Home » Cerita Seks Mama Anak » My Fate, My Life Chapter 20

My Fate, My Life Chapter 20

Pov aji

Aku kini sedang berbaring di ranjangku. Luka di wajahku sudah lebih baik sekarang. Aku bertanya tanya siapa yang memukuliku

Aku dikagetkan oleh suara bbm dari hapeku ah ternyata melisa. Paling dia mau mengucapkan selamat tidur padaku. Ku buka bbmnya dan ternyata perkiraan ku salah. Isi bbmnya membuatku benar benar syok

“Sayang malam ini kamu harus ambil perawanku plis sayang”

Ada apa sebenarnya, kenapa bisa lisa tiba tiba mengirimkan pesan seperti ini padaku. Kuputuskan untuk membalas bbmnya

Aku: kamu kenapa sayang

Lisa: plis sayang ke kamarku malam ini. Jam 12 aku tunggu

Kulirik jam di kamarku sekarang masih jam setengah 8. Kucoba memejamkan mata untuk tidur sejenak.

**

Aku terbangun karena kurasakan ada seseorang yang mengelus pipiku. Kubuka mataku dan kulihat bi inah duduk di tepi ranjangku. Malam ini ia memakai daster batik tanpa lengan sepaha.

“Ada apa bi?” Tanyaku dengan suara parau

“Nggak apa cuma kangen aja sama aji, tadinya bibi pengen minta jatah tapi ngeliat kamu tidur nyenyak banget makanya nggak jadi bibi cuma pengen liat kamu aja. Kamu kecapean banget kayaknya. Trus ini luka kok bisa ada?

“Hmm maaf yah bi, lain kali aja. Ini habis kepentok pintu heheh”

“Ah kamu nggak bisa bohong habis berantem lagi kan?”

“Nggak bi serius deh”

“Iya deh bibi percaya aja, ya sudah kamu lanjutin aja tidurnya tapi bibi dicium dulu dong”

Akupun membangunkan tubuhku dan mencium bibirnya.

“Muach met bobo ganteng”

“Iya bi”

Setelah bi inah keluar dari kamarku kulirik jamku sudah jam 12 ternyata
Akupun beranjak keluar dan menuju kamar melisa. Kuketok pintunya. Tak berapa lama pintu dibuka. Kulihat wajah melisa begitu sembab seperti habis menangis. Ia langsung menarik tanganku menutup pintu tanpa menguncinya.

Pov mustava

“Sayang papa nggak bisa tidur nih mikirin melisa”
“Besok juga baikan kok pah, tenang aja. Mamah tidur dulu yah”

Aku mengiyakan keinginan istriku untuk tidur duluan. Aku masih memikirkan melisa saat ini. Baru kali ini dia menangis seperti itu dan lagi sampai mengatakan kalau aku jahat. Kuputuskan untuk menengoknya ke kamarnya.

Aku pun berjalan keluar dari kamarku menuju ke kamarnya. Saat berada di depan kamarnya aku mendengar suara lisa sedang berbicara. Mungkin dia sedang telfonan dengan sahabatnya namun aku di kagetkan dengan suara laki laki di kamarnya

“Pokoknya harus sayang ini satu satunya cara” sayup sayup kudengar suara lisa

“Tapi lis pikirin baik baik dulu” suara laki laki itu

“lisa udah pikirin semua sayang”

“Tapi tungg…. hmmmpp” suara laki laki itu tertahan.

Aku kemudian membuka perlahan pintu melisa

Kulihat aji dan lisa berciuman. Kurang ajar anak itu sungguh tak tau terima kasih. Aku pun langsung membuka dengan keras pintu itu. Berlari dan menarik aji yang ada di dekat lisa dan langsung memukulinya

Brak, bugh bugh bugh suara hantaman tanganku di wajahnya

“PAPAH BERHENTI PAH HUUU HIKS” Suara teriakan melisa menangis sambil menahan ku namun karena tenagaku lebih kuat ia tak bisa menghentikannya.

Tiba tiba di depan pintu kamar kulihat vita dan julia berdiri disana kemudian datang mencoba memisahkanku dengan aji.

“Pah cukup pah ” kata istriku
Lisa segera menolong aji mencoba membantu aji berdiri

KAMU ANAK KURANG AJAR BERANINYA MENCIUM ANAK SAYA ” teriakku sambil menunjuknya

“Bukan aji yang mau pah tapi ini kemauan lisa hiks, lagi pula aji tak salah

“Kamu kenapa mau dicium oleh dia lis” tanyaku

“Karna aji pacar aku pah, dan aku nggak mau dijodohkan. Aku maunya nikah dengan aji”

Jawaban lisa benar benar mengagetkan aku dan membuat emosiku semakin tinggi. Kusentakkan tangan julia yang menghalangiku dan kupukul wajah aji dengan sangat keras. Sehingga ia sedikit terlempar dan terjatuh di dekat pintu.

“Hey kamu punya apa berani beraninya memacari anak saya” geramku

Aji tak menjawab ia sibuk membersihkan darah yang keluar dari mulutnya. Sementara lisa segera membantunya mengelap darah aji di sekitar mulutnya.

“Aku cinta sama aji pah hiks papah berhenti pukulin aji hiks” kata lisa sambil menangis

“Baik papah berhenti tapi papa minta kalian akhiri hubungan kalian dan aji segera pergi dari rumah ini”

“LISA NGGAK MAU PAH LISA NGGAK MAU, KALO LISA PUTUS DENGAN AJI MENDING LISA MATI AJA” teriak lisa

“Om, lis boleh saya berbicara” kata aji tiba tiba

“Baik om saya akan memutuskan hubungan saya dengan lisa dan segera pergi dari rumah ini,”

“Huuu hiks jangan ji, aku nggak mau putus kalau kamu mau pergi bawa saja aku” kata lisa yang menangis di pelukan aji”
“Jangan menangis sayang, dengarkan yah hubungan tanpa restu orang tua itu percuma saja, aku nggak mau kita melanjutkan hubungan ini disaat ayah kamu masih belum merestui. Tapi aku janji pasti aku akan datang lagi membawamu dan menikahimu.

“Biarkan aku pergi sebentar dan mencari kesuksesanku jika aku mapan nanti aku akan datang melamarmu percaya lis. Kamu juga harus fokus dengan kuliahmu apalagi sebentar lagi kamu mau pkl kan sayang di perusahaan ayahmu.

“Aku janji lis aku pasti datang melamarmu” kata aji memberi pengertian pada lisa.

“Baiklah semua saya pamit pergi, tapi sebelum pergi saya punya pertanyaan untuk om. Apakah pernikahan hasil dari perjodohan tanpa cinta akan berhasil? Tanya aji tapi matanya menatap istriku yang tertunduk dan menangis ada apa sebenarnya. Aku bertanya tanya dalam hatiku

Aji segera keluar dari kamar meninggalkan lisa yang bersimpuh dilantai. Tangannya menutupi wajahnya. Ia menangis pilu

“PAPA PUASKAN HUUU HIKKS” Teriak lisa disela tangisnya.

Aku mencoba menenangkannya tapi ia menepis tanganku.

Vita dan julia kulihat menangis juga sambil berpelukan. Aku merasa orang paling jahat tapi aku sebagai laki laki pantang menarik kata kataku mengusir aji. Aku pun berlalu meninggalkan mereka bertiga dan masuk ke kamarku

***

Esok paginya jam 7 aku terbangun tak kulihat istriku tidur di sampingku. Aku pun mempersiapkan diri untuk menuju kantorku. Setelah mandi dan berpakaian rapi aku turun kebawah kulihat vita sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Namun wajahnya nampak lesu.

“Mama kamu dimana vit” tanyaku

“Dia di kamar kak lisa pah semalam kami tidur disana menenangkan kak lisa, siapa yang nganterin vita sekolah pah? Kak aji udah nggak ada?” Tanyanya

“Biar papa yang nganterin kamu. Nanti papa ngambil salah satu supir kantor buat jadi supir disini, kamu dah sarapan sayang?”

“Vita nggak nafsu makan pah, ayo pah berangkat” kata vita

“Kakak kamu nggak kuliah?”

” nggak pah hari ini katanya nggak ada kelas”
Aku pun segera mengantarkan vita menuju kesekolahnya. Setelah itu aku berangkat menuju kantorku “PT BARAJAYA “. Adalah perusahaan warisan ayahku yang bergerak di bidang ekspor batu bara ke china dan india.

“Pagi pak” sapa iren sekretarisku yang telah menungguku di loby. Akupun segera menuju ruangannku di lantai 5. Kupanggil ob untuk membuatkan ku kopi serta membawakan roti untuk sarapanku.

Selesai sarapan akupun menelpon rio untuk datang ke ruanganku.tak berapa lama rio pun datang. Mengetuk pintuku dan kupersilahkan dia masuk dan duduk di kursi yang berada di depanku

” ada yang saya bisa bantu pak?” Tanya rio

“Tidak, saya cuma mau membicarakan masalah perjodohan kamu. Begini rio, aku mau kamu menghibur lisa sekarang, ajak dia jalan bisa kan lagi pula di calon istrimu”
“Maaf pak tapi ada hal apa sampai saya harus menghibur lisa pak?”

“Semalam saya menyuruh pacarnya memutuskan hubungan dia dan lisa. Lisa pasti saat ini depresi saya mau kamu menghibur dia dan kalau bisa bikin dia suka sama kamu yah”

Rio pun hanya mengangguk namun ada raut keraguan di wajahnya. Setelah itu ia pamit menuju ke ruangannya

Pov rio

Aku benar benar bingung saat dalam perjalananku kembali ke ruanganku. Andai saja aku bisa menghentikan rencana perjodohan ini. Ayahku pak henrylah yang sebenarnya memberi usul pada pak mustava untuk menjodohkan kami padahal aku tau ayahku punya rencana terselubung untuk menguasai perusahaan ini dengan menikahkanku dengan anak pertama pak mustava

Aku sebenarnya sudah memiliki kekasih hati yang bernama rika tapi kami tiba tiba saja loss contact. Aku tahu ini pasti ulah ayahku. Ayahku tak setuju aku menjalin cinta dengan anak seorang pemilik toko material. Ayahku pasti telah menyuap ayah rika sehingga ia pindah dan aku tak tau dimana keberadaan mereka

Aku juga takut jika aku menentang ayahku pasti ia akan berbuat kriminal dengan menyuruh anak buahnya melukai keluarga rika dan juga rika.ayahku benar benar orang yang kejam dan licik
Begitu masuk ke ruanganku kulihat ayahku sudah ada disana. Ia menyeringai saat melihatku

“Apa yang pak mustava katakan padamu rio?”

Aku pun menceritakan perintah pak mustava untuk menghibur anaknya

“Haha bagus itu ini kesempatan dekati anaknya dan jika kamu menikah maka sebentar lagi perusahaan ini tinggal sedikit lagi kukuasai. Begitu kamu sudah menikahi anak mustava akan kubunuh dia maka perusahaan akan jatuh di tanganku. Dan istrinya yang cantik itu akan menjadi milikku atau lebih tepatnya budak seksku haha” kata ayahku dengan rencana busuknya

“Tapi..”

“Kamu jangan membantah atau kamu mau rika dan adik laki laki serta keluarganya masuk koran dengan bentuk sebagai mayat” kata ayahku menatapku tajam

Jika sudah diancam begini aku tak bisa lagi membantah aku betul betul mencintai rika. Aku tak mau terjadi apa apa padanya.

“Ayah kembali dulu ke ruangan ayah dan ingat jangan sampai kamu membocorkan rencana ayah pada anaknya ataupun pada pak mustava karna cuma ayah yang tau rika dan keluarganya ada di mana.” Kata ayahku sambil berlalu meninggalkanku

Pov julia

Aku benar benar kasian terhadap anak pertamaku lisa. Semalaman sampai pagi ini dia begitu bersedih. Tadi dia coba menghubungi aji namun nomer hapenya tak aktif. Dia kembali menangis.

“Sudah sayang jangan nangis mama tahu aji pasti nepatin janjinya buat kembali dan ngelamar kamu. Kamu fokus sama kuliahmu dulu sayang, mama akan bantu kamu meyakinkan papa kalau aji orang yang baik

“Hiks papa jahat mah hiks papa jahat” rengek lisa

“Kita coba ke rumah aji besok yah dia pasti ada di rumahnya. Hari ini kamu kuliahkan pake ngebohongin vita bilang nggak ada kuliah. Biar mama yang nganterin kamu.”

***

Esoknya jam 10 pagi kami kerumah aji. Setelah sampai disana kami pun segera mengetuk pintu. Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Lalu kemudian pintu terbuka, kulihat ibunya aji yang membukakan pintu

“Eh ibu julia sama lisa kok nggak ngabarin mau kesini, mari masuk” kata ibu diah mempersilahkan kami masuk.

“Kami berdua mau bertemu dengan aji” kataku setelah duduk di ruang tamu.

“Loh aji nggak ada disini bu,kata ibu diah kebingungan

“Serius bunda jangan bohong aku” kata lisa dengan mata berkaca kaca

“Ibu serius nak aji nggak pulang, tunggu dulu saya coba hubungi aji” kata ibu diah
Kulihat ibu diah menelpon ke nomer aji dan handponenya ia loudspeaker namun ternyata nomer hapenya tak aktif.

“Ada apa bu sebenarnya kok bisa aji nggak ada di rumah kalian?” Tanya ibu diah

Akupun terpaksa menceritakan kejadian semalam di kamar lisa. Lisa disampingku sudah mulai menangis

“Hmmm ini masalah yang cukup berat bu, jika itu mengenai restu dari suami ibu, biar bagaimanapun ia adalah kepala keluarga. Dialah yang mengatur anggota keluarganya

“Hiks tapi bunda hiks aku nggak mau di jodohin tolong bunda” kata lisa terisak

“Nanti bunda coba minta tolong dengan heru dan adi untuk mencari aji. Kamu tenang aja lis aji pasti kembali, aji sekali berjanji pasti akan menepati dia pasti akan kembali padamu. Lagi pula perjodohan kalian masih lama kamu mending fokus dulu dengan kuliahmu.

“Aji sekarang mungkin tengah mencari pekerjaan dan mudah mudahan bisa sukses dan mapan agar ia bisa membuktikannya pada ayahmu dan meminangmu.” Kata kata radiah hampir sama dengan yang diucapkan aji

“Kalau begitu kami permisi pulang bu kalau ada kabar dari aji segera beritahu aku atau lisa yah bu

“Kok cepet sih nggak makan dulu bu?”

“Kebetulan kami sudah makan, kami pamit pulang bu”

“Ya sudah hati hati yah bu, lisa tenangkan hatimu yah sayang aji pasti kembali lagi kok”pesan diah saat kami beranjak menuju keluar rumah

“Aji di mana yah ma hiks” kata lisa padaku saat sudah berada dalam perjalanan pulang

“Mama nggak tau sayang”

“Aji kamu dimana” kata batin ku

To be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*