Home » Cerita Seks Mama Anak » My Fate My Life Chapter 31

My Fate My Life Chapter 31

Chapter 31

Pov ts

Di sebuah rumah di daerah perkampungan yang letaknya cukup jauh dari villa yang menjadi lokasi penyerbuan dan penyergapan polisi, didalamnya ada segerombolan orang yang tengah berkumpul mengelilingi tiga orang yang sedang duduk ditengah tengah mereka di ruang keluarga rumah itu, sementara sang pemilik rumah sudah tergeletak tak bernyawa di ruang tamu rumah itu. Salah satu dari ketiga orang itu tengah meringis kesakitan akibat tangan kirinya yang patah di pergelangan bahunya.

Sementara itu kedua orang yang berada disisi kiri dan kanannya tengah sibuk mengelap senjata yang mereka genggam masing masing. Seorang pria dengan rambut cepak , berwajah seram dengan janggut lebat di dagunya memiliki luka bekas sayatan di pipinya, bertubuh tinggi dan kekar, tengah mengelap katana yang penuh darah di tangannya memakai sebuah sapu tangan. Sedangkan di sampingnya seorang yang bertubuh agak pendek dan sedikit kurus tengah mengurus pistolnya dan sedang mengisi nya kembali dengan beberapa peluru.

“sialan gara gara anak bangsat itu tangan gua ampe kayak gini” gerutu orang yang berubuh tinggi dan besar yang menyandarkan punggungnya di sofa sambil memegang pelan bahu kirinya

Pria yang memegang katana menoleh ke arah pria yang sedang memegang bahunya, “salah lu sendiri mat harusnya lu lebih waspada untung kita cepat datang bantuin lu , harusnya lu berterima kasih ke kita. Untung aja kita lagi nongkrong di pelacuran di daerah sini pas anak buah lu nelfon gue haha” kata pria itu sambil menyeringai menertawakan temannya

“aghh diem lu reng, lu juga bukannya balik kevilla pas habis dari tempat bos ngambil duit malah masih sempet nongkrong buat ngentot”kata pria bernama mamat itu dengan nada geram pada temannya yang bernama gareng

“jangan marah marah gitu mat kalo bukan gue dan gareng juga para kroco kita lu bisa aja langsung ketangkep polisi pas turun dari jendela kayak orang idiot, hampir aja lu dikepung mereka untuk gue ama gareng bawa senjata andalan masing masing haha” kata pria yang tengah memegang pistolnya dan meletakkannya di meja yang diatasnya terletak juga beberapa senjata api dan butir butir peluru

“diem lu jo, ampir aja kita ketangkep ama bantuan polisi yang datang gara gara lu sibuk ama pistol pistol lu itu tadi” kata mamat pada pria bernama paijo itu

“heh bangsat, kalo bukan pistol pistol gue yang gue pakai buat ngalangin tuh polisi kita nggak bakal bisa lari kehutan dan kabur kesini, untung aja gue pinter markirin mobil di sisi lain bukit ini buat kita kabur” kata paijo sambil menempelkan moncong pistolnya ke dahi mamat

“coba tembak gue bangsat kalo lo berani” tantang mamat pada paijo

“udah lah jo turunin senjata lu, mat lu jangan asal ngomong mentang mentang lu sahabatnya bos henry” kata gareng yang mencoba menengahi mereka

Paijo pun menurunkan senjatanya dan meletakkannya kembali ke atas meja. Sementara itu bibir mamat masih terlihat menggerutu tanpa suara.

Gareng mengalihkan pandangannya pada salah satu anak buahnya. Sang anak buah takut dengan tatapan mata gareng yang menatapnya tajam. Ia berfikir apakah ia tengah melakukan kesalahan atau tidak

“lu kubur tuh mayat kakek kakek di belakang rumah” perintah gareng pada laki laki itu. Laki laki itupun segera menuju ke ruang tamu diikuti beberapa temannya mengangkat mayat seorang kakek tua yang di perutnya ada luka bekas bacokan dan di dahinya bersarang selongsong peluru.

kringgg ! kringg! suara dering handphone gareng berbunyi ia kemudian segera merogoh sakunya mengambil handphone, ia kemudian melihat kelayar handphone tersebut untuk mengetahui siapa yang menelfonnya di dini hari. Ia lalu menyodorkan handphone tersebut ke depan wajah mamat ketika mengetahui siapa yang menelfonnya.

“lu yang ngomong ama bos, lu harus tanggung jawab atas kebodohan dan kegagalan dari rencana lu sendiri” kata gareng pada mamat
Mamat pun dengan tangan kanannya menerima handphone dari gareng dan segera menjawab telfon dari sang bos

“halo bos”

“heh mat lu gimana sih kok bisa lu digrebek polisi hah!” kata seorang pria di seberang sana”

“ maaf bos, ane nggak tau awalnya ada 2 orang anak muda datang ke villa pengen jadi anak buah gue bos, tau tau mereka malah ngelepasin sandera dan tiba tiba aja polisi dateng bos, tangan gue aja ampe dipatahin ama anak muda yang namanya aji bos” kata mamat menjelaskan hal yang dialaminya pada bosnya

“lunya aja yang goblok nggak curiga ama tuh dua orang anak muda!”

“soalnya anu bos emm salah satu dari mereka mukanya sangar trus badannya juga kayak preman kirain mereka beneran pengen jadi anak buah gue” kata mamat tergagap

“heh, itu alasan paling goblok yang pernah gue denger, pokoknya gue nggak mau tau, kalo sampe nama gue kebawa bawa gue bakalan matiin kalian semua” kata pria diseberang telefon

“tenang aja bos nggak bakalan, gue jamin”

“ya udah kalo gitu” kata pria diseberang sana

Mamat pun menyerahkan kembali handphone itu pada gareng yang tengah menyeringai melihat wajah mamat yang cukup pucat setelah berbicara pada bosnya lewat telfon. “haha nasibmu mat mat hahaha” kata gareng yang disambut tawa paijo dan beberapa anak buah mereka yang ikut tertawa

“APA KALIAN KETAWA KETAWA HAH!” bentak mamat pada anak buahnya yang seketika mereka langsung terdiam. “Kalian semua cari siapa aji ini bakalan gue bikin dia nyesel berani matahin tangan gue, gue bakalan bikin dia mohon mohon untuk mati, liat aja” kata mamat dengan nada geram memberi perintah pada anak buahnya.

♣♣♣

Aji

Arya

Heru

Pov ARYA

Aku kini terbaring di rumah sakit Cipto Kusumo yang berada di kota metro. Pengalaman selama dua minggu adalah pengalaman paling buruk dalam hidupku. Aku harus selalu menerima pukulan pukulan iseng dari para penjahat itu ditambah aku harus melihat istriku dan juga tantenya di setubuhi secara beramai ramai dan bergantian oleh mereka, bahkan disaat sekar tengah menangis kelaparan dan ingin menyusu pada ibunya. Mereka tetap menyetubuhi risma dalam kondisi risma tengah menyusui sekar bahkan ada yang ikut menyusu pada payudara risma yang tidak disusui sekar. Begitu pula dengan tante Mey yang juga digilir oleh mereka. Mereka bahkan menyuruh Tante Mey dan risma untuk melakukan hubungan sex lesbian di depan mereka sambil mereka mengocok penis mereka.

Aku tak tahu bagaimana kondisi mental mereka sampai saat ini. Karna begitu aku berhasil kabur dari villa jahanam itu, Risma dan tante Mey juga sekar segera di larikan kerumah sakit dengan mobil ambulance. Sementara aku menuju kerumah sakit menaiki ambulance lain yang telah ada di tempat itu.

Kulirik jam dinding yang terdapat di dalam kamar vvip sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aku kemudian mencoba meraih tombol pada ranjang kasur itu untuk sekedar meneggakan punggungku. Namun belum sempat aku meraihnya aku dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka. Kulihat aji dan heru datang dan segera masuk ke kamar. Aji kemudian menutup pintu itu dan segera ikut berdiri disamping heru di sisi ranjang .

“gimana keadaan lu sob” kata heru

“tenang bro gue baik baik aja, kalian udah ngejenguk risma dan tante mey?, gimana keadaan mereka” tanyaku sambil berusaha bangkit mencoba untuk duduk

“udah lu rebahan aja, belum ar nanti abis dari sini gue ama heru bakalan kesana kok” kata aji sambil menahan tubuhku. “maaf yah ar, gue baru bisa nolongin lu kemaren “ sambung aji

“nggak apa ji, harusnya gue berterima kasih. Lagi lagi elu slalu ada buat nolongin gue hehe” kataku sambil memegang pergelangan tangan aji

“itulah gunanya sahabat sob” kata heru

“oh iya ar, coba ceritain awalnya lu bisa diculik” kata aji padaku. Akupun menceritakan awal bagaimana para penjahat itu menerobos rumah om ferdi. Juga apa yang kualami selama disana.

Aji terlihat berfikir. “apa tujuan mereka Cuma itu aja ar, ampe mereka nyulik elu” tanya aji.

“iya ji seingatku Cuma itu, Mamat hanya ingin memberi peringatan pada om ferdi dengan cara menculik kami” kataku sambil mengingat kejadian dua minggu yang lalu. Tiba tiba saja aku teringat kembali kejadian satu minggu lalu di villa itu saat seorang pria paruh baya mendatangi mamat di ruangan tempat kami disekap.

“oh iya ji seminggu kemudian saat aku disekap ada seorang pria paruh baya mungkin seumuran dengan ibumu mendatangi kami” kataku lagi pada aji.

“apa yang ia lakukan selama disana ?” tanya aji

“laki laki itu hanya sebentar saja disana, ia hanya nampak berbicara dengan mamat sebentar , melihat keadaan kami dan kemudian pergi bersama dengan anak buah Mamat yang bernama Gareng, tapi nampaknya pria itulah bos mereka karena mamat dan juga gareng memanggil ia bos, dan dari penampilan orang itu yang memakai setelan jas aku, yakin ia mungkin otak dari penculikan kami” kataku menjelaskan pada aji

“apa lu denger apa yang mereka bicarain ar” tanya heru

Aku berusaha keras mengingat percakapan mereka yang sayup sayup kudengar karna saat itu mamat menemui pria itu di dekat pintu keluar. “ pria itu hanya bercerita kepada mamat sambil menertawakan polisi yang kebingungan mencari kami, mamat kemudian menanyakan bagaimana rencana bosnya untuk mengambil alih sebuah perusahaan dan juga istri sang pemilik perusahaan tersebut her” kataku

“apa dia nggak nyebutin nama target si bosnya Ar?” tanya aji padaku
“nggak ji, mamat hanya bilang kayak gini, jadi gimana, bos udah berhasilkah ngambil tuh perusahaan sama istrinya” kataku menirukan pertanyaan mamat pada bosnya. “ belum tapi kayaknya rencanaku harus lebih dipercepat lagi deh, udah nggak sabar gue pengen nyobain memek istrinya” kataku mengikuti kata kata sang bos waktu itu

“bangsat, bejat bener tuh orang, udah mau ngambil perusahaan orang sekalian sama istrinya lagi” kata heru geram
dengan suara yang sedikit keras

Aji segera menenangkan heru. Kami kemudian melanjutkan pembicaraan dengan sedikit bercanda sambil kutanyai dia bagaimana progress dari kafe milikku yang di kelola olehnya. Nampaknya Aji memang memiliki bakat dalam berbisnis karna kafe milikku yang awalnya saat pertama kali kubuka sepi pelanggan kini menjadi ramai karna ide aji.

“lu memang bakat kayaknya jadi bos ji” kataku

“haha lu ar, bisa aja” kata aji sambil tertawa

“eh ji kalo lu punya temen cewek cantik disana kenalin gue yah haha” kata heru sambil merangkul leher aji dan mengacak acak rambut gondrongnya”.

“iye iye nanti gue kenalin” kata aji sambil berusaha keras melepas rangkulan heru

Aku sangat beruntung memiliki teman seperti aji dan heru. Mereka menjadi temanku bukan karena akibat harta yang kumiliki, tapi betul betul murni karena persahabatan.

“ji, her makasih yah sekali lagi makasih kalian udah jadi temen gue sampe saat ini. Terutama lu ji yang walaupun gue dulu berbuat nggak baik ke lu tapi lu masih mau baikin gue” kataku

“santai ar, kita akan tetap temenan kok sampai kita tua hehe” kata aji

“hehe mudah mudahan yah sampe tua nanti,tapi ji kalo suatu saat nanti gue yang pergi duluan tolong jagain risma sama sekar yah. Kembangin juga bisnis kafe gue hehe” kataku

“apa apaan sih lu ar, lu jangan ngomong gitulah” kata aji tegas

“hehe kan kalo misalnya haha” kataku sambil tertawa. Tiba tiba pintu terbuka dan seorang dokter juga seorang perawat memasuki kamarku.

“maaf pak arya mengganggu saatnya untuk mengecek kondisi bapak” kata dokter itu

“ya udah ar gue ama heru ke risma dulu yah, cepat sembuh lu. Silahkan pak” kata aji sambil menepuk pelan bahuku mempersilahkan dokter itu untuk memeriksaku. Ia dan heru kemudian berlalu meninggalkanku menuju keluar dari kamar tempat aku di rawat.

★★★

Pov vina

“aji baik baik aja nggak yah ka, dari kemarin malam aku bbmin tapi nomernya nggak di bales bales” tanyaku pada rika

“tenang aja vin, mungkin si aji lagi sibuk disana nyari informasi keberadaaan si arya, eh lu nggak risih pakai baju kayak gitu disini vin” kata rika dan kemudian mengomentari pakaianku

“ namanya juga baru pulang dari event ka, lagipula niatku kan kesini nyariin aji, kirain dia udah pulang dari sana” jawabku

Malam ini aku sedang bersama rika di kafe, Setelah pulang dari sebuah event pameran motor. Selama di pameran itu dari siang hari hingga pukul 7 malam tadi tak henti hentinya aku menawarkan beberapa bungkus rokok kepada para pengunjung bersama beberapa rekan seprofesiku sebagai SPG. Pagi tadi aku ditelfon oleh seorang agent dari pihak rokok tersebut karena rekomendasi dari temanku yang bekerja disana. Kebetulan salah satu SPG nya berhalangan hadir sehingga aku diminta untuk menggantikannya.

Selama disana aku harus memakai baju kaos ketat berwarna merah berpotongan leher rendah bertuliskan logo dari rokok tersebut dan juga rok span mini berwarna hitam yang menutupi setengah pahaku yang putih. Entah karena penampilanku atau karena caraku menawarkan rokok rokok tersebut banyak pengunjung yang mau membeli rokok yang kutawarkan. Tak sedikit pengunjung meminta pin bbmku ataupun nomer hapeku namun selalu kutolak secara halus. Mereka kemudian meminta untuk sekedar berfoto bersamaku sebagai pengganti kontakku yang tak kuberikan pada mereka. Terkadang tangan mereka jahil dengan merangkul pinggangku dan memepetkan badan mereka ke arah dadaku.

Pukul setengah enam sore target penjualanku telah tercapai. Aku segera meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu kemudian menuju minibus dan berganti pakaian memakai dress mini berwarna merah muda yang kupakai tadi pagi disana. Akupun segera menaiki taksi bermaksud menuju kafe yang dikelola aji untuk mengetahui apakah aji sudah pulang atau belum karena dari kemarin malam bbm yang kukirimkan tak satupun di balas olehnya. Sesampainya di kafe saat aku masuk beberapa pengunjung pria memperhatikan penampilanku. Harus kuakui malam ini aku tampil sexy dengan memakai dress tanpa lengan ini yang cukup minim. Ditambah belahan dadaku yang pasti terlihat akibat potongan leher dress ini yang cukup rendah. Aku juga memakai heels berwarna senada dengan dressku yang haknya cukup tinggi sehingga pantatku agak sedikit membusung kebelakang dan menjadi santapan liar mata mata nakal para pengunjung pria disini.

Saat kulihat ke arah meja kasir tempat biasanya aji duduk tak kulihat keberadaannya disana. Saat kutanya rika ia berkata bahwa aji belum pulang. Ada sedikit rasa kecewa di hatiku akibat perasaan rinduku yang tak dapat kusalurkan. Padahal aji baru meninggalkanku sehari namun sudah terasa sangat lama bagiku, ditambah tak ada kabar apapun darinya membuatku semakin khawatir dan merindukannya. Aku pun memutuskan untuk duduk di samping rika di kursi tempat biasa aji duduk dibelakang meja kasir bersama rika.

“udahlah vin, sebaiknya kamu pulang aja kamu pasti capek kan. Nanti aku minta temen aku anterin kamu pulang” kata rika disampingku

“nggak usah ka, nanti aku bisa pulang sendiri kok. Aji ngehubungin kamu nggak ka,?” tanyaku

“nggak vina sayang udah berapa kali aku bilang tadi” kata rika sambil mencubit pipiku

“ih apaan sih awas yah” kataku yang mulai menggelitiki rika yang membuatnya tertawa kegelian namun suaran tawanya sedikit ia tahan

cnting ! cnting ! suara tanda bbmku menghentikan aku menggelitiki rika. Kuambil smartphoneku yang kutaruh diatas meja.

Aku begitu senang Saat kulihat layar handphoneku untuk tau siapa yang mengirimkanku pesan dan ternyata ajilah yang mengirimkanku pesan

Quote Originally Posted by AJI
hey vin maaf baru bales hehe, gue baik baik aja kok. Dari semalem handphoneku mati karna lupa ngecharge maaf yah,
Begitulah isi bbm dari aji, tak perlu waktu lama aku segera kubalas pesan darinya

Quote Originally Posted by Vina
AAAJJIII ihh bikin kuatir aja, kok bisa ampe lupa ngecharge hapenya sich?
Quote Originally Posted by Aji
maaf vina kemarin polisi udah nemuin arya dan risma makanya aku sibuk bantuin polisi buat ngeevakuasi arya hehe. Khawatir banget sich? Kangen yah hahah
Quote Originally Posted by Vina
khawatirlah kan kamu teman aku tau. Apa kangen sorry yah nggak tuh tapi kamu beneran kan baik baik aja
Quote Originally Posted by Aji
iya vina cantik kan gue dah bilang tadi kalo gue baik baik aja dongdong ah haha, vin udah dulu yah ada urusan sebentar bye vin
Quote Originally Posted by Vina
ok deh, bye ji
“cie , mukanya seneng amat bu, pasti bbm dari aji hihi” suara rika mengaggetkanku yang masih senyum senyum sendiri membaca chatku dengan Aji. Perasaanku sekarang benar benar lega saat tau aji baik-baik saja disana.

“hihi apaan sih ka,” kataku sambil terkekeh pelan. “ka, aku pulang dulu yah.” Kataku pamit kepada rika

“iya deh sana pulang, hati hati pulangnya jangan senyum senyum sendiri pulangnya entar disangka orang gila kamu hahaha” ejek rika padaku

“ iya bawel,” kataku singkat dan segera beranjak meninggalkan kafe

**

Aku kini sudah berada di kamar kosku. Usai mandi dan berganti pakaian dengan baju tidur yang sexy dari kain sutra, aku segera membaringkan tubuhku di ranjang . kulirik jam di dinding kamarku sudah pukul 9 malam. Sungguh enak setelah bekerja seharian melepas lelah diatas kasur yang empuk. Hampir saja aku tertidur tiba tiba terdengar suara ketokan pintu kamarku.

“ TOK! TOK! ,vina, vin lu ada di dalam nggak”

suara ketukan dan suara wanita terdengar dari luar kamarku memanggilku. Segera saja aku turun dari tempat tidur dan membukakan pintu kamarku yang kukunci

“ah elu win gue kira siapa” kataku sesaat setelah membukakan pintu kamarku dan kulihat winda yang sedang memakai baju kaos ketat berwarna kuning dan celana jeans berwarna biru muda berdiri di depan kamarku

“hehe kirain belum pulang kan gue takut sendirian terus di kosan apa lagi kemarin sempet mati lampu pas kalian nggak ada” kata winda yang kemudian segera masuk kekamarku.
“abis dari mana loe win?” tanyaku yang duduk di atas ranjang menghadap ke arah winda yang duduk di kursi depan meja riasku yang ada di dekat ranjangku. Ia nampak tengah membersihkan riasan bedak di wajahnya memakai tisu yang ada diatas meja

“ habis jalan tadi ama om ricky hehe,” kata winda sambil sedikit tertawa

“aduh win, win jalan kok sama om om sich” ejekku

“kayak loe nggak aja vina sayang” kata winda membalas ejekanku. “ eh loe tau nggak tadi om ricky aneh banget deh” kata winda padaku

“aneh gimana win”

“masa pas pulang dari restaurant, kata dia pengen ketemu sama bosnya dulu buat ngelaporin kerjaannya. Karna katanya dia lagi mau kerja sama dengan orang yang namanya pak henry sama makanya dia pengen ngelaporin langsung kebosnya, tapi masa bosnya tinggal di rumah kecil gitu kayak semacam kontrakan dekat kos kosan gede. Aneh banget deh setahuku kalo yang namanya boskan tinggalnya di daerah perumahan elit gitu kan” kata winda panjang lebar.

“yah mungkin bosnya orangnya sederhana kali, makanya nggak mau tinggal di rumah mewah” kataku

Winda nampak berfikir dan mencerna kata kataku.”iya mungkin kali yah, tadinya gue takut diperkosa ama om ricky disana hihi”

“alah paling juga lu pasrah kalo diperkosa” ejekku

Winda langsung menerjangku dan menggelitiki tubuhku karna mengejeknya. “enak aja gue nggak kayak gitu juga kali, rasain nih” kata winda yang terus mengelitikiku

“hihi hahah ampun ampun” kataku pada winda

Winda kemudian ikut berbaring disampingku setelah berhenti menggelitikiku.“eh gimana aji vin, apa dia udah tau perasaan lu sama dia? Tanya winda menoleh padaku yang menatap langit langit kamar.

“belum win, dan mungkin aji nggak perlu tau selama gue bisa dekat terus sama dia, gue senang. Gue takut aji bakalan menjauh dari gue jika ia tau kalo dia disukai ama cewek kayak gue yang udah sering tidur ama laki laki bejat demi uang” kataku

“yakin loe bakalan senang kayak gitu vina?” kaya winda sambil mengelus pelan rambutku dengan tangan kirinya. Ia kini berbaring menghadapku.

“iya gue yakin kok winda, udah ah gue capek banget seharian tadi berdiri, gue tidur duluan yah, kalo loe mau tidur aja disini.” Kataku yang kemudian memejamkan mataku.

“maaf win aku bohong, aku sebenarnya nggak senang jika hanya seperti itu, aku ingin bisa bersama aji.” Gumamku dalam hati dan kemudian sambil membayangkan wajah aji perlahan lahan akupun memasuki alam mimpiku.

***

Pov Lisa

“yang ulang tahun siapa lis”

“sahabatku kak, namanya mira”

Malam ini aku dan rio sedang berada dalam mobil miliknya menuju ke sebuah klub malam tempat pesta ulang tahun mira tepat ditanggal 25 maret ini. Klub malam tersebut adalah salah satu klub malam terbesar di kota ini yang terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama untuk umum sedangkan yang kedua khusus untuk anak muda yang ingin membuat acara pesta entah itu ulang tahun atau pesta lainnya.

Aku sengaja mengajak rio karena takut untuk pergi sendiri sebab mira mengajak seluruh teman angkatan kami di kampus,dan yang pasti rendi ada di pesta ulang tahun itu. Aku takut kejadian di toilet kampus terulang lagi padaku.

Pukul 11 malam aku dan rio sudah berada di depan pintu masuk. Kami segera menuju kelantai dua setelah mira mengirimkanku pesan bbm agar langsung naik kelantai dua. Saat kami setengah perjalanan menuju lantai 2,di depan tangga yang berada di lantai 1 ada beberapa gerombolan preman yang sedang meminum minuman keras. Wajah mereka sangar dan gelap serta pakaian mereka yang berantakan, ada pula yang berambut gondrong tak karuan sehingga membuatku takut dan sedikit merapatkan tubuhku kearah rio.

“eh malam bos muda” sapa salah satu preman itu ke rio, aku heran bisa bisanya mereka mengenal rio.

Rio kemudian menyuruhku naik keatas duluan, saat aku berada diatas tangga aku menoleh kebawah kulihat rio tengah berbicara dengan preman yang menegurnya. Tak lama kemudian dia segera menyusulku naik ke tangga.

“kak mereka siapa kok mereka kenal kak rio” tanyaku

“oh mereka, mereka hmmm orang yang biasa jaga keamanan disini kan aku juga sering kesini lis” kata kak rio yang menurutku ia berbohong namun tak kupedulikan

Saat kami sampai kelantai dua mira menyambut kami. Ia begitu sexy memakai dress yang berbentuk kemben berwarna kuning yang bagian atasnya hanya menutupi setengah payudara besarnya. Panjang dressnya juga hanya menutupi setengah paha putihnya.

“selamat ulang tahun yah mira sayang” kataku sambil memeluknya dan mencium pipi kiri dan kanan mira

“makasih beb” kata mira dalam pelukanku, setelah melepaskan pelukanku Rio lalu menyalami mira dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya

“selamat yah mira’” kata Rio

“makasih, kak rio kan ?, lisa sudah pernah nyeritain tentang kakak” kata mira menggodaku

“iya aku rio” kata Rio sambil tersenyum

“ya udah yuk lis,” kata mira yang langsung menarik tanganku berjalan lebih dahulu sementara Rio mengkuti kami dari belakang

“katanya nggak suka, tapi kok kayaknya makin deket dan masih aja diajakin jalan” kata mira berbicara disampingku sambil melihat kebelakang ke arah Rio yang mengikuti kami

“kita deket sebagai teman kok mir, lagi pula kak rio udah aku anggap seperti kakakku sendiri” kataku pada mira

Rio dan aku selama beberapa minggu ini sudah semakin dekat sejak aku mengutarakan pendapatku tentang perjodohan kami. Walaupun kami cukup dekat tapi aku sudah menganggap rio sudah seoerti kakak untukku karna ia selalu membantuku dan mengisi hari hariku selama ini. Aku juga merasa agak nyaman dengannya karena sifatnya yang supel dan mudah akrab dengan orang lain. Dia juga selalu menghiburku atau mengajakku jalan jalan saat aku menghadapi masalah di kantor ayahku tempat aku melakukan PKL.

Tak berapa lama aku dan rio serta mira telah berada di antara teman temanku mengelilingi sebuah kue ulang tahun yang cukup besar dan terdapat lilin berbentuk angka 21 yang merupakan usia dari mira sekarang. Mira kemudian tepat berdiri dihadapan kue itu dan berancang ancang meniup lilin itu diiring oleh nyanyian kami.

Setelah memejamkan mata sejenak mira kemudian meniup lilin tersebut kemudian ia mengambil pisau kecil yang diserahkan oleh pacarnya untuk memotong kue itu. Potongan pertama kue itupun diserahkan pada pacarnya derry.

Ada sedikit rasa iri dihatiku pada hubungan mira dan derry yang sudah berpacaran sejak kami masuk kuliah hingga sekarang. Andai hubunganku dan aji bisa seperti itu hingga kemudian kami menikah dan direstui oleh ayahku.
Setelah pemotongan kue pertama itu. Mira kemudian memotong kue itu dan membagikannya, yang pertama ia berikan adalah aku kemudian tina setelah itu rio dan pacarnya tina baru kemudian ke teman teman yang lain.

**

Suara dentuman music house mengisi klub malam tempat aku yang sedang duduk di sofa yang ada disana bersama kak rio. Malam ini adalah perayaan hari ulang tahun winda yang dia adakan di D’ MUSICSTATION sebuah klub malam yang cukup besar di kota metro ini. Setelah tadi acara tiup lilin dan pemotongan kue ulang tahun mira para undangan yang merupakan teman teman seangkatan kami dibebaskan untuk sekedar nongkrong dan memesan minuman sepuasnya. Beberapa temanku yang duduk diseberang mejaku sudah mulai memesan beberapa botol bir untuk mereka minum.

“kamu nggak pesan minuman lis,” kata mira dengan suara sedikit keras yang tiba tiba saja sudah berdiri disampingku bersama dengan Derry dan juga Tina serta Rama pacar Tina. Mereka kemudian segera duduk di sofa yang berada di depanku

“nggak ah mir, lagi males” kataku dengan nada sedikit keras

“alah tunggu yah” kata mira yang kemudian memanggil pelayan dan segera memesan beberapa botol bir dan jack D.

Tak berapa lama pelayan tersebut membawakan pesanan kami di dalam sebuah ember yang berisi es batutak perlu waktu lama derry dan rama segera membuka sebotol minuman itu dan menuangkannya kedalam gelas yang sebelumnya mereka telah memasukkan es batu kedalamnya. Derry,rama winda, dan tina mulai menikmati minuman itu.

“ayo lis minum aja, kak rio minum juga kak” ajak mira pada aku dan rio.

Akupun mulai sedikit meminum minuman itu. Begitupun dengan rio.
Setelah kami menghabiskan sebotol minuman itu. Kulihat derry dan mira tanpa malu berciuman di depan kami begitu pula dengan tina dan rama. Segera saja aku bangkit dan menarik tangan rio untuk beranjak dari meja itu karena sedikit risih.

“kenapa lis” tanya rio saat kami berada di bagian toilet yang ada di dalam klub malam itu yang berada di lantai satu tepat di dekat tangga.

“nggak apa kak, hehe kak aku mau ke toilet sebentar yah .

“oke” kata rio singkat

Aku kemudian segera masuk ke toilet yang ada disana. Setelah dari dalam toilet aku segera menuju wastafel sekedar bercermin dan mencuci tanganku. Kuperhatikan diriku dicermin yang sedang memakai dress mini tanpa lengan berwarna coklat gelap. Kemudian aku segera keluar menuju tempat rio menungguku. Saat aku dan rio bermaksud menaiki tangga aku melihat rendi dan beberapa temannya berjalan menuruni tangga. Mereka kemudian berdiri dihadapan kami, menghalangi kami untuk naik kelantai 2

“awas ren aku mau lewat” kataku

“ tunggu dulu lisa sayang, laki laki ini siapa?” tanya rendi

“bukan urusan kamu ren, sekarang minggir” kataku sambil mendorong tubuh rendi

“oh jangan jangan ini om om lu yah lisa hahaha nggak nyangka gue mantan gue jadi murahan gini haha”

plakk suara tamparanku ke pipi rendi karena kata katanya

“jaga omongan kamu rendi!” kataku membentak

“sakit perek sshh” kata rendi dan langsung mencengkram lenganku dan menarikku turun. Baru saja rio mencoba menahan rendi tapi beberapa temannya segera memegangi rio dan memukulinya. Rendi kemudian menyeretku ke toilet yang saat itu kondisinya sepi aku mencoba memberontak namun tenaga rendi cukup besar menahanku

Rendi kemudian memepetkan tubuhku ke arah tembok dan berusaha menciumku. Dapat kuhirup aroma alkohol yang cukup kuat dari nafasnya. Nampaknya rendi memang sedang mabuk hingga berbuat senekat ini

“lepasin bajingan lepas hmmppp”

ucapanku tertahan oleh bibir rendi yang mencium bibirku. Mengulum bibirku dan berusaha memasukkan lidahnya ke mulutku yang kukatupkan. Tangan kanannya nya berusaha menyingkap ujung bawah dressku. Sementara tangan kirinya menahan tubuhku.

Aku hanya menangis saat tangan kanannya berhasil masuk ke dalam g stringku dan mengusap bibir vaginaku.

“hilks lepasin ren hiks lepasin!” teriakku

Rendi tak menghiraukan perkataanku dan mulai meremas payudara kananku dengan tangan kirinya. Ia menciumi leherku.
Tiba tiba rio dengan wajah yang sedikit lebam masuk diikuti oleh dua orang preman yang kulihat tadi saat aku dan rio baru sampai di tempat ini. Ke dua orang itu segera menarik rendi dan memukulinya, tentu saja rendi kalah tenaga oleh kedua orang itu

“brengsek lu anak ingusan beraninya nyuruh orang mukulin anak bos gue” kata salah satu preman sambil tetap memukuli rendi

“ampun bang, ampun” pinta rendi memelas

“KALO LO MASIH NGEGANGGUIN PACAR BOS GUE GUE MATIIN LUE” kata preman lainnya

“iya bang, gue nggak akan gangguin lisa lagi ughhh” kata rendi

“ayo lis keluar dari sini biar mereka yang ngurus dia” kata rio menarikku keluar dari toilet itu

Saat aku sampai di depan tangga beberapa teman rendi sudah terkapar di tengah tengah gerombolan preman, mira juga terlihat disana dan kemudian segera mendatangiku.

“kamu nggak apakan say” tanya mira namun tak kujawab pertanyaannya . Aku hanya menangis saja dalam dekapan rio

“mira kayaknya kami harus pulang duluan” kata rio pada mira

“iya nggak apa kak, lis kamu tenangin diri yah say” kata mira padaku yang kujawab dengan anggukan kepala. Aku dan rio kemudian berjalan keluar dari klub malam itu dan segera menuju parkiran. Setelah menaiki mobil kami segera meninggalkan klub malam itu.

Di dalam mobil aku masih sesenggukan akibat menangis. Rio dengan sabar mencoba menenangkanku sambil tetap menyetir dengan mengelus pelan bahuku sesekali. Setelah 30 menit kami sampai di kompleks perumahan tempatku tinggal
***

Pov aji

Saat ini aku dan heru sedang berada di pos satpam di rumah lisa. Pak toto begitu kaget melihatku saat ia membuka pintu gerbang. Dari pukul 9 tadi aku sudah berada disini. Dan untung saja pak mustava sedang tidak berada dirumah. Jikapun ia ada mka akan kusuruh heru untuk masuk kedalam rumah dan mengajak keluar lisa. Saat ia berada di gerbang maka aku akan muncul dan memberikan boneka itu padanya.

Begitulah rencanaku kira kira
Namun sayang kata pak toto lisa sedang keluar bersama laki laki yang katanya adalah calon suami lisa. Ada memang sedikit rasa kecewa namun aku selalu yakin jika lisa masih mencintaiku hingga sekarang dan aku tetap bertekad memberinya kejutan walaupun aku harus menunggu lama menanti lisa pulang karna esok aku harus kembali ke kota kembang sebab kasihan jika ibuku dan juga kafe milik arya ditinggal lama lama.

“heh udah jam 12 ini nyet, besok aja ngasih surprisenya ke lisa” kata heru

“iya deh, pak toto kayaknya lisa nginep, aku pulang dulu” kata ku pada pak toto

“kan bapak udah bilang tadi kalo non lisa keluar bareng rio bisanya lama ji, kan kasian kamu kalo udah 3 jam nunggu kayak gini”

“hehe nggak apa”

ttiiiimnnnnn suara klakson mobil menghentikan langkahku dan segera berbalik arah bersembunyi di balik pos satpam bersama heru yang membawa sebuah boneka besar doraemon yang merupakan karakter kesukaan dari lisa

Kulihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam masuk melalui gerbang. Setelah mobil itu lewat aku kemudian berjalan dan bersembunyi di balik semak semak yang dibentuk cukup tinggi sebagai penghias halaman rumah. Aku kemudian mengintip dari balik semak itu. Kulihat lisa dan seorang lelaki yang dari penampilannya adalah anak orang kaya turun dari mobil. Aku kemudian segera berjalan secara mengendap endap ke arah mereka yang disusul oleh heru dibelakangku.

Langkahku terhenti saat melihat lelaki itu menarik tangan lisa secara perlahan dan memeluknya. Dapat kulihat juga lisa membalas pelukan orang itu. Kemudian lelaki itu mencium kening lisa. Mereka tak menyadari aku yang kemudian tetap berjalan dan sudah hampir dekat dengan mereka sebelum aku mengeluarkan suara.

”lis” kataku

“AAJJI” teriak lisa dan segera melepaskan diri dari dekapan laki laki itu. Aku hanya tersenyum walau sebenarnya dalam hatiku telah hancur.

“hey hmm kejutan hehe” kataku dengan tawa yang tak enak

“ini nggak seperti yang kamu lihat ji”kata lisa yang kemudian langsung memelukku

“ssstt,aku ngerti kok, maaf selama ini karena aku nggak pernah ngasih kabar ke kamu” kataku sambil melepaskan pelukan lisa padaku.

“kamu calon suami lisa?” tanyaku pada pemuda itu

“iya mas” kata pemuda itu
“tolong jaga lisa yah” kataku sambil tersenyum.

“apa apaan kamu ji, plis ji dengerin aku dulu” kata lisa sambil memegang tanganku dengan erat.

“lisa dari apa yang aku lihat tadi kamu nyaman dengan laki laki ini. Dan juga aku merasa aku kalah dalam segala hal dari dia. Niatku kesini sebenarnya hanya ingin memberimu ini” kataku dan kemudian meminta boneka yang dipegang oleh heru dan menyerahkannya pada lisa namun lisa menepis tanganku dan ingin kembali ingin memeluk tubuhku namun kutahan

“hiks dengerin dulu ji sebenarnya” kata kata lisa terpotong oleh suara deru motor ninja yang dulu biasa kupakai yang terdengar di belakangku.

Pak mustava datang dengan menaiki motor itu dan kemudian berhenti di samping kami. Ia lalu segera turun menarik tubuhku dari jangkauan lisa dan memukul wajahku. Heru berancang ancang ingin memukul pak mustava namun kutahan.

“NGAPAIN KAMU DATANG LAGI KESINI HAH!?” bentak pak mustava padaku

“maaf om saya niatnya hanya ingin bertemu dengan lisa sebentar dan menyerakan boneka ini” kataku dengan suara setenang mungkin. Pak mustava kemudian mengambil boneka yang kupegang dengan kasar dan membuangnya ketanah kemudian menginjak injaknya

“DENGAR YAH, KAMU PERGI DARI RUMAH INI DAN JANGAN GANGGU LISA LAGI” perintah pak mustava dengan nada tinggi. “DAN INGAT INI LISA AKAN MENIKAH SECEPATNYA SAYA MEMUTUSKAN UNTUK MENIKAHKANNYA SEGERA JADI SEBAIKNYA KAMU PERGI JAUH DARI LISA” sambungnya lagi

“PAPAH!” bentak lisa . “ji plis kamu salah paham sebenarnya tadi tuh…”

“udah lis kamu nggak usah jelasin apa apa, aku ngerti kok kamu kayak gitu karna aku tiba tiba langsung menghilang dan nggak ngasih kabar ke kamu, aku minta maaf. Aku lihat kamu juga pantas bersama laki laki itu yang sederajat dengan kalian.” Kataku memotong kata kata lisa

“baik om saya pergi sekarang” kataku pada pak mustava dan mengajak heru meninggalkan mereka.

“Jiii jangan pergi lagi” kata lisa yang memeluk tubuhku dari belakang namun dengan cepat pak mustava menarik lisa yang mendekap tubuhku

Suara tangis lisa terdengar jelas di belakangku namun kami tetap menuju ke pos satpam untuk mengambil motorku dan kami kemudian pergi meninggalkan rumah itu

Saat kami sampai di rumah heru, akupun segera berpamitan padanya untuk segera pulang menuju kota kembang di tengah malam ini. Heru menyuruhku untuk menginap namun aku tak mau, aku benar benar ingin sendiri sekarang, dan pulang menenangkan pikiranku. Mungkin setelah menyendiri aku bisa meluapkan perasaanku kepada ibu. Hanya dia yang mampu mengerti kondisiku saat ini
Dengan hati yang bimbang dan sedih serta sedikit rasa kecewa aku kemudian segera menuju kota kembang melintasi jalan di gelapnya malam ini

>>>to be contnued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*