Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 17

Si Rambut Merah Bab 17

BAB XVII

Latihan

NARASI HIRO

Sudah dua minggu ini aku berlatih bersama Moon. Lari 10km, push up 100x, sit up 100x, scottjump 100x, plus sebagai menu penutup, aku disuruh memukul papan balok sebanyak 3.000 kali. Dan hampir tiap hari aku tepar. Otot-ototku serasa meledak semua. Dari kaki hingga lengan. Aku pun mulai diet dan memakan makanan berprotein. Hasilnya cukup memuaskan. Badanku sedikit lebih berisi sekarang.

“Belum ada kabar tentang Dr. Edward?” tanya Moon.

“Belum, nanti kalau ketemu pasti beliau akan memberitahu kita,” jawabku.

“Kau berubah,” kata Moon. “Latihannya benar-benar ada efeknya sekarang.”

“Memangnya kamu berlatih seperti ini?” tanyaku.

“Tidak, tapi dengan cara yang lain. Aku dilepas di sebuah pulau yang terpencil. Tak ada penerangan, tak ada alat komunikasi. Aku disuruh untuk bertahan selama dua bulan. Selama itulah aku bertahan dari sengatan racun kalajengking, bisa ular, survive, menaklukkan alam. Hampir tiap hari diguyur hujan. Tidur di bawah derasnya air hujan. Efeknya tidak seperti yang kamu lakukan saat ini. Kamu masih bisa makan, minum dan berteduh. Aku dulu tidak bisa,” jawab Moon. Rasanya aku tak seharusnya bertanya seperti itu. Sebagai seorang agen rahasia, pasti punya metode latihan sendiri. Bodoh aku.

“Maaf, tentunya kamu latihannya lebih keras daripada aku,” kataku.

“Tidak juga, aku hanya beberapa bulan saja latihan di luar. Selebihnya aku belajar yang lain,” katanya.

“Di antaranya?”

“Cara menaklukkan pria,” matanya berkedip kepadaku.

“Apa itu? Bisa kau praktekkan kepadaku?” godaku.

“You wish,” dia menjulurkan lidahnya.

“Come on Moon,” kataku.

“Cacth me if you can!” katanya. Dia tiba-tiba berlari. Aku pun mengejarnya. Pagi itu kami berlari-lari mengitari komplek. Kadang dash, lalu normal, dash normal. Lalu kami balap lari sampai ke sebuah tanah lapang yang biasanya dibuat main sepak bola anak-anak. Aku dan Moon langsung bergulingan di sana. Kami tertawa.

“Gila, larimu cepet banget,” katanya.

Moon merebahkan dirinya di atas rumput. Dan aku ada di sebelahnya. Aku pun mendekat. Lebih dekat, dekat lagi. Wajahnya sekarang tepat berada di hadapanku. Aku pun menciumnya. Aku tak peduli ada orang yang melihat kami. Aku mencium Moon. Dia lalu mendorongku.

“Udah ah,” katanya. Ia langsung berdiri. “Mau latihan yang lain?”

Aku setuju saja sih.

***

Moon menghilang beberapa saat. Aku tak melihatnya setelah itu. Aku hanya harus mengerjakan menu latihanku seperti biasa. Setelah itu ia akan menghubungiku nanti. Ya sudahlah. Tepat siang hari, ia pun menghubungiku untuk pergi ke sebuah tanah lapang yang tak jauh dari rumah.

Setelah aku tiba di tempat itu. Dia memperlihatkanku sebuah tas yang berisi banyak sekali pistol.

“Setiap senjata beratnya berbeda-beda. Tergantung dari merek dan jenisnya. Aku bawa beberapa jenis,” kata Moon. “Pistol itu bermacam-macam, ini namanya Socom, ini Bereta, ini Glock, ini PPK. Kamu tentunya pernah lihat film James Bond, mereka pakai PPK, pistol ini ringan dan tidak terdeteksi. Socom biasanya digunakan oleh para tentara dan cukup powerful. Beretta termasuk pistol semi automatic. Biasanya digunakan US Armed Forces. Glock adalah kesukaanku. Dia cepat dan akurat. Kamu mau coba yang mana?”

Aku menelan ludah. Bingung mau pilih yang mana. Kenapa nggak aku ambil acak saja sih? Tapi…aku sepertinya tertarik dengan Glock. Ku ambil pistol glock. Ternyata tak seberat yang aku kira. Tapi tetap saja terasa berat kalau tidak dengan tenaga aku membawanya.

Moon tersenyum kepadaku. “Kau memilih pilihan yang tepat.”

Aku dengan mudah bisa menggerak-gerakkan bagian slidenya. Eh, gampang banget?

“Awas, kalau tidak kamu tahan bisa tiba-tiba menebak pelurunya,” kata Moon. Ia menujuk ke pelatuknya. Aku manggut-manggut. “Ini ada tombol, kalau kamu geser ke sini maka akan mengunci, sebaliknya akan terbuka. Sekarang coba tembak sasaran di depan sana!”

Moon menunjuk ke sebuah barisan botol-botol bekas yang sudah ditatanya.

“Sekarang?” tanyaku.

“Kapan pun kamu siap,” jawabnya.

Aku menaikkan tangan kananku yang sudah membawa glock. Tangan kiriku menahannya. Aku memicingkan mataku.

“Tatap ujung pistolmu, di sana ada bagian untuk membidik. Terlihat sasaranmu?” tanya Moon.

“Yap,” jawabku.

“Sebagai penembak pemula. Tembak sasaran dua kali. Selalu dua kali. Agar engkau yakin sasaran yang kamu temba benar-benar telah mati,” katanya.

DOR! DOR! aku telah menembaknya saudara-saudara! Tapi sama sekali tak mengenai sasaran. Aku sedikit terkejut. Tanganku sampai terangkat.

Moon menaruh tangannya ke dadaku. Cess….aku seperti dikasih es.

“Tenang, nggak perlu grogi!” kata Moon menghiburku. “Sudah merasakan bukan rasanya?”

Aku mengangguk.

“Lanjutkan!” kata Moon. Dia menjauh lagi.

DOR! DOR! Aku mengikuti instruksinya dua kali menembak. PRANG! botolnya pecah.

“Nah, bisa kan?” tanyanya.

“Ya, aku bisa!” aku sendiri tak percaya.

“Coba latihan dengan pistol yang lain, untuk membedakan. Jangan takut, pelurunya pakai peluru karet semua,” kata Moon.

Setelah seharian berlatih menembak. Aku jalan-jalan dengan Moon. Agak aneh memang jalan-jalan sambil membawa kopor berisi pistol-pistol. Selama dua minggu di rumah, Moon lama-lama dekat dengan keluargaku. Dia numpang sebentar sampai misi dia selesai. Dia bercerita bahwa misinya dibatalkan sepihak karena kematian partner-partnernya. Dia memang memisahkan diri dan tak memberi kabar keberadaannya kepada atasannya. Sebab Moon ingin menyelesaikan misi ini sendirian tanpa bantuan siapapun. Dia sangat dendam kepada satu orang, yaitu Suni.

Jung Ji Moon juga bisa dekat dengan Rara dan Lusi. Yah, walaupun keduanya agak takut deket-deket dengan dia. Baju-baju yang dipakai Moon kebanyakan dari Rara. Ajaibnya ukurannya pas.

“Kamu kerasan tinggal di sini?” tanyaku.

“Lumayan,” jawabnya.

Aku berinisiatif memegang tangannya. Ia tersenyum aja.

“Boleh tahu alasannya kenapa kamu mau jadi kekasihku?” tanyaku.

Jung Ji Moon menggeleng. “Aku mencintaimu….aku hanya ingin kamu tahu itu. Aku punya alasan untuk hidup, tapi untuk mencintai seseorang aku tak tahu. Tapi bagaimana mencintai seseorang aku tahu. Kamu mengingatkanku kepada sosok ayahku.”

“Kau bercanda?”

“Tidak, beneran. Aku merasa nyaman di dekatmu. Awalnya aku merasa kamu ini bocah ingusan, culun. Tapi lambat laun aku melihat bagaimana kamu berubah. Kamu menjadi lembut terhadap perempuan, aku sendiri tidak pernah mengajarkan hal itu kepadamu. Sifat alamiahmu, semuanya mengubah penilaianku.”

“Aku rasanya tak akan senang Moon,” aku menghentikan langkahku. Beberapa meter lagi kita sampai di rumah.

“Maksudmu?”

“Aku tak akan senang kalau setelah misimu selesai kamu balik ke Seoul, aku takut kehilangan kamu. Kemarin ketika di gedung M-Tech, aku sangat khawatir kepadamu. Setiap Suni menyakitimu darahku serasa mendidih. Tapi dia sangat kuat….dia kuat…tapi aku ingin lebih kuat dari dia. Aku ingin menghajarnya. Aku tak akan memaafkan orang yang telah menyakitimu,” Aku mengepalkan tanganku. Benar-benar aku sangat benci kepada Suni.

“Kita akan hajar dia bersama-sama,” kata Moon.

Kami terdiam beberapa lama.

“Woi! Pacaran melulu! Bantu bunda nih!” terdengar suara Bunda Putri. Tampak beliau barusan dari belanja membawa banyak barang bawaan.

Aku dan Moon tersentak. Kami tertawa bersama. Segera aku dan Moon membantu Bunda Putri. Ternyata beliau baru saja belanja di swalayan dekat rumah. Aku jadi malu sekali.

NARASI MOON

Beginilah hari-hariku. Siang hari aku sebagai Moon. Malam hari sebagai Devita. Setiap kali aku tidur, aku tak tahu apa yang dilakukannya. Tapi kemarin dia bilang dia tidak melakukannya dengan Faiz. Syukurlah kalau begitu.

Begitu cepat dua minggu berlalu dan aku melihat perubahan besar pada diri Hiro. Dia makin kuat. Baru tiga hari latihan menembak dia sudah ahli. Sudah seperti seorang penembak jitu. Dia tak perlu menembak dua kali. Semuanya benar-benar di luar dugaanku. Aku bahkan dengan dia berlatih bermain pisau dan pedang sekarang. Aku seperti mengajari dia untuk jadi seorang tentara. Fisik dan staminanya luar biasa. Total sudah tiga minggu kami berlatih. Badannya sudah terbentuk, dia sudah bisa menggunakan senjata. Tinggal satu. Melatih instingnya.

“Kamu memang sudah terlatih Hiro, hanya satu saja yang belum,” kataku.

“Apa itu?”

“Insting. Dan melatih insting ini berat. Aku dulu melatih insting pergi ke pulau terpencil dan survive di sana selama dua bulan. Tapi kita tak mungkin melakukan itu sekarang.”

“Lalu?”

“Kamu berusahalah sendiri. Ini latihan terakhirmu. Ingat, ini berhubungan dengan bertahan hidup.”

Hiro tampak berpikir keras. Aku meninggalkannya sendiri. Mungkin dia akan menemukan jawabannya nanti.

***

Malam hari Hiro dan aku duduk-duduk di bangku pajang halaman belakang rumah. Rasanya nyaman sekali bersandar di bahunya. Aku pun dipeluknya. Dia menciumi keningku. Lalu aku menyambut bibirnya, sehingga bibir kami bertemu. Lama kami berfrench-kiss. Aku makin suka kepadanya sekarang. Tubuhnya makin kekar dan atletis. Aku membelai perutnya. Hihihi…dia udah tegang rupanya.

Lidah kami masih saling menghisap. Aku agak takut juga sih ada yang melihat. Kami soalnya ada di halaman rumah. Mana di dalem ada keluarganya Hiro lagi. Tapi aku tak peduli, ketahuan ya nikahin aja sekalian. Aku sudah menyerahkan hidupku kepada Hiro. Kalau toh kami sampai dinikahkan sekarang nggak masalah. Aku sudah memegangi batang yang mengeras miliknya.

“Moon, kalau ketahuan gimana?” tanya Hiro.

Aku tak peduli. Aku terus meremas-remasnya. Karena dia memakai celana training sehingga aku bisa dengan mudah menurunkannya. Langsung deh ketemu pion besar yang menyembul dan keras. Perasaanku saja atau aku merasa penisnya lebih besar ya? Masa’ latihan bisa berefek ke itunya??

Tanganku memegang pionnya. Hiro memejamkan mata. Ia tidak kusentuh lagi semenjak terakhir kali kita ML. Pasti sekarang dia merasakan sesuatu yang enak. Kugeser telunjukku di leher pionnya, kuelus dengan telunjukku memutari kulit pionnya lalu menekan lubang kencingnya.

“Aaahhh…Moon…,” desahnya.

Aku lalu mengocoknya lembut. Kepalaku kemudian turun ke bawah. Kuciumi kepala pionnya yang mengeras itu. Orang Indonesia rupanya punya tradisi memotong kulup penis mereka. Biasa disebut sunat. Hal itu malah membuat seorang wanita lebih bisa menikmati sex daripada yang ada kulupnya. Sebab kalau masuk ke vagina langsung bisa terasa kerasnya. Dan para cowok lebih cepat terangsang dalam keadaan penis yang sudah disunat.

Aku akui penis Hiro ini lebih besar dari milik Suni. Lebih panjang dan lebih gemuk. Dan…HAP! Aku sudah mengulumnya.

“Moon…oowwhh…!” bisik Hiro.

Aku mainkan lidahku didalam mulutku menggelitik kepala penisnya. Makin lama aku makin menggila menggelitikinya. Aku kemudian mengocoknya dengan bibirku. Kubasahi penisnya dengan ludahku, memberikan efek licin dan penisnya makin mengeras. Tangan Hiro mulai memegang kepalaku.

Tanganku bergerak aktif meremas-remas telurnya yang setiap aku sentuh berusaha lari. Buah dzakarnya kupijat-pijat. Kuberikan efek ektasi kepadanya. Dia pasti melayang sekarang ketika aku makin memasukkan batangnya ke dalam mulutku. Kucoba terus sampai dalam. Aku melakukan deepthroat. Hampir saja aku muntah karena benda itu benar-benar masuk ke tenggorokanku. Aku lepaskan penisnya. Lendir banyak keluar dari mulutku. Kuratakan di batang miliknya.

“Moon…! Enak banget,” katanya.

Aku lalu mengulumnya lagi kali ini lebih cepat. Kepalaku naik turun dengan cepat. Pantat Hiro mulai menegang. Dia makin keras memegang kepalaku menekannya ke bawah.

“Moon, aku…keluarrrr….Ahhh…you’re so goood!” katanya.

Penisnya menyembur sperma banyak sekali. Efek berminggu-minggu nggak ditumpahkan. Aku diamkan kepalaku sambil menikmati semburan air mani hangat. Kuhisap lubang kencingnya sampai tak ada lagi yang keluar. Perlahan-lahan tanpa rasa jijik walaupun rasanya sedikit asin kutelan semuanya. Suara Glup terdengar.

“Moon, kamu telan??”

Aku mengangguk. Aku kemudian bangkit dan bersandar lagi di bahunya.

“Aku lemes….,” kata Hiro.

“Is that Good?” tanyaku.

“Yeah, that was awesome blowjob,” jawabnya.

“I’m glad,” kataku.

Aku memeluk Hiro. Sebelum aku tidur dan berganti kepribadian dengan Devita, aku memeluk tubuhnya hingga terlelap. Hiro adalah orang kedua yang membuatku bisa tidur dalam pelukan seorang laki-laki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*