Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 10

Si Rambut Merah Bab 10

BAB X

Hard Feeling

NARASI MOON

Sekolah liburan natal dan tahun baru. Dan hari ini aku diundang oleh Hiro. Dia berulang tahun. Ulang tahunnya tepat tanggal 31 Desember. Hampir saja pergantian tahun. Usianya sekarang tujuh belas tahun. Anehnya ulang tahunnya tak mengundang banyak orang. Hanya teman-temannya dan keluarganya saja. Dia mentraktir seluruh teman-temannya di sebuah kafe. Aku bisa melihat seluruh saudara-saudaranya di tempat itu.

Acaranya khas anak muda. Mungkin hanya aku sendiri yang tidak menikmatinya. Aku sudah menghabiskan dua cangkir Cappucino. Kalau aku sampai menambah satu lagi, aku bisa tidak tidur semalaman. Hiro dan Yunita tampaknya mulai dekat. Aku bisa melihat mereka duduk berdua di acara ini. Mengawasi Hiro sekarang lebih berat kerjanya. Karena selain aku harus mendapatkan cara untuk bisa mengetahui dan masuk ke gedung M-Tech. Aku juga harus melindungi dia dari para assasin yang diutus oleh Genesis. Entah tujuannya apa mereka ingin menculik Hiro.

Aku mendapatkan kabar bahwa sebentar lagi ada acara peluncuran produk terbaru dari M-Tech. Faiz Hendrajaya akan meresmikan peluncurannya tepat pada tanggal 1 Januari. Mungkin aku bisa memanfaatkan momen itu untuk masih ke gedung M-Tech. Siapa tahu dengan Hiro di sana aku lebih mudah untuk masuk.

“Kau kenapa?” tanya Hiro. Aku terkejut.

“Nggak apa-apa,” jawabku.

“Dari tadi merenung terus. Nggak berbaur,” katanya.

“Ngomong-ngomong besok M-Tech ada acara ya?” aku mengalihkan perhatian.

“Iya, mau ada peluncuran produk baru. Kamu mau ikut?” tanyanya.

“Boleh?”

“Tentu saja. Aku akan memperkenalkanmu kepada ayah dan ibuku.”

“Tak perlu repot-repot seperti itu.”

“Harus itu,” kata Hiro. Dia lalu menggandeng tanganku.

“Apa? Mau kemana?”

“Ikut aku sebentar.”

Aku digeret oleh Hiro keluar kafe sebentar. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan.

“Moon, boleh aku bicara?”

“Bicaralah!”

“Aku tak bisa mencium Yunita seperti yang kau ajarkan kemarin.”

Aku agak terkejut dengan omongannya. Kenapa dia berkata seperti itu?

“Kenapa?”

“Aku tak tahu. Rasanya Yunita bukan lagi wanita yang aku inginkan.”

“So?”

“So I…I…I’m not sure. It’s complicated to say.”

Aku tak bisa mengetahui apa yang dia bicarakan. Dia menyentuh pipiku dan mengusapnya. Eh, kenapa dia melakukan itu?

“Maafkan aku,” katanya. Dia lalu berbalik dan meninggalkanku. Apa maksudnya? “Besok datanglah ke M-Tech!”

Secara garis besar aku tak tahu apa yang dia maksudkan dengan minta maaf. Tapi besok aku sudah bisa masuk ke M-Tech.

****

NARASI HIRO

Acara ulang tahun. Yah begitu-begitu saja. Entahlah, tadi malam aku bingung. Aku kenapa mengusap pipinya Moon? Dan malam ini aku bermimpi lagi untuk ketiga kalinya. Wajah wanita berambut merah itu adalah Moon. Dan aku menggenggam erat tangannya. Aku tak tahu apakah ini mimpi buruk atau bukan. Tapi semenjak aku mengenalnya di facebook itu dia selalu hadir di dalam mimpiku.

Apakah aku menyukai Moon? Aku sendiri sudah tak yakin lagi dengan Yunita. Aku lebih dekat dengan Moon. Di kantin, di perpustakaan, di mana-mana ada dirinya. Gadis berambut merah dari Korea. Kenapa kamu selalu hadir? Kenapa wajahmu selalu terbayang?

Hari ini aku dan kedua bundaku berada di lantai satu gedung M-Tech. Ayah menginginkanku untuk hadir juga. Pers sudah menunggu di bawah dengan lampu blitz yang menari-nari mengambil momen-momen penting. Aku pun tak luput dari blitz wartawan. Entah akan ada berita apa esok hari. Sambil menemani bundaku dan Bunda Vira aku menunggu Moon. Katanya dia akan datang hari ini.

“Kamu menunggu siapa?” tanya Bunda Vira.

“Menunggu teman,” jawabku.

“Teman apa teman?” goda ibuku.

“Ah, ibu ini. Teman beneran,” kataku.

“Teman yang sudah mengubah anak ibu jadi seperti ini?” lagi-lagi aku digoda ibuku.

“Oh, sama gebetannya ya dek?” Bunda Vira malah ikutan.

“Sudahlah, aku nggak mau malu di hadapan kalian ama ayah. Iya, dia yang bikin aku seperti ini sekarang. Tapi bukan pacar, OK?” kataku kepada mereka berdua.

Ibuku dan Bunda Vira tertawa. Tak berapa lama kemudian datang seorang gadis berambut hitam, berwajah oriental, memakai swaeter coklat dengan rok selutut. Moon? Rambutnya diwarna hitam?

“Moon?” sapaku.

Dia membungkukkan badan kepada ibuku dan Bunda Vira.

“Oh, ini ya?” ibuku melirikku dengan tatapan aneh.

Aku hanya nyengir.

“Boleh juga seleranya, dek,” kata bunda Vira. Aduh, mereka menggoda aku lagi.

“Nice to meet you,” kata Moon.

“Bukan orang Indonesia?” tanya ibuku.

“I’m from South Korea, my name is Jung Ji Moon,” jawab Moon.

“I’m his mother,” kata ibuku sambil cipika-cipiki dengan Moon.

“I’m his mother too, he called me Bunda Vira,” kata Bunda Vira melakukan hal yang sama.

“You are big family I guess,” kata Moon.

“Yes, we are,” kataku.

Aku melihat Ayah mendatangi kami. Dia baru turun dari lift dan langsung menghampiri kami.

“Ayah!?” sapaku.

“Siapa?” tanyanya sambil menoleh ke arah Moon

“Oh, kenalkan ayah, temanku Jung Ji Moon,” kata Hiro. “Please interduce this is my father.”

“Bukan orang Indonesia?” tanya ayah

“Bukan, dia orang Korea,” jawabku

“Oh, pacar?” tanyanya lagi.

“Bbb..Bukan ayah bukan. Cuma teman. Kebetulan ia ada di Indo, jadi aku ajak dia ke sini.”

“Glad to meet you, sir,” kata Moon. Dia menampakkan senyumnya kepada ayahku.

Bahu ayah dipukul oleh bunda. “Nda, jangan langsung main tonjok aja ama Hiro, barangkali masih pedekate.”

“Biarin dek, dia aja waktu nembak aku langsung nyosor koq,” gurau bunda Vira.

Kedua bundaku tertawa bersama. Moon sepertinya tak mengerti apa yang dibicarakan oleh mereka berdua.

“Yes, indeed,” gumam ayah. “So Moon, take your time. Take care Hiro. He is stubborn kid.”

“Oh…come on Dad,” kataku.

Ayah mengedipkan matanya kepadaku. Moon membungkukkan badan. Ayah kemudian menuju ke podium untuk mempromosikan produk M-Tech terbaru dengan disambut tepukan tangan yang membahana.

“Aku jadi penasaran seperti apa sih dalamnya M-Tech itu?” gumam Moon.

“Kamu mau lihat?” tanyaku.

“Boleh?”

“Ayo!” ajakku.

Di saat ayah sedang berpidato aku pun mengajak Moon untuk jalan-jalan ke dalam gedung. Aku mengambil dua buah tag-name yang isinya kartu untuk membuka beberapa pintu di gedung ini. Sebab tidak sembarangan orang bisa masuk ke tempat ini. Petugas sekuriti sudah mengenal aku tentunya. Jadi mereka memberikan aku kartu khusus juga kepada Moon.

Aku memberitahu Moon tentang gedung ini. Berjalan-jalan dari ruang staf, ruang produksi sampai kemudian aku menunjukkan sebuah ruangan di lantai bawah tanah. Tapi aku tak masuk ke sana. Moon memang sangat tertarik. Dia bertanya banyak hal. Aku hanya bisa menjelaskan semampuku saja.

“Ruangan apa itu?” tanyanya.

“Ini ruangan server. Seluruh data ada di sini. Pintunya lima lapis. Tak bisa dibuka oleh sembarangan orang kecuali ayahku, aku dan Mas Faiz,” kataku.

“Mas Faiz? Kakak? Setahuku saudaramu hanya tujuh bersaudara,” kata Moon.

“Tidak, ada satu saudaraku lagi. Anak dari bunda Putri. Memang tak pernah disebut. Sebab ayah sudah pisah dengan beliau,” kataku.

“Oh…I see,” tampak wajah Moon sedikit kecewa.

“Kenapa?” tanyaku.

“Tak apa-apa,” jawabnya.

“Kalau masuk ke sana harus pake ini?” tanyanya.

“Nggak. Ruangan ini hanya dibuka pada saat ayah membutuhkannya. Siapapun yang sudah masuk tak bisa keluar lagi. Dan untuk membukanya hanya aku dan Mas Faiz yang bisa,” jelasku.

“Hanya kalian?”

“Iya, karena hanya aku yang tahu kuncinya. Ayah menggunakan sebuah algoritma khusus untuk mengunci pintu ini. Dan hanya dengan aku dan Mas Faiz sajalah yang bisa membukanya,” aku tersenyum kepada Moon. “Canggih kan?”

“Seperti kunci DNA?”

“Apa itu?”

“Oh tidak, lupakan saja.”

“Iya, kalau dikatakan kunci DNA. Algoritma itu adalah DNA-ku. Jadi ketika aku ingin membuka pintu alat itu akan memeriksa DNA-ku,” kataku sambil menunjuk ke sebuah benda seperti touchpad. “Setelah DNA-ku dicheck maka akan ada beberapa persoalan angka-angka. Yang harus kami kerjakan dalam waktu kurang dari dua puluh detik. Kalau aku berhasil, maka aku bisa membuka kuncinya. Hebat kan?”

“Hebat sekali. Ayahmu yang merancang ini semua?” tanya Moon.

“Bukan, dulu ada seorang yang bekerja di tempat ini. Namanya Dr. Edward, tapi beliau sudah pergi,” jawabku.

“Baiklah, aku sepertinya ada keperluan setelah ini. Kalau kau tak keberatan….,” kata Moon.

“Oh iya, silakan! Aku antarkan kamu ke luar,” kataku.

NARASI MOON

Aku menggebrak meja. Kami berada di ruang pertemuan. Devita tampak memijat-mijat kepalanya. Peter dan John juga ikut merasa pusing. Hanya Nikolai saja yang tak merasa.

“Aku tak tahu kalau ruangan itu punya sekuriti secanggih itu,” kataku dengan bahasa Indonesia yang sudah mulai aku kuasai.

“Damn it, bagaimana kita bisa masuk ke sana?” Devita juga pusing.

“What about explosive?” tanya Nikolai.

“Do you want our country had a war?” tanya Devita.

“And not just that. We need Faiz Hendrajaya Junior to open that damn door,” kataku.

“We only work with one name, Hiro. And now it’s more complicated with Faiz Junior,” kata Devita.

“Do we had a picture of him?” tanyaku.

Devita mencoba mencari-cari datanya. Dia kuliah di Oxford pasti ada fotonya. Dan saat Devita melihat foto itu dia bergumam, “Oh My God.”

“What?” tanyaku. Di layar monitor ada sebuah foto seorang pemuda. Cukup tampan. Atau lebih tepatnya sangat mirip dengan Faiz Hendrajaya yang aku temui kemarin.

“Tell me this is bullshit,” kata Devita.

“Why?”

“I know this person,” kata Devita.

“What??” semua mata menoleh ke arah Devita.

“It’s a long story,” katanya.

“Okay, so here is this. I got Hiro, you got him. And we met to open that door. Get the S-Formula and finish this,” kataku.

“But, I never meet him,” kata Devita.

“So??”

Devita tahu tak akan mungkin bisa berdebat lagi. Kalau dia memang tahu Faiz Junior, maka itu adalah bagiannya. Karena aku sudah terlalu stress hanya untuk mengurusi Hiro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*