Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 13

Si Rambut Merah Bab 13

BAB XIII

I’m Sorry

NARASI HIRO

Hari sudah malam dan aku terbangun mendapati Moon berada di dalam pelukanku. Kami baru saja bercinta di atas sofa apartemen miliknya. Tidurnya mendengkur halus. Kami sempat tertidur beberapa saat. Aku membelai rambutnya yang berwarna merah itu. Rambut yang natural tidak dicat. Ia terlihat cantik.

Oke saudara-saudara sekalian. Aku baru saja melepaskan status perjakaku. Baru kali ini aku bercinta dan itu pun dengan orang yang aku cintai. Aku tak peduli dengan masa lalunya, aku juga tak peduli dia masih perawan atau tidak. Bagiku sudah luar biasa aku bisa bercinta dengannya. Membolos sekolah, jalan-jalan, kemudian diakhiri dengan bercinta dengan hebat.

“Hiroo…maafkan aku,” dia mengigau. Lalu mendengkur lagi.

“Moon?” kataku.

Aku mencium keningnya. Ponselku berdering. Eh, di mana ponselku? Aku menggapai celanaku yang tercecer di lantai. Kemudian aku melihat siapa yang menelpon. Mas Faiz. Oh iya, tadi dia menyuruhku ke gedung M-Tech. Ngapain sih ke sana? Aku lalu mengangkatnya.

“Kamu di mana?” tanyanya.

“Di….apartemen,” jawabku.

“Hah? Apartemen siapa?” tanyanya.

“Apartemennya Moon,” jawabku.

“Hah? Ngapain kamu di sana? Woi, ini udah malam. Kutunggu di gedung M-Tech,” tanya Mas Faiz heran.

“Mas, koq tahu Moon dari mana?” tanyaku.

“Sudahlah, cepat! Waktu kita tak banyak,” jawabnya. Ia lalu menutup teleponnya. Heran. Dari mana dia tahu tentang Moon?

Aku lalu menggoyang-goyang Moon.

“Jung Ji Moon? Bangun! bangun!” kataku.

“Hhhmm…bentar dong…masih capek!” ia mengigau lagi.

“Hei, kita harus pergi. Kakakku menyuruhku ke M-Tech Building ama kamu,” kataku.

Tiba-tiba matanya terbelalak. Ia langsung bangun begitu saja. Aku menjadi takut sendiri. “Kamu tak apa-apa Moon?”

“I..iya, Hiro. Makasih ya,” katanya. Masih dengan telanjang ia segera menuju ke kamar mandi. Dan aku dibiarkannya tanpa busana di ruangan ini.

Aku memunguti bajuku dan memakainya kembali. Tak berapa lama kemudian dia keluar dari kamar mandi. Dia lalu melangkah menuju ke lemari bajunya. Oh iya, Apartemennya ini cuma satu ruangan. Jadi tempat tidur, ruang tamu semuanya satu ruangan. Aku bisa melihat apa yang dia lakukan. Dan dia tak malu-malu ganti baju di hadapanku. Dan dia pakai baju yang super ketat saudara-saudara.

Dia memakai baju full body press. Sebuah boot dipakainya. Dia menatapku sambil tersenyum.

“Aku ingin jujur kepadamu sekarang. Mungkin kakakmu sudah tahu siapa aku. Aku adalah Jung Ji Moon. Aku seorang agen rahasia NIS. Tujuanku ke sini adalah untuk mendekatimu agar aku bisa masuk ke gedung M-Tech. Maafkan aku Hiro,” katanya. Aku cuma melongo ketika dia mendorong lemari bajunya dan memperlihatkan banyak senjata berada di sana. Mulai dari pistol sampai senapan.

“Moon??” aku masih tak percaya.

Moon mengambil sebuah pistol dan dikokangnya. Dia kemudian menghampiriku, sekarang aku agak takut. Terlebih dia membawa pistol. Ketika mendekat kepadaku dia memasukkan pistolnya ke sarung pistol yang ada di pinggangnya. Dia mendekatkan wajahnya kepadaku.

“Kau jangan takut, aku tak akan menyakitimu. Aku setidaknya sudah minta maaf karena telah membohongimu selama ini, tapi….,” Moon menyentuh dadaku. “Cintaku kepadamu nyata Hiro.”

Entah kenapa aku seperti terbius oleh kata-katanya. Aku tak jadi takut, malah semakin penasaran dengan dirinya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku.

“Sambil di jalan kita bicara, ayo!” katanya.

NARASI MOON

Aku harus akui hal ini tidak mudah bagi Hiro. Apalagi aku harus membuka identitasku sendiri. Aku bercerita kepadanya semua hal. Tentang Genesis, tentang S-Formula, tentang diriku dan apa yang harus kami lakukan. Aku cukup takjub, Hiro tidak marah. Tidak seperti yang aku harapkan sebelumnya. Ia mengerti dan malah makin tertarik kepadaku. Apa gara-gara bercinta denganku barusan membuat otaknya sedikit slang??

Biasanya orang yang mengetahui identitasku seperti ini dia akan terkejut, panik dan akan memarahiku habis-habisan. Terlebih aku tega sekali membohonginya. Tapi dia tidak. Dia lebih dewasa dari apa yang aku duga selama ini. Mungkin juga akulah yang membuatnya dewasa. Tentu saja.

“Kamu tak marah?” tanyaku.

“Buat apa aku marah kepada orang yang jujur?” kata Hiro. “Justru keluargaku sangat menjunjung tinggi kejujuran.”

Aku memasang codec ke telingaku. Codec, benda kecil sekecil lubang telinga yang dipasang di telinga. Namun dia bisa memancarkan frekuensi radio dan bisa mengirim dan menerima pesan radio pada gelombang tertentu. Aku memberikan juga kepada Hiro.

“Pasang saja di telinga!” kataku.

“Seperti ini?” Hiro memasangnya.

“Kau bisa dengar suaraku di situ?” tanyaku.

“Iya, jelas sekali,” jawabnya.

“Alat itu adalah komunikasi kita sekarang. Aku khawatir kalau-kalau di dalam gedung M-Tech nanti terjadi sesuatu,” kataku. “Sebentar…”

Aku menekan frekuensi di sebuah komputer kecil yang terpasang di dashboard mobil. Frekuensi yang biasa aku gunakan untuk berhubungan dengan anggota timku.

“Hello, Peter, Nikolai, John, Devita?! Anyone can hear me?” tanyaku.

“I’m at building Moon. Where the hell are you anyway?” tanya Devita di suara codec.

“Siapa dia? Siapa Nikolai, Peter, dan John?” tanya Hiro.

“Peter dari CIA, John dari MI6, Nikolai dari SVR dan Devita dari BIN. Seperti yang aku jelaskan tadi kami semua adalah utusan PBB untuk mendapatkan S-Formula,” jelas Moon.

“Siapa itu? Hiro??” tanya Devita.

“Exactly,” jawab Moon.

“Why you give codec to him?” tanya Devita.

“Because I trust him Dev, how about you? You Trust Faiz now?” tanyaku gusar. Sebab tak ada kabar dari dia semalaman.

“Yes, I do. That’s why right now I’m here,” jawab Devita.

“So it’s fine then. But where is the others?” tanyaku.

“I don’t know,” jawab Devita. “I lost contact with them this morning.”

“Lost contact? Something doesn’t right,” kataku.

“Yeah, stay sharp!” katanya.

Mobil sekarang sudah masuk ke parkiran M-Tech building. Aku langsung keluar dari mobil diikuti oleh Hiro.

“Masuk saja Moon, asalkan ada Hiro para penjaga akan mengijinkannya,” kata Devita di codec.

Kami melewati para penjaga dengan mudah. Mereka kenal dengan Hiro. Bahkan aku menggadeng Hiro seperti seorang kekasih pun dibiarkannya masuk. Kami pun pergi ke ruang bawah tanah. Di sana aku sudah melihat Faiz junior yang bersandar di tembok. Bersama Devita. Mereka sepertinya menungguku.

“So?” sapaku ketika melihat mereka berdua.

“Mas Faiz?!” sapa Hiro ke kakaknya.

“Maaf Hiro aku tak terus terang kepadamu. Kamu sudah tahu apa yang terjadi?” tanya Faiz.

“Iya, Moon yang cerita,” kata Hiro.

“Baguslah kalau begitu. Paling tidak aku tidak menyesal untuk membuka pintu ini,” kata Faiz. “Ayo, kamu di sana!”

Aku dan Devita berdiri berdampingan menyaksikan kedua saudara melangkah menjauh. Mereka mendekati sebuah papan di kedua sisi pintu. Papan itu disentuh oleh mereka.

“SCANNING DNA…..” terdengar suara komputer. Tangan keduanya kini seperti discan. Kemudian di papan kecil bawahnya muncul angka-angka. “PLEASE SOLVE THIS ALGORITHM!”

Faiz tampak menekan-nekan beberapa angka. Aku sendiri tak tahu angka apa saja yang mereka tekan. Hiro tampak menggaruk-garuk kepalanya. Di papannya Faiz langsung terdengar bunyi suara komputer, “Key 1 Opened!”

“Lama banget sih?” kata Faiz.

“Wait brother…wait!” kata Hiro. Dia lalu menekan beberapa angka.

Tak berapa lama kemudian terdengar bunyi “Key 2 Opened!”

“Welcome Faiz Hendrajaya Junior! Welcome Hiro Hendrajaya!” suara komputer menyambut mereka berdua.

“Keren ya, ini kedua kalinya aku masuk ke tempat ini,” ujar Hiro.

“Norak lu,” kata Faiz.

Aku sedikit geli melihat gaya Hiro. Pintu terbuka secara otomatis. Kami berempat mulai masuk ke ruangan server itu. Ruangan itu sangat besar. Yang lebih membuatku takjub adalah ruangan itu penuh dengan kotak-kotak yang panjang. Kabel tertata rapi. Begitu masuk ke tempat itu hawa dingin langsung menusuk kami. Sekarang kita sudah masuk ke tempat penyimpanan data teraman di dunia. Aku diajak Faiz dan Hiro ke tengah ruangan. Di tengah ini ruangannya lebih rendah. Di bawah sana aku bisa melihat kotak-kotak seperti batu bata tertata rapi. Mirip Coleseum. Besar sekali.

Aku melihat Faiz berjalan ke sebuah kontrol panel. Di sana dia memencet beberapa tombol dan sebuah keyboard muncul. Lebih tepatnya keyboard tanpa tuts. Karena itu adalah touchscreen.

“Find S-Formula,” kata Faiz. Dia mengetikkan huruf-huruf S-Formula.

Tiba-tiba muncul sebuah layar hologram di depannya. Aku tak pernah menyangka ada tekologi hologram di negara ini. Dan itu berada di gedung ini. Di layar itu menunjukkan banyak sekali file dengan nama S-Formula. Faiz menoleh kepada kami, seolah-olah bertanya, yang mana?

“Coba yang diupload oleh Dr. Edward,” kata Devita.

“Searching Dr. Edward,” kata Faiz. Kemudian terpilih satu file. Ukurannya cukup besar 2 TB.

“File apa besarnya segini?” gumam Hiro.

“ITu adalah S-Formula, aku sendiri tak tahu fungsinya apa, tapi yang jelas Genesis saat ini sedang menginginkannya. Kami akan mempelajari semua itu. Laporan terakhir mengatakan bahwa itu adalah senjata buatan genesis,” jelas Devita.

“Kamu bisa download dan simpan data itu ke harddisk portable?” tanyaku.

“Sure, no problemo,” kata Faiz.

Aku berjalan menuju ke Faiz dan menyerahkan sebuah kotak harddisk portable berukuran 10 TB. Cukup tentunya untuk menyimpan file sebesar 2 TB itu.

“Aku juga minta setelah kamu pindah ke HardDisk itu, kamu hapus filenya,” kataku.

“Tak masalah,” ujar Faiz.

“Makasih Faiz,” kata Devita.

Faiz mengedipkan matanya ke Devita. Hiro kemudian berjalan mendekat kepadaku.

“Aku mohon maaf Hiro, sekali lagi,” kataku.

“Tak apa-apa, tenang saja. Yang penting, kamu tahu perasaanku. Dan kamu juga sama,” katanya.

Aku tersenyum. Dan mencubit pinggangnya. Hiro mengaduh. Aku senang dengan tingkah kekanak-kanakannya itu. Setelah menunggu beberapa saat lamanya Faiz telah selesai memindahkan semuanya ke dalam harddisk itu dan menyerahkannya kepadaku. Dia juga menghapus file S-Formula itu. Akhirnya satu tugas selesai.

Tapi masih ada yang mengganjal. Dan aku tak pernah mengerti sampai sekarang. Kenapa para assasins itu ingin menculik Hiro? Apa sebabnya? Kami pun tak perlu berlama-lama berada di ruang server itu. Tapi begitu kami berempat keluar, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dan ini tidak pernah aku sangka-sangka sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*