Home » Cerita Seks Mama Anak » Mamaku Hamil 9

Mamaku Hamil 9

Siang hari itu menjadi siang yang menyedihkan bagi bayu. Ketika dia bersama sang mama pergi meninggalkan rumah kakek-neneknya, kakek dan neneknya melihat begitu saja sambil terheran-heran. Bayu yang melihat wajah kakek-neneknya hanya terdiam membisu. Anak itu kini sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua orang tuanya. Dia juga bingung sang mama yang menyeret dirinya hendak mengajak pergi kemana. Langkah bayu dan sang mama begitu terburu-buru hingga yang melihat mereka pasti bertanya-tanya, termasuk pak bejo yang kebetulan berada di sekitar mereka.

“Hey bayu! Kamu mau kemana? sahut pak bejo melihat bayu bersama sang mama

“Gak tahu nih pak, mama mau kemana” jawab bayu

Pak bejo hanya terdiam melihat bayu bersama mamanya yang berjalan semakin jauh. Sementara bayu hanya mengikut kemana sang mama menuntunnya pergi.

“Ma, kita mau kemana?” tanya bayu menatap mata sang mama yang masih sembap

“kita mau pulang ke jakarta bayu” ucap nia sambil berjalan tergesa-gesa bersama putranya

“Kok gak bareng papa, ma? tanya bayu kembali

“Gak usah. Papa kamu itu udah jahat sama mama”

Tak lama kemudian melintas di depan keduanya sebuah mobil angkutan pedesaan. Keduanya naik angkutan tersebut. Di dalam angkutan itu Bayu tak sempat bertanya kembali kepada sang mama. Ia hanya terdiam mengikut kemana kendaraan umum itu akan membawanya bersama sang mama. Dan ternyata, bayu dan mamanya turun di trayek terakhir angkutan tersebut, yaitu sebuah terminal bayangan yang tak begitu banyak bus besar di sana. Bersama mamanya lalu bayu berkeliling mencari bus tujuan jakarta. Selama berkeliling kesana kemari para supir dan lelaki di terminal memperhatikan bayu dan sang mama. Namun, keduanya tidak begitu peduli. Mereka begitu tergesa-gesa sehingga tak menggubris orang yang yang memperhatikan mereka. Pada akhirnya sampailah mereka di bus yang mereka cari-cari. Naiklah keduanya. Di dalam bus, suasana tidak begitu ramai penumpang. Bayu dan mamanya memilih sepasang kursi di sisi kanan bagian tengah bus. Mereka duduk dan mengambil nafas sembari menunggu bus berangkat.

Di sisi lain, ayah bayu, haris, sedang duduk di ranjang, tempat istri dan anaknya tidur semalam. Ia terengah-engah usai bertengkar dengan sang istri. Tak lama ayah dan ibunya beranjak ke atas, tempat haris berada. Mereka bertanya kepada haris mengapa nia dan bayu pergi begitu terburu-buru meninggalkan rumah.

“Ris, itu kenapa istri dan anakmu pergi begitu tergesa-gesa?” tanya ibu haris agak panik

“Aku habis bertengkar sama nia bu. Aku marahin dia. Dan gak hanya itu aku juga menampar istriku bu… ” ucap haris pelan

“Astagfirullah riss…. sebenarnya ada masalah apa kamu dengan istri kamu sampai-sampai harus bertengkar di rumah ayah-ibumu?” tanya ibu haris dengan wajah terkejut

“Iya kamu ris..,, baru datang kok kamu langsung marah-marah…. sampai nampar istri kamu lagi. Itu kan keterlaluan ris” ucap ayah haris dengan nada agak meninggi

“heem… gak ada apa-apa kok bu, pak. Cuma salah paham aja”

“Gak ada apa-apa bagaimana ris? Kamu saja sampai menampar istrimu nak..” ucap ibu haris kecewa

“Seumur hidup aja ayahmu ini kalau bertengkar sama ibumu gak sampai main fisik ris..” ucap ayah haris menegur anaknya

“Yaudah deh pak, saya pamit pulang ke jakarta” ucap haris malas sambil mengambil sisa bawaan istri dan anaknya yang masih tertinggal

“Oh ya, apa anakmu tadi melihat kamu bertengkar dengan istrimu?” tanya ibu haris penasaran

“Kayaknya sih iya bu. Tapi, gak tahu juga deh bu. Yaudah ayah.. ibu.. aku pamit balik ke jakarta dulu” ucap haris pamit kepada kedua orang tuanya.

“Aduuhh nak… nakk.. kasian sekali cucuku itu apalagi kalau sampai dia tahu orang tuanya bertengkar” ucap ibu haris sambil menyalami sang anak

“Kamu usahain perbaikin hubungan kamu sama istrimu ris… kasian bayu kalau kejadian seperti sekarang ini” ucap ayah haris

Haris kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya. Orang tua haris pun mengantar haris sampai ke mobilnya. Sesampai di mobil, haris langsung menyalakan mesin mobilnya dan menginjak gas sembari memberi ucapan dan lambaian perpisahan kepada orang tuanya.

Setelah itu orang tua haris kembali masuk ke rumah. Hanya saja, tiba-tiba pak bejo menghampiri ayah haris, pak paijo.

“Pak paijo, pak paijo…..” ucap pak bejo memanggil

“Ada apa jo?” tanya pak paijo heran

“Itu tadi saya lihat nia dan bayu terburu-buru, mau kemana ya pak?”

“Oh itu. Nia habis bertengkar sama anakku” ucap pak paijo pelan

“Lah kok bisa gitu pak?”

“Gak tahu deh jo kalau itu. Aku juga gak ngerti” ucap pak paijo kembali

“Yahh kita gak bisa genjot nia lagi dong kalau begitu pak”

“aduhh jo jo… kamu daripada mikirin begituan mendingan kamu lanjutin tuh pekerjaanmu” ucap pak paijo agak kesal.

“Yaudah deh pak. Kalau begitu saya permisi bekerja lagi”

Pak paijo usai meladeni buruh taninya kembali masuk ke rumahnya. Dia memilih duduk di kursi ruang tamu sambil memikirkan sesuatu. Sementara istrinya sedang sibuk memasak makan siang yang sempat tertunda di dapur.

“Adduhhh hariss… hariss…. kamu ngerusak kesenangan bapakmu saja nak..”

“Hemmm………. kayaknya sih asyik juga kalau sampai anakku bercerai dengan istrinya”

“Tapi, masa iya sih ada seorang bapak yang pengen anaknya bercerai” pikir pak paijo

##########

Sementara bayu dan mamanya sudah berada di dalam bus yang sedang melakukan perjalanan menuju jakarta. Mereka duduk berdua di sepasang kursi yang cukup terawat. Bayu duduk dekat jendela. Sementara sang mama di sebelahnya. Bayu terdiam begitu juga sang mama sejak bus tersebut berangkat. Keduanya sama-sama memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi.

“De… kalau kamu disuruh milih, kamu pilih mama atau papa?” ucap nia tiba-tiba menoleh kepada bayu

“Hemmm dua-duanya ma” jawab bayu agak terkejut

“Gak bisa de, kamu harus pilih salah satu” ucap nia tegas

“Heemmm gak boleh dua-duanya ya ma?”

“Gak boleh de…” ucap nia kembali

“Heemmm mama deh. Soalnya mama lebih deket sama aku ketimbang papa” sahut bayu sempat berpikir sebentar

“Oh” ucap sang mama menghela nafas

Bayu tidak mengerti dengan pertanyaan sang mama. Dia menduga-duga sepertinya orang tuanya akan berpisah. Menurutnya, pertanyaan sang mama berkaitan dengan dia harus memilih tinggal dengan siapa. Anak itu kini begitu cemas usai berpikir demikian. Sepanjang perjalanan dia hanya diam dan tak lama ia duduk tertidur.

Sementara mama bayu, nia, sibuk memikirkan sesuatu sehingga membuat ia lebih banyak diam. Persoalan yang dihadapinya membuat dia amat terbebani. Ia sedang berpikir bagaimana langkah selanjutnya setelah bertengkar dengan sang suami. Ia mempertimbangkan apakah akan lebih memilih berpisah atau tidak dengan suaminya. Selain itu Ia juga berpikir bagaimana nasib anaknya nanti. Tiba-tiba seorang kondektur bus menyapa nia.

“bu, bu, maaf bu, ongkos perjalanannya mana bu?” ucap kondektur tersebut menyapa

“Eh iya pak… maaf. Sebentar….” ucap nia sambil memeriksa tasnya

“Gila nih ibu montok amat. Kalau gue jadi suaminya sebulan deh gue libur di rumah terus. Gua kelonin tiap hari dahh habis ituu” ucap kondektur dalam hati

“Ini pak…” ucap nia sambil memberi uang kepada kondektur tersebut

“Oh ya makasih bu”

Sungguh beruntung nia. Dia sempat panik tidak ada uang untuk membayar ongkos bus. Untung saja di tasnya masih ada sisa uang belanja bulanan yang diberikan suaminya. Ia berikan secukupnya kepada kondektur bus. Setelah itu nia kembali terdiam melamun. Rasa kantuk pun muncul akibat lama melamun. Wanita itu menyusul putranya yang sudah tertidur lebih dulu.

………………………………………….

Sore hari……

“Bu, bu, ibu, maaf bu, kita sudah sampai nih bu di tujuan akhir nih” ucap kondektur bus sambil menepuk pundak nia pelan

“Eh??? Udah nyampe ya pak?” tanya nia kebingungan usai bangun dari tidurnya sepanjang perjalanan

“Iya nih bu” ucap kondektur yang kemudian pergi meninggalkan nia

“Bayu…. adee… de…. bangun de… kita udah nyampe di jakarta nih” ucap nia mengelus rambut putranya

“Hoaaahheeeemmm udah nyampee ya maa?” tanya bayu yang matanya masih terlihat mengantuk

“Iyaa de… yuk kita turun” ucap nia sambil memegang tasnya

“Iya maa…”

Bayu dan mamanya akhirnya sampai di Jakarta. Mereka tiba di sebuah terminal besar yang cukup tertata. Setelah itu bayu dituntun mamanya turun dari bus yang mereka naikki. Keduanya lalu mencari taksi untuk pulang ke rumah. Ketika keduanya mencari taksi, lagi-lagi para lelaki di sekeliling terminal memperhatikan mereka. Hanya saja bayu dan mamanya terlalu sibuk mencari taksi sehingga tak menyadari hal itu. Tak beberapa lama mereka menemukan taksi yang mereka cari. Lalu bergegaslah keduanya masuk dan pergi dengan taksi tersebut menuju rumah yang ditinggalkan. Tidak ada percakapan sama sekali di dalam taksi. Keduanya masih saja terdiam. Sesampai di depan rumah dengan menggunakan taksi, bayu dan mamanya masuk ke rumah. Hanya saja bayu agak heran ketika sang mama meminta supir taksi menunggu sebentar. Bergegas masuklah bayu dan mamanya ke rumah. Namun, langkah keduanya terhenti karena pintu masuk rumah terkunci. Bayu memperhatikan sang mama sedang mengambil sesuatu di tas, ternyata sebuah kunci duplikat pintu rumahnya. Lalu mamanya membuka pintu dengan kunci tersebut. Alhasil, pintu pun terbuka. Keduanya lekas masuk ke rumah.

Bayu terduduk di sofa ruang tamu. Sementara mamanya langsung masuk ke kamar.Di kamar, nia mengambil sebagian pakaiannya. Ia juga mengambil sebuah koper agak besar. Lalu ia masukkan pakaiannya tersebut ke koper. Tak lupa Ia mengambil uang simpanannya di lemari. Setelah itu ia lekas keluar kamar dengan membawa kopernya.

“Bayu.., kamu ambil sana gih sebagian pakaian kamu di kamar. Eh iya, jangan lupa seragam dan perlengkapan sekolah kamu diambil juga. Terus masukkin ke ransel kamu yang gedean” ucap nia kepada sang putra

“Kita mau kemana memangnya, ma?” tanya bayu penasaran

“Yaudah gak usah banyak tanya, ambil aja dulu deh sana..” ucap nia agak kesal

Mendengar ucapan sang mama, bayu langsung menuju kamarnya. Ia menuruti apa yang diucapkan mamanya. Ia ambil ranselnya yang berukuran besar. Lalu ia ambil sebagian pakaiannya dan memasukkan pakaian tersebut ke ransel. Tak lupa ia memasukkan seragam sekolahnya. Hanya saja, ia sedikit bingung dengan perlengkapan sekolah, seperti buku pelajaran dan sepatunya. Ia lalu keluar kamarnya sebentar.

“Ma, tapi buku sekolah, kaos kaki, dan sepatu sekolahku gimana? gak bisa dimasukkin semua ke ransel” sahut bayu kepada mamanya yang sedang menunggu di ruang tamu.

“Yaudah kalo kaos kaki dan sepatu, kamu bungkus dalam satu plastik gede. Kamu ambil plastiknya di dapur. Kalau masalah buku kamu, nanti belakangan aja mama yang ambil”

“Oh yaudah kalo gitu”

“Yaudah cepet de… jangan lama-lama..” ucap nia mengingatkan putranya

Bayu lalu melakukan apa yang diucapkan sang mama. Ia terlebih dahulu mengambil plastik berukuran besar di dapur. Lalu ia kembali ke kamarnya. Di dalam kamar ia masukkan sepatu sekolah dan kaos kakinya ke dalam plastik tersebut. Buku pelajaran yang sebenarnya sudah ia persiapkan untuk dibawa, ia tinggalkan begitu saja. Setelah selesai ia keluar kamarnya. Ia melihat sang mama sedang menunggu di ruang tamu. Ia hampiri mamanya dengan ransel yang terlihat penuh dipunggungnya. Sementara tangan kanannya membawa plastik yang berisikan sepatu dan kaos kakinya.

“Berat ya de?” tanya nia kepada putranya

“Iya ma…”

“Yaudah kamu buruan gih taruh di bagasi taksi”

Bayu berjalan lebih dulu. Di belakangnya menyusul sang mama. Anak itu berjalan tergesa-gesa membawa barang bawaannya yang berat menuju taksi yang masih menunggu di depan rumahnya. Supir taksi yang sedang menunggu dan bersandar di taksinya lantas langsung membuka bagasi. Lalu secara bergantian bayu dan mamanya memasukkan barang bawaan mereka ke bagasi. Setelah barang keduanya terisi di bagasi, supir taksi lekas menutupnya. Mereka lantas bersamaan masuk ke taksi. Berangkatlah taksi tersebut. Di dalam taksi bayu bertanya-tanya dalam hati sebenarnya dia mau kemana bersama sang mama.

“Ma, kita mau kemana?” tanya bayu polos

“Yaudah kamu ngikut aja. Kita pergi gak terlalu dari rumah kok” ucap sang mama

Mamanya berkata demikian, bayu mengangguk saja. Dia lalu lebih melihat pemandangan di luar jendela taksi. Tak beberapa lama taksinya berhenti.

“Pak tunggu sebentar ya” ucap mama bayu kepada supir taksi

“Bayu di sini dulu ya” ucap mamanya

Bayu menunggu di dalam taksi selagi mamanya berada di luar. Dia melihat mamanya memasuki sebuah rumah bercat putih yang begitu sederhana. Tidak begitu lama, sang mama sudah kembali ke taksi. Mamanya menyuruh supir taksi untuk berjalan kembali. Namun tak beberapa jauh dari lokasi tersebut taksi itu berhenti lagi. Dan lagi-lagi mamanya keluar dari taksi dan masuk ke sebuah rumah. Hal itu terjadi berulang-ulang sehingga membuat bayu amat penasaran. Namun, di sebuah pemberhentian. Mamanya kembali keluar dari taksi. Agak lebih lama dari sebelumnya, kemudian mamanya membuka pintu taksi. Bayu mengira sang mama akan melakukan hal serupa seperti sebelumnya.

“De, yuk kita keluar. Ambil barang bawaan kamu” ucap sang mama

“Iya ma” jawab bayu mengangguk

Kala senja yang hendak berganti malam, bayu bersama mamanya mengambil barang bawaan yang berada di bagasi taksi. Setelah itu mamanya membayar taksi yang mereka sudah gunakan sejak berada di terminal. Sambil memikul barang bawaan yang berat, bayu mengikuti langkah mamanya ke sebuah rumah sederhana, namun memiliki halaman yang cukup luas. Di halaman rumah tersebut terdapat pepohonan dan bangunan memanjang yang masing-masing memiliki pintu dan jendela. Bayu berpikir itu merupakan tempat kos. Setelah itu Bayu dan mamanya disambut seorang lelaki paruh baya bernama pak broto. Dia berkulit sawo matang. Urat-urat tangannya sedikit menonjol. Bibirnya memberi kesan ia merupakan perokok berat. Usia pak broto genap setengah abad. Ia seorang duda yang sudah lama ditinggal mati istrinya. Ia juga tidak memiliki anak. Pak broto berprofesi sebagai seorang pengusaha kuliner. Tempat usaha kulinernya cukup jauh dari tempat dia tinggal. Hanya saja, ia memiliki orang yang dipercayainya mengurus usaha kulinernya. Sementara di rumahnya yang tampak sederhana dan bertingkat dua, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan merawat ikan peliharaan dan ayam jago miliknya. Selain itu, di rumahnya pak broto memiliki beberapa tempat kos yang ia sewakan.

“… Mari bu.. saya tunjukkan tempat kos ibu” ucap pak broto menyambut ibu dan anak tersebut

“Iya pak”

“Nah, bayu ini namanya pak broto. Dia pemilik rumah dan tempat kos ini. Mulai malam ini kita sementara tinggal di sini ya” ucap nia kepada putranya

Bayu terheran-heran mengapa dia harus tinggal di tempat kos. Padahal, dia memiliki rumah. Dalam pikirnya mungkin benar mama dan papanya akan segera berpisah. Anak itu berjalan bersama mamanya dan pak broto. Ia dan sang mama dibimbing oleh pak broto ke sebuah bangunan memanjang ke samping yang dirinya baru saja lihat. Ternyata tempat tersebut ialah tempat kos dimana bayu akan tinggal bersama mamanya untuk sementara waktu.

“Nah ini tempat kos ibu nia. Ini ada ruang kecil untuk menerima tamu. Di dalamnya ada satu kamar lengkap dengan kamar mandi dan dapur kecil” ucap pak broto membuka pintu tempat kos bayu dan mamanya.

“Makasih banyak ya pak” ucap nia dengan senyum manisnya

“Iya sama-sama. Eh iya bu, Jangan lupa biayanya ya” ucap pak broto mengingatkan

Pak broto langsung meninggalkan bayu dan mamanya. Sementara bayu dan mamanya langsung bergegas masuk ke tempat kos mereka. Di ruang depan terasa begitu hampa tanpa kursi dan meja. Hanya lantai yang siap digelar sebuah tikar atau karpet jika ingin duduk. Di dalam kamar kos, terdapat satu ranjang dan lemari pakaian mini. Di dapurnya hanya terdapat tempat mencuci piring dan rak piring kecil. Kamar mandinyapun seperti kamar mandi biasa yang terdapat sebuah gayung dan bak yang berisi air. Sementara bayu dan mamanya sedang duduk selonjoran di lantai ruangan depan. Bayu berbicara dengan mamanya.

“Ma, kenapa sih kita musti tinggal di sini? Kita kan punya rumah” tanya bayu jenuh

“Heemm mama kan udah bilang, papa kamu itu jahat udah bikin mama nangis. Kamu lihat sendiri, kan? Jadi, tidak ada alasan lagi buat mama tinggal sama papa” terang nia

“Kok gitu sih ma? ayo dong ma…. ayo kita balik lagi aja ke rumah” ucap bayu merengek memaksa

“Bayu! Yaudah sana kamu tinggal sama papa kamu aja!” nia memarahi anaknya

“Emmm maaf ma… bukan begitu. Tapi, nanti aku sekolah bagaimana? Kan sekolahku jadi jauh begini.

“Bayu… bayu…. nanti mama antar kamu deh” ucap nia kepada anaknya

“Buku aku bagaimana ma?” tanya bayu

“Nanti malam mama ambil” jawab nia

“Yaudah kalo begitu ma..”

Keduanya pun asyik bercakap-cakap sembari beristirahat sejenak hingga malam pun tiba

##########

Malam harinya….

Haris sebenarnya sudah lebih dulu tiba di Jakarta ketimbang istri dan anaknya yang menggunakan kendaraan umum. Hanya saja, dia tidak langsung pulang ke rumah. Dia memilih bertemu rani, selingkuhannya, di sebuah tempat makan. Keduanya asyik bercakap-cakap. Di wajah haris tidak ada rasa bersalah sama sekali setelah bertengkar hebat dan menampar istrinya. Tiba-tiba tak lama raut wajahnya berubah.

“Eh sayang, aku mau cerita. Aku barusan dari tempat ayah-ibuku. Di sana, ada istri dan anakku juga.. emmm…”

“Terus? Kamu mau ngomong apa sih” tanya rani penasaran

“Emmm aku habis bertengkar sama istriku … Malahan aku menampar dia juga”

“Astagaa hariss, kok kamu bisa begitu? oke, kamu berhubungan sama aku, tetapi gak sebegitunya juga kamu memperlakukan istri kamu” ucap rani terkaget

“Terus anak kamu tahu?” tanya rani

“Kayaknya sih tahu”

“Addduhhhhh harisss… harisss… kalau udah begini yang kasian tuh anak kamu” ucap rani kecewa

“Ya mau gimana lagi…” sahut haris pasrah

“Yaudah sekarang kamu temuin mereka. Kalau udah clear masalahnya baru kamu temuin aku”

“Tapi?”

“Yang terpenting sekarang anak kamu. Kamu pikirkan perasaannya bagaimana. Udah istri kamu gak bekerja lagi. Nanti kalau kamu pisah sama istri bagaimana nasib dia ris…? Dia yang bakal jadi korban utamanya” ucap rani mengingatkan

“Yaudah gih sana kamu temuin istri sama anak kamu”

“Yaudah aku pamit duluan..” ucap haris berpamitan dengan rani

Haris pergi meninggalkan rani seorang diri. Dia bertekad untuk pulang dan menyelesaikan urusan rumah tangganya. Hanya saja itu bukan demi keutuhan keluarganya, tetapi demi rani. Sungguh aneh lelaki itu. Pulanglah haris ke rumahnya dengan menggunakan mobil pribadi yang biasa digunakan.

Sementara rani yang ditinggal seorang diri, bertemu seorang lelaki yang dikenalnya……………..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*