Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 14

Si Rambut Merah Bab 14

BAB XIV

Hello Again

Kami berempat akan keluar dari ruangan. Aku sudah keluar dari pintu, namun tiba-tiba pintu tertutup pintu kaca secara otomatis sehingga Faiz dan Hiro terkunci di dalam. Apa yang terjadi. Aku terkejut ketika tiba-tiba tubuhku dikejutkan oleh sengatan listrik. Aku pun ambruk. Demikian juga Devita. Apa yang terjadi. Mataku mencoba melihat segala hal. Dan aku bisa melihat bagaimana Hiro yang memukul-mukul pintu kaca yang ada di depannya. Begitu juga Faiz. Mereka berusaha menendang, memukul, apapun yang dilakukannya untuk bisa mendobrak pintu kaca yang aku yakin pasti terbuat dari kaca anti peluru.

Aku berguling dan mendapati dua orang berdiri di papan kunci pintu. Ternyata kedua orang itu yang menutup pintu tersebut. Pintu itu hanya bisa dibuka dengan menggunakan DNA dari Faiz dan Hiro. Sekarang sudah tidak mungkin lagi untuk bisa membukanya karena mereka berdua berada di dalam. Devita dan aku menggeliat. Punggungku seperti ada sesuatu yang menancap. Aku mencoba bergerak tapi tiba-tiba secara bersamaan, aku dan Devita terkejut bersama-sama saat listrik 10.000 volt menyengat kami.

“Ahh…maaf maaf, aku seharusnya mengucapkan terima kasih kepada kalian dulu. Apa kabar Moon? Masih ingat aku?” suara itu, tak asing lagi. Lucifer. Dia kemudian tertawa keras.

“Brengsek! Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan terhadap Moon?!” kulihat Hiro tampak marah. Ia terus memukul-mukul kaca anti peluru yang mengurungnya hingga tangannya berdarah. Hiro…dia terlihat sangat….entahlah aku tak bisa menyebutnya.

Faiz kemudian mencegah Hiro melakukan hal itu. Mereka terkurung. Apa yang bisa mereka lakukan?

“S-Formula, sebenarnya punya banyak nama. Bisa bernama Q-Code, X-Code, Equilibrium, J-Etzpada, Y2K, sebut saja apapun yang kalian suka. Aku yakin kalian tidak asing mendengar nama-nama itu. Memang nama-nama itu adalah buatan Genesis. Ada satu hal kenapa aku ada di sini. Moon, mungkin kamu kenal dengan orang itu,” kata Lucifer sambil menunjuk ke arah temannya tadi.

Orang itu masih memunggungiku. Sepertinya perawakannya tak asing. Tungu dulu. Jangan bilang….dia…Tidak mungkin. Dia sudah mati! Dia sudah mati!

“Hello Again…Moon!” orang itu membalikkan badannya. Aku tak percaya, aku tak percaya. Aku tak percaya….Tidak. Tidak.. Dia…dia Suni!

“Suni?! Tidak mungkin, kamu sudah mati, bagaimana kamu..?” seketika suaraku tercekat. Aku tak mengerti semua ini. Kenapa? Kenapa Suni ada di sini? Dia sudah mati. Dia sudah mati.

“Kamu tak perlu terkejut kenapa aku ada di sini. Karena hari ini kamu akan menyaksikan sebuah revolusi dari peradaban manusia. Bagaimana semuanya dimulai, bagaimana akhirnya semua manusia bisa mengerti bahwa yang mereka inginkan adalah pemimpin dunia yang tangguh. Orang yang mempunyai pemikiran-pemikiran besar. Bisa kamu bayangkan bagaimana dunia dipimpin oleh orang-orang hebat. Itulah senjata kami sesungguhnya. Inilah S-Formula sesungguhnya,” kata Suni.

“Suni….kenapa kamu lakukan ini?” tanyaku. “Aku rindu kamu Suni.”

“Sayang sekali Moon, kita sekarang di pihak yang berbeda,” katanya. Tidak mungkin hal itu terasa menyakitkan. Suni pun menginjak perutku. Aku diinjak-injaknya berkali-kali. Sakit sekali. Tendangannya mengenai liverku. Membuatku tak bisa bernafas untuk sesaat.

“Moon! Moon! Keparat jangan sakiti Moon, ayo kita duel! Kalau kamu memang jantan!” seru Hiro di dalam sana.

“Aku akui aku tak menyesal kita dulu pernah bersama, menghabiskan waktu bersama. Aku tak akan melupakan itu. Kau juga pastinya. Ada alasan yang jelas kenapa aku harus menarget gedung NIS, merancang skenario ini. Hal itu karena secara personal aku tetarik kepadamu. Secara personal aku dendam kepada ayahmu. Dialah yang telah membuat ayahku tewas. Jadi nyawa dibalas nyawa. Gedung NIS hanyalah salah satunya saja. Hebat bukan skenario kematianku? Sangat dramatis. Aku sampai tak tega melihatmu di pemakamanku dengan deraian air mata,” kata Suni.

Aku menangis. Air mataku tak bisa ditahan. Aku kecewa, patah hati, semuanya musnah. Aku rasanya sudah tak ingin hidup lagi. Suniku….dia….dia….aku ingin membunuhnya. Sangat ingin membunuhnya.

“Aku akan bercerita panjang lebar mengenai S-Formula. Aku adalah pemimpin organisasi Genesis. Tujuan kami hanya satu, yaitu menyatukan dunia. Tapi untuk bisa menyatukan dunia dan memimpinnya diperlukan pemimpin yang hebat. Kamu pasti setuju itu. Semua orang pasti setuju. Maka dari itulah gunanya S-Formula ini. Banyangkan saja seluruh orang-orang berpemikiran hebat seperti Aristoteles, Copernicus, atau ilmuwan-ilmuwan seperti Thomas Alfa Edison, Michael Faraday, Al Jabar, Alexander Graham Bell, dan lain sebagainya berada pada satu orang. Apa yang akan terjadi? Dia akan menjadi seorang pemikir dan pemimpin yang hebat. Sayangnya S-Formula ini tak boleh jatuh ke tangan orang-orang yang salah.

“Senjata mereka bilang? Itu cuma isu yang aku sebar. Memang ini senjata tapi kegunaan S-Formula lebih dari sekedar senjata. Senjata hanya bisa dipakai sekali. Peluru cuma bisa ditembakkan sekali. Pisau bisa berkarat, tapi pemikiran, revolusi tak akan mati. Itulah hukum alam yang ada di dunia ini. Inilah kegunaan S-Formula ini. Dan sekarang kita mempunyai kelinci…ah tidak, lebih tepatnya manusia percobaan,” Suni tersenyum kepadaku. Sialan. Kalau saja tubuhku bisa digerakkan.

Suni memasang sesuatu ke kepalaku. Aku tak tahu apa itu. Dia juga memasang sesuatu seperti kawat yang melingkar ke kepala devita. Kemudian dia meletakkan harddisk portable itu di antara kami. Suni mengambil sesuatu seperti sebuah earphone yang menempel di telinga.

“Aku sangat senang dengan M-Tech. Mereka menciptakan alat canggih sekecil ini, yang bisa memerintahkan apa yang kita ucapkan ke dalam perlatan portable. Cukup dengan alat ini maka S-Formula akan jadi. Sebelum aku mulai, aku ingin mengatakan kalian kegunaan dari S-Formula. Otak kita mempunyai kapasitas 320 terabyte. Kapasitas sebesar itu ada 80 persen dibuat untuk memory, sisanya adalah untuk menyimpan memory yang lain seperti perasaan dan memerintahkan anggota tubuh. Dan setiap saat otak akan memperbarui sel yang ada di dalamnya. Sel-sel itulah yang disebut sebagai wadah memory. Apabila sel itu mati, maka otak akan kehilangan memorynya. Tapi bagaimana apabila seorang manusia mempunyai ingatan-ingatan dari manusia lainnya. Misalnya 80 persen itu diberikan kepada orang lain? Maka yang terjadi adalah merge memory. Memory mereka akan bertemu satu dengan yang lain. Dalam arti seluruh ingatan yang ada pada seseorang akan dipindahkan ke dalam vesel. Vesel di sini adlaah otak orang lain. Dalam arti aku sama saja memindahkan nyawa dari satu orang ke orang yang lain. Luar biasa bukan? Inilah revolusi. Sekarang, pertanyaanya adalah apa yang akan terjadi kepada orang yang seluruh ingatannya diambil?? Jawabannya adalah BLANK!” jelas Suni.

“Ayolah, aku tak sabar lagi ingin mencobanya,” kata Lucifer.

“Tenang, kita sudah setengah jalan,” kata Suni. “Mari kita mulai. Devita, setelah ini kamu akan terkejut, karena dia akan bangun di tubuh orang lain.”

“Tidaaaak!” Hiro berteriak. Apa yang akan terjadi???

NARASI HIRO

Aku marah. Aku menggedor-gedor pintu kaca anti peluru yang menghalangi aku dan Faiz untuk keluar. Ini benar-benar tak bisa dibiarkan. Aku tak berdaya melihat Moon tergeletak setelah ditembak dengan taser oleh orang yang disebut Lucifer. Kemudian orang yang bernama Suni kini memasang alat di kepala Moon dan Devita.

Hard Disk portable itu berada di bawah dan dipasangi sebuah alat portable yang terhubung dengan M-Tech.

“Mas Faiz, lakukan sesuatu untuk membuka pintu ini!” kataku.

“Tak ada yang bisa kita lakukan!” kata Mas Faiz.

“Ayolah kak! Pasti ada caranya!” kataku.

Mas Faiz menoleh kiri kanan. Dia lalu bergerak ke samping pintu kaca itu. Ada sebuah penutup palka yang menempel di dinding. “Devita bertahanlah!” seru Mas Faiz. DIa lalu menendang bagian itu, dan jebollah dinding itu. Ternyata itu adalah dinding yang terdapat rangkaian papan sirkuit dan kabel-kabel. Mas Faiz dengan tangan kosong menyentuh kabel itu dan mencabut satu per satu. Ia juga tak tahu apa yang harus dilakukannya. Berharap saja kabel yang dicabutnya mampu membuat pintu kaca ini terbuka.

Sementara itu aku melihat Suni memasangkan M-Tech ke telinganya.

“Sekarang, compile!” kata Suni. Entah apa yang terjadi tapi tampak lampu dari M-tech berkedip-kedip berwarna biru. Demikian juga HardDisk portablenya.

“Sekarang, Transfer!” ujar Suni. Tiba-tiba kedua tubuh wanita itu menggelepar seperti ikan yang keluar dari air. Moon mengejang hebat tubuhnya sampai melengkung ke atas. Devita juga demikian. Entah apa yang terjadi. Aku tak tega melihat Moon seperti itu. Aku kembali menendang-nendang pintu kaca anti peluru itu.

Mas Faiz berusaha keras, ia mencabuti kabel dan tiba-tiba air pemadam kebakaran mengucur dari atap dan membasahi kami berdua. Alarm pun berbunyi. Mas Faiz lagi-lagi mencabut kabel, papan rangkaiannya pun dicabut dan ditedang hingga muncul percikan api. Pintu kaca itu terbuka sedikit bergeser ke samping kanan dan kiri. Aku pun mencoba mendorong pintu kaca itu ke kanan. Mas Faiz pun menolongku dengan mendorongnya ke kiri.

“Moon! Apa yang kau lakukan kepada Moon?!” seruku.

Dan sesaat setelah itu tubuh Devita dan Moon berhenti mengejang. Suni telah selesai. Lucifer mengambil hard disk portablenya. Juga kedua alat yang berada di kepala Devita dan Moon.

DOR! tiba-tiba suara letusan senjata terdengar. “AAAARRGGHH!” Suni mengerang. Darah mengucur di wajahnya.

Moon tampak berhasil mengeluarkan pistolnya dari pinggangnya dan menembakkan pelurunya ke pipi kanan Suni. Kini pipi kanan Suni robek, wajahnya kini menjadi sangat jelek dengan luka menganga di pipi sebelah kanannya lanjut ke telinganya. Alat M-Tech yang ada di telinganya terjatuh. Moon kemudian lemas. Dia pingsan.

“Dasar wanita jalang!” Suni menendangi Moon lagi. Aku entah bagaimana tiba-tiba punya kekuatan untuk mendorong pintu kaca ini sehingga bergeser. Segera aku berlari ke arah mereka berdua. Mas Faiz juga demikian. Ia segera menerkam Lucifer tapi Lucifer entah bagaimana ia bisa menghilang dan berpindah tempat. Apa orang ini hantu?? Aku lalu menghujamkan kepalan tinjuku ke arah Suni. Dia malah menerimanya. BUK!

Wajah Suni tidak bergeming dengan pukulanku. “Hohohoho, cuma segini pukulanmu?”

Apa ini? Dia kuat sekali. Mas Faiz ikut memukul Suni. BUK! Pukulan Mas Faiz mengenai perut Suni. Tapi pukulannya sama sekali tak membuat Suni bergeming. Ia kuat sekali. Dengan sekali pukul ia pun memukulku hingga aku terpelanting. Demikian juga Mas Faiz. Dia, kuat sekali. Rasa nyeri langsung menghampiri pipiku. Kami berempat sekarang terkapar di lantai. Hanya melihat Suni dan Lucifer pergi.

Aku segera bergeser merayap ke arah Moon dan kupegang tangannya. Dan setelah itu aku pun tak sadar. Pukulannya benar-benar membuatku pusing. Kuat sekali dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*