Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 1

Si Rambut Merah Bab 1

Cerita Ini Masih ada Hubungannya dengan Anak Nakal Season 2 Ya..

Prolog

Dunia ini sedang dalam bahaya. Awal semua ini adalah dari serangan teroris yang berhasil menghancurkan Pentagon pada 11 September beberapa tahun lalu. Al-Qaida hanya awal. Sebuah organisasi yang disebut sebagai Genesis telah merancang kehancuran yang lebih besar lagi. Mereka memainkan politik untuk menghancurkan negara-negara di dunia.

Mereka menjual kemerdekaan kepada kelompok-kelompok separatis. Persenjataan, bom, chaos adalah barang dagangan mereka. Organisasi genesis tidak diketahui siapa pemimpinnya siapa anggotanya. Tapi yang jelas mereka sangat licin. Bahkan sampai-sampai dunia membutuhkan agen-agen khusus yang terlatih. Dikumpulkanlah seluruh agen rahasia terbaik dari seluruh dunia untuk menyelidiki keberadaan Genesis.

Awal dari Genesis ini adalah terbongkarnya sebuah kode sandi dengan julukan Genesis. Kode itu didapatkan di setiap kejadian terorisme di dunia. CIA dan FBI pun akhirnya menangkap salah seorang informan yang ditengarai anggota dari Genesis. Dari situlah diketahui ternyata Genesis adalah organisasi yang sangat besar, rahasia dan masih misteri.

Dikumpulkanlah seluruh agen rahasia dari seluruh dunia. Mulai dari MI6, CIA, SVR, NIS, bahkan juga dari Indonesia BIN. Agen-agen ini diutus oleh PBB untuk menemukan sebuah formula yang akan digunakan oleh Genesis “mengubah dunia”. Misi mereka masih tidak diketahui tenang formula itu. Tak tahu bentuknya seperti apa ataupun bagaimana isinya. Tapi yang jelas seluruh dunia dalam bahaya sekarang ini.

****

NARASI LOW

Uang. Uang. Itulah yang ada di diriku sekarang. Dengan uang aku bisa mendapatkan segala-galanya. Bahkan, mulai dari orang seperti agen rahasia hingga para politikus membutuhkanku. Kehidupanku sudah sangat makmur. Rumah besar, uang banyak, dan siapapun wanita yang aku inginkan pasti aku dapatkan. Apalagi coba? Setiap malam mabuk-mabukan dan bersenang-senang dengan ayam kampus, ayam yang masih sekolah. Tak ada yang bisa melawanku.

Aku berangkat dari bawah. Berangkat dari orang yang tidak punya apa-apa. Aku mulai memalak orang baik di siang hari dan malam hari. Dari preman kecil, kemudian punya anak buah. Dari sana kemudian kekuasaanku mulai naik, menyogok polisi dan dikenal kepolisian sebagai mafia. Karena uang yang aku berikan kepada mereka sangat besar, bahkan mereka tak berani menyentuhku.

Sampai kemudian aku kenal dengan seseorang. Namanya…dia tak pernah memberitahuku siapa namanya. Tapi dia punya julukan Lucifer. Awalnya aku menganggap dia bercanda. Tapi dia tidak suka. Apa yang dia punyai lebih besar dari aku. Baik kekuasaan, uang, semuanya. Bahkan entah bagaimana ia mengetahui semuanya tentang diriku dan menginginkan aku sebagai anak buahnya. Untuk urusan uang dan lain-lain ia katakan “tak perlu khawatir”

Tugas yang dia berikan cukup mudah. Meletakkan sebuah tas kopor atau kardus di tempat umum. Lalu Booom. Total sudah 5 bom yang aku ledakkan. Dan setiap bom yang meledak aku dibayar 1 milyar. Hahahaha, siapa yang tak mau tugas semudah itu? Dan bom-bom itu ditaruh secara acak. Dan aku tak boleh menunjukkan pola tertentu. Aku setuju saja.

Dan setelah itu aku disuruh lagi untuk menemui seorang yang bernama Dr. Edward. Dia yang akan memberikan tugasku berikutnya. Siapa yang tak mau? Sekali tugas dapat 1 Milyar. Malam itu Lucifer bertemu denganku.

Perawakannya masih misterius. Dia berwajah bersih, alisnya tipis bahkan aku kira ia orang yang tak punya alis. Dia memakai topi koboi. Matanya gelap dan selalu menatap tajam ke lawan bicaranya. Postur tubuhnya tak gemuk, tapi tegap. Suaranya berat dan berwibawa. Aku mengira dia ini seorang politikus.

“Tugasmu hanya mengantar ini ke orang itu. Kamu mengerti?” kata Lucifer. Dia menyodorkanku sebuah harddisk portable.

“Apa ini?” tanyaku.

“Kau tak perlu tahu apa ini,” jawabnya.

Aku lalu menggebrak meja, “Luc, kamu jangan main-main! Aku perlu tahu!”

“Kau berani menggebrak meja dan membentakku?” suara Luc datar, tapi tatapannya membuatku begidik.

“Oh, maaf. Aku terlalu pusing akhir-akhir ini,” kataku.

“Aku mengerti. Ini adalah S-Formula. Orang seperti dirimu tak bakal mengerti apa ini. Jangan coba-coba mengcopy isinya, karena aku akan menghabisimu kalau kamu mencoba melakukannya,” ujar Lucifer.

Hah? Sebegitu beraninyakah orang ini ingin membunuhku?

“Aku sudah bilang kepadamu, aku tahu siapa kamu Low. Aku juga tahu seluruh sejarah kehidupan kelam dirimu. Aku tahu ukuran bajumu, aku juga tahu dengan siapa saja kamu tidur, bahkan hari ini kamu sudah masuk berapa kali ke toilet aku juga tahu,” suara Lucifer makin berat dan dia kelihatannya marah. Kelihatannya benda yang akan aku antar ini berisi sesuatu yang sangat berharga.

“Kalau ini sangat berharga kenapa kamu tidak melakukannya sendiri?” tanyaku.

“Karena aku tak mau mengotori tanganku. Dari lima tugas yang aku berikan, kamu cukup bagus kerjanya. Dan tugas ini cukup mudah bukan?”

“Asal bayarannya sesuai.”

“Tak perlu bimbang, satu milyar seperti biasa. Kali ini kamu tak perlu meledakkan sesuatu.”

“Deal,” kataku.

Setelah itu si brengsek ini pergi. Aku hanya melihat harddisk portable itu. Katanya aku tak boleh mengcopynya. Baiklah, aku cukup gentar dengan pernyataannya yang tahu semua tentang aku. Itu gila. Tapi aku tak boleh takut di hadapannya. Kalau ia tahu semuanya tentang aku, berarti orang ini bukan orang biasa.

Aku kemudian pergi ke sebuah gedung. M-Tech Building. Ini adalah gedung tempat M-Tech Industries, sebuah perusahaan mobile terbesar se-Asia. Dan aku harus bertemu dengan seseorang di sini. Mungkin karena penampilanku yang mirip mafia dengan kacamata hitam dan jas warna putih dikawal oleh lima orang membuat para sekuriti menahanku.

“Cari siapa?” tanya mereka.

“Dr. Edward,” jawabku.

Sang sekuriti lalu menghubungi seseorang lewat telepon yang ada di posnya.

“Tunggu sebentar, Dr. Edward sebentar lagi datang,” katanya.

Aku dan kelima anak buahku akhirnya duduk-duduk di ruang tunggu. Gedung ini cukup besar. Yang punya adalah Faiz Hendrajaya dari Hendrajaya Group. Kabarnya gedung ini penjagaannya ketat. Aku saja ditahan di luar. Tak berapa lama kemudian seorang tua menghampiri kami. Di jasnya ada sebuah nama “EDWARD”. Orangnya seperti bule tapi dia sangat fasih berbahasa Indonesia.

“Ya? Mencari saya?” tanyanya.

“Dr. Edward, ini!” kataku menyerahkan sebuah harddisk portable.

“Ini S-Formula?” tanyanya.

Aku mengangguk. Tangan Dr. Edward sedikit gemetar ketika menerimanya. “Aku harus cepat, baiklah!”

Orang tua ini buru-buru meninggalkan kami. Ada apa sebenarnya?

“Buru-buru sekali orang tua itu?” gumamku.

“Hari ini ada anak-anak dari Faiz Hendrajaya di gedung ini,” kata sekuriti.

“Oh ya?”

“Ya, dan kami sangat disibukkan dengan hal ini. Pengamanan ditambah dan berlapis,” jawab sang sekuriti.

Bukan urusanku pikirku. Dan aku pun pergi dari tempat itu.

****

2 Tahun Kemudian

Dua tahun setelah aku mengantarkan harddisk portable itu Lucifer tak pernah datang lagi menemuiku. Sepertinya tugasku sudah selesai. Uangnya sebesar 6 Milyar benar-benar membuatku tak bisa berhenti berfoya-foya. Hampir tiap hari aku ngentot dengan para pelacur. Baik didugem maupun di rumahku sendiri.

Seperti malam ini tentunya. Aku pergi ke Future Club, sebuah kelab malam yang menjadi langgananku. Aku duduk langsung memesan Vodka di sebuah gelas kecil. Luar biasa musiknya dan banyak cewek-cewek cantik di sana. Seorang mucikari mendatangiku.

“Halo Low, apa kabar?” tanyanya.

“Baik, ada barang baru?” tanyaku.

“Tuh! Baru datang, wajah oriental dan aku yakin kamu pasti suka,” jawabnya.

Aku menoleh ke seorang cewek berambut merah. Dia tampaknya mabuk. Wajahnya oriental dia melihat aku sekilas dan tersenyum. Ia ikut bergoyang seirama musik dugem yang berdetum-detum.

“Aku panggilkan, Red!” teriaknya.

Dia pun kemudian memanggil Red. Walaupun mabuk, tapi wajahnya sangat cantik. Red mendekat dan aku bisa mencium bau parfumnya padahal jarak kami ada beberapa meter. Ketika sang mucikari menyerahkannya kepadaku, aku segera melemparkan seamplop uang kepadanya. Sudah biasa aku lakukan. Sang mucikari mencium amplop itu.

Aku lalu menjamah Red. Kucium bibirnya. Bau alkohol. Ia benar-benar mabuk. Aku lalu menciumi lehernya, kuhisap lehernya sampai cupang. Ia mendesah dan menggesek-gesek penisku dari luar celana. Ohhh…Fuck…baiklah, kau memang ingin rupanya. Aku lalu menggeret dia. Di klub ini ada sebuah kamar yang memang biasanya aku buat untuk ngentot. Tempatnya ada di bawah tanah.

Red sepertinya mengerti. Ia gantian yang menarikku. Aku senang-senang saja sih. Kami pun sampai di bawah tanah. Di sana ada kamar-kamar yang sudah disiapkan. Aku lalu melihat sebuah kamar dengan lampu yang tidak menyala. Artinya tidak dipakai. Red langsung menggeretku. Wooghh…dia benar-benar panas.

Aku masuk ke kamar itu sambil menciumi bibirnya. Dia benar-benar menggairahkan. Aku membuka bajuku, ia bantu aku membuka bajuku semuanya. Dan wogh, dia pakai lingerie! Dadanya masih terbungkus bra hitam mengkilat. Otongku tambah bengkak aja kalau lihat dia begitu seksi seperti ini. Dia mengocok milikku sambil menciumiku. ooohh…nikmatnya. Tiba-tiba dia mendorongku ambruk ke atas ranjang.

Hooo…main kasar rupanya. Ia lalu mendudukiku. Menciumi dadaku. Hahahaha…aku suka cewek binal ini. Penisku diletakkan tepat di memeknya. Tapi memeknya masih terbungkus jadi dia menggesek-gesekkan saja. Ohhh…nikmat sekali. Dia memang sudah profesional. Aku pasrah aja sekarang. Dia terus menggesek-gesekkan penisku, gila aja makin keras saja penisku dibuatnya. Lalu ia berhenti dan memegangi penisku. Aku merasakan sesuatu di bawah sana. Benda yang dingin. Aku memejamkan mata tak tahu apa yang terjadi. Tapi ia menghentikan aktivitasnya. Begitu aku buka mataku….WHAT THE FUCK!??

Aku melihat Red sudah berubah. Matanya tajam tidak seperti mata orang mabuk. Dan di tangan kanannya terhunus sebilah pedang samurai yang mengereh ke leherku. Dan aku melirik penisku sedang berada di tengah seperti sebuah alat pemotong.

“Move, then your pennis will be cut,” katanya.

“What the fuck?? What the fuck are you doing? Who are you?” tanyaku.

“Where is S-Formula? Where is that?” tanyanya.

“I don’t know. Even you kill me, I won’t tell you,” jawabku.

“Fine then, how about your pennis first?!”

Hah? Eh, barangku bisa ilang dong! Gila apa?? Dia nggak main-main.

“Www…wait…wait…wwait!” seruku.

“So, Where is it?”

Aku melihat tangan kirinya sudah hampir saja memotong penisku pas pada pangkalnya. Kalau ia lakukan sedikit gerakan saja bisa ilang itu joni.

“I gave it to Dr. Edward,” kataku.

“Dr. Edward? Who is he?”

“I don’t know, some people from M-Tech.”

“Are you sure?”

“Yeah, I am damn sure!”

Red yang tiba-tiba berubah sadis itu. Menatap mataku lekat-lekat.

“Would you let me go?” tanyaku.

“Sorry, I came here to finishing you!” jawabnya.

Dan dari bawah sana tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat. Bangsaaaattt….cewek ini memotong kemaluanku. Darah langsung menyemprot dari penisku. Ditambah lagi ia menusukkan pedangnya ke leherku. Dia…diaaa…siapa dia ini….???

Apakah ini akhir dari hidupku??….Dengan tenang dia turun dari tempat tidur dan membersihkan darah yang mengenai tubuhnya. Aku hanya bisa meliriknya. Tubuhku mati rasa. Aku menjadi dingin, pandanganku pun gelap. Tubuhku gemetar, entah berapa banyak darah yang keluar dari lukaku. Yang jelas, aku sudah tak sadar lagi setelah itu.

***

BAB I

The First Stage

NARASI MOON

Aku berkumur-kumur. Hari ini aku akan langsung kembali ke Seoul. Aku baru saja membunuh Low, sekaligus memotong kemaluannya. Dasar penjahat kelamin. Aku memang suka sekali menghajar penjahat-penjahat semacam dia. Low sudah menjadi target operasi selama beberapa bulan ini. Semua ini karena S-Formula. Semenjak isu tentang Genesis tercium oleh beberapa dinas intelejen dunia, semuanya bersatu berusaha untuk mendapatkannya.

Namaku Jung Ji Moon, panggilanku Moon dari NIS, Dinas Intelejen Korea Selatan. Kode Rahasiaku Si Rambut Merah. Julukan Si Rambut Merah adalah karena rambutku yang memang berwarna merah. Ini semua karena turunan dari ibuku seorang wanita Hungaria, ayahku orang Korea. Aku sudah setahun ini berada di Indonesia. Semua itu hanya karena satu hal. Bekas anggota Genesis memberitahu kalau S-Formula ada di Indonesia. Aku tak menyangka bahwa benda seberharga itu berada di tangan penjahat kelamin semacam Low. Aku sudah berkali-kali melakukan hal ini. Menggoda target, kemudian menghabisinya. Entah sudah berapa nyawa yang aku cabut. Apalagi aku punya lisensi untuk membunuh. Aku seorang profesional, maka dari itu tidak sembarangan membunuh orang.

Aku di Indonesia ini bersama empat agen lainnya. Mereka adalah Peter dari CIA, Nikolai dari SVR, John dari MI6 dan Devita dari BIN. Kami berlima bekerja sama dan ditugaskan oleh PBB. Tugasku untuk mencari informasi keberadaan S-Formula telah selesai. Ternyata dibawa oleh Dr. Edward.

Sebuah panggilan masuk. Dari Peter. Aku kemudian menekan ponselku, “Yes? Is this line secure?”

“Just relax, I’m sure of it. This line is secure. How is it?” tanya Peter.

“He mention Dr. Edward. He said this doctor know this shit,” jawabku.

Aku melepas semua bajuku. Dari atasan, braku, lingerieku. Aku ingin mandi setidaknya biar bau amis darah ini tidak melekat di badanku. Aku kemudian berjalan ke kamar mandi sembari membiarkan ponselku berada di meja dengan handsfree.

“Dr. Edward? Wait a sec!” kata Peter. Dia terdiam cukup lama sampai kemudian yang berbicara orang lain.

“Moon, Dr. Edward was work at M-Tech. But now he was missing,” ujar seseorang bersuara wanita. Dia pasti Devita. “And that was the bad news. He just like disapear. The good news is we know where is the S-Formula. And its positive.”

“Devita? Are you four in there?” tanyaku.

“Yes we are,” jawabnya.

“Okay, we wait order from commander. We will catch you up later,” kata Devita. “Happy shower.”

“OK, thanks,” kataku sambil membasuh tubuhku. Air dingin yang mengguyur tubuhku serasa nikmat sekali. Melepaskan seluruh rasa kelelahan yang melekat pada tubuhku. Darah Low pun perlahan-lahan mulai melepaskan diri dari tubuhku.

Setelah mandi, aku mengeringkan diriku dengan handuk dan hair driyer. Setelah itu aku mengambil ponselku lagi. Aku kemudian membuka file. Di sana ada banyak gambar. Aku melihat foto ibuku di sana. Ohh…aku jadi kangen beliau. Pekerjaan sebagai agen rahasia membuatku jauh dari dia. Bahkan sekedar menelponnya pun aku tidak bisa. Terkadang aku hanya bisa melihat beliau dari jauh saja sudah beruntung.

Ayahku adalah seorang tentara. Beliau adalah pahlawan bagi Korea. Beliau meninggal ketika aku masih berusia lima tahun. Pengorbanannya dalam membela negara adalah sebuah kebanggaan bagi keluarga kami. Semenjak itu aku pun ingin mengorbankan diriku untuk negaraku. Berjuang dari bawah, ikut ujian negara, ikut wajib militer, kemudian menjadi agen rahasia termuda pada jamanku. Menyelesaikan banyak misi dan meraih 5 medali penghargaan. Aku akan melakukan apapun untuk negaraku, sekalipun itu bertentangan dengan prinsip hidupku.

Tapi entah kenapa misi yang sekarang ini rasanya tidak begitu mudah. Perasaanku tak enak. Itu saja. Bagaimana tidak, target tidak jelas, dan kita sudah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun tapi belum ada hasilnya. Sebelum aku sebenarnya ada seorang agen yang ditugaskan. Dan dia adalah cinta pertamaku. Sayangnya cinta kami cuma sesaat, sebelum kejadian itu menimpa dia.

Ceritanya adalah beberapa tahun yang lalu.

Nama dia adalah Park Sun Il. Aku biasa memanggilnya Suni. Pertama kali bertemu dengan dia saat mengikuti tes sebagai agen rahasia NIS. Suni orangnya menyenangkan. Dan kemampuannya sangat terampil dalam senjata, sandi dan dia termasuk agen yang mendapatkan nilai test tertinggi di kesatuan kami.

“Hai,” sapanya. Dia duduk di sebelahku.

“Hai,” jawabku.

Kami sedang berada di sebuah aula. Dikumpulkan oleh komandan tertinggi NIS. Hari ini adalah hari di mana kami menerima predikat lulus. Dan besok pasti langsung bertugas untuk negara.

“Namamu Moon bukan?” tanya Suni.

“Kenapa?” tanyaku.

“Dari semua agen rahasia, cuma kamu yang punya wajah seperti girlband,” guraunya.

Aku tersenyum. Aku tahu dia menggodaku akhir-akhir ini, tapi aku yang terlalu cuek kepadanya.

“Ssshhtt…kita sedang dibriefing,” kataku.

“Ada acara besok?” tanyaku.

Aku mengangkat bahu.

“Baiklah, bagaimana kalau makan malam?”

“Silakan berusaha keras, aku tetap tidak mau,” kataku.

Dia menghela nafas. “OK.”

Setelah briefing dan pidato dari komandan NIS itu. Semua anggota NIS yang baru dilantik pun bubar. Tapi tidak denganku dan Suni. Kami dipanggil oleh atasan. Ketika berjalan melalui lorong yang panjang tempat di mana aku harus menemui komandan kami, Suni lagi-lagi menggodaku.

“Moon, sekali saja?” kata dia sambil mengacungkan jarinya.

“No!” jawabku singkat.

Ia menunjukkan muka tidak senang. Aku tertawa geli. Tingkahnya seperti anak kecil. Ini salah satu yang aku suka dari Suni. Dia juga easy going. Tak berapa lama kemudian aku dan Suni sudah masuk ke ruang komandan. Komandan sudah menunggu di sana.

“Bagus kalian datang. Ini tugas pertama kalian,” kata komandan.

Kami seolah-olah tidak diberi waktu istirahat. Ia segera mengajak kami ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh para agen lainnya. Mereka semua tampak sedang menunggu instruksi komandan di meja mereka masing-masing. Ruangan ini belum pernah aku sentuh dan bisa jadi setelah ini ruangan ini akan kerap kali aku kunjungi. Ketika berada di ruangan itu wajah Suni yang tadinya sedikit cengengesan sekarang berubah serius. Berbeda 180 derajat.

Di layar monitor aku diperlihatkan sebuah gambar wajah.

“Namanya Roger Baltrow. Orang Georgia. Dia ditengarai telah membawa file rahasia negara. Orang yang menyerahkannya adalah Mayor Park Myun Bing. Orangnya telah ditangkap, tapi tidak dengan Roger. Misi kalian cukup menghabisi orang ini sebelum menyerahkan file yang dibawanya ke tangan pemerintah Rusia. Aku menugaskan kalian berdua karena kalian dua orang yang paling baik di dinas ini. Tactical Mission akan aku kirimkan ke email kalian. Ada pertanyaan?” kata Komandan.

“Kemampuan orang ini?” tanya Suni.

“Orang ini ahli beladiri, dia juga pernah mengenyam pendidikan militer. Mantan Anggota Spetnaz. Dia juga terlibat pemberontakan di Ukraina. Dia ahli senjata, bom dan juga ahli dalam menggunakan pisau. Pertarungan jarak dekat dengan dia tidak disarankan. Cukup tembak dia dari jarak jauh. Ambil filenya dan selesai,” kata komandan.

“Dimana dia sekarang?” tanyaku.

“Kabar terakhir, dia berada di sebuah hotel di Seoul. Sepertinya ia akan bertemu dengan sang pembeli di sana,” kata komandan.

“Hotel?” gumamku.

“Jangan kira dia tidak mempersiapkan semuanya. Anak buahnya mungkin saja sudah disebar di sekitar tempat itu,” kata komandan. “Ini simulasinya.”

Layar monitor berubah. Kami melihat bangunan Hotel Seoul. Kami juga melihat titik-titik lain yang kemungkinan itu adalah tempat anak buah Roger berada. Komandan membriefing kami bagaimana caranya untuk mendapatkan file itu dari tangan Roger. Tak berapa lama kemudian kami sudah harus bergerak.

***

Aku sudah berada di hotel dengan pakaian seksi, gaun dengan panjang sepaha. Aku tak membawa senjata apapun untuk bisa masuk ke hotel. Tujuanku hanya satu, tahu di mana file itu berada, setelah itu menghabisi Roger dan selesai. Hari ini aku menyamar menjadi wanita panggilan. Huh…sebel, kenapa selalu wanita panggilan? Mungkin karena aku begitu menggoda sampai hampir tiap misiku selalu seperti ini.

Roger berada di kamar 311. Aku sudah berada di ruang resepsionis saat dua orang berpakaian hitam langsung menyambutku. Mereka ini adalah anak buah dari Roger.

“Red?” tanya salah seorang dari mereka.

Dengan sedikit bergaya binal aku mengangguk. Mereka saling berpandangan dan tersenyum.

“Ayo ikut!” kata salah satu dari mereka.

Aku kemudian dibawa ke lantai 311. Aku memakai codec yang aku pasang di telinga. Agar bisa berkomunikasi dengan Suni. Dia adalah bertugas melindungiku. Dan juga sebagai penjemput.

“Moon, kenapa kamu tidak mau jalan denganku?” tanya Suni. Lagi-lagi dia bertanya soal itu. “Ayolah, kamukan masih sendiri, belum ada siapa-siapa yang bakal sewot kalau aku jalan denganmu. Kalau kamu mau garuk-garuklah kepala, kalau tidak garuklah lenganmu.”

Aku menggaruk lenganku. Dia melihatku dari jauh dengan sniper riflenya dari gedung seberang.

“Ayolah, Moon!” aku tahu Suni kesal. Aku sebenarnya lebih kesal. Hampir selalu digoda oleh dia. Sebenarnya entah kenapa aku tidak mau. Mungkin karena aku terlalu takut untuk menjalin hubungan dengan pekerjaan seperti ini.

Setelah berada di depn kamar 311 kedua orang itu meremas pantatku. Sialan. Pengen kutonjok saja mereka.

“Masuk saja, si boss menunggu,” kata mereka. Kemudian mereka meninggalkanku.

Aku berbisik kepada Suni, “Bisa nggak, kita bicarakan ini setelah pekerjaan?”

“Kalau tidak sempat?”

“Hhhhh…,” aku menggeram.

“Habis misi ini? Bagaimana? Ayolah, dari dulu kau selalu menolak, sekali-kali mau dong,” katanya.

“Fine, setelah misi,” kataku.

“Kalian bisa bicarakan kencan kalian lain waktu?” celetuk seseorang di frekuensi kami. Operator An Li.

“Sorry, frekuensi dikembalikan seperti semula,” kata Suni.

“Baiklah, Moon. Bergerak!” kata An Li.

Aku segera membuka pintu kamar 311. Di dalamnya ada seorang berpawakan kaukasia. Badannya tegap, dia memakai kimono. Dia cukup tinggi. Aku bisa melihat otot kekarnya di lengan. Mungkin dengan sekali pukul orang bisa KO. Well, paling tidak aku akan mencoba cara yang lebih lembut.

“Oh…masuk, siapa nama kamu? Moon? Kamu memang secantik rembulan,” kata Roger.

Aku menutup pintu.

“Dia sudah masuk,” kata Suni di codec.

Aku kemudian berjalan dengan langkah menggoda. Sambil kuarahkan pandanganku menyapu seluruh ruangan, mengingat-ingat semua benda yang ada di kamar ini. Ruangan yang cukup luas. Ada sebuah lemari baju, apakah file itu di sana? Tidak, terlalu mudah. Di bawah tempat tidur? Itu juga terlalu mudah. Aku juga melihat sebuah pistol Nighthawk Desert Eagle berwarna perak berada di meja dekat ranjang. Hingga aku melihat sebuah koper kecil. Apakah itu? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.

Aku kemudian mendekat ke arah koper itu sambil berjoget erotis. Tak perlu ditanya kapan aku belajar. Yang jelas aku sudah memakai cara seperti ini cukup lama. Roger sepertinya suka sekali, bahkan sekarang ia bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arahku. Aku kemudian mulai menyentuh koper itu sambil merangkak. Tangan Roger langsung menampikku. Ia menarikku dan memeluk tubuhku. Aku diciumnya, bibirku dihisapnya.

Aku bisa merasakan sesuatu benda yang sangat panjang mengeras di bawah sana. Baiklah, dia sudah horni. Dari sikapnya jelas sekali koper itu sangat penting. Ia menciumku sambil meremas pantatku. Vaginaku digesek-gesek oleh tonjolan di kimononya. Ciumannya bergeser ke leher, dihisapnya leherku. Kemudian aku ditarik olehnya. Aku kemudian dilempar ke atas ranjang. Aku cuma tertawa melihat tingkahnya.

“Aku tak tahu kalau kamu begitu menggairahkan sayang,” pujinya.

“Kenapa kamu tadi melarangku menyentuh koper itu?” tanyaku.

“Sebab isinya terlalu berharga sayang, itu sebabnya aku tak mau kamu mengotorinya,” ujarnya.

Kimono Roger sudah dilepas. Kini ia telanjang.

“Ok, kita sudah dikonfirmasi. Benda itu ada di koper. Moon, habisi dia!” kata An Li.

Aku tersenyum, kemudian kuarahkan kakiku melingkar ke lehernya seolah-olah memberikan vaginaku ke mulutnya, namun dengan cepat kutarik sebuah kawat di kuku jempolku. Kawat itu tipis namun sanggup memotong apapun. Aku lingkarkan ke batang penis Roger dan dengan cepat seperti ular aku melompat dan berada di pundaknya, mengunci lehernya. Ia lalu ambruk terlentang dengan aku mengunci leher dan menjerat penisnya.

“FUCK!” umpatnya.

“Kamu ingin penismu utuh atau nyawamu?” ancamku.

“Oh Moon, habisi saja langsung jangan dianggap terlalu personal!” kata An Li di radio.

“Biarkan dia An Li, orang itu perlu diberi pelajaran,” balas Suni.

“Kau tak akan keluar hidup-hidup dari tempat ini!” kata Roger.

“Kepada siapa kau akan jual file itu?” tanyaku.

“Bukan urusanmu,” jawab Roger.

“Baiklah, kau ingin kehilangan masa depanmu ternyata,” kataku. Aku sedikit menarik kawat itu dengan kedua tanganku.

“Tt…tu..tttunggu dulu!” katanya.

“Katakan!” ancamku.

“L..Lucifer…kepada Lucifer,” katanya.

“Siapa dia?”

“Aku tak tahu. Dia mengaku namanya Lucifer. Dia membayarku mahal untuk mendapatkan file itu.”

“OK Moon, ini baru. Coba korek lagi!” kata An Li.

“Hei, bukankah misinya agar menghabisi Roger?” kata Suni.

“Tapi setidaknya ini juga penting,” ujar An Li.

“Di mana dia sekarang?” tanyaku.

“Kamu tidak bisa mencarinya, dia yang akan mencarimu. Kamu kira dia tidak melihatmu sekarang? Hahahahahaha.”

Aku melirik ke seluruh ruangan. Tak ada yang mencurigakan, tak ada kamera pengintai…oh tunggu, kecuali….

“Benar, kamu baru mengetahuinya sekarang. Kegagalan tidak bisa diterima oleh Lucifer. Dia benar-benar akan mengambil file itu dan memastikannya selamat sampai di tangannya. Aku hanya sebagai perantara saja. Sudah kubilang, dia tidak bisa dicari tapi dia akan mencarimu,” kata Roger.

Keparat. Aku menarik kawat itu. SCRAAATT! CUUURRR! Darah langsung mengucur deras dari selakangannya. Roger menjerit kerass. Kemudian dengan memutar tubuhku kupatahkah lehernya. CRAK! Suara patahnya leher Roger, terdengar. Aku kemudian memeriksa denyut nadinya. Dia sudah mati.

“Target eleminated!” kataku.

“Brace yourself, dua bandit akan masuk ke kamar!” kata Suni.

“Kau bisa membersihkannya?” tanyaku.

“Tidak bisa, aku terhalang!” kata Suni.

AKu kemudian mengambil pistol yang ada di atas meja. Begitu dua orang anak buah Roger masuk aku langsung menembak keduanya tanpa mereka siap sama sekali. Dua tembakan tepat mengenai kepala mereka. Semuanya terkapar. Aku memeriksa magazinenya. Cuma ada lima peluru lagi. Aku kemudian melangkah mengambil koper yang ada di atas meja.

“Berapa kodenya?” tanyaku.

“701”, jawab Suni.

Kubuka koper itu. Di dalamnya ada berkas-berkas. Tampak lambang negara Korea ada di sana. Tak salah lagi ini adalah file yang dimaksud. Aku tutup lagi koper itu.

“Suni, penjemputan!” kataku.

“OK! kamu berjalan saja lurus kemudian lompat dari lantai itu,” kata Suni.

Dengan percaya diri aku keluar dari kamar 311. Dari luar ternyata sudah ada beberapa orang yang menghadangku dengan senapan uzi. Mereka memberondongiku dengan peluru. Aku menghindar dan berlindung di balik tembok. Setelah mereka tenang dan tidak menembak aku kemudian keluar. Orang-orang itu aku balas dengan tembakan. Satu, dua, tiga, empat, lima. Peluruku habis. Kubuang senjataku. Lima orang terkapar di lantai. Aku masih berjalan dengan tenang. Kuambil senapan uzi yang tergeletak di atas mayat anak buah Roger. Ada orang datang lagi, langsung aku berondong dengan uzi. Dia terpental ke belakang. Ku tembak kaca yang ada di hadapanku. Sebuah pesawat helikopter tiba-tiba sudah berada di luar sana.

Aku bisa melihat Suni sedang membidik dan membersihkan jalan untukku. Aku lalu berlari secepatnya dan melompat ke helikopter itu. Aku seperti membelah angin. Kubisa merasakan bagaimana adrenalin memacu jantungku. Tanganku digapai oleh Suni. Aku sedikit hilang keseimbangan tapi aku sudah berada di dalam heli.

“Si Rambut Merah sudah ada di tangan, paket terselamatkan. Kita pergi,” kata An Li.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*