Home » Cerita Seks Mama Anak » Kisah Keluarga Citra 13

Kisah Keluarga Citra 13

“Karnia Prameswari… !” Panggil Clara lantang sekeluarnya dari pintu kelasnya ,”Kita ntar jadi pulang bareng nggak…?”
“Hei Clara Amelia…. ” Jawab Karnia tak kalah lantangnya, “Pengennya sih begitu Say… Cuman…..”
“Cuman apa…?”
“Nggg… Cuman… Hari ini si Theo ngajak aku ketemuan sepulang sekolah…”
“Theo…?” Tanya Clara heran, “Theo si tukang kebut-kebutan itu…?”
“Iya…” Angguk Karnia pelan.
“Ciiieeeeeee… Jadian nih yeeeeee…?!” Teriak Clara tiba-tiba girang.
“Sssstttt…. Aaaahhh apaan sih… ?” Jawab Karnia dengan wajah bersemu merah, “Kagak laaah…. Orang ini cuman mau ngebahas kerja kelompok dari Bu Ratna yang kemaren kok…. Khan akhir minggu ini sudah harus dikumpulin…”
“Halaaahhh… Alesan… Bilang aja mau kencan juga nggak kenapa-napa kok…. Hihihi…”

“Enggak lah Say… Cintaku, sayangku, dan Hatiku… Hanya buatmu seorang kok….” Goda Karnia sambil mengusap pipi lembut Clara, “Jadi… Cowok sejenis Theo aja mah ga bakalan bisa Say… Ngegantiin dirimu dihatiku….”
“Hihihihi….. Iyadah…. ” Jawab Clara cuek, “Jadi hari ini.. Aku harus pulang sendirian nih…?”
“Iyaa…. Maaf ya Saaay…”
“Its Okey deh…. Santai aja…”

KRRRIIIIINNNGGGG…. KRRRIIIIINNNGGGG…. KRRRIIIIINNNGGGG….
Suara bel sekolah berdering tiga kali, menandakan jam belajar disekolah telah usai. Itu artinya, para siswa dipersilakan untuk pulang.

Karena Karnia tak bisa pulang bareng, akhirnya Clara memutuskan untuk pulang sendiri.

“Hai Clara… ” Sapa Oky, pemuda ganteng pemain inti team basketball sekolah memanggil gadis semok itu dari tepi jalan. Dengan menggunakan mobil mewah keluaran terbaru ia ingin mengajak Clara pulang bersamanya, “Tumben kamu pulang sendiri…? Karnia mana…?”
“Eh.. Dia sedang bareng temennya Mas…”
“Oooowww…. Kalo gitu… Gw anter pulang yuk… ” Ucap Oky sambil menghentikan mobil dan membukakan pintu untuk Clara.

“Eeehh…. Mas Oky… Nggak usah Mas…. Clara udah biasa kok pulang sendiri…” Jawab Clara sopan.
“Ahhh… Ayolah…. Gw anter aja ya… ” Pinta Oky lagi sambil menghalangin langkah Clara, “Masa cewe secantik lo dibiarin pulang sendirian sih…..? Ntar ada yang nggangguin loh…”
“Nggak usah Mas… Beneran kok… Clara bisa pulang sendiri… ” Tolak Clara halus sambil kembali melangkahkan kakinya.
“Loohh… Tunggu Clara… ” Panggil Oky, “Gw anterin yaa…”
“Nggak perlu Mas… Beneran deh… Clara bisa pulang sendiri… Clara duluan ya… Bye…”

Melihat penolakan halus Clara, Okypun akhirnya menyerah. Ia kemudian masuk kedalam mobilnya dan langsung memacunya kencang.

Setelah kepergian Oky, munculah Dion yang juga melakukan hal serupa. Berusaha menawarkan Clara tumpangan pulang. Dengan motor sport paling baru, ia mencoba menawarkan jasa tumpangan pulang kepada Clara. Namun lagi-lagi, Clara menolak tawaran Dion dengan sopan sambil terus melangkah pergi.

Sepeninggalan Dion, Clara kembali mendapatkan tawaran dan perlakuan yang serupa dari beberapa teman prianya. Perlakuan special yang membuat siswa-siswa perempuan lainnya merasa iri dengannya..

Mulai dari Senna, Ziko, Praja, Barry, Yudi, Anwar, Gema, hingga Ma’il si pelawak sekolah, berusaha menawarkan bantuan untuk mengantar Clara pulang, namun tetap saja, mereka tak berhasil seorangpun. Clara benar-benar tak ingin merepotkan siapa-siapa. Gadis molek itu lebih memilih untuk pulang sendiri dengan menggunakan angkutan umum ketimbang pulang bersama teman prianya..

Tak beberapa lama, Clara tiba di halte dekat sekolah. Halte sekolah Clara berupa sebuah rambu yang dipasang dibawah pohon rindang dengan bangku-bangku yang disusun rapi disekitarnya. Disitu banyak teman sekolah Clara yang juga menunggu jemputan pulang. Baik dengan menggunakan angkutan umum ataupun dengan jemputan.

“Ihhhss… Claraa…. Enak banget ya kalo jadi kamu….” Celetuk Nina, teman satu sekolah Clara yang juga menunggu mobil angkutannya. ” Ditawarin banyak cowo buat dianterin pulang….”
“Hiya nih… Kenapa kamu nggak mau nerima aja sih…?” Sahut Maria yang tadi sempat melihat penolakan Clara ketika ditawari pulang, Khan enak… Kamu nggak perlu naik angkot buat pulang…”
“Ahhh… Nggak enak… Ntar jadi utang budi…”

“Eh iya… Karnia kemana…? ” Tanya Anita, teman Clara yang juga menunggu jemputan, “Biasanya khan kamu pulang bareng dia…?”.
“Nggg… Karnia masih ada perlu…” Jawab Clara singkat sebelum tiba-tiba handphonenya berdering.

TTIIITTTTTT…. TTIIITTTTTT…. TTIIITTTTTT….
Tiba-tiba, dering suara handphone Clara berdering keras.

“Kakak Mesum…” Nama yang terpampang di hanphone Clara.

“Haallooo…?” Sapa Clara memulai pembicaraan.
“Ya… Hallloo….?” Jawab Ciello dari ujung telephone,” Heeh toket… Kamu udah pulang belom…?”
“Udah…” Jawab Clara ketus.
“Tadi kata Karnia… Dia nggak bisa nemenin kamu pulang ya…? ” Jelas Ciello, ” Kamu mau dijemput nggak…? Mumpung Kakak lagi maen di deket sekolahmu…?”

“Nggak usah…!” Jawab Clara sewot karena ia masih sedikit sebel dengan kelakuan kakak kandungnya itu beberapa waktu lalu.
“Beneran…? Mau ujan loh… Ntar malah nggak bisa pulang…”
“Bodo…”
“Cieeee.. Masih marah nih yeee….”
“Udah ah… Clara mau pulang sendiri… ” Sewot Clara, “Kakak jangan nelpon-nelpon Clara lagi deh… Suara kakak tuh ngeganggu banget taaauukkk…”

Bukan tanpa sebab Clara menjadi sewot kepada Ciello. Karena beberapa waktu lalu kakak kandungnya itu dengan sengaja menyemburkan benih spermanya ke seragam Clara. Walau hal itu bukanlah karena sebuah kesengajaan, tapi tetap saja Ciello sudah ‘ngasih pejuh’ keseragam sekolah Clara.

“Belom lagi… Kak Ciello juga memeperkan tangan basahnya karena pejuh ke pundakku… Iiiihhhsss… Jadi geli kalo ngingetinnya…” Pikir Clara dengan wajah yang masih sewot.

“Hihihihih… Ya maap deeehh…. Khan kakak nggak pengen adeknya yang paling cantik semok dan seksi sedunia ini kenapa-napa….” Canda Ciello berusaha mencairkan ketegangan diantara mereka, “Kakak jemput yaaa….?”
“Gausah…! Clara mau pulang sendiri ajah…” Jawab Clara masih ketus.
“Looohh.. Mau naek apaan…?”
“Bus…”
“Beneran nih…? Ntar malah digangguin cowok-cowok di bus loh… ”
“Bodo…”
“Heeeeeeh…. Tokeett…. ” Seru Ciello memperingatkan, “Sekarang lagi banyak berita pencabulan diangkutan umum loh… Ntar malah kamu digrepe-grepe mereka…”
“Trus kenapa…?”
“Tetekmu yang gedhe itu bisa disenggol senggol ama mereka loh… Belom lagi pantat semokmu juga bisa diremet-remet mereka….”

“Iihhsss…. Sumpah deh… Kakak tuh mesum banget yaaa…..”
“Bukannya mesum Adekku Sayaaang… Kakak cuman nggak tega aja tubuh montok Adikku tercinta dipegang-pegang ama mereka…..”

“Biarin… Biarin aja clara dipegang-pegang mereka…. ” Sungut Clara dengan nada emosi, “Daripada pulang bareng monyet mesum kaya kakak….
“Heeeehhhhh…. Claraaaa…. Hati-hati ahhh ngomongnyaa…” Seru Ciello memperingatkan lagi.

“Udah udah udah… Udah ya Kakak mesuuummm… Jangan nelpon-nelpon Clara lagi… Clara…. Mau… Pulang… Sendiri…. Titik….!”
“Looh…? Deeek…?”

KLIK
Dengan sengaja, Clara buru-buru mematikan handphonenya dan langsung memasukkan kedalam saku baju seragamnya.

“Kakak kamu perhatian banget ya…?” Ucap Nina.
“Iya Clara…. Kakak kamu perhatian banget…” Sahut Anita
“Harusnya kamu bersyukur Clara… Punya kakak yang perhatian seperti itu…” Tambah Maria.
“Iiidihhss.. Kakak mesum gitu disyukuri… Huh….Nggak perlu lah…” Balas Clara sambil menyedakepkan tangannya. Membuat payudara Clara langsung membusung besar.
“Hihihi… Iyadeh yang lagi sebel…” Ucap Nina memaklumi.

TIIINNN TIINNNN….
Tiba-tiba, sebuah bus besar berwarna orange tiba di halte.

“Eeh… Aku duluan ya… ” Seru Anita, “Bus aku udah dateng tuh… ”
“Eh iya… itu bus aku juga yaa…” Sahut Maria, Aku juga duluan yaa… ”

Satu persatu, para penunggu angkutan umum yang berdiri di halte dekat sekolah Clara pulang. Hingga menyisakan beberapa penunggu saja.

“Akhirnya… Bus kita datang juga….” Seru Nina.
“Ehh iya… Clara… Kamu hati-hati ya… Kami pulang duluan yaaa… ” Sahut Mirna, teman terakhir Clara yang juga menunggu kedatangan bus di halte bawah pohon.
“Eh… Iya… Kalian juga hati-hati ya….”

“Ah siiaaallll… Tinggal aku sendiri nih…” Gerutu Clara begitu mendapati jika ternyata hanya tinggal dirinya yang belum mendapatkan angkutan pulang. Celingukan kekiri dan kekanan mencari tahu, apakah ada alternatif angkutan yang bisa membawanya pulang. Namun percuma, jalanan di depan sekolah Clara sudah semakin sepi. Hanya ada beberapa tukang becak yang berusaha menawarkan diri untuk mengantar Clara. Sebenernya jika jarak rumah Clara tak terlalu jauh, Clara mau saja pulang naik becak, namun, karena kasihan, Clara menolak tawaran mereka secara halus.

GLUDUK GLUDUK…. CTAR… GLEGAAARRRR…..

Mendadak, suasana terang langit berubah menjadi gelap dengan cepat. Suara geluduk juga mulai bersahut-sahutan. Bergemuruh keras diatas awan.

“Aduuuh… Mana sih busnya…? Lama amat…. ” Gerutu Clara yang tak juga mendapati bus langganannya.

Memang, bus yang kerumah Clara adalah bus yang lumayan jarang. Dan jikapun sekalinya ada, bus itu selalu penuh dengan penumpang yang berdesak-desakan.

TES… TES… TES…
Tetesan hujan mulai turun. Membuat sekitaran halte dan jalanan membasah. Dan karena halte itu berada dibawah pohon rindang, tetesan air hujan membuat siapa saja yang ada dibawahnya mulai kebasahan.

“Aaahhh… Siaall…. Pake acara hujan segala… ” Gerutu Clara yang merasa tetesan hujan mulai membasahi dirinya, “Kenapa tadi aku nggak terima aja tawaran pulang dari Oky, Dion, atau teman yang lain ya…? Sok mandiri sih… Jadinya sekarang malah belum bisa pulang…..” ” Kesal Clara dalam hati sambil berusaha berteduh sebisa mungkin dibawah pohon.

TIN TIIINN….
“Terminal terminal terminal… ” Seru kenek bus kearah Clara.

“Apa ikut bus ini aja ya…? Daripada nungguin tapi malah makin basah kehujanan… ” Pikir Clara berusaha mencari solusi, “Daripada ntar malah jadi sakit….?” Pikirnya lagi sembari mengacungkan tangannya. Mencegat laju bus.

“Kiri.. Kiri… Kiri….” Seru kenek bus memberi aba-aba kepada supir bus.

Begitu bus berhenti, buru-buru Clara melompat naik ketangga bus. Namun karena terkena hujan, tangga bus itu menjadi licin. Walhasil, kaki Clara terpeleset, dan lututnya terbentur besi tangga bus.

SREEETT… JDUUGGHH….
“Aduuhhh… ” Seru Clara sambil berusaha bangun dari posisi jatuhnya.
“Hati-hati Neng… Lantainya licin… ” Celetuk beberapa pria yang ada diatas bus yang berusaha menolong Clara.
“Eeh… Iya Pak… ” Jawab Clara menerima pertolongan penumpang bus,” Makasih….”

Diatas bus, Clara langsung menghempaskan pantat bulatnya ke kursi belakang. “Fiiuuuhh…. Akhirnya… Aku bisa pulang juga….” Ucap Clara sambil mengibas-kipbaskan rambutnya yang sedikit basah, berusaha mengeringkan rambut panjangnyaa,

Ketika sudah sedikit tenang, Clara melirik ke arah kaca depan bus. Disitu Clara membaca tulisan semua trayek perjalanan bus. Dan, betapa terkejutnya Clara ketika mendapati jika bus itu tak melewati daerah tempat tinggalnya.

“Mau turun dimana Neng…? ” Sapa kenek bus sambil menengadahkan tangannya, meminta bayaran kearah Clara.
“Eh… Di jalan Margaguna Bang….” Jawab Clara sambil berusaha mengeluarkan uang dari saku seragamnya.
“Bus ini nggak lewat sana deh Neng… ” Jawab kenek bus itu singkat.
“Waduh….”
“Iya… Ini bus kearah kota sebelah… Kearah terminal…” Jawab kenek bus lagi sambil melirik kearah payudara Clara.

“Yaaah.. Terus gimana nih Bang…? Clara turun lagi aja deh…”
“Tenang aja Neng… Neng nggak usah turun disini….” Ucap seorang bapak tua yang duduk disamping Clara secara tiba-tiba sambil berusaha menenangkan, “Neng tenang saja… Nanti pas di terminal… Neng oper aja pake bus hijau.. Nomor 509… Bus itu bakal ngelewati jalan rumah Neng kok…”
“Ooow.. Gitu ya pak…?” Jawab Clara sedikit lega.

“Ongkosnya… Neng…. Lima ribu…” Celetuk si kenek bus sambil menggoyang-goyangkan tangannya, meminta ongkos bus didepan wajah Clara.
“NIH….” Sahut Clara sambil menyerahkan ongkos busnya dengan nada sewot.

Tanpa berkata apa-apa, kenek bus itu segera berbalik arah, dan berjalan menuju kursi disamping supir bus.

“Dia orangnya emang seperti itu Neng…” Ucap bapak tua itu sambil tersenyum, “Eh iya…Saya Kori Neng… ” Sapa bapak tua itu ramah sambil menjulurkan tangannya dan menggeser duduknya, mendekat kearah Clara duduk.
“Nggg.. Clara Pak… ” Sahut Clara berusaha sopan.
“Wow…. Clara…. Nama yang cantik… Secantik orangnya…. ” Sahut Pak Kori sambil mulai mengelusi tangan Clara yang ada digenggamannya.

“Eh… Makasih pak… ” Jawab Clara risih, sambil menarik tangannya lepas.
“Hehehe… Neng cantik sekali… ” Jawab Pak Kori yang kemudian melepas genggaman tangannya dan merentangkan tangannya ke pundak Clara, seolah berusaha memeluk tubuh mungil Clara dari belakang.

“Wah… Sepertinya….Bapak-bapak ini nggak bener nih…?” Batin Clara dalam hati ketika melihat Pak Kori mulai menunjukkan gelagat yang mencurigakan.
“Rambutnya basah Neng…” Ucap Pak Kori sembari mengelus belakang kepala Clara.
“Eh iya Pak…” Tolak Clara sopan.
“Ini saya ada tissu… Saya lap aja ya Neng rambutnya… Biar cepet kering…”

“Eh nggak usah Pak… Makasih…” Dengan buru-buru, Clara kemudian bangkit dari kursinya dan berdiri.

Sejenak, ia berpikir untuk pindah ke kursi lain. Namun, apa daya. Semua kursi bus itu penuh, yang tersisa hanya kursi paling belakang yang didudukinya bersama pria mesum itu.

“Sepertinya… Aku harus cepat-cepat turun disini…” Ide Clara dalam hati.

GLEGAAARR…..
SSSUUUUUOOOOSSSSSHHHHH… GLEGAAARRR….
Mendadak, hujan turun yang semakin deras. Disertai petir dan kilat yang menggelegar bersahut-sahutan.

“Aaah… Kampret… Pake hujan segala… ” Batin Clara sambil mengurungkan niatnya turun dari bus.
“Jangan turun dulu Neng… Hujannya deras… Sini… Duduk lagi deket bapak… ” Tawar Pak Kori sembari menepuk-nepuk bangku tempat duduk Clara sebelumnya.
“Ehh… Iya Pak… Makasih… Saya berdiri saja… ” Tolak Clara.

Tiba-tiba bapak tua itu berdiri dan mendekat kearah Clara. Clara yang sudah terlanjur curiga, buru-buru menghindar, menjauhi Pak Kori.

“Kaki si Neng luka tuh… ” Celetuk Pak Kori sambil menunjuk kearah kaki Clara, “Sini… Bapak obatin… ” Ucap Pak Kori singkat.
“Luka..? “Heran Clara yang kemudian melihat kearah jari Pak Kori menunjuk. Ternyata benar, kulit dibawah lutut kiri Clara, sedikit tergores, dan membuat luka lebam berwarna merah.

Segera saja, lelaki tua itu menggiring Clara untuk kembali duduk di kursinya lalu mengeluarkan plester penutup luka dari tas besar yang ia bawa. Dan tanpa meminta ijin, Pak Kori membungkukkan badannya, tepat didepan Clara duduk. Dengan cekatan, Pak Kori menempelkan plester luka itu pada kaki kiri Clara.
“Ini…. Biar nggak infeksi Neng… ” Ucap Pak Kori.
“Eh iya Pak… Makasih…”

Namun, anehnya, ketika selesai menempelkan plester ke kaki Clara, Pak Kori malah mulai merabai betis kirinya. Ia bahkan mulai meraba, mengusap, dan memijat betis Clara pelan.
“Eh.. Sudah Pak… Makasih….” Ucap Clara sambil sedikit menolak pijatan tangan Pak Kori pada betisnya. Clara merasa sedikit janggal terhadap pria tua itu.
“Ini biar kaki Neng nggak makin ngilu Neng….” Alesan Pak Kori yang kemudian malah memijat betis kanan Clara, “Biasanya… Orang kalo udah jatuh itu badannya bakal berasa ngilu…”
“Ehhh Nggak usah Pak… Saya nggak kenapa-napa… Makasih Pak” Jawab Clara yang bersikeras meminta Pak Kori segera bangung dari posisi jongkoknya.

“Hehehe… Iya deh… Sama sama Neng…” Jawab Pak Kori singkat sambil melepaskan usapannya pada betis mulus Clara.

Karena tak ingin digangguin Pak Kori, Clara kembali berdiri didepan kursi paling belakang bus. Gadis manis itu berharap jika dengan ia berdiri, ia tak mendapat gangguan dari Pak Kori.

Namun ternyata, rupanya Clara salah. Melihat Clara berdiri, Pak Kori juga ikut-ikutan berdiri. Terlebih, Pak Kori memilih berdiri tepat dibelakang Clara.

Untuk beberapa lama, Pak Kori hanya berdiam diri dibelakang. Namun, lama kelamaan, posisi lelaki tua itu semakin maju dan mendekat kearah Clara. Hingga akhirnya posisi berdiri Pak Kori tepat berada di belakang Clara.

BRUUGH…
Tiba-tiba, bus mengerem mendadak. Membuat tubuh tua Pak Kori menubruk tubuh Clara yang ada didepannya.

“Eh.. Maaf Neng… Maaf…” Ucap Pak Kori pelan, “Saya nggak sengaja…”
“I..iya Pak… Nggak apa-apa… ” Balas Clara berusaha memaklumi.

Melihat kepolosan Clara, membuat Pak Kori merasa jika gadis manis yang ada didepannya itu bagai santapan yang lezat. Karena setelah tubrukan pertamanya, lelaki tua itu mulia berkali-kali menubrukkan tubuhnya kearah Clara.

Walau ia selalu meminta maaf, Clara yakin jika lelaki tua itu sengaja menubrukkan tubuhnya kearah dirinya.

BRUUGH…
“Maaf ya Neng… Bapak nggak bisa menjaga keseimbangan… Bapak ngantuk Neng…” Ucap Pak Kori.
“Kalo ngantuk… Duduk saja Pak…”
“Ngggg… Kursinya basah Neng… Nggak bisa didudukin…”

Sekilas, Clara melirik kearah kursi bus paling belakang. Memang, karena hujan yang begitu lebat, kursi bus itu terkena hembusan angin plus air dari pintu belakang bus yang tak tertutup. Sehingga mengakibatkan kursi deretan kursi-kursi itu basah kuyup.

BRUUGH…
“Aduuhh… Maaf ya Neeng…”

Merasa berkali-kali ditabrak dari belakang, membuat Clara mulai menyueki orang tua itu. Alih-alih melarang, Clara malah memasang headset ke kedua telinganya.

Dan disinilah kesalahan Clara terjadi. Melihat gadis belia yang ada didepannya mulai tak mempedulikan perbuatan bapak tua itu, membuat si bapak merasa jika perlakuan cabulnya tak akan dihiraukan oleh Clara. Oleh karenanya, bapak itu semakin berbuat hal yang kurang sopan terhadap Clara.

Perlahan, bapak itu mulai memajukan tubuhnya hingga menempel pada tubuh Clara, lalu menyenggolkan pinggulnya maju.

PLEK
Sedetik, dua detik, tiga detik, hingga detik kelima Clara tak menghiraukan. Gadis cantik itu hanya berusaha sedikit menghindar ketika bapak tua itu menempelkan pinggulnya ke sela-sela pantatnya.

PLEK
Lagi-lagi, bapak tua itu menempelkan pinggulnya maju. Sedetik, dua detik, tiga detik, hingga detik kesepuluh Clara masih tetap tak menghiraukannya. Hingga pada akhirnya, Clara merasakan tonjolan benda tumpul mulai berasa menempel di belakang pantatnya. Namun, perlahan hilang.

PLEK..
Kembali benda tumpul itu muncul dan berdiam diri di sela pantat Clara.
Sedetik, dua detik, hingga akhirnya, melihat kecuekan Clara, bapak itu mulai menggerakkan badannya lebih dekat lagi.

“Permisi Pak… Saya kesempitan… ” Ucap Clara berusaha menjauhkan diri dari himpitan bapak tua itu.
“Eh iya… Maaf Neng….”

Karena posisi Clara berada di dekat pintu belakang, dan penumpang bus terlalu sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, tak banyak orang yang sadar jika disitu sedang terjadi pencabulan. Dan karena kecuekan penumpang yang lain, membuat Pak Kori semakin berani melakukan perbuatan mesumnya.

Pelahan-lahan, tangan kanan bapak tua itu iseng kembali. Kali ini, tangan bapak itu mengangkat bawahan rok sekolah Clara yang sebelah kanan hingga setinggi pantat. Kemudian, ia menyusupkan tangan kasarnya kedalam dan mulai merabai paha Clara pelan. Santai sekali. Dari arah paha luar, ke pantat, dan bergerak menyamping, menuju ke depan. Ke arah depan vagina Clara.

“Pak… ” Hardik Clara ketus.
“Sssttt… jangan berisik….” balas Pak Kori singkat. “Neng nurut aja ya… Kalo masih pengen pulang selamat….” Bisik si bapak itu pada telinga Clara sambil menunjukkan sebilah pisau besar dari dalam tas kainnya.

DEG.
“Apa maksud perkataan bapak tua ini…?” Tanya Clara dalam hati.

“Jangan Pak… Jangan… ” Bisik Clara berusaha mengingatkan lagi.

Namun , bapak tua itu tak mengindahkannya. Ia malah semakin merapatkan tubuh besarnya ke belakang Clara dan meneruskan perbuatan mesumnya tadi. Karena badan Clara berukuran mungil, tubuhnya seolah tertutup oleh tubuh besar si bapak. Belum lagi tas kain berukuran lebar yang bapak itu sampirkan di pundak kirinya, semakin membuat tingkah mesumnya menjadi-jadi.

“Jangan Pak…” Pinta Clara pelan sambil menahan laju tangan Pak Kori lebih ganas lagi.
“Ssstt…….” Ucap bapak itu dengan nada suara bergetar, “Diem aja Neng…”

Sejenak, ibu-ibu yang duduk didepan Clara menengok kearahnya, sekedar mencari tahu apa yang terjadi dibelakang sana. Namun, ketika melihat Pak Kori, penumpang itu buru-buru kembali menghadap depan. Dan berpura-pura tak melihat apa yang terjadi.

“Jangan Pak….” Pinta Clara lagi,
“Wooooww… Mulus sekali pahamu Neng…”
“Paak.. Jangan Pak… Jangan apa-apain saya….”
“Hehehehe… Ya kalo nggak mau saya apa-apain… Neng nurut aja ya…” Bisik si bapak itu pada telinga Clara sambil menghirup aroma parfum yang ada dibalik telinga belakang Clara,”Tubuhmu wangi sekali Neng…. Pasti tubuhmu enak sekali rasanya ya…? Hehehe….”

Walau pelan, kalimat Pak Kori bak sebuah ancaman yang berhasil membuat Clara down dan membuat Clara benar-benar takluk olehnya.

Sejenak, bapak itu menghentikan perbuatan mesumnya. Ia tiba-tiba agak memundurkan diri dari tubuh Clara.

KRIIIEEEETTTT…
Sekilas, Clara mendengar suara aneh dari belakang tubuhnya. Mirip suara resleting.

“Waduh… Mau apa lagi ini Bapak…?” Bingung Clara.
“Nikmatin aja ya Neng… Jangan teriak…” Bisik Pak Kori sambil kembali menaikkan bawahan rok Clara dan memajukan tubuhnya.

DUK…
Sebuah benda keras menyodok pantat Clara dari arah belakang. Dari arah bapak tua itu berdri.

DUK SEK ESEK ESEK…
Lagi-lagi, bapak tua itu menyodokkan benda tumpul yang terasa keras itu. Malah, tak hanya menyodok, benda itu sekarang mulai digesek-gesekkan ke belahan pantat Clara.

“Uuuuuuhhh… Pantatmu terasa empuk sekali Neng…”
“Paaak… Jaaangan…. ” Bisik Clara yang memberanikan diri untuk menepis benda keras yang digesek-gesekkan Pak Kori ke belahan pantatnya.

“Apa ini…?” Tanya Clara begitu mendapati batang yang menyelip dan digesek-gesekkan bapak tua itu terasa hangat, agak empuk, berambut, dan memiliki bonggol yang agak berlendir licin di ujungnya.

“Astaga… Ini titit….” Seru Clara yang buru-buru menarik tangannya dari arah pantat, tak ingin mengetahui lebih lanjut lagi mengenai benda keras yang menggesek celah pantatnya.

Namun, tangan Clara masih kurang cepat. Karena bapak tua itu berhasil menangkap tangan Clara dan kembali membawanya kebelakang. Kearah pantat Clara.

“Oooohhh… Tanganmu halus banget ya Neng….?” Lenguh bapak tua itu sembari mengarahkan tangan Clara ke benda tumpul yang masih menggeseki pantat Clara.

“Astaga… Iya… Ini Titit…” Kata Clara lagi dalam hati, “Kampreeeeetttt…. Yang menggeseki pantatku ini ternyata titit si Bapak….”

“Pegang Neng…. ” Pinta bapak tua itu sembari menyentuhkan tangan Clara ke batang penisnya

Entah, bagaimana bapak tua itu berhasil mengeluarkan seluruh batang penisna dari dalam celana. Yang jelas, sekarang Clara dapat merasakan seluruh organ kejantanan dari pria tua yang sama sekali tak ia kenal itu.

“Uooowwwhhh…. Enak bener tangan kamu Neng… Lembut beeeneerr….”
“Jangan Pak… ” Bisik Clara panik, berusaha menolak permintaan aneh Pak Kori.
“Ssssttt…. Bantuin bapak bentaran ya Neng… ”
“Bantuin….? Bantu apaan…?”
“Tolong kocokin kontol bapak sebentar aja Neng…”

“Nggak….” Erang Clara ketus sambil berusaha menarik tangan mulusnya dari belakang tubuhnya,.
“Ayolah Neng… Sebentar saja… ” Ucap bapak tua itu dengan nada berat penuh ancaman, “Neng nggak mau khan kalo gara-gara Neng menolak permintaan Bapak… Neng nanti nggak bisa pulang kerumah…?”

Kalimat singkat, namun mengena. Clara yang semula tegang dan menolak, setelah mendengar bisikan Pak Kori gadis cantik itu mendadak lemas.

“Mau ya Neng…? Atau jika tidak… Neng bakal ngerasain pisau Bapak menembus perut langsingmu yang mulus ini…?”

Walau Clara sama sekali tak suka dengan apa yang bapak tua itu perbuat kepadanya, namun karena rasa ketakutannya yang begitu besar, membuat Clara mau menuruti permintaan pria tua itu.

Namun anehnya, ditengah rasa ketakutannya yang amat sangat, Clara sempat mengagumi keberanian dan kejantanan nyali bapak tua itu.

“Ayo Neng… bantu Bapak ya…?”
Clara tak menjawab, ia hanya melemaskan otot tangannya yang kaku dan mengikuti permintaan pria tua itu. Menerima bimbingan Pak Kori untuk menggenggam batang penisnya yang sudah menegang keras.

“Naah.. Begini khan enak Neng…. Hehehe….” Bisik Pak Kori senang, “Sekarang…. Tolong dikocokin ya Neng… ” Seru bapak tua itu sembari menggerakkan tangan Clara naik turun. Membelai-belai batang penisnya yang sudah mengacung tegak dengan maksimal

“Astagaaaaa…. Besar sekali titit bapak ini…” Batin Clara kagum

“Iya… Begitu Nengg….” Lenguh Pak Kori yang sepertinya merasa keenakan karena kocokan tangan lembut Clara, “Ooohh…. Tangan Neng… Rasanya enak sekali… Ooohh… Terus Neng…”
“Udah ya Paakk…” Pinta Clara pelan.
“Bentar lagi Neng…” Lenguh Pak Kori, “Eh iya… Tolong renggangin kakimu Neng…Geser kakimu kekiri dan kekanan…”
“Hehhh….? Bapak mau ngapain…?” Bingung Clara.
“Udah… Geser aja Neng… Bapak mau kasih Neng yang lebih enak lagi… ” Ucap bapak tua itu sambil mengarahkan tangan Clara yang semula mengocok penisnya kembali ke besi pegangan bus. Setelah itu, Pak Kori menempatkan batang penisnya diantara kedua belahan pantat Clara.

“Paakk…? Bapak mau ngapain….?” Tanya Clara panik, “Jangan Pak….”
“Ssssttt…. Diem aja Neng… Diem….” Ancam Pak Kori sambil memaksa kedua kaki Clara merenggang.

Tiba-tiba, penumpang yang ada disebelah kiri depan Citra menengok kearahnya. Sepertinya, apa yang Clara dan Pak Kori lakukan terdengar olehnya. Namun lagi-lagi, hal serupa terjadi pada penumpang itu. Ketika melihat Pak Kori, penumpang itu seolah takut dan buru-buru kembali cuek. Tak menghiraukan apa yang terjadi di belakang sana.

“Jangan goyang-goyang ya Neng….” Bisik Pak Kori yang menempatkan batang penisnya disela-sela kedua pantat Clara. Dan setelah dirasa pas, pria tua itupun mulai memaju mundurkan penisnya.

“Uhhh…. Enak sekali jepitan pantatmu Neng… ” Lenguh bapak tua itu keenakan.
“Ja.. Jangan Paaak… Jangaaannn….” Tolak Clara sambil berusaha memajukan tubuhnya.
“Sstt… Diam aja Neng… Jangan teriak…”

Namun, karena didepan Clara terdapat bangku dan ada penumpang yang menempatinya, Clara pun tak bisa maju lebih jauh lagi. Terlebih karena adanya sebilah besi tajam didalam tas Pak Kori, gadis cantik itupun takut dan malu untuk berteriak.

“Oohh Neeeng….. Tubuhmu ini bener-bener enak Neng untuk dicabuli… Udah cantik… Montok… Dan wangi pula… ” Seru bapak tua itu terus menggesekkan batang penisnya pada celah pantat Clara.
“Ooohh.. Jangan Paakk…”
“Sssstttt… Nggak usah menolak Neng… Nikmatin aja Heeheheh….” Ucap Pak Kori yang semakin berani.

Melihat kepasrahan si korban yang ada didepannya, Pak Kori kembali menyusupkan tangan kanannya ke dalam rok sekolah Clara. Berusaha meraba sambil mengusapi paha mulus Clara. Tak lupa, bapak tua itu juga masih terus menyodoki sela-sela pantat Clara pelan.

“Oohh.. Paakk…. Jangan… Shhh….” Rintih Clara yang mau tak mau mulai terbawa kemesuman lelaki tua itu. Walau selangkangannya masih terbungkus oleh celana dalam, namun gesekan penis Pak Kori sedikit banyak mengenai vagina Clara. Membuat gadis cantik itu mulai mendesah-desah keenakan.
“Hehehe… Enak ya Nenng…?” Tanya bapak tua itu meniup-tiup telinga Clara sambil terus menyelipkan tangan kasarnya kebagian selangkangan Clara.
“Uuuhh…. Pak… Jangan… ” Rintih Clara yang mulai merasakan jemari Pak Kori mulai merabai area celana dalamnya.

“Jangan apa Neng…? Jangan hentikan ya…? Hehehehe…” Goda Pak Kori puas
“Jangan Pak… ” Rintih Clara lagi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan mencoba menjauhkan tangan bapak tua itu dari celana dalamnya.
“Nikmatin aja Neng…. ” Bisik si bapak cabul itu lagi sembari mulai menyelipkan tangan kanannya kekaret celana dalan Clara.
“Pak… ? Bapak mau ngapain…? Jangan Paak…” Bisik Clara panik ketika merasakan jemari Pak Kori mulai menyusup kecelana dalamnya.

Tak menjawab, bapak tua itu terus menyelipkan tangannya lebih jauh lagi, masuk ke dalam celana dalam Clara dan,

“Wooowww… Nenng… Kok gundul…. ?” Bisik bapak tua itu sambil mulai menggelitik tonjolan yang ada di ujung vagina Clara, “Pasti memek Neng ini mulus dan bersih ya Neng….? Hehehe….”

“Astaga… Bapak ini benar-benar nekat…. ” Desah Clara yang merasa sedang dipermainkan Pak Kori.

“Hhmmmm…. Bapak yakin…. Memek Neng ini rasanya legit banget deh…. ” Ucap Pak Kori yang tiba-tiba menarik tangannya dari arah celana dalam Clara dan memperlihatkannya kearah Clara, “Wwuuuiiihhh…. lihat nih Neng… Lendir memek Neng banyak sekali…. ” Bisik Pak Kori menggoda Clara.

Setelah itu bapak tua itu mengendusi jemarinya dalam-dalam, ” Hhhhmmm…. Sumpah Neng… Memekmu aromanya bener-bener wangi Neng… Bapak sukaaa..”
“Udah ya Paak… Jangan apa-apain Saya…” Pinta Clara melas.
“Hehehehe…. Sebentar Neng… Jangan bergerak…” Ucap Pak Kori yang sama sekali tak mengindahkan ketakutan Clara dan kemudian memasukkan tangannya kedalam saku celananya.

“Diam Neng… ” Bisik Pak Kori
“Ehh.. Pak….? Bapak mau ngapain…?” Bingung Clara yang tiba-tiba merasakan ada sebuah benda tajam yang menyelinap di pinggiran paha dan celana dalamnya.
“Sssssssttt… Jangan bergerak kalo nggak mau kulit mulusmu luka Neng…” Pinta Pak Kori sambil terus menyelipkan benda tajam itu.

KREK… KREK…
Suara benda tajam itu ketika mengenai kain celana dalam Clara sebelah kanan. Dan kemudian,

TESSSS
Clara merasa tiba-tiba celana dalamnya melonggar.

“AASSTAGAAA… Ternyata itu gunting…” Jerit Clara dalam hati, “Bapak sialan ini menggunting karet celanaku…”

KREK… KREK…
Lagi-lagi, Pak Kodi menggunting karet celana dalam Clara sebelah kiri.

TEESSSSS
Dengan cepat, kain celana dalam Clara melorot.

“Jangan ditahan Neng… Lepasin aja celana dalammu…” Bisik Pak Kori yang kemudian menarik kain celana dalam Clara kearah belakang.

SRET SRET…
Dalam gerakan lambat, Pak Kori menarik celana dalam Clara sedikit demi sedikit. Sengaja menciptakan gesekan kain celana pada celah vagina Clara. Akibatnya, Clara mulai merasakan sensasi geli yang amat sangat pada organ kewanitaannya.

SRET… SREET..
“Uuuhhh… Jangan Paaakk…. Ampuunn…”
“Ssssttt…. Jangan berisik…. ” Pinta Pak Kori yang semakin kuat menarik celana dalam Clara.

Hingga pada akhirnya, Clara tak mampu lagi menahan kain celana dalamnya yang menyelinap lepas dari selangkangannya.

SREEEETTTT…
“Yeessss… ” Bisik Pak Kori girang, “Akhirnya lepas juga ya Neng… Hehehehehe…”
“Oooohhh.. Paaakk.. Aaaampuuunnn…” Lenguh Clara tak tertahankan.
“Busyeet Neeenggg… Kamu udah horny ya…? Lendir memek Neng buaanyak banget…” Seru Pak Kori yang memperlihatkan celana dalam Clara yang sudah sobek kewajahnya. Kemudian tanpa rasa jijik sedikitpun, bapak tua itupun menghirup aroma vagina Clara yang menempel pada kain penutup selangkangan Clara dalam-dalam, “Hhhhmmmmm….. Wanginyaaa Neeeng….”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*