Home » Cerita Seks Mama Anak » Kisah Keluarga Citra 16

Kisah Keluarga Citra 16

“Saayaaang…. Ayo buruan ah mandinya… Makanan sudah siap loohh…. ” Panggil Citra mengetuk pintu kamar mandi lalu kembali kedapur sambil menyiapkan makan malam di meja makan. “Jangan lama-lama mandinya… Nanti masuk angin…” Tambahnya lagi.
“Iya Maaa… Ini sebentar lagi juga kelar….” Balas Clara yang terdengar begitu sibuk di kamar mandi.
“Aduuhh anak Mama nih kalo mandi mbok ya ditutup pintunyaaa…. Ntar ada yang lihat looh…” Tegur Citra yang sepertinya tak bosan-bosan mengingatkan kebiasaan Clara yang susah sekali hilang.
“Ah nanggung Maaa…. Toh dirumah ini sudah biasa ngelihat Clara mandi…..”
“Hhhhh… Dasar anak jaman sekarang…. Susah banget kalo dibilangin….” Ucap Citra sambil melemparkan handuk mandi Clara kearahnya, “Ya sudah… Habis ini kamu pake baju… ”
“Siap Booosss….” Ucap Clara singkat sambil mengeringkan tubuhnya, lalu setelah itu ia berlari keatas menuju kamar tidurnya.
“Sekalian bangunin kakakmu yaa Sayaaang…..”
“Iya Maaaa….” Sahut Clara dari kejauhan, yang disusul dengan gedoran keras di pintu kamar Ciello.

DUK DUK DUK
“Kaaakaaakkkk…. Bangun Kaaakk… Waktunya maaakaaannn….” Teriak Clara lantang sambil terus menggedor pintu kamarnya.
“Beerrriiiissssssiiiiikkkkk…..” Erang Ciello tak kalah lantangnya. Disusul dengan suara berdebam nyaring, “Aduuhh… Kampreeett…..”

Dengan langkah gontai, terlihat Ciello menuruni anak tangga. Satu demi satu hingga akhirnya ia duduk di anak tangga paling bawah. Matanya terlihat masih merah dan rambutnya acak-acakan. Sepertinya putra Citra begitu lelah dengan aktifitasnya pagi tadi.

“Ayo sini Sayang… Makan dulu….” Panggil Citra melambaikan tangannya.
“Kampret tuh si Toket…. Ngebanguninnya ngagetin banget….” Gerutu Ciello yang tak menghiraukan panggilan Citra. Masih terduduk di anak tangga sambil menyandarkan kepalanya di railing.

“Loh… Papa mana Maa…? Belum turun juga…?” Tanya Clara yang tak lama kemudian terlihat menuruni tangga. Dengan hanya mengenakan kaos bergambar mini mouse kebesaran yang dijadikan sebagai daster dan handuk melingkar di rambutnya, ia terlihat begitu segar.

Sreet… PLAAAKKKK…
Tepuk Ciello keras-keras kearah pantat adiknya setelah sebelumnya ia menaikkan bawahan tshirt kebesaran Clara.

“AAAAWWWW…” Rintih Clara
“Kalo mbangunin orang… Jangan ngagetin….” Omel Ciello ketika Clara lewat disampingnya.
“Aduuuhh….. Sakit Kaaakkk…” Rengek Clara sambil buru-buru berlari menjauh, “Mamaaa… Kak Ciello tuuuhhh…. Aduuuh… Saaaakiiiiitttt….” Tambah Clara sambil mengusap-usap pantat putihnya.
“Hhhhhh… Ciello… Jangan begitu aaahhh ama adiknya….” Sela Citra.
“Weeeee…. Mampuuusss….” Ejek Clara.
“Kamu juga Clara… Jangan suka ngisengin Kak Ciello…”
“Hahahaha… Rasain….” Balas Ciello.
“Udah-udah… Sekarang ayo kita makan….”

Ciello beranjak dari duduknya, melangkah kedapur dan membongkar-bongkar isi kulkas. Mencari cemilan yang bisa segera dimakan saat itu juga. “Makanya… Jadi cewek tuh yang anggun…. ” Ucap Ciello mencoba memberikan nasehat, “Masa jadi cewek urakan seperti cowok….
“Yeeeee……. Bodo…. Biarin amat…. Weeeek……” Bela Clara sambil melempar handuk basahnya kewajah Ciello, “Suka-suka Adek lah Kaak……”
“Huuuhhh…. Dasar…. Siluman Ular bertoket melon……” Sahut Ciello membalas melempar handuk Clara ke arahnya lagi.

“Heeeehh…… Udah Udah Udah….” Sela Citra lagi,” Kalian tuh ya…. Kerjaannya beranteeeemm mulu….”

“Ini bukan berantem Maaa….” Ucap Ciello sambil berjalan kearah Clara dan mengacak-acak rambutnya. Membuat rambut basah Clara makin berantakan. “Ini tuh rasa keakraban…. Ya nggak Dek……?” Tambahnya lagi dengan posisi memeluk adik tercintanya.
“Keakraban gundulmu……” Seru Clara membiarkan tubuh mungilnya terangkul sepenuhnya didalam dekapan tangan Ciello.
“Laah… Ini bener loh Maa… Ini tuh keakraban yang menyenangkan……” Celetuk Ciello yang tiba-tiba meremas payudara Clara gemas.

“Gemes ndasmuu….” Elak Clara yang sepertinya sudah tahu rencana Ciello, sudah buru-buru mencubit selangkangan kakaknya dahulu sebelum ia berhasil meremas payudaranya.
“Awww Awww……Awww……”
“Dasar Monyet buntung Mesum…. ” Ucap Clara dengan wajah menantang. Membuat Ciello seketika mengurungkan niatannya, “Apaaa….? Apaaannn……? Mau aku patahin tuh titit……?”

“Heeeehhh…. Clara……. Kok ngomongnya seperti itu sih……?” Tegur Citra.
“Habisan Kak Ciello sih Maaa…. Mulai iseng lagi……”
“Ciellooooo…. Udah deeeeh…….”
“Hehehehe…. Habisan gemes Maaa……” Ucap Ciello yang kemudian duduk diseberang kursi Clara, tepat disamping ibunya.

“Udah udah…. Ini makanannya buruan dimakan…… Ntar kalo udah makin dingin jadi nggak enak……”
“Papa Mana Maa….? Kok nggak kliatan…….?” Tanya Ciello.
“Papa lagi dikamar Sayang…… Lagi mandi……”
“Mandi….? Tumben amat Papa mandi sore…… ” Celetuk Clara singkat, “Jangan-jangan…. Kalian tadi habis…… Hihihi….

“Habis apaan…….?” Tanya Mike yang tak beberapa lama kemudian muncul dari arah tangga.
“Nggg…. Nggak habis apa-apa kok Pa…. Hihihi……” Jawab Clara sambil meringis.

“Ayo-ayo… Buruan dimakan makanannya…… Jangan malah diem aja…. Ayooo… Nungguin apaan sih……?” Tanya Mike lagi sambil berjalan mendekat kearah Citra, “Hai Saayang…. ” Sapanya pelan sembari memajukan bibirnya. berusaha memberikan salam kecup dipipi istrinya. Namun, sebelum bibir Mike berhasil menyentuh pipi istrinya, Citra buru-buru menghindar, memutar duduknya hingga menghadap kearah Ciello.

“Ciello Clara…Kesiniin piringnya… Biar Mama ambilin nasinya… ” Ucap Citra ketus tanpa melirik sama sekali kearah suaminya. dengan cekatan, ia menyajikan nasi dan beberapa lauk ke piring putra putrinya.

Merasa dicuekin oleh istrinya, Mike hanya tersenyum dan segera mengambil duduk didepan Citra.
“Makanan Papa nggak sekalian diambilin Sayang….?” Tanya Mike berusaha kembali menyapa istrinya.
“Ambil aja sendiri….” Jawab Citra ketus.

Melihat ketegangan diwajah Mama Papanya, Clara buru-buru memandang Ciello. Mencari tahu apa gerangan yang terjadi pada kedua orang tuanya. Namun sia-sia, karena kakak kandung Clara juga tak mengetahui penyebab perlakuan dingin kedua orang tuanya itu dengan gerakan mengangkat bahu.

***

Karena ketegangan yang terjadi antara Citra dan Mike, makan malam liburan itu terasa sunyi. Hanya terdengar suara dentingan piring yang beradu dengan sendok. Satu-satunya suara dari makhluk hidup adalah derikan sayap jangkrik yang keras terdengar dari luar villa.

“Haduuuhh…. Perut Clara kenyang banget nih……” Celetuk Clara berusaha memecahkan keheningan.
“Hiya nih…. Hari ini…. Makananannya terasa benar-benar enak…. Perut Papa juga kekenyangan…. ” Sahut Mike ” Ya nggak Ciello….?”
“Iya Paa…. Jawab Ciello sambil mengusap-usap perutnya.
“Istri cantikku…. Kamu berasa kekenyang juga nggak….?” Tanya Mike sambil melemparkan senyuman manis kepada istrinya.

Cuek. Citra tetap saja berdiam diri. Tak membalas perkataan suaminya sedikitpun.

“Hoooaaahhhmmm…… Ngantuk banget nih abis makan…… ” Celetuk Clara ,”Sepertinya Clara mau tidur duluan aja aaahhh….”
“Haaa….? Ngantuk……? Kamu pasti tadi kecapekan banget ya Sayang….? Masa baru aja bangun udah mau tidur lagi……?” Tanya Mike
“Hihihi… Iya Paa…. Mumpung liburan…… Dipuas-puasin aja deh tidurnya……”
“Dasar kebo kebluk…. ” Celetuk Ciello sambil melempar potongan tulang ayam kearah Clara.
“Huuuu…. Ngapaa……? Iri….?”
“Sssssttt…. Heeeehhh…… Udah udah…. Kalo kalian udah ngantuk…. Tidur duluan juga nggak apa-apa kok…. Daripada berantem mulu… ” Ucap Citra yang kemudian beranjak dari kursi makannya dan melangkah kedapur.
“Aseeeekk…… Clara mau tidur panjang malam ini……”
“Heeeehh…. Enak aja langsung tidur…… Bantuin Mama beres-beres dulu gih…… Anak cewek kok malesnya amit-amit……” Ejek Ciello lagi.
“Aaaduuuhh…. Clara udah ngantuk banget niiihhh…. Maaf ya Maaa…. Besok aja deh Clara ngebantuinnya… Malam ini Clara absen dulu….” Jelas Clara mencoba memberikan alasan, “Tapi tenang aja Maa…. Mama bakal dibantuin Kak Ciello kok….”
“Yeeee……. Dasar toket mabok….”

Sambil menjulurkan lidah, Clara langsung berlari menuju kamar tidurnya. Meninggalkan Mama Papa dan kakak kandungnya diruang makan.

“Mama mau Papa bantuin atau gimana…?” Tanya Mike berusaha mencairkan suasanya lagi.
“Gausah… Kamu tidur aja sekalian….” Jawab Citra dengan wajah cemberut.
“Yaudah kalo nggak mau dibantuin….” Balas Mike, “Ciello… Papa bobo duluan yaa… Kamu aja yang ngebantuin Mamamu…”
“Iya Paa… Siaaappp….” jawab Ciello sambil tersenyum lebar.

Melihat Mamanya sedang ada masalah dengan Papanya, entah kenapa hati Ciello merasa begitu senang. Ia merasa itu adalah kesempatan baginya untuk dapat masuk memperdalam ikatan batinnya. Masuk kedalam hati ibunya. dan ujung-ujungnya, masuk kedalam tubuh ibu kandungnya.

Membayangkan tentang rencana busuknya, Ciello hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Otaknya mulai mesum dan batang penisnya mulai mengeras. Terlebih ketika melihat busana Citra ia pakai saat itu. Daster tipis rumahan berwarna hijau tosca yang sangat pendek, payudara tanpa bra yang menonjol dari balik dan bentukan pinggangnya yang meliuk kecil, membuat gejolak birahinya langsung meluap-luap.

“Ciello bawain piring dan gelas kotornya ya Maa….” Ucap Ciello sigap. Membawakan peralatan makan bekas pakainya kedapur.
“Taruh aja disitu Sayang…. ” Jawab Citra singkat sambil membuka keran, mengisi bak wastafel tempat mencuci piring.

Dalam diam, Ciello melihat kecantikan Citra yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Aura kekesalan nan rupawan, terpancar dari wajah putih ibu kandungnya. Cuek. Ketus. Dingin.

Namun, walaupun demikian, Citra masih terlihat begitu cantik, seksi dan mengairahkan

“Mama pasti capek banget ya Ma….?” Ucap Ciello sambil memegang pundak Citra.
“Hhhhhhhhh… Iya sayang… Capek banget…” Jawab Citra sambil menghela nafas panjang
“Aku pijitin aja ya Maa…?”
“Ehhmmhhh.. ” Desah Citra menganggukkan kepala.

“Mmmm… Pundak Mama keras banget Maa…” Ucap Ciello lagi basa-basi, “Pasti… Mama sedang banyak pikiran ya…?”
“Lehernya Sayang… Pijitin sekalian…” Pinta Citra tanpa menjawab pertanyaan putranya.
“Angkat rambutnya Maa…”

Dengan kedua tangannya, Citra segera menggelung rambut hitamnya keatas dan memperlihatkan tengkuk putihnya yang ditumbuhi rambut-rambut tipis.

Melihat belakang leher jenjang ibunya, jantung Ciello tiba-tiba derdetak semakin kencang. Dan entah mendapat ide darimana, Ciello tiba-tiba mencium belakang leher ibunya.
“Badan Mama kok wangi banget Maa…? CUP….” Ucap Ciello lirih sembari mengendusi pelan. Menghirup aroma tubuh ibu kandungnya dalam-dalam.
“Makasih Sayang… ”
“Mama pasti sedang banyak pikiran ya Maa… ? Urat-urat leher Mama juga tegang…” Kata Ciello memberikan penjelasan sambil memijit pundak ibunya lagi.
“Ah kamu sok tahu….”
“Tahulah Maa…”
“Darimana tahunya…?”
“Dari kecantikan Mama yang sore ini berkurang…..”
“Begitu ya Sayang…?”

“Iya Maa….” Jawab Ciello singkat, “Maafin Ciello ya Maa kalo sering buat Mama repot… ” Kata Ciello pelan, sambil mulai mengurut tengkuk Citra, “Maafin juga ya… Kalo Ciello sering buat Mama stress…”
“Ehhmmm… Iya…. Sssshhhh…. Enak banget Sayang pijitanmu… ” Desah Citra dengan nada berat.

“Yaaahhh.. Kalo seumpama Mama punya masalah… Atau unek-unek… Atau apapun… Kasih tau Ciello aja Maa… Kali aja Ciello bisa ngebantu…”
“Masalah…?”
“Iya Maa…. ”
“Walau mungkin susah….. Tapi Ciello janji bakal selalu ngebantu masalah Mama… Apapun itu… ” Ucap Ciello lagi yang kemudian diiringi dengan kecupan pelan ditengkuk ibunya, “CUUP… CUUUPPP….”
“Ooohh…. Sayang… Makasih ya… ” Ucap Citra pelan sambil menyentuh kedua tangan putranya yang berada dipundak. Setelah itu, ia menggiringnya menuju ke pinggang.

“Mama cuman pengen… Kamu peluk Mama aja Sayang… ” Ucap Citra sambil meminta kedua tangan Ciello memeluknya erat.
“Ooohh….. Kalo cuman minta meluk mah…. Nggak usah sungkan buat minta ke Ciello Maaahhh… ”
“Hiya Sayang….Uuuuhhh… Hangat banget pelukanmu Sayang…”

“Hehehe… Buat Mama Cielo yang paling cantik… Permintaan apapun… Bakal Ciello lakuin Maaa…”
“Makasih Sayang… ” Ucap Citra yang semakin mempererat pelukan Ciello.
“Ciello sayang Mama… CUP…” Kecup Ciello lagi-lagi pada tengkuk ibunya.
“Ssshh… Iya Sayang…. Mama juga sayang kamu…”

“CUUPPP…. Badan Mama wangi…” Ucap Ciello sembari lagi-lagi mengendusi leher dan pundak Citra.
“Ihhss.. Mama khan belum mandi sore Sayang…”
“Cewe.. Kalo cantik….. Nggak mandipun… Aromanya masih wangi Maaa… ” Ucap Ciello yang terus mengendusi Citra. “Cantik… Ya kaya Mama… Cantik…”
“Jadi kalo Mama seminggu nggak mandi… Tetep aja wangi ya…?”
“Hmmm… Sepertinya sih wangi Maa…. Mama khan cantik… Hehehe…”
“Hihihi… Dasar penggoda mesum…”
“Kok mesum Maa…?”
“Ya kalo nggak mesum… Kenapa dipantat Mama sepertinya ada barang yang keras-keras ya…?” Bisik Citra risih ketika merasakan jika penis putranya mulai menggeliat dibawah sana

“Owwwhh.. Itu…. Hehehe… Itu reflek Maa…”
“Iiiihhss.. Dasar anak mesum…. Udah ahh…. Mama mau cuci piring dulu… Kalo kamu peluk gini mulu… Mama nggak bisa gerak nih…” Ucap Citra ketus dan mendorong tubuh Ciello supaya mundur..

“Nggak mau… Kalo Mama cemberut seperti itu mulu… Ciello nggak mau ngelepasin Mama…” Ancam Ciello yang semakin mempererat pelukan tangannya.
“Ciellooo… Lepasin aahh… Sayang….”
“Enggak… Ciello nggak suka Mama cemberut seperti itu…. Senyum dulu doongg…”

“Hhhhhh… Ada-ada aja sih kamu Sayang…?” Citra menarik nafas panjang, kemudian menuruti permintaan putra kandungnya itu. Ia lalu menarik ujung bibirnya kesamping. Membuat senyuman lebar nan cantik diwajahnya.

“Naaahhh… Kalo gitu khan cantik Maa…” Puji Ciello yang alih-alih melepaskan pelukan tangannya, malah semakin memeluk ibunya kuat-kuat. “Ngelihat kecantikan Mama balik lagi….Ciello jadi makin sayang deh ama Mama…” Seru putra kandung Citra itu sembari memajukan tubuhnya, menempel erat pada punggung Citra.
“Iiiiihhhsss… Sayang… Udah aaahh… Mama mau kerja dulu nih…”
“Kerja aja Maaa… Ciello nggak bakal ngeganggu kok… ” Jawab Ciello singkat sambil makin memajukan tubuhnya. Membuat Citra makin merasakan tonjOlan keras milik putranya di sela-sela pantatnya.
“Tapi Mama nggak bisa bebas bergerak Sayang…”
“Hehehe… Nggak apa-apa Maa… Ciello bakal ikut bergerak kemanapun mama inginkan…” Jawab Ciello yang terus menempel erat dibelakang tubuh Citra. Mengikuti gerakan tubuh seksi ibunya setiap kali ia berpindah tempat.

“Mama cantik banget… ” Ucap Ciello yang tak henti-hentinya memeluk tubuh ibu kandungnya. Ia juga mengendus serta menghirup aroma tubuh Citra dan terus menempelkan selangkangannya di belakang tubuh ibunya. Bahkan, tak disitu saja, melihat kepasrahan ibunya ketika menerima sodokan-sodokan isengnya, Ciello mengira jika Citra mengijinkan dirinya untuk berbuat lebih cabul lagi.

“Mama kok bisa secantik ini sih Maa…?” Puji Ciello yang mulai iseng merabai perut dan pinggang Citra. “Udah cantik… Seksi pula… Badan Mama ini…. Bikin Ciello sering pusing Maa… CUP…”
“Pusing apa nafsu…?”
“Hehehe….. Dua-duanya Maa… Pusing sekaligus nafsu…. ” Ucap Ciello semakin berani menggoda ibunya lebih jauh lagi. Memajukan selangkangannya, menohok sela pantat ibunya secara terang-terangan

“Ohhh… Cielloo…” Bisik Citra lirih, “Udah aaahh… Jangan berbuat yang aneh-aneh aaahh…” Tolak Citra pelan sembari berusaha menjauhkan tubuh putra kanduingnya dari belakang tubuhnya.
“Ooohh.. Mamaaaa….. Ciello nggak aneh aneh kok.. Cuman pengen meluk Mama cantikku ajaa…”
“Yaa kalo mau peluk… Nggak usah ngusel-nguselin kontolmu dong sayang…”

“Hehehe.. Itu tandanya Ciello sayang banget ama Mama…” Jawab Ciello yang sama sekali tak menghiraukan keberatan Citra. Malahan, ia semakin mempererat pelukan tangannya sambil terus menggesekkan tubuhnya naik turun. Menyelipkan batang penisnya yang sudah menegang keras kearah sela pantat ibunya.
“Uuhhh.. Cielloooo…. Mama nggak bisa nafas niihh…. Jangan kenceng-kenceng meluknya…”
“Hehehe… Maaf Maa…. Habisan Mama wangi sih… Seksi … Aku jadi gemes deh ama Mama…” Ucap Ciello berkali-kali.
“Mama juga sayang kamu Sayang… Cuman… Udah dulu ya Sayang… Udah… Jangan peluk Mama seperti ini dulu… ” Desah Citra yang tahu jika birahi putra kandungnya itu mulai tak terbendung lagi.

“Bentaran lagi ahh Maa….” Tolak Ciello.
“Bentaran apa lagi sih…? Kamu mau ngapain Sayang…? Jangan macem-macem yaa… Ntar Papa atau Clara bisa ngelihat kita loh… Meraka bisa saja datang kesini setiap saat….” Tolak Citra yang kali ini mencoba menjauhkan sodokan pinggang Ciello dari pantatnya.
“Ehhmmmhhh…. Bentaran lagi Maa… Ciello mau keluar….”
“Haah…? Kamu mau apa…? ” Panik Citra ketika mendengar kalimat putranya. Buru-buru ibu dua anak itu menjulurkan tangannya kebawah.

Dan betapa kagetnya ia ketika mendapati jika Ciello sudah menurunkan celana kolornya, mengeluarkan batang penis besarnya, dan menggeseki belahan pantatnya naik turun..

PRANG KLONTANG KLONTANG…
Sebuah panci terpeleset dan jatuh kelantai. Menimbulkan suara lantang yang terdengar ke seuruh penjuru villa.

“ASSTAAGGAAA… CIEELLOOOO….!” Kaget Citra, “Ciello… Kamu jangan kurang ajar ya… Aku itu Mamamu….” Seru Citra begitu menyadari jika putranya sudah melakukan perbuatan cabul secara terang-terangan kepadanya.

“E…Ehhh… Ma’aaf Maa…. ” Ucap Ciello yang setelah melihat raut wajah ibunya, tiba-tiba merasa ketakutan, “Ciello pikir… Setelah apa yang sering kita lakukan belakangan ini… Kita bisa…”
“BISA APA…?” Bentak Citra dengan intonasi keras namun bernada pelan.
“Bisaa…. Nggg….Yaa… Ngelakuin hal lain…”
“Hal lain seperti apa…? Ngentotin Mamamu sendiri…? Iya….?” Potong Citra dengan nada tinggi.
“Nggg… Maaf Maa…”
“Udah-udah sana… Jauhkan kontol ngacengan kamu itu dari Mama dan buruan masuk kamar… Mama nggak mau kamu ada didekat Mama…. PERGI….!”
“Ma’af Maa…” Ucap Ciello lemas seperti orang yang baru saja kalah perang. Dengan berat hati, Ciello meninggalkan ibunya sendiran di dapur. Melangkah dengan lemas menuju kamarnya di lantai atas vilaa.

“Aaaarrrggghhh…. Bisa stresss aku kalo seperti ini….” Seru Citra yang kemudian mengambil panci yang tadi terjatuh kelantai dan menghempaskan panci itu ke bak cuci. Membuat panci itu terbanting keras dengan suara kelontangan lantang.

KLONTANG KLONTANG KLANG…

Ia lalu menghentikan kegiatan cuci piringnya sejenak sembari menatap kearah jendela dapur.

“Ada apa Sayang…?” Tanya Mike yang tak lama kemudian sudah berada di dapur.

Tak menjawab, Citra hanya duduk di kursi makan.

“Kamu baik-baik saja…?” Tanya Mike lagi sambil meraih tangan istrinya.

Tak juga menjawab, Citra segera menghindar dari tangan Mike.

Diambilnya ceret air panas dan sebuah cangkir. Dengan lincah, Citra meracik secangkir teh kemudian melangkah kearah balkon dapur. Sembari menarik nafas panjang, ia duduk dikursi.

Sejenak, Citra menatap jauh ke arah danau yang sudah tak terlihat. Kearah bintang yang gemerlapan dilangit. Dan mendengarkan suara gemericik air sungai dan suara alam yang menenangkan.

“SLUURRPPP…”
Suara bibir Citra menyeruput teh hangatnya.

“Sayang… ” Susul Mike sambil duduk di kursi balkon, “Kamu nggak apa-apa….? Kamu terlihat begitu tegang Sayang… Kalo ada unek-unek… Ceritain ke aku dong…”

Tak menjawab, Citra malah meletakkan cangkir tehnya di meja balkon dan beranjak bangun dari kursi.
“Sayang…. Tunggu dulu….” Cegah Mike yang segera meraih tangan istrinya.

Lagi-lagi, Citra menepis tangan suaminya dan melangkah masuk kearah ruang keluarga. Citra lalu menghempaskan pantat bulatnya ke sofa dan meraih remote yang tergeletak di meja. Dengan kesal, Citra menekan-nekan tombol remote controlnya gemas, mencoba mencari channel TV favoritnya.

Tak mau dicuekin mulu, Mike segera menyusul Citra kedalam. Sambil membawakan cangkir teh istrinya, ia berjalan ke ruang keluarga.

“Sayang….?” Panggil Mike yang kemudian dudul di ujung sofa. Ia lalu meraih kaki Citra dan mengusap telapak kakinya pelan, “Aku pijitin ya….?”

Sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi Mike, untuk memijat kaki Citra ketika mereka sedang berselisih paham. Ia tahu benar jika itu adalah satu-satunya cara buat meredakam emosi istrinya ketika sedang tinggi. Dengan sengaja, Mike menekan ujung jari jempol Citra keras-keras.

“Uhhh… Pelan-pelan Mas…” Lenguh Citra pelan.
“Eh iya…” Jawab Mike.

Citra melirik wajah suaminya tajam dan menghela nafas panjang.

“Kamu nakal sekali Mas…… ” Ucap Citra membuka percakapan, “Masa anak sendiri kamu pejuhin…?”
“Nggg…. Iya…. Mas Minta maaf Dek….”
“Emang… Aku kurang memberimu kepuasan ya Mas….?” Tanya Citra lagi.
“Enggak Dek…. Kamu selalu memuaskan aku kok….”
“Lalu…? Kenapa kamu sampe tega melakukan hal itu Mas……? ” Tanya Citra dengan wajah serius, “Kamu mejuhin anak sendiri loh Mas…. ”
“Iya… …”
“Kamu sadar nggak sih Mas…? Kalo Clara itu putrimu… ? Dia Anak kandungmu sendiri loh….”
“Iya Mas tahu…. ”

“Kalo Mas tahu… Kenapa Mas masih ngelakuin hal itu….?”
“Mas nggak tahu Dek…. ”
“Kok nggak tahu….?”
“Iya… Mas nggak tahu…. ”

Sejenak, Mike juga mengambil nafas panjang.

“Mas juga ngerasa aneh Dek…. Akhir-akhir ini Mas ngerasa ada yang beda pada diriku… Karena setiap ngelihat Clara… Entah kenapa menjadi khilaf…. ”
“Khilaf….?” Kaget Citra, “Khilaf bagaimana Mas….?”
“Ya khilaf Dek…. Khilaf…. Mas selalu menganggap Clara itu dirimu… Mas seolah lupa kalo Clara itu putri kandung Mas….”

“HhhhhHhhh…. ” lagi-lagi Citra menghela nafas panjang, “Kamu kok gitu sih Mas….?” Ucap Citra yang sekarang sudah menatap suaminya,”Kamu memang penjahat kelamin Mas…… ”
“Maaf Dek….. Mas khilaf…. ” Ulang Mike lagi yang kemudian merebahkan tubuhnya tepat disamping Citra.
“Khilaf apa nafsu Mas……?”
“Nggak tahu Dek…… Mas nggak tahu…. ” Ucap Mike lirih, “Entah kenapa… Setiap kali Mas melihat kecantikan Clara…. Membuat Mas langsung kehilangan akal sehat Mas…..”
“Itu anak kandungmu sendiri loh Mas….Itu anak yang lahir dari benihmu….”
“Iya…. Mas tahu Dek….” Jawab Mike, “Maaf….”
“Hhhhhh… Mas mau minta maaf… Tapi kok yang dibawah situ nggak mau minta maaf…?” Bisik Citra lirih sembari mengusap selangkangan suaminya, “Minta maaf tapi kok kontolnya ngaceng…. ?”

“Hehehe…. Habisan kalo kamu elus-elus gini… Siapa yang nggak bakalan ngaceng Dek….?” Ucap Mike mencoba bercanda.
“Halah… Bohong… Pasti kamu ngaceng gini gara-gara kita ngomongin Clara ya…?” Tebak Citra.
“Nnggg……. Nggak juga sih….”
“Ngaku aja Mas…. Kontolmu ngaceng gini gara-gara kamu mikirin Clara khan….?”
“Nnggg…. Iya sih…. Sedikit……”
“Sepertinya… Kontolmu ini kayaknya nggak bakalan bisa puas dari hanya satu memek ya Mas….?”

“Nggg.. Maksudnya…?” Heran Mike.
“Kalo misal tadi Adek nggak masuk kekamar Clara… Kira-kira Mas bakal ngelakuin hal yang lebih jauh lagi ngga ya Mas….?
“Hal yang lebih jauh….? Hal apa Dek…?”
“Nggak tahu… Mungkin… Kamu bakal jilat tetek Clara kali…? Atau kobelin memek Clara kali…? Atau mungkin Mas mau minta entotin anak kita…?”
“Eehhhh…. ? Kok kamu nanyanya gitu Dek…?”
“Ya engak…. Adek cuman pengen tahu aja Mas….. Kira-kira kamu bakal ngelakuin semua hal itu apa nggak…?”
“Yaaa…. Enggak lah Dek…. Emang Mas udah gila apa…?”

“Ya khan Adek cuman pengen tau aja Mas…. Mas bakalan tega apa nggak….”
“Tega…? Tega apa…?”
“Iya…. Mas bakalan tega buat ngambil perawan Clara nggak….?”

Mike tak menjawab. ia hanya menatap wajah cantik istrinya dalam-dalam.

“Kalo misalnya…. Clara mau dientotin ama Mas… Kira-kira Mas bakal ngelakuinnya apa nggak…?”
“Ngelakuin apa…? Ngentotin Clara……?”
“Iya…. Mas mau apa nggak….?”
“Nggg….”
“Jawab Mas…. ” Tanya Citra tegas, “Adek pengen tahu…. Mau atau enggak…..?”
“Ngggg….”
“Gimana Mas…? Mas mau atau enggak….?”
“Gimana ya….?” Bingung Mike sambil berpikir keras.

“GILA kamu ya Mas…. Kamu gila….”
“Laahh…? Kok gila….?”
“Ya itu…. Kamu nggak bisa langsung ngejawab pertanyaan Adek….”

“Jadi kalo aku nggak bisa langsung jawab… Itu artinya aku gila….?”
“Bagi Adek… IYA….” Jawab Citra tegas, “Itu artinya… Kamu pasti ada kepengenan buat berbuat lebih jauh lagi dengan Clara…… Ya khan Mas….?”
“Ya enggak lah….”
“Ngaku aja Mas…. Kamu pasti pengen khan Mas… Buat merasakan kenikmatan tubuh Clara….?” Tanya Citra dengan nada menggoda, “Kamu pengen khan Mas… Bisa ngisepin tetek Clara yang besar itu…?”

“Emang kamu nggak pengen Mas… ? Bisa ngejilatin memek Clara yang mungil itu…? Ngobelin memek anak kandungmu sendiri sampe dia ngedesah-desah keenakan…? Kamu jilat memek Clara sampe dia kelojotan…?”Tanya Citra sambil mengusap-usap penis Mike yang sudah menegang keras.

“Nnggg…. Gimana ya…?”

“Emangnya… Kamu nggak pengen Mas…? Ngebelah memek perawan Clara pake kepala kontolmu ini Mas…? Kepala kontol yang juga dulu ngebelah memek perawan Adek ini Mas…”

“Kamu nggak pengen….? Nyodok-sodok liang rahim putri kecilmu yang semokmu itu pake kontol panjangmu ini…? Hingga ngebuat Clara menjerit-jerit keenakan dan lemas karena dia orgasme…?”

“Kamu nggak pengen…? Ngaduk-aduk isi memeknya…? Nusukin kontolmu sampe bener-bener habis kepangkal rahim Clara…? Sampe akhirnya… Kamu bisa mejuhin liang peranakan putrimu dengan jutaan benih pejuhmu yang subur…??”

“Emangnya… Kamu nggak pengen Mas…? Ngelakuin semua hal yang seksi seperti itu Mas…?”

“Ngggg…..Gimana ya…. ? ” Bingung Mike, “Sebenernya…. Mas pengen Dek…. Bisa ngentotin cewek secantik dan seseksi Clara… Siapa juga yang nggak pengen… Pengen banget malah…” Ucap Mike jujur tanpa bisa beralasan.

“Astaga Mas….” Kaget Citra sambil menutup mulutnya, “Adek nggak nyangka Mas…”
“Loohh… Ehhh….” Kaget Mike yang tiba-tiba tersadar dengan semua pertanyaan Citra barusan, “Maksud Mas…”
“Tega ya Kamu Mas….” Rutuk Citra, “Ternyata…. Adek menikahi seorang penjahat kelamin…. Parah banget kamu Mas…”
“Bukan…. Bukan gitu Dek….

“Aaaahhhh…… Semua pria emang sama…..” Ucap Citra sambil beranjak dari sofanya.
“Tunggu bentar Dek…. Bukan gitu maksud Mas…. Denger… Mas bisa jelasin semuanya…..”
“Udah ah…. Bodo…. Adek ngantuk…. Adek mau bobo.

“Adek…. Denger dulu….” Tahan Mike yang mencegah kepergian istrinya.
“APA……?” Tanya Citra ketus.
“Tunggu dulu dooong…. Mas mau ngomong….”
“Mau ngomong apa lagi…? Semua udah jelas Mas…”

“Hhhhhhh…. ” Sela Mike menghela nafas, “Untuk apa yang terjadi tadi sore antara Mas dengan Clara… Mas bener-bener minta maaf… ” Ucap Mike sembari mengecup jari tangan Citra. “Cuman… Mas akhir-akhir ini juga berpikir… Jika kamu juga sepertinya ada rasa dengan Ciello…”

“A.. Ada rasa dengan Ciello…?” Kaget Citra, “Ma.. Maksud Mas apa….?”
“Iya…. Mas pikir…. Kamu juga punya rahasia dengan Ciello…… Putra kita…… ” Jawab Mike pelan, “Apa kamu juga ada maen dengannya…? Sayang…?”

DEEG
Jantung Citra seolah berhenti berdetak. Otaknya segera berpikir keras mengenai segala kemungkinan yang bisa terjadi dari hubungannya dengan putranya.

“Apakah Mike tahu semua perlakuan mesumku dengan Ciello….?” Tanya Citra dalam hati, “Apakah Mike tahu langsung…? Atau dia tahu dari orang lain…?”

“Jawab Sayang…? Kok malah diem aja…?”
“Jangan nuduh yang macem-macem ya Mas… ” Sergah Citra membela diri, “Apa buktinya Adek ada maen dengan Ciello…?”

“Ya Mas nggak tau Dek… Mas belom punya bukti… ” Jelas Mike, “Cuman firasat Mas… Kamu juga ada maen dengan Ciello…”
“Huuuu…. Jangan karena kamu ketangkep basah udah mejuhin Clara… Kamu bisa bales menuduh Adek ngelakuin hal yang nggak-ngak dengan Ciello ya Mas… Adek nggak suka…”
“Mas nggak nuduh sayang… Mas cuman tanya… Mas berfirasat…”
“Firasatmu nggak beralasan Mas… Kamu terlalu mengada-ada….”

“Mas cuman merhatiin aja Dek…. Kamu punya hubungan special dengan putra kita…. Terlebih ketika Mas ngelihat ketika kamu sedang berduaan dengan Ciello… Raut wajahmu langsung berubah….”
“Berubah gimana….??”
“Kamu jadi lebih ceria aja… Lebihsegar…. Lebih berseri-seri…” Jelas Mike, “Kamu… Nggak sedang jatuh cinta dengan anak kita khan Dek…?”

“Adek…Jatuh cinta atau tidak… Itu bukan urusanmu Mas… Itu rahasia ibu dan anak….” Ucap Citra membela diri, “Lagian kalo Adek memang beneran cinta dengan Ciello…. Apa sih salahnya…? Toh dia anak Adek juga…”

“Ya kalo begitu kita sama dong Dek… Aku juga cinta ama Clara….” Ucap Mike mencoba membela diri.
“Beda Mas… ”
“Loohh…? Bedanya…?”
“Menikmati aurat tubuh wanita hingga ngocokin kontol… Lalu mejuhin dia… Itu namanya bukan cinta Mas…. Itu pencabulan… ”

Mike kembali terdiam, tak mampu memberikan pembelaan bagi dirinya sendiri.

Melihat suaminya tak mampu berkata apa-apa. Membuat Citra merasa menang.

“Itu jauh dari yang namanya cinta Mas…. Itu birahi… Itu nafsu…. ” Ucap Citra lirih, “Ngerti…?”
Seolah kehabisan kata, Mike sama sekali tak menjawab. Ia hanya terdiam dan menatap tivi yang masih menyala terang di ruang keluarga,

“Hhhhh…. Ada lagi yang mau dibicarakan Mas Mike…?” Tanya Citra sambil beranjak dari sofa ruang keluarga. “Kalo nggak ada… Adek mau bobo…”

“Tunggu bentar Dek… ” Sergah Mike sembari memegang pinggang istrinya.
“Apalagi sih Mas…? Adek udah ngantuk banget niiihhh…”

“Duduk sini bentaran dong Dek… ” Ucap Mike yang tanpa basa basi, langsung memelorot celana dalam istrinya lalu menarik tubuhnya mundur. Dan begitu pantat Citra turun mendekat ke selangkangan Mike nya, ia segera mengarahkan penisnya ke lubang vagina istrinya.

“Aaahhh… Maasss.. Kamu mau apa…?” Kaget Citra reflek.

TOK…TOK…TOK….
“Kaak… Kak Ciellooo…” Panggil Clara dengan nada super pelan.
TOK…TOK…TOK….

“Apa…?” Jawab Ciello ketus.

CKLEK….
Suara pintu kamar terbuka.

“Kakak sedang apa…?” Tanya Clara menjulurkan kepalanya masuk kedalam kamar Ciello.
“Emangnya aku keliatannya sedang apa…?” Jawab Ciello
“Eh Kak… Papa ama Mama sedang berantem ya Kak…?” Tanya Clara yang tiba-tiba nyelonong masuk kedalam kamar Ciello, “Kok sepertinya tadi pas makan malam… Mereka berdua keliatan tegang amat…”
“Nggak tau deh Dek…. ” Jawab Ciello yang sedang bersiap-siap tidur.
“Kira-kira…… Mereka berantem tentang apaan ya….?”
“Nggak tau….”
“Pasti salah Papa berat banget deh…. Mama sampe ngambek seperti itu….”
“Aauuukkk…. Aahh… ” Jawab Ciello tak tertarik dengan obrolan adik kandungnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Ciello sama sekali tak menghiraukan segaa pertanyaan dan rasa penasaran Clara.

“Kak…? Kamu kenapa…?” Tanya Clara yang melihat Ciello yang tiba-tiba tak menghiraukan keberadaannya, “Tumben Kakak kaya kerupuk kena aer… Peeesss… Lemeess…. Hihihi….”

Biasanya, jika Clara masuk kedalam kamar Ciello, ia pasti seketika itu juga langsung dikerjain habis-habisan oleh kakak kandungnya. Entah dihina, dicubitin, dijewer-jewer, ditimpuk bantal,atau yang paling parah, mendapat remasan pada kedua payudara atau pantatnya. Namun kali itu, Ciello terlihat begitu tak bersemangat.

“Aku ngantuk Deeekk… Mau tidurrrr…” Jawab Ciello lemas. Gara-gara penolakan dari ibunya tadi sore, membuat putra semata wayang Citra itu seolah kehilangan rasa jahilnya.

“Eh Kak…. Papa pasti punya salah ama Mama deh Kak …”
“Ahh…. Sok tahu banget kamu….”
“Ya liat aja Kak… Mama tuh ya…. Semarah marahnya…. Nggak bakalan sejudes itu mukanya…” Jelas Clara yang ikut-ikutan merebahkan tubuhnya diranjang, tepat disamping tubuh Ciello yang memunggunginnya, “Tapi….? Coba tadi Kakak liat nggak…? Muka Mama kelihatan judes banget….”
“Trus…?” Jawab Ciello dengan pertanyaan.
“Ya itu artinya…. Papa punya masalah yang besar banget ama Mama….”
“Trus…?”
“Trus dari tadi pas makan malam…. Mereka berdua sama sekali tak berbicara….”
“Trus….?”
“Iiiihhsss… Kakaaak… Terus terus terus mulu deh…. ” Sebal Clara, “Kalo Clara bicara…. Lihat kemari dooong…. Jangan bilang terus terus mulu… Emangnya Clara tukang parkir….?” Jawab Clara yang langsung menarik pundak Ciello mundur, membuat kakak kandungnya jadi terlentang. Setelah itu ia memaksa kepala Ciello supaya menghadap kearahnya.

“Iiihhh.. Toket apaan siiihh….? Aku ngantuuuukkkk taaauuukkkk…..” Omel Ciello.
“Dengerin Adek dulu dong Kaaak…. ”
“Tapi setelah Adek selesai cerita… Langusng keluar kamar loh yaaa…? Kakak mau langsung tidur…”
“Iye.. Iyeeee…”
“Dasar toket…. Ngeganggu orang mau tidur aja…” Ucap Ciello yang kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Clara dan iseng meremas salah satu payudaranya.
“Iiihhsss…. Kakaaak….” Omel Clara yang buru-buru menepis tangan jahil kakak kandungnya.
“Hehehe…. Itu biar mata Kakak nggak ngantuk…. ” Ucap Ciello singkat.
“Huuuuuu… Maunya…..”
“Yaudah mau cerita apa….?”

“Gini Kak… Papa sepertinya punya masalah yang besar dengan Mama ya Kak…Muka Mama sampe judes banget begitu….”
“Kalo iya… Lalu kenapa…?” Iseng Ciello yang menyentil-nyentil puting payudara Clara yang tercetak jelas di kaos mini mousenya.

“Iiihhsss.. Kakak….”
“Iya sih Dek… Muka Mama keliatan cemberut…” Jawab Ciello menghentikan keisengannya sebentar.
“Ya khaaann Kaaak…? Kira-kira mereka sedang meributkan masalah apa ya…?” Tanya Clara lagi.

“Papa selingkuh kali…?” Jawab Ciello masa bodo sambil kembali iseng, mengusap-usap gundukan payudara Clara dengan ujung jari telunjuknya
“Ngaco…. Amit-amit deh Kak….” Potong Clara tak mempedulikan keisengan Mike, “Nggak mungkin itu maah…”
“Ya kali aja Dek… Siapa tahu….? Papah khan ganteng… Gagah… Kekar….” Jawab Ciello lagi yang terus mengusap-usap daging payudara adiknya dengan gerakan memutar.
“Jangan sampe ah… Kasihan Mama…. Pasti Mama bakal kepikiran banget deh… Sampe cemberut gitu…”

“Walau cemberut… Mama masih kelihatan cantik ya Dek….?” Ucap Ciello yang merasa usapannya tak dilarang oleh Clara, mulai meremas pelan payudara besar adiknya.

“Iiihhhsss…. Kakaaaak…. Mesum banget sih jadi cowoook… Dasar Kakak mesum….” Sadar Clara yang buru-buru menepis tangan Ciello dan meremas batang penis kakaknya kuat-kuat.
“Aaaduuuuhhh….”
“Rasain….”
“Dasar toket silikon….” Celetuk Ciello yang kemudian melempar bantal kearah Clara.

“Eh Dek… Coba tebak….” Bisik Ciello pelan, “Kira-kira… Sampe kapan Papa bakalan dijudesin Mama…?”
“Ah…. Kalo mereka sih…. Besok pagi juga udah kelar…. Udah mesra lagi….” Jawab Clara.
“Ngggak Laaahhh….. Mereka pasti bakalan lebih lama lagi marahannya…. ”
“Ngga Kak…. Percaya deh…. Ntar malem juga mereka udah baekan….”

“Oke kalo gitu…. Kita taruhan aja gimana….?” Tantang Ciello.
“Boleeeh… Siapa takut….”
“300 rebu….”
“Kecil itumaaah…”
“Oke fine…. Kalo misal besok Mama ama Papa masih berantem… Jangan nangis ya kalo kamu kalah….”
“Adek nggak bakalan kalah….” Jawab Clara singkat sambil menjabat tangan kakak kandungnya dan melangkah keluar kamar.

***

“Kak…. Kak…. Bangun Kak….” Ucap Clara lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ciello.
“Aaahhh apaan lagi siiiiih…?”
“Bangun Kaak…. Banguuunn….” Ucap Clara berisik, “Kamu kalah taruhan Kaaak…… Ayo bayar….”
“Bayar…? Bayar apaan….?”
“Kamu kalah Kak…. Papa ama Mama udah baekan….” Jelas Clara,”Hihihihi… Adek MENANG….”
“Aahhh…. Kamu ngigau ya….? Ini khan masih sore….?”
“Justru itu Kakaaaak…. ”
“Tahu darimana kamu kalo Papa ama Mama udah baikan….?”

“Tadi Adek khan haus… Trus mau ngambil minum ke bawah… ” Jelas Clara
“Trus…?”
“Eh pas sampe bawah.. Tahu nggak apa yang Adek lihat….?”
“Apaan…?”
“Papa ama Mama sedang……” Clara tak melanjutkan kalimatnya karena kebingungan

“Apaan…?” Tanya Ciello penasaran.
“Ngggg…. Kakak liat aja sendiri deh…”
“Aahh…. Kakak males kebawah…”
“Ihhs Kakak maah… ” Rajuk Clara, “Yaudah kalo nggak mau ngelihat… Pokoknya Kakak kalah taruhan… Dan Kakak harus bayar 300 rebu ke Clara…”
“Yeee… Enak aja… Ya kalo nggak ada bukti Kakak nggak mau bayarlah….”
“Makanya buruan sana liat kebawah Nyeeet… ” Paksa Clara yang buru-buru menarik Ciello bangkit dari tempat tidur dan menyuruhnya turun kebawah

“Aduuuhh… Nih cewe rempong amat sih… ” Omel Ciello, “Awas aja ya… Kalo sesampenya dibawah ternyata nggak ada apa-apa… Bakal kakak remes abis tetek buletmu ini…” Ancam Ciello sambil meremas kedua payudara Clara keras-keras, “Sampe puaassss….”
“Iyeee deh Iyeeeee….…” Jawab Clara membiarkan tangan jahil Ciello meremasi payudaranya sambil menarik tubuh kakaknya kearah tangga.

“Looh…? Kok rumah gelap Dek…?” Tanya Ciello sambil celingukan.
“Ssssttt… Coba dengerin deh Kak….”

PLAK… PLAK… PLAAK….
Terdengar suara tepukan dan hentakan yang disertai dengan lenguhan-lenguhan nikmat.
“Ooohh… Deek… Goyang terus pinggangmu Deeekkk… Enaaakk….”
“Ssshhh…. Iya Maasss… Kontolmu juga berasa enak banget Maas……”

“Haah…? Serius itu Papa ama Mama Dek…?” Kaget Ciello yang langsung semangat.
“Iya…” Jawab Clara singkat, “Lihat aja Kak…”
“Busyeeet…. Daaahhh…”
“Stttt…Beneran khan Kak… Mereka udah baekan… ? Malahan sekarang mereka sedang….”
“NGENTOT….”

“Ihhhss kakak jorok deh….”
“Laaah… Bener khan…? Mereka sedang ngentot….?”
“Auk aah… Pokoknya Kakak kalah… Sekarang Kakak harus bayar…”
“Iye yeee… Ntar….” Ucap Ciello sambil buru-buru melangkahkan kakinya turun kelantai dasar, “Kamu jangan kemana-mana ya Dek…Tunggu aja disini…. ”
“Kamu mau kemana….?”
Kakak mau liat mereka…”

“Heeeh… Jangan Kaak… Nggak sopan….” Larang Clara.
“Bodo amat…” Balas Ciello, “Salah sendiri ngentotnya nggak dikamar….”
“Yaaah… Kakak… Jangan tinggalin Clara disini Kak… Takut….”
“Takut apaan sih…?”
“Aaahh… Disini gelap Kaaak… Pokoknya Clara nggak mau ditinggal disini sendirian….”
“Biasanya juga tidur gelap-gelapan….”
“Itu khan kalo dirumah Nyeet… Disini khan di villa….”
“Apa bedanya…?”
“Ya kali aja ada apa-apa nongol dari kegelapan….”
“Huuuu….Dasar toket penakut… Kebanyakan nonton film horor siiihh….”
“Bodo… Pokoknya Kakak disini aja…

“Tauk ah…Kakak mau turun… Daripada disini ntar digangguin setan loh… Hihihi…” Ancam Ciello.
“Iiihhsss… Rese banget deeeehh…. ” Gerutu Clara, “Yaudah… Adek ikut….”

Dalam temaran cahaya lampu balkon yang temaram, kedua kakak beradik itu berusaha beradaptasi dengan suasana malam yang semakin larut. Berjingkat turun menuju lantai dasar. Mengintai kegiatan mesum kedua orang tuanya yang sedang dilanda gelombang birahi. Dan setibanya dilantai dasar, mereka berdua hampir tak mempercayai dengan apa yang dilihat oleh mata mereka sendiri.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Ssshhh… Mass… Pelan-pelan Maas….” Lenguh Citra, “Nanti kedengeran anak-anak…”
“Hehehe… Nggaaaak…. Mereka sudah tidur Dek…” Ucap Mike penuh percaya diri.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Ooohh… Enak banget kontolmu Maas… Jauh banget nusuk rahimkuu… ” Lenguh Citra pelan.

Dengan seksama, Ciello dan Clara berusaha mendengar setiap kata dan kalimat kedua orangtuanya yang sedang mendesah dan lenguhan keenakan.

“Kak… Balik ke kamar aja yuk…” Ajak Clara menggandeng tangan Ciello untuk segera naik keatas.
“Ngapain…?”
“Adek takut kalo Papa Mama tahu kita ngintip mereka disini…”
“Nggak bakalan….”
“Ayo Kak… Balik aja…”
“Nggak ah… ” Tolak Ciello menepis tangan Clara, “Ya kalo mau… Kamu aja sendiri yang balik… Kakak mau disini aja dulu …”
“Yeeee…. Kakak maaahh…. Ayo kak… Adek nggak mau ngeganggu Papa Mama …”
“Kita nggak nggeganggu Dek… Orang kita khan cuman pengen tahu aja kok….” Jelas Ciello, “Udah ahh… Lepasin tangan Kakak…. Kakak mau ngedeket kesana…”
“Ikuutt…”
“Huuuu… Dasar toket plin plan…. Ternyata kamu pengen lihat juga….” Remas Ciello iseng.
“Bodo… Daripada ditinggal sendiri….” Jawab Clara yang buru-buru memeluk tangan Ciello erat. Saking eratnya, payudara Clara sampai menempel ke tangan kakaknya.

Dengan berjingkat hati-hati, kedua kakak adik itu merayap mendekat ke tempat Mike dan Citra berada. Bak ninja, mereka berusaha tak menimbulkan suara apapun. Mengendap bagai maling yang bersembunyi dibalik bayangan malam.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Untung tivinya masih menyala ya Dek… Jadi kita bisa ngelihat Papa Mama dengan jelas…” Ucap Ciello sambil terus merangkak, diikuti oleh Clara dibelakangnya.
“Iya Kak… Sepertinya mereka sedang asyik-asyikan ya Kak… ”

Letak ruang keluarga, berada tepat di bangunan paling ujung dari villa tempat mereka berlibur. Tengahnya, terdapat meja makan, dapur lalu tangga. Jadi ketika Ciello dan Clara mengedap mendekat, posisi kakak beradik itu masih tertutup oleh meja makan, sehingga tak mampu terlihat oleh Mike ataupun Citra. Terlebih, karena Citra dan Mike sedang bersetubuh membelakangi ruang makan, otomatis, kedua putra putrinya dapat melihat aktifitas mesum mereka dengan tanpa rasa khawatir yang berlebihan.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Astaga Kaaakk… ” Pekik Clara kaget sambil menutup mulutnya, “Papa Mama telanjang bulaaat….”
“Sssstttt…. Jangan keras-keras Deeekkk….”

Dalam siraman cahaya TV yang terang benderang, Ciello dan Clara dapat melihat aktivitas yang sedang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Walau hanya menampakkan punggung Citra, namun tetap saja, gerakan peretubuhnan mereka dapat terlihat dengan jelas oleh anak-anaknya.

Tubuh Citra terlihat begitu cantik. Kulitnya putih bersih dengan lekukan tubuhnya yang menonjol di bagian payudara dan pantat, membuat siluet tubuhnya terlihat begitu seksi. Payudaranya yang besar dengan pantat bulat bahenol benar-benar membuat postur tubuhnya bak gitar spanyol.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Berulang kali, Citra menggeliatkan tubuhnya maju mundur, kekiri kekanan, menikmati setiap gesekan vaginanya yang mengulek penis suaminya. Tak jarang, ibu dua anak itu mengaduk penis Mike naik turun, sehingga membuat bibir vaginanya yang sempit terlihat tertarik dan terdorong, karena menjepit batang besar suaminya erat-erat.

“Astaga Kaak… Titit Papa….” Kaget Clara, “Gedhe banget….”

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Itu titit Papa nusuk-nusuk memek Mama Kaak… Nusuk sampe masuk semua itu batang tititnyaa….” Seru Clara dengan suara tertahan,”Memek Mama nggak berasa sakit apa ya…? Ditusuk titit segedhe itu….?”

“Oooohh…. Sayaaaang… Ssshh…. Aku capek Sayang…. Daritadi diatas mulu…. Gantian yaaa…” Pinta Citra sambil terus mendesah-desah keenakan
“Yaudah… Kamu rebahan aja disofa Dek…”

PLOP… PLAK…
Penis Mike menjelepat keras keatas ketika terlepas dari jepitan vagina Citra dan menampar perut kekarnya

“Uuuhh… Lega banget berasanya memek aku Mas…” Ucap Citra ketika penis suaminya terlepas dari vaginanya, “Kontolmu bikin memek aku penuh…. Ssshsh….”
“Hehehe… Memek kamu yang kesempitan Dek… Pereeett….” Ucap Mike kemudian berdiri dari posisi rebahannya, “Jilat kontolku dulu Dek…. Biar bersih….” Tambahnya lagi sambil menjejalkan penisnya yang berlumuran cairan vagina ke mulut Citra.

“HAP… AHEEEMM… SLUUURRPP…” Lahap Citra yang tanpa rasa jijik sedikitpun, segera menjilati kelamin suaminya.

“Kak…. Mama jorok juga yak….?” Celetuk Clara berbisik, “Masa titit Papa yang berlendir kotor gitu langsung dijilatin sih…? Khan baru aja masuk memek Mama….Pasti bauk tuh….”
“Ahh.. Nggak jorok kali Deek… ” Ucap Ciello yang masih terus mengamati aktifitas kedua orang tuanya dengan seksama, “Yang Mama lakuin tuh…. Seksi…..”
“Ahhh… Masa sih….?”
“Iyalah…. Cewe… Kalo mau nurutin cowo ketika mereka ngentot… Itu seksi….” Bisik Ciello yang kemudian membetulkan batang penisnya yang menggeliat keras didalam celana kolornya.
“Iiihhss… Kakak ngaceng ya…? Pake pegang-pegang titit segala….?”
“Ssssttt…. Iya…. Biarin aja napa… ” Ucap Ciello cuek
“Ehh… Kak…Titit Papa mau ngentotin Mama lagi….” Seru Clara yang sepertinya mulai menikmati pemandangan mesum kedua orang tuanya.

“Ayo buka lebar-lebar pahamu Dek… Mas mau ngentotin kamu lagi…” Pinta Mike yang kemudian meletakkan kedua kaki istrinya di pundak,dan mengarahkan kepala penisnya ke vagina istrinya.
“Sssshh… Pelan-pelan ya Maasss…”

CLEEPPP

“Ooohhhh… Deeekk…. Sempittnyaaa….. Walau memek ini udah sering Mas sodok… Memekmu masih berasa ngejepit aja Deekk…” Lenguh Mike yang kemudian mulai menyodokkan seluruh batang penisnya.
“Shhhh… Kontolmu yang kegedean Maas…. Ooohhh… Pelan-pelan Maas…. Biar memek aku beradaptasi lagi…”

PLAK…
Suara pangkal batang penis Mike menabrak selangkangan Citra.

“Uuuhh.. Maaas… Bentaran… Jangan digoyang dulu….” Desah Citra.
“Hehehe… Mas udah nggak tahan Dek….” Ucap Mike yang tanpa menunggu istrinya, mulai menggenjot vagina Citra pelan.

PLAK… PLAK… PLAK…

“Ssssh….Pelan-pelan Masss… Biarin memek Adek megar dulu….”
“Hehehe…Memek nakal gini emang harus dihukum Dek….”
“Aaawww… Pelan Maasss…. Sssh… Ohhh… Ohhh… Ohhh…”
“Memek nakal gini… Emang harus dikasarin…”

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Astaga Kaaak… Papa mainnya kasar banget ya…?”
“Nggg.. Nggak juga ahh… Toh mama masih keliatan keenakan gitu…”

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…
“Uuhh…Uhhh… Masss… Pelan-pelaaan…. Memek Adek ngiluuu…..Uhhh… Uhhh… Uhhh…”
“Ssshh… Habisan Mas nggak tahan lagi Dek… Mas mau keluar… Oooohhh…. ”

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Dari jarak yang hanya terpaut beberapa meter, Ciello dan Clara terlihat begitu menikmati pemandangan mesuk kedua orang tuanya. Ciello yang berulangkali membetulkan penisnya, sudah mulai tak malu-malu lagi untuk mulai memasukkan tangannya kedalam celana kolor guna mengelus-elus pelan penisnya. Sementara Clara, juga mulai ikutan terangsang dengan mulai meremas-remas payudaranya pelan sembari menggigit-gigit bibir tipisnya.

“Kamu horny ya Dek…?” Ucap Ciello sambil meraba pundak adiknya,”Kok ngerabain toket sendiri….”
“Eehhh… Kamu juga Kak…” Balas Clara, “Mulai ngocok-kocokin titit…”
“Habisan gara-gara Papa Mama nih… Kakak jadi pengen…”
“Pengen apaan…?”
“Ya pengen ngentot laaaahh….”
“Iiihhhsss Kakaaak…. Mesum amat….”
“Emangnya kamu nggak pengen kaya mereka…?” Tanya Ciello yang pelan tapi pasti, mulai meraba-raba punggung dan pantat Clara.
“Ennngggg…. ” Bingung Clara, “Emang rasanya gimana ya Kak…?”
“Yaaa enak laaaahhh….”
“Iya ya Kaak…? Pantesan Mama sampe ngedesah-desah gitu…. Ssshh…” Lenguh Clara yang mulai terbawa birahinya sendiri.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Mike, dengan kecepatan tinggi terlihat asyik memainkan pinggulnya. Maju mundur cepat menghajar vagina sempit Citra yang mulai berbusa sembari terus meremasi kedua payudaranya keras. Karena gelombang orgasmenya yang mulai datang, membuat gerakan bercinta Mike semakin brutal.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Oooohhh Maaasss…. Memek Adeek… Ngiluuuu…. Ooohh…. Tapi… Eeenaaakk…. Ooohh…. Ooohh….”
“Ssshhh… Iyaaaa…. Memekmu…. Ngejepit banget Deeek… Uuhh… Uuhh…”
“Terus Maaass… Terus sodok memek Adeeekkk…. Sodok yang keenceengg….” Pinta Citra sambil menggoyang pantat Mike naik turun. Mata Citra berulangkali merem melek, seolah tak mampu menahan rasa nikmat dan geli yang luar biasa.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Ehhmmmhh…. Pasti Mama keenakan ya Kak…” Tanya Clara penasaran yang masih mengintip persetubuhan kedua orang tuanya dengan posisi merangkak. Membuat kaos mini mousenya tak bisa menutupi pantat bulat Clara.
“Pastinya Deeek…” Balas Ciello sambil terus mengusapi penis besarnya sembari menatap pantat adik kandungnya yang sesekali bergoyang seiring remasan tangannya pada payudaranya.

“Kamu seksi sekali Dek…” Ucap Ciello yang tiba-tiba meremas pantat bulat Clara.
“Eehh…. Kakak ngapain…?”
“Nggg… Kakak nggak ngapa-ngapain kok…. ” Ucap Ciello santai sambil terus merabai pantat Clara secara bergantian, “Kakak cuman kagum aja ama pantat kamu Dek… Bentuknya sama seksinya ama pantat Mama….”
“Ya iyalah…. Clara khan anak Mama gitu loooh….” Jawab Clara tak mengetahui betapa terangsangnya Ciello saat itu. “Kenapa…? Kakak nafsu ya ngelihat pantat Clara….?” Tambah Clara yang ketika menerima elusan tangan jahil Ciello, malah semakin menggoyang-goyangkan pantatnya.
“Sedikit….” ucap Ciello yang karena sudah tak mampu menahan gejolak birahinya, langsung menurunkan celana kolornya dan membebaskan penis besarnya di hadapan Clara.

“ASTAGA… KAK…. KAKAK MAU NGAPAIN…..?” Pekik Clara dengan suara tertahan. Matanya melotot melihat batang kelamin Ciello yang secara tiba-tiba terpampang tepat didekatnya.
“Hehehe… Kira-kira Kakak mau apa…?” Balas Ciello sambil terus mengusapi pantat adiknya. Bahkan, karena melihat kecuekan Clara, membuat Ciello semakin berani dan mulai bertindak lebih nekat lagi.
“Kamu udah GILA ya Kak…?”
“Huuushh.. Ngaco… Kakak nggak gila lah… Kakak cuman sange aja….” ucap Ciello yang kemudian mulai mengocok batang penisnya didekat Clara. Tak lupa, ia juga masih mengusap dan meremasi pantat bulat adiknya sambil sesekali menempelkan batang penis besarnya pada pantat Clara.

TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK…
Suara tarikan kulit batang penis Ciello.

“Iihhhsss Kakak…? Kakak mau ngapain lagi…?”
“Hehehe… Bantuin Kakak bentaranlaaah…” Ucap Ciello sembari terus meremasi pantat Clara yang tak tertutup, “Kakak mau pinjem pantatmu bentaaar aja…..”.
“Kak Ciello Iiihhss… Mesum amat sih jadi cowo….” Tolak Clara berusaha menghindar dari remasan tangan Ciello. Namun, walau menghindar, Clara sedikit banyak juga merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kakak kandungnya. Terlebih ketika melihat batang penis Ciello yang memiliki ukuran kurang lebih sama dengan penis Mike, membuat darah birahi Clara mulai ikut berdesir panas.

“Ayolah Deeek.. Bentaran doang….”
“Nggg……. Tapi jangan pake pantat Adek buat ngegesek-gesek titit kamu Kaak…. ” Ucap Clara sok jual mahal, padahal mata dan perhatiannya tertuju sepenuhnya pada batang penis Ciello yang bergerak maju mundur karena kocokan tangannya.
“Dan jangan pula ngecrot disini….” Ucap Clara memberi syarat kearah lantai ruang makan sembari terus berusaha menjauhkan tubuh Ciello dari bongkahan pantatnya
“Iyaa… Nggak bakal ngecrot disini…. Kakak cuman pengen ngeremes-remes pantatmu aja kok….”
“Bener ya…. Kakak nggak ngecrot disini…. Bakalan jadi jorok tauuukkk…”

“Enggaaaak…. Tenang aja Dek… Kakak nggak bakal ngecrotin disini…Palingan Kakak ngecrotin di dalem memek kamu…Hehehe….” Canda Ciello sembari menyelipkan jemarinya kedalam celana dalam Clara, “Looh… Memek kamu udah becek Deek…”
“Iiihhsss… Heeeehhhh….Kakaaaakkkkk…. Iseng banget sih tangannyaaa…..” Hardik Clara dengan intonasi pelan sembari menampik tangan Ciello.
“Hehehe… Kamu sange juga yaaaa Deekk….? Memek kamu udah berlendir gini….” Ucap Ciello menunjukkan jemari tangannya yang sudah berlumuran pelumas vagina pada Clara.
“Iiihhhhsss….. Dasar titit mesum….” Tepis Clara pada tangan Ciello.
“Kakak nggak nyangka…. Ternyata kamu suka juga ya ngelihat Papa Mama ngentot….”

“Ee… Ennggaaak kok….Kebetulan aja memek Adek becek….” Ucap Clara dengan muka memerah malu.
“Hehehe… Iya deh Iyaaa….” Ucap Ciello yang melihat keterpojokan Clara, semakin berbuat jahil. Ia terus menempel-tempelkan batang penisnya ke pantat Clara sembari terus mengusap dan meremasi pantat bulat adik kandungnya.
“Berhubung kita sama-sama sange… Boleh khan Deek… ? Kakak pake pantat kamu bentaran….”
“Iya deh iyaaa… Tapi jangan masukin-masukin jari Kakak lagi ke memek Clara….”
“Iyaaa iyaaaa…. Udah ahhh….Kamu nonton aja Papa ama Mama… Jangan berisik… Ntar mereka bisa tahu kita disini…”
“Awas aja ya… Sampe masukin jarinya lagi…. ” Ancam Clara,” Udah… Sana agak jauhan…. Kakak jangan ngocok titit dideket Clara ”
“Ssstt… Bawel nih ya…” Kesal Ciello mendengar begitu banyaknya larangan dari Clara, “Udah-udah… Mending kamu balik aja deh keatas… Berisik banget….”
“Yeeee…. Nggak mau….Clara takut diatas sendirian….”
“Yaudah… Kalo nggak mau balik… Mending kamu diem aja disini…. Kakak udah nggak tahan pengen coli’in kontol dulu nih…”
“Iihhhsss… Sumpah jorok banget sih kamu Kak….”
“Bodo…” Ucap Ciello yang kemudian kembali meremas-remas pantat Clara sambil sesekali menepuk-tepukkan batang penisnya pada bulatan daging semok itu.

NYOOOT….
Cubit Ciello gemas pada pantat bulat Clara.
“Aduuuuhhh…..Sakit tauukk…” Jerit Clara tertahan, sambil lagi-lagi menepis tangan jahil Ciello.

“Ssssttt… Udah… Diem…. Jangan berisik… Ntar Papa Mama tahu loh kita disini…” Ingat Ciello sambil kembali merabaik pantat bulat adiknya, “Dilihat lagi tuh pemandangan mesum Papa Mama kita…. Siapa tahu… Besok-besok keluar di ulangan sekolah… Hehehe….”
“Iiiihhhssss….. Sumpah…. Kamu nyebelin banget Kak…”

Clara yang sudah terlanjur salah tingkah karena tak bisa kemana-mana, hanya bisa diam. Menyaksikan persetubuhan kedua orang tuanya dan menjadi bulan-bulanan oleh penis kakak kandungnya.

TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK…TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK…

“Coli diatas tetek Mama keliatannya enak ya Dek… Pasti pejuhku cepet keluar tuh kalo dikocok-kocok pake tetek Mama……” Bisik Ciello pelan.
“Iiihhsss.. Kakak…. Masa Kakak ngebayangin Mama seperti itu…?”
“Biarin… Habisan badan Mama seksi banget sih… Jadi bikin kontol aku nyut-nyutan…”
“Ihhhsss…. Kontal kontol kontol muluk… Kakak jorok banget deh ngomongnya….”
“Emang kenapa…? Kontol kontol kakak sendiri kok…” Celetuk Ciello sambil memperlihatkan secara terang-terangan kocokan penisnya kepada Clara. Membuat adik kandungnya semakin salah tingkah karenanya.

TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK…TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK…

“Kamu juga sange khan Dek…? Ngeliat kontol Papa nyodok-sodok memek Mama…?” Goda Ciello yang kemudian kembali meremas-remas pantat Clara. “Keliatan banget kamu pengen ngerasainnya…”
“Iiiihhhss… Sok tau banget…”
“Ini buktinya….” Seru Ciello yang tiba-tiba kembali mengusap celah vagina Clara, “Lendir kamu makin banjir gini… Sampe ngalir ke paha kamu tuh…. Dan ini juga… Puting kamu udah ngaceng keras gini…” Tambah Ciello yang juga mengelus payudara Clara dari luar kaos dan meremasnya perlahan.

“Kaakaaak….Nggak sopan banget sih….?” Erang Clara sebal.
“Hehehe… Habisan… Kakak udah sange banget nih Dek… ” Celetuk Ciello cuek sambil terus mengocok batang penisnya kuat-kuat, “Kakak pengen cepet-cepet ngecrot….”
“Auk aaahh…” Cuek Clara berusaha tak menghiraukan kejahilan kakak kandungnya. Kembali berjongkok mirip anjing, mengintip persetubuhan kedua orang tuanya dengan seksama.

“Dek… Kakak boleh minta tolong lagi nggak…?” Tanya Ciello dengan tangan masih meremas dan merabai pantat bulat adiknya.
“Apaa..? “Jawab Clara singkat.
“Kakak boleh…. ”
“Boleh apa…?”
“Ngggg… Kakak boleh nggak… Megang toket besarmu…?”
“Iiihhhsss…. Ogah…. Buat apaan…?”
“Biar Kakak cepet ngecrot Deekkk…. Kakak udah nggak tahan lagi….” Iseng Ciello yang tanpa persetujuan Clara mengelusi payudara adiknya.

“Ogah…” Tolak Clara, menepis tangan jahil Ciello, “Enak aja… Emang Clara cewek apaan…?”
“Ayolah Deekkk.. Ntar Kakak kasih duit tarohannya langsung deeeh…” Rayu Ciello yang tak menghiraukan keberatan adiknya, “Ya Dek yaaaa… Kakak pengen banget nih ngeremesin toketmu…”

“Nngggg… Kalo mau…. Jadiin 2x lipat… Baru deh Clara bolehin Kakak megang…”
“DEAL…” Girang Ciello yang buru-buru memasukkan tangannya kedalam tshirt Clara dan meremas payudara besar adiknya tanpa berpikir panjang, “Woooww… Empuk banget ya Dek tetekmu…”

“Sssshhh… Pelan-pelan Kaaakkk…” Erang Clara geli.
“Tetekmu juga kayaknya enak nih Dek… Kalo dipake buat ngocokin kontol Kakak…” Erang Ciello yang makin kuat meremasi kedua payudara Clara secara bergantian. Sementara tangan satunya, masih sibuk mengocok batang penisnya kuat-kuat.
“Yeeee… Ngelunjak….”

TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK…TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK…

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Ooohh.. Ohhh.. Ooohh… Maasss… Aku mau keluar Maasss… Aku mau dapet….” Teriak Citra lantang.
“Ssshhh.. Mas juga Deek… Mas juga pengen ngecrot…” Sahut Mike
“Kita keluar bareng Maas…. Ooohhh.. Ngentoott…”

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Dalam jarak cukup dekat, Clara dan Ciello tahu jika sebentar lagi, kedua orangtuanya akan segera orgasme. Itu artinya, pertunjukan mesum mereka akan segera berakhir.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Gerakan bersetubuh Mike semakin brutal. Menggempur vagina sempit Citra dengan penis besarnya. Melesakkan batang besarnya sejauh mungkin ke dalam vagina Citra. Menggejot bertubi-tubi tanpa henti.

“Ooouuuggghhhhh… Oooohhh…Aahhh… Ooughhh…. Ooooohh…. Maaasss…. ” Suara desahan Citra tak terkendali ketika merasakan vagina sempitnya dibongkar oleh penis suaminya secara kasar. Ditusuk keluar masuk penis besar Mike tanpa ampun.
“Ooohh… Sayaaang.. Memek kamu berasa makin sempit baaangeett Deeekk… Kontol Mas berasa makin diempot-empoott… Enaaak bangeet…. Ooohhh….”
“Ssshhh… Sama Maass.. Kontolmu juga berasa penuh banget di memek Adek… Sodok yang kenceng Mass…. Entot memek Aadeeekk…. Ooohh…
“Ooohh… Memekmu selalu bisa bikin kontolku ngecrot Deekkk.. Peret bangeett…”
“Iya Maas… Adek juga…. Uuhh.. Uuhh… Ooouuuugggghh…. Bentar lagi Adek ngecrit Maasss…”

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Tubuh Mike tiba-tiba bergetar dan bergerak semakin brutal. Dengan kecepatan super tinggi, Mike menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan ganas. Saking ganasnya, sofa tempat mereka berdua bersetubuh sampai berderit derit nyaring.

“Ooohhh… Deeeekkk…… Mas keluar ya Deeekk… Mas mau ngeecrooottt…. Ooohhh…. Ngentoooottt…” Seru Mike yang tanpa malu, berteriak-teriak kesetanan sembari menghantamkan pinggulnya dalam-dalam ke selangkangan Citra.

CROOT… CROOOTTT… CROOCOOOTTT… CROOT… CROOT… CROOOTTT…

“Oooouuuggghhhhh…. Aaaarrrggghhhh… Adek juga Maaasss….. Adek mau keluuuuaaarrr….Ooohh.. Ngeeenttoootttt….” Jerit Citra dengan mata merem melek keenakan. Tangannya menempel di pantat Mike dan menekannya kencang sembari mengangkat pantatnya keatas, menerima sodokan tajam batang penis suaminya.

CREETT… CREEETT… CREEECEEETTT…. CREETT… CREETT… CREETT…

Keduanya mengeluh panjang, sembari terus saling menghentak-hentakkan badan. Sebelum akhirnya Mike ambruk dan memeluk tubuh basah Citra yang lemas di atas sofa ruang keluarga. Dalam keremangan malam, kedua orangtua Clara Dan Ciello hanya bisa berdiam. Menikmati sensasi orgasme mereka sembari melepas lelah.

“Kak….? Papa Mama sudah selesai ya….?” Tanya Clara dengan mata yang masih menatap tajam kedepan. “Itu sperma Papa keliatannya meluber keluar dari memek Mama….”

TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK… TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK….
Tak terdengar jawaban dari Ciello. Yang ada, hanyalah suara betotan batang penisnya yang tersiksa akan tarikan kasar tangan Ciello.

TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK… TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK… TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK…

“Kaak…?” Tanya Clara lagi yang penasaran akan suara yang berasal dari belakang tubuhnya.
“Ssssttt.. Deeekk…. Jangan nengok….” Larang Ciello pada adiknya sambil terus meremasi payudara bulat Clara.
“Emang kenapa Kak…?”
“Kakak… Mau ….Ssshh…. Ooooohhhh…… Ooohhhh…..” Erang Ciello dengan suara berat. Yang kemudian, ia mengejan-ejankan tubuhnya kuat-kuat.

CROT CROTT CROOOTTTCOOOTT… CROOOTT… CROOOTTT…. CROOOTTT…. CRROOOTTT….

Semburan sperma-sperma hangat, tiba-tiba meloncat jauh. Keluar dari mulut penis Ciello dan mendarat, tepat di punggung dan pantat Clara. Dan tanpa Clara bisa menghindar, sebagian sperma itu juga mendarat di rambut dan wajah cantiknya. Semua terjadi begitu cepat.

CROOOTT… CROOOTTT…. CROOOTTT…. CRROOOTTT

“Kakak keluar Deek… Ooohhh.. Nikmat sekaaaliiii….. Ooohhh.. Ooohhh… Ooooooohhh…” Lenguh Ciello keenakan dengan mata merem melek. Mengurut penisnya sekuat-kuatnya, hingga tetes sperma terakhir. Setelah itu, ia mengoleskan batang penisnya yang berlumuran sperma ke pantat bulat adik kandungnya.

“Iiihhsss…. Kaakkaaaaaaaaak…. Kok muncratin pejuhnya disini siiiihhhh…..”Erang Clara, ” Iihhss….. Nyebelin deeehh…. Jorok banget kamu Kaaaaakkk…”

“Ehh.. Ehhh.. Ehh Maaf Dek… Maafff…” Kaget Ciello yang buru-buru membuka matanya. Dan mendapati betapa berantakannya penampilan Clara. Rambut, wajah, punggung dan pantatnya, semua basah karena spermanya.

“Kamu kok malah mejuhin Adek sih Kaaakkk….”
Hehehehe… Maaf Dek Maaff…. Maafin kakak ya Dek…. Habisan kakak nggak tahan ngeliat goyangan kontol Papa nyodok memek Mama….”
“Aaahhh…. Nyebelinnnnn….” Omel Clara, “Khan badan Adek jadi bauk semua Kaaakkk…”
“Bauk yang seksi tapi Deekk… Hehehe…”Kekeh Ciello merasa bersalah, “Sumpah… Gara-gara toket besar dan pantat semokmu… Kakak jadi nggak kuat nahan pejuh Kakak lebih lama lagi Dek… Gara-gara tubuh seksimu… Kakak nggak kuat nahan orgasme Deek..”

“Iiihhsss…. Ya tapi khan bukan berarti Kakak bisa ngecrotin badan dan muka Adek doong….”
“Hehehehe… Tapi Dek… Dengan wajah yang penuh pejuh gitu… Kamu jadi makin keliatan cantik dan seksi loooh….”
“Seksi gundulmuuu….”
“Beneran Dek… Kamu… Mirip bintang-bintang bokep kenamaan….”
“Iiihhhsss… Kak Cielloooo messsuuummmm…….” Cubit Clara manja pada penis kakak kandungnya yang masih memancarkan cairan kenikmatannya dan buru-buru pergi ke kamar tidurnya. Meninggalkan Ciello yang masih Merem melek karena merasakan orgasmenya barusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*