Home » Cerita Seks Mama Anak » Ciuman Dari Mama

Ciuman Dari Mama

Oke, sudah jam 10 malam…

Akupun bergegas keluar dari kamarku, langsung melangkahkan kakiku menuju kamar orangtuaku. Untuk menemui mama.

Namaku Adi. Sedari kecil, aku mempunyai rutinitas yang selalu dilakukan sebelum tidur malam. Aku biasanya akan mendapatkan ciuman selamat malam dari mama. Kadang di ruang keluarga sehabis menonton televisi, kadang mamaku yang datang ke kamarku, tapi lebih sering akulah yang mencarinya ke kamarnya untuk mendapatkan ciuman selamat malam darinya. Kebiasan mendapatkan ciuman selamat malam seperti itupun terus berlangsung hingga aku kelas 2 SMP seperti saat sekarang ini.

Tok tok tok…

“Ma…,” panggilku dari balik pintu kamar orangtuaku.

“Masuk aja Di,” sahut mama. Akupun masuk ke dalam kamarnya. Kudapati mama sedang tiduran di atas tempat tidurnya sambil menonton tv. Tampak seluruh tubuhnya kecuali kepalanya sudah masuk ke dalam selimut

“Sudah mau tidur ya?”

“Iya Ma…” jawabku yang dibalas mama dengan tersenyum. Mama kemudian bangkit dari posisi berbaringnya untuk kemudian duduk, selimutnya jadi turun sehingga memperlihatkan daster yang dia kenakan yang menurutku cukup tipis dan seksi.

Aku lalu berjalan mendekat ke arah mama, membungkuk, dan kemudian memberikan keningku untuk dikecup olehnya.

Muach…
“Selamat tidur sayang… mimpi indah yah…” ucap mama lembut memanjakan telingaku.

“Selamat tidur juga Ma…” balasku. Aku sebenarnya ingin berlama-lama di sini, tapi karena tidak ada alasanku untuk berlama-lama, akupun jadi harus segera bergegas kembali ke kamarku agar mama tidak curiga. Sebelum menutup pintu aku melihat ke arah mama lagi. Dia tersenyum manis lagi padaku. Begitu indah. Senyuman mama begitu menenangkan. Aku harap aku akan mimpi indah karena melihat senyumnya itu.

Mama biasanya hanya akan mencium keningku saja, tapi sesekali dia juga akan mencium kedua pipiku. Tentunya itu merupakan hal yang biasa jika seorang ibu mencium anaknya. Akupun tidak pernah berpikir macam-macam sebelumnya, bahkan kadang aku risih saat mama menciumku ketika akan berangkat sekolah. Namun semenjak aku mulai mengenal yang namanya bokep, bacaan porno, serta obrolan-obrolan cabul teman-temanku, aku jadi tertarik dengan yang namanya tubuh wanita dewasa. Aku mulai mengoleksi film-film porno dari internet yang ceweknya cantik-cantik. Hingga akhirnya aku sadar kalau ternyata di rumahku aku memiliki wanita yang daya tariknya melebihi wanita manapun yang pernah aku lihat, yang tak lain adalah ibu kandungku sendiri.

Ibuku bernama Lastri. Umurnya 33 tahun. Sehari-hari dia hanya menghabiskan waktu dengan mengurusi rumah. Dia hanya keluar rumah kalau ada perlu berbelanja di warung ataupun mengikuti arisan. Aku sendiri anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama Fitri dan masih kelas 5 SD. Dia imut dan cantik seperti mamanya.

Saat pagi ketika aku akan pergi ke sekolah, pulang sekolah, dan malam hari, mama selalu ada untukku. Sehingga aku merasa kalau mama memang tercipta ada untukku. Mama begitu sempurna, dan tampak semakin sempurna karena beliau memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang sangat menarik di mata pria manapun, termasuk aku anaknya sendiri.

Sebenarnya aku merasa bersalah membayangkan yang tidak-tidak pada ibu kandungku sendiri. Namun sosok mama yang cantik betul-betul menarik perhatianku. Membuat aku semakin hari semakin jatuh hati padanya. Membuatku semakin hari semakin menjadi-jadi membayangkan hal-hal cabul yang tidak pantas dibayangkan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri. Apalagi Mama termasuk orang yang cuek kalau berpakaian di dalam rumah. Tak jarang aku sering melihatnya hanya mengenakan daster tanpa bra, ataupun keluyuran di dalam rumah dengan hanya mengenakan handuk. Jadilah onaniku semakin menjadi-jadi. Bejatnya diriku, seorang anak yang onani sambil membayangkan wajah dan tubuh ibu kandungnya sendiri!

Tentunya aku tidak bisa berbuat lebih selain hanya bisa mengkhayal. Oleh karena itu aku sangat menantikan datangnya malam ketika akan tidur, karena di saat itulah aku bisa mendapatkan waktu berduaan dengan mama. Mendapatkan hangatnya ciuman dari mama meskipun hanya ciuman di kening dan di pipi. Namun itu sudah cukup bagiku.

Kalau aku sedang beruntung, aku bisa mendapatkan ciuman berkali-kali dan sangat lama darinya. Kadang aku menemukan mama hanya mengenakan pakaian dalam saja di balik selimutnya. Posisiku kadang hanya berdiri sambil membungkukkan badan menghadapkan keningku ke arah mama, kadang aku duduk di sebelahnya, tapi sesekali aku pernah nekat ikut berbaring di sampingnya ataupun menindih tubuhnya dengan modus ingin bermanja-manjaan. Mama biasanya hanya memprotes tubuhku yang sudah semakin berat ketika aku menindihnya. Dan setelah mendapatkan ciuman dari mama, aku pasti akan langsung lanjut onani di dalam kamarku.

Hari demi hari terus berganti. Tiap malam aku selalu mendapatkan ciuman selamat tidur dari mama. Dan tiap malamnya aku selalu memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Aku selalu berusaha mencoba agar setiap malam aku mendapatkan hal yang lebih dari apa yang aku dapatkan di malam-malam sebelumnya. Hal itu tidak sia-sia, karena beberapa malam belakangan ini justru posisi menindih mama yang selalu aku praktekkan. Mama tidak pernah mengeluh lagi karena berat badanku. Malah kadang dia merentangkan tangannya seakan menyambutku untuk memeluk dan menindihnya, untuk kemudian mencium kening dan juga pipiku. Tentunya semua itu hanya bisa ku dapatkan kalau tidak ada ayah di rumah. Kalau ada ayah di rumah biasanya aku hanya mendapatkan ciuman di ruang keluarga saja dari mama. Ayah memang jarang pulang karena dia sibuk mengurusi pekerjaannya di luar kota. Pekerjaan ayahku memang membuatnya jadi sering berpergian baik ke luar kota maupun ke luar negeri, sehingga membuat mamaku jadi sering tidur sendirian saat malam. Karena ayahku yang jarang di rumah itu jugalah yang membuatku jadi lebih akrab dengan mama dibandingkan dengan ayahku.

Malam ini, setelah aku selesai mengerjakan PR akupun melangkah ke kamar mama untuk mendapatkan ciuman selamat malam darinya lagi. Selama beberapa malam ini mamaku memang hanya tidur sendirian karena ayahku sedang ada pekerjaan di luar kota. Malam ini aku ke kamar mama hanya dengan mengenakan celana pendek tanpa memakai celana dalam lagi di baliknya, sama seperti beberapa malam kemaren. Saat pertama kali mama memang agak heran melihatku masuk ke kamarnya dengan hanya memakai celana pendek saja, tapi aku beralasan karena kepanasan saat tidur. Maka jadilah aku selalu datang ke kamarnya tiap malam dengan hanya memakai celana pendek saja seperti saat sekarang ini.

Tok tok tok…

“Ma….”

“Iya Di… masuk”

Akupun masuk. Seperti biasa, kamar mama terasa begitu nyaman dan sejuk karena mempunyai AC. Apalagi dengan keberadaan mama di tempat tidur yang siap memberikan ciuman selamat malam untukku. Tentunya membuatku sangat betah dan selalu ingin kembali lagi ke sini.

“Sudah mau tidur yah?”

“Iya Ma…”

“Pe-er nya sudah siap belum?”

“Udah kok ma…” Mama tersenyum manis, kemudian dengan isyarat tangan memintaku untuk mendekat ke arahnya. Dadaku lagi-lagi berdebar-debar tak sabar untuk mendapatkan ciuman dari mama. Dengan tak sabaran akupun mendorong pelan tubuh mama hingga tubuhnya tertindih olehku.

“Nnnggghhh… Adi….. Pelan-pelan!” mama menjerit kecil karena perbuatanku. Aku cuek saja. Karena hal ini sebenarnya cukup sering juga kulakukan pada mama, dan semuanya hanya mama balas dengan menjerit kecil seperti itu. Tentunya mendengar teriakan kecil dan manja seperti itu tak membuatku berhenti.

Ku posisikan wajahku sejajar dengan wajah mama, sehingga membuatku dapat merasakan tarikan nafasnya. Kedua tanganku kini berusaha memeluk tubuhnya yang dihimpit olehku. Dadaku bergesekan dengan daster tipisnya, dapat kurasakan kalau dirinya malam ini kembali tidak mengenakan bra seperti malam-malam kemaren. Ah… Sungguh suasana ini begitu erotis bagiku. Penisku berdiri dengan tegangnya. Karena tubuhku yang lebih pendek, penisku hanya sejajar dengan perutnya. Tentunya tanpa aku yang memakai celana dalam penisku jadi semakin bebas berdiri di bawah sana. Aku tidak tahu apakah mama merasakannya atau tidak, karena masih ada selimut yang cukup tebal memisahkan bagian bawah tubuh kami.

“Selamat malam sayang…” ucap mama manja sambil menciumku tepat di kening, kemudian kedua pipiku.

Selama ini memang kening dan pipiku saja yang dicium oleh mama. Namun malam ini aku berencana untuk juga mendapatkan ciuman di bibir darinya. Aku penasaran bagaimana rasanya. Aku sudah menahan-nahannya cukup lama, dan aku ingin mendapatkannya malam ini. Tapi mama sepertinya tidak akan mencium bibirku. Jadi ku beranikan saja aku yang memulai, karena aku yakin aku tidak akan dimarahi olehnya. Dengan cepat akupun mengecup bibir mamaku. Mama tampak sedikit terkejut. Dia terlihat heran dengan tingkahku, tapi dia tidak marah. Akupun menciumnya sekali lagi, kali ini sedikit lebih lama. Dia masih tetap membiarkan. Aku cium bibirnya lagi dan lagi. Meskipun mama terlihat ragu, namun dia terus membiarkan bibirnya diciumi olehku berkali-kali.

Setelah beberapa kali ku mencium bibirnya, barulah mama angkat suara.

“Kamu kenapa jadi manja banget gini sih?”

“Memang gak boleh ya aku manja-manjaan sama mama?” Aku balik bertanya.

“Boleh sih… Mama cuma gak nyangka aja kalau kamu bakal nyium bibir mama. Dulu kan kamu risih banget kalau mama cium, katanya malu anak laki-laki udah gede masih dicium mamanya, tapi sekarang malah nyium bibir mama. Ada apa sih?”

“Ng-nggak kenapa-kenapa kok, setelah Adi pikir-pikir gak ada salahnya deh Adi dicium sama mama sendiri, hehe,” aku sedikit grogi menjawabnya. Mama tersenyum kecil. Aku hanya berharap mama tidak curiga.

“Jadi boleh kan ma aku cium bibir mama?” tanyaku lagi.

“Hmm… Ya udah… Boleh… gak papa kok.”

“Nyium bibir mama terus-terusan boleh juga kan? Hehehe,” tanyaku lagi.

“Hihihi, kok kedengarannya agak gimana ya gitu… Hmm… Iya-iya…. Boleh kok sayang, kamu boleh cium bibir mamamu ini selama yang kamu mau dan kapanpun kamu pengen cium” balasnya sambil tersenyum, namun kali ini senyumannya terlihat sedikit nakal di mataku. Seakan sengaja ingin menggodaku. Apakah mama tahu kalau aku punya pikiran nakal terhadapnya? Aku tidak tahu, yang pasti saat ini aku sangat senang karena ternyata mama membolehkan aku mencium bibirnya sesuka hatiku.

Akupun dengan cepat kembali menciumi bibir mama berkali-kali. Mama menjerit tertahan, membuatku semakin bersemangat menciumi mama. Dia tidak terlihat ragu-ragu lagi menerima ciumanku. Tentunya tidak hanya bibirnya yang aku cium, tetapi juga kening dan pipinya. Meskipun ciumanku masih sekedar mengecup saja, tapi aku senang karena akhirnya sudah bisa menciumi wajah mama dengan bebas, apalagi dengan posisi menindih tubuhnya seperti ini. Mama juga sesekali membalas ciumanku, baik di kening, pipi dan juga bibirku. Tentunya membuat perasaanku makin melayang. Aku horni berat, tapi aku mencoba untuk mengontrol diri agar tidak berbuat lebih jauh dulu agar mama tidak berbalik marah dan menghentikan perbuatanku.

Cukup lama juga ternyata kami saling berciuman. Ini ciuman selamat malam terlama dan paling menyenangkan yang pernah aku dapatkan. Andai mama tidak menyuruhku berhenti dan kembali ke kamarku untuk tidur, aku pasti akan terus menciumi mama hingga pagi.

Saat kembali ke kamarku, akupun melanjutkan dengan onani. Spermaku keluar dengan banyaknya karena membayangkan apa yang barusan terjadi bersama mama. Tentunya ku berharap malam-malam selanjutnya tetap akan seperti ini. Bahkan semoga akan semakin heboh dan lebih panas lagi.

Sejak malam itu aku tidak hanya mendapatkan ciuman di kening dan di pipi saja dari mama, tapi juga di bibirku. Dan juga yang mana biasanya hanya mama yang akan menciumku, kini juga telah berubah dengan aku yang juga aktif menciumi seluruh wajah mama termasuk bibirnya. Mama dengan senang hati akan menyambut kedatanganku untuk memberikan bibirnya untuk ku nikmati di atas tempat tidurnya. Kebiasan itu terus kami lakukan setiap malam.

Hingga pada suatu malam saat ayah tidak pulang, aku meminta mama untuk tidur bareng dengannya. Mama setuju.

“Mau di kamar mama atau di kamarmu?” tanya mama.

“Dimana ya bagusnya… di kamar mama aja deh, sejuk ada AC-nya,” jawabku.

“Oke sayang… mama tunggu ya di kamar… buruan selesaikan PR-nya ya,” ucap mama sambil tersenyum manis. Aku gregetan melihat senyum manisnya yang lagi-lagi terlihat nakal itu. Belum apa-apa kontolku sudah ngaceng. Dengan cepat ku selesaikan PR-ku. Aku tidak sabar ingin berduaan dengan mama sepanjang malam.

Saat PR-ku sudah selesai, akupun segera ke kamar mama. Seperti biasa, aku hanya mengenakan celana pendek saja. Saat masuk ke kamarnya. Ku lihat mama sedang duduk di tepi tempat tidur. Dia sudah berganti pakaian dengan gaun tidur berwarna hitam. Sungguh Mama terlihat sangat cantik dengan gaun tidur yang dia kenakannya itu. Mama terlihat sangat menggairahkan.

“Gaun mama cantik. Gaun baru yah ma?” tanyaku dengan mata terus menikmati memandang indahnya sosok ibu kandungku itu.

“Yup… kamu suka sayang?” mama bertanya sambil berpose dan bergaya di depanku. Seakan mempersilahkan mataku menatap dirinya sepuas-puasnya. Ingin rasanya ku onani saat itu juga. Membuka celanaku dan mengocok kontolku di depan ibu kandungku.

“Su-suka ma… mama cantik, seksi, sempurna” jawabku, Mama hanya tertawa kecil mendengar ucapanku. Aku sangat senang mama membeli gaun tidur baru dan khusus mengenakannya untukku. Mama masih bergaya di depanku. Aku selalu menahan nafas dan menelan ludah berkali-kali tiap mama berganti pose. Kontolku betul-betul tegak dengan tegangnya dan terlihat sangat menonjol dari celana. Aku yakin mama bisa melihatnya, tapi dia seperti tidak ingin mempedulikan.

“Kamu mau berdiri sampai kapan sih Yang? Yuk buruan bobok” ajak mama manja dengan isyarat tangan menepuk tempat tidur.

“I-iya ma”
Gila… sensasi luar biasa menjalar di seluruh tubuhku karenanya. Ternyata ayahku memang sangat beruntung bisa menikahi mama, namun sayang dia tidak bisa tiap malam mendapatkan indahnya malam seperti saat ini. Untuk malam ini, mama khusus untukku, anak kandungnyalah yang akan menikmati mama malam ini.

“Ayo doooong…” ucap mama lagi. Tidak ingin tunggu disuruh lagi, akupun segera menarik tangan mama dan menghempaskannya ke tempat tidur. Ku tindih tubuh moleknya. Kuciumi seluruh wajahnya tanpa ampun, termasuk bibirnya. Mama hanya menjerit tertahan sambil sesekali tertawa geli. Membuatku jadi semakin bernafsu padanya.

Aktifitas yang dulunya hanya sekedar kecupan di kening dari mama, kini telah menjadi pencumbuan yang panas antara aku dan mama. Kami saling berciuman. Menciumi wajah satu sama lain. Aku tidak lagi hanya sekedar mencium, lidahku juga bermain-main menjilati halusnya wajah ibu kandungku ini. Wajah mama yang cantik dan putih mulus sampai basah oleh liurku. Kening, pipi, hidung hingga bibirnya kuciumi dan kujilati sepuas hatiku. Lidahku kini juga sudah berani masuk ke dalam mulut mama, berusaha menggapai lidahnya untuk saling berpagutan. Awalnya mama seperti ingin berontak karena terkejut, namun lama kelamaan mamapun membalas permainan lidahku di mulutnya.

“Kamu mau nyium mama sampai kapan sih? Buruan tidur gih” ucap mama akhirnya dengan nafas terengah-engah. Dadanya naik turun. Tampak mama sudah berkeringat. Belahan dadanya terlihat semakin indah karena mengkilap oleh keringat. Ingin rasanya ku benamkan wajahku di sana.

“Lihat… udah jam berapa tuh? Besok kamu sekolah kan?” ucap mama sekali lagi. Ku lihat jam di dinding, ternyata sudah lewat setengah jam lidahku bermain-main di wajah ibu kandungku ini. Tapi tentunya aku masih belum ingin berhenti. Rasanya tidak ada puasnya menikmati indahnya wajah mama.

“Bentar lagi dong ma… Besok kan hari minggu. Mama tidur aja duluan, aku masih pengen cium-cium mama”

“Hihihi, mana bisa mama tidur kalau kamu nyiumin mama terus” balas mama sambil menowel keningku. Aku cengengesan mesum dan kembali menciumi seluruh wajahnya.

“Dasar nakal… nnghhh” mama melenguh. Entah karena kesal karena aku tidak mau berhenti atau karena horni, aku tak tahu. Yang jelas kini mama hanya pasrah diciumi putranya.

Tubuhku kutempel erat ke tubuh mama sambil terus mengajaknya berciuman. Tanganku menggerayangi punggungnya, kakiku juga mengapit erat kaki mama. Dan tentu saja penis tegangku yang masih tertutup celana juga bergesek-gesekan dengan perut mama.

Entah bagaimana awalnya, sekarang gaun tidur yang mama kenakan sudah tidak melekat sempurna lagi di tubuhnya. Sambil terus menerima ciumanku, mama juga berusaha untuk membetulkan posisi pakaiannya. Tapi tentunya tidak mudah karena tubuhnya tertindih olehku yang masih terus menciuminya dengan buas. Justru aku yang berusaha membuat gaun tidur mama semakin tak karuan. Hingga akhirnya sebelah buah dadanya terbuka dan terpampang jelas di mataku, barulah kemudian mama mendorong tubuhku dengan kuat.

“Udah ah, bandel” ucapnya cemberut.

Aku bangkit dan duduk di sebelah mama. Ku perhatikan kondisi mama. Pundak mama yang licin sudah terbebas dari tali gaun tidurnya. Sebelah buah dadanya terekspos. Bagian bawah gaun tidurnya juga sudah tersingkap sampai ke perut hingga memperlihatkan celana dalamnya. Mama terlihat sangat seksi dengan kondisi seperti ini. Tapi mama segera membetulkan kondisi gaunnya, tentunya aku kecewa.

“Ma….”

“Apa?”

“Kalau mama kepanasan, buka aja bajunya… keringatan gitu,” ujarku berharap.

“Huuu… Mau mu… enak aja,” tolak mama sambil memeletkan lidah lalu tertawa kecil, seakan senang membiarkan anak kandungnya ini mupeng berat terhadapnya.

Aku terus merengek meminta mama melepaskan gaun tidurnya, tapi mama tetap tidak mau membukanya. Akupun akhirnya mengalah. Yah, tidak apalah, aku tidak ingin juga memaksanya saat ini. Bisa-bisa mama nanti marah dan aku tidak diperbolehkan melakukan hal cabul seperti ini lagi padanya.

“Terus sekarang kamu masih pengen nyium mama atau udah mau tidur nih?” tanya mama kemudian. Tentu saja aku masih pengen menciumi mama. Tanpa menjawab akupun kembali menindih mama. Kami kembali lanjut berciuman panas, saling berpagutan dan bermain lidah hingga tubuh kami bermandikan keringat. Kadang aku meminta mama agar mama yang berada di atas. Dengan posisi seperti ini, tanganku lebih leluasa mengelus-elus punggung mama. Bahkan tanganku kini juga sudah berani mengelus pantatnya, mama tidak memprotes. Berkali-kali gaun tidurnya itu kembali ku buat acak-acakan hingga memperlihatkan sepasang ataupun kedua buah dadanya lagi, tapi berkali-kali juga mama akan berhenti menciumku untuk membetulkan gaun tidurnya.

Saat berciuman, aku yang horni berat memberanikan diri membuka celanaku hingga penisku terbebas. Tentunya mama tahu, dia geleng-geleng kepala melihat ulahku, tapi dia tidak memperotes, dia membiarkan. Rasanya sungguh luar biasa saling berciuman dengan mama telanjang bulat seperti ini. Penis tegangku tidak tertup apa-apa lagi bergesekan dengan perut dan selangkangan mama.

Cukup lama kami bermesraan, saling berciuman yang tidak sepatutnya dilakukan oleh ibu dan anak kandungnya. Yang mana aku telanjang bulat sedangkan mama mengenakan gaun tidur yang seksi. Sungguh mama membuat aku konak bukan main. Kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya, ditambah dengan gaun yang dia kenakan. Aku mupeng berat, tapi ku coba untuk tidak berbuat lebih dari ini sekarang. Hingga akhirnya mama meminta untuk berhenti karena sudah sangat mengantuk. Aku yang juga sudah mengantukpun setuju. Aku pikir sudah cukup malam ini. Menurutku apa yang baru saja terjadi malam ini sudah sangat luar biasa.

Muachh…
“Selamat tidur Yang… mimpi indah ya”

“Selamat tidur juga mamaku sayang”

Aku penasaran apa yang akan terjadi malam-malam selanjutnya bersama mama. Aku tak sabar ingin mendapatkan ciuman selamat malam lagi darinya.

Karena aku tidak onani, paginya kudapati celanaku basah. Aku mimpi basah. Tentunya membuat mama kesal karena harus membersihkan sprei tempat tidur. Meskipun begitu, mama tidak menolak saat malamnya aku meminta untuk tidur bareng dengannya lagi.

Saat aku masuk ke kamar mama malam harinya, mama sudah siap menungguku di tepi tempat tidur, dia telah mengenakan gaun tidur yang berbeda dari kemaren. Birahiku langsung naik melihat ibu kandungku itu. Mama sangat cantik. Akupun langsung menuju mama untuk mengajaknya berciuman. Kami berciuman dengan panasnya seperti kemaren. Saling mencium, membelit lidah, dan menjilati wajah satu sama lain hingga badan kami bermandikan keringat karena panasnya aksi kami.

Aku kemudian menurunkan celanaku dan bertelanjang bulat.
“Dasar…” hanya itu yang dia ucapkan sambil mencubit pelan hidungku. Akupun kembali berciuman dengan mama dengan penis mengacung bebas.

“Yang…” panggil mama setelah cukup lama kami saling berciuman.

“Ya Ma?”

“Sebelum tidur kamu keluarin dulu deh, jangan sampai nanti ngotorin sprei lagi” suruh mama padaku.

“Keluarin apa Ma?”

“Spermamuuu…”

“Oh… emang mama udah mau tidur ya?”

“Iya… emang kamu belum? Mau nyium mama sampai kapan sih? Sana, ke kamar mandi”

“I-iya Ma…” jawabku. Akupun ke kamar mandi. Ku kocok penisku sambil membayangkan mama. Bisa saja aku muncrat saat itu juga karena aku memang sangat horni, tapi aku tiba-tiba memikirkan rencana lain. Aku kembali masuk ke dalam kamar mama.

“Sudah keluar Yang?” tanyanya sambil berbaring miring menghadap ke arahku.

“Belum ma…”

“Lho…. kok belum?”

“Gak mau keluar, aku boleh gak keluarin di sini aja? Di depan mama…”

“Duh kamu ini. Ya udah, terserah kamu deh. Asal jangan kena sprei lagi ya”

“Iya…”

Aku senang sekali. Segera ku kocok kontolku. Rasanya gimanaaaa gitu mengocok kontol di depan ibu kandung sendiri sambil dilihatin olehnya. Sensasinya sungguh luar biasa. Begitu cabul. Aku yakin mama juga merasa aneh melihat aku onani di depannya. Mungkin dia merasa risih, tapi sepertinya sensasi erotis ini justru membuat kami semakin penasaran dan ketagihan melakukan hal tabu yang tidak sepatutnya dilakukan oleh ibu dan anak seperti yang sedang kami lakukan sekarang.

“Enak Di?”

“Enak banget Ma”

“Kamu suka ya onani di depan mama?”

“Iya… Adi suka ngocok kontol Adi sambil dilihatin mama. Mama cantik, seksi, aku pengen ngocok sampai Adi muncratin peju di depan mama,” jawabku vulgar. Darahku berdesir karena akhirnya aku mengucapkan kalimat seperti itu pada ibu kandungku sendiri. Mama sendiri hanya tersenyum kecil mendengar ucapanku. Entah apa yang ada di pikirannya mendengar anak kandung laki-lakinya berucap seperti itu pada dirinya.

“Sini naik,” pinta mama kemudian. Aku turuti saja permintaannya. Aku naik ke tempat tidur dan berbaring di samping mama. Ku tatap wajah cantik mama yang juga sedang menatapku. Tanganku masih terus mengocok kontolku.

Tiba-tiba mama naik ke tubuhku lalu mencium bibirku dan mengajakku membelit lidah. Aku terkejut. Sensasi yang ku rasakan kini menjadi berkali-kali lipat. Rasanya sungguh luar biasa mengocok kontol sambil berciuman dengan mama sendiri.

“Biar cepat keluar, mama udah ngantuk” ucapnya berbisik. Aku senang sekali mama seakan membantuku onani. Kamipun saling berciuman sambil aku terus mengocok kontolku. Tidak butuh waktu lama, aku yang dari tadi sudah horni kini tak tahan lagi untuk mengeluarkan isi kantong zakarku. Mama yang sadar aku akan segera muncratpun melepaskan ciumannya.

“Sana keluarin, jangan sampai ngotorin sprei” suruhnya. Akupun miringkan tubuhku menghadap tepi ranjang.

“Ma…. Aku muncraaaat”

“Iyaah, keluarin aja semuanya anakku sayang. Keluarkan spermamu…” ucap mama manja.

“Mamaaaaaaa… nggghhhh…”
Crooooot… Croooooott…

Sambil menyebut nama mama akupun menembakkan spermaku ke lantai. Begitu banyak dan kental mengotori lantai kamar tidur orangtuaku. Aku senang sekali. Aku baru saja onani terang-terangan di hadapan ibu kandungku dan mengotori lantai kamarnya.

“Udah selesai?”

“Udah”

“Enak nggak?”

“Enak ma… tapi lantainya jadi kotor tuh Ma”

“Mana? Coba mama lihat” ucapnya sambil berangsut ke sisi ranjang tempat aku berbaring, tubuhya menindih diriku. Langsung saja ku peluk tubuhnya. Mama sepertinya penasaran sebanyak apa sperma yang keluar dari kontol anak kandungnya karena beronani membayangkan dirinya. Tentu saja sangat banyak, karena ini onani terhebat yang pernah aku rasakan. Tidak ada yang lebih hebat dari pada onani membayangkan ibu kandung sendiri di hadapan beliau langsung.

“Banyak kan Ma?” ujarku bangga menunjukkan sperma hasil onaniku barusan pada mama.

“Iya banyak. Duh, sampai berceceran gitu… Tapi gak apa deh lantainya yang kotor, asal jangan spreinya aja yang kotor”

“Berarti besok boleh lagi dong Ma?” tanyaku antusias.

“Yeee… mau nya…” ucapnya gemas sambil menarik-narik hidungku.

“Hehehe”

“Itu udah semua kan? Jangan sampai mimpi basah lagi ya nanti”

“Iya Ma…”

“Ya udah, tidur lagi sana” ucap mama turun dari tubuh telanjangku.

“Tapi besok boleh lagi kan Ma?” tanyaku sekali lagi karena penasaran. Mama tidak menjawab. Dia hanya tersenyum.

“Selamat malam sayang, muach…” ucapnya sambil mengecup keningku, lalu menyelimuti tubuhnya dan memunggungiku. Arghh… aku sungguh gemas. Beruntungnya aku punya ibu kandung seperti mama.

Sejak saat itu, setiap papa tidak pulang ke rumah, aku akan selalu meminta mama untuk tidur dengannya. Mama tidak keberatan. Dia selalu menyambutku dengan senang hati saat aku masuk ke kamarnya. Biasanya aku akan ke kamar mama begitu adikku masuk ke kamarnya untuk tidur. Mama selalu siap dengan gaun tidur yang dia kenakan. Bahkan sekali seminggu mama pasti akan mengenakan gaun tidur baru yang baru saja dia beli, yang mana khusus tersaji untuk dilihat oleh anak kandungnya seorang.

Ketika masuk ke kamar mama, aku akan langsung membuka celanaku dan bertelanjang bulat. Kalau tidak tahan, aku akan langsung mencium mama sambil berdiri, barulah kemudian mengajak mama berciuman dan membelit lidah di ranjang. Berguling-gulingan, berpelukan hingga tubuh kami banjir keringat. Setelah puas, aku kemudian akan mengocok penisku dengan ditemani mama sampai aku memuncratkan spermaku ke lantai. Hal tersebut terus kami lakukan setiap malam.

Gaun tidur yang mama kenakan biasanya akan acak-acakan karena ulahku hingga memperlihatkan buah dada dan celana dalamnya. Gaun tidurnya menggantung begitu saja di perut mama. Sekarang mama tampaknya sudah capek harus membetulkan gaun tidurnya lagi. Dia kini pasrah saja buah dadanya menjadi santapan mata anak laki-lakinya. Pernah aku mencoba untuk menyentuh buah dadanya, tapi tanganku langsung ditepis mama. Dia ternyata masih tidak mau aku melakukan hal yang lebih jauh.

Pada suatu malam, saat kami sedang asik-asiknya berciuman hingga keringatan. Aku yang terlalu bernafsu menjamah tubuh mama membuat gaun tidur yang mama kenakan menjadi robek, padahal itu gaun tidur yang baru saja dia beli, dan ku tahu harganya cukup mahal.

“Duh, robek kan…. kamu sih Yang…” ujar mama cemberut. Bagian yang robek itu membuat buah dada mama terpampang bebas. Membuat mama terlihat sangat menggairahkan.

“Maaf deh Ma…” ucapku. Mama menatap lama padaku. Matanya memancarkan sesuatu. Aku tahu kalau mama akan melakukan sesuatu yang luar biasa.

Benar saja, mama dengan gerakan perlahan mulai membuka gaun tidurnya. Dia lepaskan pakaiannya itu dari tubuhnya, kemudian dengan sembarang melempar gaunnya itu ke sudut kamar. Sekarang mama nyaris telanjang bulat! Hanya mengenakan celana dalam saja! Aku semakin birahi melihat ibu kandungku ini.

“Ma…” panggilku dengan nafas tertahan. Aku begitu takjub dengan pemandangan ini. Mama begitu mempesona. Buah dadanya begitu indah menggantung. Urat-urat hijau begitu kontras dengan kulit payudara mama yang putih. Begitu memanjakan mataku, anak laki-lakinya ini.

“Bajunya robek, gak bisa dipakai lagi” ucap mama santai. Sungguh menggemaskan, langsung ku tarik mama dan menindih tubuhnya lagi. Kami saling berciuman lagi. Kali ini tubuh telanjangku bergesekan langsung dengan tubuh mama yang juga nyaris telanjang. Dadaku berhimpitan dengan buah dadanya. Puting susunya terasa menekan dadaku. Tanganku kini dengan bebasnya menggerayangi punggung mama. Sungguh sensasi yang luar biasa bisa bermesraan dan bertelanjang berdua dengan ibu kandung yang cantik dan seksi seperti mama. Aku begitu horni.

Semakin lama aku semakin tak kuat, tanganku sudah menggerepe-gerepe kemana-mana hingga meremas pantatnya yang terbalut celana dalam. Bau tubuh telanjang mama yang berkeringat betul-betul membuatku tak tahan. Akupun akhirnya beranjak ke tepi ranjang dan menumpahkan spermaku ke lantai. Barulah setelah itu kami tidur.

Aktifitas seperti itu selalu kami lakukan setiap malam. Kadang mama menantiku dengan gaun tidurnya, tapi kadang menantiku dengan hanya memakai celana dalam. Akupun kini setiap ke kamar mama sudah tidak memakai apa-apa lagi dari kamar. Kalau saat itu mama sedang memakai gaun tidur sedangkan aku ingin mama bertelanjang, maka akupun meminta mama melepaskan gaun tidurnya, bahkan membantu menelanjangi mama. Mama tidak menolak. Dia membiarkan anak lelakinya sendiri menelanjangi dirinya. Entah apa jadinya kalau papa mengetahui kalau istrinya ditelanjangi, dijamah, dan cium habis-habisan oleh anak kandungnya sendiri di atas tempat tidurnya. Entah apa jadinya kalau lantai kamarnya selalu kotor oleh sperma anak laki-lakinya yang baru saja bermain-main dengan tubuh istrinya.

Mama kini juga sudah tidak menepis tanganku yang selalu berusaha menyentuh buah dadanya. Dia sepertinya sudah capek mengurus tanganku yang selalu liar menggerepe tubuhnya. Tangankupun kini dapat menikmati tubuhnya dengan bebas. Meremas buah dadanya, memilin puting susunya, serta menarik-narik puting susu ibu kandungku ini. Mama selalu melenguh manja tiap aku mempermainkan buah dadanya. Jelas dia terbawa nafsu. Baik aku maupun mama sangat menikmati permainan erotis yang sangat tabu ini. Yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang ibu dan anak laki-lakinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*