Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 4

Si Rambut Merah Bab 4

BAB IV

Ambushed

Dentuman bom, desingan rail gun dan meriam vulcan dari empat jet tempur yang menyerang kami masih terdengar. Sedangkan di bawah ada lima tank, empat panser dan puluhan orang bersenjata berat menghujani kantor NIS dengan peluru dan bom. Seluruh agen bersiap memakai baju anti peluru dan membawa senjata-senjata mereka. Ini bukan saja bertahan, ini adalah perang.

Aku segera menuju ke bawah. BLAAAARRR. Sebuah misil menghantam lantai di mana aku dan Suni sedang berada. Kami berdua tiarap. Serpihan tembok dan debu berhamburan. Kami seperti mandi pasir rasanya. Sesaat setelah kami yakin aman, segera kami berdiri. Aku melepaskan sepatu hak tinggiku dan melemparnya. Tidak nyaman berlari menggunakan sepatu macam ini.

Kami berjalan lagi. Kemudian belok di sebuah ruangan bertuliskan ARMORY. Salah seorang agen melemparkan sebuah senapan kepadaku. Aku langsung menangkapnya. M-16? Aku bukan Rambo! Aku lemparkan senapan itu ke Suni. Dengan cekatan ia menangkapnya dan mengecek senjata itu. Diambilnya beberapa magazine. Aku mengambil pistol Socom dan beberapa magazine. Juga dua buah granat, sebuah pistol Desert Eagle berikut dua magazinenya.

“Ayo!” seruku.

Kami semua bergerak ke lantai satu. Tempat di mana kami diserang. Begitu tiba di lantai satu. Suasananya benar-benar mencekam. Aku melihat banyak mayat bergelimpangan. Mulai dari tukang cleaning service, hingga security. Beberapa bagian gedung di lantai satu sampai hancur. Dari luar aku melihat lima buah tank membidik ke arah kami.

“Katakan itu tidak benar!” tunjukku melihat ke arah tank.

“Oh…shiiit!” Suni langsung menarikku. Kami melompat dan berguling saat itu tank menembakkan meriamnya ke arah kami. Untung kami bisa menghindar tapi ledakannya menghempaskan tubuh kami hingga beberapa meter jauhnya. Sementara itu para teroris terus menghujani kami dengan peluru-peluru.

Terdengar bunyi ledakan dari luar gedung. Salah satu tank meledak. Aku agak terkejut. Para teroris itu sebagian masih bertahan di luar, sepertinya bantuan sudah datang.

“Apa yang terjadi An Li?” tanyaku kepada An Li dengan codec.

“Bantuan datang, tapi bukan militer,” jawab An Li.

“Bagaimana mereka bisa meledakkan tank?”

“Mereka menabrakkan mobil pengangkut bahan bakar ke arah tank. Keduanya meledak. Kita dapat bantuan dari polisi lokal,” ujar An Li. “Aku tak sanggup melihatnya, persenjataan mereka tak seimbang.”

Aku segera bangkit lalu kutembaki siapa saja teroris yang kulihat. Suni pun mengikutiku. Kami berdua sekarang benar-benar all out. Perang dimulai. Para teroris terus mendesak kami. Aku dan Suni mulai terdesak, kami kalah jumlah. Beberapa orang di antara mereka dengan mudah masuk ke dalam lift. Hei tunggu! Bagaimana lift itu bisa terbuka? Seharusnya mereka masuk dengan menggunakan password!?

“An Li, siapa yang membuka lift?” tanyaku.

“Sialan, kita dihack!” kata An Li.

“Bagaimana mungkin??” tanya Suni.

Aku segera menyusul mereka yang berada di lift. Kulumpuhkan beberapa teroris sambil terus berlari. Peluruku habis, kuambil magazine di saku ku. Kemudian magazinenya aku ganti. Dengan cepat aku menembak isi lift itu sebelum pintunya tertutup. Tapi sayang, aku hanya mengenai satu orang. Karena lariku terlalu cepat aku pun menubruk pintu lift yang tertutup. BRAK! Aku langsung jatuh. Suni datang membantuku.

“Kau tak apa-apa?” tanyanya.

Aku menggeleng. Suni mereload magazinenya.

“An Li, elevatornya!” kataku.

“Aku berusaha!” jawabnya.

Lift sebelah terbuka. Aku dan Suni segera masuk ke sana. Beberapa teroris menembaki kami lagi, dan kami dibantu oleh agen-agen yang baru saja turun dari lantai atas. Pintu lift pun tertutup. Kami bisa bernafas lega sekarang.

“FUUCCCKK!” umpat Suni. “Bagaimana mereka bisa menyerbu kita seperti itu?”

Aku memeriksa peluruku, masih cukup kurasa. OK, sepertinya saat ini kita harus berpikir jernih. Tak mungkin gedung paling aman di negara ini malah bisa diserbu seperti ini. Ada yang tidak beres. Walaupun mereka telah mendapatkan peta dari gedung ini, tapi rasanya mustahil mereka bisa leluasa masuk ke sini. Seolah-olah ini semua telah direncanakan dengan matang.

“An Li, tahan dulu liftnya!” kataku. Lift pun berhenti. “Apa menurut pendapatmu?”

“Maksudnya?” tanya Suni.

“Apakah mereka benar-benar ingin tempat arsip itu?” tanyaku.

Suni mengerutkan dahi, ia sepertinya tahu apa maksudku, “Oh, kurasa demikian.”

“Menurutku, tak perlu repot-repot bagi mereka untuk mencuri arsip sampai menyerbu kita seperti itu. Kalau memang mereka organisasi yang setangguh itu, mereka akan memakai cara lain untuk mencuri arsip. Kalau Lucifer yang mereka agungkan itu bisa mengutus orang lain untuk mencuri arsip, kenapa harus menyerbu kita?”

“Kau benar, lalu?”

“Barangkali, mereka ingin sesuatu yang lain.”

“Misalnya?”

“Arsip itu hanya pengalih perhatian, tujuan utama mereka bukan itu.”

“Ah, aku tahu,” Suni berseru.

“APa?”

“Tujuan utama mereka adalah mengancam presiden. Semua orang tahu NIS adalah senjata utama pemerintahan ini. Mereka ingin melumpuhkannya. Jadi yang mereka lakukan adalah….”

“Menghabisi kita semua!” seruku. “An Li, di lantai mana mereka berhenti?”

“Mereka berhenti di lantai parkir, tapi kemudian lanjut lagi turun ke lantai arsip,” jawab An Li.

“Lantai parkir?” gumamku.

“Moon, kamu ke lantai arsip, aku akan ke lantai parkir,” kata Suni.

Entah kenapa perasaanku waktu itu tidak enak. Tapi kemudian aku menepis semua itu. Keadaan sekarang ini sedang genting. Gedung ini bisa roboh sewaktu-waktu. Aku mengokang pistolku. Suni bersiap keluar. Dia memencet tombol P di lift. Aku menanti lift terbuka. Aku merasa waktu berjalan sangat lambat. Sampai-sampai aku bisa merasakan bagaimana pelannya lift itu turun. Rasanya aku sudah berdiri di sana selama berjam-jam.

‘TING!’ lift mulai terbuka di lantai P.

“Hati-hati Suni!” kataku.

Dia memberikan jempolnya kepadaku. Dengan sikap siaga, sambil posisi membidik, ia keluar dari lift. Pintu lift pun tertutup. Setelah itu terdengar suara rentetan senjata. Aku mulai khawatir kepada Suni.

“Suni? Kau tak apa-apa?” tanyaku.

“Aku bisa mengatasinya,” ujar Suni.

Seharusnya aku memang tak perlu khawatir. Dari sejak pertama kali aku jalan dengan Suni, aku tak pernah khawatir kepadanya. Dialah yang selalu khawatir denganku. Dia selalu berusaha menjadi gentlemen. Maka dari itulah aku sangat nyaman sekali berada di sampingnya. Suni telah memberikan semuanya kepadaku, cintanya, sayangnya, nyawanya. Semua itu tak pernah bisa aku balas.

Pintu elevator pun terbuka di lantai B4. Aku bersiaga. Di bawah itu aku berhadapan dengan satu regu yang sudah bersiap dengan perisai dan persenjataan mereka. Lho??? Mana terorisnya?

“An Li?! Ke mana mereka?” tanyaku.

“Liftnya berhenti di lantai B4! Pastinya mereka turun di sana,” kata An Li.

“An Li, di sini tidak ada apa-apa,” kataku.

“Masa’?”

“An Li, jangan kamu katakan kamera di lift tidak berfungsi,” kataku.

“I..iya, tidak berfungi. Aku hanya melihatnya operasi lift itu komputer,” katanya.

“An Li! Suni sendirian di tempat parkir!” kataku.

“Celaka!” kata An Li.

“Suni! Suni! Suni! Kau baik-baik saja?” tanyaku. Kutekan-tekan lagi codec yang ada di telingaku. Celaka, Suni, semoga kamu baik-baik saja. Dengan tanpa alas kaki, aku pun kembali berjalan menuju lift. “Kalian siaga!”

“Ok, mam!” seru mereka.

Suni, Suni, Suni, kuharap dia tidak apa-apa. Elevator pun naik ke Parking Lot. Ketika Lift tepat ke lantai P, terbukalah pintunya. Aku segera menghambur keluar. Tak ada suara tembakan. Aku pun penasaran. Suara telapak kakiku satu-satunya yang terdengar di lantai parkir itu. Tak ada lampu, apakah sengaja dimatikan? Aku pun terantuk oleh sesuatu. Mayat?

Kunyalakan ponselku dan meneranginya. Ada banyak mayat di sini. Mayat para teroris. Di mana Suni?

Aku lalu bangkit dan berlari memanggil-manggil Suni sambil menjadikan ponselku sebagai penerangan.

“An Li, kenapa lampu di Parking Lot mati?” tanyaku.

“Aku tadi disuruh untuk mematikan oleh Suni,” jawabnya.

“Hah? Nyalakan lagi!” kataku.

“Tapi…”

“Cepat!”

Segera lampu Parking Lot menyala. Aku bisa melihat sekarang banyak mayat bergelimpangan. Mayat para teroris. Lalu di mana Suni? Apakah dia masih hidup? Suni agen yang terlatih, dia handal dan piawai dalam menggunakan senjata. Ia termasuk lulusan akademi terbaik. Aku mencintai dia. Aku sayang kepadanya. Jangan sampai dia pergi, kumohon jangan sampai.

Aku pun mendengar seseorang sedang bersiul. Aku pun mencari arah suaranya. Apakah itu Suni? Perlahan-lahan aku bersiaga. Kumasukkan lagi ponselku ke dalam sakuku. Aku mengeluarkan pistol Desert Eagle. Sekarang di tanganku ada dua pistol. Aku menodongkan senjataku ke depan. Dan dengan sangat berhati-hati aku bersembunyi di antara mobil. Keuntunganku tidak memakai sepatuku adalah langkahku tidak berbunyi. Dan aku bisa cepat bergerak.

“Marco….poloo….!” terdengar suara asing. Aku tak mengenal suara itu. Aku juga tak tahu dari mana asal suara itu.

Masih mengendap-endap, aku terus merayap menelusuri tempat parkir, bersembunyi di antara tiang dan mobil-mobil.

“Ayo Moon, aku tahu kamu ada di sana, keluarlah!” kata suara itu. Siapa itu? Bagaimana ia bisa tahu namaku?

Aku kemudian keluar dari persembunyianku. Di ujung tempat parkir, aku bisa melihat sebuah mobil ambulance. Dan di dalamnya ada seseorang yang sedang duduk, terikat. Itu Suni. Tapi…di tubuhnya tampak juga ada sesuatu. Banyak kabel melilit tubuhnya. Ada sebuah lampu merah berkedip-kedip di dada sebelah kirinya. Di atas mobil ambulance itu ada seseorang yang sedang duduk. Orang itu tak aku kenal, wajahnya seperti tengkorak hidup karena sangat kurus. Ia tersenyum melihatku.

“Halo Moon, alias….Si Rambut Merah,” sapanya.

Siapa orang ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*