Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 21

Ibuku Cintaku dan Dukaku 21

Aku langsung terdiam dan tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ibu. Aku benar-benar terkejut dengan nama yang disebutkannya itu. Nama yang selama ini kerap kudengar dari mulutnya di balik semua cerita tentang masa lalunya. Nama dari seseorang yang sudah lama hilang dari kehidupan kami. Mengapa dia menyebutkannya?

Aku menatap tajam wajah Ibu yang berada di sebelahku, menanggapi apa yang sudah diucapkannya. Namun Ibu terkesan enggan untuk memandang wajahku. Dia hanya melirikku sekilas dengan matanya yang basah. Wajahnya yang tadi terlihat sangat sedih mendadak berubah seperti raut wajah orang yang sedang kesal. Ada apa ini sebenarnya? Aku pun mengalihkan tatapanku ke Pak Steven. Raut wajah pria ini juga mendadak berubah. Senyum lebarnya tadi digantikan oleh senyum getir layaknya orang yang sedang kikuk. Dia memperhatikan wajahku seakan menunggu reaksiku.

Tito Ini Bapak, Nak, ucap Ibu kemudian dengan suara datar.

Kalimat Ibu terdengar bagaikan petir di siang bolong. Darahku rasanya membeku seketika. Seluruh isi kepalaku tiba-tiba kosong melompong, lenyap entah ke mana. Terkejut pun rasanya bukan kata yang pas untuk menggambarkan apa yang kurasakan. Aku cuma bisa berdiri terpaku dengan kaki yang mulai kebas sambil tertegun melihat sosok pria di hadapanku. Aku menatapnya lamat-lamat, ditemani oleh suasana hening ruangan.

Ini Bapakku? Bisikku dalam hati, seakan tidak bisa mempercayainya.

Pak Steven perlahan melebarkan senyumannya, lalu mendekatiku. Tito Maafin Bapak karena datang terlambat, ya. Tito nggak apa-apa kan, Nak? Pak Steven memperhatikan keadaanku sambil mengusap-usap bahuku.

Aku diam seribu bahasa. Mataku masih menyorot tajam ke arah wajahnya, menyikapi ketidakpercayaan yang merundung diriku. Seluruh pertanyaan yang ingin kutanyakan tadi sudah lenyap, digantikan oleh sesuatu yang berangsur-angsur mengisi kepalaku. Sesuatu yang membuatku menyimpulkan berbagai macam pertanyaan baru dan hal-hal rumit yang muncul begitu saja seiring kenyataan yang dihadapkan padaku sekarang.

Aku memang sulit mempercayai kalau orang ini adalah Bapak. Namun jika dia ini memang Bapak, apa alasannya tiba-tiba muncul di hadapan kami sekarang? Bukankah dia sudah lama memutuskan untuk meninggalkan keluarga ini? Lalu kenapa dia tidak mengakui siapa dirinya sebenarnya sewaktu dia bersamaku di pasar ketika aku sedang berjualan? Buat apa dia berusaha menutupi jati dirinya?

ÔÇ£Tito? Tito nggak apa-apa kan, Nak?ÔÇØ tanya Pak Steven sekali lagi. Pria ini sepertinya mencoba mengajakku berbicara. Namun aku masih saja diam, sibuk dengan pikiranku sendiri.

Pertanyaan dan anggapan-anggapan lain terus-menerus menumpuk di benakku, mencoba mengartikan siapa sebenarnya pria di hadapanku ini. Selama ini aku terlalu merindukannya. Wajahnya, sifatnya, kepribadiannya, dan berbagai macam hal lain yang membuatku sangat menantikan kehadirannya. Namun mengapa tidak ada perasaan bahagia ketika kerinduanku sudah terjawab seperti ini? Kebahagiaan itu justru tertelan oleh perasaan lain yang jauh lebih besar. Kini orang yang kunantikan itu telah hadir di pelupuk mataku, tapi aku seakan tidak bisa melihatnya.

Sosok Bapak yang kunantikan itu tidak seperti ini. Yang sedang berdiri di hadapanku sekarang bukanlah Bapakku. Pria ÔÇÿpenolongÔÇÖ ini tidak lebih dari seorang pembohong. Dia tidak lebih baik dari istri terdahulunya yang sedang berdiri di sebelahku. Pria ini hanyalah orang brengsek yang telah menelantarkan keluarganya.

Bagaimana bisa aku menganggapnya sebagai Bapakku? Dia punya harta yang berlimpah, hidup berkecukupan dan berbahagia di luar sana. Betapa teganya dia menari di atas keterpurukan Ibu yang sejak dulu harus berjuang menghidupiku seorang diri. Jika memang dia sudah lama sukses dalam kehidupannya, mengapa dia tidak segera pulang kemari untuk melihat keluarganya dan meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu? Mengapa dia mengabaikan semuanya dan malah menikahi wanita lain di luar sana? Dia bahkan sudah mempunyai dua orang anak dari istri barunya itu. Tidakkah dia sadar akan apa yang sudah dilakukannya? Orang ini benar-benar durjana.

Pandanganku langsung berubah padanya. Aku menatapnya dengan tatapan permusuhan. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk tahu seluk-beluk pria ini. Tindakan pengkhianatannya itu sudah menggambarkan seperti apa kepribadiannya yang sebenarnya. Dibarengi oleh rasa geram yang memuncak, aku pun dengan tegas menepis tangannya dari bahuku.

Dia terkejut bukan kepalang melihat tindakanku. Wajahnya terlihat sangat bingung dan heran. ÔÇ£Tito kenapa?ÔÇØ ucapnya padaku. ÔÇ£Tito marah sama Bapak, Nak?ÔÇØ Dia berusaha memegang bahuku lagi, namun kutepis lebih keras lagi.

Tito? Ini Bapak, Nak, kata Ibu di sebelahku. Tito nggak suka ketemu sama Bapak?

Ternyata Ibu juga sama seperti Bapak. Dia tampak sangat bingung melihat sikapku. Kini kekecewaanku semakin berlipat ganda. Mengapa mereka berdua bisa berbuat sejahat ini padaku? Tak bisakah mereka merasakan apa yang kurasakan? Apakah anak kecil berusia 12 tahun sepertiku tidak pantas untuk merasakan sakit hati? Apa sebenarnya arti diriku ini di mata mereka berdua?

ÔÇ£Tito marah ya, sama Bapak?ÔÇØ tanya Bapak sekali lagi. Nada bicaranya terdengar memelas.

Aku melengos, tidak mengacuhkan pertanyaannya. Aku benar-benar sudah muak dengan semua pengkhianatan kedua orang tuaku ini. Telingaku sudah tidak ingin lagi mendengar semua kebohongan dan alasan palsu. Cukup sudah selama ini aku dibodoh-bodohi. Aku bukan boneka yang bisa dipermainkan sesukanya. Mungkin sebaiknya aku pergi saja dari sini. Menjauh dari mereka berdua. Jika mereka memang tidak bisa memahami perasaanku, aku ingin tahu bagaimana perasaan mereka jika kehilangan diriku.

Aku pun berlalu dari hadapan mereka berdua, bermaksud untuk keluar dari rumah. Namun baru dua langkah aku beranjak dari tempatku berdiri, Bapak dan Ibu langsung serentak menggenggam erat kedua lenganku.

ÔÇ£Tito mau ke mana, Nak?!ÔÇØ tanya Ibu. Dia terlihat panik.

Iya, Nak Tito mau ke mana?! Bapak menimpali pertanyaan Ibu. Biar Bapak jelasin dulu semuanya.

Pandangan mataku tetap lurus ke depan, menuju ke pintu depan yang terbuka. Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua bualan yang akan dilontarkan mereka padaku. Aku yakin semua itu tak lebih dari sekadar pembelaan terhadap segala kelakuan buruk mereka. Jika aku tetap di sini dan mendengarkan semua ocehan mereka, itu sama saja aku berharap untuk jatuh kembali di lubang yang sama.

ÔÇ£Lepasin Tito!ÔÇØ aku berteriak geram sambil meronta sekuat tenaga melepaskan kedua lenganku yang ada dalam cengkeraman mereka berdua.

Saat genggaman mereka terlepas, aku pun melanjutkan langkahku menuju ke pintu keluar. Namun Ibu berbeda dengan Bapak. Dia tidak melepaskanku begitu saja. Dia mengejarku dan segera menggenggam erat tangan kananku ketika aku sudah hampir sampai di mulut pintu. Lagi-lagi aku tertahan.

ÔÇ£Tito…! Tito mau ke mana?! Jangan bikin Ibu takut, NakÔǪ!ÔÇØ Ibu semakin panik. Suaranya bergetar, dan sekejap kemudian dia kembali menangis.

Tito Tolong dengerin dulu penjelasan Bapak, ujar Bapak dari belakang sana, mencoba menahan kepergianku. Bapak akui kalau Bapak memang salah, tapi biar Bapak jelasin dulu sama Tito.

Aku tidak mempedulikan ucapan Bapak. Yang ada di dalam pikiranku sekarang adalah kekhawatiran akan tindakanku ini. Apakah aku sanggup meninggalkan Ibu? Apakah tindakanku ini tidak terlalu berlebihan? Lihatlah, Ibu menangis karena tak sanggup melihatku pergi. Apakah aku pantas memperlakukan Ibu seperti ini? Keragu-raguan mulai menekanku. Aku tak tahu apa sebaiknya yang harus kulakukan sekarang.

Tito udah janji kan, nggak bakal ninggalin Ibu? kata Ibu di tengah isak tangisnya. Tito janji kan, bakal jadi anak Ibu yang paling baik?

Dadaku bagai dipukul gada yang besar. Tanpa bisa kutahan, air mata kembali membanjiri pandanganku. Aku terperanjat menerima perkataan Ibu yang tak lain dan tak bukan adalah kata-kataku sendiri yang pernah kulontarkan padanya. Itu adalah janji yang telah kuucapkan dengan sepenuh hati. Bagaimana bisa aku melupakannya? Lalu, akankah aku melanggarnya sekarang?

ÔÇ£Tito ingat kan, Nak?ÔÇØ lanjut Ibu lagi. ÔÇ£Apa Tito tega pergi ninggalin Ibu?ÔÇØ

Air mataku terus mengalir. Aku tertunduk, meresapi semua perkataannya. Semua itu benar. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Apapun yang terjadi, aku tidak boleh melanggar janjiku.

ÔÇ£Kalo memang Ibu punya salah sama Tito, Ibu minta maaf, Nak,ÔÇØ ujarnya lirih. ÔÇ£Tapi tolong, NakÔǪ Jangan tinggalin Ibu. Ibu nggak punya siapa-siapa lagi…ÔÇØ Kalimatnya yang terakhir bahkan hampir tak terdengar ditutupi oleh isak tangisnya. Dia sepertinya benar-benar tak sanggup kehilanganku.

Namun karena kalimatnya itu, aku malah menanggapi hal yang sebaliknya. Duka laraku sontak terhenti ketika dia menyebutkan jika dia tidak punya siapa-siapa lagi. Ingatanku akan kebersamaannya dengan Rama terulang kembali di kepalaku. Teringat olehku bagaimana dia begitu menikmati segalanya bersama anak itu. Kemesraannya dengan Rama, keintimannya dengan Rama, bagaimana dia berasyik masyuk bersama Rama tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh mereka berdua, bagaimana mereka saling memuaskan syahwat mereka, bahkan mereka seakan tidak peduli kalau hubungan mereka akan terendus olehku suatu saat nanti. Apakah Ibu tidak memikirkannya? Mengapa dia tega melakukan itu semua? Tidakkah dia tahu sesakit apa perasaanku? Jika memang Ibu takut sedemikian rupa apabila aku pergi dari sini? Lantas kenapa dia tidak pergi saja bersenang-senang bersama Rama? Untuk apa dia bersikeras menahanku?

Kini dia malah menambah daftar kegilaannya dengan bermain seks dengan tiga pria sekaligus. Aku bahkan tak tahu siapa mereka. Parahnya lagi, Ibu menjajakan tubuhnya begitu saja kepada orang-orang yang baru dikenalnya itu dan seperti dengan senang hati diperlakukan mereka semaunya walaupun itu sudah mengarah kepada pelecehan yang teramat parah. Mengapa dia tidak menyadari kesalahannya itu? Dia pernah mengatakan padaku untuk tidak menjadi anak yang kurang ajar. Namun inikah yang diajarkannya padaku? Dengan berhubungan seks sesukanya?

ÔÇ£Lepasin Tito, Bu!ÔÇØ Aku menarik lenganku dengan paksa hingga terlepas dari genggamannya. ÔÇ£Tito capek, Bu! Tito capek dibohongin terus! Ibu sama aja kayak Bapak! Sama-sama pembohong!ÔÇØ

Ibu terperangah mendengarkanku membentaknya habis-habisan. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya kedua bola matanya saja yang terus-menerus mengeluarkan air mata. Bapak yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan juga cuma bisa diam. Mungkin dia paham dan menerima dengan baik arti dari luapan emosiku ini.

Tito, ucap Ibu nyaris tak terdengar. Air matanya semakin banyak meluap keluar.

Aku juga ikut menangis, tidak tahan melihat wajahnya yang dirundung haru. Aku paham perasaan Ibu saat ini. Dia pasti sangat sedih karena aku berubah menjadi beringas seperti ini. Sejujurnya aku juga merasa sangat bersalah dengan perbuatanku padanya. Namun rasa geramku memang sudah tak mampu kubendung lagi.

Maafin Ibu, Nak Maafin Ibu kalo Ibu punya salah sama Tito, ujar Ibu sambil menangis. Tapi sebenarnya Ibu salah apa sama Tito, Nak? Ibu nggak tau Kalo memang Ibu punya salah, Tito bilang aja sama Ibu. Ibu nggak bakal ngulangin lagi, Nak Ibu janji Ibu terlihat betul-betul putus asa. Dia menangis sesenggukan sampai nafasnya terdengar seperti tersendat-sendat.

Aku melengos, menatap ke luar rumah. Aku sudah tidak tahan lagi. Apapun yang Ibu katakan, semuanya sudah terlambat. Tidak ada lagi gunanya penyesalan. Seharusnya dia menyesali semua itu sejak lama. Namun jangankan untuk menyesalinya, dia bahkan tidak tahu dan tidak sadar apa kesalahannya. Sekarang aku benar-benar tidak ingin berada di sini. Bertahan di sini sama saja aku menyakiti diri. Biarlah Ibu menyimpulkan sendiri apa kesalahannya. Yang jelas aku ingin ke tempat di mana aku bisa memperoleh ketenangan. Walaupun aku tidak tahu akan pergi ke mana, aku tetap dengan teguh melangkahkan kakiku keluar dari rumah.

Tito! Ibu kembali meraih tanganku, menahanku untuk pergi. Namun aku terus melangkah dan menyentakkan tanganku sekeras mungkin agar terlepas darinya.

ÔÇ£BRUKK!ÔÇØ terdengar bunyi berdebuk di lantai. Aku yang cukup kaget refleks melihat ke belakang. Ternyata Ibu terjatuh karena sentakan tanganku barusan. Dia merangkak dan meringis.

Bapak bermaksud membantunya, namun langkahnya yang mendekati Ibu terhenti ketika Ibu berlutut dan mengulurkan tangannya padaku. Ibu seakan sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri dan menahanku untuk tidak pergi dari sini. Dia hanya bisa menangis dan memohon padaku. Aku menatapnya serba salah.

Namun tiba-tiba aku merasakan sesuatu. Aku agak terkesiap karena sepertinya aku pernah melihat kejadian yang seperti ini. Ibu yang berlutut sambil menangis dan mengulurkan tangannya, seorang laki-laki yang berdiri terpaku di belakangnya, juga posisiku yang sedang berdiri di pintu depan rumah yang terbuka. Jika diingat-ingat lagi, kejadian ini sangat mirip dengan kejadian di dalam mimpiku sewaktu kepalaku terbentur minggu lalu. Benar! Kejadiannya sama persis. Bedanya hanyalah pria yang di dalam mimpiku itu wajahnya agak samar dan dia berdiri di dekat mulut pintu kamar Ibu, sedangkan saat ini ada seorang pria yang berdiri persis di belakang Ibu yang sedang berlutut. Dia adalah Bapak. Tapi apakah pria di dalam mimpiku itu adalah perwujudan dari Bapak? Lalu apakah ini semua merupakan arti dari mimpiku itu?

Aku kembali melengos, menatap lurus ke luar rumah. Kupikir tidak ada gunanya aku memikirkan kejadian yang ada di dalam mimpiku sekarang. Walaupun mimpi itu sudah menjadi kenyataan dan aku mengetahui maknanya, tapi itu sama sekali tidak dapat mengubah apapun. Inilah kenyataannya dan inilah keluargaku. Posisiku saat ini tak lebih dari seorang anak yang menjadi korban. Aku tak ingin menunggu apa-apa lagi. Dengan keyakinan mantap, aku pun melangkahkan kakiku keluar dari rumah.

Tito! Jangan pergi, Nak! Tito! Tito mau ke mana, Nak?! Jangan tinggalin Ibu! Kepergianku langsung diiringi oleh jeritan-jeritan keras Ibu. Dia bahkan bangkit berdiri dan berupaya untuk mengejarku, namun Bapak langsung menahannya.

Jangan, Ren! ucap Bapak yang memegang lengan Ibu, menahannya untuk tidak mengejarku. Jangan dikejar! Biarin dia pergi

Gila kamu, Mas! Jangan biarin Tito pergi! Tito masih anak-anak, Mas! Dia mau ke mana?! Ibu meronta-ronta di dalam pegangan Bapak. Tito! Jangan pergi, Nak!

Aku berjalan terus, tidak mengacuhkannya. Walaupun teriakan pilu Ibu yang memanggilku terasa begitu mengaduk-aduk perasaanku, tapi tekadku sudah tak bisa digoyahkan. Aku ingin memberinya pelajaran atas apa yang sudah dilakukannya. Aku juga ingin membuktikan betapa kecewanya aku dengan sikap Bapak selama ini. Perbuatannya itu menjadikan dirinya sangat tidak pantas disebut sebagai seorang Bapak.

Aku semakin jauh pergi meninggalkan rumah. Seiring diriku yang kian menjauh, suara teriakan dan ratapan Ibu juga terdengar kian lemah. Sepertinya Bapak memang sukses menahannya untuk tidak mengejarku. Kira-kira apa alasan Bapak membiarkanku pergi begitu saja? Apa dia memang tidak suka padaku? Entahlah. Tapi jika aku harus berkata jujur, langkah kakiku sebenarnya terasa amat berat meninggalkan orang yang paling kusayangi. Setiap langkah yang kuambil, tidak ada satu pun yang tidak kulalui dengan air mata. Penyesalan itu memang ada. Namun apa boleh buat, semuanya sudah terjadi.

***

Aku berjalan sambil tertunduk, mencoba menyembunyikan air mataku yang tak kunjung berhenti mengalir. Sesekali aku mengusapnya diantara bunyi derap sepatuku yang beradu dengan jalanan. Aku sudah cukup jauh dari rumah, tapi langkahku semakin lama terasa semakin lambat. Entah kenapa rasanya semakin berat saja kedua kaki ini untuk digerakkan. Hati kecilku memintaku untuk kembali ke rumah, segera meredam tangis Ibuku. Namun pikiranku berkata lain. Ada sesuatu yang mengganjalku dan menganjurkanku untuk tetap melangkah ke depan.

Amarah, kebencian, dan dendam masih terlalu mendominasi diriku. Sangat sulit bagiku untuk memaafkan siapapun saat ini. Aku hanya ingin membuat keputusan dan menuntaskan segalanya dengan caraku sendiri. Aku tak mau lagi menjadi seorang pesakitan yang bodoh. Luka di dalam hatiku yang sudah terlalu dalam harus ditebus dengan seadil-adilnya. Mulai detik ini, semuanya akan berubah sebagaimana mestinya.

Aku memelankan langkah, memenungkan sejenak sesuatu yang muncul di benakku. Sebuah nama terbersit. Dadaku langsung memanas, seakan membakar setiap nafas berat yang kuhela. Kemarahanku membumbung tinggi dalam sekejap. Kedua tanganku mengepal erat, mengisyaratkan pecahnya rasa geram yang sudah lama terpendam. Aku tak lagi mempedulikan keadaan sekitar. Beberapa pasang mata sempat memperhatikanku, seolah ingin tahu apa yang sudah terjadi hingga membuat anak yang memakai seragam putih merah sepertiku menampilkan wajah sembap seperti ini.

Rama Semua ini gara-gara dia, bisikku geram.

Rama adalah awal mula dari seluruh masalahku. Dia sudah mengkhianatiku, sahabatnya yang sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Sungguh banyak hal yang sudah kulakukan untuknya. Aku juga sangat menghormati Ibunya yang sudah begitu banyak membantu keluargaku. Tetapi apa balasannya? Anak biadab itu justru dengan keji menghempaskan martabat Ibuku hingga ke titik terendah. Dia sudah menghancurkan keluargaku dengan menginjak-injak kehormatan Ibuku. Ibu dijadikannya seperti pelacur yang bisa dimanfaatkan kapan saja sesuka hatinya. Perbuatannya itulah yang telah memicu Ibu berubah menjadi wanita murahan yang melupakan harga dirinya.

Sudah cukup lama dia berkutat di dalam kenikmatan dan kepuasan itu. Aku tidak bisa membiarkannya lagi. Rama harus menerima konsekuensi atas perbuatannya. Kalau anak itu memang sebegitu beraninya menyetubuhi Ibuku berkali-kali, tentu dia sudah merasa yakin jika nantinya akan berhadapan denganku. Persetan dengan Bu Aini. Aku akan menghajarnya tepat di depan mata Ibunya. Rama patut mendapatkan balasan yang setimpal.

ÔÇ£Awas lu, Ram! Gue nggak bakal kasih lu ampun!ÔÇØ seruku dalam hati.

Kupercepat langkahku. Mataku terarah tajam ke depan. Emosi yang meluap membuat tenagaku kembali terhimpun. Tujuanku sekarang adalah ke rumah Rama, memberinya ÔÇÿpelajaranÔÇÖ dan ÔÇÿperhitunganÔÇÖ.

***

Tanpa terasa, akhirnya aku sudah mencapai simpang jalan rumah Rama. Kini jarakku semakin dekat untuk melampiaskan segalanya. Namun tiba-tiba ada perasaan aneh yang singgah di hatiku. Keberanianku terasa menurun, persis seperti ketika aku mendatangi rumahnya hendak mengawasi Ibu yang mengembalikan handycam. Ada apa ini? Kenapa aku jadi ragu? Apa lagi-lagi karena Bu Aini?

Langkahku terhenti di simpang jalan. Aku menghela nafas dalam-dalam, bermaksud menghilangkan keraguan. Kutundukkan kepalaku sejenak, mencoba mengingat kembali apa yang sudah Rama lakukan pada Ibuku. Ingatan-ingatan buruk itu pun dengan mudahnya datang kembali, mengusir semua keraguan. Aku tidak boleh membatalkan niatku dan aku tidak boleh lemah sekarang. Aku tahu risikonya, tapi masalah ini harus diselesaikan sekarang juga. Kutegakkan kepalaku lagi dan menatap ke depan. Dengan menarik nafas panjang, aku pun berjalan lagi dengan keyakinan dan keberanian yang sempurna.

Namun ternyata niatku ini diuji lagi beberapa saat kemudian. Baru saja aku setengah jalan dari jarakku ke rumah Rama, aku melihat Bu Aini keluar dari gerbang rumahnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk tahu siapa yang hendak menuju ke sana. Dia langsung mengenaliku dari jarak yang kurang lebih hanya 20 meter seperti ini. Sebenarnya sempat terlintas ide di otakku untuk cepat-cepat bersembunyi di dekat semak-semak yang ada di sebelah kiriku. Tapi otak dan tubuhku seperti tidak sinkron. Kedua kakiku mati langkah, tidak bergerak sama sekali. Aku cuma bisa berjalan maju dengan terpaksa, mengikuti naluri dan sisa-sisa amarahku. Ternyata balas dendam itu tidak semudah yang kukira.

Ketika jarak kami berdua masih agak jauh, Bu Aini kelihatan tersenyum padaku. Tapi saat kami berdua sudah berpapasan, senyum damainya langsung hilang karena melihat wajahku. Alisnya mengernyit tanda heran.

ÔÇ£Lho? Tito kenapa, Nak?ÔÇØ tanya Bu Aini dengan nada bingung dan agak panik. Dia mengelus pipiku yang masih basah karena air mata. ÔÇ£Tito kok nangis, sayang? Siapa yang jahatin Tito, Nak?ÔÇØ

Aku menatapnya datar, tidak terlalu memikirkan pertanyaannya. Rama ada di rumah kan, Bu? tanyaku balik dengan suara parau. Tito mau ketemu Rama

Ngg Iya Rama memang lagi di rumah. Wajah Bu Aini terlihat semakin bingung. Tito kok nanyain Rama, Nak? Rama yang udah jahatin Tito, ya?

Aku diam, merutuk dalam hati. Memang benar anaknyalah yang sudah membuatku seperti ini. Anaknya adalah biang segalanya. Tito mau ketemu sama Rama, Bu, kataku datar seraya mencoba melewati Bu Aini yang berdiri di depanku. Namun Bu Aini langsung menangkap lenganku, menahanku untuk tidak beranjak darinya.

Tito jawab dulu dong pertanyaan Ibu, desaknya. Apa Rama yang udah jahatin Tito, Nak?

Aku bungkam, tidak ingin menjawab apapun. Mataku melirik ke arah lain, enggan menatapnya.

Tito kok diam aja, sayang? Bilang aja apa yang mau Tito bilang, Nak. Ibu nggak akan marah kok Bu Aini kembali mengelus pipiku.

Bukannya menjawab, kepalaku malah tertunduk. Entah kenapa lidahku mendadak terasa kelu. Sulit sekali rasanya untuk mengatakannya. Padahal sejak awal niatku bukanlah untuk membicarakan masalah ini, melainkan langsung menghukum Rama dengan ÔÇÿcarakuÔÇÖ sendiri. Tapi ini di luar kuasaku. Jika sudah begini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Nyaliku yang kian meredup juga menambah daftar ketidakberdayaanku.

ÔÇ£Ada apa, Ni?ÔÇØ tanya seorang Ibu yang mendadak muncul di dekat kami. Aku cukup kaget dibuatnya.

Oh, nggak apa-apa kok, Bu, jawab Bu Aini. Ini nih Temen anakku nangis gara-gara dijahatin sama temen-temennya yang lain

Oh, gitu, ucap Ibu itu sambil menatapku prihatin. Ternyata dia salah seorang tetangga Bu Aini. Ya udah deh Kalo gitu tak tinggal dulu ya, Ni

Iya, Bu, sahut Bu Aini ramah, membiarkan Ibu itu pergi. Ternyata tetangganya itu hanya sekadar menyapa.

Nah, sekarang jawab pertanyaan Ibu, sambung Bu Aini. Apa Rama yang udah jahatin Tito?

Aku tetap membisu dan menunduk, bingung harus mengatakannya atau tidak. Kalau situasinya seperti ini, Bu Aini pasti akan tetap memaksaku untuk berterus terang. Aku tidak akan bisa diam terus-menerus. Tapi kalaupun aku menjawab pertanyaannya, aku ragu dengan tanggapannya kemudian. Terlepas dari soal marah atau tidaknya dia dengan pengakuanku, maupun tindakannya kepada Rama nantinya, aku tetap akan kecewa karena ÔÇÿkeadilanÔÇÖ yang kuinginkan itu tidak bisa terlaksana.

ÔÇ£Tito kenapa sih, Nak? Kenapa nggak mau jujur sama Ibu? Ada apa sebenarnya?ÔÇØ Bu Aini tampak menantikan penjelasanku.

Aku semakin tertunduk. Pikiranku kacau sekali. Tekanan di rumah saja belum tuntas sama sekali, kini aku disajikan lagi oleh tekanan yang baru. Apakah semuanya akan tetap berakhir tragis untukku? Entahlah. Yang harus kupikirkan sekarang adalah mengambil keputusan yang terbaik. Jikalau saat ini berkata jujur memang merupakan kuncinya, aku akan mengambilnya. Lagi pula menurutku tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu, apalagi berbohong. Itu malah akan semakin memojokkanku. Walau bagaimanapun caranya, Bu Aini harus tahu permasalahannya.

Aku menghela nafas dalam-dalam untuk menghilangkan beban-beban yang tersisa di dadaku. Selagi menunduk, otakku bekerja cepat untuk menemukan rangkaian kalimat yang akan kugunakan untuk menjelaskan perkara besar ini agar tidak menimbulkan kesalahanpahaman. Bu Aini pun masih setia menanti jawabanku. Ini benar-benar momen yang sangat krusial.

ÔÇ£Apa ini semua ada hubungannya sama Ibunya Tito?ÔÇØ tanya Bu Aini tiba-tiba.

Kepalaku tertegak bangkit seketika, terperangah mendengarkan pertanyaannya. Aku langsung menatap heran kedua bola matanya demi menanggung keterkejutanku yang luar biasa. Ini sungguh aneh. Bagaimana bisa Bu Aini tiba-tiba mengaitkan masalah ini dengan Ibu? Apa yang dia ketahui tentang Ibu?

Hmm Jadi bener kalo ini semua tentang masalah Ibunya Tito? lanjutnya memastikan.

Aku masih terdiam seribu bahasa, bingung harus menjawab apa. Kecemasan melanda dalam sekejap. Perasaanku mendadak takut sekarang. Aku takut kalau Bu Aini saat ini memang sedang membahas apa yang ada di dalam otakku.

Apa ini tentang video yang ada di handycam? tanyanya lagi.

Aku bagai kembali mendengar petir di siang bolong. Astaga! Jadi Bu Aini udah tau?! seruku dalam hati.

Pertanyaan Bu Aini membuat aliran darah dan nafasku seakan terhenti. Aku terperanjat menerima kenyataan yang benar-benar tidak kuduga sama sekali. Tubuhku terasa lemas demi mendapati Bu Aini yang ternyata sudah mengetahui tentang masalah ini. Pikiran dan batinku sontak berkecamuk dan teraduk-aduk. Aku cuma bisa tercengang menatapnya, bergeming.

Sekarang satu titik terang datang padaku, namun segalanya malah tampak semakin runyam. Walaupun di lain pihak aku cukup bersyukur karena akhirnya Bu Aini tahu apa yang telah terjadi tanpa harus mendengarkan penjelasanku, tapi hal ini justru membawaku kepada keadaan yang lain di mana aku terdampar di dalam kebingungan yang menyakitkan. Jika memang Bu Aini tahu masalah ini, mengapa dia terlihat tenang-tenang saja? Apakah dia sudah memberikan ganjaran terhadap Rama atas apa yang sudah Rama perbuat? Kuharap hal yang kukhawatirkan tidak terjadi. Aku hanya ingin mendapatkan keadilan.

Perlahan-lahan aku mencoba menurunkan intensitas emosiku. Ibu kok bisa tau? tanyaku singkat.

Bu Aini diam sesaat, menghela nafas berat, lalu menjawab, Rama kan anak Ibu sendiri, sayang Ibu wajib tau segalanya yang berhubungan sama anak Ibu Bu Aini tersenyum tipis, lalu mengelus pipiku.

Aku diam saja, kembali bingung. Kalimat-kalimat Bu Aini membuat berbagai macam dugaan. Nalarku melayang ke mana-mana.

Kalo Ibu boleh tau, lanjut Bu Aini, Tito mau ngapain ketemu sama Rama, Nak?

Aku terjebak. Bu Aini akhirnya memberikan pertanyaan yang spesifik. Dengan keadaan yang mulai resah, aku lagi-lagi hanya bisa terdiam. Kulihat wajahnya sekilas tanpa berani menjawab apapun.

ÔÇ£Tito mau pukulin Rama, ya?ÔÇØ tebak Bu Aini.

Kali ini aku betul-betul bagaikan tertangkap basah. Bu Aini sepertinya tahu segalanya yang ada di dalam pikiranku. Aku langsung tertunduk layu saat mataku mencuri pandang raut wajahnya yang tampak serius dengan pertanyaannya.

Tito Jawab Ibu Apa Tito mau pukulin Rama? desak Bu Aini.

Bagaimana bisa aku menjawabnya? Sama saja bunuh diri jika aku mengakuinya. Aku tidak punya pilihan lain kecuali tetap bungkam.

ÔÇ£Kenapa sih Ibu tanyain dari tadi Tito nggak pernah jawab?! Tito mau buat Ibu marah, ya?!ÔÇØ nada bicara Bu Aini tiba-tiba meninggi.

Aku terkejut dan refleks menatap wajahnya sekejap sebelum tertunduk lebih dalam. Kelihatannya memang benar kalau Bu Aini sudah mulai marah. Roman wajahnya sangat tegang dan tatapannya padaku begitu tajam. Mungkin kesabarannya sudah habis melihat sikapku yang sedari tadi tidak pernah mengindahkan pertanyaannya. Tapi aku tidak menyangka kalau hal itu bisa langsung membuatnya meradang.

Bagaimana ini? Semuanya kian terjepit. Niatku yang begitu garang sewaktu datang kemari benar-benar sudah lenyap. Tidak ada sesuatu apapun yang kurasakan melainkan rasa ketakutan dan bersalah.

Ibu tanya sekali lagi Apa Tito kemari niatnya mau pukulin Rama?! tanya Bu Aini tegas. Jawab yang jujur!

Aku tersentak mendengar bentakan Bu Aini. Seumur hidupku aku tak pernah menghadapi kemarahannya. Setiap saat dia selalu lemah lembut padaku. Bahkan aku diperlakukannya lebih baik dari anak kandungnya sendiri. Tapi kini Bu Aini sepertinya sangat membenciku, seolah-olah aku bukanlah Tito yang biasa dilihatnya. Di satu sisi aku benar-benar sedih, namun di sisi lain aku pasrah menerima perlakuan ini sebagai bentuk kompensasi. Seorang Ibu memang sudah sepantasnya melakukan ini untuk anaknya. Dengan hati dan pikiran yang kalut, aku akhirnya mengangguk lemah, mengakui segala ÔÇÿniat jahatkuÔÇÖ terhadap Rama.

Bu Aini pun mendengus kesal. Tito kok jahat banget sih?! Kenapa sampai punya niat kayak gitu sama Rama?! Siapa yang udah ngajarin Tito jadi suka berantem kayak gini?! Ibunya Tito?!

Aku menggeleng lemah, tetap tertunduk.

Ibu benci sama anak yang suka pukul-pukulan! kecamnya ketus. Kalo udah gede nanti mau jadi apa?! Mau jadi preman?!

Bu Aini sepertinya sangat tidak suka padaku. Dia bahkan memarahiku di depan umum seperti ini. Meskipun tidak ada lagi orang yang lewat semenjak wanita yang menyapa kami tadi, tapi aku benar-benar malu. Aku merasa diriku ini seperti anak berandalan yang tak bermoral. Perasaan bersalahku sungguh tak terhingga. Kuremas kuat-kuat celanaku sambil menahan semua gempuran kalimat menyakitkan dari Bu Aini. Tanpa bisa kutahan, air mataku mulai membanjir.

ÔÇ£Apa Rama mesti dipukulin sampe masuk rumah sakit dulu baru Tito puas…?! Apa itu maunya Tito?! Jawab Ibu!ÔÇØ Bu Aini mencengkeram bahu kananku, sedikit mengguncang tubuhku untuk memaksa jawaban keluar dari mulutku.

Namun aku hanya bisa menjawabnya dengan gelengan kepala yang lemah. Air mataku berderai perlahan tetes demi tetes ke tanah. Batinku tidak mampu menahan semua rasa geram Bu Aini. Sungguh sakit rasanya dijejali kemarahan oleh orang yang selama ini sangat berarti dalam hidupku. Aku merasa sungguh tak berguna di matanya. Ingin rasanya aku pergi dari sini, menuju ke tempat di mana ada orang yang bisa mengerti diriku.

Kak Dina, ucapku lirih dalam hati.

Hanya Kak Dina yang bisa memahami apa yang ada di dalam hatiku sekarang. Dialah yang bisa mengobati segala pilu yang kurasakan. Seandainya saja Kak Dina ada di sini, jari-jarinya pasti akan segera menghapus air mataku. Tidak akan pernah dibiarkannya aku menangis selain di dalam pelukannya. Aku benar-benar mengharapkan kehadirannya. Tapi apa mau dikata? Kak Dina tidak ada bersamaku sekarang. Aku hanya berdiri sendiri di sini ditemani isak tangis yang menghiburku. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Bu Aini sudah terlanjur marah padaku. Selamanya dia takkan pernah menyukaiku atau bahkan Ibu lagi. Segalanya akan segera berakhir.

Namun tiba-tiba hal mengejutkan terjadi. Seluruh tubuhku mendadak terasa nyaman sekali. Beban di dadaku seakan hilang ditelan bumi. Apa yang terjadi saat ini ialah Bu Aini memelukku dengan erat. Dia juga mengusap-usap rambutku dengan penuh kasih sayang. Tangisku yang tertahan pun langsung pecah di dalam pelukannya.

Ibu udah kelewatan, ya? Maafin Ibu ya, Nak, ucapnya di dekat telingaku. Ibu bener-bener nggak sengaja udah ngebentak-bentak Tito tadi

Aku semakin tenggelam ke dalam tangisku. Perasaan sedih dan bahagia bercampur jadi satu. Jilbabnya yang masih sama dengan jilbab yang dipakainya tadi pagi basah oleh air mataku.

Udah-udah Jangan nangis lagi, ya, katanya menghiburku sambil mengelus-elus kepalaku. Ibu nggak marah kok sama Tito. Ibu cuma nggak mau Tito jadi anak nakal yang suka berantem.

Aku senang sekali mendengar ucapan Bu Aini. Ternyata dugaanku padanya salah besar. Dia sangat peduli padaku. Apa yang dilakukannya sebenarnya hanyalah untuk mencegahku dari melakukan hal-hal yang merugikan diriku sendiri. Perlahan tapi pasti, tangisku pun akhirnya mereda. Bu Aini kemudian melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku. Aku tetap tertunduk, menikmati sisa-sisa rintihanku.

Tito Liat Ibu, Nak, suruhnya.

Aku perlahan-lahan menegakkan kepalaku. Kuusap lelehan ingus yang sempat mengalir di atas bibirku. Mataku lantas menatap lemah wajah cantiknya yang sedang tersenyum manis.

Tito tenang aja, ya Ibu pasti hukum Rama kok, ujarnya menyemangatiku. Ibu bakal hukum dia seberat-beratnya sampai dia kapok. Ibu janji

Aku masih diam dan menatapnya datar. Meskipun Bu Aini sudah memastikan padaku kalau Rama akan mendapatkan hukumannya, tapi entah mengapa hatiku merasa tidak yakin. Memangnya apa yang hendak dia lakukan terhadap anaknya? Memarahinya? Menamparnya? Atau mungkin menyita uang jajannya? Itu semua sudah terlalu lumrah.

ÔÇ£Lho? Tito kok masih sedih gitu?ÔÇØ ucap Bu Aini sambil mengelus pipiku. ÔÇ£Senyum dong, Nak?ÔÇØ

Tapi aku juga tidak bisa sepenuhnya menuntut apa yang harus dilakukannya. Biarlah semuanya mengalir pada tempatnya. Walaupun keadaan masih belum menunjukkan titik terang bagiku, namun pada hakikatnya aku cukup bersyukur karena akhirnya aku bisa melalui perkara yang sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari kukhawatirkan. Untunglah Bu Aini masih berpihak padaku. Sekarang aku harus mempercayakan harapanku padanya. Dengan hati yang lapang, aku pun tersenyum menyambut suka cita yang diberikan Bu Aini.

Nah, gitu dong Itu baru namanya anak Bunda, ujarnya seraya menghapus sisa-sisa air mataku.

Aku menatapnya aneh. Lagi-lagi dia menyebut dirinya adalah Bunda bagiku. Aku masih ingat kalau tadi pagi dia juga mengucapkan hal yang sama. Sebenarnya hal ini sangatlah sepele, mengingat Bu Aini yang mungkin menganggap aku sudah bagaikan anak kandungnya sendiri. Tapi hal ini cukup membuatku penasaran juga. Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya tentang seberapa besar sesungguhnya rasa sayangnya padaku sampai-sampai dia seakan menganggap kedudukanku dengan Rama berada di tempat yang sama di matanya.

Bu, ucapku pelan.

Iya, Nak? sahutnya.

ÔÇ£Ibu kok sebut-sebut ÔÇÿBundaÔÇÖ gitu sih sama Tito? Tito kan bukan Rama…?ÔÇØ

Bu Aini tersenyum lebar. Dia menatapku dalam-dalam, seperti ada yang sedang dipikirkannya tentangku. ÔÇ£Tito mau dengerin cerita Ibu nggak?ÔÇØ ujarnya kemudian.

Aku mengernyit bingung. ÔÇ£Cerita apa, Bu?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇ£EmmÔǪ Ada dehÔǪ,ÔÇØ jawabnya. ÔÇ£Tapi ceritanya panjang banget. Kalo Ibu ceritain di sini takutnya kita bakal kecapean berdiri terus. Lagian Ibu dari tadi niatnya mau balik ke toko nih… Gimana kalo Tito ikut sama Ibu aja ke tokonya Ibu? Nanti Ibu ceritain di sana ajaÔǪÔÇØ

Ngg Aku berpikir sebentar. Ya udah deh, Bu, kataku setuju.

Aku tidak punya pilihan lain. Lagi pula aku masih tidak ingin pulang ke rumah. Terlalu banyak masalah yang harus kuhadapi di sana. Aku ingin menenangkan diriku dulu. Biarlah Ibu merasakan sesaat seperti apa rasanya kehilanganku. Mudah-mudahan dengan itu dia bisa menyadari semua kesalahannya. Terlebih lagi aku mungkin bisa berkeluh kesah nantinya pada Bu Aini atas apa yang menderaku saat ini. Kuharap dia juga punya solusi tersendiri menyikapi masalah ini. Begitu mendengarkan persetujuanku, Bu Aini pun langsung memegang tanganku untuk berjalan bersamanya.

Mmm Bu ucapku lembut.

Iya, Nak? sahutnya.

Ngg Tangan Tito jangan dipegang dong, Bu, pintaku halus.

Bu Aini tersenyum lucu. ÔÇ£Lho? Kenapa, sayang?ÔÇØ

Hehe Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Tito malu, Bu

Oh, hehehe Ya udah Bu Aini pun melepaskan tanganku. Yuk, jalan lagi

Aku mengangguk ringan, menyejajarinya berjalan.

***

Selama perjalanan, kami hanya mengobrol sedikit. Mungkin Bu Aini bermaksud menyimpan semua bahan obrolannya hingga kami tiba di tokonya. Tapi Bu Aini sempat menanyakan tentang bercak kemerahan yang agak samar di pelipis kiriku. Aku pun lekas mengarang cerita kalau bercak itu kudapatkan saat aku menepuk pelipisku sendiri dengan cukup keras karena hendak membunuh nyamuk yang hinggap. Aku tak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya kalau Taufanlah penyebabnya. Sungguh tidak lucu kalau sampai Bu Aini tahu bahwa Ibu baru saja berbuat mesum dengan tiga orang asing di rumah kami sendiri. Walau apapun yang terjadi dan bagaimanapun kesalnya aku dengan kelakuan Ibu, aku tidak mungkin menyebarkan aibnya. Biarlah itu menjadi masalahku dan keluargaku sendiri.

Lalu Bu Aini juga menanyakan tentang apakah aku sudah memperoleh izin dari Ibu untuk keluar rumah atau belum. Dia sepertinya menaruh curiga padaku karena faktanya aku masih berseragam sekolah sekarang. Aku mengiyakannya saja, supaya Bu Aini tidak terlalu mencemaskan hal-hal itu. Aku cuma tak ingin masalah-masalah kecil mengganggu pikiranku yang masih kacau balau. Yang terpenting sekarang adalah menyelesaikan permasalahan antara Ibu dan Rama.

Begitu kami sampai di tokonya dan turun dari angkot, Bu Aini berkata, Tito belum makan, kan? Ibu beliin makanan di warung itu, ya Bu Aini menunjuk sebuah rumah makan yang tak jauh dari sini.

Eh, nggak usah, Bu, tolakku. Nanti malah ngerepotin Ibu

Bu Aini langsung tertawa mendengarkan ocehanku. Ada-ada aja nih anak Bunda yang satu ini Bu Aini mencubit lembut pipiku.

Aku cengar-cengir sambil menatapnya tidak mengerti. ÔÇ£Lho? Kenapa, Bu? Kok Ibu ketawa?ÔÇØ

Bu Aini mengelus kepalaku dengan lembut, tersenyum lucu menatapku. ÔÇ£Masa Tito pake bilang ÔÇÿngerepotinÔÇÖ segala sama BundaÔǪ? Kayak sama orang lain ajaÔǪÔÇØ

Aku cuma cengengesan menanggapinya. Ibu dari dulu memang selalu mengajariku agar bersikap sopan dan sungkan jika orang lain menawarkan sesuatu. Tapi yang aku tidak habis pikir adalah mengapa Bu Aini lagi-lagi menyebut dirinya ÔÇÿBundaÔÇÖ padaku? Apa maksudnya sebenarnya? Suasana hatiku jadi canggung dan aneh.

Ya udah, Tito tunggu sebentar, ya, ujarnya seraya berlalu dari hadapanku menuju ke rumah makan itu.

Aku termenung menatap Bu Aini yang berjalan menjauh. Kuhela nafas lega untuk menikmati berkurangnya sebagian beban berat di batinku. Sungguh tidak ada lagi kata-kata yang bisa kuucapkan untuk menilai seberapa besar kebaikan wanita itu. Dia sudah membebaskanku dari segala kekhawatiran. Rasa tulusnya yang tak terkira bahkan membuatku menganggapnya bagai Ibu kandungku yang kedua. Ingin rasanya suatu saat aku bisa mengatakan kalau aku sangat menyayanginya. Tapi sosoknya membuatku rikuh dan malu. Aku merasa lancang untuk mengucapkannya. Sepertinya aku memang harus terus memendam perasaanku.

Namun terlepas dari itu semua, aku berpikir sejenak. Benakku mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja aku lalui. Perkataan Bu Aini benar-benar membuatku bingung dan penasaran. Apa sebenarnya yang ingin diceritakannya padaku hingga dia harus mengajakku kemari? Jika menilik bagaimana matanya menatapku, Bu Aini seakan hendak membuka suatu misteri. Apakah cerita yang akan disampaikannya itu berhubungan denganku? Aku jadi berdebar-debar.

ÔÇ£Nungguin siapa, Dek?ÔÇØ sapa seorang pria mengagetkanku.

Eh! Ngg Itu, Bang Nungguin

ÔÇ£Bu Aini, ya?ÔÇØ katanya memotong kalimatku.

Aku nyengir, mengangguk. Iya, Bang

Kalo nungguin Bu Aini duduk di dalem aja Pria ini menunjuk ke dalam toko Bu Aini. Ngapain berdiri terus di sini? Ntar capek

Oh, iya, Bang, jawabku sambil mengangguk takzim.

Aku mengikutinya berjalan ke dalam toko. Dia langsung menawarkan kursi plastik untuk kududuki. Sementara dia sendiri melanjutkan pekerjaannya mengurusi bahan-bahan sembako. Pria itu adalah Fadli, kuli Bu Aini. Seorang pekerja berbadan kurus namun tegap dan berkulit legam terbakar matahari. Pakaian kerjanya hanyalah kaos dan celana jeans lusuh. Tenaganya seolah tak pernah habis. Sebenarnya aku tidak terlalu sering ke toko Bu Aini. Aku kemari pun hanya jika menemani Rama yang ada keperluan dengan Bundanya. Tapi entah kenapa aku suka sekali memperhatikan pegawai Bu Aini yang satu ini. Bukan karena kekuatannya yang mampu mengangkut beras berkarung-karung, tapi karena giginya yang agak tonggos terlihat sangat manis dan lucu ketika tersenyum.

ÔÇ£Lho? Tito nggak sama Rama?ÔÇØ sapa seseorang lagi.

Eh! Ngg Nggak, Mbak, jawabku terbata-bata.

Oh Wanita itu pun tersenyum dan mengangguk.

Dia adalah Husna, pegawai Bu Aini yang berikutnya. Seorang wanita berwajah manis yang gaya pakaiannya sangat mirip dengan Bu Aini. Berjilbab dan memakai baju serba tertutup. Terlihat sangat modis dan elegan. Setiap kali aku melihat wanita ini, aku sering senyum-senyum sendiri. Aku tidak habis pikir dengan apa artinya cinta yang sebenarnya. Mungkin cinta itu memang buta, atau cinta itu memang gila, seperti yang dikatakan sinetron-sinetron di TV. Jika tidak, apa artinya yang kulihat sekarang? Semua sudah terbukti karena faktanya Bang Fadli dan Mbak Husna ini adalah pasangan suami istri.

Aku belum tahu bagaimana ceritanya Bu Aini bisa mempekerjakan pasangan suami istri sekaligus di toko ini. Aku juga hanya mendengarnya sekilas dari Rama. Mungkin nanti aku bisa menanyakannya sendiri. Tapi sekarang tugasku sekarang adalah menunggu dengan sabar, karena sejujurnya perutku memang sudah keroncongan sejak sebelum Bu Aini mengajakku ke sini. Mudah-mudahan Bu Aini cepat kembali.

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*