dia memukulku berkali-kali dengan pedang kayunya. Akibatnya sukses tubuhku lebam-lebam. Dari perut, dadaku, lengan, sampai membekas biru di beberapa tempat.

“Bagaimana latihannya cukup?” tanyanya.

“Aku masih kuat,” kataku. Padahal nafas sudah ngos-ngosan.

Langit mulai gelap, hari masih sore padahal, tapi sudah seperti malam. Kemudian tiba-tiba hujan pun turun. Awalnya cuma rintik-rintik lalu deras. Bahkan sekarang disertai angin. Aku dan Moon kembali bertarung dengan pedang kayu. PLETAK! kena kepalaku. Percuma mengaduh. Aku langsung serang Moon lagi. Kali ini aku merendah, karena Moon lebih banyak mengambil sikap berdiri dengan pedang mengacung ke arahku. Dengan cara ini aku merayap dengan cepat ke sampingnya. Ia agak terkejut dengan gerakanku. Dan sebelum ia sempat bertahan, aku sudah menebas perutnya. BUK! Kibasan butiran air hujan meninggalkan jejak yang jelas seperti darah yang muncrat dari luka yang baru saja ditebas oleh pedang.

Moon pun terjatuh sambil memegang perutnya. Aku segera melepaskan pedangku dan menolong Moon.

“Moon! Moon! Kamu tak apa-apa?” tanyaku.

Dia meringis tapi sambil tersenyum, “Tak apa-apa, itu tadi mengejutkanku. Aku tak pernah mengajarkan gerakan seperti itu.”

“Maaf, tapi itu tadi insting saja,” jawabku. “Boleh aku lihat lukanya?”

Moon mengangguk. Aku menaikkan kaosnya yang basah kuyup karena hujan itu. Ada luka memar memanjang di perutnya. Moon bangkit, aku lalu menciumi luka itu.

“Ohh…Hiro, jangan!” katanya.

Aku tak pedulikan kuciumi lukanya, di atas luka lebam itu aku melihat sebuah lukanya yang lain. Bekas tertembus peluru. Moon menggelinjang. Ia meremas kepalaku.

Kami kemudian berdiri berhadapan. Moon menjatuhkan pedang kayunya. Dengan guyuran hujan entah kenapa tiba-tiba saja aku benar-benar menginginkannya sekarang. Aku pun menciumnya, melumat bibirnya. Lidah kami berpanggut. Kami saling membelai meraba. Aku pun meremas dadanya yang masih terbungkus bra itu. Bra adikku itu ternyata tak cukup untuk menampung dadanya, aku menariknya ke atas. Payudaranya pun seperti kepingin lolos begitu saja.

Aku bahkan sampai tak peduli ada geledek nyamber di dekat kami. Sensasinya dingin-dingin gimana gitu. Moon kemudian naik ke tubuhku. Aku menggendongnya hingga sampai ke sebuah tembok. Aku kemudian menghisap dadanya. Aku hisap putingnya. Dengan air hujan ditubuhnya rasanya sedikit tawar.

“Hirooo…uhgghh…aahhh..,” keluhnya.

Aku lalu menuju ke bawah. Karena dia memakai legging ketat maka dengan satu gerakan dengan mudah aku sudah melepaskan celananya, sekaligus celana dalamnya. Rambut kemaluannya basah terkena air hujan. Kutangkap butiran-butiran air itu dengan mulutku. Dan aku ciumi kemaluannya.

“Hiroooo…..hhhhmmmmhhh,” dia mendesah lagi.

Aku kemudian menjilati kemaluannya, sensasinya unik, karena kami diguyur hujan. Bagaikan menyelam di dalam kolam. Moon mulai lemas. Terlebih aku sekarang menjilati juga pahanya, kuciumi dan kuhisap. Pinggangnya bergetar. Aku lalu berdiri menurunkan celana trainingku. Punyaku sudah tegang dan mengacung seperti senapan AK47.

Aku lalu menciumi leher Moon, ini adalah titik sensitifnya, sebab setiap kali aku cium ia selalu menghindar dengan alasan, “Aku tak kuat kalau dicium di situ.” Kali ini aku menciumnya, kujilati sampai mendekati telinganya.

“Tidak Hirooo….aku tak tahan digituin. Please come in!” katanya sambil meremas-remas batang kemaluanku yang makin mengeras.

Aku lalu mengangkat salah satu kakinya dan kumajukan selakanganku ke arah kemaluannya. Pionku dengan mudah masuk. SLEBBB! uuugghh….nikmat sekali. Moon memelukku. Pantatku pun bergerak maju mundur. Penisku menusuk-nusuk kemaluannya yang becek dengan campuran lendir dan air hujan. Hawa dingin sudah tak terasa lagi, yang ada adalah hawa panas dari tubuh kami berdua.

“Ahhh…ahh…ahhh..ohhhh..oohh…Hirooo…hhhmmm, ” Moon kembali melenguh.

Geli sekali penisku dengan posisi seperti ini. Baru kali ini aku bercinta berdiri seperti ini. Kemudian Moon mendorongku dan dia berbalik. Ia menungging. Aku pun mengerti. Lalu aku menancapkan kemaluanku. SLEBB! OUuggh…kemaluan Moon seperti menjepitku. Aku seperti diremas-remas. Tidak hanya itu semakin aku goyang semakin nikmat pantatnya yang seksi itu selalu membuatku ketagihan. Aku ingin terus dan terus menggoyangnya. Ahhh…nikmat sekali.

Aku melakukannya sambil memegan toket miliknya. Putingnya kupijit-pijit.

“Ahh..Ahh..aaahh….AAHH!” tiba-tiba Moon tersentak. “I’m cumming Hiro…Ohh…!”

Moon mengejang. Batang kemaluanku serasa dijepit. Ahh…serr…serr…ada cairan yang keluar dari kemaluannya. Kemudian ia berbalik ke aku.

“Kamu belum ya?” tanyanya.

“Belum,” jawabku.

Kini Moon berbaring di lantai atap gedung. Aku menciuminya. Kuposisikan diriku seperti push up.

“Kamu mau push up?” tanyanya.

“Aku belum pernah push-up sambil bercinta, boleh?” tanyaku.

Ia mengangguk, “Tapi aku sepertinya lemas sekali. Entah kenapa orgasmeku begitu cepat.”

Kedua tangan Moon terlentang ke atas. Aku menciumi ketiaknya. Ia menjerit. “Hirooo, please don’t! Kelemahanku adalah leherku dan ketiakku. Aku tak akan kuasa kalau kamu lakukan itu. Aku bisa menjerit lagi.”

Aku tak tahu kalau ia bicara sejujur itu. Aku pun mencium dan menjilati ketiaknya yang putih itu. Ia menjerit. Penisku langsung masuk begitu saja ke vaginanya. Tiba-tiba Moon memelukku. Heh? Kemaluannya berkedut-kedut, ia keluar lagi???

“Hiroo! What I tell you don’t do it. I’m cumming again!” katanya sambil mencubitku.

Aku tersenyum. Aku menciuminya lagi.

“Ahh…I’m so tired!” katanya. Ia memejamkan mata. “Do whatever you want.”

Aku masih menggenjotnya. Penisku keluar masuk, naik turun. Entah kenapa makin lama kemaluannya makin seret aja rasanya. Moon masih memejamkan mata. Lalu aku hanya bisa mendengar derasan air hujan dan kecipak bunyi kemaluan kami. Beberapa saat kemudian aku ingin sekali keluar…AAHhh….

“Moon! AKu ingin sampe!” kataku. Aku percepat ritme push upku. Kali ini hanya pinggulku yang naik turun. Dan…aku pun meledak. Spermaku muncrat keluar, tapi ada yang aneh. Moon menatap aku dengan pandangan aneh.

“APA YANG KAMU LAKUKAAAAN???!” teriaknya.

What the fuck???!

Tubuhku didorongnya. Aku tentu saja kaget. Moon segera berdiri.

“Oh tidak, tidak, tidak, tidak!” ujarnya.

“Moon?!” kataku.

“Aku Devita! Bukan Moon!” katanya.

“Oh great,” kataku. “Sorry, aku..aku tak..bermaksud. Tadi soalnya aku sama Moon….”

Moon sekarang sedang berpindah ke kepribadian Devita. Jadi Moon tadi tertidur? Dan sekarang jadi Devita? Langsung deh penisku menyusut. Devita pun menangis.

“Kenapa? Kenapa?” dia menangis. Aku jadi bingung sekarang. Memang itu tubuh Moon, tapi sekarang memory Devita mengambil alihnya. OK, this is fucked up. This is a mess.

“Maaf, aku tak tahu tadi,” kataku.

Devita dengan tubuh Moon mulai memakai bajunya dan membenahi bajunya lagi. Dia mendekat kepadaku dan menamparku sekuat-kuatnya. Aku sampai terhuyung.

“Kalau kamu cerita ini ke Faiz, aku akan membunuhmu. Aku tak peduli kamu adiknya Faiz atau bukan,” katanya. Setelah itu ia pergi keluar gedung.

“Fuck! Shit!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*