Home » Cerita Seks Mama Anak » Kisah Bagus 2

Kisah Bagus 2

Angin semilir berhembus seakan akan memberi suasana sejuk diteriknya sinar Matahari siang ini. Bagus masih duduk termenung diatas batu dipinggir sebuah sungai dikampungnya. Banyak hal yang menganggu benak Bagus saat ini, mulai dari usahanya untuk merubah nasib dikota gagal total, ditambah lagi kejadian empat tahun lalu kejadian yang membuat hubungan Bagus dan Ibunya Narsih sedikit renggang, dan ada beberapa kejadian dikota yang tambah membuat kepala Bagus seakan akan mau pecah. Sudah seminggu ini Bagus kembali kekampungnya lagi. Sudah seminggu ini pula Bagus harus melawan rasa malu ketika Dia harus berpapasan dengan Ibunya.

“Mas pulang yuk” suara laki laki tanggung menciba membuyarkan lamunan Bagus, tapi Bagus hanya diam tak menjawab.

“Mas… Mas…” laki laki itu kini mulai memukul mukul pundak Bagus.

“Ehh.. Apa Jak?” Bagus sedikit kaget menjawab ajakan dari laki laki yang ada disebelahnya itu. Iya laki laki yang ada disebelahnya adalah Jaka Adik bungsu Bagus.

“Ayok pulang udah siang nih mas” ajakan Jaka sekali lagi.

“Ayoklah dari tadi mancing juga enggak dapet dapet ikannya” Bagus mulai membereskan alat alat pancingnya dan mulai beranjak dari tempat duduknya.

“Yaiyalah mana bisa dapet ikan kalau Mas Bagusnya dari tadi cuma ngelamun aja kerjaannya gak fokus”

Sore itu dilewati Bagus seperti biasa dengan suasana hambar, masih ada kekakuan antara Bagus dan Ibunya Narsih. Bagus sebenarnya rindu akan suasana canda tawa seperti dulu. Mungkin Bagus dan Narsih masing masing masih merasa bersalah atas kejadian malam itu, padahal kejadian itu sudah empat tahun berlalu. Sampai malam tibapun Bagus dan Narsih masih saling enggan untuk berbicara satu sama lain. Karena dirasah sudah semakin larut akhirnya Bagus memutuskan untuk tidur. Pagi harinya seperti biasa karena tidak ada pekerjaan Bagus memutuskan untuk hanya bermalas malasan sejenak dikamarnya. Tapi kejadian itu seolah olah terus menghantui pikiran Bagus.

“Aaaahhhh” Bagus bangkit dari tidurnya sambil menggosok gosok kepalanya.

“Kenapa waktu itu harus seperti itu? Ah daripada Aku mikirin hal yang nggak penting lebih Baik aku mandi aja” Bagus akhirnya keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar mandi.

Tapi ketika Bagus melintasi dapur untuk kekamar mandi Dia melihat Ibunya yang sedang sibuk memasak. Ibunya lagi lagi menarik perhatiannya. Bagus menghentikan langkahnya dipandangi tubuh Ibunya dari belakang. Darahnya berdesir, Jantungnya berdetak kencang. Paduan kemeja putih sedikit transparan sehingga sedikit melihatkan warna bra merah dan rok hitam selutut yang dipakai oleh Narsih pagi ini memebuat Bagus terperangah. Bagus melangkah mendekatkan diri pada Narsih. Dipandangilah sosok perempuan cantik berkulit putih yanh ada didepannya itu.

“Kamu toh Gus, ngagetin Ibuk aja” Tampaknya Narsih menyadari kedatangan Anaknya tersebut.

Tapi Bagus hanya diam tak menjawab Dia semakin mendekatkan dirinya kearah Narsih. Ketika tepat dihadapan Narsih Dipeganglah kedua pundak Ibunya tersebut.

“Gus Kamu mau ngapain?” Narsih mencoba berontak atas perlakuan Anaknya.

Bagus tetap diam tak menjawab malah kini Dia mendekatkan bibirnya kearah bibir Ibunya.

“Gus inget Gus Aku ini Ibukmu Gus” Narsih terus berontak dan mencoba menyadarkan Bagus, tapi kekuatannya tak seberapa sehingga Dia tak mampu meloloskan diri dari cengkraman anaknya tersebut.

Bagus sudah tak mau mendengar lagi perkataan Ibunya Dia dengan cepat menyergap bibir Ibunya. Seperti orang kesurupan Bagus terus menyedot nyedot bibir Ibunya. Sedangkan Narsih sendiri terus memberontak menolak ciuman dari Anak kandungnya tersebut, tapi Narsih tak mampu berbuat banyak atas perlakuan anaknya tersebut. Air mata Narsih mulai menetes membasahi pipinya. Bagus seakan tak peduli Dia terus menciumi bibir Ibunya. Kini tangannya mulai mencoba membuka kancing kemeja Narsih dengan sigap Narsih berhasil menahannya. Mengetahui hal tersebut Bagus sedikit kesal, akhirnya dengan paksa Bagus membuka kemeja Ibunya sehingga membuat kancing baju Ibunya terlepas. Belum puas sampai disitu Bagus terus mencoba melepaskan kemeja yang dipakai oleh Narsih. Walau Narsih terus menahannya akhirnya terlepas juga kemeja putih yang dipakainya. Kini tinggal bra berwarna merah yang menutupi tubuh bagian atas Narsih. Walaupun kemeja yang dipakai Ibunya sudah lepas tapi Bagus masih belum puas sekarang Dia mencoba melepaskan rok hitam yang dipakai Ibunya. Tak butuh waktu lama untuk Bagus melapaskan rok yang dipakai Ibunya itu, rok yang dipakai Ibunya akhirnya jatuh kelantai. Kini tubuh Narsih hanya tertutupi oleh bra warna merah dan celana dalam hitam saja. Payudara Narsih yang cukup besar seolah olah ingin keluar dari bra merah yang dipakainya. Bagus semakin bernafsu sekarang tanganya dengan kasar meremas remas payudara Ibunya yang masih tertutup oleh bra. Air mata Narsih semakin deras keluar dari kelopak matanya membasahi pipinya. Tapi Bagus seolah olah tak mempedulikannya Dia terus dengan buas mencium bibir Ibunya, tangannya juga tak mau kalah terus meremas payudara Ibunya yang besar itu dengan kasar.

Sejenak Bagus menghentikan perbuatannya Dia kemudian melepaskan jeratan terhadap Ibunya lalu Dia duduk disebuah kursi yang berada didapur itu. Kini tubuh Narsih tergolek lemah dilantai bersandarkan lemari yang ada dibelakangnya. Narsih tak mampu berbuat apa apa Dia hanya mampu menangisi hal buruk yang baru saja menimpahnya, perasaan legah sedikit menenangkan rasa takutnya akan ulah Anaknya barusan. Tapi pikiran Narsih itu salah Bagus melepaskannya tadi itu hanya untuk mengatur nafasnya agar kembali normal. Ketika nafas Bagus mulai normal kembali kini Dia bangkit dari tempat duduknya dan menyeret Narsih menuju kedalam kamarnya. Tubuh lemah Narsih tak mampu melawan tarikan dari Bagus, Dia dengan terpaksa mengikuti tarikan Bagus masuk kedalam kamar Anaknya tersebut. Kamar dimana empat tahun lalu hampir terjadi perbuatan yang sama. Dilemparkanlah tubuh Narsih kelantai kamarnya dan dengan cepat Bagus langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya. Narsih tak mampu berbuat apa apa lagi saat ini, air matanya terus mengalir deras membanjiri kedua pipinya.

Bagus manatap Ibunya dengan tajam. Kulit putih Ibunya yang sudah diselemuti oleh keringat membuatnya bertambah nafsu ditambah lagi paras cantik dan payudara yang cukup besar itu membuat Narsih terlihat sempurna. Bagus mulai beranjak mendekati Ibunya tapi Narsih masih mencoba untuk menghindar, sekali lagi dengan cepat Bagus menyergap tubuh Ibunya tersebut. Dengan kasar Bagus menindih tubuh Narsih dan langsung mencumbu bibir Ibunya itu dengan Bibirnya. Narsih masih mencoba untuk berontak tapi itu semua tak berarti apa apa karena tubuh Anaknya tersebut telah menindihnya. Bagus terus mencumbu bibir Ibunya dan tangannya kini mulai meremas payudara Ibunya itu dengan kasar. Tidak puas dengan itu Bagus kini mencoba menarik cup BH Ibunya itu keatas sehingga menyembulah kedua payudara Narsih. Bagus yang sudah diselimuti dengan nafsu langsung meremas payudara Ibunya, darahnya berdesir ketika tanganya menyentuh kulit payudara Ibunya yang mulus itu. Payudara yang besar milik Narsih terus diremas remas dengan kasar oleh Anaknya sendiri. Bagus mulai menghentikan cumbuannya terhadap bibir Ibunya dia menatap payudara indah milik Ibunya tersebut. Tanpa pikir panjang Bagus langsung melahap puting susu Ibunya sebelah kanan, dikenyotlah puting susu yang berwarna hitam dan cukup besar tersebut. Sedangkan tangan kanan Bagus tak mau kalah dengan mulutnya, tangan kanan Bagus terus meremas payudara Narsih yang kiri dan sesekali memilin milin puting susunya.

“Hikkksss… Hiiikkksss… Ehhh…” Narsih masih terus menangis tapi kali ini ada sedikit desahan keluar dari mulutnya disela sela tangisannya.

Bagus terus melahap puting susu Ibunya, Dia seperti bayi yang sedang haus terus menyedot puting susu Ibunya. Sesekali Bagus juga memainkan lidahnya menjilati puting susu Ibunya dengan gerakan naik turun kadang kadang memutar. Kini tangan kanan bagus mulai turun kearah selangkangan Narsih dielus elus pangkal selangkangan Ibunya dari balik celana dalam yang dipakainya. Walaupun paha Ibunya terus menjepit tangan Bagus yang sedang mengelus elus pangkal pahanya tapi Bagus tidak menyerah begitu saja Dia terus mencoba mengelus elus pangkal paha Ibunya sampai akhirnya Ibunya benar benar menyerah. Usapan demi usapan terus dilancarkan Bagus diarea pankal paha Ibunya, tak hanya usapan terkadang Bagus juga menekan nekan tanganya diarea itu.

“Ehhh… Ehhhh… Hiksss” kini Narsih sudah sedikit diselimuti oleh nafsu buktinya tangisannya kalah oleh desahan desahan yang keluar dari mulutnya.

Mulut Bagus seperti enggan berhenti terus mengulum puting Ibunya dengan rakus dan tangan kanannya terus aktif pada pangkal paha Narsih. Bagus sedikit tersenyum mengetahui celana dalam yang dipakai Ibunya itu sudah mulai basah. Bagus berhenti memainkan pangkal paha Ibunya. Dia dengan cepat menarik celana kolor sekaligus celana dalam yang dipakainya agar terlepas. Tanpa perlu waktu lama celana kolor dan celana dalamnya kini tergeletak dilantai.

“Gus hentikan Gus jangan Aku ini Ibumu Gus jang… Ahhhh…” Narsih berhenti memohon kala tangan Bagus kini sudah berada dipangkal pahanya lagi dan menekannya dengan kasar.

Bagus terus mengobel kobel pangkal ibunya dengan kasar. Merasa puas dengan perbuatannya Bagus berhenti sejenak lalu tubuh meringsut turun kebawah, kini wajahnya tepat berada dipangkal paha Ibunya dan tepat berada didepan vagina Ibunya. Dengan cepat Bagus menyibak celana dalam Ibunya tapi dengan cepat pula tangan ibunya langsung menutupi vaginanya. Perbuatan Ibunya tersebut membuat Bagus menjadi emosi, Dia bangkit dari tempatnya dan langsung menjambak rambut Ibunya menariknya dengan kasar sehingga kini posisi Ibunya yang tadinya tidur menjadi duduk dan wajah ibunya tepat berada didepan kejantanannya. Dengan kasar Bagus menjambak rambut Ibunya sehingga kepala Ibunya kini mendonggak keatas. Tak mau membuang buang waktu tangan Bagus yang satunya langsung meraih kejantanannya yang sedari tadi sudah mengacung tegak dengan gagahnya, dipukul pukulkanlah kejantanannya kewajah Ibunya dengan cukup keras sehingga warna wajah Ibunya berubah menjadi semu semu merah. Tidak puas dengan itu Bagus kini menyodok nyodokan kejantanannya itu kemulut ibunya.

“Gus hentikan Gus hentikan” hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Narsih, tubuhnya sudah berhenti melawan perbuatan Anak kandunya itu.

Tapi sepertinya Bagus yang sudah kesetanan oleh nafsu tak mau berhenti terus menyodok nyodokan kenjantanannya pada mulut Ibunya.

“Gus Ibuk mohobbsss” kata kata Narsih tersendat karena kini kejantanan Bagus berhasil menyeruak masuk kedalam mulutnya.

Dengan kasar Bagus lalu memaju mundurkan pinggulnya. Air mata narsih kini bertambah deras. Baru kali ini ada kejantanan yang masuk kedalam mulutnya, Suaminya dulu Ayah Bagus tidak pernah miminta Narsih untuk mengulum kenjatananya.

“Ayo buk ayo sedot buk sedot kontol Bagus” Bagus terus memaju mundurkan pinggulnya.

Tanpa sadar kata kata Bagus membuat hati Narsih terluka, kata kata yang sangat kasar, kata kata yang tidak pantas diucapkan seorang Anak pada Ibunya. Air mata Narsih tak henti henti terus keluar dan semakin lama semakin deras. Tapi Bagus sepertinya tidak peduli sama sekali kalau kata katanya membuat hati Ibunya terluka.

“Mulut enak banget Buk hangat rasanya, ayo dong sedot kontol Bagus Buk” kembali kata kata kasar keluar dari mulut Bagus membuat hati Narsih semakin terluka.

Merasa Ibunya enggan untuk menyedot kejantanannya Bagus mengeluarkan kenjantanannya dari mulut Ibunya lalu Ia dengan kasar menampar pipi Ibunya dengan kejantanannya itu. Mendapat perlakuan seperti itu dari Anaknya sendiri tangisan Narsih makin menjadi. Sejenak Bagus menghentikan kegiatannya itu, Dia lalu beranjak pergi meninggalkan tubuh Ibunya lalu duduk dipinggiran kasur kamarnya. Narsih terdiam melihat kelakuan Anaknya, Dia tidak mau menatap Anaknya.

“Oh Bagus tau sekarang Ibuk sebenarnya nggak sayang sama Bagus! Ibuk lebih senang kalau Bagus pergi nggak dirumah ini lagi” bukannya merasa bersalah lantas meminta maaf pada Ibunya malah Dia seakan akan membuat Ibunya bersalah.

“Hikss hikksss hiksss” Narsih terus menangis tak menjawab omongan Bagus.

“Benar ternyata Ibuk Emang nggak sayang sama Bagus! Kalau begitu lebih baik Bagus pergi dari rumah ini!” Bagus beranjak bangkit dari pinggiran kasur tempatnya duduk, tapi belum sampai Dia berdiri dengan sempurna Narsih sudah menahannya hingga membuatnya kembali jatuh dipinggiran kasur.

“Kamu ngomong apa barusan Gus? Ibuk sayang sama Kamu Gus! Ibuk sayang!” Narsih merangkul pinggang Anaknya sedangkan kepalanya disandarkan pada paha Anaknya agar Anaknya mengurungkan niatnya untuk pergi. Sejahat jahat seorang Anak terhadap Ibunya tetap Ibunya akan terus menyayanginya dan memaafkannya.

“Nggak Ibuk bohong!” Bagus mencoba menyingkirkan tubuh Ibunya dari pangkuannya tapi pelukan Narsih kali ini benar benar kuat sehingga Bagus gagal untuk berdiri.

“Ibuk nggak bohong Nak, Ibuk beneran sayang sama Kamu”

“Apa buktinya kalau Ibuk sayang sama Aku?”

“Kamu minta bukti apalagi Nak? Kamu apa nggak sadar kalau perbuatanmu yang barusan itu udah ngelukain hati Ibuk tapi Ibuk tetep maafin Kamu, apa kurang bukti itu Nak?”

“Kurang..!”

“Terus Kamu mau bukti apalagi Nak? Mau bukti yang gimana lagi?”

“Ibuk harus emut kontol Bagus baru Bagus bisa percaya kalau Ibuk sayang sama Bagus” mengetahui Ibuknya sudah berada dibawah kendalinya Bagus tidak mau menyia nyiakan kesempatan ini.

“Apa harus seperti itu? Apa tidak ada cara lain?” Narsih kini mulai merenggangkan pelukannya dipinggang Bagus.

“Yaudah kalau Ibuk nggak mau Bagus pergi aja” Bagus kini bepura pura bangkit dari tempatnya agar Narsih Ibunya kembali menahannya.

“Iya sudah kalau itu maumu Ibuk akan turuti permintaanmu” benar dugaan Bagus kali ini Narsih kembali menahannya.

“Kalau gitu ayo cepet Buk emut kontolku” Bagus melebarkan kedua pahanya dan memposisikan kontolnya yang sudah lemas dihadapan wajah Ibunya.

Tanpa menjawab Narsih langsung meraih kejantanan Bagus dengan tanganya dikocoklah perlahan kejantanan Anaknya tersebut. Setelah kenjatanan Anaknya sedikit mengembang lagi Narsih lalu mengulum kejantanan Anaknya dengan terpaksa tapi Narsih tak mau menunjukan keterpaksaanya itu kepada Anaknya Bagus. Bagus tersenyum puas mendapati Ibunya mau menurti permintaannya.

“Ayok Buk sedot kontol Bagus” tangan Bagus tak mau menyia nyiakan kesempatan ini diraihnya payudara Ibunya lalu diremas remas dan dipilin pilin puting susunya.

“Slluuurrrrppp sluurrrrpppp sluurrrppp” Narsih menuruti permintaan Anaknya kini Dia mulai menyedot kejantanan Anaknya yang sudah mulai tegang kembali.

“Enak Buk enak terus lebih kenceng lagi” Bagus terus memainkan puting susu Ibunya.

“Slurrrpp sluurrrpppp sluuuurrrpp” Narsih terus menuruti permintaan Anaknya Dia mempercepat gerakan mulutnya maju mundur menyedot dengan keras kenjantanan Anaknya yang kurang ajar itu.

Bagus hanya merem melek menikmati sepongan dari Ibu kandungnya itu tapi tanggannya tetap tak mau berhenti terus meremas dan memainkan puring susu Ibunya.

“Jangan hanya disedot Buk jilat juga sekali sekali” Bagus mulai protes dan meminta lebih lagi dari Ibunya.

“Slluupp sluuupp sluuupp” Narsih tak menjawab Dia teris menuruti permintaan Anaknya sekarang. Lidahnya terus menjilati kepala penis Anaknya sedangkan tangannya terus mengocok batang kenjantanan Anaknya.

“Terus Buk jilat Buk sedot Buk Jilat” Bagus meracau keenakan akan hal yang dilakukan oleh Ibunya.

“Sluurrrrppp ssllluuuupppp sslluuurrrppp slluuupp sluuupp srrruuupp” Narsih terus menjilat menyedot penis Anaknya itu.

“Ayo Buk lebih cepet lagi! Terus telurnya jangan didiemin dong mainin juga” semakin lama Bagus semakin kurang ajar pada Ibu kandungnya.

“Sluuurrrppp ccccuuuuppp sllluuuup ssluuurrrpp sruupp” Narsih masih saja menuruti permintaan Anaknya itu.

“Eehhhh ehhh enak banget Buk enak” Bagus kembali merem melek menikmati permainan Ibunya.

Narsih terus mengulum penis Anaknya semakin lama gerakan Narsih semakin cepat. Tidak bisa dipungkiri Narsih sendiri kini sudah mulai bernafsu maklum sudah enam tahun Dia tidak mendapat cumbuan dari seorang laki laki. Dia tahu kalau perbuatannya ini salah tapi apa boleh buat Narsih takut kalau Anaknya pergi meninggalkan rumah. Narsih terus mempercepat gerakan mulutnya sedotanya semakin lama semakin kenceng. Payudara Narsih juga terus diremas remas oleh Bagus membuat Narsih semakin bernafsu apalagi saat jemari Bagus memilin puting susunya.

“Ayok Buk terus lebih cepet lagi” Bagus semakin keenakan, dirinya terus meremas payudara Narsih dengan kasar.

“Slluuurrrppp srruuuuppp srrruuuppp” Narsih menuruti saja permintaan Anaknya.

“Ahhh ahhh Bagus mau keluar Buk aaahhhhhh” leguhan panjang menandakan kalau sperma Bagus telah keluar membanjiri mulut Ibunya.

Mengetahui hal itu Narsih segera melepaskan kejantanan Anaknya dari mulut tapi dengan sigap tangan Bagus malah menahan kepala Narsih dan membenamkan kejantanannya dalam dalam dimulut Narsih. Al hasil sperma Bagus menyemprot dimulut Narsih sebagian malah ada yang masuk didalam rongga tenggorokannya. Setelah puas spermanya keluar semua akhirnya Bagus melepaskan dekapanya. Kini Narsih bisa bernafas legah setelah kepalanya terjepit dipangkal paha Anaknya yang kurang ajar itu, badanya terkulai lemas, staminanya terkuras habis akibat ulah Anaknya, kini tubuhnya tergeletak dilantai dengan mulut penuh dengan sperma dan bra yang sudah tidak menutupi payudaranya lagi hanya celana dalamnyalah yang masih terletak sempuran pada tempatnya. Bagus sendiri juga terkulai lemas Dia membaringkan tubuhnya diatas kasur tempat tidurnya. Setelah berhasil kembali mengatur nafas Bagus bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati Ibunya. Diangkatlah kepala ibunya kepangkuannya.

“Maafin Bagus ya Buk udah ngelakuin ini semua” Bagus mengusap usap rambut Ibunya yang acak acakn.

Narsih hanya mengangguk tak ada kata yang keluar dari mulutnya yang telah dipenuhi sperma Anaknya itu.

“Ibuk marah iya sama Bagus?” mata Bagus berkaca kaca seolah merasa bersalah atas kelakuannya barusan, tangannya kini membenarkan cup BH Ibunya agar menutupi payudara Ibunya.

“Enggak kok Nak Ibuk nggak marah kok” Narsih mulai bangkit dari pangkuan Bagus lalu mengusap wajah Anaknya.

“Beneran Ibuk nggak marah?” Bagus menatap penuh harapan pada Narsih.

“Iya Ibuk nggak marah, yaudah Ibuk mau mandi dulu badan Ibuk bauk, bauk pejumu” Narsih menowel hidung Anaknya, Dia tersenyum dan pergi beranjak meninggalkan Anaknya sendirian dikamar.

Senyuman yang menutupi lukanya karena Narsih nggak mau kalau Anaknya tahu Dirinya melakukan itu tadi dengan terpaksa. Didalam kamar mandi Narsih terus menangis menyasali perbuatannya tadi tapi disisi lain Dirinya juga merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak Ia peroleh semenjak Ia menjanda.

Sedangkan Bagus masih duduk termenung didalam kamarnya kini burungnya sudah sedikit demi sedikit menyusut dari ukurannya tadi. Dia terus termenung pandangannya kosong.

“Gus buruan mandi keburu Adik adikmu dateng nantik” ucap Narsih membuyarkan lamunan Bagus.

“Iya buk” Bagus lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi tapi ketika Dia sampai didepan kamar Dia dihentikan oleh Ibunya.

“Tunggu muuuaaacchhh” Narsih mengecup mulut Bagus lalu lari menuju kamarnya dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan ditubuhnya.

Bagus bingung melihat tingkah Ibuknya Dia menggaruk garuk kepalanya dan langsung pergi menuju kamar mandi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*