Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 23

Ibuku Cintaku dan Dukaku 23

Hari demi hari berlalu. Setiap saat Aini selalu digoda dan dirayu oleh lelaki dari segala penjuru. Tak hanya dari teman sekelas, tapi juga dari seluruh siswa yang ada di sekolah itu. Aini menjelma menjadi bunga sekolah yang begitu mekar dan harum. Semuanya memperebutkannya dengan gigih.

Berulang kali Dewo dibuat cemburu oleh setiap lelaki yang mendekati gadis pilihan hatinya itu, namun berulang kali pula ia tak berani mendekatinya. Dia merasa begitu lemah di hadapan Aini. Walaupun wajahnya sangat tampan, tapi ia mengakui kekurangannya yang hanya lelaki biasa dengan kemampuan materi yang pas-pasan. Dia merasa minder dengan beberapa lelaki yang mendekati Aini. Mereka menggunakan kekuatan uang di sana, sementara Dewo tak punya kemampuan di bidang itu.

Namun sebenarnya Dewo tak menyadari satu hal. Perasaan wanita adalah sebuah misteri yang begitu dalam. Aini ternyata gadis yang tak terpengaruh akan godaan-godaan seperti itu. Kemilau harta dan materi tidak bisa menggantikan tempat Dewo di lubuk hatinya. Aini rupanya sudah terlanjur jatuh cinta. Bahtera kasih sayangnya hanya ingin ia labuhkan kepada Dewo seorang.

***

Berbulan-bulan sudah dilalui Dewo dan Aini di kelas itu, namun tak sekali pun mereka berdua saling bertegur sapa. Semuanya hanya berlalu begitu saja dengan pandangan dan lirikan mata yang setiap saat selalu setia bertemu. Mungkin rasa gugup dan malu masih membayangi. Namun entah mengapa mereka begitu menikmatinya hingga dirasa itu sudah cukup untuk melampiaskan perasaan masing-masing.

Berada dekat dengan seseorang yang dikagumi memanglah merupakan sebuah kebahagiaan. Apalagi jika mengetahui kalau orang itu mempunyai perasaan lebih pada diri kita. Hal itu selalu terngiang di dalam benak Aini dan Dewo. Di setiap tatap yang mereka pancarkan, mereka terus saja menanti saat di mana mereka akan saling berbicara dan mendengarkan. Saat di mana perasaan maupun keluh kesah itu akhirnya tersampaikan. Mereka senantiasa berharap dalam hati akan saling mengisi suatu hari nanti dan akan menjadi pasangan yang paling berbahagia.

***

Kala itu siang sudah cukup lama menaung. Hari beranjak semakin sore. Aini baru saja pulang dari belajar kelompok di rumah Winda. Ada tugas sekolah yang harus dikerjakan. Arah rumahnya yang berlawanan dengan rumah Winda membuatnya harus turun di tengah jalan dan harus menumpang angkutan umum yang lain. Aini sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu dengan sabar.

Mata Aini sesekali melihat ke langit, menatap cemas awan tebal yang semakin gelap. Sepertinya sebentar lagi akan segera turun hujan. Batinnya pun semakin cemas karena angkot ke arah rumahnya tak kunjung lewat. Toko-toko di sekitarnya yang banyak tutup dan keadaan sepi di daerah tempatnya menunggu itu membuat suasana sedikit mencekam. Aini menarik nafas panjang. Gadis itu mencoba menguasai perasaannya yang tak enak. Untung saja tak begitu jauh dari tempatnya berdiri ada warung yang terbuka. Itu sedikit menenangkan pikirannya.

Namun rupanya kelegaan itu tak berlangsung lama. Aini melihat dari dalam warung itu keluar tiga orang pria yang penampilannya bisa dibilang seperti preman. Tato-tato tampak tersebar di setiap bagian tubuh mereka. Kaos yang mereka pakai sudah lusuh dan celana mereka yang terbuat dari bahan denim terkoyak di sana sini. Kumis dan jenggot mereka pun kelihatan tak terurus. Aini mendadak begitu takut karena mata mereka bertiga menatap tajam ke arahnya. Pria-pria itu juga tersenyum licik dan berbisik-bisik seolah merencanakan sesuatu pada Aini. Demi menghindari sesuatu yang tak diinginkan, Aini pun menjauh dari situ. Dia berjalan cepat menyusuri jalan.

Namun sial bagi Aini. Ketiga berandalan itu ternyata mengikutinya dari belakang. Aini yang tahu bahwa mereka berniat buruk terhadapnya langsung lari sekencang-kencangnya. Dia memilih setiap jalan yang dia anggap aman. Tapi saking paniknya, Aini malah masuk ke dalam sebuah tempat yang sangat sepi. Di sekitarnya hanya ada pepohonan rindang dan semak belukar. Aini pun langsung berteriak minta tolong ketika ketiga orang itu akhirnya menyusulnya.

“Hei! Kalo lu teriak lagi, mati lu!” Salah seorang preman itu mengancam Aini dengan sebuah pisau.

Aini pun hanya menangis tertahan karena ketakutan.

“Lu mesti bikin kita senang dulu, baru lu boleh pergi…,” kata temannya yang lain sambil menyeringai jahat.

“Ukhh… kampret! Cantik bener nih cewek… Langsung entotin aja yuk!” kata pria yang menodongkan pisau itu. Dia sudah memegang lembutnya kulit lengan Aini.

Air mata Aini semakin membanjir. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah akan keadaannya.

“Kita bawa ke dekat semak-semak aja, biar nggak keliatan…,” anjur salah seorang dari mereka.

“Oke deh…,” jawab kedua temannya serentak. Mereka berdua langsung menyeret paksa Aini.

“Jangan… Aku nggak mau… Jangan…,” ucap Aini lirih sambil meronta. Tapi tenaganya yang lemah ditambah dengan ancaman pisau itu membuat perlawanannya menjadi tidak berguna.

“Udah, diam aja, sayang… Ntar enak kok…,” bujuk orang yang menyeret tangan kanan Aini. Para berandalan itu pun tertawa.

“Woi…!” teriak seseorang tiba-tiba dari arah lain.

Para preman yang sedang menyeret Aini pun terkejut dan menoleh ke asal suara itu. 10 meter dari mereka ternyata sudah berdiri seorang lelaki. Masih berseragam SMA, sama seperti Aini. Wajahnya menatap ketiga berandalan itu dengan garang. Tanpa rasa gentar, dia kemudian mendekat, bersiap untuk menolong.

Ketiga preman itu melepaskan Aini, lalu tertawa mengejek. Mereka bertiga berjajar, bersiap menyambut lelaki berseragam SMA yang tak lain adalah Dewo. “Heh! Lu mau jadi sok pahlawan?!” tantang pria yang memegang pisau.

Dewo yang sudah di hadapan mereka hanya menatap dingin. Tangannya terangkat dan telunjuknya terarah ke wajah mereka bertiga. “Kalian bertiga pilih mati atau pergi dari sini?” ancam Dewo dengan bengis.

Para preman itu saling melihat satu sama lain, lalu tertawa. “Nih bocah kita kasih pelajaran yuk…,” ucap si pemegang pisau kepada kedua temannya. Mereka berdua pun mengangguk.

Aini yang berada beberapa meter di belakang para preman itu hanya bisa menatap jeri. Dia memang merasa tertolong karena kehadiran Dewo. Namun dia juga sangat takut jika terjadi sesuatu dengan laki-laki yang dicintainya itu. Aini tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Dewo karena sudah menantang mereka bertiga.

Nafas Aini tertahan ketika tiga berandalan itu mulai menyerang. Tak tanggung-tanggung mereka menyerang Dewo bertiga sekaligus. Ada yang melancarkan sebuah pukulan tepat ke wajah Dewo dan ada yang mencoba memukul bagian perut Dewo. Orang yang memegang pisau bahkan mengarahkan pisaunya ke perut remaja tampan itu.

Tapi ternyata Dewo memang tidak sekadar menggertak. Pria pujaan Aini itu memang bukan laki-laki biasa. Dia sangat mahir dan begitu menguasai ilmu bela diri yang diwariskan turun-temurun di dalam keluarganya. Baginya pertarungan seperti ini hanya sebuah latihan.

Dengan mudahnya dia menangkis tinju yang mengarah ke wajahnya dan memelintir tangan itu hingga tubuh preman itu terkunci dan berteriak kesakitan. Kaki kanannya terangkat cepat dan menendang dengan keras orang yang hendak memukul bagian perutnya hingga orang itu jatuh tersungkur. Lalu ketika preman yang hendak menusukkan pisau itu sudah hampir mengenainya, Dewo mundur sedikit dan menjadikan tangan preman yang dipelintirnya itu sebagai tameng. Alhasil tangan pria yang dipelintirnya itu langsung terkoyak bersimbah darah karena pisau temannya sendiri. Si pemegang pisau yang agak kebingungan langsung terbanting saat Dewo dengan tiba-tiba maju ke arahnya dan melancarkan satu tendangan tepat di ulu hatinya.

Tak cukup sampai di situ. Dewo yang begitu berang karena ketiga orang ini sudah hendak memperkosa Aini, tanpa ampun memberikan ‘pelajaran’ berikutnya. Dia langsung memberikan dua pukulan keras ke perut dan wajah orang yang masih mengerang kesakitan karena daging tangannya sudah terpotong. Orang itu pun langsung terkapar. Sementara preman pemegang pisau dan temannya yang tersungkur tadi langsung mendapatkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Dewo benar-benar beringas. Ingin rasanya dibunuhnya ketiga orang itu. Namun dia masih bisa menahan emosinya. Mereka dibiarkan tergeletak bersimbah darah sambil mengerang lemah kesakitan.

Dengan nafas yang masih agak tersengal, Dewo pun menemui Aini yang berdiri mematung di dekat sebuah pohon kecil. Dilihatnya keadaan Aini yang masih dilanda trauma. “Kamu nggak apa-apa, Aini?”

Aini menggeleng lemah. Ditatapnya Dewo dengan penuh rasa kagum. Matanya masih terlihat sembap karena menangis. Namun dia tak menyangka bahwa tangisnya di saat kritis itu akan mendatangkan pria yang sangat dicintainya untuk datang menolongnya.

“Kamu mau pulang?” tanya Dewo lagi.

Aini mengangguk pelan. Matanya terlihat lemah karena guncangan batinnya masih belum pulih benar.

“Ya udah, aku temenin nunggu angkot, ya?” tawar Dewo.

Aini mengangguk lagi. Kali ini sambil tersenyum kecil.

Dewo pun menemani Aini menunggu di pinggir jalan. Aini tidak berbicara sepatah kata pun karena dia masih grogi. Sementara Dewo cukup banyak berbicara. Dewo sempat berpesan padanya agar jangan menunggu angkutan umum di daerah itu, karena daerah itu memang rawan kejahatan. Aini mendengarkan semua nasihat Dewo dengan patuh. Perlahan-lahan rasa traumanya semakin mereda. Sebelum dia hendak naik ke dalam angkot yang akhirnya menepi di dekatnya, barulah dia mengucapkan sesuatu. Sebuah ucapan terima kasih yang sangat tulus dari dalam hatinya.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 tepat. Bel istirahat baru saja berbunyi nyaring. Aini begitu senang karena hampir semua teman-teman sekelasnya keluar dari ruangan sumber kepenatan itu untuk pergi ke kantin. Dia sangat bersyukur karena keadaan benar-benar berpihak padanya. Kini di dalam kelas hanya menyisakan tiga orang saja. Mereka adalah Aini, Dewo, dan Winda yang sejak tadi senyum-senyum sendiri.

“Ya udah, samperin dong…,” bisik Winda ke Aini. Dia nyengir sambil menyikut-nyikut lengan Aini agar segera mendatangi Dewo yang sedang memejamkan mata di kursinya. Dewo tampak kelelahan hari ini.

“Ihh…! Sabar dong! Aku deg-degan nih…,” repet Aini dengan suara tertahan. Di tangannya sudah ada kotak makanan yang terbuat dari plastik keras yang agak transparan. Benda itu berisi beberapa potong kue bolu coklat.

Dewo yang mendengarkan sedikit kegaduhan itu pun langsung menengok ke arah mereka. Seketika itu pula Aini jadi salah tingkah. Dia tampak bingung harus melakukan apa. Namun teman semejanya yang sedari tadi mendorong-dorongnya membuatnya tidak punya pilihan lain. Akhirnya Aini berdiri dan melangkah ke tempat Dewo.

Dewo pun bereaksi. Dia yang tak menyangka kalau Aini masih berada di dalam kelas mendadak jadi sama gugupnya dengan Aini. Namun demi terlihat gentle di mata gadis itu, dia mencoba menahan kecanggungannya. Dia bersiaga di tempat duduknya sambil menunggu apa gerangan yang diinginkan Aini padanya.

Begitu sampai di hadapan Dewo, Aini langsung memberi kode ke Winda agar dia keluar dari kelas. Winda pun menurutinya sambil tersenyum simpul. Mata sipit Winda sempat memberikan tatapan menggoda pada temannya yang cantik itu. Rupanya Winda baru saja tahu kalau Aini menaruh hati pada Dewo.

Ketika Winda sudah tak kelihatan lagi, Aini pun bergegas menyerahkan apa yang dibawanya. “Emm… Dewo… Ini buat kamu…,” ucapnya mesra sambil memberikan kotak makanan itu.

Dewo pun tergugah ketika menatap hadiah yang diberikan Aini. “Ini… buat aku?”

Aini mengangguk sambil tersenyum manis.

Dewo menerimanya dengan berdebar-debar. Dia tak menyangka Aini seperhatian ini terhadapnya. Apalagi ketika dilihatnya Aini kemudian duduk di kursi yang ada tepat di depannya. Rasanya seluruh kekuatan mentalnya tiba-tiba terbang begitu saja ke langit ke tujuh.

Dewo membuka perlahan kotak makanan itu. Tapi matanya kemudian bukanlah menatap bolu yang terhidang, melainkan melirik Aini yang ada di hadapannya. Tentu saja mereka yang tiba-tiba bertemu pandang jadi salah tingkah sendiri. Aini buru-buru melirik ke arah lain, sementara Dewo kembali memperhatikan kue. Mungkin itu yang disebut ‘malu tapi mau’.

“Langsung aku makan di sini nih?” tanya Dewo, mencoba mencairkan suasana.

Aini mengangguk. “Iya. Nanti tempat bolunya mau aku bawa pulang…,” jawab Aini kaku.

Dalam hening, Dewo pun mulai menyantap penganan itu. Namun ada sedikit hal yang membuatnya tak tenang. Untuk apa Aini tetap duduk di hadapannya? Tak enak rasanya jika kita makan sementara orang lain memperhatikan. Itulah yang sedang dirasakan Dewo.

“Kamu mau juga? Ambil aja…,” ujar Dewo iseng menawarkan.

“Oh, nggak kok… Itu kan memang buat kamu…,” tolak Aini.

“Oh…” Dewo mengangguk pelan.

“Sebenarnya… aku mau ngucapin terima kasih sama kamu, karena kamu udah nyelamatin aku kemarin,” imbuh Aini.

Dewo menatap Aini sambil mengunyah. “Oh, itu… Kan kemarin kamu udah bilang terima kasih sama aku…”

Aini tersenyum simpul. “Iya sih… Tapi aku kemarin kan nggak ngomong banyak sama kamu…”

“Oh, gitu… Emangnya kamu mau ngomongin apa sama aku?” tanya Dewo.

Aini tertegun sekejap. “Ngg… Nggak mau ngomongin apa-apa sih…,” ucapnya gugup.

Dewo pun terkekeh mendengarnya. “Lho? Gimana sih? Katanya tadi mau ngomong banyak sama aku…”

Aini langsung salah tingkah karena malu dengan kata-katanya sendiri. Dia hanya bisa memain-mainkan jari-jarinya di atas rok abu-abunya tanpa menjawab apapun. Matanya melirik Dewo sesekali sambil tersenyum penuh arti. Perasaannya tak menentu.

Dewo yang sadar bahwa Aini sedang dalam keadaan yang tidak nyaman pun tak meneruskan pertanyaannya. Dikunyah dan ditatapnya kue-kue itu sebagai ‘pelarian’.

“Kuenya enak nggak?” tanya Aini kemudian, memecahkan suasana canggung.

“Oh, enak kok…,” ucap Dewo sekenanya. Jempolnya mengacung.

“Aku buat sendiri lho…,” ungkap Aini bangga.

Dewo mengangguk-angguk sambil mengunyah. “Hmm… Pantes enak banget…”

Aini pun tersenyum lebar. Dia sangat senang Dewo menyukai bolu buatannya. Itu semua bukanlah karena pujian Dewo terhadapnya ataupun karena keahliannya memasak. Bukan pula karena Aini ingin berterima kasih ataupun untuk membalas budi. Itu semua dilakukannya semata-mata hanyalah untuk menunjukkan betapa besar cintanya pada Dewo. Bolu itu dibuat Aini dengan sepenuh hatinya.

“Ngomong-ngomong… kamu kemarin kok bisa ada di situ?” tanya Aini.

“Oh, itu…” Dewo menelan sisa-sisa makanan di mulutnya. “Itu sih aku baru pulang dari rumahnya Rendi buat ngerjain tugas yang dikasih Pak Untung itu…”

“Lho? Sama dong… Kemarin aku juga baru dari rumahnya Winda buat ngerjain tugas itu…”

“Terus gimana? Punya kalian udah siap belum?” tanya Dewo penasaran.

“Udah kok…”

“Mmm… Aku boleh liat penyelesaian tentang soal tekanan fluida itu nggak?” pinta Dewo. “Dari kemarin kepalaku puyeng banget nih…”

Aini mengangguk mantap. “Ya udah, besok aku bawa, ya.”

Dewo pun berterima kasih dan tersenyum senang. Dilanjutkannya acara makannya tadi.

“Dewo…,” ucap Aini lirih.

“Hmm…?” sahut Dewo sambil mengunyah.

“Kamu kemarin kok bisa sih kalahin preman-preman itu?” tanya Aini malu-malu. “Kamu udah sering ya, berantem kayak gitu?”

Dewo tersenyum simpul. “Ah, biasa aja kok… Aku itu emang diajarin bela diri dari kecil.”

“Oh…” Aini mengangguk-angguk. “Terus temen-temen kamu tau nggak kalo kamu bisa bela diri sehebat itu?”

“Temen-temen aku dari dulu nggak ada yang tau kalo aku bisa bela diri. Lagian aku juga nggak pengen mereka tau tentang itu. Aku cuma nggak mau jadi orang sombong aja…”

Aini mengangguk mafhum. Dia salut melihat perangai Dewo. Dari segala keistimewaan yang dimilikinya, Dewo tetap menjadi lelaki yang rendah hati. Itu adalah poin besar bagi Aini. Hatinya memang tak salah memilih.

Mereka berdua benar-benar menikmati saat-saat indah yang singkat itu. Anehnya tidak ada satu pun teman-teman sekelas yang masuk sebelum mereka menyudahi obrolan dan kebersamaan mereka. Apakah merupakan sebuah kebetulan? Atau memang jodoh? Entahlah. Yang pasti hubungan mereka semakin erat karena akhirnya mereka bisa saling berkomunikasi.

***

Aini dan Dewo semakin dekat hari ke hari. Bahkan hubungan mereka berdua sangat mesra layaknya pasangan yang sedang berpacaran. Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui asmara yang terjalin di antara mereka berdua. Semua orang di kelas itu menganggap Aini dan Dewo hanyalah teman biasa. Hanya Winda yang tahu bahwa Aini memang punya perasaan lain terhadap Dewo.

Baik Dewo maupun Aini, mereka sama-sama merasakan sesuatu yang berbeda ketika mereka saling berbagi cerita dan obrolan. Di balik canda dan tawa itu ada cinta yang senantiasa mengintip. Cinta yang kian waktu kian tumbuh. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk saling mengungkapkan isi hati.

Terkadang, Aini merasa bersalah dengan dirinya sendiri. Dia tak bisa mencegah para lelaki lain yang selalu saja menggodanya. Mereka terus saja berdatangan. Menawarkan cinta yang entah itu palsu ataupun tulus dari hati mereka. Aini tidak punya ketertarikan apa-apa terhadap mereka, namun dia melihat kecemburuan di mata Dewo setiap kali Dewo melihat hal itu. Dia tahu itu, dan dia tak ingin Dewo membencinya.

Apa yang dilakukan Aini saat dia sedang didekati para pria terbilang unik. Saking takutnya dia akan dijauhi Dewo, dia langsung menghindar dari mereka semua dan bergegas mendekati Dewo yang tampak termenung dingin. Dia akan mengajak Dewo bercerita mengenai apapun asalkan Dewo mau berbicara dengannya. Aini akan berusaha membuat Dewo tersenyum padanya saat itu juga.

Dewo memang merasa sangat cemburu sekaligus malu. Dia tahu betul bahwa memang merupakan sebuah kewajaran jika Aini didekati banyak lelaki. Aini itu sangat cantik dan mampu membuat siapapun jatuh cinta padanya. Tapi Dewo merasa keberaniannya masih belum cukup untuk mengungkapkan perasaannya. Dia takut Aini tidak mencintainya dan menganggapnya selama ini hanyalah sebagai teman biasa. Lagi pula keadaannya yang memang berlatar dari keluarga yang ‘pas-pasan’ membuatnya selalu merasa minder di hadapan Aini yang dilihat dari penampilannya memang berasal dari keluarga berada. Batinnya selalu saja tersiksa setiap saat.

Namun seberapa pun tebalnya mega di langit, suatu saat pasti akan terpecah jua. Cinta mereka yang sudah cukup lama menunggu ternyata sudah tak lagi mengizinkan mereka untuk saling menjauh. Aini dan Dewo memang sudah seharusnya saling memiliki.

***

Bel tanda selesainya seluruh jadwal belajar-mengajar hari itu baru saja berbunyi. Seluruh siswa-siswi SMA itu berbondong-bondong keluar dari kelas mereka. Namun Dewo masih belum beranjak sama sekali dari kursinya. Dia sedang menunggu sesuatu. Tersirat keresahan dan kegugupan di wajahnya. Matanya tampak lihai melirik gerak-gerik seseorang.

“Aini!” seru Dewo.

Aini dan Winda yang saat itu hendak berjalan keluar kelas pun terhenti dan menengok ke arahnya.

“Tunggu sebentar…,” sambung Dewo sambil bergegas menyusul mereka berdua.

“Ada apa, Wo?” tanya Aini ramah.

“Emm…” Dewo terpaku sejenak, menunggu seluruh teman-temannya yang lain benar-benar keluar dari kelas. Sesaat kemudian tangannya langsung mengambil sesuatu dari dalam ransel yang disandangnya, lalu menyerahkannya pada Aini. “Ini buat kamu…”

Aini tertegun melihat sebuah kubus yang sudah terbungkus rapi di tangan Dewo. Itu adalah sebuah kado. “Ini apa, Wo?”

“Emm… Ini hadiah ulang tahun dari aku… Aku baru tau kalo kamu ulang tahun beberapa hari yang lalu. Jadi… tolong diterima, ya…”

Sebenarnya itu adalah ide Winda. Hanya Winda yang tahu kapan ulang tahun Aini. Karena dia juga mengetahui seperti apa hubungan Aini dengan Dewo, maka dia memutuskan untuk memberi tahu Dewo.

Aini melihat Winda yang berada di sebelahnya. Temannya itu hanya cengar-cengir. Aini yang mengetahui bahwa itu semua adalah ulah Winda langsung terdiam dan tersenyum berseri-seri. Tangannya pun terulur untuk menerima hadiah dari Dewo. “Makasih, ya…”

Dewo mengangguk sambil tersenyum. “Iya, sama-sama…”

“Ciieee…,” goda Winda sambil menyikut Aini.

“Ihh! Apaan sih?!” gerutu Aini sambil tersenyum malu.

Winda cengengesan melihat temannya yang sedang dilanda rasa malu yang teramat sangat.

“Aini…,” ucap Dewo.

“Iya, Wo…?” sahut Aini.

“Emm… Ada yang mau aku bilang sama kamu…,” ujar Dewo pelan.

Aini menatapnya penasaran. “Bilang apa, Wo?”

Dewo tampak berpikir, memilah-milah kata di dalam otaknya. Sekejap kemudian dia menatap Winda. “Win… Kamu bisa keluar sebentar nggak?” pinta Dewo.

Winda yang sedari tadi menonton sambil senyum-senyum sendiri pun tersentak. Dia sadar bahwa keberadaannya di situ sedikit menganggu. “Eh, iya… Maaf, ya… Aku keluar dulu,” ucapnya sembari terburu-buru keluar.

Ruangan kelas pun langsung terasa lengang. Kini yang tersisa di dalam hanyalah Dewo dan Aini yang sama-sama sedang berdebar-debar. Dewo kembali memikirkan sesuatu yang ingin disampaikannya.

“Aini…” Dewo pun kembali memulai.

“Hmm…?” sahut Aini.

Dewo menatap kedua mata Aini dalam-dalam. Diberikannya sorot mata penuh cinta pada gadis pujaannya itu. “Aini… Sebenarnya… Aku udah lama suka sama kamu…,” ungkap Dewo.

Aini tertegun. Perasaannya tiba-tiba bergejolak. Jauh di dalam benaknya dia memang sudah menebak apa yang ingin dikatakan Dewo. Tapi dia tak menyangka kalimat itu akan terdengar begitu indah. Betapa gembiranya dia ketika Dewo mengucapkannya sampai-sampai darahnya serasa terhenti mengalir di seluruh tubuhnya. Aini memandangi Dewo dengan pandangan kosong.

Dewo agak tertunduk, tidak sanggup menatap Aini lagi. Dia merasa tegang dan gugup. Entah mengapa, ada semacam rasa bersalah yang dirasakannya. Namun dia tetap mengikuti hati kecilnya. “Maafin aku Aini… Aku cuma mau jujur aja sama kamu. Kalo kamu mau marah, aku terima kok. Tapi tolong jangan benci sama aku… Jangan jauhin aku… Aku sayang banget sama kamu…”

Suasana hening sesaat. Dewo tampak sudah kehabisan kata-kata. Dia benar-benar sudah berusaha keras untuk mengungkapkan seluruh isi hatinya. Dipasrahkannya harapannya yang sudah menipis.

“Dewo…,” ucap Aini lirih.

Dewo menegakkan kepalanya, menatap Aini. Perasaannya seketika tergugah saat dilihatnya Aini sedang memandanginya dengan wajah penuh haru. Aini tersenyum bahagia dengan mata yang berkaca-kaca.

“Mana mungkin aku marah sama kamu…,” ujar Aini pelan. “Aku itu cinta sama kamu, Wo. Aku cinta banget sama kamu…” Air matanya pun meleleh tak tertahan. Aini menangis merasakan luapan emosinya yang akhirnya terlepas.

Dewo tak mampu berkata apa-apa. Dia begitu bahagia mendengar pengakuan Aini. Ternyata Aini juga sangat mencintainya. Bahkan mungkin cinta yang dimiliki Aini jauh lebih besar darinya. Dewo bisa melihatnya di setiap tetes air mata itu.

“Dewo…” Aini tiba-tiba meraih dan menggenggam erat tangan kanan Dewo. “Kamu mau kan jadi pacar aku?”

Dewo terkejut bukan main. Itu adalah kalimat yang sebenarnya hendak diucapkannya. Dia tak menyangka Ainilah yang lebih dulu mengatakannya. Rasanya seperti mimpi saja. Ditatapnya mata Aini yang berbinar-binar. Dengan yakin, Dewo pun mengangguk. “Iya… Mau banget…”

Aini tersenyum senang. “Makasih ya, Wo…,” ucapnya lembut. Aini langsung mendekati Dewo dan memberikan sebuah kecupan mesra di pipinya.

Dewo hanya bisa tercengang. Ini semua benar-benar bagaikan mimpi. Sebegitu cintakah Aini padanya? Dia tak pernah merasakan perasaan sehangat ini sebelumnya. Sungguh beruntung dirinya bisa mendapatkan Aini.

Sesaat mereka saling bertatapan. Senyum terkembang di wajah keduanya. Dewo membalas ciuman Aini tadi dengan menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi gadis itu. Aini pun tak kalah bahagia dengan perlakuan mesra Dewo padanya. Ruangan kelas itu mendadak jadi tempat yang begitu romantis bagi mereka berdua.

“Mmm… Kita pulang yuk…,” ajak Dewo. “Ntar si Winda kelamaan tuh nungguin kamu.”

“Eh! Iya… Aku lupa… Winda pasti udah lama tuh nungguin aku.”

“Ya udah, yuk…,” pungkas Dewo sembari menggandeng tangan Aini.

Aini tersenyum malu. Tangannya pun menggenggam erat tangan Dewo.

Sesampainya di luar, mereka kaget karena ternyata Winda menunggu di dekat pintu kelas. Winda cengar-cengir ke arah mereka berdua. Aini yang paham apa isi kepala Winda langsung buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman Dewo.

“Kamu kok nunggu di sini, Win? Kamu nguping, ya?!” tukas Aini.

Winda nyengir semakin lebar. “Kalo iya, emang kenapa?” tantangnya.

Aini tak bisa menahan senyumnya. “Ihh! Kamu tuh, ya! Iseng banget ngupingin orang!” Aini mencubiti lembut perut Winda. Winda malah kegelian karenanya.

“Oh, Dewo… Aku begitu mencintaimu…” Winda menggoda Aini dengan menirukan apa yang diucapkannya pada Dewo di dalam kelas. Dia bahkan menghayatinya dan mengucapkannya bak pujangga yang sedang bersyair.

Akibatnya Aini pun semakin malu dan mencubiti perut Winda dengan serius. Winda akhirnya meminta ampun karena kesakitan. Dewo hanya menontoni tingkah mereka sambil tersenyum simpul.

“Kalo gitu kami pulang dulu ya, Wo…,” kata Winda berpamitan.

“Oh, iya… Hati-hati, ya…,” balas Dewo.

“Pamitan dong sama Yayang-nya…,” sindir Winda sambil menyikut Aini yang cuma senyum-senyum.

Aini memelototi Winda. Temannya itu pun terkekeh.

“Hati-hati ya, Aini…,” ucap Dewo kemudian.

Aini mengangguk dan tersenyum manis. “Iya…,” jawabnya singkat.

“Udah? Gitu aja?” Winda tak puas.

Aini yang gemas dengan ulah temannya itu langsung menyeretnya pulang bersamanya. Winda tertawa-tawa sepanjang jalan melihat Aini yang grogi setengah mati di hadapan Dewo. Sementara Dewo berdiri terdiam sambil tersenyum penuh arti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*