Home » Cerita Seks Umum » SI Rambut Merah Bab 6

SI Rambut Merah Bab 6

BAB VI

The Prince

Kembali ke masa sekarang. Itulah ceritaku dengan Suni. Cinta pertamaku. Setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan lelaki seperti Suni. Sama sekali tidak pernah ada. Sekarang aku berada di Indonesia. Dan aku punya misi penting untuk mendapatkan S-Formula. Sayangnya jejak terakhir adalah benda itu berada di M-Tech Building. Besoknya setelah aku istirahat, aku bertemu dengan keempat agen lainnya. Kami semua melakukan rapat.

“Ini tidak mungkin, bagaimana bisa benda sepenting S-Formula itu ada di dalam M-Tech Building?? Ini sama sekali tidak masuk akal,” kata Peter.

“Bisa saja bukan?” kata John. “Terlebih gedung ini diklaim punya sekuriti yang paling sulit ditembus. Di dalamnya terdapat penyimpanan data. Mulai Inggris, Amerika, Rusia, China semuanya menyimpan data penting mereka di sini. Dengan alasan, siapapun yang sudah masuk ke sana tak ada yang bisa keluar.”

“Untuk bisa mendapatkan S-Formula, kita harus tahu bagaimana bentuknya. Sebab selama ini hanya para petinggi M-Tech saja yang tahu bagaimana tempat penyimpanannya. Setiap ilmuwan dan pekerja yang ada di sana tidak pernah menceritakan atau tutup mulut,” kata Devita.

“Apa perlu kita terobos?” tanya Nikolai.

“Itu bisa mengakibatkan perang dunia Nik!” kata John.

“Jadi?” tanya Peter.

“Kita pakai cara halus,” kata Devita sambil menoleh ke arahku.

“Aku lagi?” tanyaku.

“Kau sangat ahli dalam hal ini bukan Moon? Tenang saja aku akan membantumu,” kata Devita. “Aku yang lebih tahu tentang Indonesia.”

“Sebentar, lalu siapa target kita?” tanya Nikolai.

“Kalau bisa, kita jangan membunuhnya. Tentunya kita harus mendekati seorang pangeran dari kerajaan Hendrajaya Group. Namanya Hiro Hendrajaya,” kata Devita.

“Kenapa tak boleh membunuhnya?” tanyaku.

“Sabar Moon, dia ini orang baik-baik. Aku yakin bahkan dia tidak tahu kalau di dalam M-Tech ada sesuatu yang bisa menghancurkan dunia,” kata Devita menenangkanku.

Aku pun sedikit tenang. Aku memang berprinsip selama dia orang baik aku tak akan membunuhnya. Devita kemudian menampilkan sesuatu di layar meja. Sebuah wajah terpampang di sana. Dialah wajah yang akan mengisi hari-hariku. Seseorang yang akan menjadi pangeranku, yang akan mendampingiku untuk selama-lamanya. Yang akan mengubahku cara memandang dunia. Hiro Hendrajaya.

NARASI HIRO

“Aaachuuuuu!” aku bersin. Apa ini efek musim penghujan??

Namaku Hiro Hendrajaya. Aku anak dari konglomerat Indonesia sekaligus orang terkaya se-Asia Faiz Hendrajaya. Aku anak pertama dan ngomong-ngomong soal anak pertama, aku bukan anak pertama sih sebenarnya. Tapi kalau dikatakan anak pertama dari istri yang sah, maka itu aku. Ayahku seorang pekerja keras. Beliau menciptakan banyak paten terhadap peralatan elektronik, semisal ponsel, ataupun software dan aplikasi mobile.

Dia pernah mendapat predikat Man of The Year dari majalah TIMES. Dan tak hanya itu saja, sejak dulu beliau sudah terkenal, sejak muda tentunya. Aku pernah iseng mencari-cari berita tentang ayah di internet. Ternyata beliau cukup terkenal. Bersamaan juga dengan ibuku Iskha Kusumaningrum. Beliau dulunya adalah seorang musisi ternama. Bahkan sampai sekarang namanya masih diingat orang. Lagu-lagunya banyak orang yang suka dan hafal. Dia menjadi legenda.

Ayahku punya dua orang istri. Yang pertama adalah ibuku. Yang kedua adalah bunda Vira. Aku mempunyai tujuh saudara. Dari ibuku aku punya adik Rara, Mark dan Lusi. Dari bunda Vira aku punya adik Joshua, Mike dan Cici. Well, satu lagi yang belum aku sebut. Yaitu Faiz junior. Dia anak dari hubungan ayah dengan bunda Putri. Tapi mereka tak menikah walaupun masih kerabat dekat. Aku tak tahu alasannya kenapa. Keluargaku juga tak pernah cerita. Tapi sepertinya hubungan ayah dan Bunda Putri sangat dekat. Kadan mereka berjumpa ngobrol lama sekali. Aneh juga sih bunda-bundaku tak cemburu ketika mereka bertemu. Entah apa yang terjadi pada masa lalu mereka, tapi sepertinya kehidupan mereka sekarang sangat damai.

Aku sendiri berperawakan sedang. Rambutku dipotong cepak, walaupun ibuku tak suka dengan penampilanku, tapi aku suka koq. Ibuku selalu memanjakan aku. Walaupun aku sudah segedhe ini selalu beliau bertanya kepadaku, sudah makan? Sudah belajar? Ada yang ketinggalan? Hhh….rasanya kalau sudah ditanyain begitu serasa masih kecil.

Aku sebenarnya ingin seperti Mas Faiz, dia mandiri. Berbeda denganku. Sekarang kuliah di Oxford. Sebentar lagi ulang tahunku ke-17. Aku tak tahu apakah dia akan datang atau tidak. Tahu tak mungkinlah dia datang, kuliahnya sendiri di Oxford gitu loh.

Sebagai anak orang terkaya, urusan antar jemput yaahh….tahu sendiri. Bunda selalu memanjakan aku, pakai sopir. Ketika orang-orang ribut dengan tiga pedal atau dua pedal, aku tak perlu meributkannya, cukup sopirku saja yang ribut. Gila apa? Aku jarang sekali pergi keluar sendirian dengan mobil pribadi. Selalu dilarang sama ayah dan ibu. Dan mungkin karena inilah untuk urusan cewek, aku tidak beruntung.

Di sekolah misalnya. Memang aku anak orang kaya, tapi masih jomblo. Nggak ada yang suka atau mereka takut? Padahal aku ya nggak neko-neko sih. Mungkin karena aku jarang bergaul. Mungkin juga. Aku lebih sering bergaul di internet. Di sosial media. WhatsApp, LINE dan lain-lain. Mungkin dengan sebab inilah aku tak bisa banyak bergaul ama teman-teman, bahkan cewek-cewek pun terkesan menjaga jarak denganku.

Aku saat itu sedang browsing di Google Plus, saat itulah Mas Faiz nyeletukku.

Faiz: “Hai Hiro?! W’s up?”

Me: “Oh, Mas Faiz? Baik mas, gimana kuliahnya?”

Faiz: “London dingin! Aku sampai membeku. Gimana sekolahnya? Bisa nyusul aku ke London nggak nih?”

Me: “Wah, berat mas bro.”

Faiz: “:v kenapa berat? kalau berat ya ditaroh.”

Me: “Haiyah. Mas Faiz ini ada-ada aja. Beneran nih. Agak berat deh kayaknya.”

Faiz: “Kamu ini, sebagai anak Faiz Hendrajaya gunakan kesempatan itu. Kamu bisa punya banyak resource. Internet, buku, perpustakaan, server kamu punya semuanya. Gunain itu!”

Me: “Iya sih mas. Tapi entah kenapa males banget.”

Faiz: “Kamu itu sebenarnya pinter. Terbukti kamu selalu jadi juara tiga dari sejak SD, SMP sampai SMA juara tigaaaa melulu. Kan ya aneh. Kamu sepertinya sengaja ya?”

Me: “Dikit sih.”

Faiz: “Tapi aku yakin koq, kamu nanti bakal bisa seperti ayah.”

Me: “Ah, mas Faiz ini bercanda aja. Yang bakal seperti ayah ya cuman Mas Faiz.”

Faiz: “Nggak juga bro, ayah kan lebih suka sama dunia mobile, aku sendiri lebih suka matematika.”

Aku tak heran sih, Mas Faiz orangnya cerdas. Dia dua kali juara olimpiade matematika. Maka dari itulah dia bisa kuliah di Oxford dapat beasiswa di sana. Dan sampai sekarang aku tak habis pikir, orang jurusan matematika nanti kerjanya di mana ya? Apa jadi ilmuwan terus? Tapi tipe orang seperti Mas Faiz ini emang cocok. Lagipula dia ini cool, tampangnya paling keren deh pokoknya. Mirip banget wajahnya ama ayah ketika masih muda dulu.

Me: “Mas, kapan lulus?” tanyaku.

Faiz: “Ini hampir saja lulus. Aku seminggu lagi maju buat tugas akhir. Moga aja selesai.”

Me: “Wah, keren. OK, semangat deh.”

Faiz: “Gimana kabar yang lain? Ayah, bunda Iskha, Bunda Vira?”

Me: “Mereka baik-baik saja koq. Sering nanyain kamu juga. Kan aku yang sering ngobrol sama Mas Faiz.”

Faiz: “Oh iya. Aku belum nelpon ibuku. Pernah jenguk?”

Me: “Seminggu sekali kami main di sana. Beliau kan di rumah sendirian. Kasihan kalau tak dijenguk. Makanya Mas Faiz cepetan pulang biar bisa nemenin Bunda Putri.”

Faiz: “Iya, iya. Sampaikan salamku yah.”

Me: “Koq nggak Mas Faiz sendiri?”

Faiz: “Ibuku pasti nangis kalau aku telpon, jadinya nggak enak. Plis ya, titip salam aja.”

Me: “Oke deh.”

Faiz: “Aku mau hibernasi dulu, salju di luar brrr…”

Me: “Oke mas.”

Begitulah Mas Faiz. Kami masih sering chatting pas malam hari. Pasti orangnya nanyain kabar semuanya. Padahal bisa saja ia tanya sendiri. Tapi ya memang seperti itu wataknya. Dia terkesan low profile. Bahkan orang-orang lebih tahu aku daripada Mas Faiz. Ya jelas saja. Aku lebih sering tampil di depan umum. Dan ayah sering mengajakku ke tempat-tempat klien. Jadi orang-orang lebih tahu aku.

Aku melihat notification di facebook. Ada request pertemanan. Apa ini? Moon? Orang Korea? Eh, ngapain juga orang Korea nge-add aku. Aku lihat profilenya. Hmm…dia cakep juga. Rambutnya merah gitu. Cakep gilak. Eh, tanggal lahirnya, mirip-mirip ama aku. Lahirnya juga sama. Wogh……ini akun palsu apa akun spam nih? Koq friendnya cuma beberapa? Ah, bodo amat. Paling ya barusan bikin trus disuggest ama facebook ke diriku. Hihihihi.

Coba aja ahh…aku pun klik Accept.

Facebook memberitahukan bahwa dia sudah jadi temanku. Aku tunggu beberapa saat. Eh…dia nulis di wall-ku.

“Thank you for accepting me as your friend,” katanya.

“Are you really from Korea?” tanyaku di bawahnya.

Tiba-tiba “TUING!” muncul facebook messenger. Dia menjawab, “Yes I am.”

Me: “Moon, how do you know me?”

Moon: “I don’t know you. I’m just new using facebook. If you don’t mind.”

Me: “No, no, off course not.” (bego juga sih, kenapa aku tanya gitu).

Moon: “Where do you live?”

Me: “I’m from Indonesia. Have you visited my country?”

Moon: “Yes, once.”

Me: “So, which place?”

Moon: “Just Jakarta. And only a few days.”

Me: “Oh… I see. Btw, I saw your hair is red. That was awesome.”

Moon: “Yeah, do you like it?”

Me: “Well, off course.”

Moon: “Thanks.”

Aku lihat jam, buset, udah malem aja nih. Mana besok sekolah. Aku pun pamitan.

Me: “Moon, I’ve go to sleep. Cacth you later.”

Moon: “Ok, good night.”

Aku segera menutup laptopku dan tidur. Moga besok nggak kesiangan. Nah, ini yang lucu. Malam itu aku bermimpi. Aku bertemu dengan seorang wanita berambut merah. Aku memegang tangannya.

“Jangan lepaskan! Jangan lepaskan!” kataku.

RIIIIIIIIIINGGGGG! Aku tiba-tiba tersentak. Terbangun. Mimpi apaan itu? AKu melihat jam sudah menunjukkan jam 6.00. Oh, this is not good. Aku segera ke kamar mandi dan siap berangkat sekolah.

Hari ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Rumahku ini perabotannya tak banyak. Ayah orang yang tak suka banyak perabot. Semuanya tampak sederhana. Kami cuma punya satu meja di ruang tamu. Di bawahnya ada karpet yang lebar. Biasa kami buat lesehan di sana. Jadi para tamu harus duduk semuanya. Nggak ada sofa. Lucu ya. Di pojok ruangan ada lampu, ada juga rak yang berjejer buku-buku. Macam-macam sih. Aku termasuk orang yang gemar baca buku. Hampir semua buku aku lahap.

Di meja makan aku sudah mendapati Rara, Mark dan Lusi. Aku lihat ibuku sedang mempersiapkan semuanya. Kulihat ayah sedang menikmati salad di atas piringnya. Dari semua anggota keluarga hanya ayah yang paling sehat menunya setiap sarapan. Beliau bukan vegetarian, tapi lebih menjaga pola makan. Aku saja eneg melihat menu sayurannya. Apalagi dia juga minum Klorofil. Phew. Serba hijau. Mungkin kalau ada darah monster, atau darah alien, dia juga bakal minum. Ewww…

“Kesiangan lagi Hiro?” sapa ayah.

“Sorry, tadi malam chatting sama Mas Junior,” kataku. Aku selalu manggil Mas Faiz dengan sebutan Mas Junior di hadapan semuanya.

“Wow, oya?” tanya ayahku excited.

“Bagaimana kabarnya?” tanya ibu.

“Baik, dia mau lulus kan? Dia juga nanyain kabar semuanya,” jawabku.

“Ayo Mas, bisa nyusul Mas Junior nggak?” tanya Rara.

“Belum ada rencana kesana,” kataku.

Aku menerima omelet buatan ibu. Sejujurnya ayah itu orang yang paling bisa masak di rumah. Omelet buatan ibu itu sedikit asin. Tapi kami tak pernah protes. Yang paling pas bikin itu cuma ayah. Aku heran saja, ayah bisa masak, kenapa nggak diserahkan ke ayah saja urusan masak memasaknya??

Aku tersenyum kecut melihat omelet itu. Rasanya ayah melihatnya.

“Makan yang cepet, ntar telat!” celetuk ayah.

Aku cuma meringis. Mark menyenggol kakiku. Aku langsung menoleh ke arahnya dan menampakkan ekspresi tanda tanya. Mark melirik ke arah bunda yang melihatku.

“Eh, bunda, heheheh,” kataku.

“Masakan bunda nggak enak lagi?” tanyanya.

“Enak koq, enak!” kataku. Aku langsung mengambil semuanya. Dan kumasukkan ke mulut. Asiiinn… Melihat itu bunda tersenyum.

“Lusi, jangan main ponsel waktu di meja makan!” kata ibu.

Sebenarnya Lusi juga nggak mau sarapan.

“Nda, tolong ambilin jus sirsak di dapur!” kata ayah.

Bunda lalu berdiri berjalan ke dapur meninggalkan kami.

“Makan saja sepotong dan senyum. Kalian tak mau kan lihat bunda kalian ngambek gara-gara kalian nggak sarapan?” tanya ayah. Ia tahu.

Kami semua mengangguk. Rara, Mark dan Lusi langsung memotong omeletnya dan memasukkan ke mulut mereka. Lalu mereka minum air yang ada di gelas masing-masing.

“Udah sana berangkat! Telat lho!” kata ayah dengan lembut. Waaah…ayah memang mengerti kami.

Satu persatu kami mencium tangan ayah. Saat itu ibu datang dengan membawa jus sirsak.

“Berangkat?” tanyanya.

“Iya bunda, udah telat,” kataku.

Kami segera mencium tangan beliau. Lalu berhamburan pergi. Sementara itu ayah tersenyum penuh arti kepada kami. Itulah yang selalu ayah ajarkan. Jangan mencela makanan orang lain. Sedapat mungkin kalau memang tak suka dan tak mau jangan disentuh, tapi agar hati orang yang memasaknya tak disakiti makanlah sedikit. Filosofinya itu sungguh mengena. Dan kami pun merasakan imbasnya sekarang.

Seperti biasa, aku diantar dengan sopir. Mulanya menurunkan Mark, lalu Lusi. Mereka di SMP yang sama. Kemudian aku dan Rara. Kebetulan kami di sekolah SMA yang sama. Masa putih abu-abu. Aku sudah kelas XI.

“Hai Hiro!” sapa seseorang. Dia Joshua. Dia Oh iya anak ayahku juga dari istrinya, bunda Vira.

“Hai bro, w’sup!?” aku tos dengan dia dan menepuk pundaknya. Kami beda kelas sih, walaupun sama-sama kelas XI.

“Aku duluan!” kata Rara.

“OK Sis!” kata Joshua.

Setelah Rara pergi ada seseorang yang datang melintas. Eh…itu Yunita. Awwww…ok siapa sih Yunita itu? Dia itu gebetanku.

“Hai Nit?” sapaku.

“Hai, aku duluan ya,” katanya. Hari ini rambutnya dikuncir dua. So cuuuuutttteeeee…

“Lo sudah nembak belum?” tanya Joshua.

AKu menggeleng.

“Jiah, pangeran kerajaan Hendrajaya nggak berani nembak cewek, cemen lu!” kata Joshua. Emang sih. Aku kagok kalau nembak cewek. Beda ama Joshua dia sudah punya pacar sekarang. Namanya Niken sekelas ama aku. Nah, sedangkan si Yunita, dia sekelas ama Joshua. Kami seperti kelas yang tertukar gitu.

“Ah, lu tahu sendiri aku gimana gitu ama cewek,” kataku.

“Moga aja lu nggak jadi gay,” katanya.

“Ah, sompret lu!” aku langsung merangkul lehernya. Dia berkelit dan kami saling memukul sambil tertawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*