Home » Cerita Seks Umum » SI Rambut Merah Bab 16

SI Rambut Merah Bab 16

BAB XVI

Twisted

NARASI MOON

Ayahnya Hiro sedang mencari Dr. Edward. Tak perlu ditanya bagaimana cara ayah Hiro melakukannya. Dengan uang yang dipunyainya ia mampu melakukan banyak hal. Sekarang permasalahannya adalah aku. Sekarang aku sudah menjadi diriku sendiri dengan personality Devita yang sedang tidur. Ada satu hal yang diminta Hiro dariku.

“Moon, latih aku!” kata Hiro.

“What is that mean?” tanyaku.

“Kamu adalah agen rahasia terlatih bukan? Maka dari itu latih aku. Latih hingga pukulanku keras. Aku akan menghadiahkan tinjuku kepada Suni, orang yang telah mempermainkan dirimu,” jawabnya.

Aku tersenyum. “Hiro…,” kubelai pipinya. Entah kenapa Hiro seperti menjadi pria sejati sekarang. Dia sudah bukan anak-anak, sudah menjadi dewasa. Tatapan matanya sudah menjadi tatapan mata dewasa. “Kamu yakin? Baiklah. Ini agak keras. Kuharap kamu kuat.”

“Coba saja!” tantang Hiro.

Perjumpaanku dengan Suni adalah perjumpaan yang sangat mengejutkanku, bagaimana tidak? Dia sudah mati! Dia seharusnya sudah mati direruntuhan gedung NIS. Tapi ternyata dia masih hidup. Dan yang lebih mengejutkan lagi dia sekarang berbalik menjadi musuh dan mengaku sebagai pemimpin Genesis. Suni, orang yang dulu aku cintai, yang aku sayangi, yang sudah aku anggap sebagai cerminan ayahku, kini benar-benar membuatku benci. Aku sangat membencinya. Dan sekarang aku sangat mencintai Hiro.

Sekarang ini di dalam tubuhku ada dua orang personality. Rasanya….aneh. Aku bisa melihat semua kenangan dan memory dari Devita. Seluruh perasaannya sekarang bisa aku rasakan. Bagaimana rasa khawatirnya terhadap Faiz, aku juga bisa melihat masa lalu dia dengan Faiz dan juga apa yang mereka lakukan kemarin. Aku tak menyangka Devita bisa bercinta dengan Faiz. Dan sekarang aku juga rasanya seperti mencintai Faiz juga. Ini semua karena Devita. Devita yang ada di dalam diriku mendesakku untuk bisa mencintai Faiz. Ini gila. Perasaanku seperti terombang-ambing. Devita berkali-kali minta maaf kepadaku. Walaupun dia tidur sekarang tapi aku bisa bicara dengannya. Rasanya seperti di dalam diriku ada orang lain diluar batas kesadaranku. Dan aku bisa biara dengan dirinya.

Hiro sekarang ini latih. Dia yang memintanya sendiri. Sementara Faiz terus menemani Devita di kamarnya. Rumah ibunya Faiz ini cukup besar. Halamannya luas jadi aku bisa melatih Hiro. Menu latihannya cukup berat. Lari 10 km, push up 100x, sit up 100x, scottjump 100x, dan yang terakhir aku membuat sebuah papan balok yang kulilit dengan tali ijuk. Aku suruh dia memukul papan itu sekeras-kerasnya sampai 3.000x. Seharian dia melakukan itu hingga ia berjalan seperti zombie.

“Kau tak apa-apa Hiro?” tanyaku. Aku khawatir dengan keadaannya.

“Waaater…pleease!” katanya. Aku segera memberikan air sebotol. Dia minum semuanya, lalu pingsan. Latihannya terlalu keras sebenarnya, tapi aku harus melakukannya. Karena aku tak tahu kapan aku akan bertemu lagi dengan Suni. Begitu berita tentang Dr. Edward tiba, aku sudah harus segera berangkat menemuinya.

Melihat aku menggendong Hiro di punggung ibunya Faiz khawatir.

“Kenapa Hiro?” tanyanya.

“Nggak apa-apa koq, cuma kecapekan,” kataku. Dengan cekatan aku merebahkan Hiro ke atas sofa.

Agak mengejutkan sebenarnya ketika tiba-tiba ada tamu yang datang. Seorang wanita dan beberapa remaja lainnya.

“Hiro?! Mana Hiro!?” katanya tiba-tiba. Oh, dia ibunya Hiro. Tiga orang remaja lainnya juga berhamburan ke sofa. Mereka saudaranya Hiro.

“Apa yang terjadi?” tanya Rara.

“Panjang untuk diceritakan,” jawabku.

“Moon? Kamu bisa ceritakan?” tanya Nyonya Iskha.

“Sebenarnya akulah yang jadi korban. Hiro menolongku, dia cuma kecapekan saja habis latihan,” jelasku.

“Oh, syukurlah. Lalu apa yang terjadi?” tanya Nyonya Iskha.

Aku pun menceritakan semuanya kepada mereka. Rasanya tak ada salahnya toh mereka juga yang menolongku. Dan mereka sekarang adalah satu-satunya aset yang bisa menolongku saat ini. Aku sudah kehilangan timku, dan aku sekarang jadi kelinci percobaan Genesis dengan S-Formulanya. Aku ceritakan semuanya dari Genesis, NIS, Suni, PBB, S-Formula, hingga kejadian tadi malam. Mereka hanya bisa terdiam seperti mendengar cerita spionase semacam James Bond.

“I don’t believe it,” kata Rara.

“Mau percaya atau tidak, aku tak memaksa kalian,” kataku.

“Dia bicara jujur,” tiba-tiba Faiz ada di sana.

“Iya, dia bicara jujur,” Hiro sudah sadar dari pingsannya.

“Kamu tak apa-apa Hiro?” tanya ibunya. “Ibu khawatir banget.” Hiro dipeluk ibunya.

“Nggak apa-apa koq bunda, tenang aja,” kata Hiro.

“Tapi…tanganmu kenapa berdarah gini?” tanya ibunya.

“Nggak apa-apa, it’s ok mom,” kata Hiro. Aku bisa melihat tangan Hiro gemetar hebat. Ya jelaslah, memukul balok kayu sebanyak 3.000 kali.

Hari itu aku bisa melihat perhatian dari keluarganya Hiro untuknya. Aku jadi rindu ibuku. Hiks…aku meninggalkan mereka sendiri untuk mengurusi Hiro. Aku teringat dengan ibuku. Bagaimana kabar beliau sekarang? Kuharap Genesis tidak berbuat macam-macam kepada beliau.

Misiku mendapatkan S-Formula telah gagal. Tapi yang membuatku masih punya harapan adalah aku harus menggagalkan rencana Genesis untuk menguasai dunia. Walaupun S-Formula tidak didapatkan setidaknya, semua orang tak boleh mendapatkannya. Aku tak menyangka saja S-Formula itu adalah sebuah program yang dicompile menjadi Artificial Intelegence untuk memindahkan memory seseorang ke orang lain.

NARASI DEVITA

Malam hari ketika Moon tidur, aku yang bangun. Unik memang sekarang aku berada di tubuh Moon. Seluruh memorynya aku bisa tahu semua. Aku masih tak percaya aku di tubuh Moon sekarang. Rambutnya berwarna merah. Blesteran Korea Hungaria. Aku baru tahu kalau ayah Moon meninggal dalam tugas. Sekarang Moon sedang patah hati. Cinta masa lalunya–Suni–kini telah membelot. Namun dia sudah mendapatkan tambatan hati yang baru Hiro. Dia bisa mengerti kemarahan Hiro yang memperlakukan dirinya seperti itu. Dan aku bingung. Bagaimana aku bisa mencintai Faiz dengan tubuh seperti ini?

Gila. Ini benar-benar gila.

Sudah beberapa hari semenjak kejadian di M-Tech Building. Tak ada berita di koran. Sepertinya semuanya berasa ditutupi. Aku dan Moon melaporkan hasil yang kami peroleh. Kami terpaksa melaporkan bahwa misi kami gagal dan kami jadi korban. Kemudian komandan memerintahkan misi dibatalkan. Aku dan Moon harus mengambil istirahat karena kondisi seperti ini. Tugas akan diberikan kepada agen lainnya. Tentu saja Moon tidak terima. Aku juga. Tiga orang partner kami sudah tewas. Kami berdua sekarang harus berjuang sendiri untuk menyelidiki keberadaan Dr. Edward. Hanya dia satu-satunya kunci untuk menormalkan apa yang sekarang aku rasakan ini.

Dan Hiro, dia berlatih keras. Hampir tiap hari dia melakukan apa yang Moon suruh. Lari, push up, sit up, scott jump, semuanya dilakukan tanpa henti sampai aku tak sanggup melihat keadaan Hiro sekarang. Dia mengeluh semua tulang-tulangnya serasa mau copot. Ketika makan juga demikian, tangannya serasa tak bisa memegang sendok ataupun garpu. Tangannya melepuh. Dia pasti memukul sesuatu sampai seperti itu.

Dan, ini berat bagi Faiz. Aku setiap malam melihat dia berada di samping tubuhku. Berat sekali rasanya. Bisa dibayangkan, aku di sini bisa melihat tubuhku sendiri. Tapi aku terlalu takut untuk menyentuh Faiz. Ini berat bagiku, berat juga bagi Faiz. Tapi…kalau aku mendekati Faiz, tentu akan melukai perasaan Hiro dan Moon. Karena aku hanya meminjam tubuh Moon. Faiz juga tak akan mungkin menerimaku. Jung Ji Moon, katakan apa yang harus aku lakukan. Kamu tahu perasaanku bukan? Aku tak bisa menyentuh Faiz. Sedangkan kamu setiap hari bisa menyentuh Hiro.

“Maafkan aku Devita,” kata Moon. Aneh memang, aku bicara dengan diriku sendiri. “Aku tahu perasaanmu.”

Aku pun menangis. Sendiri. Aku tak bisa menahan gejolak diri. Aku ingin menyentuh Faiz.

“Aku tahu masa lalumu, aku tahu bagaimana perasaanmu yang sangat dalam kepada Faiz. Tapi…aku juga tak tahu harus bagaimana,” kata Moon.

“Bolehkah aku pinjam sebentar tubuhmu Moon? Aku ingin menyentuh Faiz. Aku tak sanggup melihat dia menjagaku seperti itu. Dia sedekat ini tapi aku serasa jauh. Moon, apakah kamu bisa menolongku? Kumohon!” aku memohon kepada Moon.

“Aku akan mengambil alih diriku dulu, kamu bisa pergi Dev,” kata Moon.

NARASI MOON

Percakapan dengan Devita barusan menyisakan sebuah urusan yang sangat kompleks. Aku dengan tubuh ini?? Aku akan bicara dengan Hiro. Malam itu aku menemui Hiro di kamarnya. Aku mengetuk pintu kamarnya terlebih dulu.

“Siapa?” tanyanya.

“Aku, Moon,” jawabku.

Hiro membuka pintu kamarnya. Ia tampak kelelahan setelah tadi siang aku latih dia. Ada yang berbeda dari tubuhnya sekarang. Beberapa hari ini aku latih dia mulai berotot. Perutnya mulai rata, dari lengannya aku bisa melihat bentukan otot-ototnya yang kekar. Dia bisa berubah secepat ini dalam waktu singkat. Tangannya masih terbalut perban karena setiap hari memukul papan kayu sebanyak 3.000 kali.

Aku pun menyentuh tangan itu.

“Masih sakit?” tanyaku.

Dia menggeleng, “Ada dirimu, aku tak merasa sakit.”

“Hirooo….ehm…!” tampak Nyonya Iskha berada di pintu. Aku langsung salah tingkah melepaskan tangannya. “Maaf ya Moon, aku mau ngolesi minyak urut ke Hiro.”

“What is ‘Minyak urut’?” tanyaku.

“Ehmm….apa ya bahasa Inggrisnya? Massage Oil??” kata Nyonya Iskha.

“Oh, I see,” kataku.

Aku hanya melihat Hiro duduk di ranjang dan diolesi punggungnya oleh ibunya. Aku hanya bisa tersenyum melihat perlakuan ibunya kepada Hiro. Aku jadi kangen ibuku. Dia selalu memanjakanku seperti ini ketika di rumah. Aku duduk di kursi yang ada di kamar itu. Kupandangi wajah Hiro yang meringis kesakitan ketika dipijat ibunya.

“Kenapa sih kamu latihan berat banget seperti itu? Moon, jangan deh lakukan itu lagi. Kasihan Hiro,” kata nyonya Iskha.

“Nggak apa-apa bunda. Aku masih kuat koq. Aku harus melatih diriku. Sebab aku tak mau mengecewakan Moon. Aku akan hajar si Suni itu. Dia kuat sekali,” kata Hiro sambil mengepalkan tinju dan memukul telapak tangannya.

Nyonya Iskha menoyor kepala Hiro, lalu menjewernya, “Kamu ini dibilangin ibumu sendiri kaya’ gitu.”

“Ampun, ampun…maaf bunda,” kata Hiro.

Aku tertawa melihat tingkahnya seperti anak kecil. Aku terus menemani mereka ngobrol banyak hal. Hingga akhirnya Hiro selesai diurut.

Nyonya Iskha akan pergi tapi dia menatap tajam ke arahku. “Aku tinggal, tapi awas ya, jangan macem-macem!”

Aku membungkuk kepadanya.

“Apaan sih bunda, emangnya mau ngapain?” kata Hiro.

“Dua anak muda, saling cinta, sendirian. Mau ngapain coba?” kata Nyonya Iskha.

Wajahku merah padam karena malu.

“Bunda kaya’ nggak pernah muda aja,” kata Hiro. Dia lalu mendorong ibunya. “Udah sana, aku ama Moon mau bicara pribadi nih.”

“Ingat Hiro, kamu masih sekolah. Lulus aja belum. Jangan hamili anak gadis orang!” kata Nyonya Iskha.

“Tenang aja nyonya, saya akan tembak kepala Hiro kalau melakukannya,” kataku menenangkannya.

“Baik, aku jaga kata-katamu,” kata Nyonya Iskha.

Aku tersenyum. Nyonya Iskha pun keluar kamar. Hiro menutup pintu.

“Bunda, jangan nguping ya,” kata Hiro.

“Nggak, cuma penasaran aja,” kata Nyonya Iskha di luar pintu.

Hiro membuka pintu dan tampak ibunya masih di sana menempelkan telinganya ke pintu. Hiro menampakkan wajah tak suka.

“Iya, iya, ibu pergi,” kata Nyonya Iskha sambil nyengir. Aku tertawa geli melihat mereka. Setelah yakin ibunya pergi Hiro lalu menutup pintu.

Hiro lalu duduk di atas tempat tidurnya. Dia menatapku. Aku menghela nafas.

“Ada yang ingin aku sampaikan tentang Devita,” kataku.

“Apa?”

“Dia minta ijin kepadamu agar dia bisa menyentuh Faiz,” kataku.

“Hah? Maksudnya?”

“Dia tak tega melihat Faiz setiap hari memegang tangan Devita. Dia ingin bisa menyentuhnya, paling tidak dia ingin bisa mengatakan perasaan cintanya kepadanya. Dan ingin menyampaikan kepada Faiz semuanya baik-baik saja.”

“Tidak, aku tidak faham. Apakah cuma segitu? Tidak mungkin Devita cuma ingin segitu.”

“Pastinya tidak. Cintanya kepada kakakmu ternyata sangat besar. Mereka berdua sama-sama mencintai. Aku bisa merasakannya ketika aku dekat dengan Faiz. Dadaku berdegup lebih kencang Hiro. Ini semua adalah perasaan Devita. Setiap kali melihat kakakmu menggenggam tubuhnya yang tak bergerak itu dia menangis. Aneh memang sebelah mataku menangis sebelahnya tidak.”

“Tapi itu tubuhmu Moon, aku tak akan rela kamu dijamah siapapun,” Hiro sedikit emosi. Aku tahu dia sangat mencintaiku.

“Aku tahu, kamu tak akan setuju. Aku akan sampaikan kepada Devita. Bahwa ini sesuatu yang tidak mungkin.”

Aku dan Hiro terdiam lama. Tiba-tiba ia berdiri. Ia membuka pintunya ingin keluar dari kamar.

“Hiro!?” panggilku.

“Lakukanlah, biarlah malam ini Devita menemui Mas Faiz. Tapi,…lakukan asal jangan sampai aku melihatnya. Karena aku sangat tidak suka akan hal ini,” kata Hiro.

“Aku tahu kamu akan marah. Tapi, aku tak bisa mengendalikan diriku Hiro. Kamu tak tahu rasanya di dalam tubuh ada dua kepribadian. Semuanya menginginkan hal yang berbeda. Tapi hanya satu tubuh yang bisa melakukannya,” aku terisak. Aku lalu memeluk Hiro dari belakang. “Maafkan aku.”

“Kamu tak salah. Tapi berjanjilah, kamu jangan pernah sadar ketika Devita mendekat ke Mas Faiz. Aku tak mau kenanganmu bercampur dengan kenangan Devita,” kata Hiro.

“Aku berjanji, aku akan berusaha,” kataku.

Hiro berbalik. Dia menciumku. Oh, bibir inilah yang sekarang aku sukai. Hiroo.. Aku balas ciumannya.

“Bibir ini milikku, rambut merahmu milikku. Dan hati ini juga milikku. Pergilah, tapi ingat aku tak mau kamu punya memory dari Devita. Aku mengijinkannya hanya malam ini,” kata Hiro.

“Makasih Hiro, terima kasih,” aku memeluknya.

Dalam sekejap aku pun tak sadar.

NARASI DEVITA

Aku langsung melepaskan pelukan ini. Hiro kaget. Karena tiba-tiba tubuh Moon berubah kepribadiannya.

“Makasih Hiro,” kataku. “Aku Devita, aku mengucapkan banyak terima kasih.”

“Aku akan keluar melanjutkan latihanku,” katanya.

Aku gembira sekali. Segera aku ke kamarnya Faiz. Faiz aku datang. Kuketuk pintu kamarnya.

“Masuk,” kata Faiz.

Aku pun masuk. Kulihat Faiz sedang duduk di samping tubuhku. Dia sedikit terkejut melihatku.

“Kamu Devita atau Moon?” tanyanya.

“Aku Devita,” kataku.

Faiz berdiri, aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya. “Faiz..ohh…aku ingin dipeluk. Plis jangan lepaskan pelukanmu. Kumohon…aku merindukanmu.”

Aneh memang, suaraku tak sama dengan suaraku yang dulu. Ini adalah suara Moon. Faiz tak tahu harus berbuat apa. Aku lalu menciumi dadanya. Dada bidangnya yang kekar.

“Tidak Dede…jangan!” katanya.

“Aku rindu kamu Faiz, aku rindu,” kataku.

“Bagaimana Hiro? Aku tak mau dia mengetahui kita seperti ini. Ini tubuh Moon, tubuhmu ada di sini. Lihatlah!” kata Faiz.

“Faiz, tubuh ini hanyalah vesel. Jiwaku sekarang ada di tubuh Moon. Seluruh perasaanku ada di sini,” kataku.

“Aku tak bisa melakukan ini Dede, tubuh ini bukan tubuhmu. Aku tak mau menyakiti perasaan Hiro,” kata Faiz. “Kamu boleh berbuat apa saja tapi jangan seperti ini.”

“Kamu tak menghargai perasaanku. Moon sudah berkorban dan mengijinkan aku mengambil alih dirinya sesaat. Hiro juga sudah mengijinkanku malam ini, hanya malam ini untuk bersamamu,” aku makin mendekap Faiz.

“Dede, aku…aku tak bisa,” kata Faiz.

“Pejamkan matamu!” pintaku. “Kau tak perlu melihatku. Aku tahu ini berat bagimu, bagiku juga. Tapi aku ingin memberitahumu bahwa aku masih hidup. Aku ada di sini. Di dekatmu walaupun dekat, aku merasa dirimu jauh.”

Faiz pun memejamkan matanya.

“Kamu masih ingat ketika kita berciuman untuk pertama kalinya?” tanyaku.

“Iya, aku masih ingat,” kata Faiz.

“Setelah kamu pergi itu, aku bertekad untuk mencarimu. Dan nasib pun membawaku masuk ke Sekolah Intelejen Negara. Aku kemudian menjadi anggota BIN. Awalnya aku pikir kamu sudah melupakanku. Sampai kemudian aku mendapatkan misi ini. Lalu aku melihat wajahmu lagi,” kataku. Kudorong pelan tubuh Faiz. Kini ia duduk di kursi.

Aku kemudian menaikkan kaosnya. Kini dadanya yang bidang itu terlihat. Aku ciumi dada itu. Faiz tak membuka matanya.

“Dede, ohh…jangan!” katanya lirih.

Maafkan aku Moon. Please, hanya ini saja. Hanya malam ini. Aku membuka baju atasku. Aku arahkan kedua tangan Faiz ke dadaku. Walaupun ini tubuh Moon, tapi aku juga ikut merasakannya. Syaraf-syarafku merasakan sepenuhnya bagaimana lembutnya tangan Faiz menyentuhku. Aku memandu Faiz untuk meremas dadaku. Awalnya Faiz hanya pasif meremas. Lambat laun aku biarkan dia meremas sendiri. Ohh…tangannya kasar tapi bisa membawaku melayang hanya dengan menyentuh dadaku. Dan kini ia mencubit putingku. Ahhkk…syaraf-syaraf tubuhku seperti kesetrum.

Ini gila memang. Kalau orang melihat, mungkin sekarang ini Jung Ji Moon sedang dijamah oleh Faiz. Masih dengan menutup matanya, Faiz mulai berinisiatif. Kepalanya ia majukan dan mulai mengulum putingku. Ahhkk…aku masih normal, aku bisa merasakan bagaimana dia mengenyot dadaku. Sama seperti yang dilakukannya kemarin. Faiz…aku milikmu.

Aku peluk kekasihku ini. Dia pun berinisiatif sendiri. Membuka kancing celanaku, lalu menurunkannya. Ahh…aku ditelanjangi. Aku tak pakai celana dalam memang, tidak. Moonlah yang tidak pakai. Mungkin karena tak ada baju yang ia bawa. Aku tak peduli. Ini justru memberi keuntungan ama Faiz. Juga diriku.

Faiz terus menggelitik tubuhku. Dicium dan dihisapnya setiap jengkal tubuhku…tidak, ini tubuh Moon. Tapi ini juga tubuhku. Arghh…anggap saja ini tubuhku. Faiz tak membuka matanya sama sekali. Ia benar-benar membayangkan diriku sekarang. Aku kemudian membuka resleting celananya. Kucari-cari batang yang sudah mengeras di balik celana dalamnya. Kubuka sedikit dan menyembullah tongkat perkasa yang mengacung ke atas layaknya Tugu Monas.

Tanganku meremasnya, namun tiba-tiba mata Faiz terbuka.

“Hentikan! Tidak…hentikan ini!” perintahnya.

“Kenapa Faiz?” tanyaku.

“Jangan…!” Faiz mendorongku. Dia memakaikan lagi bajuku. Membenahi bajuku lagi.

“Faiz….tak apa-apa,” kataku.

“Aku akan menunggu sampai dirimu kembali lagi, tidak dengan cara seperti ini,” katanya.

Aku menunduk.

“Kalau kamu ingin menghiburku tak apa-apa, tapi jangan lakukan itu. Aku tak mau menyakiti hati adikku sendiri,” kata Faiz. “Lagipula aku sudah berjanji kepadamu, aku tak akan menyentuh wanita lain selain dirimu. Aku akan tetap berusaha mencari cara untuk mengembalikan dirimu.”

“Oh…Faiz,” aku peluk dia. Dia sangat jantan dan menepati janjinya. Aku tak salah menunggunya selama ini.

NARASI HIRO

Mendengar penjelasan Moon tadi aku sangat marah. Ya jelaslah, siapa yang mau orang yang dicintainya dijamah orang lain. Nggak rela aku pokoknya nggak rela. Setelah ngobrol tadi aku segera keluar rumah. Cari angin. Mukul-mukul angin. Halaman rumah Bunda Putri ini cukup besar. Walaupun tinggal sendirian di rumah sebesar ini, rasanya rumah ini masih tertata rapi, baik halamannya, tanamannya masih terawat.

Entah kenapa aku ingin melihat apa yang terjadi di kamar kakakku. Sebagai kekasihnya Moon, aku sangat cemburu tentu saja. Aku pun memberanikan diri melangkahkan kakiku mendekati jendela kamar kakakku. Dan Aku melihat Moon yang dalam kondisi kesadaran Devita mencium Mas Faiz. Sekalipun dibilang itu personalitynya Devita tetap saja aku melihat Moon. Kumohon jangan lakukan itu jangan. Dan oh shit! Moon membuka bajunya. Mas Faiz tangannya ditarik untuk memegang payudara Moon. Dan hei, jangan sembarangan menciumi cewek orang! Wah gila, Moon mulai mengeluarkan itunya Mas Faiz.

Jangan! Jangan! Itu terlalu jauh! Eh…lho, berhenti??

Aku melihat semuanya dari jendela kamar kakakku. Aku hampir saja copot jantungku menahan emosi. Terutama saat tubuh Moon dengan kepribadian Devita itu memeluk kakakku, lalu menciumnya. Dan hampir saja mereka melakukan itu. Aku tak salah mempunyai kakak bernama Faiz junior itu. Aku percaya kepada dia. Dia tak akan menyentuh Moon. Aku menarik nafas lega, kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan gembira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*