Home » Cerita Seks Mama Anak » My Fate, My Life Chapter 22

My Fate, My Life Chapter 22

Pov arya

Setelah mengantarkan aji pulang ke rumahnya. Aku dan risma menuju rumah mertuaku yang letaknya cuma beberapa blok dari sini. Kamipun sampai di rumah mewah kepunyaan kepala polisi bernama Rahmat wijaya ayah dari risma wijaya. Kulihat ada beberapa polisi di teras sedang berbincang dengan pak rahmat.

“Sore pah” sapa risma

“Dari mana kamu ma” kata pak rahmat santai

“Ini dari rumahnya aji pah, lagi ada kerjaankah pah keliatannya serius banget hihi” kata risma

“Iya, sudah masuk sana anak kamu dari tadi nangis terus” suruh pak rahmat

Aku dan rismapun segera masuk kerumah yang lumayan luas dengan dinding berwarna hijau ini. Saat kami duduk di ruang tengah, datanglah ibu rina, ibu dari risma sambil menggendong putri kami Sekar.

“Katanya sekar bawel yah bu nangis terus?, maaf yah bu ngerepotin” kataku

“Ah nggak apa masa ngerawat cucu sendiri kok repot” kata ibu rina

Sikap ibu rina sangat baik padaku. Walau aku tau dia pasti merasa kecewa saat aku menghamili anaknya tapi dia tetap bersikap ramah. Berbeda dengan pak rahmat yang masih dingin padaku.

“Kalian makan dulu tuh di ruang makan ada ayam bakar dan sayur sop, untuk ibu banyak masaknya tadi”

“Nantilah mah risma belum laper, eh ar kalo lo mau makan sana gih”

“Eh yang sopan dong masa sama suami ngomongnya gitu, ambilin makan dong suaminya” perintah ibu rina

“Udah bu nggak apa, saya ambil sendiri saja.”

Aku pun segera menuju ruang makan untuk sekedar mengisi perut. Setelah makan aku pun ke halaman belakang, sekedar merokok sehabis makan

“Cresst suara rokok yang tersulut lalu kuhisap dalam dalam dan kuhembuskan perlahan. Sambil merokok aku melamunkan nasibku. Walau aku telah punya istri dan anak jujur aku belum terlalu bahagia

Perlakuan istri dan ayah mertuaku yang masih dingin, akibat perbuatanku mengisi hari hariku.

Aku bahkan tak pernah berhubungan badan dengan istriku. Terkadang jika hasratku sedang meninggi akupun terpaksa menyewa gadis malam untuk melampiaskan syahwatku. Tapi ini sudah jadi konsekuensi atas perbuatanku kepada sahabat yang sudah kuanggap lebih dari saudara

Aku yang terlahir di keluarga kaya seorang pemilik pabrik rokok di kota ini. Ayahku bernama Budi winarmo dan ibu desi kusumawati seorang pegawai pemerintahan di kota ini. Sewaktu aku kecil aku sudah terbiasa di manjakan oleh uang kedua orang tuaku. Akibatnya aku menjadi anak yang boros dan sedikit arogan

Saat aku sd aku sekelas dengan aji. Aku juga dulu memandang remeh aji karna dia terlahir di keluarga yang biasa saja. Kadang aku mengoloknya miskin saat ia tak jajan karna memang uang sakunya terbatas. Namun ia hanya tersenyum dan bersabar. Sehingga aku berpikir kalau dia anak yang lemah.

Tapi semua pandanganku berubah saat kami kelas 6 waktu itu aku berjalan ke jalan raya menunggui taksi akibat supir ayahku tak bisa menjemputku. Saat melewati gang kulihat ada 3 anak smp yang sepertinya sudah kelas 3 karna memiliki tubuh yang cukup tinggi datang menghampiriku

“Eh bagi duit”kata satu dari 3 orang itu

“Nggak ada kak” bohongku karna memang uangku hanya cukup untuk ongkos taxiku akibat aku terlalu boros berbelanja di sekolah

“Ah bohong he rid periksa nih anak kata anak yang tadi pada temannya”
Saat menggeledahku anak itu menemukan uang seratus ribu di saku celanaku.

“Kak jangan kak” rengekku saat orang itu mengambil uangku dan mulai menangis

“Ah berisik *bugh” kata orang pertama yang menanyaiku sambil memukul keras pipiku hingga aku terjatuh. Kemudian mereka beramai ramai memukuliku.

Tiba tiba salah satu anak terjatuh dengan hidung berdarah. Ternyata aji datang melompat dan menendang hidung anak itu. Aji lalu memukul dagu satu anak lagi dengan keras sehingga anak itu terlonjak dan terlempar

Tiba tiba orang yang di panggil rid tadi menendang punggung aji. Aji jatuh terlungkup namun cepat berbalik. Saat anak itu ingin memukul aji. Aji dengan lincah menghindar dan mendaratkan pukulan di pipi kanannya kemudian menendang kakinya. Saat anak itu terjatuh aji memukuli wajahnya bertubi tubi sampai anak itu lemas

Ke dua orang yang di pukul aji berlari ke arah aji. Dan siap menyerang aji. Namun aji cukup gesit. Ia menyudahi memukuli salah satu anak dan berlari berlawanan arah . Aji di kejar oleh 2 anak itu. Karna kecepatan lari 2 anak itu berbeda sehingga ada salah satu yang tertinggal. Aji kemudian berbalik dengan cepat dan dengan setengah melompat menendang perut anak itu.

Saat terjatuh aji menginjak injak dada dan perut anak yang terjatuh itu dan terakhir menendang wajahnya
Melihat 2 temannya tak berdaya satu anak kabur melarikan diri. Aji lalu menanyakan pada anak yang ada di dekatnya dimana uangku. Kemudian ia menggeledahnya dan menemukan uangku.
Aji lalu datang menghampiriku yang babak belur

“Ini duit kamu, saya anterin kamu pulang kamu pasti masih lemas di pukuli”

Aku hanya mengangguk. Aku betul betul merasa malu pada aji. Orang yang kuremehkan ternyata menolongku. Aji memapahku menuju jalan raya dan akupun menghentikan taksi. Kemudian aku dan aji menuju rumahku

Saat kami tiba di rumah. Ibuku histeris melihatku yang babak belur dan langsung merawatku. Sementara aku dirawat kutinggalkan aji di ruang tamu
Setelah aku di rawat dan berganti pakaian aku dan ibuku segera menuju ke ruang tamu. Kulihat aji hanya menatap ke atas memandangi megahnya rumahku

“Rumah kamu besar ar lebih bagus dari rumahku hehe” kata aji

“Ah biasa aja, makasih ya ji sudah nolongin aku” kataku

” iya sama sama, sebagai teman kan harus saling tolong” kata kata aji membuatku merasa tak enak hati karna dia masih menganggapku teman padahal aku sering mengoloknya

“Makasih loh sudah nolongin anak tante, ayok makan dulu” ajak ibuku

“Nggak usah tante saya pulang aja, mau jaga warung punya ibu saya”

“Oh ya sudah ini uang buat pulang” kata ibu

“Nggak usah bu saya ikhlas nolongin arya” tolak aji

“Atau begini saja kamu pulang diantar supir aku aja bareng aku” kataku

Aji terlihat berpikir kemudian dia mengangguk dan tersenyum. Akupun mengantarkan aji pulang bersama supirku.

**

Sejak saat itu aku dan aji menjadi sahabat dekat. Saat smp aku mengambil kursus karate dan kuajak aji bersamaku. Kami berdua bersamaan memulai dengan sabuk putih namun setelah setahun aji lebih dulu memakai sabuk hijau sedangkan aku masih awal memakai sabuk kuning. Begitu masuk sma aji sudah memakai sabuk coklat tua.

Selama kami berteman aji mengajarkanku sikap sederhana, menghargai orang dan bagaimana bersabar. Aji mengajarkanku juga untuk menjadi orang yang lebih patuh terhadap orang tua. Aku sangat bersyukur bisa bersahabat dengan aji

Saat sma aji mulai mengenal miras dan rokok serta tawuran akibat bergaul dengan heru. Walau begitu sifatnya tetap sama. Tetap baik

Namun waktu itu heru mengajak aji menyerang sma 5 yang berada beberapa gang dari smaku yakni sma 10. Aji dan herupun pergi ke sana

Esoknya aji dan heru serta teman teman yang lain yang ikut tawuran di panggil orang tuanya. Mereka di ancam akan dikeluarkan dari sekolah. Aji menceritakan bagaimana ayahnya memohon untuk tak dikeluarkan dari sekolah karna tak punya biaya memindahkan aji
Dalam ceritanya aji menangis melihat ayahnya. Ia menyesal atas perbuatannya lalu di depan ayah dan guru ia berjanji tidak akan berkelahi lagi seumur hidupnya. Walaupun ada orang yang memukulinya

Sejak saat itu aji berhenti karate. Ia menjadi anak yang baik di sekolah. Karna kepandaian aji bermain gitar aku pun mengajak aji untuk membuat band sekolah ia pun mengajak heru dan adi ke dalam band

Kami berempat sejak saat itu bersahabat akrab. Namun semua berubah saat aji mengetahui aku berhubungan badan dengan risma. Aku bersyukur aji masih mengingat janjinya dan tidak memukuliku karna kutahu aji jika benar benar marah emosi dan tenaganya sangat kuat dan ia akan menyerang orang berapapun dengan membabi buta

Setelah peristiwa itu aji menghindari risma dan aku. Risma selalu saja menangis di belakang sekolah dan akupun menenangkan dengan memeluknya.

Namun pernah suatu saat heru melihatku memeluk risma. Ia kemudian mengataiku penghianat dan suka merebut pacar orang karna yang dia tahu risma berpacaran dengan aji. Heru dan adi setelah itu juga menjauhiku

Aku bersyukur bisa melihat aji di kafe itu saat aku sedang melakukan survey kafe karna aku tertarik ingin membuat sebuah kafe. Kulihat aji yang gondrong dan bermain gitar tengah menyanyikan lagu firehouse everything for you

Esoknya aku pun memberitahu risma. Dia sangat senang lalu dia memintaku membawanya bertemu aji. Dan setelah beberapa hari aku membawa risma menuju kafe itu. Sementara risma menemui aji. Aku memilih untuk duduk di mobil karna aku takut padanya.

Risma dan aji kemudian datang. Risma memintaku membawanya bersama aji menuju rumah kami. Saat berada di dalam mobil risma terus menghujani wajah aji dengan ciuman. Jujur aku sakit hati melihat calon istriku menciumi laki laki lain tanpa paksaan. Setelah berada di rumah dan kami masuk ke kamar lagi lagi aku melihat hal yang membuat hatiku panas dan sakit hati. Namun setelah kufikir inilah mungkin balasanku

Kawanku, sahabatku, saudaraku yang selama ini menolongku, mengajariku hal baik orang yang bisa kuanggap sebagai kakak dalam hal kedewasaan padahal umur kami sama. Malah aku menyakiti hatinya dengan merebut pasangannya.

Aku menangis menyesali perbuatanku dulu. Aku bertekad akan selalu membantu aji dari segi materi maupun tenaga. Aku ikhlas jika aji menyetubuhi risma.

Lamunanku terbuyar saat risma menepuk pundakku kulihat ia sedang menggendong putri kami yang sudah tertidur

“Ayok pulang” ajaknya

Kami pun segera berpamitan pada ayah dan ibu risma. Disaat dalam perjalanan risma berkata padaku

“Gue mau tinggal bareng aji nanti”

“Tapikan kita kuliah sayang” kataku

“Gue mau pindah kuliah di kota kembang aja” tegas risma

“Trus sekar gimana?”

” ya bareng guelah emang loe bisa nyusuin? Nggak bisa kan. Gue masih punya hati nurani sebencinya gue sama loe tapi anak ini keluar dari rahim gue berarti gue harus rawat dia.

“Aku hanya mengangguk saja menuruti keinginannya

***

Esoknya pukul 11 siang aku dan risma segera menuju ke rumah aji. Dalam perjalanan aku menelfon ibunya aji untuk segera bersiap menuju ke kota kembang. Sesampainya di rumah aji kulihat aji dan ibunya sudah menunggu di depan teras rumah. Ibunya aji memegang sebuah koper besar begitu pula dengan aji. Aku segera memarkirkan mobil di tepi jalan dan segera masuk menemui mereka.

“Udah siap bro? Kataku pada aji

Aji mengangguk. Kubantu ibunya membawakan kopernya dan memasukkannya kebagian bagasi mobil begitu pula aji yang memasukkan kopernya.

“Ar bantu gue ngegembok pagar rumah”
kata aji yang membawa sebuah gembok besar dan rantai besar

Aku pun membantu aji memasang rantai pada gerbang rumahnya. Aji kemudian memasang gembok dan menguncinya

“Biar aman hehe” kekeh aji

“Alah ji siapa yang kuat ngangkat rumah loe haha, ayok berangkat sampe sana udah keburu magrib nanti” kataku. Kami pun segera menuju mobil sedanku dan segera menuju kota kembang

***

Butuh 6 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai disana. Aku dan aji secara bergantian menyetir mobil. Sementara ibu radiah dan risma duduk di belakang asik berbincang. Ibu radiah banyak memberikan tips merawat bayi pada risma selama mereka berbincang diselingi candaan. Aku kagum dengan ibunya aji yang begitu cantik pintar dan juga humoris. Tapi sayang sifat aji malah seperti ayahnya yang cenderung pendiam dan tegas walau kadang aji juga bisa berubah menjadi orang yang humoris

Aku kemudian mengarahkan mobilku ke jalan RW Monginsidi. Disanalah kos kosan ayahku kos kosan tersebut sudah berdiri sejak 10 tahun lalu. Sebuah rusun yang terdiri dari 3 lantai terdapat 10 kamar tiap lantainya. Kos tersebut letaknya sangat strategis. Di sebelah baratnya terdapat universitas Bramawija salah satu kampus terkenal di kota ini. Di sebelah timur terdapat rumah sakit besar. Di sebelah utara sekitar 3 kilo terdapat mal dan juga banyak kafe yang menjadi tempat hang out buat anak muda. Sedangkan di sebelah selatan sekitar 2 kilo sebuah pasar tradisional berdiri disana.

Di dalam wilayah kosan didekat kosan sebuah rumah sederhana yang akan di tempati oleh aji. Luas wilayah kosan tersebut sebesar lapangan sepak bola.
Ada lapangan basket di dalamnya dan juga masih ada lahan kosong di sampingnya. Kosan tersebut sekarang terdapat 20 orang di dalamnya yang sebagian besar diisi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari golongan menengah atas dan sebagian besar adalah anak dari relasi ayahku. Kosan tersebut merupakan kosan campur antara laki laki dan perempuan namun memiliki peraturan jika diatas jam 12 gerbang akan di kunci dan saat menerima tamu pintu kamar tidak boleh di tutup dan juga setiap tamu yang berkunjung akan di periksa.

Setelah masuk ke wilayah kosan yang terletak di dalam sebuah gang yang cukup besar. Aku memarkirkan mobilku di lahan parkir. Aji, ibu radiah beserta risma dan anakku turun dari mobil aku pun segera membawa mereka menuju kerumah yang ada di dalam wilayah kosan tersebut. Rumah ini di buat ayahku sebagai tempat bernaung bagi orang yang bertanggung jawab mengawasi kosan dan menerima pembayaran. Sebab ayahku tak bisa turun langsung mengawasi karna kesibukannya dalam bisnis rokoknya serta ditambah sekarang ia ikut menanam saham dalam bidang batu bara

Rumah yang berada di wilayah kosan tersebut memiliki 2 buah kamar tidur sebuah ruang makan dan dapur yang memiliki peralatan lengkap dan juga kitchen set. Dan juga sebuah kamar mandi yang cukup besar yang terdapat bath up dan shower di dalamnya

Di ruang tengah ada 2 buah sofa untuk satu orang dan sebuah sofa besar yang menghadap ke arah sebuah Led plasma berukuran 20 inch dan terdapat sound system speaker serta sebuah dvd player. Di tengahnya terdapat meja yang berbentuk unik seperti bagian tengah pohon yang terpotong

Sesampainya di dalam ibu radiah menyeret kopernya dan koper aji menuju kamar yang terletak di sebelah kanan ruang tengah yang aku tunjukan sementara aku risma dan aji duduk di sofa

Aku duduk di sofa yang kecil sementara di seberang risma dan aji duduk berdampingan di sofa yang besar.

“Wah kosanmu besar sekali ar, berapa biaya sebulan tuh?” Tanya aji saat kami semua sudah duduk di dalam ruang tengah

“Yah beginilah ji, sebulan biaya kos itu 4 juta saat mereka membayar kamu mendapat komisi 10% dari bayaran mereka

“Banyak bener ar apa kamu nggak rugi?” Kata aji terkejut

“Tidak kok semua sudah ku perhitungkan” kataku.
“Oh iya ji gue sama risma menginap disini dulu besok baru kita menuju kafe milik gue yah, yok temenin gue cari makan di luar biasanya ada penjual nasi goreng di dekat gang”

Aku dan aji segera menuju keluar. Saat berjalan aku bertemu dengan pak karyo. Seorang pria berumur 40 tahun yang menjadi security disini dia adalah seorang duda yang ditinggal pergi istrinya dengan laki laki lain padahal menurutku pak karyo adalah orang yang baik.

“Malam pak” sapaku

“Eh mas arya mau mantau kosan yah”

“Enggak pak ini saya bawa teman saya untuk nanti yang mantau kosan kenalin pak” kataku memperkenalkan aji

Setelah aji dan pak karyo berkenalan aku pamit ke pak karyo untuk keluar membeli makan. Setelah membawa 4 bungkus nasi goreng kami segera kembali menuju rumah di dalam rumah kulihat risma dan ibu radiah tengah saling bercanda

“Makan dulu ma, tante” kataku pada mereka

Setelah kami makan kami kembali saling berbincang, pukul 11 malam ibu radiah pamit untuk tidur dan disusul oleh aji. Aku dan risma kemudian segera menuju kamar. Dalam kamar terdapat sebuah ranjang yang cukup besar. Risma yang semenjak tadi sudah berganti pakaian dengan sebuah lingerie berwarna merah yang cukup sexy segera mengambil posisi terlentang di sebelah kiri ranjang. Aku pun mengambil posisi di sampingnya sementara di tengah putri kami sedang tertidur pulas

Pukul setengah 3 aku terbangun. Kulihat di samping tak ada risma. Akupun bermaksud menuju dapur untuk minum. Namun saat aku hampir sampai di dapur kudengar suara lenguhan dan desahan risma

“Plok plok ah kontol kamu enak banget sayang, ough ayo sayang sambil nyusu, toket aku ada asinya loh hihi” sayup sayup suara risma

“Oughhh iya isep sayang, ough ah aku mau keluar sayaang oughh memek aku keenakan ahhh sshh ahhhh jii kkkeellluuaarr saayyang” suara risma makin lantang

Saat aku melangkahkan kaki masuk ke dapur kulihat risma tengah duduk dipangkuan aji yang duduk di kursi meja meja makan. Risma sudah bertelanjang bulat mendekap aji

“Ehh ar ” kata aji gelagapan melihatku mengambil minum di sampingnya

“Santai ji gue cuma haus kok,hehe” aku mencoba bersikap santai

“Lanjutin aja ji gue mau lanjut tidur” kataku sambil menepuk bahunya, risma dengan ganas kembali mencium bibir aji

Saat aku melangkahkan kaki keluar sayup sayup kembali terdengar suara desahan risma, walau berat aku harus bisa ikhlas dan bersabar. Saat sampai ke depan pintu kamar kulihat ibu radiah yang memakai baju tidur sutra tipis sedang berdiri disana.

Baru kali ini aku melihatnya tanpa jilbab. Rambut panjang sepunggung sedikit bergelombang berwarna hitam, ditambah tubuhnya yang montok dan payudara yang besar. Sungguh sangat sexy ibu dari sahabatku ini

“Kenapa tante kok nggak tidur”.

“Mana bisa tante tidur pas mau minum eh di dapur aji lagi nakalin istri kamu, kamu nggak marah ar?” Tanya bu radiah

“Nggak apa tante, ceritanya panjang kalau saya ceritain. Saya masuk dulu tan”

“Tunggu dulu tante tau kamu pasti lagi pengen juga kan gara gara ngeliat aji”

“Maksud tante?”

“Aduh pura pura polos lagi, kamu pengen ngentot juga kan? Kata ibu radiah yang mengelus penisku di balik boxerku

Aku baru pertama kali mendengar ibu radiah berkata sevulgar itu

“Ayo sini ke kamar tante, itung itung ngebalas kebaikan kamu. ”

“Tapi aj….” kata kataku terpotong saat ibu radiah menarikku menuju kamarnya

Aku tak tau apa yang akan di lakukannya padaku aku hanya pasrah mengikutinya. Aku hanya bisa bergumam maaf ji …

To be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*