Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku CIntaku dan Dukaku 22

Ibuku CIntaku dan Dukaku 22

Sory jarang update karena sedang gak semangat ngeblog.

Kuhabiskan waktuku menunggu Ibu sahabatku itu dengan menonton Bang Fadli dan Mbak Husna bekerja. Mereka melayani para pembeli dengan telaten dan tangkas. Jari-jari Mbak Husna menari-nari di atas tombol-tombol kalkulator yang ada di hadapannya, seakan-akan alat itu sudah menyatu dengan dirinya. Sementara Bang Fadli bagai robot yang mampu mengambilkan segala yang dibutuhkan pembeli dalam waktu singkat, sehingga pembeli benar-benar merasa dimanjakan dengan pelayanan toko Bu Aini ini. Harus kuakui, mereka berdua memang ‘pasangan emas’.

Belum lama aku memperhatikan mereka bekerja, Bu Aini akhirnya kembali. Di tangannya sudah ada bungkusan plastik hitam yang cukup besar. Sepertinya di dalamnya tidak hanya berisi sebungkus nasi saja, tapi ada banyak. Aku pun menyambutnya dengan senyuman ramah.

“Tito udah lapar, ya?” sapa Bu Aini.

Aku tidak menjawab, cuma cengengesan malu.

“Nih udah Bunda beliin makanannya,” ucapnya sambil menunjukkan bungkusan yang ada di tangannya. “Kita makannya di atas aja yuk…” Bu Aini menggandeng tanganku, mengajakku ke lantai atas ruko-nya.

“Husna…,” panggil Bu Aini.

“Iya, Bu?” sahut Mbak Husna yang sedang menghitung dengan kalkulatornya.

“Nanti kalau misalnya yang beli udah nggak ada lagi, kasih tau Ibu, ya.”

“Mau tutup, Bu?” tanya Mbak Husna.

“Iya nih. Tolong ya, Husna…,” pungkas Bu Aini.

“Oh, iya, Bu…” Mbak husna pun kembali berhitung, sementara Bang Fadli sedang berjibaku mengambilkan berbagai macam permintaan pembeli.

“Hah…? Tokonya mau tutup?” tanyaku dalam hati. Hal ini sedikit ganjil. Bukankah ini masih siang? Mengapa Bu Aini cepat sekali hendak menutup tokonya? Apakah karena ada aku di sini, Bu Aini jadi terpaksa tutup? Atau mungkin dia bermaksud mengajak Mbak Husna dan Bang Fadli ikut makan siang bersama-sama? Sepertinya memang demikian. Jika tidak, mana mungkin dia membeli makanan sebanyak itu.

Aku pun mengikutinya menaiki tangga. Tangannya yang halus sukses membuatku lupa akan rasa maluku yang tak pernah ingin berjalan bergandengan tangan di depan umum. Aku lebih merasakan perasaan yang berdebar-debar sekaligus penasaran akan cerita apa nantinya yang ingin disampaikannya. Situasi keakraban seperti ini juga punya warna tersendiri yang membuatku agak gugup. Sedikit demi sedikit aku tergiring untuk melupakan masalahku yang ada di rumah.

***

Begitu sampai di lantai 2, Bu Aini mengajakku duduk di sofa empuk yang di dekatnya sudah dilengkapi dengan meja kaca dan karpet. Ruangan ini adalah tempat di mana biasanya aku dan Rama menunggu ketika Bu Aini sedang sibuk. Tempat yang difungsikan sebagai ruang tamu ini sangat sejuk dan bersih. TV dan radio pun disediakan di sini sebagai sarana pelepas lelah. Di bagian depan lantai 2 ini ada sebuah kamar yang terkunci. Entah apa isi di dalam kamar itu. Rama tak pernah mengajakku masuk ke dalamnya. Mungkin itu hanya kamar biasa.

Bu Aini meletakkan bungkusan itu ke atas meja dan langsung membukanya. Ternyata isinya tidak seperti yang kubayangkan. Di dalamnya hanya terdapat nasi satu bungkus. Selebihnya adalah lauk pauk yang beraneka ragam. Ikan, ayam, telur, tahu, tempe, perkedel, semua tersedia di sini. Mungkin yang ada di hadapanku sekarang ini sudah mencakup hampir separuh dari jenis-jenis lauk pauk yang dijual di rumah makan itu. Aku jadi terheran-heran dengan Bu Aini. Jika memang dia ingin mengajak makan bersama, mengapa nasinya hanya sebungkus saja? Apa dia bermaksud membagi dua nasi yang sebungkus ini untuk kami makan? Entahlah.

Bu Aini menyajikan semuanya di atas meja kaca. “Tito makannya pake sendok aja, ya…,” ucapnya sembari beranjak menuju ke dapur kecil yang ada di dekat kamar mandi. Selain kompor, di sana juga ada rak tempat alat-alat makan.

“Iya, Bu…,” jawabku.

Mataku masih terpaku ke makanan-makanan ini. Meskipun aku sangat lapar sekarang, aku tetap mengakui kalau terlalu berlebihan jika hidangan ini semua diperuntukkan padaku. Sewaktu aku beberapa kali menginap di rumahnya saja, Bu Aini tidak pernah menyuguhiku makanan yang berlimpah seperti ini. Rasanya perutku semakin lapar saja.

Sekejap kemudian, Bu Aini pun kembali duduk bersamaku. Tangannya yang memegang piring dan sendok terlihat agak basah. Mungkin karena dia mencuci tangannya di kamar mandi barusan. Namun anehnya dia tidak memberikan alat makan yang dibawanya itu padaku. Dia malah tersenyum manis sambil memindahkan nasi putih yang ada di bungkusan itu ke atas piring. “Makannya Bunda suapin aja, ya,” ucapnya singkat.

“Lho, kok disuapin sama Ibu?” kataku sungkan. “Nggak usah, Bu. Tito kan bisa makan sendiri.” Aku memegang sendok yang ada di genggaman tangannya, memberi isyarat penolakan.

Tapi Bu Aini menarik tangannya dengan lembut, bersikeras dengan niatnya. “Udah, nggak apa-apa, Nak… Bunda kan belum pernah suapin Tito. Tito mau kan Bunda suapin?”

“Ngg… Mau sih, Bu…,” ucapku sambil nyengir. “Tapi kan…”

“Udah… Sama Bunda nggak usah pake tapi-tapi…,” potongnya. “Kan Bunda sendiri yang nawarin buat suapin Tito? Masa gitu aja jadi malu sama Bunda…”

Aku cuma tersenyum simpul, tidak bisa lagi menolak tawarannya. Sejujurnya aku memang sangat berbunga-bunga jika Bu Aini mau menyuapiku. Dia tidak pernah melakukan itu padaku sebelumnya. Ini bisa dibilang keberuntungan.

Namun jika mengingat apa yang dilakukannya untukku akhir-akhir ini, kurasa itu sangatlah bukan seperti Bu Aini yang kukenal selama ini. Dia terlihat begitu berbeda. Bu Aini yang kukenal adalah seorang wanita yang anggun dan berkelas. Sikap dan kepribadiannya yang berkarisma tinggi membuat sosok dirinya yang terdalam seperti tak tersentuh. Bahkan jika berada di dekatnya aku selalu menjaga tingkah laku dan etikaku sebaik-baiknya. Tapi lihatlah apa yang di hadapanku sekarang, Bu Aini bertingkah sangat mirip dengan Ibu.

“Tito mau makan pake apa, sayang?” tanya Bu Aini. “Pilih aja…”

“Hah…? ‘Tinggal pilih aja’?” cetusku dalam hati. Aku terkejut dibuatnya. “Lho? Ibu nggak makan?” tanyaku balik.

“Bunda kan tadi udah makan di rumah, sayang,” ujarnya.

“Lho? Terus ini…” Perhatianku mengarah ke seluruh lauk yang tersedia di meja.

“Ini semua ya buat Tito…,” timpalnya sambil tersenyum manis.

Aku cuma bisa terdiam tak menyangka. Ibunda dari anak bernama Ramadhana Rizky ini memang aneh sekali. Aku tahu dia memang baik dan murah hati, tapi dia tidak pernah berlebihan. Sifat dan sikapnya bagai berputar 180 derajat dari yang biasanya. Aku benar-benar penasaran dengan apa gerangan yang telah membuatnya jadi seperti ini. Namun, walaupun tingkahnya aneh, aku justru sangat senang jika Bu Aini bisa berperangai sehangat ini padaku. Aku seolah-olah memang punya Ibu yang kedua.

“Ya udah, dipilih dong makanannya. Masa dari tadi cuma diliatin aja…,” lanjutnya lagi.

Dengan ditemani tawa cengengesan, aku pun melihat semua makanan di atas meja. “Mmm… Tito mau pake tempe, Bu…,” ucapku sambil menunjuk lauk favoritku itu.

Bu Aini langsung mengambilkannya, lalu menyiapkan suapan untukku. “Nih, sayang… Aaakk…” Bu Aini menyodorkan sesendok penuh makanan.

“Happ…” Mulutku pun menyambutnya dengan penuh antusias.

Bu Aini tersenyum manis. “Enak?” tanyanya.

Aku mengangguk mantap sambil mengunyah.

Namun entah mengapa kelezatan dari makanan ini sepertinya tidak begitu kurasakan. Disuapi oleh orang yang spesial rasanya memang sangat spesial, melebihi keistimewaan dari makanan itu sendiri. Yang ada hanyalah perasaan seronok dan tak ingin acara makan ini cepat usai. Suapan demi suapan disalurkan oleh Bu Aini padaku, tapi tak sekali pun matanya berpaling dariku yang sedang mengunyah. Aku jadi grogi dibuatnya.

“Tito mau ayam?” tanya Bu Aini.

Aku mengangguk saja. Mulutku masih sibuk mengunyah.

Jauh di dalam hatiku sebenarnya aku merasa canggung karena perlakuan Bu Aini yang begitu akrab ini. Tapi melihat rona wajahnya yang tampak sangat tulus, aku jadi luluh dan menerimanya dengan sepenuh hati. Tingkah laku Bu Aini membuatku berulang kali merasa seperti sedang berhadapan dengan Ibuku sendiri. Aku tidak tahu apa sebabnya. Apakah aku memang begitu merindukan sosok Ibu yang seperti ini? Atau ini hanya perasaanku saja yang terlalu kecewa terhadap Ibu?

Bu Aini sedikit mengingatkanku akan Ibu yang berada di rumah. Bagaimana kira-kira keadaannya sekarang? Bagaimana dengan Bapak? Apa yang akan terjadi setelah ini? Entahlah. Saat ini aku hanya sedang mencoba meraih kebahagiaanku sendiri. Tidak lebih.

***

Bu Aini menawarkan semua makanan yang tersedia di atas meja untukku. Tapi hasilnya sudah bisa ditebak. Aku tak mampu menghabiskannya. Setelah aku selesai makan, Bu Aini membungkus kembali dengan rapi lauk utuh yang masih tersisa dan meletakkannya di atas rak piring.

Baru saja Bu Aini hendak duduk kembali bersamaku, Mbak Husna muncul. “Bu, udah selesai nih…,” katanya.

“Oh, iya. Sebentar, ya…,” balas Bu Aini padanya.

Mbak Husna pun mengangguk ramah dan kembali turun ke lantai bawah.

“Tito, Bunda turun ke bawah dulu, ya… Mau nutup toko,” ujar Bu Aini.

Aku mengangguk pelan. “Iya, Bu…”

Batinku sebenarnya cukup terkejut. Aku baru menyadari kalau kami akan jadi berdua saja setelah toko ini tutup. Dari tadi aku terlalu fokus bersantap siang tanpa mengingat bahwasanya aku mengikuti Bu Aini kemari adalah untuk mendengarkan cerita. Kenapa aku tidak berpikir ke arah itu? Bu Aini tidak mungkin menyertakan Mbak Husna dan Bang Fadli untuk bercerita bersama kami, bukan? Pasti mereka akan pulang ke rumahnya setelah toko ini tutup.

Jantungku mendadak berdebar-debar demi menghadapi keadaan bahwa sebentar lagi aku dan Bu Aini akan berduaan di ruangan yang sangat sunyi ini. Benakku terlena ke alam khayal. Entah mengapa otakku kembali mengulang beberapa peristiwa yang sempat terjadi di rumah Rama tempo hari. Aku masih mengingat dengan persis bagaimana tingkah laku Bu Aini yang menyambutku ketika aku menjemput Rama untuk pergi ke sekolah bersama-sama. Saat itu dia benar-benar sangat berbeda. Tatapan matanya menunjukkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hanya kulihat ketika Ibu membantuku bermasturbasi di kamar mandi maupun ketika Kak Dina bersamaku berbugil ria di atas ranjang. Bu Aini melihatku bagaikan mangsa yang siap untuk ditelan. Remasan tangan dan pelukannya waktu itu lebih intim bahkan untuk seorang Ibu pada anaknya. Apakah Bu Aini punya pikiran seperti Ibu dan Kak Dina waktu itu?

“Ahh! Gue kok mikir jorok sih?!” gumamku pelan sambil menggeleng. Kucoba menghilangkan pikiran-pikiran anehku dengan menghela nafas panjang beberapa kali. Bagaimana bisa aku menganggap Bu Aini seperti itu? Dia itu orang yang sangat istimewa, sama seperti Ibuku sendiri. Seharusnya aku bersyukur karena dia sudah memperlakukanku dengan begitu baik selama ini, bukannya beranggapan yang tidak-tidak.

Tak lama kemudian Bu Aini pun naik kembali ke lantai 2. Dia melemparkan sebuah senyuman manis sebelum duduk lagi di sebelahku. “Tito nggak ngantuk kan, Nak?” tanyanya.

“Ngg… Nggak kok, Bu…,” jawabku sambil tersenyum, mencoba menguasai suasana hatiku yang sedang tegang.

Bu Aini berpikir sebentar. “Mmm… Kita ceritanya di atas aja yuk…,” ajaknya kemudian. Tanpa meminta persetujuanku, Bu Aini langsung menarik tanganku untuk mengikutinya menuju ke lantai atas.

Aku pun hanya bisa tersenyum ringan dan menyejajarinya berjalan.

***

Begitu sampai di lantai 3 ruko ini, aku hanya melihat sebuah ruangan kosong melompong tanpa perabotan apapun. Tidak seperti di lantai 2 yang tampilannya seperti ruang tamu. Namun di bagian depannya sama seperti di lantai 2 tadi, ada kamar yang terkunci. Bu Aini rupanya hendak mengajakku masuk ke dalamnya. Di tangan kanannya sudah ada sebuah kunci. Mungkin dia mengambilnya dari lantai bawah sewaktu menutup tokonya.

“Ceritanya kok nggak di bawah aja, Bu?” tanyaku.

Bu Aini tersenyum manis ke arahku, lalu memasukkan anak kunci itu ke lubang pintu. “Ada yang mau Bunda tunjukin sama Tito…,” ujarnya singkat.

Ketika pintu terbuka, ternyata apa yang kulihat kemudian adalah sebuah kamar tidur. Aku cukup terpukau demi mendapati ruangan yang terlihat begitu indah. Batinku sungguh tidak menyangka kalau kamar tidur seperti ini berada di sebuah ruko yang pada dasarnya difungsikan Bu Aini bukan sebagai tempat tinggalnya. Dari fakta ini sungguh terlihat bahwa taraf hidup Bu Aini dengan keluargaku memang punya jurang pemisah yang cukup jauh.

“Masuk dong, Nak… Ngapain bengong-bengong di situ?” ujar Bu Aini yang sudah masuk duluan ke dalam. Dia tersenyum lucu melihatku yang masih tercengang di mulut pintu.

Aku nyengir, tersipu malu. Aku pun melangkahkan kakiku masuk ke dalam.

Begitu aku masuk, beberapa indra tubuhku langsung merasakan kenyamanan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Kamar ini sangat bersih dan rapi. Perabotan di dalamnya walaupun tidak begitu banyak, namun ditata dengan strategis dan sungguh enak dilihat. Dari segi harga aku juga berpikir kalau harga perabot-perabot dan mebel di kamar ini pasti mahal. Setidaknya lebih mahal dari perabotan yang ada di rumahku.

Sebuah ranjang spring bed besar menjadi barang yang paling ‘berkuasa’ di ruangan ini. Ranjang itu dihiasi oleh bed cover berwarna coklat susu dan bermotif lingkaran-lingkaran warna coklat tua. Di kepala tempat tidurnya juga ada dua buah bantal dengan warna senada. Di samping ranjang, ada sebuah lemari pakaian yang tak terlalu besar, meja kecil dan kursi yang semuanya terbuat dari kayu dengan pelitur coklat tua. Sementara di seberang kaki tempat tidur, ada sebuah mebel serbaguna yang bisa dibuat sebagai lemari penyimpanan maupun tempat meletakkan barang-barang pajangan. Sebuah pengharum ruangan yang aromanya sedari tadi sudah merebak lembut di hidungku juga terletak rapi di atasnya.

Kamar ini semakin dipercantik dengan beberapa lukisan yang tergantung di dindingnya, berikut dengan gorden coklat yang menghiasi bagian kiri dan kanan jendela. Sinar matahari yang masuk juga diperlembut oleh tirai tipis warna putih yang terbentang sebagai pelapis antara jendela dan gorden tersebut. Semuanya benar-benar menawan.

Ketika pandanganku masih beberapa detik menyapu ruangan, Bu Aini menggenggam lembut tanganku dan mengajakku untuk duduk di atas ranjang. Aku menurutinya saja, meski dengan pikiran yang masih bertanya-tanya. Untuk apa sebenarnya dia mengajakku kemari? Bukankah jika ingin menceritakan sesuatu tidak perlu harus masuk ke kamar ini? Apa sebenarnya yang ingin ditunjukkannya? Aku betul-betul penasaran.

Ketika kami sudah duduk bersebelahan, Bu Aini diam sejenak. Mungkin sedang memikirkan sesuatu. Tapi sesaat kemudian dia menatapku seraya tersenyum. “Tito mau tau nggak, kenapa dari tadi Ibu sebut-sebut panggilan ‘Bunda’ terus buat Tito?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan, bersiap mendengar penjelasannya. Walaupun ini sebenarnya hanyalah perkara yang ringan, tapi ini cukup berimbas juga pada rasa ingin tahuku. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan perlakuan Bu Aini yang akhir-akhir ini mendadak begitu aneh.

Namun Bu Aini tidak meneruskan kata-katanya. Dia malah beranjak menuju ke lemari pakaian, membukanya, dan mencari sesuatu. Tampak olehku tangan Bu Aini yang mengambil sebuah kotak sepatu dari dalam lemari tersebut. Apa dia ingin menghadiahkanku sepatu? Kurasa tidak mungkin. Lantas apa hubungannya sepatu dengan ceritanya? Sepertinya dia memang berniat menunjukkan apa yang ada di dalam kotak itu padaku.

Lalu dia duduk kembali di sebelahku dan membuka kotak itu. Ternyata isinya sama sekali bukanlah sepasang sepatu seperti yang kupikirkan. Kotak sepatu itu justru berisi foto-foto dan sebuah miniatur piano cantik. Aku jadi semakin bingung. Untuk apa sebenarnya Bu Aini menyimpan barang-barang semacam ini di ruko? Bukankah lebih baik jika dia menyimpannya di rumahnya saja? Apakah kotak ini adalah sebuah rahasia? Entahlah.

Tapi Bu Aini sama sekali tidak membahas miniatur itu, melainkan tangannya sibuk membongkar foto-foto itu dan menyeleksinya satu per satu. Aku hanya duduk diam di sebelahnya hingga sekejap kemudian tangan dan perhatian Bu Aini tiba-tiba terhenti di salah satu foto. Dia melihat foto itu dalam-dalam. Agaknya dia punya suatu ingatan tertentu pada apa yang ada di dalam potret tersebut.

Bu Aini kemudian tersenyum kecil. “Coba Tito liat foto ini..,” katanya sambil menyerahkan foto itu padaku.

Tadinya aku tak begitu memperhatikan apa yang dilihat Bu Aini di foto ini. Namun setelah dia memberikannya padaku, batinku begitu terkejut dan mataku langsung menyorot tajam figur yang mengisi potret seukuran kartu pos ini. Di permukaan kertasnya yang terasa licin terukir dua wajah yang sangat kukenal.

“Tito tau nggak yang di foto itu siapa?” tanya Bu Aini.

Aku hanya bisa terdiam dan terpaku melihat foto yang kupegang. Lidahku seakan tidak mampu melafalkan kata apapun.

Bu Aini kemudian merapatkan duduknya padaku, lalu mengelus rambutku. “Tito belum pernah liat foto Bapaknya Tito, kan?” ujarnya lembut.

Aku perlahan menoleh ke arahnya. Kutatap dia dengan perasaan yang keheranan dan penuh tanda tanya.

“Kenapa, Nak? Kaget, ya?” Bu Aini tersenyum melihatku yang sedang tercengang.

Aku kembali memandangi foto, seolah memastikan kembali kebenaran dari apa yang kulihat. Tapi aku tetap tidak bisa memungkirinya.

“Yang di samping Bunda di foto ini memang Dewo Arjuna Jatmiko, Bapaknya Tito…,” timpal Bu Aini.

***

Mataku masih terarah ke sehelai gambar hasil jepretan kamera yang ada di tanganku. Apa yang ditampilkan benda itu adalah dua insan berlainan jenis yang sedang duduk bersama. Aku tak perlu mengingat-ingat lagi untuk tahu siapa sosok pria yang tersenyum ke arah kamera. Ini memang Bapakku sendiri. Orang yang sudah membawa masalah ke dalam kehidupanku. Sementara wanita yang juga tersenyum manis di dekatnya tak lain dan tak bukan adalah Bu Aini.

Perhatianku benar-benar tersita pada foto ini. Bukan hanya pada kenyataan yang sepertinya semakin rumit, namun juga pada apa yang terkandung di dalamnya. Momen yang ditunjukkan oleh gambar ini sudah cukup lama diambil, bahkan sebelum aku lahir ke dunia. Itu dapat kulihat dari pakaian yang dikenakan Bu Aini dan Bapak di foto itu. Mereka berdua masih memakai seragam SMA-nya. Wajah mereka pun masih terlihat sangat muda layaknya remaja yang akan beranjak dewasa. Aku benar-benar tidak mendapatkan apapun selain tanda tanya besar.

Aku termenung sesaat, mengartikan segala fakta yang masih begitu buram. Apakah masih ada hal yang sama sekali tidak kuketahui? Apakah hal yang baru ini akan menjadi masalah yang lain? Apa sebenarnya hubungan Bu Aini dengan Bapak? Jikalau Bu Aini memang menganggap cerita yang akan disampaikannya nanti tidak terlalu penting, tentu dia tak akan menunjukkan foto ini padaku, bukan? Aku memang harus tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya.

“Bunda waktu masih SMA cantik nggak?” tanya Bu Aini. Ada senyum simpul di wajahnya.

Aku pun tersenyum ringan pula yang langsung dibalasnya dengan mengusap-usap rambutku. Sejujurnya aku tak terlalu menanggapi tentang penilaianku akan penampilan Bu Aini di foto ini. Pikiranku justru lebih tertarik untuk mengetahui bagaimana mereka berdua bisa ada di dalam foto ini.

“Ibu kok bisa sama Bapak?” Aku pun memberanikan diri bertanya. “Ceritanya gimana, Bu?”

Bu Aini menghela nafas berat. Wajahnya tiba-tiba terlihat murung. Dia diam saja dan tertunduk lesu. Sepertinya Bu Aini teringat akan sesuatu, dan itu tampak sangat mempengaruhinya. Aku jadi merasa menyesal karena pertanyaanku.

“Bu…?” Aku mencoba mengajaknya bicara.

Bu Aini melirikku dengan raut wajah sedihnya.

“Tito salah, ya?” ucapku lirih.

Bu Aini diam sejenak sambil menatapku. Ditariknya nafas panjang sebelum akhirnya memberikan senyuman getir padaku. “Tito nggak salah kok…,” kata Bu Aini sambil mengelus-elus kepalaku. “Tito mau Bunda ceritain?”

Aku mengangguk pelan. Saat ini aku hanya mengikuti ke mana arah pembicaraan dan perasaan Bu Aini. Aku tahu kalau dia memang berniat menceritakan segalanya. Tapi aku tak ingin memaksanya. Biarlah dia mengikuti kemauan hatinya sendiri.

Bu Aini agak mendongakkan kepalanya. Matanya menatap kosong ke arah lukisan yang terpajang di depannya. Agaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Atau mungkin dia sedang mempersiapkan ceritanya. Aku diam saja dan menunggu dengan sabar.

Sesaat kemudian dia kembali melihatku. Lalu diliriknya sekilas foto yang masih kupegang. Dia tersenyum penuh arti. “Dulu… Bunda sama Bapaknya Tito pernah pacaran…,” tuturnya dengan suara datar.

Aku termangu menatap Bu Aini. Alisku mengernyit sebagai imbas dari batinku yang baru saja tersentak kaget. Kucoba mengontrol nafasku agar tetap tenang. Walau aku ingin sekali bereaksi, tapi aku tak bisa berkata apapun selain menunggu Bu Aini melanjutkan ceritanya.

Bu Aini kembali menghela nafas berat. Pandangannya menatap lurus lagi ke depan, merenungkan ceritanya. “Bunda masih ingat banget masa-masa sama dia dulu…,” ujar Bu Aini sambil tersenyum sendiri. “Dia orang yang punya tempat spesial di hati Bunda…”

Di dalam ruangan sunyi ini, Bu Aini pun mengungkapkan segalanya.

***

Pagi itu waktu sudah menunjukkan pukul 08.00. Salah satu ruangan kelas dari SMA yang namanya cukup kesohor itu sudah terisi oleh siswa-siswi yang hendak menimba ilmu. Hari itu tepat seminggu setelah para siswa dan siswi menempuh tahun ajaran baru di kelas 3 SMA. Mereka terlihat masih asyik mengobrol ria sebelum akhirnya berhenti karena seorang pria paruh baya dengan ubun-ubun yang hampir botak dan kumis tebal muncul di hadapan mereka.

“Pagi anak-anak…!” ucap pria itu menyapa.

“Pagi, Pak…,” jawab mereka malas-malasan.

“Kalian belum sarapan atau memang kurang makan?!” kata pria paruh baya itu bergurau.

Mereka pun hanya bisa tertawa menanggapi guru fisika yang terkenal suka bercanda itu. Mereka sebenarnya cukup bersyukur karena guru fisika mereka masih orang yang sama dengan yang mengajar mereka ketika di kelas 2. Sikapnya yang periang dan tidak kaku membuatnya sangat disenangi para murid. Kebetulan pria itu juga merangkap sebagai wali kelas mereka. Namanya adalah Pak Untung.

“Udah-udah…! Berhenti dulu ketawanya…,” sela Pak Untung. “Sekarang saya mau bikin murid-murid saya yang cowok-cowok ini jadi pada semangat…” Matanya menatap ganjil ke setiap wajah para siswa dibarengi seringai aneh.

Seketika saja murid-murid lelaki yang ada di kelas itu terdiam. Mereka tergoda dan penasaran akan maksud perkataan guru mereka.

Pria paruh baya itu pun melambaikan tangannya pada seorang gadis yang masih berdiri di luar kelas, bergestur memanggil untuk masuk ke dalam. Gadis yang dipanggilnya menanggapinya dengan mulai melangkahkan kakinya perlahan. Perasaan grogi perempuan itu memuncak karena atmosfir yang baru dirasakannya.

Keheningan di dalam kelas mendadak diwarnai dengan desisan dan riuh kekaguman dari mulut para siswa tatkala gadis itu menampakkan jati dirinya untuk yang pertama kali di kelas itu. Bahkan di antara mereka ada yang melongo tanpa mereka sadari. Sementara para siswi terlihat begitu terpukul dengan segala anugerah yang dimiliki gadis itu. Mereka putus asa dengan kecantikan yang mereka miliki sekarang.

Di depan kelas kini berdiri seorang gadis nan rupawan. Keelokannya bagai berkilauan di setiap mata yang memandangnya. Mata bening dan teduh, hidung mancung dan bibir merah merona merupakan aset luar biasa yang ada di wajahnya. Rambut panjang belah samping yang dimilikinya pun sangat proporsional dengan tubuh semampainya yang berkulit putih mulus. Seragam putih abu-abunya seakan tak sanggup menyembunyikan keanggunan dan kelok tubuhnya. Semua terbalut dalam kesempurnaan aura feminin layaknya seorang dewi.

“Silakan perkenalkan diri kamu…,” kata Pak Untung mempersilakan.

Gadis itu menatap ke seluruh calon teman barunya. Tersungging senyum ragu dari bibirnya. Perasaan gugupnya masih sulit teratasi, tapi dia tetap memberanikan diri. “Selamat pagi…!” serunya.

“Pagi…!” jawab seluruh murid laki-laki bersemangat. Wajah mereka sudah berseri-seri.

“Mmm… Nama saya Nur Aini Syahira… Salam kenal, ya…” lanjut gadis itu.

“Iya…,” balas mereka lagi. Kali ini dengan suara mendayu karena begitu terpesona dengan kelembutan suaranya.

Gadis itu cuma bisa tersenyum malu tanpa tahu harus mengucapkan apa lagi.

“Gimana?! Udah pada segar semua…?!” guyon Pak Untung. Dinaik-naikkannya kedua alisnya sambil nyengir.

Mereka pun cekikikan salah tingkah.

“Ya udah, sekarang kamu duduk, ya…,” ujar guru fisika itu pada gadis cantik yang akan menjadi calon muridnya. “Kamu bisa duduk sama Winda di sebelah sana. kebetulan dia nggak ada temennya.” Pak Untung menunjuk ke salah seorang muridnya di deret ke empat. Seorang gadis berkulit cerah dan bermata agak sipit. Rambutnya yang bergelombang diikat ke belakang.

Gadis itu pun mengangguk takzim, lalu berjalan ke tempat duduknya.

Semua mata lelaki masih terarah padanya. Bahkan hingga gadis itu duduk di kursinya pun pandangan mereka masih tidak teralihkan. Mereka sungguh beruntung bisa menjadi teman sekelas gadis itu. Mungkin saat itu mereka berpikir akan kesempatan yang bisa mereka dapatkan untuk tidak hanya bisa menjadikannya sebagai teman, tapi juga sebagai pacar.

“Hei! Udah dulu liat-liatnya!” sergah Pak Untung. “Kapan belajarnya nih?!”

Sebagian dari para siswa cengengesan dengan tingkahnya sendiri, tapi ada pula sebagian dari mereka yang masih betah memandangi anak baru itu. Bagi darah muda mereka, menatap anak gadis orang seperti ini adalah suatu keharusan. Setiap detiknya mesti dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, walaupun pada dasarnya mereka tahu betul bahwa gadis itu tak akan pergi ke mana-mana.

“Minggu lalu saya udah kasih materi buat kalian tentang apa yang akan kita pelajari di semester ini. Jadi sebagai permulaan, kita nggak usah terlalu detail dulu. Karena saya yakin banyak di antara kalian yang mungkin masih belum punya buku-buku referensinya.” Dengan penuh karisma, pria setengah baya itu pun memulai perannya sebagai guru. Suara beratnya yang tegas dan bahasanya yang lugas mengindikasikan dirinya yang sarat wibawa di samping kepribadiannya yang humoris.

Semua siswa yang tadinya masih memperhatikan anak baru itu, berangsur-angsur mengalihkan perhatiannya ke depan kelas. Mereka punya pola pikir yang bermacam-macam. Ada yang memang menyadari bahwa pelajaran lebih penting, ada yang memperhatikan karena punya rasa respek dengan guru mereka, dan ada pula yang hanya sekadar melihat gurunya dengan tatapan kosong sementara pikirannya masih berada di tempat lain. Semuanya merupakan perwujudan dari jati diri seorang pelajar.

“Sekarang saya mau absen kalian dulu satu-satu…,” imbuh Pak Untung. Diambilnya buku daftar absensi murid yang sudah ada di atas mejanya.

Namun belum sempat dia memanggil nama pertama, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kelas yang terbuka. “Pagi, Pak…,” ucap orang itu dengan nafas tersengal-sengal.

Seisi kelas yang serentak menengok ke arah mulut pintu seketika itu pula tertawa terpingkal-pingkal. Selain kursi di sebelah Winda yang kini sudah ditempati Aini, ternyata ada sebuah kursi lagi yang masih kosong sedari tadi. Kursi itu adalah tempat di mana Dewo biasa duduk pada saat mengikuti pelajaran. Tampaknya orang di kelas itu memang sudah sangat paham dengan kebiasaan Dewo.

“Dewo… Dewo…,” ucap Pak Untung sambil menggeleng-geleng pelan. Dia yang memang sudah pernah mengajar mereka di kelas 2, cukup banyak makan asam garam atas kelakuan muridnya yang satu ini.

Dewo yang merasa bersalah hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Dari kelas 2 sampe sekarang kamu masih aja terlambat… Bisa nggak kamu sekali aja nggak datang terlambat?” Pak Untung merasa sudah kehabisan akal dengan muridnya yang satu ini.

“Tadi jalanannya macet, Pak…,” kilah Dewo sambil nyengir.

Seisi kelas pun kembali tertawa. Tak terkecuali Pak Untung yang selalu saja mendengarkan alasan seperti itu dari mulut Dewo.

“Kalau kamu terlambat, alasan kamu memang cuma dua: Kalau nggak macet, pasti perut mules…,” cetus pria berkumis tebal itu.

“Abis mau gimana lagi, Pak? Memang macet…” Dewo bersikukuh.

Pak Untung menghembuskan nafas berat. “Ah, udahlah… Masuk sana!” akhirnya Pak Untung pun menyerah.

“Makasih, Pak…,” ucap Dewo sembari masuk ke dalam kelas, menuju ke kursinya. Dia memang sangat mengenal siapa Pak Untung. Guru fisikanya itu tak pernah dipusingkan dengan masalah hukum-menghukum muridnya.

Sewaktu Dewo berjalan ke tempat duduknya, matanya tanpa sengaja bertemu pandang dengan Aini. Dia yang tidak menyangka akan ada murid baru di kelasnya sangat terpukau melihat kecantikan paras gadis itu, sama seperti teman-temannya yang lain. Sementara Aini pun begitu. Baru kali itu dia melihat lelaki dengan pandangan yang berbeda. Ketampanan Dewo memang lain dari yang lain. Wajah blasteran yang dimilikinya punya pengaruh tersendiri. Banyak sekali gadis yang menginginkan cintanya, namun tak pernah digubrisnya. Sepertinya mereka berdua memang ditakdirkan untuk bertemu.

Baik Dewo maupun Aini, mereka sama-sama tak mampu menebak apa yang ada di dalam hati mereka masing-masing. Tapi satu hal yang pasti adalah perasaan mereka sudah tergerak satu sama lain. Demikianlah saat-saat di mana kenangan indah itu berawal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*