Home » Cerita Seks Ayah Anak » Bercinta Dengan Ayah

Bercinta Dengan Ayah

Sebetulnya, aku bingung, apakah kisah ini perlu kuceritakan atau tidak. Namun, terkadang, untuk melepaskan beban, aku perlu menceritakan apa yang sebetulnya belum pernah kuceritakan pada orang lain. Aku tak ingin meminta belas kasihan, aku hanya butuh didengar, butuh melepaskan beban yang tengah kualami saat ini. Hal ini selalu terbayang-bayang, dan kadang membuatku stress, karena itulah aku harus cerita.

Saat ini aku sedang di kosan, di daerah malang. Aku kuliah disini, dan sengaja aku memilih kuliah di tempat jauh dari rumahku di daerah bogor, jawa barat. Aku memilih di tempat jauh, agar aku terhindar dari kejadian yang selama ini berulang. Berulang di rumahku sendiri, dan bersama,,mmh.. ayahku sendiri. Beginilah kisahku, kisah terlarang dengan ayah tercinta. Jangan dulu judge ayahku, karena aku sadar, ini juga salahku.

Langsung saja, saat itu aku sudah semester dua kelas 3 SMA. Perawakanku, tinggi 155, berat badan 52, kulit putih, pantat dan susu tentu nyembul dengan perawakanku yang pendek dan montok. Wajahku kata orang lain lucu, rambut sebahu, berponi dengan bibir mungil pink, dan mata yang -sedikit sayu. Banyak teman-temanku yang mengungkapkan perasaan kepadaku, tapi dengan halus ku tolak karena aku memang tak berniat pacaran. Tapi, satu yang tersembunyi di diriku, aku sedikit nafsuan. Setelah mandi, di kamar, sering aku hanya telanjang dan ngaca melihat tubuhku sendiri. Dan dengan hal itu, aku jadi nafsu sendiri. Aku hanya bisa remes-remes susu sendiri, sesekali aku elus memek sendiri.

Semakin meningkat remaja, nafsuku semakin tinggi aja. Aku jadi sering sekali bikin percobaan ke memek aku sendiri. Pernah aku menggulung handuk kecil hingga berbentuk batang, aku masukan ke air anget, lalu ku elus di belahan memek aku. Enak banget rasanya, saking seringnya mainin memek, aku jadi ketagihan. Gilanya, ketika aku pengen saat di sekolah, aku ke kamar mandi dan aku elus-elus memek aku sendiri ampe aku puas. Aku jd suka ama memek aku sendiri, aku rawat, aku cukurin, pokonya yang bikin aku nyaman saat mainin memek aku. Kadang, saking sukanya, aku sering mainin memek depan kaca, melihat diriku yang keenakan ngorek memek, aku jadi lebih horni lagi.

Itulah sekilas, gejolak nafsuku yang menggambarkan diriku yang penuh nafsu. Pernah terpikir untuk punya pacar, aku juga pengen dipeluk cowo. Tapi kupikir, dengan nafsu yang tak terkendali ini, bahaya nantinya, bisa-bisa aku minta di entot ama pacar aku sendiri. Berabe, gimana kalo aku hamil? Ah, gamauuuu! Jadi yasudahlah, aku belum mau pacaran. Lagian mama sama ayah juga suka bilang jangan dulu pacaran, biar sekolahnya nggak keganggu. Aku emang deket banget ama mama ama ayah. Kita bagai temen, dan lagian aku anak satu-satunya. Mereka pun akrab denganku.

Saking akrabnya, aku sering sengaja minta bobo bareng mama dan ayah, untuk family time. Karena ayah dan mama sama-sama kerja, dan aku sekolah, kadang kami butuh waktu bersama. Kadang saat itu kami isi dengan obrolan saling curhat tentang hal-hal yang menarik. Aku menikmatinya. Satu ketika, saat famili time di kamar mama dan ayah, saat itu ayah tak banyak bicara. Bahkan kebanyakan nyuruh aku tidur cepat. Mama pun seperti sudah ngeuh sesuatu yang aku tidak tau. Akhirnya papi mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu tidur saja. Akupun dengan mudah terlelap.

Namun, saat ku terlelap barang satu atau dua jam, aku mendengar bisik-bisik antara mama dan ayah. “Ma, ma.. ayah pengen ngentot ma.. yukk..” bisik ayahku yang membangunkan mama. “Ih ayah, si Nana lg tidur disini, ntar kebangun ayah.. aahh,, ayah ih langsung nyerang aja. Hhihi.. udah nafsu ya ayah.. kasian di ganggu anak.. hihi..” jawab mama. “ssstt, jgn keras-keras mama,, kita ngentot pelan-pelan aja.. ntar si nana bangun..hhmmm,, cd mama buka dong, ayah pengen masuk nih..” aku hanya mendengar mereka bisik-bisi dan pura-pura tidur, degdegan takut ketauan. Di sela mataku yang setengah terpejam, aku liat ayah buka celana dalam mama, dan kolor ayah udah melorot selutut dan titit nya udah ngaceng banget. Aku jadi panas dingin liat keadaan itu, tapi aku penasaran apa yang akan terjadi.

“mama ga usah buka daster sayang, ntar takut nana bangun, naikin aja ampe perut biar ayah bisa masukin aja.. darurat ma,,ayah ga kuat..” bisik ayah yang menahan mama membuka daster. Ayah langsung peluk mama, dan mulai genjotin mama dari pinggir. Aku yang tidur minggir belakang ayah, hanya liat pantat ayah maju mundur ke tubuh mama. Celana boksernya hanya membuka sedikit pantat ayah yang maju mundur. Aku yang saat ini menyaksikan, degdegan dan perlahan menjepit tanganku di memek. Aku remes-remes memekku sendiri, mengikuti irama ayah yang menyetubuhi mama. “aaahhh.. ayaahh aahh..enak yahh….” desah mama membuatku semakin horni saja. “Ssstthh maa,, jgn kerashh kerash,..ahhh ahhh,,” ayah melumat bibir mama agar tak banyak mendesah keras. Itu membuatku juga semakin keras meremas memekku dr luar celanaku. Ingin rasanya aku memasukkan tanganku mengelus memekku, tapi aku takut ketahuan.

Sampai tak berapa lama ayah dan mama melenguh panjang. Ayah mendorong keras pantatnya kepantat mama. Dan akhirnya, mereka berhenti, dan mama langsung berbalik memeluk ayah. Mereka berpelukan saling berciuman. “Mama cinta ayaaahh.. mmuah” bisik mama ke telinga ayah. “Ayah juga ma.. memek mama masih enak bangett.. mmmuahh..” dan akhirnya mereka berpelukan, ayah sepertinya memasukan titit nya dan menaikan celananya. Mama pun sama menurunkan dasternya. Aku? Aku masih horni gila! Kebayang kan memekku, basah banget, dan belum puas T_T. Tapi akhirnya aku paksa menutup mata, dan terlelap. Walau susah payah, tapi akhirnya akupun tertidur.

Itulah kejadian pertama aku tau apa itu berhubungan intim yang asli. Aku semakin nafsuan aja. Sehari, dua kali aku mainin memekku sendiri. Dan seperti ritual sebelum tidur, aku tak dapat tidur kalau nggak ngelus memek sama itil. Ahh, kenikmatan yang aku sukai. Aku tak tahu hingga kapan aku menyudahi hal ini, yang jelas aku sangat ketagihan. Dan terpikir pengen lebih. Kadang aku sengaja ikut tidur ama mama dan ayah meskipun bukan jadwal family time, dengan harapan melihat mereka entotan lagi. Kadang nihil, kadang juga berhasil.

Sampai satu ketika, hal itu terjadi, hal yang bikin aku berhenti bermasturbasi memainkan memekku sendiri. Kala itu, mama diberi tugas dari kantornya untuk terbang ke singapura selama 11 hari. Otomatis tinggallah aku dan ayah di rumah. Malam pertama, dan malam kedua, tak terjadi apa-apa. Seperti biasa, ritual mainin memek sebelum tidur aku lakukan. Tapi kali ini, entah kenapa, aku malah membayangkan saat ayah dan mama bercinta di ranjang. Aku malah, menyebut ayah saat aku mengelus memekku sendiri. “yaahh…aahh yaaahhh..ahhhhhhhhh” desisku saat ku elus cepat bibir memekku. Dan dengan nafsu yang masih di ubun-ubun, muncullah ide gila, aku ingin megang titit ayah saat dia tidur, dan aku sambil mainin memek.

Paginya aku makan pagi sama ayah. Aku udah berseragam, ayah juga, sama-sama sudah siap berangkat. Setelah habis kami makan, aku menghampiri ayah untuk pamitan. Tak biasanya, sekarang aku sengaja melingkarkan tanganku di leher ayah, dan lalu mencium pipinya. “ayah aku berangkat yaaa,, mmmuah,,,muuaahh..sayang ayaahh,,mmuahh..” aku mencium pipi ayah dengan manja, yang hampir dekat ke bibir ayah. Aku lihat muka ayah, ayah aku yang masih muda ini emang ganteng abis, pantes mama seneng banget kalo ayah minta jatah ngentot. “Ih.. anak ayah.. manja banget udah gede juga.. sini sayang, mmmuuah..” ayah mencium keningku. Saat ia mencium kening, ada perasaan yang berbeda dari biasanya. Tubuhku bergetar, dan putingku mengeras! Anehh!! Aku langsung memeluk ayahku erat, entah, apakah ini rasa sayang anak kepada ayahnya, atau nafsu? Aku tak tau!!!! Pokonya aku merasakan nyaman luar biasa saat memeluk dia, dia yang menyemprotkanku ke rahim mama, dan merawatku sampai saat ini! Ah betapa anehnya. “Ayo cepet berangkat sayang, kesiangan hayoh.. ayah mengelus kepalaku..” akupun melepasnya dengan berat.

Sayang, aku dan ayah beda arah, aku tak diantar ayah tapi berangkat sendiri. Ya karena sekolahku juga dekat. Akhirnya selama di sekolah aku kangen sekali sama ayah. Entah, kangen ini kangen apa, pokonya kangen ketemu ayah. Aku sempatkan sms ayah di tengah2 jam sekolah, “ayaah,, kangeeeennn..” aku mengirimnya dengan deg-degan, padahal kita sudah biasa smsan. “Iya sayang, sekolah yang rajin” balas ayah. Dan aku berbunga-bunga membacanya. Dan hal itu menguatkan tekadku untuk memeluki ayah semalaman ini. Dan ditambah niatan nakalku untuk memegang tititnya yang selalu bikin mama keenakan. Tapi waktu itu, aku tak membayangkan berhubungan intim dengan ayahku sendiri, meski secuil keinginan itu ada.

Waktu sekolah habis, akupun pulang kerumah. Ayah belum pulang, padahal waktu sudah sore. Agak bete juga, padahal aku kangen abis-abisan sama ayah. Tapi ini juga kesempatan, aku buka seluruh bajuku, aku mainin memekku di kamar. Belum puas aku berpindah, dengan masih telanjang depan tv, ruang tamu, depan kamar ayah, dan juga di wc. Dan “greeenngg” suara mobil ayah datang, aku segera berlari menuju kamarku takut ketahuan. Memakai baju piyamaku, dan tak sempat memakai daleman, karena toh memang mau tidur juga.

Setelah rapi pakai piyama, aku segera berlari menuju ayah dan memeluknya. Kangen berat aku sama ayahku ini, ditambah tadi aku belum sempat puas mainin memek membuat antara nafsu dan kangen semakin bercampur tak bisa kubedakan. “Idih, kamu, udah gede juga masih manja.. mmuah.. udah ah, ayah mau mandi.. km siapin makanan yah” kata ayahku. Akupun segera melaksanakan perintahnya, sehabis mandi kami makan bersama.

Setelah makan, kami nonton tv. “Ayah, malem ini nana tidur ama ayah yaahh.. pliiiss…” kataku dengan berdebar namun bernada manja. “Hmm.. iyaa..” jawab ayah singkat. Yess… aku berbinar, aku memeluk ayah sambil nonton. Dia hanya mengelus-ngelus rambutku sembari menonton. Aku rasakan, susuku mengeras menekan perut samping ayah. Aku goyang-goyang perlahan menikmati posisi ini. Lumayan lama kami terdiam sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku belum berhenti menekan-nekan susuku di pinggang ayah. Ahh,, enak dan nyaman. Hingga akhirnya, ayah beranjak berdiri dan mematikan televisi yang tidak ku tonton. “Yuk tidur ah,” ayah pergi meninggalkanku ke kamar.

Aku dengan berdebar, mengikutinya. Dalam hati, yess, aku mau mainin memek saat ayah udah tidur, dan aku juga pengen pegang titit dia. Akupun masuk ke kamarnya, ayah langsung mematikan lampu besar, dan hanya menyalakan lampu tidur diatas meja samping kasur. Aku langsung rebahan di kasur ayah. Ayah pun tidur disampingku. Aku sengaja tak ingin banyak bicara, aku langsung pejamkan mata dan akan tidur di tengah malam untuk mainin memek sama pegang titit ayah. Tak berapa lama akupun terlelap.

Sampai, entah jam berapa, aku terbangun. Aku teringat rencana yang aku idamkan. Kulihat ayah sudah tidur sepertinya. Ahh, ini kesempatan. Aku lihat ayah yang sedang tertidur, ahh betapa gantengnya ayahku ini. Tak butuh waktu lama aku menjadi horni tidur sekasur dengan pria ganteng dan kekar ini. Aku mulai memasukkan tangan kiriku merogoh memekku, aku mulai mengelus sambil melihat ayah. Mmhhh.. aaahhh enakkk..shhh ahhhhhh aku elus terus belahan memekku. Ahhh.. nikmatnyaahhhh.. sshhh ahhh..yaaahh mmhhh yaahhh… aku mendesah pelan. Dengan berdebar, tangan kananku mulai meraba titit ayah.

Ahh! Betapa seperti tersetrum aku, saat tanganku mendarat di titit ayah yang ternyata berukuran besar. Kenyal ternyata, dan kurasa sepertinya ayah tak pakai celana dalam. Mmhh aku elus-elus pelan titit ayah, sambil ku elus memekku dengan nikmatnya. MMhhhh betapa nikmatnya dengan posisi ini. Aku lihat ayah tak terbangun, lalu muncul ide yang lebih gila! Aku melorotkan celana piyamaku sampai lutut. Sambil meremas pelan titit ayah, aku lebih keras menggosok memekku sendiri. Ahhh.. enakkkk aahhhhhh… tak sadar nafsuku semakin memuncak! Aaahhh aaahhhhh.. nafasku tersengal-sengal dan sudah tak terkontrol! Kepalaku mendongak keatas, sambil menggosok-gosok memek. Tangan kananku terus meremas titit ayah yang, tak sadar semakin membesar. Aku betul-betul tak sadar bahwa titit ayah sudah ngaceng aku remas-remas.

Saat aku hampir mencapai puncaknya, dan terengah-engah sampai tak peduli keadaan ayahku. Memekku seperti tersetrum jutaan kilo watt, saat ada benda asing ikut menggosok memekku dengan keras dan nikmat. Aaahhh,,, aku melenguh keras, dengan mata yang tenggelam keatas sambil mendongak. Pandanganku kabur, tanganku mulai berhenti menggosok memek…. tapi-tapi! Kenapa kenikmatan ini terus berlangsung!! Padahal tanganku sudah terkulai lemas, tapi memekku terus saja digosok nikmat! Aaahhh!!!! Dengan mata kabur, kulihat ternyata tangan ayah!!!!!!!! Tangan ayah menggosok memekku!

Kulihat tangan kanan ayah mengocok titit nya yang berdiri tegak, dan tangan kirinya terus merabai memekku! Aahh.. betapa kagetnya aku, namun aku lemaaaas. Aku hanya bisa memandang dan takut, karena jelas aku ketahuan “basah” masturbasi disamping ayah. Tapi ayah tak langsung marah.. dia malah terus meraba dan mengelus memekku sambil ngocok tititnya yang tak lagi dihalang celana. Berdebar bercampur nikmat, aku lihat ayah yang sedang gigit bibirnya dan mulai mengocok cepat. Ahhh… ngeri-ngeri sedap! Ahh..entah aku tak tahu apa yang harus kulakukan..

Kulihat ayah mencoba mempercepat kocokan dan elusannya otomatis mengeras di memekku. Itu malah kembali meningkatkan gairahku lagi. Ayah seperti mencoba untuk mengejan-ngejan tapi tak berhasil dan terus mengocok. Aku diam saja, dan malah merem melek saat belahan memekku dikorek ayah. Mmmhhh…aaahhh ahhhh ahhhh.. aku malah mendesah.

Entah bagaimana kejadiannya, aku samar-samar ingat, ayah sudah mulai mendekat dan mengambil posisi menindihku. Aku berdebar-debar menantikan apa yang terjadi, antara takut, nafsu dan penasaran bercampur aduk!. Aku lihat samar-samar ayah masih memejamkan mata. Tapi kakinya mulai membuka pelan himpitan pahaku. Kejadian begitu cepat hingga akhirnya, tanpa ada sepatah kata, titit ayah mulai menempel di memekku. Aaahhh!!! Betapa nikmatnya saat titit ayah menyentuh memekku yang beberapa menit tadi orgasme hebat. Aku masih lemas dan akhirnya pasrah bahkan berharap apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pelan-pelan, dan mata ayah masih terpejam, dia mulai menindih tubuh bohayku.Tititnya tepat dibelahan memekku yang putih, mulus dan ditumbuhi bulu-bulu halus. Kepala ayah,berada disamping kepalaku dan otomatis wajahnya di telingaku. Ah, betapa nikmatnya saat itu, dan bercampur takut tentunya, saat pelan-pelan batang titit ayah menggesek belahan memekku. “hhhhh..hhhhh…hhhhh” hanya suara itu ditelingaku yang berasal dari dengusan nafas ayah. Aku hanya pasrah menikmati gesekan ini, ahh, betapa nikmatnya gesekan yang selama ini aku nikmati dengan tangan sendiri, kini berbeda, dengan titit ayah yang aku sayang.

Sensasi nikmatnya sangat membuat liang memekku gatal bukan main! Ayah perlahan memaju mundurkan tititnya dibelahan memekku, sambil mendengus “hahhh..hahhhh…” kurasakan badan kami panas. Aku sangat terlena dengan kondisi nikmat ini. Inikah rasanya mama saat dientot ayah waktu itu, seketika aku cemburu dan ingin memiliki ayah seutuhnya. Aku tak kalah, malah menekan memekku lebih erat dan menggoyangnya menekan titit ayah. Sampai akhirnya bles!!! Kurasakan ada batang keras dan nikmat masuk ke memekku perlahan! “Aaaaaahhhhhhhhhhhh,,,ayaaahhhh…. oooohhhh,,,” aku menjerit tertahan saat kurasakan titit ayah semakin masuk menembus liang memekku yang sempit! “aaahhh ayaaaahhhhhh…. sakiiiiitttttthhhh aaaahhhhh” kurasakan rasa perih bercampur nikmat saat selaput daraku dirobek ayah dengan tititnya yang besar.

Seolah tak peduli, ayah malah menekan nekan tititnya agar masuk ambles ke liang memek mungilku yang kini sudah robek perawan oleh ayah.Mungkin karena pelicin yang membanjir karena orgasme tadi, sepertinya titit ayah terus saja lancar memasukki memekku. Ayah malah lebih keras memaju mundurkan titit nya di memekku. “haahhhh hahhhhhh haaaahhhhhhh uuuggghhhhhh” desahan ayah semakin memberat. Ajaibnya, perihku kini hilang! Berganti kenikmatan tiada tara yang bersumber dari garukkan titit ayah di dinding memekku yang menjepitnya.

“aaahhh,,, ayaaahhhh…aaahhhh yaaahhhhh,,,yaahh…” aku mendesah-desah mengeras saat ayah ngentotin aku dengan keras. “aahh…ayaaaahhh aaannnggg agggghhhhhh ayaahhh ooohh oohhh huuuhh huuuuhh..” aku mendesah menikmati genjotan titit ayah yang nikmatnya tiada tara. Dadaku, terhimpit dadanya, dengan tangannya yang kekar menahan di sampingku. Ayah mendengus tepat di telingaku, dan hembusan nafasnya yang ngos-ngosan membuat telingaku semakin geli. “aahh,, shhh ahhhh hhaaahhh haaaahhhhh…eeuuggghhhh” sambil ayah terus menggenjot memekku.

Ahh, betapa nikmatnya titit ayah di dalam memekku, seolah semua batang tititnya ketat memenuhi rongga memekku. “aahhh aaahhh… hayyaaahhh..haayaaahh aaahhhh ahhhhhh ah ah ah ah ah…” aku kelojotan melayani perkasanya entotan ayah. Aku seperti melayang tinggi, tak sadar apa yang terjadi, yang ada dikepalaku hanyalah kenikmatan dan gesekan titit ayah di rongga memekku. Lama kelamaan, aku mulai merasakan ayah mempercepat keluar masuk tititnya di memek mungilku. “aahh ayaahh ayyahhh ah ah ah aooohhhh oh oooghhh ayah..ayah ayahhhhhhhh!!!!!” aku menjerit keras sekali dan akupun menggelinjang hebat dengan kepala mendongak serta tangan memeluk ayah erat-erat.

Dan byuurrrr….. kurasakan cairan memekku menyembur menyirami titit ayah yang perkasa. Ayah pun terus mempercepat entotannya di memekku, dan tiba-tiba ayah berbisik ditengah-tengah desahan kenikmatannya. “aahhh ahhh,,,ayah muncrat sayangghh ayah muncrat,,, ahhh ahh arrrgggggggghhhhhhhhhhhhh” kurasakan ayah menekan pantatnya kuat membuat tititnya tertancap dalam di memekku dan kurasakan beberapa kali semburan hangat memenuhi liang memekku. Aahhh betapa nikmatnya saat cairan hangat itu menyemburi bagian dalam memekku. “aayyaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh” aku sekali lagi berteriak keenakan menikmatinya.

Lama kami terdiam berpelukan. Menikmati sisa-sisa pertempuran hebat kami yang terlarang. Haaahh.. aku masih ngos-ngosan, ayahpun sama. Dengan masih menindihku, kurasakan tititnya mengecil dan bergerak keluar memekku. Ditengah sisa orgasmeku, mataku menerawang melihat langit-langit yang tampak berkunang-kunang. Ayah lalu beranjak dari menindihku menjadi terlentang disampingku. Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir keluar memmekku. Dan lalu sedikit memekku terkentut, dan mengeluarkan cairan yang banyak.

Aku masih menerawang, mengingat-ngingat kenikmatan yang baru saja pertama ku alami. Indahnya malam ini, meskipun dengan seketika rasa bersalah menyergapku. Ini adalah hal yang tak boleh kulakukan, tapi tak taulah, hatiku malah ingin mengulanginya lagi! Aku memejamkan mata. Dan kurasakan ayah terbangun, dan duduk di ujung kasur. Seketika aku melihat, ayah, ia tertunduk, kedua tangannya menutup muka seolah menyesal dengan apa yang terjadi. Akupun ikut bangun, melihat ayah, dan perlahan kesadaranku kembali, bahwa aku yang menyebabkan kenikmatan terlarang ini terjadi.

Aku merasa bersalah, melihat ayah tertunduk sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Dan dengan celana piyama yang entah kemana, aku berjalan dengan lutut diatas kasur menghampiri ayah. Aku dengar ayah menangis terisak. Aku iba, aku lalu memeluknya erat. Akupun jadi merasa bersalah, merasa aku yang menyebabkan ini terjadi. Kami terdiam, ayah masih terisak sedikit. Aku memberanikan diri menenangkan ayah, “yah.. jangan nangis, gak apa-apa ayah,, gak apa-apa,,hhmm,,,” aku memeluk dan mencium pipi ayah.

Ayah masih terdiam. Lalu berbicara pelan,”maafin ayah ya naa..ayah khilaf..ayah udah nyakitin nana..”kata ayah pelan. Aku berusaha menegarkan hati ayah, “nggak ayah..ga apa-apa, nana ngerasa enak kok ngelakuin tadi,, ayah jangan sedih, ini salah nana..jangan sedih ya yahh..jangan marahh..” aku tak tau apa yang harus kukatakan, malah kata-kata konyol tadi yang meluncur. “hmmhhh.. maafin ayah sayang..” lalu ayah memelukku. Akupun memelukknya, dan seketika rasa bersalahku hilang dan berganti kenyamanan dan rasa cinta.

Saat kita berpelukan, nafsuku malah kembali. Aku ingin mengulangi hal tadi sama ayah. Toh, aku udah gak perawan lagi dientot ayah, ayah mesti tanggung jawab menuntaskan rasa nafsuku ini. “mmhh.. ayah, mmhh.. boleh gak.. nana pengen lagi?” ayah seketika melepaskan pelukannya. “nana, ini salah.. kita harusnya gaboleh kaya gini…” “tapi ayah, kita udah tanggung kaya gini tadi,, ayah juga tadi enak kan masukin tititnya ke memek nana?” potongku. “ehh.. kamu knapa gitu sayang? Ayah tadi hilaf..mmh..dan nana gaboleh bilang ini ke siapa-siapa, apalagi ke mama yah?” kata ayah sambil mengelus pipiku.

“mmmh.. ayah, plis, sekali lagi aja yahh.. aku juga sering liat ayah kaya tadi sama mama, ayah kan suka ngulangin lagi berkali-kali ama mama? Sama aku enggak??” kataku sewot. “Eh… kamu suka liatin ayah gituan ama mama???” timpal ayah kaget. Akupun menceritakan segala yang kulihat, dan bahkan kuceritakan yang kulakukan tentang ngelus memek. Sambil kuperagakan depan ayah. Ah, polosnya aku waktu itu.

Ayah hanya ketawa-ketiwi saja akhirnya melihat tingkahku. Sampai akhirnya, “mmh.. ya udah sayang, sekali lagi aja yah?” kata ayah kepadaku. “asik! Ayo yahhh… hhmm…pengenn ayaahh…macukin tititnya ayah..” kataku manja merangkul lehernya dan aku berbaring. Kulihat titit ayah semakin tegak, dan mulai beringsut menuju aku yang telah terlentang membuka lebar memek. “mmhh memek anak ayah udah mulus gini..” ayah mengelus memekku. “hihi.. iya dong yah.. memek nana enak ya yah? Kok tadi ayah desah-desah? Hihi..” candaku yang tak lagi canggung karena sudah saling nafsu dan akrab. “ihh..dasar.. iya enak sayang, memek nana hebat.. bikin ayah pengen entot lagi..hehe” ujar ayah sambil mulai menempelkan tititnya di memekku.

“ohh… ini tuh namanya ngentot yah? Ahh ayah..pelann iiihh ahhhhhhh..” ayah kayaknya malah gak sabar masukin tititnya ke memek sempitku. “iyah mmm sayang, aahh ini namanya ngentot uuch,, jangan kasihhh aaahhh tau mama ya sayang kalau kita ngentot ginihhh? Aaagghh enaknya memek anak ayah..” ayah mulai menekan dalam-dalam tititnya ke memekku yang masih sempit. “aawwhhh ahh..iyahh ayaahh,,, ahhh asaahhhlll nana diginiin ayah lagiihh ahhh ahhh.. shhh ahhh ahhhh awww memek nana sakit yaahh pelan-pelan genjotnyaa..” kenikmatan mulai merasukiku.

Genjotan demi genjotan mulai membuatku mendesah nikmat. “ahh ahh ahhh…ayaaahh…saaayaaannngg aaaahhhhh ahh ahhh ahh”, langsung ditimpali “oooggh sayang enaknyaah ahh ahh ahh ahhhh…” desahan demi desahan saling bersautan. Dan sudah bisa ditebak apa yang terjadi, aku orgasme duluan, dua kali malah, dan ayah lalu kembali menyemprotkan sesuatu yang kemudian aku ketahui namanya air mani kata ayahku. Entah sadar atau tidak ayah kala itu, sedang menikmati memek anaknya sendiri. Akupun hampir tak sadar kalau aku menikmati titit ayahku sendiri. Yang ada aku malah bangga, bisa memuaskan keperkasaan ayah. Ronde berakhir dengan rasa lelah yang hebat habis ngentot dengan ayah. Aku tidur memeluk ayah, kami berdua setengah telanjang.

Pagi-pagi, ayah bangun duluan. Aku dibangunkan ayah yang kala itu sudah berpakaian rapi, “na.. ayo mandi, sarapan ntar kesiangan sekolah” aku yang masih ngantuk hanya duduk dan menggaruk-garuk kepala. Setelah kesadaran berkumpul, aku beranjak dan hendak mandi, saat menghampiri pintu, aku menoleh kebelakang melihat tempat pertempuran aku dan ayah semalam. Aku lihat bercak darah keperawananku membasahi kasur. Aku melamun sejenak, sambil berjalan ke kamar mandi yang ada di kamarku.

Hari itu, aku sangat begitu lelah, bahkan saat mandi tadi aku hanya mengguyurkan air dikepala beberapa kali tanpa sabun, tanpa samphoo. Lelah rasanya, habis diserang pertempuran hebat semalam. Dengan malas aku memakai seragam SMA ku. Aku tak berdandan, hanya menyisir, dan bahkan untuk merapikan baju sekadar memasukan ujung kemeja ke rok, aku malas. Hmm.. ingin rasanya aku bolos sekolah. Aahhh…. lelahnya. Setelah kusiapkan tas, aku menghampiri ayah yang sudah makan duluan.

“Kenapa sayang? Lesu gitu?” tanya ayah seolah tak pernah terjadi apa-apa semalam. “iihhh ayaaahh… aku lemes tau.. semaleman kan ngentot ama ayah..ih.. huh..” kataku cemberut. “hmm…” ayah tak berkomentar banyak. Aku hanya diam memandangi makanan yang disajikan. Lalu, aku menggaruk memekku, aku menyampingkan kain celana dalam yang menutupi belahan memekku ke pinggir. Aku memeriksa bibir memekku, ah, basah dan terasa jadi lebih sensitif. “ahh.. yah, kenapa yah memek nana jadi sensitif banget.. jadi linu kalo itilnya kesentuh..” kataku polos.

Ayah tak menjawab. Dia lalu berdiri, mencuci tangan di wastafel dan menghampiriku. Aku lalu digendongnya ke sofa. “ihh ayah..mau kemana..” dan ia menidurkanku di sofa yang cukup lebar. Ayah lalu membuka sabuknya, membuka resletingnya dan memelorotkan sampai bawah tanpa dibuka. “ih, ayah mau ngapain… hhihi..” tititnya udah ngaceng penuh. Dia lalu menghampiriku, mengangkat rokku, dan menyingkirkan penutup memek celana dalamku kesamping.

“Ayah mau ngentot lagi?hmm ahhh ayah aahhh” ayah langsung menindihku dan menancapkan tititnya di memekku. Lancar sekali jalannya karena mungkin udah terbiasa dimasukin titit ayah walau gede. “ahh ahhh ahhh aagghh” desah ayah sambil menggenjotku keras. “aahhh ayaaahhh aahh ahh ahhhh enaak yahh ah ah ah ahhhh” desahku menimpali desahannya. Seragamku sudah tak karu karuan, rok SMA ku terangkat, dan ayah sedang keluar masuk di memekku.

“aah nikmatnya yaahh terus yaahh yang cepet kaya semalemm,,, ahh ahh ahhh” aku semakin gila mendesah menikmati gesekan demi gesekan titit ayah di memekku. “ahh..haahh haahhhh,,,ayahh mau muncratt ahhh” ayah mempercepat entotan nikmatnya. Akupun segera terangsang untuk orgasme saat ayah mengatakan mau muncrat. “Ahh,, muncratin memek nana yaahh ahhh ahhhhhhhhhhhh” dann “auuuuuuccchhhhhh ayaaaaaaaahhhhh” “nanaaaa aaaggghhhh” kamipun muncrat bersama. Kami berpelukan menikmati pertempuran singkat tadi.

Kami masih terengah, aku mengelus rambut ayah yang menindihku. “hihi… ayah ketagihan kaann ama memek nana.. hihi..” candaku. “katanya gakan lagi, tapi kok tititnya macuk liang memek nana lagi ciiihh..hhi :P” aku melanjutkan. Ayah lalu merapikan bajunya. “Udah, kamu izin aja hari ini.. cape kayaknya.. ntar ayah yang bilang ke sekolah bilang lagi sakit..” katanya. “naahh gitu dong.. nana lemees pengen bobo ajah..” aku memeluk ayah tanda senang udah dibolehin gak masuk. Ayah berangkat ke kantornya sehabis menikmatiku tadi. Dan aku tertidur lelap di sofa dengan seragam yang masih kupakai.

Selama sisa sebelas hari ditinggal mama, kami menghabiskan hari menikmati percintaan terlarang kami. Kadang aku yang minta dientot ayah, kadang ayah yang menghampiriku untuk memuncratkan maninya di memekku. Aku menikmati keperkasaan ayah, dan ayah juga keliatannya menikmati memek sempitku. Uang jajanku juga dinaikkan. Kadang, kalau aku pengen banget, aku sengaja ke kantor ayah untuk dientot ayah di wc atau di sofa ruangan kantor ayah yang tertutup dan bisa dikunci. Dengan catatan, aku ga boleh mendesah keras. Ah, gak enak, aku gak bisa mengekspresikan kenikmatanku.

Sampai mama pulang pun, kami sering curi-curi waktu untuk ngentot. Kadang, untuk bikin mama terlelap, ayah entotin mama dulu. Trus ayah ke kamar dan menikmati memekku berkali-kali. Kami bisa jaga rahasia dan kecurigaan. Saat sehabis family time di kasur, ayah tak lagi segan saat ngentot sama mama. Karena tau, aku emang suka menyaksikan. Tapi kadang aku cemburu, dan sengaja tidur. Beberapa kali ayah malah garap memekku sehabis garap mama. Dengan pelan-pelan tentunya.

Tapi, lama-lama aku merasa jadi risih saat ayah minta aku untuk melayani nafsunya. Ayah kian tak tahu posisi kalau pengen ngentot denganku. Pernah, sekali waktu ayah sengaja ke sekolahku. Memanggilku dan membawaku ke wc sekolah untuk dientot. Aku malah jadi lelah melayani ayah. Aku malah jadi sangat merasa menyesal telah memulai hubungan terlarang ini. Meski menikmati, namun aku malah jadi enggan untuk melayani ayah. Ah, aku jadi sedih, kenapa ini harus terjadi.

Beberapa kali aku menolak halus saat ayah mengajakku ngentot.Mula-mula menerima, tapi lama-lama malah memaksa. Aku akhirnya jadi tak suka hubungan terlarang ini berlanjut. Aku ingin berhenti, menyudahi kisah durjana ini. Aku jadi sering menangis menyesali perbuatan yang kuciptakan sendiri. Sampai akhirnya Ujian dan Seleksi ke perguruan tinggi mulai datang. Aku pikir ini kesempatan, untuk jauh dan menyudahi perbuatan ini. Akupun lantas belajar lebih giat lagi. Kadang ayah minta di tengah-tengah belajar, dengan berat dan terpaksa malah aku jadi tak rela titit ayah keluar masuk memekku begitu saja. Tapi aku bersabar.

Sampai kesabaranku terbayar, aku diterima masuk ke jurusan Psikologi di universitas negeri terkenal yang jauh dari rumahku. Setidaknya, yang tak mudah dijangkau bolak balik sehari dari rumah. Itu yang ku harap, karena aku ingin menghindari perbuatan ini terulang. Aku masih mencintai ayah, tapi aku sudah enggan jika mengulangi perbuatan itu. Kini, aku kuliah dan kos yang jauh dari rumah. Itupun tak ku konsultasikan dulu dengan ayah, langsung dengan mama. Agar ayah tak banyak melarangku.

Awalnya aku ingin keluar pulau, tapi mama tak setuju. Hanya disini yang cukup jauh namun masih direstui mama. Aku merasa bersalah dengan mama. Aku mencintai keduanya. Tapi perbuatanku seolah tak termaafkan. Kini aku pindah tempat kosan dan memutus hubunganku dengan keluargaku. Tak ada yang tau aku dimana. Aku cuti kuliah di semester dua ini. Kudengar ada yang mencariku ke kampus. Tapi aku terus sembunyi. Sengaja aku memilih tak berteman demi merahasiakan tempatku. Barang setahun ini aku memutuskan untuk tak berhubungan dengan keluarga.

Tabungan uang jajan yang besar dari ayah, aku buat modal usaha. Dan kurasa kemajuan usaha kecil-kecilanku bisa menghidupiku. Apa yang akan terjadi setelah ini? Aku tak tau, yang jelas hidup terus berjalan, dan aku mau hidup kembali dengan identitas baru. Ada banyak yang ingin kuceritakan, detail-detail dimana saja saat papa menikmati tubuhku. Tapi nanti lah lain waktu

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*