Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 12

Si Rambut Merah Bab 12

BAB XII

Cinta yang Jujur

NARASI HIRO

Aku mencintai Jung Ji Moon. Itulah sebenarnya yang terjadi. Aku tak ada rasa sekarang kepada Yunita. Aku tak ingin membohongi diriku sendiri. Selama ini yang mengajarkanku cara untuk mencintai seorang wanita adalah Jung Ji Moon. Cara untuk mengajak seorang wanita berkencan. Juga cara untuk mencium seorang wanita. Dialah orangnya.

Pagi ini aku melihat Moon agak kesal. Entah karena persoalan apa. Aku tak mengerti. Hari ini rambutnya berwarna merah lagi setelah beberapa hari dicat hitam.

“Kenapa Moon?” tanyaku di dalam kelas.

“Aku sedang kesal dan tolong jangan ganggu,” jawabnya.

“Baiklah, Ok,” kataku. Aku tak mau mengganggunya sekarang. Hampir satu jam pelajaran dia hanya mengutak-atik ponselnya. Sebenarnya sih ponsel nggak boleh digunakan ketika jam pelajaran dimulai.

Tapi Moon selalu pandai dalam menyembunyikannya. Satu yang membuatku takjub saat diminta ponselnya adalah dia menyembunyikannya di toketnya. What?? Dan dia menantang pak guru, “Ambil saja kalau berani.” Tentu saja seluruh kelas langsung heboh. Bahkan lucunya adalah guru-guru tak ada yang berani kepadanya. Siapa sih Moon ini? Katanya anak seorang konsulat. Aku saja tak tahu di mana dia tinggal.

Ketika jam istirahat dia langsung meninggalkan kelas. Ia sepertinya kebingungan dia menelpon seseorang berkali-kali. Entah siapa yang dia telepon. Melihat ini aku pun penasaran.

“Kamu menghubungi siapa?” tanyaku.

“Ani dangsin munje! It’s not your bussines!” bentaknya. Mana sebagian pake bahasa Korea lagi.

Aku pun jadi kesal dibuatnya. “Fine, it’s your bussines but I care!”

“Why?! You are not important!”

Tampaknya keributan kami menarik beberapa murid. Mereka berbisik-bisik.

“So, I’m not important then? Fine. Go away!” kataku.

Moon mengerang, “Aaarrgghh…!” Dia membanting ponselnya dan mengejarku.

“Hiro! Hiro! Wait!” dia terus memanggilku. Aku terus berjalan dan kemudian berlari.

“Go away!” perintahku. Aku sebenarnya nggak marah. Hanya memancing Moon. Aku terus berlari hingga ke atap sekolah.

Moon sudah berada di atap bersamaku. Nafasnya terengah-engah mengejarku.

“Larimu cepat sekali, aku saja yang sudah terlatih bertahun-tahun kalah,…eh ups..,” kata Moon.

“Hah? terlatih?” aku heran. Maksudnya apa?

“Oh…sorry, maksudku aku yang sudah terlatih lari. Aku sering latihan lari,” katanya.

“Oh…kukira apa,” kataku.

“Sorry, I’m so sorry. I just fucked up!” katanya.

Aku tersenyum kepadanya sampai gigiku kelihatan. Dia lalu membalikkan badannya, “No no no! Don’t show that face to me!”

“Why?!” tanyaku.

“Because I hate that face! You…you are so much so much like him,” kata Moon sambil terisak.

“He?? Siapa? Mantan?” tanyaku.

Moon mengangguk. Tiba-tiba dia memelukku dan menundukkan wajahnya ke pundakku. “Kau jahat, kau sangat jahat Hiro. Kenapa kamu mirip dia? Kenapa?”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Ya bukan salahku dong mirip ama mantannya. Gimana sih? Aku tak tahu apa yang terjadi tapi ini pertama kali Moon memelukku. Oh God, aku sayang ama dia. Aku cinta ama dia.

“Moon, kenapa kamu menangis?” tanyaku.

“Biar begini dulu. Jangan kamu lepas!” katanya.

Aku pun lama memeluknya. Sampai tangisnya reda. Waktu begitu lama. Lamaaaa sekali. Aku tak pernah memeluk seorang gadis pun sebelumnya. Moon adalah wanita pertama yang menangis dalam pelukanku. Setelah tangisnya reda dia mendorongku. Moon ini begini anaknya, kadang lembut, kadang keras, kadang tegas, kadang juga cute, kadang menyenangkan. Sebulan ini dia kami sangat dekat. Walaupun dia mendorongku aku tetap tak melepaskan lengannya. Karena tinggi kita sama, aku hanya perlu maju satu langkah. Wajahku sudah mendekat ke wajahnya. Ia agak memiringkan kepalanya. Kami pun berciuman di atap sekolah. Ciuman yang sangat lembut. Ciuman yang diajarkan kini aku berikan ke dirinya sendiri. Masih dengan derai air mata ia menciumku. Dunia bagai berhenti berputar saat itu. Aku tak menyangka hari itu aku mencium orang yang aku cintai.

Hari itu seharian aku tak masuk kelas. Biarin kek. Dicariin guru juga biarin. Urusan gue.

Aku berada di atap. Moon bersandar di bahuku. Entah apa yang terjadi. Dia sekarang kalem banget. Nggak seperti tadi. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia tak cerita. Tapi aku tak ingin membuatnya sedih lagi. Sekarang aku nyaman didekatnya. Tidak, dialah yang merasa nyaman di dekatku. Aku tak pernah sedekat ini dengan Moon walaupun duduknya di sebelahku.

“Kamu tahu Hiro, seandainya apa yang kamu lihat dan rasakan tidak sesuai dengan apa yang kamu lihat dan rasakan apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya.

Pertanyaannya membingungkan. Aku jawab aja sekenanya, “Aku tidak tahu.”

“Itulah yang sedang aku rasakan sekarang, pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepalaku serasa ingin pecah saja kepala ini,” katanya.

“Dengarlah Moon, aku jujur sekarang kepadamu. Engkau adalah wanita yang aku cintai. Aku tak bisa berbohong kepada siapapun sekarang. Aku tak mencintai Yunita. Semua kebaikanmu, semua hal yang kamu lakukan ini membuatku mencintaimu,” kataku.

Moon tak berkata apa-apa. Dia hanya beranjak dari tempat duduknya menatap halaman sekolah dari atap.

“Aku minta maaf Hiro, sekali lagi aku minta maaf. Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku juga tak tahu kenapa ini semua harus terjadi. Awalnya aku ingin bisa lepas dari bayang-bayang kekasihku dulu, tapi semua bayang-bayang itu ada pada dirimu. Aku ingin mengutuk diriku sendiri karenanya. Hiro….Saranghae!” katanya. “Aku jujur sekarang. Aku mencintaimu.”

Aku lalu memeluk Moon dari belakang. Dia pun kemudian bersandar di dadaku.

NARASI MOON

Ini adalah hari teraneh dalam hidupku. Setelah Devita memutuskan komunikasi tadi malam. Sekarang aku dipeluk dan dicium oleh Hiro. Dan aku mengalami hal yang sangat aneh. Aku bisa jatuh cinta kepada anak ini. Anak yang baru saja berusia 17 tahun ini. Oh, apa yang terjadi sebenarnya? Aku tak bisa melawan diriku. Dia bukan Suni, tapi perlakuan dia, sifat dia, caranya menyentuhku sama seperti cara Suni menyentuhku.

Bagaimana mungkin anak kemaren sore ini sudah bisa mencuri hatiku? Bagaimana dia bisa sedewasa ini hanya dalam waktu singkat. Hiro,….maafkan aku. Tapi aku harus jujur kepadamu. Kalau aku adalah agen rahasia NIS yang datang untuk mengambil S-Formula sebelum diambil oleh Genesis.

Aku bersandar di dadanya. Entah berapa lama aku bisa bertahan seperti ini. Tiba-tiba ponsel Hiro berbunyi. Tapi dia tidak mengangkatnya. Aku membalikkan badanku.

“Tidak diangkat?” tanyaku.

“Ah biarin, aku sedang ingin bersamamu koq,” jawabnya.

“Angkat saja!” kataku.

Hiro menghela nafas. Ia lalu mengangkat ponselnya. “Dari Mas Faiz. Ada apa brother?”

Hah? Dari kakaknya. Aduh, kakaknya kan sedang bersama Devita. Apa yang terjadi dengan Devita?? Apakah dia baik-baik saja?

“Hah? Ngapain? Nanti malem? Oke deh,” kata Hiro. Dia lalu menutup ponselnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Nggak tahu. Nanti malam aku disuruh ke M-Tech Building, tapi sambil ngajak kamu katanya,” jawabnya.

Aku mengerti sekarang. Devita sudah bicara dengan Faiz junior rupanya sehingga menyuruh Hiro dan aku pergi ke M-Tech Building. Hiro, tak tahukah kamu ini adala akhir perjumpaan kita? Apakah kamu merasakannya Hiro? Setelah ini kita akan berpisah. Aku akan mendapatkan S-Formula dan pergi dari negara ini. Pergi untuk menghancurkan Genesis. Hiro…maafkan aku.

Aku pun bertekad. Aku akan memberikan kenangan yang tak terlupakan kepada Hiro. Ini semua sebagai permohonan maafku. Aku lalu menggandeng Hiro.

“Pergi yuk!” kataku.

“Kemana?” tanyanya.

“Sudah deh, ikut aja!” kataku.

Aku hari itu bersama Hiro keluar sekolah. Kami membolos. Masih dengan seragam kami jalan-jalan. Berbagi keceriaan, mencoba bermain di wahana bermain. Jalan-jalan ke mall, mengacak-acak toko baju. Dan segala kegilaan yang pernah aku lakukan ketika masih SMA dulu. Hiro tampak menyukainya. Selama itu pula, aku selalu tersenyum kepada Hiro. Aku berikan semuanya, semua kesenangan, semua luapan kegembiraanku, cintaku…semuanya. Seolah-olah tak ada hari esok lagi.

Hari itu aku ajak Hiro ke apartemenku. Apartemen tempatku menginap sementara di Indonesia.

“Apartemen siapa nih?” tanyanya.

“Aku menyewanya,” jawabku.

Aku menggeret dia untuk masuk.

“Nggak apa-apa aku masuk?” tanyanya.

“Sudahlah! Ayo!” ajakku.

“Permisi!” gumamnya.

Aku akhirnya mengajak Hiro ke apartemenku. Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Dia memang masih muda, lebih muda dariku. Tapi aku tak bisa membohongi diriku. Aku mencintainya. Aku memajukan wajahku. Kucium bibirnya. Bibir kami melekat lagi. Hiro mendorongku.

“Moon, kenapa? Kenapa kamu lakukan ini?” tanya Hiro.

“Karena aku tak ingin menyesali apa yang akan terjadi setelah ini. Kamu mau kan?” tanyaku. Hiro menelan ludahnya. Aku tahu dia gugup. Dia masih perjaka. Masih culun. Tidak ngerti begituan.

“Moon, aku tak mau melakukan ini kalau perasaanmu tidak jujur,” kata Hiro.

“Perasaanku jujur. Aku cinta kamu,” aku menatap mata Hiro tanpa berkedip. Kami bertatapan lama. Bahkan keheningana itu hanya menyisakan dentuman jantungku yang makin cepat. Aku juga bisa mendengar detak jantung Hiro. Remaja ini kini memelukku dan menciumku.

Ya, seperti ini. Hiro menciumku, menghisap lidahku sepenuhnya. Entah bagaimana tiba-tiba ia bergejolak. Dia melepaskan seragamku. Dilemparkannya entah kemana. Aku juga demikian, kubuka seragamnya dan kulemparkan entah kemana. Dia memelukku lagi aku lalu ambruk di atas sofa. Hiro berada di atasku. Dibelainya rambutku….Ohh..Hiroo…maafkan aku…aku akan berikan sesuatu yang tidak akan pernah kamu lupakan.

Hiro menciumi leherku. Ia masih terlalu kaku, belum lembut. Lidahnya belum bisa bermain dan menari-nari di tubuhku tapi aku menyukainya. Aku harus bimbing dan ajari dia. Aku bantu dia melepaskan kaitan braku. Mata Hiro melotot. Seolah-olah ia tak pernah melihat payudara wanita sebelumnya.

“Aku jujur belum pernah melihat sesuatu seindah ini,” katanya.

“Hiroo….lakukanlah apa yang kau inginkan,” kataku.

Hiro kemudian membenamkan wajahnya di belahan payudaraku. Dia hirup parfum dan bau tubuhku. Lalu ia remas dengan lembut kedua bukit kenyal itu. Aku melayang. Terlebih dia memijiti puting susuku. Libidoku mulai naik. Dia mulai menghisapi putingku dengan lembut. Pertama kali lidahnya ditempelkan di sana. Kedua, dia lalu menyapu area di sekitar putingku. Ketiga, putingku dikunyahnya lembut lalu dihisap dengan lembut dan kuat, secara bergantian. Ahhh…Hirooo….

Pantatku mulai menggeliat kiri kanan saat kemaluanku menyentuh kemaluannya yang sama-sama masih berbalut celana dalam. Hiro tampaknya puas sekali mengenyoti payudaraku. Kedua putingku sekarang basah oleh ludahnya. Ia gemas sekali sampai berkali-kali meremas dan menghisapnya secara bersamaan. Ia pun mulai menciumi perutku, dan turun ke bawah. Aku menggeliat.

Hiro agak terkejut ketika melihat sesuatu seperti bekas luka di perutku. Iya, bekas luka itu aku dapatkan ketika aku ada misi di Afghanistkan. Aku tertembus peluru.

“Jangan Hiro, kamu pasti tak suka melihatnya. Itu bekas lukaku,” kataku.

“Tak apa-apa, aku menyukai dirimu seutuhnya Moon,” katanya sebelum menciumi bekas lukaku. Sensasinya aneh, tapi aku suka. Justru perlakuannya membuatku banjir di bawah sana. Kenapa aku bisa terangsang ketika dia menciumi bekas lukaku??

Dia akhirnya berusaha membuka penutup tubuhku bagian bawah. Rok dan celana dalamku dilepasnya. Dia pasti terkejut melihat bagian tubuhku itu. Dia juga membuka celananya dan CD-nya. Benda panjang berurat tiba-tiba seolah-olah seperti melompat begitu saja.

“Indah sekali Moon,” katanya tepat di atas lubang kemaluanku. Nafasnya seperti menyapu kemaluanku. TIdaaakk…aku merinding. Ia pasti merasakan bulu kudukku merinding sekarang. Ia tak mempedulikannya. Ia menciumi pahaku yang mulus dan putih tanpa noda itu.

“Hiroo…jangan Hiro…aku tak kuat kamu gituin!” kataku memelas. Aku memang orang yang bakal menyerah kalau pahaku diberlakukan seperti itu. Kelemahanku adalah pahaku. Aku sangat sensitif dengan tubuhku bagian bawah itu. Dan yang kedua adalah leherku. Ketika Hiro mencium leherku tadi aku sebenarnya sudah pasrah dan basah. Ketiga aku sengaja sembunyikan sebab kalau dia melakukannya aku akan meledak, yaitu ketiakku. Hiro menjilati pahaku. Aahhh….dia pasti melihat kemaluanku mengeluarkan cairan. Tidaak…aku malu, kenapa aku malu? Aku pernah melakukan ini dengan Suni, lalu kenapa harus malu? Mungkin karena Hiro masih terlalu muda dan ini dia masih perjaka.

“Hiro…sudah…! Aku tak kuat lagi. Masukkan!” keluhku. Aku memelas. Aku menatapnya dengan pandangan sayu. Sangat memohon. Kemaluanku sudah gatal sekali.

“Moon, aku baru pertama, maaf ya,” kata Hiro. Aku mengangguk.

Hiro menindihku. Kemaluannya menggelitik klitorisku. Aaahhkk…geli. Dan BLESSS! Aku tersentak. Sejujurnya, semenjak terakhir kali aku melakukan dengan Suni, aku tak pernah melakukannya lagi dengan siapapun. Aku juga tak pernah mastrubasi. Memekku serasa kaget ketika tiba-tiba ada sebuah benda asing masuk ke sana. Keras, tegang, hanya itu yang bisa aku ungkapkan ketika benda itu bersarang di sana.

“Aahhh….Moon…! Ahh…aku enak Moon, kamu juga?” tanyanya.

“Iya Hiro, yes…me tooo….you feel deep down there,” kataku.

Hiro bergoyang naik turun. Enak sekali, nikmat dan aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain kenikmatan yang bertubi-tubi aku rasakan menghujam kemaluanku. Rongga vaginaku benar-benar distimulus dengan ekstasi nafsu. Pahaku makin melebar membiarkan tubuh Hiro memasuki diriku. Hiro terus mendekapku. Ia juga menciumi seluruh wajahku. Aku hanya bisa memejamkan mata menikmati perlakuannya. Ohh…aku cinta kepada pemuda ini. Persetan urusan spionase ini, persetan semuanya. Aku hanya ingin Hiro sekarang ini. Persetan juga dengan Devita. Persetan semuanya.

Tiba-tiba Hiro berhenti. Ia menciumiku dengan lembut.

“Boleh aku melakukannya dari belakang?” bisik Hiro. Aku mengerti. Ia mencabut pionnya. Aku bisa melihat kemaluan Hiro yang tegang dan berotot itu mengkilat. Itu berarti kemaluanku sudah benar-benar banjir. Aku berbalik dan menungging. Hiro memposisikan pion kemaluannya tepat di depan miss-V-ku. Tak perlu lama-lama untuk mencari celahnya, karena begitu terkena lendir kemaluanku pionnya langsung melesat masuk seperti kereta api ekspress yang masuk ke lorong. Uuhgggh….

“Ugghh!” desahku. Hiro kemudian memaju-mundurkan pinggulnya. Aku terus mendesah dan mengeluh. Hiro berusaha memegang payudaraku. Dia meremas-remas payudaraku. Ohh…aku nikmat sekali Hiro. “Hiro, kamu merasakan nikmat?”

“Iya, aku nikmat sekali. Your pussy is tight,” katanya. Aku senang. Aku pun memaju mundurkan pantatku. Dia makin keenakan, diremasnya berkali-kali pantatku. Hiro kembali membalikkan badanku, hingga terlentang lagi. Kini ia bagai menguasai diriku seperti boneka. Ia tak langsung memasukkan miliknya, tapi kembali menciumiku, menciumi leherku. Ahhh….ini kelemahanku. Kemaluanku kembali menyemprot-nyemprot kecil. Mungkin Hiro tak melihatnya tapi aku merasaknnya. Dan AAAHHHHKKKK….dia menciumi ketiakku. Dia menjilatinya.

“Aaahhh….Hirooo…jangan disitu…No not right there…I’m cummmiiiingg! AAARRGHH!” aku menjerit. Kedua pahaku kukatupkan. Pinggulku bergetar hebat. Itu kelemahaanku ketiakku. Kenapa dia menciumnya? Aku segera mengapitkan ketiakku, takut diciumnya lagi.

Hiro membelai rambutku. Aku menatapnya sayu. Dia menciumku lagi. Aku masih dilanda orgasme yang dahsyat. Dia membuka kembali pahaku. Entah berapa liter lendir yang aku keluarkan di bawah sana. Yang jelas sekarang pahaku dibuka lebar lagi dan Hiro masuk lagi. Sangat mudah. Dia kembali menggenjotku. Aku dipeluknya lagi. Kali ini gerakannya sangat cepat. Kemaluanku sudah ngilu sekali. Aku tak pernah bercinta sedahsyat ini. Bahkan dengan Suni pun tidak pernah. Suni memang tak tahu titik sensitifku, karena akulah yang selalu berinisiatif untuk bercinta, tapi Hiro mendapatkan semuanya. Walaupun ia masih muda tapi dia mampu memberikan efek yang tidak biasa ke seluruh tubuhku.

Keningnya sekarang menempel di keningku. Mata kami beradu. Aku tak sanggup menatapnya. Ohh…Hiro. Dia menarik kedua tanganku ke atas dan menahannya. Hei, apa yang??? AAAHHHKKK…dia menjilati ketiakku yang putih tanpa bulu itu. Aaahh….pinggulku bergetar hebat. Aku orgasme lagi….

“Hiroooo…don’t…I can’t hold it anymore!” kataku.

Aku terus diperlakukan seperti itu. Rasanya geli dan nikmat. Di atas aku diserang di ketiakku, di bawah dia menggenjot makin cepat. Aku benar-benar multiple orgasme. Dan Hiro pun keluar juga. “I’m…cumming….!”

Hiro menyemprotkan seluruhnya ke dalam rahimku. Ahh….hangat sekali spermanya. Aku bisa merasakannya. Ini ML terdahsyat, dalam sejarah hidupku. Aku tak pernah merasakan ML seperti ini. Aku bisa orgasme berkali-kali dalam waktu yang dekat. Hiro langsung ambruk menindihku. Kami berpelukan erat. Hiro,….kamu telah menjadi pangeranku sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*