Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 18

Si Rambut Merah Bab 18

BAB XVIII

Hyper Suit

NARASI FAIZ Jr

Aku melihat Hiro latihan keras. Dia benar-benar bertekad untuk bisa balas dendam kepada Suni. Sebenarnya aku shock. Datang dari Oxford langsung berurusan dengan hal seperti ini. Bertemu lagi dengan Dede merupakan sesuatu yang tidak pernah aku duga. Antara senang dan sedih. Itulah yang bisa aku katakan sekarang.

Lihat saja bagaimana kesadaran Dede bisa berada di dalam diri Jung Ji Moon. Memang benar tubuh Dede ada di sana, setiap malam aku menungguinya, tapi Moon dengan kesadaran Dede menemaniku hampir tiap malam. Aku jadi bingung. Apakah ada cara lain untuk bisa menyelamatkan Dede. Kalau sampai Dede tak bisa dikembalikan, atau malah kesadarannya mati, maka musnah sudah semuanya. Kenanganku bersama dia hilang semuanya. Aku sangat mencintai Dede.

Ketika di Oxford, aku terus menerus mengirimi dia email. Aku tak peduli ia membalasnya atau tidak. Aku juga tak peduli apakah dia membacanya atau tidak. Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku tetap setia kepadanya. Banyak sebenarnya cewek cakep di Oxford, tapi aku tetap memenuhi janjiku. Bahwa aku tak akan bersama wanita lain selain dirinya. Tapi kalau lama-kelamaan seperti ini dengan dia menemaniku tiap hari, itu sama saja dengan aku melihat Devita dalam wujud lain. Wujud seorang gadis berambut merah, berwajah oriental. Jelas berbeda dengan Devita yang berwajah manis, berambut lurus sebahu. Aku mulai tak terima ini semua. Kalau diteruskan bisa-bisa aku juga menyukai Jung Ji Moon. Bukan Devita.

Ketika Moon dengan kepribadian Devita bersamaku, aku lihat semuanya. Semua tingkah polahnya persis seperti dia. Aku jadi ingat bagaimana ketika aku masih bersama dia dulu ketika kecil. Dia selalu menyibakkan rambutnya ditelinga. Itu selalu dilakukannya. Dan seperti malam-malam sebelumnya dia datang membawakanku makanan, menyuapiku. Dia tidak seperti Jung Ji Moon, seperti Devita. Aku harus terima kenyataan dia bukan Devita. Dede ada di tempat tidur, berbaring tanpa daya dengan selang infus yang harus aku ganti setiap waktu.

Aku juga tak rela kalau kepribadian Devita hilang dan lebih kuat kepribadian Moon. Aku tak tahu juga sampai kapan ini terus berlanjut. Ayah masih tak bisa kuhubungi. Beliau sedang berusaha mencari keberadaan Dr. Edward.

Ngomong-ngomong Dr.Edward, aku dulu sebelum pergi ke Oxford pernah bertemu dengan dia. Hiro juga sebenarnya pernah bertemu, tapi mungkin dia tak tahu kalau itu adalah Dr. Edward. Ketika kami untuk pertama kalinya menggunakan sistem bank data paling aman di dunia dengan menggunakan DNA kami sebagai pembuka ruangannya. Dr. Edward merupakan orang kebangsaan Finlandia. Dialah yang merancang keamanan ini.

Aku masih ingat ketika beliau mengumpulkanku dengan Hiro. Dia menscan DNA kami untuk diolah sebagai kunci. Yang bisa membuka pintu server hanya kami berdua. Sebab di dalamnya ada banyak data-data penting yang disimpan di sana. Maka dari itulah dibutuhkan tingkat keamanan tinggi untuk bisa membukanya. Ini semua adalah ide ayahku. Dia cukup pintar merancan ini semua.

Hari ini aku menemui Profesor Andy. Dia seorang ahli senjata dari negeri ini yang mana telah mematenkan banyak sekali senjata dan dia sebenarnya bisa saja sekarang disewa oleh Jerman, Rusia atau Amerika untuk membuat senjata, tapi dia sama sekali tak tertarik. Hanya gara-gara ingin memberikan ilmu yang dia punyai untuk negeri ini. Sayangnya karena sebuah kasus korupsi proyeknya gagal. Aku sendiri tak tahu detailnya. Tapi hari ini aku menemuinya di sebuah laboratorium miliknya. Cukup jauh dari ibu kota. Total perjalanan adalah 4 jam.

Laboratorium itu cukup besar. Ada sebuah teleskop besar di sana. Bangunan itu terbagi menjadi tiga bagian. Rumah, laboratorium dan sebuah rumah kaca. Halamannya cukup luas, tapi tidak ada aspal. Cuma tanah dan kerikil. Mobilku segera memasuki halamannya. Tempat itu tak terawat. Banyak ilalang, rerumputan dan semak-semak liar. Dari kejauhan aku bisa melihat rumah kaca itu pun tak terawat. Berdebu. Tanaman-tanaman seperti rumput dan semak belukar pun tumbuh dengan liar di tempat itu. Beberapa kacanya pun pecah.

Aku sepertinya tak perlu mengetuk pintu karena sang Profesor sudah ada di luar sedang duduk di kursi malasnya sambil menikmati segelas Ice Lemon Tea. Orang tua itu mengerutkan dahi ketika melihatku ada di hadapannya. Sampai-sampai aku bisa melihat alisnya yang berwarna putih dan tebal itu menyatu.

“Siapa?” tanyanya.

“Faiz Hendrajaya Junior, saya ingin membicarakan masalah bisnis dengan Anda,” jawabku.

“Bisnis? Aku tak punya bisnis. Aku sedang terpuruk sekarang. Uangku sudah hampir habis tapi tak ada satupun klien yang menginginkan jasaku lagi. Hak patenku dicabut gara-gara aku terlibat korupsi. Padahal itu bukan salahku. Dasar politikus keparat,” ujarnya.

“Tenang, kali ini aku bisa membantu Anda. Aku ingin tahu apa saja yang Anda punyai,” kataku.

Wajahnya sedikit berubah. Dia langsung turun dari kursi malasnya dan memakai sandal jepit yang ada di lantai.

“Ikut aku,” katanya.

Aku diajak dia masuk ke rumahnya. Sangat berantakan. Mungkin dia hidup sendiri. Tapi aku melihat sebuah foto berisikan seorang wanita yang bersanding dengannya. Juga seorang gadis kecil. Di foto itu profesor kelihatan masih muda. Sang profesor melirik ke arahku.

“Itu anak dan istriku. Aku sudah sepuluh tahun ini tidak bertemu dengan mereka. Mereka sudah punya keluarga baru mungkin. Aku masih berada di sini saja. Tidak bergerak. Masuklah!”

Sang profesor mengajakku ke laboratoriumnya. Dia menekan saklar dan lampu seluruh ruangan pun lambat laun mulai menyala semua. Aku melihat komputer, kabel-kabel dan sebuah komputer besar dengan monitor sebesar 100 inchi di sudut ruangan. Profesor terus melangkah, kali ini ke sebuah tangga yang menuju ruang bawah tanah.

Aku agak terkejut karena di ruangan bawah tanah ini lebih rapi dan lebih luas. Kuperkirakan luasnya seluas seluruh pekarangan rumah profesor ini. Mungkin seluas lapangan sepak bola. Dia menghampiri sebuah selongsong meriam panjang.

“Ini buatanku, namanya Nutt Cracker,” jelasnya.

“What?”

“Ah, lupakan. Aku juga tidak suka dengan namanya. Dan ini adalah senapan sniper buatanku. Diadaptasi dari generasi terbaru Anti Material Rifle. Bisa menembus dua gedung dalam uji cobanya, tapi karena terlalu mahal maka pemerintah kita tidak jadi membelinya.”

“Aku ingin project Future Soldier yang diberhentikan arena Anda kena kasus itu. Aku ingin tahu detailnya.”

“Kau pasti bercanda. Tapi baiklah, mari-mari. Lihat!”

Profesor Andy mengajakku ke sebuah meja besar. Meja itu ternyata sebuah monitor Touch screen. Dia mengopreasikannya dan memperlihatkanku sebuah blueprint.

“Inilah projek manusia masa depan itu. Gara-gara politikus keparat itu kerjaku selama lima tahun sia-sia belaka. Padahal baju ini sudah 70 persen selesai. Bangsat mereka,” ujarnya.

“Kau butuh biaya berapa untuk menyelesaikannya?”

“Banyak, aku butuh 3 milyar lagi,” ia mengatakan itu sambil menatap mataku. Aku mengangguk, “Dalam dollar”

“Tak masalah. Kalau misalnya aku punya uang lebih dari itu, apa kamu mau melanjutkannya?”

“Kamu…,” dia menatapku dalam-dalam. “Sebentar, Faiz Hendrajaya? No Shit! No Shit! Kau putra pemilik M-Tech???”

“Kau benar,” jawabku.

Dia langsung memegang kedua bahuku.

“Ya, ya, ya, aku seharusnya menyambutmu. Ehhh…gimana ya….baiklah, duduk duduk, aku ingin mempresentasikannya!” dia mendorongku ke sebuah kursi.

Entah kenapa tiba-tiba ia sedikit berubah lagi. Lebih seperti orang yang diberi harapan. Dia lalu menampilkan ke layar monitor sebuah baju. Buka baju biasa. Aku tak mengerti isinya. Tapi dari gambarnya sepertinya itu adalah baju perang.

“Ini namanya Hyper Suit. Teknologi yang seharusnya kita punya lima tahun yang lalu. Pemerintah sudah mengeluarkan biaya 7 Triliyun hanya untuk membuat satu baju ini, tapi banyak yang dimakan oleh para politikus keparat itu.”

“Kemampuannya?”

“Baju ini sebenarnya akan digunakan oleh para tentara. Sebuah senjata baru. Baju ini tahan panas 60.000 derajat kelvin. Baju ini juga tahan gores. Orang yang memakainya akan memaksimalkan kinerja otot dan membuatnya punya energi 10 kali tenaga gajah. Baju ini juga membuatnya bisa melompat sejauh 100 meter. Bisa juga bergerak 10 kali lebih cepat. Baju ini juga tak akan mudah ditembus oleh artileri manapun, kecuali bom nuklir tentuya.”

“No fucking way. Kamu yang membuat ini?”

“Iya, setidaknya ini adalah karya terakhirku.”

“Aku akan jujur kepadamu, aku baru saja bertemu seseorang bernama Lucifer dan dia tak bisa ditangkap, peluru tak bisa mengenainya, gerakannya sangat cepat. Apakah baju ini sama seperti apa yang dia pakai?”

“Lucifer?” Profesor Andy bergumam sendiri. Ia menggigiti kuku jari jempol tangan kanannya.

“Profesor?”

“Tak mungkin, tak mungkin. Dia pasti tak akan mungkin bisa membuatnya. Katakan kepadaku seperti apa wajahnya?”

“Wajahnya kurus, aku tak tahu tapi sepertinya dia menyamar.”

“Itu dia orangnya. Keparat memang.”

“Kenapa?”

“Dia mencuri ide Hyper Suit ini.”

“Siapa?”

“Namanya Luke, dia orang yang pernah bekerja padaku tapi kemudian dia mengundurkan diri ketika aku terlibat kasus korupsi itu. Dia …dia pasti yang membuatnya, tak salah lagi. Tapi….dia tak akan mampu mengalahkanku. Faiz!”

Aku agak terkejut ketika dia menggebrak meja dan memanggil namaku.

“Kalau memang kamu bisa mendanaiku, aku akan membuatkanmu satu. Khusus untukmu. Aku akan buktikan bahwa buatanku lebih baik dari dia,” katanya penuh amarah.

“Kau yakin?”

“Aku yakin sekali.”

“Baiklah, mulai sekarang aku akan mensupportmu, kamu butuh berapapun aku akan berikan. Seluruh akses di M-Tech pun sekarang boleh kau akses. Aku akan suruh orang membersihkan rumahmu kalau perlu.”

“Tidak, itu tak perlu. Aku bisa melakukan sendiri.”

“Baiklah, kapan baju itu selesai kira-kira?”

“Aku akan menghubungimu lagi.”

“Ok, ini kartu namaku,” kataku sambil menaruh kartu nama di atas meja.

***

Malam harinya aku pulang ke rumah. Di rumah agak ramai karena Bunda Iskha juga ada di sini. Juga para sepupuku yang lain. Di luar halaman aku lihat Hiro memukul-mukul balok kayu. Moon tampak berada di pintu kamarku.

“Kamu sudah pulang?” gaya bicaranya seperti Devita.

“Dede?” tanyaku.

Ia mengangguk.

“Iya,” kataku. Aku membuka kamarku dan kudapati tubuh Devita sudah berganti baju.

“Aku tadi yang mengganti bajunya. Maaf ya, aku jadi orang aneh yang menggantikan bajuku sendiri,” katanya.

Dede, aku akan mengembalikan dirimu seperti awal lagi. Aku memegang pipinya. Ia memejamkan matanya dan mencium tanganku. Tidak, itu wajah Moon, bukan wajah Devita. Aku pun meninggalkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*