Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 24

Ibuku Cintaku dan Dukaku 24

Hari sudah malam. Di kamarnya, Aini hanya berbaring, masih belum tidur. Dia masih memikirkan Dewo sambil melihat-lihat benda yang ada di tangannya. Itu adalah sebuah kotak musik berbentuk miniatur piano, kado yang diberikan oleh Dewo tadi siang. Ditatapnya benda cantik itu sambil senyum-senyum sendiri. Ditekannya tombol di bagian bawah benda itu untuk memainkannya. Alunan instrumental Fur Elise karya musisi legendaris Ludwig Van Beethoven pun melantun indah memenuhi kamarnya.

“Aini…?! Belum tidur?!” ucap seorang wanita di luar kamarnya sambil mengetuk pintu.

“Iya, Bunda…! Ini udah mau tidur kok…!” sahut Aini dari dalam.

“Jangan kelamaan tidurnya! Besok bisa susah bangunnya!” balas wanita itu.

“Iya, Bunda…!” jawab Aini sekenanya.

Aini pun meletakkan kotak musik itu di atas meja di samping tempat tidurnya. Matanya menatap miniatur piano itu sebentar sebelum akhirnya dia menarik selimutnya dan tidur dalam kebahagiaan.

***

Sejak saat itu, Dewo dan Aini benar-benar dimabuk cinta. Mereka tidak keberatan lagi menunjukkan kemesraan mereka pada teman-teman sekelas maupun ke seluruh penjuru sekolah. Teman-teman sekelas mereka sungguh tak menyangka kalau Dewo dan Aini ternyata sudah membina hubungan tanpa sepengetahuan mereka.

Seluruh siswa dan siswi di sekolah itu cemburu setengah mati kepada keduanya. Para lelaki di sekolah itu tak lagi berusaha mendekati Aini, sementara para gadis yang memendam cinta pada Dewo pun sepertinya harus rela gigit jari. Tak heran mereka mundur teratur demi mengetahui Dewo dan Aini yang berpacaran, melihat berbagai kelebihan dari keduanya yang membuat pasangan itu tampak begitu serasi.

Dewo dan Aini sering sekali memanfaatkan waktu mereka sehabis pulang sekolah untuk sekadar berduaan. Entah itu makan jajanan pinggir jalan, mengobrol di tempat teduh, ataupun hanya bercengkerama sambil jalan-jalan santai. Mereka berdua sungguh menikmati kebersamaan mereka setiap hari.

***

Suatu saat, mereka berdua berkunjung ke sebuah taman di kota. Ketika itu hari sudah sore, namun Dewo dan Aini masih betah duduk di atas sebuah batu besar di dekat hamparan taman bunga. Mereka tampak asyik mengobrol. Aini sesekali tertawa saat Dewo mengeluarkan kelakarnya. Senyumnya yang manis terlihat semakin sempurna dengan setangkai bunga yang ada di tangannya. Dia terlihat sangat bahagia.

“Aini…,” ucap Dewo.

“Hmm…?” sahut Aini dengan senyuman manis.

“Mmm… Aku mau tanya sesuatu sama kamu, boleh nggak?”

“Ya boleh dong… Mau tanya apa, Wo?”

“Ngg…” Dewo tampak berpikir sebentar, lalu menatap Aini serius. “Kamu beneran cinta sama aku, kan?”

Senyum Aini menciut. Dia sedikit terkejut dengan pertanyaan aneh Dewo. Tapi sekejap kemudian dia kembali mengembangkan senyumnya. “Memangnya menurut kamu gimana?”

“Emm… Menurut aku sih gitu…,” ucap Dewo sambil tersenyum simpul.

“Ya udah, ngapain ditanya lagi?” balas Aini.sedikit kesal. Tapi senyumannya masih tidak hilang dari wajahnya.

Dewo terdiam, masih tersenyum.

“Udah? Cuma mau tanya itu aja?” usut Aini.

“Ada lagi sih sebenarnya…,” jawab Dewo.

“Apa?” tanya Aini dengan wajah penasaran.

“Mmm…” Dewo kembali menatap dalam-dalam kedua mata Aini. “Kalau tiba waktunya nanti, kamu mau nggak nikah sama aku?”

Aini terperangah. Dia tak menyangka Dewo akan seserius itu dengan cintanya. Bukan rasa bimbang yang muncul dalam diri gadis itu, namun kegembiraan yang meluap-luap. Aini tak bisa mengatakan apa-apa pada Dewo selain anggukan kepala sambil tersenyum bahagia. Matanya yang berkaca-kaca mengisyaratkan emosi yang tidak bisa ditunjukkan dengan kata-kata.

Dewo menghapus dengan lembut setiap air mata yang terlanjur turun membasahi pipi gadis yang dicintainya itu. Kesucian hati Dewo yang benar-benar mencintai dan menyayangi Aini membuat Aini benar-benar tidak ingin pindah ke lain hati. Segala sesuatu yang dimiliki Dewo adalah sebuah keajaiban cinta baginya yang tak akan mungkin dilepaskannya sampai kapan pun.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja tangan kanan Dewo mengacungkan jari kelingkingnya, tepat di hadapan Aini. Di tengah ingar-bingar kegembiraan di hatinya, perhatian Aini pun terarah ke jari kelingking itu. Lalu matanya menatap Dewo yang sedang tersenyum lebar. Aini menantikan maksud Dewo.

“Sebagai tanda kalau kita nggak bakal terpisahkan hingga kita nikah nanti…,” ujar Dewo menjelaskan arti jari kelingking itu.

Aini pun tersenyum manis. Diacungkannya pula jari kelingkingnya hingga tergandeng dengan kelingking Dewo.

Ketika jari kelingking mereka sudah terkait satu sama lain, Dewo kembali mengacungkan salah satu jari di tangan kanannya, yakni jari jempol. Aini yang tak mengerti lagi-lagi hanya bisa menatap Dewo, menunggu apa maksud tanda jari tangan itu.

“Ini sebagai tanda walaupun kita berdua berpisah suatu hari nanti, kita pasti akan bersatu lagi…,” ungkap Dewo sepenuh hati.
Aini tak bisa membendung air mata bahagianya. Dibiarkannya air mata itu mengalir deras membasahi pipinya. Jempolnya pun dipertemukannya dengan jempol Dewo demi menyambut janji suci itu. Mereka saling memandang dengan senyuman mesra.

“Mulai sekarang, ini bakal jadi janji kita berdua,” ucap Dewo mantap.

***

Cinta bila dipupuk setiap saat akan semakin besar dan tumbuh indah laksana pohon yang berbuah manis. Namun sesungguhnya semakin besar pohon, maka angin yang menerpanya juga akan semakin besar. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada hubungan Dewo dan Aini. Kisah cinta mereka yang manis ternyata harus diuji dengan aral yang cukup rumit.

Keluarga Aini adalah keluarga kaya yang cukup terpandang. Ayahnya adalah pengusaha yang terbilang sukses, sementara Bundanya memiliki toko kain yang besar. Cabang-cabang usaha mereka bahkan tersebar di beberapa kota. Hal itu pula yang membuat mereka punya pandangan tersendiri kepada orang yang akan menjadi pasangan Aini di kemudian hari, khususnya bagi sang Ayah. Derajat yang setara mungkin adalah harga mati baginya. Tak akan dibiarkannya putri tercintanya menjalin hubungan dengan seseorang yang berlatar belakang ‘sederhana’.

Awal mula goyahnya hubungan itu adalah ketika Dewo sering berkunjung ke rumah Aini. Aini yang tak keberatan memperkenalkan Dewo sebagai pacarnya pun disambut baik oleh sang Bunda. Ibunda Aini pada dasarnya tidak keberatan dengan siapa pun Aini berpacaran. Beliau hanya ingin Aini memilih pasangan yang baik dan sayang padanya. Apalagi ketika dilihatnya Dewo yang begitu tampan dan sangat dewasa dalam berbicara, seketika itu pula hatinya merestui pilihan putrinya.

Namun saat sang Bunda mengetahui bahwa Dewo yang rupawan itu bukanlah dari keluarga golongan atas, wanita itu pun mendadak cemas. Ia resah apabila suaminya tahu mengenai hal ini, hubungan Dewo dan Aini tak akan berlangsung lama. Sedih rasa hatinya melihat Aini yang sudah terasa begitu dekat dengan Dewo, harus terpisahkan suatu hari nanti. Tetapi, demi kebaikan mereka, sang Bunda pun menyampaikan kekhawatirannya kepada putrinya saat itu.

***

Setelah mendapatkan wejangan dari Bundanya, Aini benar-benar seperti kehilangan semangat hidup. Di sekolah dia lebih banyak murung. Pikirannya kalut tentang kemungkinan akan terpisah dari Dewo. Ketika Dewo menanyainya, dia hanya tersenyum dan menjawab kalau dia sedang ada masalah keluarga. Aini berkata pada Dewo bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan semua baik-baik saja.

Namun Dewo sangat paham dengan setiap bahasa tubuh Aini. Dia tahu betul kalau Aini memang sedang dirundung masalah yang sangat pelik sampai-sampai kecerahan paras gadis itu yang selama ini selalu menemani hari-harinya hilang entah ke mana. Dewo pun memaksa Aini untuk berbagi dan membicarakan masalahnya bersama-sama. Dia tak ingin Aini memendam beban itu sendirian.

Aini yang sudah tidak tahan pun pasrah mengungkapkan segalanya. Diceritakannya seluruh kepribadian dan sifat sang Ayah kepada Dewo dengan penuh kekhawatiran. Masalah ini sangat serius, dan Aini sungguh tak ingin Dewo menjauh dari hidupnya. Jikalau ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk mengatasi rintangan tersebut, tentu dia akan menempuhnya. Tapi apa daya? Aini tidak mampu melakukan apa-apa jika sudah berhubungan dengan sang Ayah. Dia sangat mengenal seperti apa watak Ayahnya yang idealistis.

Dewo mendengarkan penuturan Aini dengan khusyuk. Ditatapnya kekasih hatinya yang sedang cemas itu sambil berpikir. Dewo tidak menanggapi apa-apa selain mengacungkan jari kelingkingnya sesaat kemudian.

Dewo memandangi Aini dengan keyakinan besar sambil berujar, “Walaupun kita berpisah…”

Aini termangu melihat kelingking Dewo yang sedang teracung. Dia tahu betul makna jari itu. Hatinya yang begitu tersentuh dengan kuatnya perasaan Dewo pun membuatnya tanpa ragu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking lelaki tampan itu, seraya menjawab, “Kita pasti akan bersatu lagi…”

Jempol mereka berdua pun mereka pertemukan sebagaimana simbol ikrar yang pernah mereka ucapkan. Itu adalah simbol bahwa hati mereka tidak akan goyah sama sekali dengan rintangan yang menghadang. Dan itu adalah simbol bahwa apapun akan mereka lakukan demi memperjuangkan cinta mereka berdua.

***

Sudah berkali-kali Aini berupaya membujuk Bundanya untuk melunakkan hati Ayahnya. Namun tetap saja Bundanya tak berhasil. Malah karena itu pula akhirnya sang Ayah tahu tentang hubungan Aini dengan Dewo, si jejaka sederhana. Hal itu membuat keadaan semakin terjepit. Aini bingung sekali harus bagaimana.

Ketika keluarga Aini sedang berkumpul di ruang keluarga, Aini yang sudah tak sabar lagi pun mengutarakan keinginan hatinya itu pada Ayahnya. Namun hasilnya sudah bisa ditebak. Sang Ayah yang merasa ideologinya terus ditekan, akhirnya angkat bicara.

“Buat apa kamu dekat-dekat sama yang namanya Dewo itu?!” hardik Ayah Aini. “Memangnya apa yang udah dikasih dia sama kamu?!”

“Aini cinta sama dia, Yah… Dan Dewo juga cinta kok sama Aini…,” jawab Aini.

“Memangnya kamu bisa dapat apa dari cinta?!” balas Ayahnya. “Zaman sekarang ini udah nggak cukup lagi cuma pakai cinta-cintaan, Aini. Semua itu butuh materi.”

“Tapi kalau misalnya udah lulus SMA nanti kan Dewo bisa cari kerjaan, Yah…,” sambung Aini.

“Kerjaan?! Apa maksud kamu?!” sang Ayah kelihatan tersentak.

Aini menatap takut-takut Ayahnya. “Aini mau nikah sama Dewo, Yah…,” ucapnya lirih.

“Nikah?!” seru Ayahnya. “Jangan macam-macam kamu, Aini. Ayah nggak akan pernah ngerestuin hubungan kalian. Ingat itu, ya!”

“Tapi, Yah…”

“Nggak!” sergah Ayahnya. “Pokoknya Ayah nggak mau dengar lagi kamu dekat-dekat sama si Dewo itu! Cukup sampai di sini!”

Ayah Aini langsung tegak berdiri dan berjalan ke kamarnya meninggalkan anggota keluarganya yang lain. Sementara Aini yang masih berada di dekat sang Bunda pun hanya bisa menitikkan air mata. Sungguh sakit hatinya ketika harus menerima kenyataan kalau dirinya harus berpisah dari Dewo. Rasa cintanya pada kekasihnya itu sudah terlalu dalam. Untuk menjauhi Dewo adalah hal yang sangat mustahil.

“Sudahlah, Aini…,” ucap Bundanya lembut sambil mengelus-elus bahu putrinya. “Kan masih banyak laki-laki lain…”

Wildan, Abang kandung Aini yang iba dengan keadaan Adiknya hanya bisa mengiyakan kata-kata Bundanya.

Aini yang tak terima langsung berlari ke kamarnya sambil menangis. Tak ada pelipur lara yang lebih baik baginya kala itu selain merenungkan dan menuangkan segala dukanya di atas ranjangnya. Dihempaskannya seluruh tubuhnya di atas ranjang itu seakan mengejawantahkan keputusasaannya.

“Dewo…,” ucap Aini lirih dalam isak tangisnya.

Mata Aini tertuju ke sebuah benda kesayangannya yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur. Air matanya mengalir semakin deras melihat benda yang berbentuk miniatur piano itu. Dijulurkannya tangannya untuk meraih benda itu, lantas mendekapnya dengan penuh perasaan. Ditekannya tombol di miniatur itu untuk menghibur dirinya. Hingga suatu ketika ratapan itu pun menghilang seiring dirinya yang terlelap.

***

Dewo adalah lelaki yang luar biasa teguh pendiriannya. Ketika dia sudah berucap, takkan ada yang bisa menghalanginya. Begitu pula ketika Aini dengan berat hati menyampaikan segala keluh kesahnya. Dewo langsung meyakinkan Aini bahwa dirinya akan melakukan apapun untuk bisa memenuhi kriteria yang Ayah Aini inginkan. Jikalau memang derajat harta dan materi adalah solusinya, Dewo akan berusaha keras untuk mewujudkannya. Walaupun itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, Dewo akan tetap menjalaninya.

Aini merasa lega sekaligus bangga melihat kebesaran jiwa Dewo yang begitu tegar menerima konsekuensi apapun. Demi itu semua, meski harus menunggu Dewo sampai kapan pun Aini akan rela menempuhnya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa segalanya akan baik-baik saja. Dirinya yakin Dewo akan mampu melakukannya. Seolah tak ada penghalang, hubungan mereka pun terus mereka jaga dengan baik.

***

Waktu adalah penentu. Tidak ada seorang pun yang mampu menyangkalnya ataupun mencegahnya. Ketika ia sudah bergelut dengan takdir manusia, semuanya akan larut dan terbaur, meninggalkan asa yang telah lama sirna.

Perpisahan sekolah pun tiba. Hari itu benar-benar merupakan saat di mana nilai kebersamaan antara satu dengan yang lainnya ditentukan. Kadar pertemanan, persahabatan, maupun persaudaraan terhempas begitu saja seiring penghakiman waktu. Semuanya akan melihat satu sama lain, tanpa adanya embel-embel egoistis. Setiap menit akan terasa seperti sedetik, dan setiap jam hanya terasa seperti semenit. Ketika kita menganggap seseorang sangat berarti bagi kita, pada saat itulah waktu akan terasa sangat berharga.

Dewo dan Aini benar-benar bahagia karena sudah mempertahankan hubungan mereka sejauh itu. Namun tak sedikit pula rasa sedih mereka akan kenyataan bahwa di kemudian hari mereka tak akan sering bertemu lagi. Sebenarnya setiap saat mereka bisa saja bertemu mengingat Aini punya pesawat telepon yang bisa dihubungi Dewo setiap waktu meskipun harus lewat warung telepon. Namun jarak yang memisahkan mereka cukup membuat mereka khawatir.

Saat itu sekolah mereka sedang mengadakan pentas seni dalam rangka perpisahan sekolah tersebut. Tapi Dewo dan Aini tidak sedang menonton pertunjukan itu, melainkan sedang berada di tempat lain di satu sudut sekolah yang sepi. Tempat itu layak disebut taman karena pepohonannya yang teduh dan tumbuhannya yang cukup terawat. Mereka berdua sedang duduk di atas sebuah kursi panjang, sedang berbicara serius mengenai kelanjutan hubungan mereka.

“Kamu setelah ini mau lanjut kuliah, Aini?” tanya Dewo.

“Mmm…” Aini berpikir sekejap. “Aku sih nggak tau. Liat gimana nanti aja deh…”

Suasana lengang sesaat. Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Banyak sekali sebenarnya yang ingin mereka ucapkan, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Rasanya ada semacam ketakutan besar yang sedang melanda hati kecil mereka.

“Dewo…,” ucap Aini memecahkan keheningan.

“Hmm…?” sahut Dewo.

“Kamu nanti masih tinggal di rumah Kakek kamu yang sekarang, kan?” tanya Aini.

Dewo tampak berpikir. Dihelanya nafasnya yang berat. “Entahlah, Aini. Aku juga nggak bisa memastikan tentang itu,” jawab Dewo datar. “Aku rasa kemungkinan besar aku nggak bakal tinggal di situ lagi. Soalnya aku numpang tinggal di rumah almarhum Kakekku itu karena aku sekolah di sini. Setelah aku tamat dari sini, kayaknya aku bakal pulang ke rumahku yang asli yang jauh dari kota ini.”

Aini begitu kecewa mendengarnya. “Tapi kamu masih bisa usahain ketemu sama aku, kan?” tanyanya cepat.

Dewo tersenyum sambil memandangi wajah Aini dalam-dalam. “Apapun bakal aku lakuin buat kamu, sayang…,” ujarnya dengan segenap perasaan.

Aini pun tersenyum lega. Dewo memang selalu mampu membuat harapan dalam hatinya tetap menyala. Di saat genting seperti ini, Dewo bahkan masih memegang teguh cintanya. Hal itulah yang membuat Aini semakin sayang padanya.

“Walaupun kita berpisah…,” ucap Dewo sembari mengacungkan jari kelingkingnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Kita pasti akan bersatu lagi…,” jawab Aini seraya mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Dewo. Lalu jempolnya dipertemukannya dengan jempol Dewo sebagaimana simbol ikatan cinta mereka berdua. Senyuman manis terukir pula di wajahnya.

“Cieee… Ada yang lagi bermesraan nih kayaknya…,” ucap seseorang tiba-tiba. Rupanya Itu adalah Winda yang muncul tanpa sepengetahuan mereka.

Aini yang merasa terkejut dan terganggu pun langsung sewot. “Winda! Kamu jahil banget sih! Suka banget ngagetin orang!”

Winda tersenyum simpul sambil menaik-naikkan alisnya, berniat menggoda Aini. “Kaget apa kaget…?”

Aini yang merasa sangat malu pun langsung mengejar Winda. Tak tahan dia untuk mencubit sahabatnya itu. Namun belum lagi dia melancarkan serangannya, Winda sudah menghentikannya.

“Eh, Aini! Tunggu sebentar…,” kata Winda sambil memandangi Aini yang sudah berada di dekatnya.

“Kenapa?” tanya Aini bingung.

“Muka kamu yang lagi merah malu-malu gitu cantik banget deh…,” puji Winda.

“Ihh! Apaan sih kamu! Mau aku cubit beneran, ya?!” Aini yang merasa pujian Winda itu ledekan tanpa ragu lagi mengarahkan tangannya ke perut Winda, bermaksud mencubitnya.

Namun Winda lagi-lagi menahannya dengan memegang tangan Aini. “Nggak kok, Aini. Aku serius…”

Aini terdiam. Baru kali itu temannya itu memujinya seserius itu.

“Kebetulan aku bawa kamera nih,” ujar Winda sembari membuka tas yang disandangnya. “Kamu mau aku fotoin sama Dewo, nggak? Buat kenang-kenangan…”

Kekesalan Aini pada temannya pun luluh, digantikan perasaan gugup dan tegang. Ini adalah momen bersejarah, mustahil Aini akan melewatkannya. Selama ini Aini tak pernah terpikir untuk berfoto bersama Dewo. Ketika kesempatan seperti ini datang, dia benar-benar tak tahu harus bagaimana. Dia hanya menuruti semua yang dikatakan Winda.

“Aku mesti gimana nih?” tanya Aini yang terlihat grogi saat sudah duduk bersanding dengan Dewo.

“Kamu duduknya nempel dong sama Dewo, biar Dewo bisa rangkul bahu kamu,” kata Winda mengarahkan.

“Kayak gini?” tanya Dewo sambil mencontohkan tangannya memeluk bahu Aini dengan mesranya, membuat Aini semakin malu di hadapan Winda.

“Iya, kayak gitu! Sempurna banget!” jawab Winda antusias. Gadis bermata agak sipit itu pun segera mundur sedikit untuk mengambil posisi yang tepat. “Siap ya…! 1… 2… 3…!”

CKREKKK…!

Perasaan Aini begitu damai kala itu. Pelukan dan lontaran kata-kata harapan yang telah Dewo berikan seakan-akan membuat perpisahan tersebut hanyalah ujian kecil baginya. Perasaan takut itu telah digantikan oleh kehangatan yang menenangkan sanubarinya. Pengalamannya bersama Dewo di sekolah itu tidak akan pernah dilupakannya. Begitu pula dengan simbol tangan mereka saat itu yang Aini tak pernah sangka akan menjadi yang terakhir kalinya.

***

Tiga hari setelah acara perpisahan di sekolah, Dewo mengajak Aini untuk jalan-jalan. Dewo berniat untuk mengadakan sebuah ‘acara perpisahan’ khusus untuk mereka berdua yang sudah tak lagi duduk di kelas tempat mereka membina tali cinta. Dewo ingin kebersamaan mereka saat itu terasa spesial. Aini yang menerima kabar Dewo dari telepon pun menerima ajakan Dewo dengan begitu antusias. Sehari saja tak bertemu Dewo memang terasa berat bagi Aini.

Di hari Minggu yang cukup cerah itu, Dewo dan Aini berkunjung ke beberapa tempat. Bukan tempat wisata yang hebat ataupun tempat yang butuh merogoh kocek dalam-dalam, melainkan tempat-tempat nyaman yang mereka rasa pantas untuk menjadi kenangan mereka berdua. Aini benar-benar menikmati hari itu dengan penuh kebahagiaan. Canda tawa dan kemesraan tak henti mengalir dari dirinya.

Namun waktu tetaplah waktu. Hari yang sudah petang pun mendesak Dewo dan Aini untuk mengakhiri kebersamaan mereka yang begitu indah itu. Cuaca mendung saat itu juga seolah mengamini mereka untuk segera berpisah. Tapi perasaan Aini yang masih belum mengikhlaskan perpisahannya malah mengajak Dewo untuk menikmati waktu lebih lama lagi.

Kala itu mereka berdua sudah berada di tempat persinggahan terakhir mereka, yaitu taman kecil di kota yang selalu menjadi tempat langganan mereka saat berduaan. Aini mengajak Dewo untuk mengobrol di bawah bangunan kecil seperti saung beratapkan rumbia yang ada di taman itu. Rinai hujan masih menitik sesekali, enggan untuk berderai lebat. Suasana yang sudah sepi membuat tempat itu menjadi sangat romantis.

“Hari ini seru banget ya, Wo…,” ujar Aini sambil tersenyum lebar.

Dewo mengangguk. Tersungging senyum di bibirnya. Namun sesaat kemudian senyum itu hilang. Dewo seperti memikirkan sesuatu.

“Kamu kenapa, Wo?” tanya Aini karena melihat keganjilan itu.

Dewo diam saja. Kedua sorot matanya memandangi Aini dalam-dalam. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapannya itu. Sesaat kemudian Dewo mendekatkan wajahnya pada Aini perlahan-lahan, lalu mengecup mesra kening gadis yang dicintainya itu.

Aini merasa senang sekaligus bingung. Dewo memang sudah cukup sering berkelakuan seintim ini, tapi kecupan Dewo kali ini terasa cukup lama dan begitu dalam. Aini bertanya-tanya dengan apa yang sedang dipikirkan Dewo. Namun dia bisa bersabar untuk menunggu Dewo mengungkapkan isi hatinya.

Ketika ciuman itu terlepas, Dewo kembali menatap Aini lekat-lekat. Cukup lama Dewo melakukan itu hingga beberapa saat kemudian barulah dia mulai bicara. “Aini… Ada yang mau aku bilang sama kamu…”

“Bilang apa, Wo?” balas Aini. Gadis itu agak resah dengan cara Dewo menatapnya. Dewo seakan hendak mengatakan sesuatu yang sangat pelik.

“Aku…” Kata-kata Dewo terputus. Wajahnya tertunduk, tak ingin melihat Aini.

“Kamu kenapa, Wo?” tanya Aini yang mulai khawatir.

Di tengah perasaannya yang tak menentu, Dewo kembali menegakkan kepalanya. Ditatapnya Aini dengan wajah muram. Aini yang menangkap adanya kejanggalan hanya bisa menunggu dalam cemas. Dengan keyakinan yang masih tersisa, Dewo pun akhirnya berterus terang.

“Aini… Aku udah nggak bisa jadi pacarmu lagi…,” ucap Dewo lirih.

Aini terkejut bukan kepalang. Jantung dan nafasnya seakan terhenti. Sungguh dia tak menyangka Dewo akan mengatakan kalimat seperti itu. “Maksud kamu apa, Wo? Kamu bercanda, kan?” tanya Aini panik.

Dewo menatap Aini lemah. “Maafin aku, Aini… Kita nggak akan bisa sama-sama lagi… Selamanya… Mudah-mudahan hari terakhir kita ini bisa jadi kenang-kenangan yang indah buat kita.”

Aini menatap Dewo tidak percaya. Kepalanya terasa sangat berat. Ucapan Dewo benar-benar menusuk hatinya. Air mata Aini mulai menetes. “Kenapa kamu ngomong kayak gitu, Wo? Bukannya kamu udah…”

“Maafin aku, Aini. Maafin aku…,” potong Dewo. “Aku harus ngelakuin ini. Semuanya demi kebaikan kita berdua…”

Aini tak sanggup menerima kata-kata Dewo. Apa yang didengarnya dari mulut Dewo sungguh hal yang mustahil. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Semua keindahan, kebahagiaan, dan harapan yang begitu dipercayainya sirna begitu saja. Air mata Aini semakin tak terbendung seiring rasa sakit luar biasa yang dirasakannya. Langit yang mengucurkan hujannya pun seakan ikut menangis bersamanya.

Aini berdiri dari duduknya, meratapi lelaki di hadapannya yang selama ini sangat dicintainya. “Kamu kenapa, Wo? Kenapa kamu mau ninggalin aku? Kamu udah nggak cinta lagi sama aku?”

Dewo menunduk lesu, lalu menggeleng pelan. “Bukan begitu, Aini. Aku tau ini memang salahku… Tapi ini juga bukan mauku…”

“Bukannya kamu udah janji, Wo?” ujar Aini di sela tangisnya.

Dewo menatap Aini yang ternyata sedang mengacungkan jari kelingkingnya. Demi mengingat simbol itu, Dewo pun menitikkan air mata. Namun lelaki itu sama sekali tak membalas Aini dengan mangaitkan kelingkingnya. Ada sesuatu dalam hatinya yang betul-betul menghalangi ikrar itu. Dewo tak mampu mengatakan apa-apa.

Aini menunggu Dewo untuk mengaitkan kelingkingnya, namun Dewo tetap diam. Menanggapi itu, Aini pun menurunkan kelingkingnya. “Ya udah… Kalau kamu memang mau pisah sama aku, aku terima…” Sambil menangis tersedu, Aini melangkah pergi dari hadapan Dewo.

Dewo yang melihat itu langsung mengejar Aini dan menangkap tangannya. “Kamu mau ke mana, Aini? Hujannya makin deras… Nanti kamu sakit…”

Aini menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Dewo. “Apa pedulimu, Wo?! Aku sakit juga nggak ada hubungannya sama kamu, kan?!”

“Tapi, Aini…”

“Tapi apa?” potong Aini. “Buat apa selama ini kamu berjanji sama aku, hah?! Buat apa?!”

Dewo tak bisa menjawab. Dia tahu dirinya bersalah. Entah apa yang terjadi padanya sampai-sampai dia memutuskan hubungan mereka begitu saja. Namun dia hanya berpikir kalau dia memang harus melakukan semua itu, demi kebaikan mereka berdua.

“Kamu tega, Wo…,” tukas Aini. “Kamu bilang apapun yang terjadi kamu nggak bakal ninggalin aku… Aku juga udah percaya sama kamu… Tapi nyatanya apa?”

Dewo masih terdiam memperhatikan Aini yang betul-betul kecewa melihatnya. Dirinya memang merasa pantas mendapatkan itu semua.

“Kamu jahat, Wo… Kamu memang jahat…,” ujar Aini sambil menangis pilu di tengah derasnya hujan. Dia pun berbalik badan hendak meninggalkan Dewo.

“Aini… Nanti kamu sakit… Tunggu dulu hujannya reda,” paksa Dewo seraya menangkap lengan Aini.

“Lepasin aku, Wo!” seru Aini sambil menyentak lepas lengannya. “Pergi kamu! Jangan ikuti aku…!” Aini memukul-mukul tubuh Dewo membabi buta saking geramnya. Tampak kekesalannya sangatlah lebih besar daripada kerasnya pukulan yang dia lancarkan. Setelah puas Aini pun berjalan cepat meninggalkan lelaki yang sudah sangat mengecewakannya itu.

Hujan seakan menjadi saksi akan terpukulnya perasaan Aini. Hujan pula yang menutupi dengan sempurna air mata gadis itu. Tidak ada apapun yang mengisi hatinya saat itu selain serpihan-serpihan cintanya yang sudah hancur, dan tak ada pula penghiburnya selain ketegaran yang sudah bercampur dengan kekecewaan.

Aini benar-benar ingat peristiwa itu. Pengalaman penuh luka dan duka itu tak akan pernah hilang dari benaknya. Saat-saat di mana dia mendapatkan hantaman terkeras dalam lika-liku hidupnya. Saat-saat di mana dia bak kehilangan segalanya. Begitu indah harapannya pada Dewo sampai-sampai setiap waktu dia terus saja menganggap jika kata-kata Dewo itu adalah lelucon belaka.

Sempat muncul di benak Aini untuk membuang satu-satunya hadiah pemberian Dewo yang selalu menghantui hidupnya. Tapi ternyata rasa sayangnya masih jauh lebih besar dari kebenciannya terhadap Dewo. Miniatur piano itu selalu menemani tidurnya. Tak jarang Aini menangis ketika mendengarkan kotak musik itu berbunyi. Benaknya menyadari jika Dewo memang bukanlah jodohnya. Namun dalam hatinya yang terdalam Aini menyadari bahwa Dewo adalah cinta sejatinya. Takkan ada lagi lelaki yang bisa dicintainya melebihi cintanya pada Dewo.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*