Home » Cerita Seks Mama Anak » My Fate, My Life Chapter 21

My Fate, My Life Chapter 21

Pov aji

Aku keluar dari rumah pak mustava. Menaiki motor butut milik ayahku. Maafkan aku lisa tapi ijinkan aku pergi sejenak, biar kamu bisa menghilangkan ide gilamu untuk membuatmu hamil. Bukannya aku terima kalau kamu di jodohkan. Tapi aku punya pemikiran sendiri untuk menggagalkan perjodohanmu. Yaitu dengan kesuksesanku yang akan membuat ayahmu menerima hubungan kita. Aku bisa saja melawan tapi itu tidak mungkin, tidak mungkin aku melawan pada orang tua kekasihku.

Kupacu motor ayahku dengan agak kencang. Namun tiba tiba ada mobil swift yang memepetku ke pinggir jalan. Aku tahu kalau ini mobil rendi. Aku kemudian berhenti di pinggir jalan. Rendi kemudian menghentikan mobilnya di samping motor butut ayahku.

“Masih hidup aja loe kampret haha gue kira lu dah mati di gebukin ama orang suruhan gue” kata rendi sambil tertawa. Ternyata dia yang menyuruh orang untuk memukuliku

“Lu mau apa lagi ren apa lu nggak puas”?

“Puas? Setelah lu ngerebut lisa dan bikin muka gue babak belur juga ngegangguin gue pas lagi enak isepin toket lisa?.hoho gue belum puas sebelum loe mampus dan lisa jadi milik gue lagi

“Ren gue kasi tau kalo gini cara lo dapatin cewek yang ada cewek nggak suka ama loe, lagi pula kita punya pacar itu bukan cuma buat dijadiin pelampiasan nafsu aja. Cewek itu juga mau dicintai dan dijaga”

“Hahaha muna banget lo jadi orang, heh gue kasi tau yeh cewek itu cuma butuh kontol, apalagi yang masih perawan kayak lisa pasti dia bakalan nagih haha”

“Ren jangan lagi sekali kali loe bilang kayak gitu tentang lisa atau…”

“Atau apa? Emang lu bisa apa haha. Untung banget gue lewat disini jadi bisa ketemu sambil matiin loe haha” kata rendi yang mengambil sebilah samurai dari tangannya
“Untung aja pesanan katana gue buat koleksi dah jadi. Samurai ini bakal nganterin loe ke neraka”

Rendi langsung berlari menuju ke arahku namun dengan cepat aku menendang tubuhnya hingga terjatuh kebelakang. Ia lalu segera bangkit dan mengarahkan katananya ke arah dadaku.

Aku menghindar ke arah kiri. Namun dengan cepat ia berbalik lalu memukulku dengan tangan kirinya.

Aku agak terhuyung namun kulihat ia seperti ingin menebas kepalaku. Akupun merunduk menghindari sabetan katananya. Dan segera meninju perutnya. Saat ia menunduk menahan sakit di perutnya kutendang kepalanya dengan kaki kananku.

Rendi hanya terhuyung sebentar. Kemudian berlari kembali mengarahkan katananya menuju perut. Dengan sigap aku menghindar ke kanan namun sayang ada kerikil kecil yang menggoyahkan kaki ku sehingga aku pun terjatuh dengan kepalaku terbentur keras ke aspal. Melihatku yang jatuh terlentang rendi menduduki perutku mengarahkan katananya ke wajahku

“Haha loe ada pesan terakhir nggak,? . Karna begitu loe mampus gue jamin besok lisa pasti akan ngerasain kontol gue. Dan jadi budak seks gue.. haha

Aku benar benar emosi saat dia mengucapkan kata kata itu. Kutendang punggungnya dengan pahaku. Pada saat itu pula dia menusukkan katananya ke arah bahu kiriku. Namun aku tak merasakan apa apa. Aku sudah benar benar muak dengan orang ini. Saat ia akan mencabut katanya kutahan lengannya dan segera ku cengkram sekuat tenaga. Ia pun menjerit melepaskan pegangan pada katannya.

Segera kusentakan badanku hingga ia terjatuh kesamping. Aku tau dengan begini akan semakin membuat luka di bahuku. Namun ini resiko.
Saat dia terjatuh aku segera berdiri. Dengan cepat kucabut katana itu dari bahu kananku. Darah mengucur deras setelah katana itu tercabut. Kuarahkan katana itu ke arahnya yang juga telah berdiri. Kupandangi dia dengan tajam

“SUDAH GUE BILANG JANGAN NGOMONG KAYAK GITU TENTANG LISA NJING” teriakku

“Ah bacot” kata rendi yang berlari menyerangku yang terluka. Segera saja kupukulkan bagian tumpul katana itu ke kepalanya. Ia yang tidak bisa menghindar hanya bisa memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah.

Segera kutendang perutnya. Dia dengan sigap membalas juga dengan memukul lengan kananku yang memegang katana sehingga katana itu terlepas.

Kutendang kembali dada hingga dia terjatuh lalu kuhujami dengan pukulan bertubi tubi ke arah dada dan kepalanya.

Aku benar benar seperti orang kesetanan tak kupedulikan rasa sakit di bahuku yang terus mengeluarkan darah. Wajah rendi benar benar babak belur. Tiba tiba kurasakan ada orang yang menahan kedua tanganku

“Sudah ji mati anak orang!” kata orang itu

Aku menoleh kulihat arya memakai stelan jas menahan kedua tanganku. Kulirik rendi yang tubuhnya kududuki sudah pingsan.

“Hiks ji kamu nggak apa” suara risma terdengar di telinga kanan namun saat aku akan menoleh pandanganku berubah gelap.

***

Aku terbangun dengan bahu yang teramat nyeri dan kepala yang berat. Kulihat disekelilingku aku sepertinya berada di rumah sakit dan sepertinya ini ruangan vip. Dengan tv, kulkas ,ruangan ber ac dan kulihat ada risma yang tertidur di sofa besar itu

Pintu tiba tiba terbuka kulihat arya masuk bersama seorang dokter pria berkacamata berumur 40an

“Loe dah sadar ji?” Tanya arya

“Iya gue dimana nih ar?” Kataku sambil bangkit berusaha duduk namun di tahan arya

” udah loe tiduran aja ji, loe lagi di rumah sakit medika.”

“Gimana keadaannya mas apa bahunya masih sakit?” Tanya dokter itu

“Masih dok,” kataku saat mencoba menggerakan lengan kananku

“Ya sudah mas istirahat saja dulu. Luka tusukan di bahu mas cukup dalam mungkin pulih seminggu atau lebih, mas juga kehilangan banyak darah untung cepat di bawah kesini.” Kata dokter

Dokter itupun melakukan pemeriksaan kemudian pamit kepada arya dan meninggalkan ruangan itu.

“Maaf yah ar gue ngerepotin”

“Santai aja ji, sebagai sahabat sudah harusnya gue nolongin loe”

“Kalian semalaman ada disini? Kenapa risma nggak di ajakin pulang kasian dia harus tidur di sofa”

“Dia yang ngotot pengen nemenin loe. Lagi pula siapa yang bawa motor bokap loe kemari nanti kalo gue anterin risma pulang”

“Loe ngapain tengah malam ada di jalan terus ada masalah apa loe sama tuh anak semalem?

Akupun menceritakan kisahku dengan lisa hingga aku yang diusir pergi dari rumahnya oleh ayahnya

“Hmnm gue ikut prihatin sob, gini aja sekarang loe istirahat dulu di rumah sakit ini trus nanti loe kerja di tempat gue, kebetulan gue punya kafe baru beberapa bulan buka tapi adanya di kota kembang sana gue lagi butuh asisten buat ngehandle kafe itu kan loe tau sendiri gue sekarang nyambil kuliah di kota ini loe mau nggak?

“Boleh ar kerjaan apapun gue mau thanks ar”

“Sip anytime buddy setiap loe punya masalah jangan ragu minta bantuan yah”

Saat kami berdua mengobrol kulihat risma terbangun dari tidurnya. Ia langsung menghampiriku .

“Kamu dah sadar ji, luka kamu udah baikan kan” kata risma sambil mengelus kepalaku. Kulirik arya dia hanya tersenyum padaku.

“Kamu belum makan kan ma, aku cariin makan dulu yah.” Kata arya

“Iya” kata risma dingin tanpa melihat arya. Aryapun berlalu keluar.

” kamu jangan gitu sikapnya ma, biar bagaimanapun dia tetap suami kamu”

“Biarin ajalah ji, dia memang suami aku tapi aku nggak sayang sama dia, aku tetap sayang sama kamu ji”

“Ini bukan rasa sayang ma, kamu hanya merasa bersalah atas kejadian dulu itu aja.

“Terserah katamu ji, tapi bagiku aku bener bener masih sayang sama kamu.”

Tak berapa lama arya telah kembali membawa 2 buah kantong berisi bubur ayam. Arya kemudian menyiapkan peralatan makan yang ada di kamar pasien kemudian memindahkan bubur itu ke mangkok dan memberikan satu ke risma

“Nih ma makan dulu” kata arya
Risma mengambil mangkok yang diberikan arya. Arya kemudian duduk di sofa sedangkan risma masih tetap duduk di dekatku

“Kita makannya bareng yah ji” kata risma yang mau menyuapiku

“Nggak usah ris, aku nungguin makanan dari rumah sakit aja” kataku. Aku mau menjaga perasaan arya tidak mungkin dia tak sakit hati melihat istrinya menyuapi lelaki lain

“Pokoknya aku nggak mau tau ayo aaa” kata risma yang menyodorkan sendok itu ke mulutku. Dengan terpaksa aku membuka mulut dan mulai memakannya. Kulirik arya dia hanya mengangguk dan tersenyum

Setelah kami selesai makan kami kembali berbincang.

“Jadi nanti kamu mau kerja di kafenya arya ji”tanya risma

“Iya ma hehe, eh ar gue nanti tinggal di mana kalo gue nanti kerja disana?” Tanyaku pada arya

“Lu nanti tinggal aja di kos kosan punya bokap gue, sekalian ngehandle kos kosan juga kalo anak anak mau ngebayar kos duitnya titipin aja ke loe

” wah makasih banyak ar gue nggak tau harus bagaimana balas kebaikan loe”

“Santai aja lagi, ini juga buat ngelatih loe biar bisa jadi pemimpin dan bisa sukses biar lo bisa buktiin ke bokapnya pacar loe”

“Iya ji jangan sungkan yah” kata risma sambil mengecup pipiku

“Eh ngomong ngomong anak kalian dimana” tanyaku

“Lagi dirumahnya orang tuaku ji” kata risma

“Ya sudah gue pamit dulu yah kebetulan gue lagi ada kuliah, ma kamu juga ada kuliahkan ayo”

“Males ah gue mau jagain aji aja” kata risma

“Udahlah ma kuliah aja dulu lagi pula aku kan seminggu disini nggak mungkin kabur” kataku pada risma

” ya sudah aku berangkat kuliah dulu yah sayang jaga diri kamu” kata risma dan kembali menciumku di depan suaminya. Rismapun segera berlalu keluar dari kamar

“Maaf yah ar gue jadi nggak enak, karna risma terus nyiumin gue”

“Santai aja ji gue nggak apa kok, mungkin inu balasan buat gue ngehianatin sahabat gue dari kecil” kata arya menepuk bahuku.

“Gue kuliah dulu yah entar sore gue datang lagi”

Kini aku sendiri disini. Ingin kuhubungi ibu tapi baru kusadari kalau handphoneku tak ada. Mungkin jatuh atau tercecer saat aku berkelahi dengan rendi. Kuputuskan untuk beristirahat saja semoga seminggu lagi aku bisa sembuh

***

Seminggu kemudian aku pun keluar dari rumah sakit. Aku diantarkan pulang oleh risma dengan menggunakan mobil sementara arya mengikuti kami memakai motor ayahku

30 menit kemudian akupun sampai di depan rumah. Aku segera masuk kedalam disusul oleh arya dan risma. Kulihat ada 2 pasang sepatu laki laki di depan pintu rumah. Apakah ibu berulah lagi tanyaku dalam hati

“*tok tok bu assalamualaikum,” salamku

Tak berapa lama pintu terbuka, ternyata ibu yang membukakan pintu. Ia memakai baju gamus putih dan celana kain putih serta jilbab biru. Ibu langsung memelukku.

“Kamu dari mana aja nak” tanya ibu

“Maaf bu ajinya baru saja keluar dari rumah sakit” kata risma di belakangku

“Eh ada risma sama arya ayo masuk, di dalam aja kita ngobrolnya
Kami pun masuk ke ruang tengah kulihat heru dan adi ada disana sedang minum kopi. Kami pun ikut duduk lesehan bergabung dengan mereka

“Dari mana aja loe ji gue cariin seminggu ini” kata heru

“Aji baru aja keluar dari rumah sakit her” kata arya

“Lah loe sakit apa ji” tanya adi

Akupun menceritakan kejadian seminggu yang lalu pada mereka dimulai saat aku pergi dari rumah lisa sampai ditolong oleh arya

“Brengsek anak mana tuh beraninya berantem pake senjata” geram heru

“Udahlah her udah lewat ini”

“Oh iya bu ibu mau nggak ikut aji ke kota kembang, aji kebetulan dikasih kerjaan ama arya?” Tanyaku pada ibu

“Kerjaan apa itu ji?”

Sebelum aku menjawab, Arya langsung menjawab pertanyaan ibu tentang pekerjaan yang dia berikan padaku

“Oh iya deh ibu ikut, lagian kalo ibu tinggal disini ibu takut, pak kasim masi saja neror ibu padahal urusan ibu sama dia udah selesai. Kapan mau berangkat kesana ji?

“Besok aja bu kebetulan besok minggu biar aku dan risma nganterin kalian” kata arya

Setelah itu kami pun salibg bercanda. Kulihat heru dan arya sudah akrab kembali. Padahal sebelumnya persahabatan kita sempat renggang.

Sekitar pukul 4 sore mereka semua pamit pulang. Tinggallah aku berdua dengan ibu.

Akupun segera menuju kamarku berbaring di ranjang. Ibupun datang menyusulku dan duduk di samping ranjang.

“Kamu sudah kabari lisa ji?” Tanya ibu

“Belum bu biarkan saja dulu, aku tak mau mengganggunya. Dan juga saya minta ibu jangan kasih tau mereka yah

“Ya deh apasih yang nggak untuk anak ibu,” kata ibu mengelus pahaku terus menuju selangkanganku sehingga membuat penisku berdiri

“Ih ada yang bangun,” kata ibu mengelus pelan penisku

“Ayo sayang kita mandi bareng yuk ibu lagi pengen nih, kita main dikamar mandi yah trus sekalian mandi”

“Ya sudah ibu duluan saja ke kamar mandi biar aji nyusul

“Hore makasih sayang ibu tunggu loh muach” kata ibu mencium bibirku

Setelah mengenakan handuk yang kulilitkan di pinggangku aku pun segera menuju kamar mandi yang berada di samping dapur.

Saat kubuka pintu. Kulihat ibu sudah telanjang bulat dan tersenyum nakal padaku

Aku pun segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Setelah itu kubuka lilitan handukku. Sehingga penisku yang sudah berdiri akibat pemandangan tubuh bugil ibuku terlihat

“Ih ibu sudah kangen dengan ini muach” kata ibu mencium bibirku sambil tangannya mengelus penisku.

“Ayo sayang kita siram dulu badan kita pakai air trus sabunan” ajak ibu

Kami pun bergantian membasahi badan kami dengan air. Ibu kemudian mengambil botol sabun cair dan menumpahkan ke tangan kirinya. Ia kemudian menyerahkan botol sabun kepadaku aku pun menuangkan sabun itu ke tangan kiriku. Aku dan ibu kemudian saling menggosoki badan dari depan. Kami saling menggosoki leher dada dan selangkangan kami.

Setelah merata akupun kembali mengambil sabun cair kusuruh ibu menghadap ke belakang lalu kugosoki tengkuk, punggung dan pantatnya. Pemandangan tubuh ibu yang penuh busa sabun benar benar menggairahkan

Sambil kugosoki punggungnya. Aku mendekatkan tubuhku sehingga penisku menempel pada bongkahan pantat ibu yang kenyal dan montok itu.

“Sshhh ahhh” desah ibu saat kugesekan penisku ke pantatnya. Kuangkat tangan ibu keatas lalu kugosoki kedua ketiaknya sambil tetap menggesekkan penisku ke pantatnya.

Ibu kemudian berbalik. Dia menatapku sambil tersenyum. Kulihat wajahnya memerah akibat nafsunya. Ibu kemudian merapatkan tubuhnya memelukku.

Payudaranya yang besar menekan dadaku. Tangannya turun mengocoki penisku. Lalu kamipun berciuman dengan ganas

“Hnmmmpp muach suara kecipakan mulut kami. Tangankupun tak tinggal diam menggosoki vagina dan klitorisnya

“Sshhh ahh tangan kamu nakal nak, ah cepetin sayang” desah ibu
Kupercepat gosokan tanganku di vaginanya. Kumasukkan jari tengahku ke dalam vaginanya dan kumaju mundurkan dengan cepat. Kocokan tangan ibu dipenisku mulai tak teratur akibat permainan tanganku.

5 menit aku menggosokki vaginaya tubuh ibu menegang, nafasnya tak teratur. Ibu tiba tiba berteriak lalu memelukku

“Ahhhhh ibbu keluarr nakkk ouughh”
Tubuh lemas ibu kemudian kutahan agar tak terjatuh

“Hosh hosh. Giliran kamu sayang. Ayo rebahan muach” kata ibu sambil mencium bibirku

Akupun tidur terlentang di kamar mandi. Ibu kemudian memposisikan dirinya duduk bersimpuh diantara kedua kakiku. Ibu kemudian mengocok penisku. Matanya menatapku sambil bibir bawahnya dia gigit. Ekspresinya betul betul membuatku makin bernafsu.

Ibu kemudian mulai memasukkan penisku kedalam mulutnya yang berbibir sensual. Sambil tangannya mengocok batang penisku. Mulutnya mengulum kepala penisku. Sambil sesekali dia menjilatinya

“Sllurrpp slurppp suara kuluman ibu pada batang penisku.

“Ah bu jepitin ke toket ibu dong” pintaku

“Hmmm slurrp plop kamu mau dijepitin di toket ibu sayang hah? Kamu nakal yah toket ibu disuruh jepitin kontol gede kamu” kata ibu vulgar

Ibu lalu memposisikan penisku diantara bukit kembarnya. Payudaranya benar benar masih kencang dan bulat dengan puting berwarna coklat muda. Penisku benar benar nikmat saat ia menggerakkan payudaranya naik turun mengocok penisku.

“Enakk sayaang hha? Shh enak jepitan nenen ibu?” Tanya ibu

“Ahhh enak bu”

Ibu lalu menunduk mulai menjilati kepala penisku yang ia kocok di payudaranya. Setelah beberapa menit ibu kemudian berdiri dan mengangkangi penisku. Ia turunkan perlahan pinggulnya. Penisku pun segera membela vaginanya yang berwarna kemerahan.

“Ahhh kontolmu enak nak nusuk mulut rahim ibu ough, enak nggak memek ibu sshhh ahh” desah ibu

“Ahh memek ibu enak sempit”

Ibu kemudian mulai menaik turunkan pinggulnya. Ia kemudian membungkukkan badan sehingga payudaranya tersaji di wajahku

“Nenen sayang sshhh ayo nenen. Isap toket ibu”

Akupun segera menghisap puting susu ibu sambil tangan kananku meremas payudara kanannya

“Ouhghh ahh yah issap truss oughh kontol kamu keras banget sayang. Memek ibu ahhh penuh kerasa banget shh”

Ibu kemudian kembali menegakkan badannya. Tangannya menopang di dadaku. Ia dengan cepat menggoyangkan pinggulnya naik turun terkadang juga memutar. Tanganku tak tinggal diam kuremas kedua payudaranya

“Shhh ahh ibu mau keluar sayyang, remes terus nenen ibu ohh memek ibu mau muncrat , ahhhh sshh dikit lagi ahh ahh swhh aahh ajjii ibuuu kelllluaaarrr” teriak ibu. Tubuh ibu melengkung sehingga payudaranya kian membusung.

Tubuh ibu kemudian ambruk menindih tubuhku. Tak berapa lama kemudian aku mengubah gaya. Kududkan ibu di pinggir bak mandi. Segera kumasukkan penisku ke vaginanya. Tanganku menahan agar ibu tak terjatuh ke bak mandi

“Ahhh sshhh kamu pintar sayanng oughhh memek ibu keenakan ahh truss sayang pompa ibu”

“Ah ibu memek ibu enak”

“Oughj memek ibu punya kontolmu anak ibu yang ganteng ahhh sshh”

“*plok plok plok suara hantaman selangkangan kami beradu. Sesekali kuciumi bibir ibu

“Hmmm muachh ahhh sshh bu sekarang ibu nungging”

“Ahhh kamu mau entot memek ibu dari belakang yah ahh sshh

“Ahhh iyaa bu cepet”

Ibu segera turun dari bak mandi. Dia menunggingkan pantatnya kearahku tangannya memegang bak mandi. Aku pun segera memajukan tubuhku. Kugesekkan penisku di vaginanya

“Ahh sshh jangan digesekin sayang geli. Masukkin dong ke memek ibu sayyang sshh cepet”

“Sleb segera saja kumasukkan penisku ke vaginanya dan langsung ke pompa tubuh ibu dengan cepat mengejar ejakulasiku

“Ahhh masuk kontolmu masuk ke memek ibu ahhhs hh trus sayyanng lebih cepat ibbu ahhh dikut lagi

“Ahhh aji juga bu

“Ahhh trus sayang memek ibu ngilu tapi nikmat sayang”

“Plok plok suara hantaman pinggulku di pantatnya

“Ahhhh buu aji mau keluar bu ahhh aji keluarrin di dalam yah bu ahhh sshh”

“Kelluariin ji ibu juga mau mun… oh ibu muncrat ibu muncrat ahhhh ibu keluarr sayyanng” teriak ibu

“Ahhhh ajii juga buuu” crot crot crot

“Ahhh pejuhmu hanget sayang di memek ibu”

Kupeluk tubuh ibu dari belakang. Tubuh kami sama menegang. Entah berapa banyak sperma yang kutembakkan kedalam vaginanya.

Setelah mengatur nafas akibat orgasme. Kami lalu mulai membasuh tubuh kami dan mandi

Setelah selesai mandi kami menuju kamar masing masing. Setelah berpakaian ibu kemudian mulai memasak di dapur. Setelah masakan selesai kami pun makan bersama sambil bercanda

“Ih ibu nggak dalaman yah”

“Hihi keliatan yah matanya nakal ih ”

Ibu memakai baju tidur berwarna biru sepaha tanpa lengan. Terlihat jelas tonjolan puting ibu di balik baju tidurnya yang tipis

Setelah makan kami menonton tv sebentar. Lalu jam 10 malam kami pun menuju kamar tidur ibu.

“Ayo sayang peluk ibu yah. Ibu mau tidur di peluk kamu.”

Ibu pun mendekatkan dirinya padaku yang tidur terlentang. Ia membelakangiku. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Tanganku menekan dadanya sementara pantatnya menempel di selangkanganku.

Aku pun tertidur dengan posisi itu. Menanti hari esok menuju kota kembang. Kota baruku

Lisa tunggu aku yah semoga aku sukses disana. Miss u

To be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*