Home » Cerita Seks Mama Anak » My Fate, My Life Chapter 30

My Fate, My Life Chapter 30

Pov aji

“Halo om gimana udah ada kabar kalo arya udah di temukan”

“Belum nak polisi sudah hampir menyisir seluruh kota tapi mereka belum menemukan jejak kemana para penculik membawa arya dan istrinya”

“Ya udah om, kabarin aji kalo arya dah diketahui keberadaannya yah om”

“Iya nak pasti, udah dulu yah nak”

“Ok om”

Baru saja aku menelfon om rahmat. Menanyakan apakah arya sudah di temukan atau belum namun polisi masih belum mengetahuinya. Aku begitu kaget saat 2 minggu lalu om budi menelfonku mengabarkan bahwa arya di culik, di pagi hari disaat aku baru bangun dari tidurku, setelah semalaman melayani ibuku hingga 4 kali..

Om rahmat yang mendapat kabar dari kapolda ferdiansyah yang merupakan temannya bahwa di rumahnya ia menemukan istrinya tidak ada di rumah serta menemukan 4 mayat polisi yang saling bertumpukan. Ia juga menemukan mobil dan tas milik risma di rumahnya sehingga besar kemungkinan bahwa arya dan risma juga anaknya ikut diculik bersama penjahat yang belum di ketahui motifnya tersebut.

Sore ini aku sedang duduk di parkiran LOVE kafe. Sambil merokok aku memikirkan nasib arya dan risma serta sekar, tiba tiba saja seseorang menepuk pundakku dan ketika aku berbalik, ternyata vinalah yang menepuk bahuku

“Kamu masih mikirin nasib temen kamu ji” kata vina yang ikut duduk bersebelahan denganku di atas jok motor ninjaku.

“Iya vin aku takut terjadi apa apa dengan arya dan risma” kataku sambil sedikit membuang puntung rokokku
Vina tiba tiba saja memegang tangan kiriku dengan kedua tangannya sambil mengelus pelan punggung tanganku.

“Sabar yah ji, pasti mereka baik baik aja” ” Kamu harus terus positif thinking yah”

Sambil kuhembuskan asap rokok dari isapan terakhirku, aku kemudian tersenyum pada vina dan menggenggam erat tangannya. ” makasih yah vin”

“Iya sama sama say eh maksudku sama sama ji” kata vina yang keceplosan memanggilku say dan lalu wajahnya langsung memerah

“Dicariin dari tadi, ternyata lagi pacaran diluar” kata seorang wanita tiba tiba mengaggetkan kami.

“Ihh rika ngagetin aja deh” kata vina merajuk manja

“Hihi katanya kaget tapi kok pegangannya nggak dilepas keenakan nie hihi” rika terkekeh melihat tangan kami yang masih saling menggenggam. Dengan reflek aku menarik tanganku dari genggaman vina

“Ayo masuk saatnya kalian nyanyi lagi hihi” kata rika yang kemudian pergi meninggalkan kami.

“Ayo vin” ajakku pada vina yang segera ikut menyusulku menuju kedalam kafe

***

Tak terasa sudah pukul 11 malam. Aku saat ini sudah berada di dalam kamar kos milik vina setelah mengantarkannya pulang dari kafe. Sementara rika yang datang beberapa menit yang lalu langsung menuju ke kamarnya untuk tidur. Aku sebenarnya bermaksud untuk langsung pulang namun vina menahanku. Ia berkata ia sedang in

“Ahh capek banget yah ji” kata vina yang saat ini hanya memakai tanktop berwarna putih dan hotpants berwarna kuning. Ia tak memakai bra di balik tanktopnya sehingga ketika ia menggeliatkan tubuhnya dan mengangkat tangannya keatas,terlihatlah ketiaknya yang putih dan mulus serta payudara besarnya kian membusung, membuatku yang duduk di sampingnya sedikit meneguk ludah. Apa vina tak sadar jika aku sedang berada di sampingnya.

“Vin kamu mau curhat tentang hal apa” tanyaku.

“Hmm gini ji kira kira salah yah nggak kalo gue suka dan sayang sama seorang cowok tapi cowok itu udah punya cewek yang dia sayang” kata vina padaku.

Aku sejenak berfikir sambil mengelus pelan daguku. “Hmm menurut gue sih vin, rasa suka dan sayang kamu nggak salah, kita nggak pernah tau kan kita bisa sayang dan suka pada seseorang. Cuma sebaiknya kalo memang laki laki itu sudah memiliki gadis yang ia cintai, kamu nggak boleh mengganggu hubungan mereka. Fikirkan juga perasaan gadis yang dicintai sama lelaki itu” jawabku.

Vina nampak memikirkan jawabanku, kemudian ia mengangguk paham dengan senyum yang sepertinya di paksakan. Aku kemudian membelai rambut panjangnya yang hitam dan melanjutkan perkataanku. “Vina, kamu itu cantik dan baik masih banyak laki laki yang masih sendiri diluar sana yang pantas mendapatkan rasa sayang kamu. Bukannya aku tak mendukungmu. Semua keputusan kembali padamu, aku hanya memberikan saran saja.”

Tak kuduga vina langsung memeluk tubuhku dari samping. Dan mulai menangis didadaku. Aku benar benar bingung ada apa dengan vina. Kenapa tiba tiba saja ia menangis. Kucoba menenangkan dia dengan mengelus lengan kirinya.

“Hei ada apa vin”

“Hiks huuu” hanya tangisannya saja yang terdengar sambil ia menggelengkan kepalanya.

10 menit kemudian, tangisnya mereda. Ia perlahan menyeka air matanya. Kuambil tisu yang berada diatas meja kecil di sampingnya, membantu mengusap air matanya yang ada di pipinya.

“Hiks maaf yah ji baju kamu jadi basah karna aku nangis di dada kamu”

“Nggak apa kok vin, kok kamu tiba tiba nangis” tanyaku penasaran

Dengan senyum tipisnya ia lalu berkata, “suatu saat nanti kamu juga akan tau, eh udah jam segini nggak pulang kamu?” Tanya vina

Aku kemudian melihat arlojiku ternyata sudah hampir jam 12 malam. Aku kemudian segera mengambil jaketku serta helmku kemudian segera pamit pada vina. Ia kemudian mengantarkanku menuju depan pintu kamarnya. Akupun segera menuju kearah motorku dan segera menjalankannya. Saat aku berbelok dari depan gerbang kos kulihat vina masih berdiri disana sambil melambaikan tangannya.

Setelah sampai di rumah aku kemudian sejenak berhenti di depan kamar ibu. Kudapati ia tengah mengamati sebuah album foto. Begitu ia melihatku mendekat ia segera menutup album foto itu dan menaruhnya di bawah bantalnya.

“Kok belum tidur bu?” Kataku

“Mana bisa ibu tidur kalo anak ibu belum pulang hehe” jawab ibu sambil tersenyum

Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Aku kemudian menceritakan ke ibu tentang sikap vina saat ia menceritakan masalahnya padaku. Sejenak ibu terdiam kemudian dengan lembut ia membelai rambut gondrongku.

“Sebaiknya kamu sedikit lebih peka tentang masalah vina sayang” kata ibuku singkat yang membuatku malah makin bingung

“Maksud ibu?” Tanyaku

“Sebaiknya ibu nggak usah jawab yah, kamu mendingan istirahat. Malam ini kamu tidur aja di kamar ibu. Cuci kaki dulu gih”. Aku kemudian membuka jaket dan celana jeansku lalu kuletakkan di kursi yang ada di kamar ibu. Dengan memakai boxer dan baju kaos akupun menuruti perintah ibu menujub kamar mandi mencuci kakiku. Kemudian segera masuk ke kamar ibu, menutup pintunya dan membaringkan tubuhku membelakangi ibu. Ibu kemudian memelukku dari belakang dan mencium tengkukku

“Ada apa bu” tanyaku. Ibu mungkin saat ini sedang bernafsu menurutku

“Nggak apa ibu hanya rindu ayahmu” kata ibu. Tak terasa memang sudah hampir setahun beliau meninggalkan kami. Dengan posisi ibu memeluk tubuhku. Akupun perlahan lahan menuju ke alam mimpi

***

Di pagi hari pukul 9 aku terbangun. Tak kulihat ibu berada di sampingku mungkin ia sedang memasak sarapan untuk kami. Akupun bangkit dan mengambil handphoneku di saku celanaku. Ada 2 buah pesan dari om rahmat yang dikirimkan padaku sekitar pukul 2 dini hari.

Quote Originally Posted by om rahmat
ji pelaku penculikan sudah di ketahui. Ini semua karna ada kesaksian seorang penjual nasi goreng yang sedang istirahat sebentar di dekat rumah kapolda ferdi. Ia mengatakan bahwa segerombolan orang membawa 3 orang dan 1 bayi masuk kedalam mobil box serta sebuah mobil sedan

Quote Originally Posted by om rahmat
pelaku yang membawa risma ciri cirinya sama dengan seorang gembong narkoba bernama mamat. Apalagi saat polisi menunjukan foto buronan mamat pada orang itu
Mamat salah satu orang yang di cari polisi karna merupakan gembong narkoba terbesar di kota ini. Keberadaan dirinya dan lokasi pembuatan narkobanya tak diketahui. Ia bagai asap yang begitu sulit ditangkap. Apa sebenarnya maksud dari ia menculik arya dan risma yang tak ada hubungannya dengan bisnisnya.

Aku sejenak menuju ke teras depan rumah, duduk di kursi sambil menyulut sebatang rokok sambil duduk termenung masih memikirkan nasib arya. Tak kusadari pak karyo dengan seragam satpamnya berdiri di depan gerbang rumah. Kubukakan gerbang itu dan segera masuk dan ikut duduk di dekatku sambil menyulut kreteknya

“Bapak dengar dari ibu kamu kalo arya katanya di culik”

“Iya benar pak” kataku

Pak karyo menghisap rokok kreteknya dan menghembuskan asapnya perlahan. ” udah ketahuan siapa pelakunya?”

“Iya pak nama pelakunya mamat gembong narkoba di kota ini” kataku. Sejenak kulihat pak karyo sedikit kaget lalu kemudian ia menghisap kembali rokoknya

“Polisi udah tau lokasi mamat dimana?” Tanyanya lagi

“Belum pak” jawabku singkat. Nampak pak karyo berfikir sejenak. Kemudian mengubah posisi duduknya yang tadinya sambil menyilangkan paha. Kini ia memajukan badannya sejajar denganku sambil sikunya bertumpu pada pahanya

“Polisi nggak akan bisa nemuin mamat di kota ini ji, ia pasti sedang ada di tempat persembunyiannya di luar kota kata pak karyo pelan sambil menatapku. Aku begitu kaget kok ia bisa tahu keberadaan mamat.

“Bapak tau kamu pasti terkejut, tapi sebaiknya kamu ke kota metro, nanti bapak kasi tau tempat dimana mamat biasa bersembunyi. Tapi sebelum kamu menemukan kepastian jangan dahulu kamu memberitahu polisi, dan sebaiknya apapun yang kamu liat nanti disana kamu harus menahan diri dulu. Berpikir dan rencanakan tindakanmu selanjutnya.”

Pak karyo lalu menyuruhku mengambil kertas dan sebuah bolpoin. Ia lalu mulai menggambar sesuatu seperti gambar denah lokasi. Dalam denah yang ia buat ia menuliskan sebuah stasiun kereta api bernama stasiun jatiraya, stasiun yang berada di pinggiran kota metro. Ia kemudian menaruh bolpoin yang ia gunakan dan menyuruhku menggeser kursiku agar aku bisa duduk lebih dekat denganya.

“Dari arah stasiun kamu terus saja. Menuju arah kota hujan jaraknya cukup jauh mungkin 65 km menuju daerah perkampungan,kamu berbelok ke kiri masuk perkampungan tersebut dan begitu masuk perkampungan sekitar 300 meter akan ada sebuah gerbang disebelah kanan jalan yang mengarah keatas dataran tinggi yang ada disana, diatas sana kamu akan menemukan sebuah villa yang tak terpakai bekas keluarga prasetyo. Disanalah kamu bisa menemukan mamat” kata pak karyo mengakhiri penjelasannya

“Pak kenapa bapak bisa tau daerah persembunyian mamat, apa bapak memiliki hubungan dengan mamat” tanyaku penasaran

Pak karyo tak menjawab pertanyaanku. Ia segera bangkit berdiri. ” nanti suatu saat bapak jelasin tapi kamu harus selamatin arya dulu” katanya yang kemudian berjalan keluar dari rumahku. Seiring dengan pak karyo pergi aku juga segera masuk ke rumah. Mempersiapkan diri. Hari ini aku berniat akan segera menuju ke kota metro.

***

Setelah berpamitan kepada ibu dirumahku dan juga pada vina dan rika yang kutemui di kafe, pukul 11 siang menggunakan motor berangkat menuju kota metro. Sekitar pukul setengah 6 aku sampai di pusat kota metro dan sejenak beristirahat sambil mengisi perutku. Aku kemudian segera menuju ke rumah heru.

Rumah heru berdekatan dengan sekolah sd tunas bangsa, tempat dimana aku dan arya bersekolah dulu. Heru hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang memiliki bengkel kecil kecilan bersebelahan dengan rumahnya. Saat aku berada di depan pagar rumah heru. Kulihat disebelah rumahnya ayahnya tengah duduk merokok.

“Malam om herunya ada” kataku sambil salim padanya

“Ada nak, kamu kemana aja ji baru datang lagi ke sini” tanya ayahnya heru

“Aji sekarang tinggal di luar kota om, aji masuk dulu yah om”

“Iya nak” kata ayahnya heru sambil tersenyum. Akupun segera menuju pintu depan rumah heru dan mengetuk pintunya. Tak berapa lama heru keluar hanya memakai singlet dan handuk. Ia begitu kaget saat melihatku datang.

“Kampret si gondrong dateng nggak bilang bilang dulu haha” kata heru yang menepuk bahuku

“Hehe maaf maaf bro, malam ini loe sibuk nggak” tanyaku yang masih berdiri di depan pintu

“Haha kebetulan gua baru minta ijin libur seminggu sama bos ayo sini masuk dulu gua bikinin kopi” kata heru yang merangkul leherku dan kemudian kami segera menuju ruang tengah rumahnya.

Ia kemudian menyuruhku duduk di sebuah kursi plastik yang ada disana dan ia segera menuju dapurnya membuat segelas kopi

Rumah heru masih sama seperti dulu walaupun sederhana namun selalu bersih karena ayah heru orang yang sangat menjaga kebersihan berbeda dengan anaknya yang agak sedikit jorok, kira kira hampir samalah denganku. Tak berapa lama ia menaruh 2 cangkir kopi hitam di atas meja yang berada di antara kami ia kemudian duduk di kursi yang berada di sebelahku

“Dalam rangka apa nih lu datang kemari, loe sama nyokap loe tiba tiba aja nggak ada waktu gue kerumah loe yang udah di gembok “kata heru sambil tersenyum. Aku kemudian menatapnya dengan ekspresi serius

“Her, arya di culik” kataku pada heru yang tengah menyeruput kopinya.
Heru langsung tersedak begitu mendengar kata kataku, “uhuk uhuk yang bener loe ji jangan becanda” katanya

“Gue serius makanya gue mau ajak loe ke suatu tempat yang di kasi tau sama kenalan gue, loe bisakan” kataku

“Pasti tunggu gue ganti baju dulu, habisin kopi loe trus kita berangkat.” Kata heru yang bergegas menuju Kamarnya. Setelah 10 menit heru sudah memakai kaos berwarna merah dan celana jeans panjang yang sobek sobek serta sebuah jaket jeans.

“Ayo her kita berangkat sekarang aja”kataku yang beranjak berdiri. Setelah heru mengambil helm kami berdua menuju pintu depan dan segera memakai sepatu masing masing. Heru kemudian berpamitan pada ayahnya mengatakan bahwa beberapa hari ia akan menginap di rumahku. Ayahnya percaya saja dengan kebohongan heru

Aku dan heru segera menuju lokasi yang di beritahukan oleh pak karyo. Selama hampir 1 jam kami pun kini tiba di sebuah perkampungan yang berada di antara kota Hujan dan kota metro, setelah melewati jalan lintas antar kota yang banyak terdapat penginapan di sisi jalannya. Kami masuk ke sebuah jalan kecil, melewati perempatan jalan yang berpotongan dengan jalur kereta api dan akhirnya kami memasuki sebuah desa yang dikelilingi hutan dan bukit. Suasana desa ini begitu sepi selain itu tak ada lampu jalan yang menerangi jalan masuk ke desa. Begitu aku melihat sebuah gerbang yang dikatakan oleh pak karyo aku langsung berbelok kesana. Tak jauh dari gapura besi itu sekitar 200 meter ada sebuah villa yang dikeliling oleh pepohonan besar.begitu kami mulai mendekat segera kumatikan mesin motorku agar suaranya tak menarik perhatian mereka. Aku sengaja menaruh motorku agak jauh dari villa. Aku dan heru kemudian menyelinap di balik pohon pohon besar yang disisi sisinya di penuhi semak semak. Kami kemudian bersembunyi di belakang pohon beringin yang cukup besar tepat di depan villa yang di jaga oleh 4 orang preman

Tiba tiba saja 2 orang preman menuju ke arah pohon tempat kami bersembunyi. Mereka nampaknya ingin buang air kecil. Secepat kilat kami berdua menuju semak semak yang cukup tinggi dan rimbun tak jauh dari pohon tersebut

*SERRR suara kucuran air seni mereka terdengar, ” eh si bos enak banget yah ngentotin tuh cewek udah ada kali 2 minggu si bos nggak berhenti genjotin tuh memek” kata salah satu preman yang terdengar oleh kami

“Haha gimana bos bisa bosan, orang ceweknya cantik gitu kayak model, mana toketnya ada susunya lagi makin enaklah si bos haha” kata preman lainnya

“Istrinya si kapolda itu juga enak loh kemarin si gareng kasi gue kesempatan genjotin memek istri kapolda pengganggu itu. Kasian bener tuh si ferdi pasti memeknya bakalan longgar kalo mau di pakai nanti sama suaminya haha”

“Emang mereka bakalan hidup besok malam kan mereka bakalan kita bunuh haha, gue mau minta si bos ah buat bisa genjotin memek cewek yang namanya risma itu”

“Hahah mimpi loe, yok ah jangan coli loe kampret

“Iye iye”

Setelah mereka berdua pergi. Aku dan heru segera menuju motorku. “Setan, kita harus gimana nih ji, apa kita terabas aja” geram heru

“Sabar her. Gue punya rencana, gue kabarin om rahmat ama om ferdi dulu, kita harus tenang dalam situasi kayak gini”

“Gimana bisa tenang kampret, loe denger sendirikan kata mereka!?”

” iya iya gue denger, trus kalo misalnya kita langsung nerobos masuk dan kita ketangkep gimana, kita nggak tau mereka berapa orang di dalam, kita nggak tau mereka punya senjata api atau nggak

Heru hanya terdiam mendengar penjelasanku. Aku kemudian menelfon om rahmat mengabari keberadaan arya dan risma. Aku kemudian meminta ia untuk menelfon pak ferdy. Jadi kini kami bertiga terhubung via telepon, aku kemudian memberitahukan rencanaku pada mereka. Aku dan heru kemudian segera pergi dari sana mencari penginapan yang dekat dengan daerah ini.

***

“Kalian yakin dengan rencana kalian, keselamatan kalian jadi taruhannya nanti” kata seorang pria yang sedang berada di balik kursi kemudi mobil sedan berwarna hitam yang sedang kutumpangi ini.

“Tenang aja om ferdi kami dulu dah sering tawuran kalo masalah ngelawan mereka mah cemen” kata heru

“Jangan di dengerin omongan heru om pokoknya kami berdua yang akan menjadi pengalih perhatian. Om ferdi dan om rahmat juga teman teman polisi om segera datang menyelamatkan para sandera dan kalo perlu si mamat juga harus langsung di tangkap” kataku yang duduk berdampingan dengan heru di kursi belakang

“Hati hati yah kalian pokoknya setelah menurut kalian para sandera sudah aman dan siap di selamatkan beri tanda dengan melempar suar ini keluar yah” kata om rahmat yang berada di kursi depan.

Aku dan heru segera keluar dari mobil. Aku mengantongi sebuah suar yang akan menjadi penanda bagi polisi untuk bergerak. Cuma ini satu satunya yang bisa kufikirkan. Dengan menjadi pengalih perhatian bagi para polisi yang bersiap akan membantu kami jika kami dalam kesulitan. Resiko dari rencanaku cukuplah besar. Jika rencanaku gagal maka malam nanti bukan hanya arya dan risma yang akan jadi korban. Aku dan heru pun pasti akan kehilangan nyawa. Tapi ini demi sahabatku yang telah banyak membantuku hingga sampai saat ini

Di terangi sinar matahari yang perlahan terbenam, aku dan heru berjalan menuju ke arah villa. Kutinggalkan 2 kapolda yang sedang berada di dalam mobil yang kami parkirkan agak dekat dengan halaman depan villa yang tersembunyi di balik pepohonan dan semak belukar yang berada di sebelah kiri jalan menuju villa. Begitu aku dan heru sudah hampir sampai tepat di depan teras villa. 4 orang preman yang berjaga mendatangi kami.

“Woy mau kemana kalian hah, pulang!” Bentak salah seorang preman

“Santai bang, kami denger katanya disini ada bos mamat kami berdua pengen jadi anak buahnya. Kami dah bosan hidup miskin bang kami denger denger enak jadi anak buahnya bos mamat” kataku

“Tau dari mana kalian tentang bos mamat” tanya preman yang berambut mohawk sambil mencengkram bagian kerah kaosku”

“Sabar bang, kami sering denger dari preman sekitar stasiun, kami juga sering ngeliat berita bos mamat di tv, dia keren kali bisa lolos terus dari tangkapan polisi” kata heru berbohong sambil mencoba melepas cengkraman si preman mohawk padaku

“Boleh kan bang kami nemuin bos mamat” kataku memelas

“Oke tapi kalo kalian bikin ulah gua matiin kalian” kata seorang preman bertubuh pendek namun berotot

Mereka lalu menggiring kami menuju kedalam villa. Villa ini berlantai 2. Di lantai satu mungkin sekitar 20 orang preman sedang asik meminum minuman keras. Begitu kami sampai di depan pintu sebuah ruangan yang berada di lantai 2, salah satu dari keempat preman mengetuk pintu.

“Masuk” terdengar suara berat dari dalam. Saat kami masuk seorang pria bertubuh tinggi besar dan botak sedang duduk diapit oleh 2 wanita telanjang, aku tak menyangka risma diperlakukan seperti pelacur oleh mereka. Di sana juga ada seorang wanita berumur sekitar 35 tahun yang sedang menyuapi anggur ke mulut mamat. Kuyakin wanita itu ada istri om ferdi. Kutoleh ke arah kiri kulihat arya tengah terikat dan mulutnya dilakban tengah berbaring diatas matras bersama anaknya. Ia tengah tertidur atau mungkin pingsan aku tak tau.

“Ini bang 2 anak muda ini pengen jadi anak buah abang katanya”kata si rambut mohawk

“Haha bagus bagus kebetulan gue lagi butuh tambahan tenaga kesini loe berdua, dan kalian berempat jaga pintu keluar, gue pengen ngetest nih bocah” perintah mamat.

Risma begitu terkejut melihat aku dan heru yang sudah berada di hadapannya. Aku langsung memberinya tanda dengan sedikit mengerjapkan mataku dan meggeleng pelan agar ia bersikap biasa saja.

“Nama kalian siapa? ” tanya mamat

“Saya aji bang dan temen saya ini namanya heru”

“Oh dari mana kalian tau tempat ini?”

” hnggg kami ngeliat abang waktu ngelintas pake mobil” jawab heru ragu,

“JAWAB YANG BENER!” bentak mamat seketika membuatku sedikit gugup. Aku kemudian segera memikirkan alasan yang masuk akal

“Begini bang waktu mobil abang datang kami lagi didekat villa ini. Kami warga sini kok bang” kataku. Jika kebohonganku ini tak diterima olehnya maka matilah kami jika sampai kami ketahuan. Risma menatapku dengan wajah khawatir.

“Ya sudah kali ini gua percaya, tapi sampai gua tau kalian bohong, kalian bakalan mampus” kata mamat sambil kedua tangan mamat meremas payudara kiri risma dan payudara kanan istri om ferdi.

“Kalian berdua turun dulu kebawah. Gue lagi pengen ngentotin nih 2 cewek, nanti gue turun ke bawah” perintah mamat. Kami pun segera menuju keluar ruangan, melewati keempat preman tadi dan segera turun ke lantai satu

“Gimana ini kampret, gue pengen banget nonjok muka tuh orang” kata heru padaku

“Sabar setan!, belum waktunya”

Aku dan heru kemudian duduk di tangga yang menuju ke lantai atas. Kebetulan aku membawa rokokku segera kusulut sebatang. Begitupun heru yang ikut merokok. Kami lalu berjalan mengitari isi villa. Sial satu satunya akses keluar masuk villa ini hanya lewat pintu depan aku bingung bagaimana caranya bisa meloloskan para sandera.

Tunggu dulu di ruangan tadi ada sebuah jendela yang menghadap ke samping villa. Aku juga melihat beberapa tali tambang yang ada di ruangan itu. Aku mungkin bisa meloloskan mereka lewat jendela itu

“Ji kayaknya kita harus mulai sekarang atau nggak sama sekali.” Kata heru

“Sabar dulu her, tungguin si mamat turun dulu.

“Kenapa kalian nggak ikut minum hah?”sebuah suara mengaggetkan kami yang sedang berbincang di dekat tangga

“Udah tadi bos hehe” kataku pada mamat. Mamat kemudian meninggalkan kami. Aku dan heru kemudian saling berpandangan. Sepertinya kami berdua saling paham bahwa inilah saatnya. Aku dan heru kemudian segera naik kelantai 2 kulihat 2 orang tadi masih berjaga di depan pintu. Entah kemana 2 orang lainnya

“Mau kemana kalian” kata si mohawk

“Hnngg gue disuruh bos buat ngambilin rokoknya” kataku yang kemudian membuka pintu. Di dalam lagi lagi pemandangan erotis terlihat oleh kami risma dan istri om ferdi tengah meliuk liukkan tubuhnya sambil berciuman di tonton oleh 2 preman yang sedang mengocok penis mereka. Aku segera menutup pintu

“Haha heh orang baru liat noh, loe baru kali ini ngeliatkan adegan lesbi secara live haha” kata si pendek berotot.

“Iya bang, her nonton yuk” kataku sambil memberi kode pada heru dengan tersenyum licik dan mengangkat alis. Kami kemudian duduk mengapit ke dua preman ini, kuberi gerakan pada heru dengan menggerakan kepalaku ke samping. Ia mengerti maksudku.

“Satu” kataku

“Dua” balas heru

“Tiga” kata kami bersamaan dan dengan kuat kami saling membenturkan kepala kedua orang ini. Sehingga mereka berdua sedikit pusing. Aku pun segera membekap mulut satu orang yang diikuti oleh heru dengan membekap orang di sampingnya sambil mengunci tangannya.

“Ris cepat ambil lakban sama tali” kataku pada risma yang segera mengambil tali dan lakban yang berada di dekat arya yang masih saja tak sadarkan diri. Aku dan heru kembali membentur benturkan kepala mereka berdua sambil tetap mengunci tangan mereka hingga mereka tak sadarkan diri. Aku sangat bersyukur belajar ilmu bela diri sehingga aku terbiasa mengunci gerakan lawan. Sedangkan heru memiliki tubuh yang cukup besar sehingga hanya dengan tenaganya saja membuat lawannya lemah tak berdaya dalam kuncian tangan kanannya.

Kami lalu mengikat kedua orang ini dengan posisi mereka saling memunggungi serta membekap mulut mereka dengan lakban. Setelah selesai aku segera menuju kearah jendela. Untunglah jendela itu masih bisa terbuka. Diluar kulihat keadaan cukup aman. Aku kemudian mengikatkan tali tambang yang lumayan panjang itu ke sebuat teralis besi yang merupakan dekorasi dari ventilasi jendela itu dan menjuntaikan tali itu keluar

“Ris, tante cepat pake pakaian kalian turun lewat sini. Kataku pada risma dan istri om ferdy. Mereka pun segera memungut pakaian mereka yang teronggok di lantai dan segera memakainya.

“Her,bisa kan turun sambil ngegendong sekar.” Kataku pada heru

“Bisa lahji, trus loe gimana?” Tanya heru

“Tenang aja, semuanya cepetan waktu kita nggak banyak” kataku yang kemudian melemparkan suar itu ke arah luar jendela. Untung saja lokasi jendela ini menghadap ke arah tempat mobil terparkir yang di dalamnya om ferdi dan om rahmat sedang menunggu kami.

Dengan hati hati heru pertama kali turun sambil menggendong sekar. Kemudian disusul oleh istri om ferdy. Dan yang terakhir risma. Sebelum risma turun ia masih sempatnya mencium bibirku pelan.

Aku kemudian segera membangunkan arya, kulihat wajahnya memar seperti bekas pukulan. Kubuka ikatan kaki dan tangannya dan kubuka lakban yang menutupi mulutnya. “Ar , arya” panggilku sambil menepuk pelan pipinya. Arya mulai menggeliat dan membuka mata. Ia begitu terkejut saat melihatku. “Aji! Kok bisa loe ada di sini”

“Ceritanya panjang ar, sebaiknya loe cepetan kabur seb… *BRAKKK kataku terhenti saat melihat mamat mendobrak pintu. di belakangnya ada sekitar 5 orang anak buahnya

“Bangsat!” Teriak mamat yang bergerak menyerangku. Aku segera bangkit dan dengan cepat kutendang bagian ulu hatinya.

“CEPETAN, AR KABUR LEWAT JENDELA!” Bentakku pada arya. Ia kemudian segera berlari menuju jendela dan turun memakai tali yang aku pasang tadi

“BERANI BERANINYA LOE BEBASIN MEREKA BANGSAT” teriak mamat. “CEPAT PANGGIL BANTUAN BRENGSEK” bentak mamat pada salah seorang anak buahnya yang segera mengambil handphone di saku celananya dan menelfon seseorang.

Dihadapanku kini mamat sedang berdiri bersama dengan keempat anak buahnya mengelilingiku. Aku kemudian memasang kuda kuda bertarung. Sepertinya lagi dan lagi aku selalu saja mengingkari janji yang kubuat dengan ayahku.

Preman A dan C yang berada disisi kiri dan kananku bergerak ingin memukulku. Aku segera melompat dan menendang bagian dada mereka. Belum sempat aku memijakkan kaki dari belakang punggungku di tendang oleh preman D membuatku tersungkur kedepan. Segera saja preman B berniat menginjakku namun kugulingkan tubuhku ke samping dan dengan cepat bangkit. Aku kemudian berlari kearah mamat yang berada di depanku. Kunaiki tubuhnya dengan berpijak pada pahanya dan langsung menghantamkan lututku, membuat hidungnya mengeluarkan darah segar.

Saat aku hampir sampai ke depan pintu preman E dan F datang dan mereka secara bersamaan memukul dadaku. Membuatku tersungkur kebelakang. Dengan gerakan gesit posisiku yang awalnya tersungkur langsung dalam posisi berdiri. Secara bertubi tubi mereka berdua mencoba memukulku namun selalu bisa kutepis. Saat kulihat sedikit ada celah segera ku hajar dengan pukulan telak pada bagian pipi preman E sehingga membuatnya limbung

Kemudian dengan gerakan memutar kutendang sisi leher preman F
Tiba tiba saja kurasakan kepalaku di hajar dari belakang oleh sebuah pukulan kuat, ternyata mamat menghantam bagian sisi kiri kepalaku membuat pandanganku sedikit berkunang kunang

DORR! DORRR !DEZING !DORR! PRANK!. Suara tembakan peluru di luar menandakan pihak kepolisian datang dan menandakan bahwa para sandera telah aman. Ke 6 preman segera datang mengerubungiku dan menginjak injaku.

Namun tiba tiba preman D tersungkur diikut oleh si A dan si F. Ternyata Heru kembali masuk ke villa. Ia kemudian memukul perut preman B dan dengan cepat menghantam leher preman E. Preman C yang berada di dekatku kutendang kakinya hingga ia terjatuh

“Haha loe udah mulai lemah ji, masa ngelawan cecunguk kayak gini loe kewalahan” kata heru sambil membantuku berdiri.

“Hehe udah lama gue nggak berantem her” kataku yang kemudian segera mengambil posisi dibelakang heru, memunggunginya. Di depan heru preman A, D, dan F telah berdiri sedangkan di depanku sudah menunggu preman B,C dan E serta mamat yang hidungnya masih mengeluarkan darah. Nampaknya hidungnya telah kupatahkan.

*DORR! DORR! suara tembakan masih terdengar diluar villa.

“lu ingat nggak ji kalo situasi kayak gini hampir sama kayak pas kita tawuran dulu haha” kata heru yang membelakangiku menatap beberapa lawan di hadapannya

“ahaha iya lah bro, lu ingat apa yang pernah gue bilang pas mau nyerang nggak?” Tanyaku

“hahaha ingatlah…satu dua tiga”kata heru” BANTAI KAWAN” kata kami bersamaan dan berlari menuju musuh kami masing masing”

Heru segera menerjang preman A memukul bagian perut dan dadanya. Preman D Bergerak bersiap menendang sisi perut heru. Namun heru dengan cepat menghindar dan menghajar preman F Di dekatnya dengan memukul lehernya. Ketika si F terjatuh heru langsung menginjak perutnya.

Sementara aku harus menangkis pukulan preman B dan C yang menghujaniku dengan pukulan mereka dari sisi kiri dan kanan. Ketika sedikit kulihat celah pada mereka yang terus menyerangku dengan cepat kutangkap tangan mereka dan kubenturkan badan mereka. Serta memukul pipi mereka dengan keras yang langsung membuat mereka berdarah. Tak kusia siakan kesempatan menyerang preman E. Aku lari dan menerjangnya. Kemudian menendang perutnya dengan kedua kaki. Hingga ia terlempar. Dan menghantam tembok kepalanya terbentur dengan keras membuatnya pingsan seketika.

Heru kini sibuk melayani pukulan preman D sementara si A dan F sudah terkapar. Harus kuakui fisik dan tenaga heru lebih kuat dariku. Ketika preman D melancarkan pukulan kearah kepala heru dengan gesit ia menghindar dan memukul telak ulu hati sang preman kemudian menangkap bagian kepala si D ,memelintirnya dengan gerakan memutar
KRACK! Suara leher orang itu yang dipatahkan heru

Mamat kemudian menyerangku. Ia mencoba memukulku dari arah samping namun kutepis dengan kedua tanganku. Preman C mencoba membantu namun dengan cepat kutendang bagian tulang selangkanya hingga ia meringis kesakitan. Kubalas memukul si mamat dengan menghantam perutnya. Preman B datang membantu mamat. Saat ia melayangkan pukulan kutangkap lengannya dan melempar tubuhnya dengan gerakan memutar.
BRAKKK! Ia tepat menghantam sebuah lemari kayu dan lemari itu langsung menimpanya. Si C kemudian mengeluarkan pisau dari saku celananya. Ia kemudian mencoba menusuk perutku namun aku menghindar. Dengan cekatan ia mengarahkan hujaman pisaunya ke arah kepalaku. Aku sedikit terlambat menghindar sehingga pipiku teriris oleh pisaunya. Kini ia mencoba lagi menusukku namun segera kutahan lengan dan pergelangan tangannya. Dan kubalikkan arah hujaman pisaunya ke arah perutnya sendiri . JLLEBB! Pisau itu menancap di perutnya

“BOSS POLISI SUDAH MASUK CEPET KABUR BOS!” Teriak salah seorang anak buah mamat di balik pintu ruangan . Tak kubiarkan mamat kabur segera kutarik tangannya dan BUGHH! kuhantam pelipisnya. Ia membalas memukul wajahku

*BUGHH! satu pukulan telak menghantamku. Namun peganganku pada lengan mamat tak terlepas . Ia menghantam terus bagian wajahku. Sementara kulirik heru ia sedang menghadapi 3 orang preman yang baru masuk.

Aku kemudian memutar badanku. *KRAAAKKK lengan kiri rahmat kupatahkan membuatnya mengerang kesakitan. Salah satu preman yang menjadi lawan heru. Berlari mendatangiku dan langsung menendang perutku membuat aku melepaskan cengkraman pada lengan mamat.

“GUE BAKALAN INGAT NAMA LOE BANGSAT!

” Kata Mamat yang langsung kabur melalui jendela. Dengan susah payah ia mencoba turun dari jendela memakai tali yang tadi kupasang.

Anak buah mamat yang menendangku mencoba menyerangku kembali. Tak kuberi kesempatan segera aku menendang paha, sisi perut dan kepalanya dengan cepat sehingga ia langsung tersungkur.

“JANGAN BERGERAK ! Kata om rahmat yang sudah berada di depan pintu menodongkan pistol. Mengakhiri perkelahian heru dengan 2 orang anak buah mamat.

Setelah dari villa, Heru sempat singgah di penginapan dan mengambil motor. Sementara aku tetap berada di dalam mobil. Dan untu anak buah mamat sebanyak 30 orang di ringkus polisi dan dibawa memakai mobil polisi yang mengikuti mobil om ferdi. Sementara di depan kami mobil ambulance tengah membawa arya, risma dan istri om ferdi. Sedangkan untuk mamat ia berhasil kabur aku tak tau bagaimana caranya ia bisa kabur

***

Kini aku duduk bersama heru di parkiran rumah sakit sambil merokok setelah menjalani perawatan akibat perkelahian tadi. Sementara Arya Dan yang lain sedang di rawat di lantai 3 rumah sakit ini

“Hoooammm, ngantuk nyari kopi yuk bro’ kata heru yang kini di wajahya sudah melekat sebuah plester dan kapas menutupi lebam di wajahnya

“Ayo dah ” kataku pada heru. Dan segera menuju sebuah warung kopi sederhana yang berada di depan rumah sakit

Kami kemudian segera memesan 2 cangkir kopi hitam dan duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Tak berapa lama kopi kami kini sudah jadi dan di letakkan di meja kecil di depan kami

“Srruuph ah mantap kopinya haha” kata heru

” lu lagi mabok yah ketawa terus dari tadi?” Tanyaku pada heru

“Nggak bro kejadian tadi bikin ingat masa masa indah kita saat sma ” kata heru sambil mulai menyalakan rokoknya

Aku ikut meminum kopiku dan kemudian kubakar sebatang rokokku.”tawuran kok di bilang masa masa indah her her, makanya tuh rambut kribo sering sering disampoin biar kepala lu bisa adem dan pikiran lu jernih”

“Haha apa hubungan ji pake shampo dengan pikiran jernih lu ada ada aja.”

“Oh nggak ada hubungannya yeh maap maap” kataku sambil tersenyum. Hanya dengan herulah aku bisa bebas bercanda sambil sesekali saling mencaci. Bisa dibilang sahabatku soal kenakalanku adalah heru. Perkenalan kami dulu cukup unik karna aku dulu sempat menghajarnya hingga babak belur akibat meledek ayahku karna aku tak menjawab panggilannya saat ia mencoba memalak uang jajanku. Aku begitu marah saat ia mengatakan bahwa ayahku tuli dan miskin dan itu menurun padaku. Sejak saat itu heru malah menaruh hormat padaku dan kemudian kami berteman hingga sekarang ini.

” eh ji gimana hubungan lu dengan lisa” tanya heru

“Bisa di bilang gue dah putus sama dia tapi gue janji bakalan datang ngelamar dia kalo gue sukses nanti. Gue sekarang ngebantuin ngelola kafenya arya di kota seberang” kataku sambil membuang puntung rokokku.

“Bagus deh kalo gitu” kata heru
Aku kemudian tiba tiba memiliki ide untuk memberikan kejutan pada lisa untuk datang ke rumahnya. ” her, besok malam temani gue yah, mumpung gue disini gue pengen ketemu lisa, gue kangen banget her sama dia” kataku

“Fyyuuhh, kenapa nggak malam ini aja” kata heru sambil menghembuskan asap rokoknya

“Heh rambut brokoli kan loe liat sekarang udah jam 1 kan pasti dia udah tidur”

“Iye iye rambut mie tek tek nggak usah nyolot kali, yok balik lu nginep di rumah gue aja”

“Iye nih lu yang bawa motor” kataku sambil menyerahkan kunci motorku. Kami segera menuju parkiran dan mengambil motor. Aku kemudian menghubungi om rahmat lalu om budi yang berada di kamar rawat anak mereka masing masing untuk berpamitan. Dan setelah itu kami segera menuju rumah heru. Aku tak sabar ingin memberikan kejutan pada lisa esok malam. Untung saja aku membawa sedikit uang.

“Sampai ketemu besok lis” gumamku dalam hati…

To be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*