Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 5

Si Rambut Merah Bab 5

BAB V

DON’T BE SAD

“Siapa kamu?” tanyaku sambil membidiknya.

“Tentu saja kamu tak pernah mengenalku, jadi tak tahu siapa aku. Perkenalkan namaku Lucifer,” jawabnya. Lucifer? Orang yang ingin membeli dokumen rahasia negara dari Roger?

“Kamu…., apa yang telah kamu lakukan kepada Suni?” tanyaku.

“Ahh…iya, aku minta maaf. Karena dia tadi sedikit mengecewakanku. Seluruh anak buahku dibunuhnya. Kasihan sekali mereka,” katanya.

Aku menembakkan pistolku, dengan mudah ia bisa mengelak, bahkan tanpa bergerak dari tempat duduknya. Apa-apaan ini? Aku coba menembaknya lagi, tapi lagi-lagi ia cukup kuat. Dia bisa menghindari seluruh peluruku.

“Tidak, tidak, tidak, aku tidak ingin kamu membunuhku secepat ini Moon, aku tahu siapa kamu. Aku tahu siapa ayahmu. Aku tahu siapa ibumu. Aku tahu misi apa saja yang kamu selesaikan,” kata Lucifer. “Aku juga tahu apa hubunganmu dengan orang ini.”

Aku mendekat, kulihat Suni di dalam mobil ambulance tak sadarkan diri. Lucifer lalu melompat turun dari mobil putih itu. Ia tak membawa senjata padahal, tapi kenapa aku takut? Ada rasa yang sangat tajam menusukku ketika dia mata kami beradu. Mata seorang pembunuh. Ya, mata seorang pembunuh. Aku tak akan pernah melupakan mata itu.

“Suni! Suni! Kau tak apa-apa?” panggilku.

“Suni! Bangun! kekasihmu memanggilmu!” kata Lucifer. Lucifer melangkah mendekati Suni dan menampar-nampar pipinya. Suni menggeliat. Ia kaget ketika melihat wajah nyaris mirip tengkorak itu di hadapannya. Ia ingin bergerak tapi tak bisa karena tubuhny terikat di kursi. Dia pun melihatku juga.

“Moon?!” katanya.

“Syukurlah kamu selamat,” kataku lega.

Suni melihat tubuhnya yang terlilit kabel dan sebuah lampu merah berkedip-kedip di dadanya. Lucifer lalu mengambil sebuah penutup di rompi yang dikenakan Suni. Di sana terlihat timer berwarna merah. Aku terbelalak menyaksikan waktunya kurang dari 30 menit. Dan terus berjalan.

“Sekarang situasinya berubah,” kata Lucifer. “Bom ini terhubung langsung ke pacarmu. Bom ini bisa dijinakkan hanya dengan satu cara, yaitu berhentinya detak jantung pacarmu. Atau kalau kamu bisa, suruh aku untuk menjinakkannya!”

“Jinakkan bom itu!” perintahku.

“Coba saja, aku mati bom itu meledak. Pacarmu meledak, booom. Hahahahahaha!” suara tawa Lucifer jelek sekali.

“Bangsat! Lepaskan aku dan kita duel!” kata Suni.

“No no no no, tidak semudah itu. NIS adalah peringatan bagi dunia, bahwa kami kuat. Kami bisa berbuat apa saja, dan kalian jangan khawatir ini baru permulaan,” kata Lucifer.

“Lepaskan Suni! Lepaskan!” kataku.

“Ups! Waktuku habis, sampai nanti Moon and Suni. Rembulan dan matahari, Hahahahahahahahaha!” Lucifer tiba-tiba menghilang seperti kabut. Aku tak tahu bagaimana dia melakukan itu. Aku pun menghabiskan seluruh peluruku menembak di tempat ia tadi berdiri. Aku kemudian melemparkan pistolku.

“AAAARGGGHH!” aku menjerit dengan penuh emosi.

“Moon, tenang Moon!” kata Suni. “Coba jelaskan apa yang ada padaku!”

Aku berjalan ke depan Suni, “Kamu terikat. Di tubuhmu ada bom. Sepertinya apapun yang aku lakukan akan memicu ledakan bom ini. Bom ini bisa dijinakkan dengan membuat jantungmu berhenti alias mati. Di belakangmu adalah puluhan kilo TNT. Bom ini sanggup meruntuhkan satu gedung.”

“Oh tidak,” kata Suni. Ia sepertinya pasrah.

“Tenanglah, An Li akan datang membawa tim penjinak bom,” kataku menghibur Suni. “An Li! Mana tim penjinak bomnya???”

“Dengan gedung kita diserang seperti ini? Mustahil mereka bisa mendekat!” kata An Li.

“Persetan! Cepat datangkan mereka atau kita semua akan mati!” kataku.

“Hei, hei! Easy girl, baik aku akan mencoba. Di sini kita juga ada ahli bom. Aku akan coba hubungi dia,” kata An Li.

“Terima kasih,” kataku.

“Well, setidaknya ini adalah pertama kalinya kamu bilang terima kasih,” kata An Li.

Aku langsung memeluk Suni. Kening kami saling menyentuh. Aku tak bisa berbuat apa-apa dan aku sangat marah. Kenapa kau tak bisa berbuat apa-apa untuk orang yang aku sayangi? Kenapa? Tidak ayah, tidak juga dia. Oh tidak, jangan sampai aku kehilangan dia. Aku tak mau. Aku telah menemukan sosok ayahku pada diri Suni, jangan sampai dia pergi juga. Tidak, tidak akan aku biarkan itu terjadi.

“Hei, kamu bersedih?” tanya Suni.

Aku menggeleng.

“Tenang, semua akan baik-baik saja,” katanya. Kata-katanya itu sedikit memberikanku harapan.

Lima menit kemudian tempat parkir langsung dipenuhi oleh orang-orang. Tampak An Li dan komandan pun berada di sana. Pertempuran telah selesai sepertinya. Aku tak mendengar lagi kegaduhan di luar gedung, tak ada ledakan, tak ada suara tembakan, tak ada suara jet tempur. Ada apa sebenarnya?

“Moon, mundurlah! Aku mau memeriksanya,” kata salah seorang agen. Aku segera melepaskan pelukanku dari Suni.

Sang agen boleh dibilang ahli dalam bom. Komandan melihat Suni, tampak ia semakin kacau. Melihat jumlah TNT sebanyak itu, ia benar-benar tak habis pikir harus bagaimana. An Li juga menampakkan raut wajah sedih. Ia sendiri tak bisa apa-apa untuk menolong Suni.

“Ini mustahil,” kata agen tadi.

“Kenapa?” tanya komandan.

“Sang pembuat bom ini sangat cerdik. Dia menginginkan bom ini berhenti berfungsi ketika jantung Suni berhenti berfungsi. Selain itu dalam dua puluh menit, bom ini meledak,” ujarnya.

“What?” komandan serasa tak percaya. “Tak bisa dijinakkan?”

“Aku tak yakin, semua kabel ini, salah potong saja…boom!” kata sang agen sambil tangannya memperagakan seperti bom meledak.

“Kalian, sudahlah. Evakuasi saja gedung ini. Sebelum terlambat,” kata Suni.

“Kenapa tidak dikeluarkan saja mobilnya?” tanyaku.

“Moon, kamu ingin bom ini menghancurkan Seoul?” tanya Suni.

Aku menunduk ku pukulkan tanganku ke sebuah kaca mobil hingga hancur. Tanganku sampai berdarah karenanya.

“Moon, tahan emosimu!” kata Suni.

“Aku tak bisa melakukan apa-apa, aku tak bisa melakukan apa-apa kepadamu Suni!” kataku.

“Komandan, segera evakuasi gedung. Aku tak apa-apa,” kata Suni. “Ini sudah jadi tugasku.”

An Li dan komandan berpandangan. Aku menangis, tolong jangan lakukan ini Suni.

“Baiklah, semuanya evakuasi gedung!” kata komandan.

Segera setelah itu orang-orang mulai meninggalkan gedung. Mereka berhamburan keluar gedung. Baru kali ini dalam sejarah gedung NIS diserang, dihancurkan, dan dalam sekejap akan musnah dari muka bumi. Hanya aku dan Suni saja yang berada di dalam gedung sekarang ini. Suasana hening. Aku tahu semua orang sedang berkumpul di luar sana. Harap-harap cemas menantiku keluar.

“Moon, keluarlah!” bujuk Suni.

“Aku tak mau keluar, aku ingin bersamamamu,” kataku.

“Moon, jangan bodoh! Kau harus keluar, bom ini akan meledak.”

“AKu tahu, tapi aku tak mau. Aku tak mau meninggalkanmu Suni, aku tak mau. Kamu tahu kenapa aku menerima cintamu? Karena kamu seperti ayahku. Aku nyaman bersamamu, aku sangat senang bersamamu Suni. Tolonglah aku tak mau kehilangan dirimu,” kataku.

“Tapi segala yang hidup pasti ada akhirnya,” katanya.

“Tidak! Aku akan mencoba menjinakkannya, aku akan coba,” kataku.

“Sudahlah! Moon! Relakanlah aku! Pergilah!” katanya.

“Aku tak bisa!” kataku.

“Moon! Kamu harus keluar dari sana,” kata An Li dari codec.

“Moon? Kamu mencintaiku?” tanya Suni.

“Iya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu…..,” aku memeluk Suni dengan erat. Tak ingin kehilangan dia. Aku mencium bibirnya. Aku ingin selalu bersamanya.

“Sudah Moon, sudah! Jangan seperti ini. Ingat, kita berjuang untuk negeri ini. Aku punya puisi untukmu,” katanya.

“Puisi apa?” tanyaku

Dia pun kemudian berkata:

“Berjalan menembus batas
Cahaya rembulan kian membias
Andai aku punya sayap
Aku akan terbang ke sang rembulan

Kami generasi terbaru
Kami mengubah dunia
Berjuang untuk keadilan
We born for nothing
we live for nothing
but we die for something”

Puisi itu adalah puisi yang akan aku ingat selamanya. Suni mengingatkanku lagi akan alasan kenapa aku berada di agensi ini. Dia juga yang mengingatkanku bahwa aku harus kuat. Aku harus kuat, lebih kuat lagi. Aku jadi teringat tentang ayahku. Ayahku akan kecewa kepadaku kalau aku tidak sekuat yang dia kira.

“Pergilah Moon, pergilah!” kata Suni. “Aku akan terus berbicara kepadamu melalui codec.”

“Suni…!” aku terisak. Kubalikkan badanku dan meninggalkan Suni.

“Hai Moon, kamu masih ingat ketika kita pertama kali kencan? Itu adalah kenangan terindah dalam hidupku. Aku tak akan melupakannya. Engkau adalah malaikatku, engkau adalah bidadariku. Mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersama. Tapi aku tak akan pernah kecewa dalam hidup ini karena telah mengenalmu. Aku suka ketika kamu tidur, kamu mendengkur halus. Wajahmu adalah wajah paling cantik ketika kamu tertidur,” Suni terus berbicara melalui codec.

Komandan dan yang lain sudah menungguku di luar. Aku melihat serpihan-serpihan pesawat,tank-tank serta mobil-mobil berserakan di jalan raya. Aku tak tahu berapa lama lagi bom itu akan meledak. Suni terus mengoceh. Ia terus berbicara bahwa ia sangat mencintaiku. Aku bisa merasakan di saat-saat terakhir dalam hidupnya ia sama sekali tak bersedih. Dan kata-kata terakhirnya sebelum bom itu meledak menghancurkan gedung NIS hingga rata dengan tanah adalah…”Moon, kamu harus kuat!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*