Home » Cerita Seks Umum » SI Rambut Merah Bab 9

SI Rambut Merah Bab 9

BAB IX

Why?

“Nit, aku punya tiket buat nonton bioskop, seharusnya hari ini mau ngajak Joshua. Kamu mau? mubadzir kalau dibuang,” katanya kepada Yunita.

“Oke, boleh,” jawab Yunita.

“Siipp, nanti sore? Kujemput?” tanya Hiro.

“Gak usah, kita ketemuan aja di mall,” jawab Yunita.

“Baiklah,” kata Hiro.

Ya, bagus Hiro. Kamu bisa ngajak Yunita kencan sekarang. Moga saja sukses. Setelah Yunita pergi Hiro seperti anak kecil melompat-lompat sambil berposes YES. Aku yang mengamati dari jauh hanya memberikan jempol kepadanya ketika dia melihatku. Dia membungkuk kepadaku sebagai tanda terima kasih. Tapi,…dia belum aku ajarkan satu hal. Ah, kurasa tak apa-apa.

Aku hari ini mencoba mengikuti Hiro. Dan entah kenapa aku melakukannya. Dia berangkat memakai taksi untuk sampai di mall. Aku bersama Devita di mobil, mengikuti Hiro sampai di mall.

“Ok, dia sudah masuk ke mall,” kata Devita.

“Aku keluar. Tetap berkomunikasi,” kataku.

Aku segera berlari-lari kecil mengikuti Hiro dari belakang. Di sebuah stand aksesoris, Yunita tampak sudah menunggu. Hiro lalu menyapanya dan mereka berjalan beriringan. Hiro lalu mengambil inisiatif untuk memegang tangan Yunita. Bagus Hiro, seperti itu. Yunita tak menolak. Mereka ngobrol banyak hari itu, aku menjaga jarak paling tidak jangan sampai ketahuan.

Namun konsentrasiku terpecah. Ada sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Ada paling tidak dua sampai lima orang mengamati Hiro dari berbagai arah. Mereka memakai kemeja hitam dan jas berwarna gelap. Semua matanya menatap Hiro. Assasins!

“Dev, we have a trouble. Assasins!” kataku.

“What?” Devita terkejut. “Are you fucking serious?”

“I’m sure of it,” kataku. Aku mengambil pistol Glock dari dalam tas.

“Moon, be sure not to kill them. You don’t wanna make a mess,” kata Devita. Aku tahu itu. Kalau sampai aku membunuh mereka satu mall bisa kacau. Aku cuma pakai peluru bius saja. Aku tukar magazineku dengan peluru bius. Dan aku juga memasang silencer ke pistolku agar tak bersuara.

“I know, where is the others?”

“They are on the way.”

Aku sedapat mungkin jangan sampai membuat penghuni mall panik. Pertama kali yang harus aku lumpuhkan adalah yang paling dekat denganku. Aku berjalan dengan santai. Tanganku kutaruh di dalam tas untuk menyembunyikan senjataku. Sang Assasin itu tampak sedikit menggeser bahunya ke belakang. Pertanda dia membawa senjata di sana, tersembunyi di balik jas abu-abunya. Dia sendirian. Aku berjalan agak cepat dan langsung menembaknya. Dia agak terkejut. Aku seperti pengunjung mall biasa. Begitu dia akan ambruk aku langsung mengaturnya agar terlihat ia seperti tidur. Dengan begini biar nanti tim penjemput yang akan membereskan mereka.

“One down,” kataku. “Four to go.”

Aku menuruni tangga berjalan. Sedapat mungkin jangan sampai Hiro melihatku. Dia dan Yunita sudah menuju ke Studio 21. Aku mengambil sebuah topi dari sebuah stand untuk menutupi wajahku. Aku kemudian mengacungkan pistolku ke ara dua orang yang berjalan di belakang Hiro. Mereka berdua sedikit terkejut tapi mereka tak sempat berbuat apa-apa ketika kedua peluruku menancap di tubuh mereka.

Aku langsung menangkap salah satu dari mereka dan menggeretnya ke pinggir, bersandar pada sebuah pilar. Dan yang satunya kubiarkan ambruk. Aku kemudian berlari menghampiri assasin yang ambruk itu langsung berteriak, “Help! Help!”

Seketika itu orang-orang berkerumun ke arah orang itu. Ketika banyak orang sudah berkumpul mengerumuni assasin yang ambruk itu, aku lalu berlari menuju ke arah Hiro dan Yunita.

“Dev, two to go,” kataku.

“Peter dan John has came, Nikolai will get the package,” kata Devita.

Aku melihat Peter dan John. Mereka berlari menuju ke arah Hiro dan Yunita. Aku kemudian berlari memutar menghindari Hiro. Dari arah depan aku lihat kedua assasin akan mengampiri mereka. Aku berpapasan dengan Peter dan John. Ku arahkan pistolku ke kedua assasin itu, dua buah peluru bius menancap di tubuh mereka. Peter dan John langsung menangkap mereka. Aku menyimpan pistolku dan bersamaan dengan itu aku menabrak Hiro. BRUK! Aku terjatuh. Hiro lalu menangkapku. Untuk sesaat mataku beradu dengan Hiro. Cara memandangku…Suni….Oh tidak.

“Moon?!” Hiro mengetahui diriku.

“Oh, hai,” sapaku. Aku sedikit gugup.

“Ngapain di sini?” tanyaku. Aku melirik ke arah Peter dan John yang sudah menyeret kedua assasin itu hingga tak terlihat lagi.

“Oh, hanya jalan-jalan saja,” jawabku.

“Moon, murid baru dari Korea?” tanya Yunita.

“Hai,” sapaku.

“Hai juga,” kata Yunita.

“Kalian mau nonton?” tanyaku.

“Iya, aku diajak Hiro,” jawab Yunita.

“Ok, aku harus pergi,” kataku.

“Hati-hati,” kata Hiro.

Aku segera berlari meninggalkan mereka. Fuck, Fuck! fuck! Kenapa? Kenapa aku melihat Suni di dalam matanya. Kenapa? Kenapa?

Para assasin itu kami tangkap. Tim pembersih yang terdiri dari anggota BIN yang lain telah mengumpulkan mereka di sebuah truk trailer yang berada di luar mall. Trailer itu memang sengaja digunakan untuk keperluan seperti ini. Mungkin orang-orang tidak begitu mengurusi tentang sebuah truk trailer yang berputar-putar saja di sekitar jala raya mall.

Mereka semua sudah sadar ketika aku menyusul ke truk trailer itu. Nikolai sudah menyetrum mereka hingga mereka sadar.

“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Devita.

Mereka tersenyum, tak menjawab. Nikolai kembali menyetrum mereka. Percuma saja, mereka memang ingin mati.

“Just kill them all,” kataku.

“But we don’t know why they’re targeting Hiro,” kata Devita.

“Tell us, or you will get torture from me,” Nikolai.

“Just do it, even you kill me. I wont tell,” kata salah seorang dari mereka.

Aku mengambil pistol dan aku tembak kepala mereka satu per satu. Devita berusaha mencegahku. Hingga aku menyisakan satu orang.

“Moon, what the hell are you doing?” tanya Devita.

“They are useless. They from Black Wolf Assasins,” kataku.

“How do you know?” tanya Peter.

Aku kemudian menunjukkan lengan orang yang mati. Ada tanda serigala di sana. Peter lalu menghela nafas.

“Yeah, she’s right. Kill him!” kata Peter.

“Why?” tanya Devita.

“Because they have a principal, get the job done or die. That’s why,” kataku.

“No, I’m not one of them. I’m just new,” kata satu orang yang masih hidup. Mata kami menoleh ke satu orang ini.

“So, tell us. Who hired you?” tanyaku.

Satu assasin ini kemudian menceritakan bahwa dia disuruh oleh seorang yang mengaku bernama Lucifer untuk menculik Hiro. Untuk alasan apa menculiknya, dia tak tahu. Yang jelas mereka ingin menculik Hiro. Genesis, apa rencana kalian sebenarnya?

“Kalau begitu, kamu harus selalu dekat dengan Hiro sekarang. Dia satu-satunya aset kita untuk bisa masuk ke M-Tech,” kata Devita.

Aku menarik nafas panjang. Masih panjang perjalananku untuk bisa menyelesaikan misi ini. Aku keluar dari trailer dan kembali mengawasi Hiro. Dia masih di sana bersama Yunita.

NARASI HIRO

Pelajaran yang diberikan Moon mulai aku terapkan semuanya. Paling tidak Yunita mau jalan denganku. Kami nikmati waktu bersama. Tadi sempat ketemuan sama Moon. Sejujurnya entah kenapa saat mataku bertemu dengan Moon ada sesuatu. Semenjak itulah aku jadi kepikiran terus dengannya. Aku bahkan sampai melamun sendiri. Tidak konsen ketika Yunita bicara denganku.

“Kamu tak apa-apa? Sakit?” tanyanya.

“Oh, tidak,” kataku.

Kenapa aku malah kepikiran Moon sih? Hei, sadar kamu sedang jalan ama Yunita. Bukankah ini yang kamu harapkan? Bisa jalan bersama Yunita? Kenapa kamu sekarang malah mikirin Moon? Aku bingung. Semua ini. Cara penampilanku, sikapku semuanya dari dia.

“Kamu berubah ya,” kata Yunita.

“Berubah gimana?”

“Iyalah, berubah. Sekarang lebih menarik. Berbeda pokoknya.”

“Makasih.”

Kami tadi pulang dengan taksi bersama-sama. Aku mengantarkannya sampai di jalan dekat dengan rumah.

“Sudah sini aja,” kata Yunita. Kami berhenti di sebuah rumah. Cukup besar rumahnya. Pagarnya dicat berwarna hitam dan rumahnya ada tiga lantai. Bangunannya artistik khas eropa. Dia keluarga kaya rupanya.

“Rumahmu besar juga ya,” kataku.

“Nggak sebesar rumahmu pasti. Keluarga orang terkaya di Indonesia masa’ rumahnya seperti aku? Aku mah kecil,” katanya.

“Hehehe,” aku nyengir.

“Kapan-kapan main saja ke sini. Boleh koq,” katanya.

“Sungguh?”

Ia mengangguk. “Kan emang biasanya cowok yang pergi ke rumah cewek.”

Aku mengangguk. “Yah, kapan-kapan.”

“Makasih ya, untuk hari ini. Sudah nraktir aku. Sampai besok.”

“Iya, sampai besok.”

Yunita masih berdiri untuk beberapa saat. Kemudian dia tersenyum lalu berbalik masuk ke rumahnya. Aku menghela nafas. Entah kenapa kencan yang harusnya aku nikmati tak ada rasanya sama sekali. Dan aku masih teringat dengan Moon. Dengan lesu aku pun pulang. Sengaja aku jalan kaki karena ternyata rumahnya tak begitu jauh dengan rumahku. Walaupun tetap saja lama kalau jalan.

Aku hampir sampai rumahku, hingga kemudian aku bertemu dengan Moon. Kenapa dia ada di sini?? Moon berdiri di sana.

“Kau bodoh! You’re so stupid!” katanya.

“Kenapa?”

“Kenapa tadi kamu biarkan dia menunggu?”

Aku tak tahu apa yang dia bicarakan.

“Seharusnya ketika berpisah kamu lakukan ini!” tiba-tiba Moon menuju ke arahku. Kemudian ia memegang bahuku. Perlahan-lahan wajahnya mendekat ke wajahku. Dia mau apa? Tanpa dikomando dia sudah menciumku. Hei…whaaaatt?? Bibirnya serasa lembut. Bau nafasnya sekarang masuk ke mulutku. Ia menghisap bibirku. Moon, kamu kenapa menciumku? Kenapa kamu menciumku? Ini adalah ciuman pertamaku, kenapa aku harus memberikannya kepadamu? Aku kemudian reflek melingkarkan tanganku ke pinggangnya.

Entah berapa lama dia menciumku. Saat dia melepaskan ciumannya. Tampak air mata mengalir di pipinya. Kenapa dia menangis?

Dia lalu pergi sambil berlari. “Tunggu dulu Moon! Jung Ji Moon!”

NARASI MOON

Kenapa? Kenapa? Kenapa ada Suni di sana? Cara dia menciumku. Sama seperti Suni. Kenapa? Aku berlari hingga Hiro tidak melihatku lagi. Aku menangis. Aku teringat Suni. Sebuah mobil menghampiriku. Devita yang menyetir.

“Kau tak apa-apa?” tanyanya.

Aku lalu jongok dan menangis. Menutupi wajahku dengan lenganku. Devita keluar dari mobil. Dia menghampiriku. Aku lalu berdiri dan memeluknya.

“Kenapa aku bisa melihat Suni di dirinya? Kenapa?” aku terisak dalam pelukan Devita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*