Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 8

Si Rambut Merah Bab 8

BAB VIII

Kejutan

Hari ini aku naik sepeda ke sekolah. Hampir satu sekolahan heboh melihatku naik sepeda. Kenapa? Ya karena sekarang aku nggak dianter sopir lagi. Nggak keluargaku, nggak orang lain, semuanya heboh. Dan melihat penampilanku yang nggak seperti biasanya hari ini, mereka juga sedikit terkejut. Terutama Joshua.

“Kamu kesambet ya?” tanya Joshua.

“Kenapa?” tanyaku.

“Lain daripada kemaren,” jawabnya.

Kami pun berpisah di kelas masing-masing. Suasana kelas sedikit aneh juga. Mereka memperhatikan aku tak seperti biasanya. Aku sekarang pakai parfum cowok, rambutnya rapi, bajunya rapi. Niken pun agak terkejut melihatku.

“Kamu kesambet ya?” tanyanya.

“AH, kalian ini. Nggak Joshua nggak kamu ngomongnya sama,” jawabku.

“Hihihihi, habis kamu ini koq ya aneh banget, tiba-tiba berubah gitu,” katanya.

“Berubah jadi jelek?” tanyaku.

“Justru gini yang cewek demen. Dari dulu kek,” kata Niken. “Aku yakin pasti hari ini Yunita bakal negur lo.”

“Yeah, I wish,” kataku.

Jam pelajaran pun dimulai. Guru walikelas masuk. Bu Ratna adalah walikelasku sekaligus guru pelajaran Bahasa Indonesia.

“Anak-anak sebelum pelajaran dimulai ada murid baru. Moon, Come in!” kata beliau. Eit, tunggu dulu, Moon? Nggak salah denger kan?

Saat itulah masuk seorang cewek. Wajahnya oriental, rambutnya merah, tingginya…seaku sih. Dia nggak salah lagi. Mimpi apa aku semalem? Eh, mimpiin dia. Iya, bener mimpiin dia. Koq dia bisa ada di mimpiku?? Dia ini….

“Namanya Jung Ji Moon, dari Korea. Karena ayahnya kerja di konsulat, makanya dia sekolah di sini sekarang,” kata Bu Ratna.

“Heokseo, Selamat pagi,” katanya sambil membungkuk. Alamaaaak…lebih cute aslinya daripada di facebook.

“Pagiii…,” sapa seluruh murid.

“Moon, duduk di sana ya, di sebelah Hiro,” kata Bu Ratna.

Moon melambai ke aku sambil tersenyum. Aku membalasnya. Semua mata langsung menoleh ke arahku.

“Lo kenal dia?” tanya Arief teman di sebelahku.

Aku tak menjawabnya. Moon melangkah menuju ke bangku di sebelahku yang kosong. Aku masih tak percaya. Dia beneran Moon.

“Hai, apa kabar?” sapa Moon.

“B..baik,” jawabku.

“Ok anak-anak, kita lanjutkan pelajarannya,” kata Bu Ratna mengalihkan perhatian. Semua murid langsung menghadap ke papan. Sebagian masih menoleh kepadaku nggak percaya. Terutama Niken.

Singkat cerita jam istirahat tiba. Langsung si Moon dikerumuni anak-anak satu kelas. Barang baru maklum. Apalagi dari Korea. Bahasa Indonesia Moon agak lancar, walaupun ada beberapa kata yang dia tidak faham.

“Moon, kenal sama Hiro?” tanya Niken.

“Iya sih, teman facebook,” jawabnya.

“OOOOOOOoooo….,” seluruh orang kompak banget bilang O.

“Udah ah, aku mau keluar dulu,” kataku.

Aku segera keluar dari kelas. Sumpek juga di dalam sana. Semuanya ngerubuti Moon, seperti semut. Tapi emang di manis sih. Aku berjalan-jalan ke perpustakaan. Seperti biasa. Sampai kemudian pundakku disentuh. Aku menoleh dan kudapati Moon sudah berjalan di sebelahku.

“Hai?” sapanya.

“Hai juga,” sapaku.

Aku masih tak percaya dia beneran Moon. Well, kalau menurutku dia lebih dewasa daripada foto dia di facebook. Apa bener dia usianya 17 tahun? Mataku mengarah ke boobsnya. Masa’ sih? Lalu aku mengalihkan pandangan ke yang lain.

“Mau kemana?” tanyanya.

“Mau ke perpustakaan,” jawabku.

“Makasih ya,” katanya.

“Makasih untuk?”

“Makasih aja.”

Apaan sih? Dia tersenyum kepadaku. Senyumnya cukup manis.

“Boleh ikut ke perpustakaan? Hmmm…please show me all about this school,” ujarnya.

“Ok, siapa takut,” jawabku.

Maka, jam istirahat itu aku berkeliling sekolah. Aku ngasih tahu ruangan-ruangannya. Di mana kantin, di mana gym, kelas-kelas dan seterusnya. Kami juga banyak ngobrol. Ada perasaan aneh waktu aku jalan ama dia. Nyaman sih iya. Dan entah bagaimana aku dan Moon lebih lancar berkomunikasi. Saat aku jalan itulah aku berpapasan dengan Yunita.

“Hai Nit?” sapaku.

“Hai,” jawabnya. Dia melihat Moon, “Murid baru?”

“Iya, aku ngajak dia lihat-lihat sekolah ini. Kenalin namanya Jung Ji Moon, baru masuk hari ini,” kataku.

Moon membungkuk sambil menyalami Yunita.

“Yunita,” kata Yunita memperkenalkan diri.

“Jung Ji Moon, just call me Moon,” kata Moon.

“Sampai nanti ya,” kata Yunita.

“OK,” kataku.

Setelah Yunita pergi menarik nafas dalam-dalam.

“Itu …perempuan yang kamu suka?” tanya Moon. Tahu aja dia.

“Actually yes,” jawabku. “How did you know?”

“Because, the way you are looking at her it’s different,” katanya.

Kadang cewek lebih sensitif daripada cowok ya? Kalau Moon saja tahu cara aku memandang Yunita beda, tapi kenapa Yunita nggak ada rasa?

“Begini saja, Hiro. Aku akan membantumu biar Yunita suka sama kamu,” kata Moon.

“Hah? But how? I mean…why?”

“We are friends don’t we? Trust me,” Moon mengedipkan matanya kepadaku. Aduuuuh…cute banget. Sayang dia bukan cewekku.

****

NARASI MOON

Aku dan Hiro mulai dekat. Dia memandangku benar-benar sebagai teman. Sering aku nasehati bagaimana cara mendekati cewek. Bahasa Indonesiaku sudah mulai lancar. Walaupun masih ada beberapa kata yang aku tidak tahu. Terutama kalau kata-kata itu dicampur dengan bahasa daerah. Misiku sudah mendekati kata berhasil. Kalau sudah sedekat ini, aku tinggal tanya bagaimana keadaan gedung M-Tech.

Tapi yang bikin aku eneg adalah lockerku penuh surat cinta. Baru seminggu di sini sudah jadi idola ternyata. Pesonaku apakah sedahsyat itu? Hihihihi

Aku punguti amplop warna-warni itu dan satu per satu aku masukkan ke dalam tas plastik. Aku mau bakar semuanya. Gila apa masa’ gadis seperti aku harus pacaran sama anak SMA. Yang benar saja. Hiro waktu itu kebetulan mau mengambil sesuatu di locker. Dia kaget melihatku membawa tas plastik penuh amplop. Aku mengunci lockerku.

“Apaan tu?” tanyanya.

“Teman-temanmu yang kepengen mendapatkan cinta dari seorang Moon,” jawabku.

Hiro tertawa terkekeh-kekeh. “Baru seminggu aja sudah banyak yang naksir kamu. Pesonamu emang dahsyat.”

Agak sombong dikit sih. Aku berjalan meninggalkan Hiro. Sesampainya di depan tong sampah aku masukkan plastik berisi surat-surat cinta itu. Sang tukang kebun tampak keheranan melihatku membawa plastik berisi kertas-kertas. Karena aku lihat tukang kebun itu merokok aku minta korek apinya. Dia nurut saja. Lalu aku bakar semua isi tong sampah itu.

Nggak nyangka saja setelah bertahun-tahun meninggalkan SMA, aku ketemu lagi dengan masa-masa ini. Dan kini harus ngurusi orang bernama Hiro. Hanya saja aku masih belum bisa bertanya kepadanya tentang M-Tech. Belum saatnya.Lucunya adalah sekarang ini aku jadi orang yang ngajari dia untuk mendekati cewek. Dia tergila-gila kepada seorang cewek namanya Yunita.

Jam pelajaran telah usai. Semua murid pulang. Jangan sampai Hiro tahu di mana aku tinggal, bisa kacau semuanya. Aku telah mempersiapkan sesuatu untuknya. Alat yang disebut Weaves Geometric Survilance. Aku pasang alat itu di sebuah boneka Minions kecil. Aku berikan itu ke Hiro.

“Buatmu,” kataku.

Hiro menerimanya, “Kamu suka minion?”

Aku mengangguk.

“Wah, terima kasih. I’ll treasure it,” kata Hiro. Dia langsung memasukkannya ke dalam sakunya.

“Kamu ada acara hari ini?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya.

“Aku mau ngajari kamu cara ngajak cewek kencan,” kataku. “Lihat kamu nggak bisa apa-apa bikin aku…ehhmm…”

“OK, to be honest. I’m really suck in this,” katanya.

“Fine then. To your house?”

“NO!” dia langsung menolak.

“Tempat lain aja,” kata dia sambil menyatukan telapak tangannya.

“Ok, di kafe,” kataku.

“Ah, aku tahu kafe yang cocok. Kafe Berontoseno,” katanya.

****

Jadilah sore itu kami berada di kafe Berontoseno. Lagi-lagi aku harus memakai baju anak remaja. Pakai jeans, kaos, jaket jins, sepatu kets. Euughh…Dan harus kuakui Hiro benar-benar kerja keras. Dia merubah penampilannya. Dan ketika kami bertemu dia benar-benar wangi. Parfumnya ini….kenapa parfumnya sama seperti Suni. Oh tidak, aku jadi teringat kepadanya.

“Hai?! Sudah lama” sapanya.

“Baru saja,” kataku.

Tak banyak yang aku ajarkan kepada Hiro sebenarnya. Aku justru mengajarkan kepada dia bagaimana cara Suni memperlakukanku. Bagaimana cara dia berbicara kepadaku, cara dia memandangku, cara dia makan, cara dia berjalan. Aku bukan orang yang tahu bagaimana seorang pria yang ideal bagi para wanita. Tapi aku sudah menganggap Suni adalah seorang cowok yang paling ideal bagiku. Dan ini adalah kesalahan fatal bagiku.

Setiap sore, aku dan Hiro bertemu di kafe. Dia benar-benar melakukan apa yang aku ajarkan. Dan dia dari hari-ke-hari makin mirip Suni. Apa yang sudah aku lakukan? Aku seharusnya tidak boleh melakukan ini. Sekarang seluruh sifat-sifat Suni ada pada diri Hiro. Aku tak mau melakukannya lagi. Tapi ini adalah tugas negara.

“Aku punya tiket buat nonton bioskop, seharusnya hari ini mau ngajak Joshua. Kamu mau? mubadzir kalau dibuang,” katanya.

“Boleh,” kataku.

“OK, jadi begitu ya caranya?” katanya. Eh?? Dia tadi cuma akting?

“Aku kira tadi sungguhan,” kataku.

“Hehehehe, kan kamu sendiri yang ngajarin caranya ngajak cewek. Gimana sih?” gerutunya.

“Oh iya, iya. Coba saja ke Yunita. Dia pati mau,” kataku.

Hiro terdiam. Dia memandang keluar. Hujan bulan Desember. Sebentar lagi liburan Natal dan Tahun Baru. Aku pandangi wajah Hiro. Bayang-bayang Suni mulai tampak di wajahnya. Sikapnya, cara berjalannya kenapa harus Suni? Aku bodoh, bodoh. Aku segera beranjak. Aku tak mau terus-terusan di sini. Kepalaku bisa meledak.

“Moon, mau kemana?” tanyanya.

“Aku mau pulang. Permisi,” kataku.

“Tapi hujan!”

Aku tak peduli. Di bawah guyuran hujan aku pun berlari meninggalkan kafe itu. Suni…aku sangat merindukanmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*