Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 11

Si Rambut Merah Bab 11

BAB XI

Man from the Past

NARASI DEVITA

Aku tahu siapa dia. Dia adalah Faiz. Faiz Junior. Kami dulu pernah punya masa muda bersama. Tapi aku tak menyangka dia itu anaknya Faiz Hendrajaya. Mungkin memang salahku. Kami terlalu konsentrasi ke Hiro. Karena dia ada di negara ini dan paling dekat dengan server M-Tech. Ternyata hal itu di luar rencana. Sejujurnya aku pernah punya perasaan ke Faiz junior. Ceritanya beberapa tahun yang lalu saat aku masih kecil.

Aku kenal dengan Faiz karena dia adalah tetanggaku. Kakeknya dan ibunya bekerja sebagai buruh petani teh. Keluarga mereka sederhana. Dan Faiz adalah teman mainku sejak kecil.

“Faiz?!” panggilku.

“Hai, Dede!?” sapanya. Dia memanggilku dengan panggilan Dede. Karena nama lengkapku adalah Devita Dwi Artanti. Disingkat oleh Faiz dengan Dede. “Ibu, aku berangkat!”

“Hati-hati di jalan!” kata ibunya Faiz.

Kami masih SMP saat itu. Faiz selalu bercerita bahwa dia ingin bisa sekolah di kota. Ia ingin bisa bersama ayahnya. Aku tak pernah tahu tentang ayahnya. Bahkan semenjak kakeknya meninggal beberapa bulan lalu, tak ada satupun keluarganya yang datang. Faiz ini orangnya cerdas. Di kelas selalu juara. Aku saja kalah.

Kemana-mana aku dan Faiz selalu berdua, baik itu sekolah, main, kemana-mana selalu berdua. Sudah seperti dua sejoli. Aku sebenarnya suka kepada Faiz sudah lama. Semenjak aku masih SD, mungkin ini cinta monyet. Tapi makin lama aku makin suka ama dia.

“Faiz, kamu nanti SMA sekolah di mana?” tanyaku

“Aku tak tahu, belum ada rencana,” jawabnya.

“Cita-citamu ke depannya nanti kemana?” tanyaku.

“Kalau bisa sih aku ingin nanti sekolah di SMA Kebangsaan. Trus kuliah di luar negeri. Seperti ayahku,” jawab Faiz.

“Kamu mengidolakan ayahmu ya. Aku penasaran sama ayahmu. Dia masih hidup?”

“Iya, masih hidup. Tapi kata ibu dia sibuk bekerja jadi belum bisa menjengukku.”

“Tapi udah lama lho, memangnya ayahmu kerja apa sih?”

“Beliau punya gedung yang tinggi. Beliau juga punya pabrik.”

“Wah, jadi kepingin ketemu ama ayahmu. Tapi bener lho, kalau aku tak ketemu ayahku pasti kangen. Kamu sendiri bagaimana?”

“Aku kangen tentunya. Tapi, aku sudah cukup bangga menjadi anaknya. Ibuku selalu mengajarkanku untuk bangga menjadi anaknya. Mengajarkanku untuk mengidolakan dia.”

Aku cukup heran dengan Faiz ini. Dia selalu seperti itu. Mengidolakan ayahnya. Katanya sepatu yang dia pakai itu juga dulu pernah dipakai oleh ayahnya. Potongan rambutnya juga niru ayahnya. Sebegitu cintanyakah dia kepada ayahnya? Dia sangat membanggakan ayahnya.

Tak terasa hari itu tiba. Hari-hariku bermain bersama Faiz usai. Hari-hariku bersama dia usai. Setelah ia datang ke pemakaman kakeknya di kota. Ia akan tinggal bersama ayahnya. Aku merasa sedih sekali. Hari itu adalah hari di mana dia berpamitan kepadaku.

“Kamu akan pergi?” tanyaku.

“Iya, aku akan pergi. Kamu tak apa-apa kan di sini sendirian.”

“Bodoh, aku tentu saja akan kangen ama dirimu.”

“Kan kita bisa kirim email,”

“Mana cukup?”

“Dede, sudahlah jangan menangis. Kalau menangis kamu terlihat jelek.”

“Biarin. Kenapa kamu harus pergi? Kita sudah bermain bersama selama ini, kita sekolah bersama. Bahkan…bahkan…ibumu sudah baik kepadaku, menganggapnya sebagai anak sendiri. Faiiz…aku akan kangeeen sekali kepadamu….”

Aku memeluk Faizku. Apakah ini cinta? Apakah aku jatuh cinta kepada Faiz.

“Aku tak akan melupakanmu Dede. Aku akan kembali. Aku akan terus ingat kepadamu,” kata Faiz mencoba menenangkanku. Ia mengusap-usap rambutku.

“Janji kepadaku. Berjanjilah!” kataku.

“Janji apa?”

“Janji hanya aku yang boleh jalan denganmu, kamu tak boleh jalan dengan perempuan lain!”

“Idiih, koq gitu janjinya?”

“Ayo janji!” aku menatap matanya dengan tatapan berkaca-kaca.

“Iya deh, aku janji,” katanya.

“Beneran!?” kataku.

“Iya, beneran,” jawabnya sambil menyeka air mataku.

Aku lalu memeluk dan menciumnya. Faiz Hendrajaya. Inilah ciumanku untukmu, ciuman pertamaku. Kuberikan kepada cinta pertamaku. Kepadamu. Aku hisap bibirnya, aku tak pernah mencium lelaki sebelumnya, bahkan cara berciuman pun aku tidak tahu. Aku hisap bibirnya dan dia juga menghisap bibirku. Setelah itu aku menundukkan pandangan.

“Ingatlah, ini adalah hadiahku untukmu, jangan lupakan aku! Berjanjilah!” kataku sambil menyentuh dadanya.

Dia mencium keningku. “Aku tak akan melupakanmu Dede.”

Masa laluku dengan Faiz tiba-tiba saja hadir. Oh apa ini? Aku tak pernah menyangka ayah yang dibanggakannya itu ternyata adalah Faiz Hendrajaya. Orang terkaya di negeri ini dan yang mempunyai Hendrajaya Group. Kali ini aku dihadapkan kepada sesuatu yang sulit.

Aku semalaman memandangi foto itu. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku selama ini tak pernah melihat fotonya? Moon sempat marah-marah ke aku karena aku sangat ceroboh tidak mengetahui Faiz. Dia sebentar lagi akan pulang ke Indonesia. Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah lama tidak berjumpa dengannya.

Tentu saja aku masih ingat dengan janji itu. Tentu saja perasaanku kepadanya tak akan berubah. Dan kenapa juga harus bertepatan dengan misi ini? Aku mengumpat kepada diriku sendiri. Ini tidak adil.

Aku tidak pernah lagi membuka emailku semenjak aku masuk ke Sekolah Intelejen Negara. Karena memang berpisah dari dunia luar adalah salah satu cara agar aku bisa konsentrasi di sini. Sekaligus agar statusku sebagai intelejen terjaga. Ketika aku sudah resmi sebagai anggota BIN, aku pun sudah merelakan Faiz untuk pergi. Aku pun membuka emailku.

Oh ya tuhan, banyak sekali email dari dia. Aku pun sampai mengeluarkan air mata. Tidak ada satupun yang aku balas. Dia terus bertanya tentang kabarku. Dia bercerita sepanjang tahun tentang kuliahnya. Dia bercerita tentang banyak hal. Dia juga mengirimiku foto-foto terbarunya. Ya tuhan, kalau saja aku tahu dia anaknya Faiz Hendrajaya. Dia tak pernah berhenti mengirimiku email. Bahkan sampai sekarang. Apa dia tak tahu kalau aku tak pernah membalas emailnya? Kenapa dia terus melakukan itu? Ia tak menyerah.

Aku membaca email terbaru darinya, subject-nya Graduation.

Hai Dede,

Aku lulus. Sebentar lagi aku akan pulang. Oxford telah aku taklukkan. Bagaimana kabarmu? Kamu tak pernah membalas emailku, tapi aku yakin kamu membacanya. Aku tak akan menyerah untuk tetap berharap kamu baik-baik saja. Kalau kamu membaca email ini, balaslah. Aku ingin bertemu denganmu. Aku akan memamerkan kelulusanku kepadamu. Lihatlah aku bisa mendapatkan cita-citaku.

regards

Faiz, jr.

Faiz menunjukkan fotonya yang sedang membawa topi kelulusan dan baju toga. Dia sekarang menjadi sarjana dari Oxford. Dadaku berdesir, jantungku berdebar lebih kencang. Sesak sekali rasanya. Aku cinta kepada dirinya. Aku masih mencintainya. Apakah aku harus membalas emailnya? Ah, persetan aku pun membalas emailnya.

Hai Faiz,

Selamat ya atas kelulusannya. Aku ingin bertemu denganmu. Aku sudah kangen kepadamu.

ttd

Dede.

Aku langsung menutup laptopku. “Aaargghh…!”

“Kau kenapa?” tanya Moon.

“Tidak apa-apa,” jawabku.

“Kamu benar-benar bikin aku gemes. Kalau tahu kamu punya hubungan dengan Faiz Hendrajaya sejak dulu, aku tak perlu repot-repot mendekati Hiro!” kata Moon.

“Maaf, I’m sorry. I just don’t know if his father is Faiz Hendrajaya. I thought someone else,” kataku.

“So, what next?”

“I will met him,” kataku.

Faiz jr. telah membalas emailku. Isinya:

Dede,
Aku senang sekali dari empat tahun nulis email baru kali ini kamu membalasnya. T____T
Baiklah, ketemuan di kafe Brontoseno yuk, besok lusa. Aku sudah ada di Indonesia sekarang. Ketemuan jam 7 ya.

regards

Faiz,jr.

NARASI FAIZ

Namaku Faiz Hendrajaya Junior. Orang-orang memanggilku Faiz Jr. Aku kuliah di Oxford. Ayahku adalah seorang yang mempunyai perusahaan mobile terbesar se-Asia. Sudah dua hari ini aku ada di Indonesia. Aku sangat senang sekali bisa berkumpul lagi bersama ibuku. Beliau wanita yang luar biasa. Mendidikku sejak kecil hingga sekarang. Ayahku juga sangat senang ketika aku pulang.

Aku tak tahu persoalan antara ayah dan ibuku sampai mereka berpisah. Tapi yang jelas, ibuku tidak menuntut apapun kepada ayahku. Beliau sendiri sudah cukup senang dengan nafkah materi yang diberikan oleh ayah. Dan ibuku tidak menikah. Menurutnya semua laki-laki di dunia itu brengsek kecuali ayahku. Nah, tapi kenapa mereka tak menikah saja sih? Itu yang aku tak habis pikir. Tapi kata ibuku dia dulu membuat kesalahan yang tak dimaafkan oleh ayahku sampai ketika kakek meninggal ayah memaafkan ibu dan merangkulku untuk masuk ke dalam keluarga Hendrajaya.

Aku adalah cerminan ayahku. Itulah yang dikatakan orang-orang. Wajar sih, gaya bicaraku, cara berpakaianku, semuanya hampir mirip ayahku. Dan aku sangat berbeda dengan Hiro. Hiro bertingkah apa adanya, aku tidak. Aku lebih terlihat cool daripada terlihat apa adanya. Jarang bicara kalau tidak dibutuhkan. Seperti sifat ayahku. Dan itu juga yang ibu ajarkan kepadaku. Bunda Iskha dan Bunda Vira iri kepadaku karena lebih mirip ayah daripada anak-anaknya.

Hari ini adalah hari spesial. Aku akan bertemu lagi dengan Devita. Eh, sebentar. Aku tak tahu apakah dia ada di kota ini atau tidak. Kenapa aku langsung bilang ketemu di kafe Brontoseno? Emangnya dia tahu? Bodoh amat sih aku ini. Tapi di email dia menjawab bahwa dia akan datang.

Karena dijawab akan datang ya aku datang dong ke kafe itu. Kafe ini kata ayahku adalah kenangan beliau dengan Bunda Iskha. Katanya dulu Bunda Iskha sering ngisi di kafe ini. Bunda Iskha adalah seorang penyanyi terkenal pada masanya. Beliau adalah legenda bahkan sampai sekarang terkadang masih diundang untuk ngisi di acara televisi.

“Ibu, aku berangkat dulu,” kataku kepada ibuku.

“Berangkat kemana? Kamu lho barusan datang,” kata ibuku.

“Ke kafe, ada janji ketemuan ama teman lama,” jawabku.

“Temen apa temeen?” godanya.

“Ibu masih ingat ama Dede?” tanyaku.

“Devita? Temen mainmu itu?”

Aku mengangguk. “Iya, ingat kan?”

“Oh kamu mau ketemu dia? Wah, masih berhubungan saja kalian ini.”

“Heheheh, sudah ya, nanti telat lagi,” aku mencium kening ibuku. Kemudian pergi.

Ibuku selama ini tinggal sendirian di rumah. Tapi banyak pembantunya koq. Jadi hampir segala kebutuhannya disediakan oleh para pembantu. Terkadang sepupu-sepupuku main ke rumah, jadi rumah tidak begitu sepi. Rumah ini konon katanya warisan kakek. Cukup besar sih. Dan aku tidur di bekas kamar ayahku.

Aku sudah melaju di atas jalanan kota yang diguyur hujan di bulan Januari. Orang jawa bilang Januari adalah “Hujan sehari-hari”. Mungkin tepat sekali filosofinya. Benar-benar hujan setiap hari. Pukul tujuh tepat aku sampai di kafe itu. Seorang pelayan langsung menyambutku.

“Silakan masuk!” katanya.

Aku menoleh kiri-kanan. Mencari-cari kalau ada seorang cewek yang duduk sendirian. Dan, aku melihat seorang yang tidak asing. Seorang perempuan dengan rambut seleher. Matanya memandang keluar. Aku kemudian menghampirinya. Aku berdebar-debar, karena sudah lama tidak berjumpa dengan dirinya. Dia Devita. Teman mainku sejak kecil.

Saat aku sudah ada di depannya aku langsung menggeser kursi dan duduk di sana. Ia kaget ketika melihatku.

“Maaf ngagetin,” kataku.

Ia menutup wajahnya. Mengusap mukanya seperti ingin membuang seluruh perasaan yang dirasakannya saat ini. Begitu tangannya turun dia menatapku dengan tersenyum.

“Apa kabar?” katanya.

“Baik, kamu?” tanyaku.

“Baik juga,” jawabnya.

Setelah itu….hening. Kami cuma diam sambil membolak-balik menu.

“Mau pesan apa?” tanyaku memecah keheningan.

“Cappucino saja deh,” jawabnya.

Aku memberi aba-aba kemudian pelayan datang.

“Cappucino dua ya mbak,” kataku.

“Ada lagi?” tanyanya.

“Itu saja dulu,” jawabku.

Ia kemudian pergi.

“Aku tak sangka kita bertemu lagi,” kataku.

“Iya, bagaimana kabarmu?” tanyanya lagi.

“Aku sudah bilang, aku baik-baik saja,” jawabku.

Ia tertawa, “Maaf, aku grogi sekali.”

“Tak perlu grogi santai sajalah. Dulu kita kan sering bicara seperti ini, bahkan lebih dekat,” kataku. Aku memegang tangannya. Devita menarik nafas dalam-dalam.

“F..Faiz..,” ia agak gugup. “M..maaf, aku tak sanggup. Maafkan aku…”

Tiba-tiba Devita berdiri. Lalu ia beranjak meninggalkan aku. Aku segera menyusulnya. “Dede, tunggu!” Aku taruh uang di atas meja. Lalu segera mengejarnya.

“Jangan kejar aku!” teriaknya. Ia lalu berlari di bawah guyuran hujan.

Aku menahannya agar tak lari. Kami sekarang berada di bawah guyuran hujan. Aku langsung membalikkan tubuhnya.

“Faiz…aku tak sanggup,” katanya. Apa maksudnya tak sanggup?

“Kenapa? Kamu sudah punya pacar?” tanyaku.

Ia menggeleng.

“Lalu kenapa?”

Matanya…ia menangis. Air hujanlah yang telah berjasa menyamarkannya. Tapi aku bisa mengetahui kalau dia menyimpan sebuah beban. Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku mengambil inisiatif, aku peluk dia dan kucium bibirnya. Devita tak bergerak. Ia mematung. Ia menerima ciumanku. Aku sangat merindukan dia. Aku masih setia kepada dia, dan inilah kerinduanku.

NARASI DEVITA

Ohh…Faiz…dia menciumku. Ohh…rasanya hangat. Aku sudah tak peduli lagi dengan hujan ini. Aku tak peduli dengan dinginnya air hujan. Dia memelukku di bawah guyuran air hujan. Ciuman ini lama sekali. Aku pun membalas pelukannya yang hangat. Dia lelaki dari masa laluku, kini telah kembali. Pasti Moon akan sangat marah mengetahui hal ini.

“Dev, Devita?!” panggilnya melalui codec. “What the hell are you doing? Focus! focus!”

Faiz kemudian menggandengku. Ia mengajakku masuk ke mobilnya. Mau dibawa ke mana aku? Moon berkali-kali memanggilku. Aku kemudian berbisik, “Please turn off this codec, I can do it alone.”

“Are you sure?” tanya Moon.

“Please, I know him. Just forgive me, this once. Please!?” bisikku.

“Arrggh….fine then. Just do it!” kata Moon. Ia pun mematikan komunikasi. Aku melihat dari kaca spion, mobil yng dinaiki Moon kemudian berbelok tidak mengikuti kami. Aku tak tahu kemana Faiz akan membawaku. Dan….kami pun berhenti di sebuah rumah. Rumah siapa ini?

“Ini rumahku,” kata Faiz. “Kalau kamu tak keberatan aku mengundangmu untuk masuk.”

“Faiz…jangan, aku tak bisa,” kataku. Faiz membelai wajahku.

“Aku masih setia kepadamu De, aku masih ingat janjiku. Aku tak pernah punya hubungan dengan wanita lain. Aku tetap menjaganya sampai sekarang. Dan aku kembali hanya untukmu,” kata Faiz. Ohh…Faiz.

Faiz menggandengku masuk ke rumahnya. Besar sekali. Tak seperti rumahnya di kampung dulu. Jelaslah. Ayahnya adalah Faiz Hendrajaya. Rumah sebesar ini pasti dia punya. Kami masuk sekarang. Baju kami masih basah. Tanganku digandeng olehnya menuju ke sebuah kamar.

“Ibu sudah tidur pasti, kamu bisa keringkan dirimu,” kata Faiz. “Aku akan tinggalkan kamu untuk ganti baju. Di dalamnya ada baju-baju sih. Paling tidak sampai bajumu kering semua pakailah punyaku.”

Faiz mau keluar kamar aku menahannya.

“Jangan tinggalkan aku,” kataku.

Faiz berbalik. Ya Tuhan, tampan sekali dia. Bagaimana kalau dia tahu bahwa aku adalah seorang intel? Seorang agen rahasia. Dia pasti akan marah kepadaku. Tapi, aku tak sanggup lagi menahan kerinduan ini. Fuck that. Besok aku pikir besok. Sekarang di hadapanku adalah seorang pangeran yang sudah aku nanti sejak bertahun-tahun.

“Bajumu basah,” kataku. Aku raba kemejanya yang membekas bentuk dadanya yang kekar. Perlahan-lahan kancingnya aku lepas. Aku kemudian membuka kemejanya. Tampaklah olehku sebuah dada bidang yang selebar lapangan badminton kelurahan. Ada bulu halus di sana. Aku menciuminya.

“De..apa yang…??”

“Faiz, biarlah aku meluapkan rasa kerinduan ini. Kumohon! Agar aku tak menyesal kalau berpisah denganmu lagi,” kataku.

Faiz kemudian membiarkanku menciumi dadanya. Kuciumi putingnya. Dia mendesah. Aku bisa merasakan jantungnya berdebar-debar. Dia membelai rambutku. Kemudian dia melepas blazerku. Dia lalu membuka satu persatu kancing kemejaku. Ya tuhan, dia sekarang melihat tubuhku. Dia sudah melepaskan kemejanya sekarang. Tubuhnya sempurna.

Ia menciumi pundakku, dihisapnya butiran-butiran air hujan yang menetes di tubuhku. Dia juga menghisap butiran-butiran air hujan yang ada di leherku. Ciumannya kembali ke bibirku. Dia menghisap lidahku. Kami berpanggut. Baju atasku sudah dilucutinya. Dia lalu melihat payudaraku yang tertutup oleh bra.

“Kamu sangat sempurna De,” katanya.

“Faiz…aku serahkan diriku kepadamu sekarang, komohon jangan sia-siakan diriku!” kataku.

Dia melepas kaitan braku. Dadaku yang berukuran 34B telah dilepaskan penutupnya. Dia sentuh kedua payudaraku. Kemudian wajahnya didekatkan ke dadaku. Aku lalu memeluknya. Rasanya hangat. Dia ciumi dadaku, dihisapnya putingku. Aahhkkk…Faizku…kamu menyusu kepadaku??

Dia lalu meloloskan rokku. Aku pun membuka celananya, kubuka ikat pinggangnya. Kini dia hanya memakai celana dalam yang juga basah karena air hujan. Ia pun meloloskan apapun yang menempel ditubuhku. Kini aku polos. Aku dipeluknya. Dia megangkat tubuhku sambil menciumiku. Kemudian dia rebahkan diriku di atas kasur. Kami berciuman panas. Suasana kamar itu kini mulai menghangat. Rasa dingin akibat air hujan tadi sudah tidak terasa lagi. Debur-debur kehangatan yang terpancar dari tubuh kami mulai meresap menggantikan rasa menggigilnya suhu tubuh karena air hujan.

Faiz memelukku dan mencumbuku. Ohh..inilah yang ingin aku rasakan. Faizku…terus…ciumi leherku….ohh..dia beranjak ke dadaku. Dia suka dadaku. Dia kulum putingku. Ohh..Faiz, kamu hebat. Kamu profesional sekali memperlakukan seorang wanita sepertiku. Faiz makin membuatku melayang saat bibirnya menjelajah perutku. Lidahnya menggelitik pinggangku, kemudian ke bawah lagi menuju liang senggamaku yang berwarna merah merekah. Aku memang inginkan ini. Aku memang inginkan ini sejak dulu. Aku rindu Faiz. Aku merindukannya.

Lidah Faiz terus bergerak, menari-nari di selakanganku. Aku bisa rasakan lidah itu menyapu lembut daerah kewanitaanku. Bukan saja membuatku melayang ia benar-benar membuatku menggelepar seperti cacing kepanasan. Pantatku sudah tak bisa diatur lagi. Terus bergerak kiri kanan. Memutar seiring dia menggelitikku dengan lidahnya yang kasar tapi lembut. Tangannya bergerilya meremas payudaraku memberikan kepuasan tersendiri. Aku tak ingat lagi bahwa aku seorang agen rahasia dan seharusnya aku tak boleh melakukan ini.

Kalau saja bukan Faiz, aku tak akan melakukannya. Tapi aku sekarang membiarkan diriku dijamah olehnya. Ohh…kini dia menggelitik dan mencolok-colok klitorisku. Aku tak kuasa lagi, aku ingin menyembur. Ohh..aku tak kuasa. Tak kuattt..

“Faiizzz….oohhhh!” tubuhku mengejang. Aku mengangkat pantatku ke atas. Faiz menahannya. Ia menghentikan aktivitasnya yang memuaskan kemaluanku. Aku lalu ambruk, lemas. Tidak, aku tidak boleh istirahat. Aku belum memberikannya kepuasan. Aku tak boleh lemas dulu. Aku sebenarnya masih terlena dengan orgasmeku barusan. Tapi aku sudah bangkit sekarang mencari batang keperkasaan Faiz.

Batang itu besar, panjang dan berurat. Warnanya coklat. Kepalanya berwarna lebih cerah dan tampak kokoh seperti sebuah pion catur. Aku memegangnya. Faiz berlutut. Aku dituntunnya agar aku memberikan kenikmatan yang sama seperti apa yang telah dia lakukan kepadaku. Aku menurut. Kuciumi kemaluan pria ini. Dia perkasa sekali. Aku kemudian mulai memasukkannya ke mulutku. Aku tahu cara ini dari buku kamasutra. Aku selalu ingin tahu bagaimanakah bentuk kemaluan Faiz. Sekarang aku sudah melihatnya dan sekarang sudah masuk ke mulutku.

Sebuah sapuan lembut di pionnya membuat Faiz mengeluh. Dia meremas rambutku. Aku pegang batangnya yang perkasa itu. Kuberikan rangsangan di bagian telurnya. Kuremas-remas lalu lidahku menari-nari di atas telurnya. Kuciumi aroma keperkasaan pria ini. Dia jantan sekali. Rambutnya menggelitiki pipiku. Aku tempelkan batang itu ke hidungku dan kuhirup aromanya. Faiz…aku ingin kau lakukan itu kepadaku.

Aku langsung merebahkan diriku. Kutatap wajahnya dengan pandangan sayu. Faiz menindihku. Dia peluk diriku. Dibisikinya aku sesuatu, “Kamu yakin?”

Aku mengangguk. “Lakukanlah, agar aku tak akan menyesal seumur hidupku.”

Faiz kemudian menggesek-gesekkan kepala pionnya di belahan memekku. Ohh…sebentar lagi, hal yang ingin aku lakukan sejak dulu. Aku ingin dimasuki olehnya. Gelombang kenikmatan mulai menjalari tubuhku, menggelitik tubuh bagian selakanganku. Namun rasanya menjelar ke ubun-ubun. Faiz menciumku, aku tahu ini, dia akan menerobosku. Entah kenapa pionnya itu sekarang sudah berada di lubangku. Pantatnya makin dia tekan ke depan. Dan…..SREEEETTTT!

“AAahhhkk!” hampir saja aku berteriak ketika dia menerobosku. Ohh…dia merobekku. Aku telah dirobek olehnya. Inilah yang aku inginkan. Biar mereka mengatakan aku seorang agen rahasia yang bodoh. Biar Moon menghinaku, biar John, Peter dan Nikolai mengejekku, aku tak peduli. Aku tak akan kuat menahan kerinduanku kepada pria ini. Lelaki yang sudah aku cintai sejak lama.

Sekali lagi Faiz mendorongnya. Aku tak mempedulikan rasa sakitku. Pahaku semakin kulebarkan ketika dia mencoba menarik batangnya. Dia kembali mendorongnya kali ini sedikit dipaksa hingga mentok. AAARRGGHH…bagaimana mungkin batang sebesar dan sepanjang itu bisa amblas semua di dalam kemaluanku. Ohh…Faiz…kita sudah bersatu. Aku kangen kamu.

“Aku kangen kamu Faiz,” bisikku. “Hari ini kamu telah memberikannya.”

“Tidak, engkaulah yang memberikannya kepadaku,” katanya. “Aku tak akan pernah melupakan ini De.”

“Teruskan! Teruskan Faiz!” kataku.

Aku kemudian digenjot olehnya. Rasa sakit yang sudah tak kupedulikan itu berangsur-angsur menghilang. Keperawanan yang harusnya aku jaga ini telah direnggut oleh Faiz Hendrajaya junior. Orang yang dulu aku beri ciuman pertamaku. Dia ternyata sampai sekarang masih setia kepadaku. Inilah Faiz jawaban dari email-emailmu yang tak pernah aku balas. Aku akan jujur kepadamu setelah ini. Karena tak ada cara lain. Dunia sedang dalam bahaya. Kami butuh S-Formula. Tolonglah kami Faiz. Aku berikan keperawananku kepadamu agar kamu bisa memberikanku S-Formula yang berada di dalam server data M-Tech.

Ini tindakan terbodoh yang harus aku lakukan. Tapi aku juga menikmatinya. Faizku….bencilah aku setelah ini. Aku tak akan menyesal. Entah kenapa aku menitikkan air mata. Tapi aku sembunyikan dengan memeluk Faiz. Dia terus menggenjotku. Memekku serasa menyedot-nyedot batangnya. Aku bisa mengetahui Faiz keenakan. Dia menghisap leherku kuat-kuat. Giginya menempel di kulit leherku. Aku pun makin terangsang dan ikut bergoyang. Entah apakah nanti perlakuannya itu akan membekas di leherku atau tidak. Aku tak peduli. Dia telah memberikan cupangan lembutnya kepadaku. Aku hampir sampai. Bulu kudukku merinding. Memekku makin keras mencengkram.

“Aku nyampe De, keluarin di mana?” tanyanya.

“Terserah kamu Faiz,” jawabku.

“AAaagghhhh! Dedeeee…!” dia menjerit ketika kemaluannya menyemburkan milyaran sel sperma ke rahimku. Ohhh…rasanya hangat. Ia hujamkan sedalam-dalamnya batangnya hingga aku bisa merasakan rahimku disentuh oleh ujung pionnya. Luar biasa. Aku juga orgasme. Kami berpelukan erat ketika itu. Dunia rasanya melayang. Nafasku memburu, capek sekali rasanya. Seluruh tulang-tulangku serasa ingin copot semua.

Malam itu aku tidur di pelukan Faiz hingga pagi datang. Aku bangun duluan kulihat diriku di balik selimut. Sebuah bercak darah ada di atas sprei kasurnya. Itu darahku. Darah keperawananku yang kujaga selama ini untuk Faiz. Dan sekarang aku harus jujur kepada lelaki dari masa laluku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*