Home » Cerita Seks Mama Anak » Mamaku Hamil 3

Mamaku Hamil 3

Udara segar dan kabut tipis menyelimuti sebuah villa di kota Garut. Pagi itu tampak para penghuni villa sudah beraktivitas sebelum fajar menyongsong. Hanya saja, di sebuah kamar terdapat seorang anak yang masih tertidur lelap.

“Heeyy bayu.. heey ..bayuu… bangunn.. udah pagi nih.. ayo bangun” ucap seorang ayah sambil menepuk pundak anaknya.

“apaa sihhh paapaa aku kan masih ngantukkk bangett” gerutu bayu

“Kita harus pulang ke rumah pagi ini de.. papa harus nyelesaiin pekerjaan kantor papa yang harus diserahin besok…” ucap ayahnya kembali.

“Ohhhhh” ucap bayu malas

Karena bayu anak yang baik, Bayu yang masih terlihat kusut dan malas itu bergegas turun dari tempat tidurnya yang acak-acakan. Terlebih, Ia lihat ayahnya yang sudah rapi mengenakan kemeja dan celana panjang berbahan kain. Melihat ayahnya tersebut, Ia lekas mengambil handuk dari tasnya lalu menuju kamar mandi. Sementara itu Ayah bayu, haris, kembali ke kamar. Tampak nia, sang istri, yang tampak anggun dengan blusnya sedang membereskan perlengkapan mereka.

“Jadi kita pulang hari ini mas? Gak ada jalan jalan dulu gitu?” tanya nia

“Iya nih. Besokkan aku harus ngantor. Harusnya hari ini juga aku ngantor, tapi karena pak arso ngasih izin ya gak masalah” jawab haris sambil membantu nia.

“Tapi, kita gak jalan-jalan dulu mas?” tanya nia kembali

“Lah kamu sama bayu bukannya udah jalan-jalan? Lagipula kan aku udah bilang, aku ke sini tuh nyusul mau jemput kamu. Nah, kebetulan pak arso ada urusan sama villanya yang kebetulan di Garut..jadinya bisa bareng deh”

“Ohh gitu yaa mass” jawab nia pelan

Sementara itu Bayu dengan handuk dipundaknya tampak kebingungan di depan pintu kamar. Dia bingung di mana kamar mandi. Wajar saja semalaman hampir semua aktivitasnya dihabiskan di kamar. Sebetulnya Ia hendak bertanya pada orang tuanya, tetapi dia amat malas. Maka, dengan sok tahu ia berjalan ke arah lantai bawah. Tiba-tiba,

“Hey bayu, Mau kemana kamu? Kok bingung gitu?” ucap Pak Arso

“Eh?! Bosnya papa. Ini om, bayu mau tanya, bayu kan mau mandi, kamar mandinya mana ya? tanya bayu polos

“Itu di pojok dekat ruang makan. Tapi kenapa kamu gak gunain kamar mandi atas aja?”

“Oh ada ya om? Soalnya di atas pintu ruangannya ketutup semua mana tahu bayu ada kamar mandi” sahut bayu

“Oh yasudah. Karena udah di bawah, gunain kamar mandi bawah aja” jawab pak arso tersenyum.

“Oke deh. Bayu mandi dulu ya om”

“Iya bayu” balas pak arso

Bayu langkahkan kakinya ke kamar mandi yang baru saja ditunjukkan bos papanya, pak arso. Di depan pintu kamar mandi, pikiran anak itu terhanyut sejenak. Ia jadi ingat apa yang dilihatnya semalam. Pak arso, lelaki kurus kekar itu telanjang bersama tubuh mamanya. Keduanya saling memeluk satu sama lain. Tapi anak itu benar-benar tak paham,

“Yasudahlah” ucap bayu sambil masuk ke kamar mandi.

Ia basahi seluruh tubuh mungilnya. Sesekali pikiran yang menghantuinya itu kembali datang . Lalu Ia sirami saja kepala beserta rambutnya dengan harapan pikirannya tersebut sirna terbawa air.

Di lain hal,
“Mas, udah gak ada lagi kan yang ketinggalan?” ucap nia sambil duduk menatap suaminya yang masih berberes.

“Ya, udah nih” balas haris sambil menyudahi aktivitasnya.

“Ya udah kita keluar yuk?” ajak nia

“Iya”

Haris dan nia keluar kamar sambil membawa barang bawaan mereka. Mereka menengok sang putra di kamarnya. Hanya barang bawaan bayu yang mereka lihat.

“Kemana si bayu?” tanya nia pada haris.

“Itu dia” jawab haris sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah bayu

“De.. cepetan pakai pakaian gih. Kita harus segera balik ke jakarta” ucap nia kepada bayu

“Hah? Kita gak jalan-jalan dulu ma?”

“Kamu kan udah jalan-jalan sama mama. Ngapain jalan-jalan lagi” timpal haris

“Emmmmm.. ya udah deh paa”

“Eitts satu lagi dee.. jangan lama-lama pakai pakaiannya yaa de! Papa mama tunggu di bawah” ucap haris sambil mengajak istrinya ke bawah.

Bayu tidak bisa membantah ucapan sang ayah bahwa sebenarnya dia belum jalan-jalan bersama mamanya. Kalaupun sudah, itu juga tersesat. Padahal dia bisa dengan mengungkap kebenaran sebenarnya. Namun dia ragu untuk mengungkapkan. Baginya ada waktu yang tepat untuk mencurahkan isi hati kepada ayahnya. Dia lebih memilih mengenakan pakaian dan membereskan barangnya yang tak banyak itu. Lalu ia segera susul kedua orang tuanya yang menunggu di bawah.

Di bawah haris dan nia duduk bersama. Mereka menunggu sang putra kesayangan. Tak lama putra mereka pun muncul. Segera mereka beranjak berdiri dan mengajak bayu untuk berpamitan kepada pemilik villa sekaligus atasan haris, pak arso.
Sementara itu pak arso sedang istirahat di kamarnya. Tubuhnya sedang rebah di atas kasur. Telapak tangan kanannya ia letakkan di atas dahi. Sesekali ia memejamkan mata sesekali pula ia membuka matanya. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Adddduuhhh sialannn ini kontol pengeenn ngentottt istriinya hariss lagiii..gimana aduhhh” ucapnya dalam kamar.

Tiba-tiba,
“Pak Aarrsoooo kita mau pamit pulang dulu nnihhh!” ucap haris dengan nada keras ke arah kamar pak arso.
Mendengar ucapan itu pak arso cukup terkejut. Buru-buru dirinya keluar kamar.

“Eh buru buru banget ris. Ini juga masih pagi. Gak jalan jalan dulu?” ucap pak arso sambil menghampiri haris

“Gak usah pak, saya buru-buru. Lagipula bayu besok harus sekolah sedangkan saya harus menyelesaikan pekerjaan yang musti diserahin ke bapak besok”

“Ohh kalo masalah itu kamu mah gak usah khawatir kalii. Saya kan atasan kamu. Bisalah saya atur” sahut pak arso tersenyum

“Ah bapak bisa aja. Tugasnya banyak begitu bapak bilang bisa diatur hehehe. Yaudah pak saya pamit dulu ya” ucap haris sambil menyodorkan tangannya ke tangan pak arso

Akhirnya leluarga itu berpamitan dengan pak arso. Masing-masing dari mereka menyalami laki-laki itu. Tak terkecuali, nia. Ketika menyalami pak arso, pak arso menyalaminya agak lama. Laki-laki itu meremas telapak tangan istri anak buahnya tersebut. Namun nia segera menarik telapak tangannya. Ia buru-buru keluar dari dalam villa bersama suami dan anaknya.

Pak arso membimbing keluarga itu keluar villa. Sesampai di luar, pak arso hanya berdiri di depan pintu utama villa miliknya. Ia memandang haris bersama keluarganya sedang mendekati mobil mereka yang terparkir. Lalu ia lihat keluarga haris secara bersamaan masuk ke mobil. Tak lama kemudian, mobil itu melintas di depannya. Ia melihat haris dan keluarga membuka kaca mobil sambil memberi lambaian perpisahan. Pak arso hanya tersenyum dan sedikit berucap,

“Addduuuhhhh mustii gue pikiirinn nihh gimana caranya biar bisaa nidurin bininya si hariss lagii urghhh” ucap pak arso pelan sambil mengelus penisnya

#########

Keluarga haris pun meninggalkan villa pak arso. Di dalam mobil, nia duduk di sebelah haris yang sedang menyetir, sedangkan bayu duduk seorang diri tepat di belakang ayahnya. Sepanjang perjalanan mereka saling bercakap santai, tentang siapa pak arso, sekolah bayu besok, dan perjalanan nia bersama bayu. Berbicara mengenai perjalanan nia bersama bayu, nia banyak berbohong kepada suaminya. Bayu hanya tersenyum saja melihat cerita bohong mamanya. Hingga ketika obrolan menjadi sunyi,

“Pa, aku mau tanya deh?” ucap bayu

“tanya apa de..” jawab haris

“iya nih kamu mau tanya apa” jawab pula nia sambil menatap mata bayu

“Emmmmm nggak jaadi deeh”
Bayu mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Tatapan mata mamanya seolah-olah melumpuhkan niatnya untuk bertanya kepada sang ayah. Entah apa yang bayu ingin tanyakan.

Tak lama kemudian telepon genggam haris berdering. Dengan tangan kanannya ia jawab panggilan tersebut. Tampaknya yang menghubunginya seorang laki-laki.

“Ohhh ayahh, kenapa yaa yah?”

“Besok? Yasudah yah, boleh kok”

“Enggak, gak ngerepotin toh yah, orang aku anakmu juga”

“Iyaa, yasudah yahh nanti aku izin sebentar samaa kantor.”

Begitulah ucapan haris yang didengar oleh istri dan anaknya. Mereka pun penasaran.

“Siapa sih mas?” tanya nia

“Itu,,, ayah mau ke rumahh kita besok” jawab haris

“Lah bukannya besok kamu ngantor?”

“Aku nanti izin sama kantor sebentar aja” sahut haris

“ada apa yaa mas kira-kira?”

“Biasalah ayah. Pasti lagi marahan sama ibu.
Ayah memang suka begitu kalau lagi marahan sama ibu. Dia suka kabur dari rumah nyari tempat bermalam” terang haris

“Kakek mau ke rumah paa?” tanya bayu

“Iyaaaaa, memang kenapa?”

“Assyiiiikkkkkkk adaaa kakkekkkk, asyiiikk, ada kakek, ada kakek” sorak bayu kegirangan”

Bagi bayu, kehadiran sang kakek mengusir kebosanannya di rumah. Dia yang tidak boleh diizinkan bermain di luar rumah seusai pulang sekolah setidaknya dengan kehadiran kakeknya ada yang menemani bermain. Itulah sebabnya mengapa bayu amat bahagia mendengar kakeknya akan berkunjung.

Waktu pun lalu…
Kendaraan pribadi milik keluarga haris tiba di rumah mereka siang hari. Serentak mereka keluar dari mobil sambil membawa barang bawaan masing-masing ke dalam rumah. Rumah mereka tampak masih utuh dan rapi. Sofa dan televisi di ruang tamu sebagai ruangan yang dekat dengan pintu keluar mereka terlihat masih utuh tidak dicuri mungkin hanya sedikit berdebu. Ruang makan mereka juga demikian tidak ada makanan yang tersedia di meja makan.
Keringat yang melekat di tubuh membuat mereka lekas langsung berganti pakaian. Kecuali haris, ia lebih dahulu menyalakan listrik yang sempat diputuskan sebelumnya. Barulah, dirinya berganti pakaian. Bayu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Begitu juga ayahnya. Sebelumnya sang ayah memakai kaos berkerah, kini ia mengenakan kaos singlet dan celana pendeknya. Sedangkan nia, sang mama, tampil seperti biasanya. Dia sepertinya gemar memperlihatkan anggota tubuhnya. Dia menggunakan kaos ketat yang membusungkan dadanya dan celana pendek yang amat memperlihatkan paha putih mulusnya.

Tak banyak aktivitas yang dilakukan keluarga itu setiba di rumah. Nia sibuk membersihkan rumah, Haris tertidur di kamar, sedangkan bayu memilih sibuk bermain playstation di kamarnya.
Hingga sore pun tiba,

“Hoaaaaaaaheeeeeemmmm…. ngantuk nihh. Capee juga yaaa main ps sendirian aduhhh” ucap bayu sambil memijat-mijat sendiri tangannya yang sedikit pegal.

Bayu menyudahi aktivitasnya sebentar. Mulutnya yang menguap memberi kesan ia mengantuk. Namun ia menoleh ke jam dinding rumahnya. Ternyata, sudah sore. Kebetulan sejak tadi dia belum minum karena terlalu sibuk dengan perangkat elektronik yang dimainkannya. Maka, bergegas ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Usai keluar kamar, pemandangan tampak begitu sepi. Ia terheran kemanakah gerangan kedua orang tuanya. Ia berpikir mungkin mamanya sedang membeli sesuatu di luar dan ayah sedang tidur. Cara berpikir positif tersebut membuatnya tak peduli. Lantas, ia berjalan ke arah dapur yang letaknya berdekatan dengan kamar mandi. Ia ambil gelas di rak piring dapur itu. Tiba-tiba dia mendengar desahan dari kamar mandi. Desahan itu rasanya pernah ia dengar. Maka, ia mencoba mengintip ke dalam kamar mandi. Dan, dia melihat mulut sang mama yang seolah merintih. Tubuhnya mamanya bersandar ketembok. Tangan kanan mamanya tampak menyentuh sesuatu di bagian bawah. Sedangkan, tangan kiri sang mama meremas buah dadanya yang sebelah kiri. Sambil menyentuh bagian tersebut mamanya mendesah dan menggoyangkan tubuhnya sendiri.

“Ahhhhhh ahhhhhh pakkk bejoooo soddookk memek niaa paakkk teruss ahhhh yang daleemmmm pakkk ahhhhh”

“Pak arsooooo iseeepp tete nia paaakkkk ahhhhh ayooo ahhhhh yangg kuat pakkkk ohhhh”

Bayu menggaruk kepalanya. Ia makin bingung. Ketika bersama seseorang dalam keadaan bugil mamanya mendesah, kini seorang diri dalam keadaan bugil juga mendesah. Sebenarnya apa yang dilakukan sang mama. Selain itu dia juga bingung kenapa pula mamanya memanggil-manggil nama pak bejo dan pak arso, bos ayahnya.

“Ahhh sudahhlahh, mendingan buruan minum terus balik lagi main ps” gumamnya dalam hati.

Lalu bayu dengan gelas yang sudah di tangannya ia mengambil air minum di dispenser dekat ruang makan. Usai melepas dahaga, kembali ia melanjutkan aktivitasnya bermain game di kamar. Tak beberapa lama, pintu kamarnya terbuka.

“Bayu.. udahan main playstation-nya. Kamu mandi dulu sana” ucap nia kepada putranya.

Bayu tidak menoleh ke wajah sang mama. Dia malah sibuk memperhatikan layar televisinya yang sedang dipergunakan untuk bermain game. Dia juga begitu cuek dan tak menggubris perintah mamanya. Itu membuat mamanya kembali mengingatkan. Kini dengan suara yang agak keras.

“Udahh dee main psnya, besok kamu sekolah. Kamu mandi dulu gih sana terus belajar”

Suara sang mama yang berulang kali mengingatkan dan kini lebih keras membuat anak itu dengan kesal mematikan playstationnya.

“Iya maaaa iyyaaaa ini bayuu matiin psnya nihh” ucap bayu dengan kesal

Usai mematikan playstation-nya, ia melihat mamanya berdiri di depan pintu kamarnya. Sang mama hanya mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya. Bayu sedikit terpesona, namun dia segera tersadar itu orang tuanya. Lantas kemudian ia lekas segera menunaikan perintah orang tuanya, yaitu mandi. Sementara nia seusai melihat putranya mematikan dan membereskan playstation-nya langsung berjalan ke arah kamar.

Rutinitas keluarga itu sore hari berjalan sebagaimana keluarga pada umumnya. Ayah bayu, Haris, yang sejak siang hari tertidur sudah bangun. Ayahnya yang hari ini izin libur, lekas membersihkan diri karena pekerjaan kantor yang harus diserahkan besok sudah menunggu. Sementara bayu, usai mandi, ia terlihat sibuk di kamarnya. Dia sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk sekolah besok. Nia tampak sedang mempersiapkan makan malam untuk dirinya berserta anak dan suaminya. Begitulah rutinitas itu berjalan hingga pun malam tiba.

Malam harinya tepat pukul setengah delapan malam keluarga itu tampak makan bersama. Tidak ada yang istimewa malam itu, kecuali percakapan tentang kedatangan kakek bayu besok dan besok bayu harus sekolah. Makan malam yang bernuansa kekeluargaan itu pun usai begitu cepat tanpa terasa. Usai makan malam, Nia dan haris kembali ke kamar begitu pula bayu. Di dalam kamar bayu sekilias melihat buku pelajaran yang akan dibawanya besok. Langsung saja ia pelajari hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam. Selanjutnya ia lekas tidur agar tidak bangun terlambat besok pagi.

Dalam tidurnya ia bermimpi. Bermimpi tentang sesuatu yang terjadi masa lalu. Dia bermimpi melihat aktivitas mamanya bersama pak bejo dan pak arso dalam keadaan bugil. Mamanya merintih dan mendesah. Awalnya rintihan dan desahan itu pelan, namun makin lama makin kencang. Tak hanya itu, dia juga bermimpi tentang aktivitas mamanya di kamar mandi tadi sore. Sang mama mendesah dan menggoyangkan tubuhnya sendiri. Mimpi tersebut berlangsung selama dia tertidur
Hingga fajar pun tiba..

“Kok basah ya? Udah gitu lengket lagi. Apaaan sih ini?” ucap bayu setelah melihat dan meraba bagian celana depannya yang basah.

Nah loh???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*