Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 72

Wild Love 72

Berbulan-bulan aku mengandung anak mahesa, sudah tak aku pedulikan lagi keberadaan yah dari anak ini. aku kembali ke kehidupanku seperti sedia kala dalam beberapa bulan ini. menjadi anak ayah dan ibu, tapi tidak sepenuhnya karena ada eri disini yang menemaniku, kadang anak perempuanku yang satunya, rani, juga datang kesini menemaniku. Pernah sesekali, arya pulang walau aku melarangnya karena aku tahu dian adalah wanita yang manja seperti halnya aku. Tapi aku tidak pernah terlihat manja, lha wong suami saja tidak pernah ada dirumah, dulu. Tapi namanya anak laki-laki, sering sekali dia meneleponku menanyakan keadaanku. Aku bangga dengannya karena memiliki pemikiran untuk mendirikan usaha, uang yang dulu pernah aku kumpulkan aku berikan sepenuhnya kepadanya untuk modal usaha.

Perna Arya saat itu pulang dengan wajah marah, ternyata dia sedang bermasalah dengan dian. baru kali ini wajahnya yang selalu tersenyum dihadapanku terlihat snagat marah. Wajar saja mungkin karena memang pada dasarnya sudah bertemu dengan wanitanya, pasti ada marah-marahannya. Hari ini ratna datang kerumah mengajakku ketempat belanja, aku telepon dian dan arya untuk ikut dan merea menyetujuinya. Dengan usia kandungan hampir 8 bulan, rasanya berat sekali untuk melangkah. Aku menyayangi anak didalam kandungan ini, walau ini benih dari mahesa. Aku tidak mempermasalahkannya, karena memang hanya dari dia aku bisa mengandung. Pernah saat itu aku berpikir untuk arya tapi tidak, aku tidak ingin memperpanjang kesalahanku.

ÔÇ£mamaaaaa…ÔÇØ teriak dian masuk kedalam rumah selang beberap jam aku telepon

ÔÇ£masmu mana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£itu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ibu…ÔÇØ ucap arya

ÔÇ£pengusaha sukses ni??? Tapi sayang masih lajang hi hi hi buat apa coba uang banyak kalau masih lajang?ÔÇØ candaku

ÔÇ£keluar lagi deh, yakin bu. Aneh rasanya arya denger ibu ngomong kaya gituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£terus? Harus bilang apa? Wow?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ayolah bu… jangan kaya gitu, tapi terserah deh. Eh bu, lha mana anak perempuan ibu yang cengeng itu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£auw auwh.. sakit tahu, aku balasÔÇØ ucap arya yang kena cubit dua adiknya

ÔÇ£mbak diaaaaaaaaan…ÔÇØ teriak mereka berdua bersembunyi dibalik dian

ÔÇ£dari mana sih kalian?ÔÇØ ucap arya

ÔÇ£tuh…ÔÇØ ucap mereka berdua serempak,

ÔÇ£hai kakak iparkuÔÇØ ucap anta dan rino, pacar dari rani dan eri, aku tahu dari cerita mereka berdua

ÔÇ£hah?! Aku jadi kakak ipar kalian, ndak mau, cari yang lain ran, er!ÔÇØ ucap arya

ÔÇ£mama… kak arya jahatÔÇØ ucap mereka

ÔÇ£sudah, sudah kalian itu sudah gedhe bertengkar terusÔÇØ ucapku

Ratna kemudian datang bersama suami dan anak-anaknya. Kami kemudia berangkat, arya mengemudikan mobil dan dian menemaniku dibelakang. Sedang rani dan eri dan juga pacarnya dengan ratna.

ÔÇ£mah cowok apa cewek?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£cewek kemarin di USGÔÇØ ucapku

ÔÇ£asyiknyaaaaa punya dedek, pengeÔÇØ ucap dian sambil melirik arya

ÔÇ£iya, iya, bentar perusahaan kan belum stabil sayang ntar makan apa coba?ÔÇØ bela arya

ÔÇ£makan nasi, tul g yan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem… mas arya kadang bloon dehÔÇØ ucap dian

ÔÇ£daripada judes! Weeeek….ÔÇØ balas arya

ÔÇ£biarin penting cantik, bener ndak ma?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£bener, daripada jomblo dipelihara lama hi hi hiÔÇØ ucapku

ÔÇ£lama kelamaan arya lihat ibu, masa mudanya kaya dian dehÔÇØ ucapnya

ÔÇ£oooo… kamu ngatain ibu gitu?!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£endak endak… gitu saja marah huuuuuuÔÇØ ucap arya

Sesampainya di tempat perbelanjaan, mereka langsung bergerak sendiri, sendiri aku hanya duduk manis didepan salah satu tokok yang berada didalam toko perbelanjaan. Memainkan sematpon untuk membaca artikel-artikel terkait dengan kehamilan. Dian datang membawakan aku jus buah dan diletakand di meja kemudian meninggalkan aku untuk berberlanja bersama dengan arya. aku hanya bisa pesan barang A, B, C dan menunggu mereka. Lama aku menunggu…

ÔÇ£boleh aku duduk disini?ÔÇØ ucap seorang lelaki, yang suaranya tidak begitu asing,

ÔÇ£silahkanÔÇØ ucapku cuek dan tetap memainkan sematpon

ÔÇ£hamil berapa bulan?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hampir 8 bulanÔÇØ ucapku masih sibuk dengan sematpon

Hening sesaat tapi aku merasa laki-laki ini memandangku terus, tapi aku acuh bahkan tidak meliriknya sama sekali.

ÔÇ£kamu masih tetap sama ya yah, sama seperti ketika sekolah duluÔÇØ ucapku terhenyak dan langsung aku angkat pandanganku. Betapa terkejunya aku melihat lelaki yang sekarang berada dihadapanku.

ÔÇ£eh… kamu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hai, apa kabar?ÔÇØ ucapnya menyodorkan tangannya

ÔÇ£baik, kamu?ÔÇØ ucapku, sambil menjabat tangannya

ÔÇ£baik…ÔÇØ ucapnya tersenyum manis ke arahku

ÔÇ£mana istri dan anakmu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku belum menikah, jadi tidak punya anak dan istriÔÇØ ucapnya

ÔÇ£jangan bohong kamu, sudah hampir 20 tahun lebih berlalu kok belum menikahÔÇØ ucapku santai, dan bersandar di kursi

ÔÇ£menikah sama siapa yah? Aku lajang setelah aku memutuskan pindah, dan sibuk dengan sekolah, juga pekerjaankuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya sama cewek, kalau kamu homo ya sama cowok, gampang kan? Namanya cowok juga pasti dekat dengan cewek kan? Kamu pasti bohong..ÔÇØ ucapku

ÔÇ£diah, diah… pernah aku berbohong sama kamu?ÔÇØ ucapnya, aku tatap matanya dan aku menggeleng

ÔÇ£terus kenapa kamu ada disini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£karena mendengar kabar tentang kamu dari mas andi, kemarin aku ketemu dengannya ketika dia berada di ibukota negara. Dia bersama seorang remaja tapi aku lihat wajahnya mirip kamu. itu anak kamu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, tuh…ÔÇØ ucapku sambil menunjuk ke arah arya

ÔÇ£aku belum sempat bertemu dengannya, karena waktu itu aku ketemu mas andi pas papasan di rumah makan. Ganteng dan putih ya, mirip ibunya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kalau mirip ibunya, ya cantik to yaÔÇØ ucapku

—-

ÔÇ£siapa laki-laki itu?ÔÇØ bathinku

ÔÇ£ade, kesana yuk. Ibu kok ngobrol sama orang asingÔÇØ ucapku kepada dian, dan dian mangangguk

ÔÇ£ibu…ÔÇØ ucap arya kepdaku

ÔÇ£hai om…ÔÇØ ucapnya kepada lelaki itu

ÔÇ£hai…ÔÇØ ucap lelaki yang duduk tepat didepanku, arya duduk disampingnya sedangkan dian duduk di sampingku

Lelaki ini kemudian mengobrol sejenak dan menceritakan pertemuannya dengan mas andi. Arya terlihat antusias, walau pertama pandangan arya adalah pandangan curiga.

ÔÇ£oh ya om, kenalin namaku arya dan ini dian calon mantu ibukuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh,…ÔÇØ lelaki itu tampak terkejut dan sedikit melirik kearahku

ÔÇ£ada apa om?ÔÇØ ucap arya

ÔÇ£kenalkan nama om, Arya, Ariya Sukarno, panggilannya arya, tapi nama lengkap om pakai huruf i setelah huruf r. Om teman SD, SMP dan SMA ibu kamuÔÇØ ucap ariya

ÔÇ£wah nama kita sama om, tapi beda dibelakangnya dan huruf i-nya tadi he he hesajaÔÇØ ucap arya anakku

Kami bercanda, dan kemudian arya, dian melanjutkan belanjannya. Setelah selesai semua, mereka berkumpul kembali ke tempatku dan arya teman sekolahku mengobrol.

ÔÇ£lho mas aryaÔÇØ ucap ratna terkejut

ÔÇ£hai rat, masih ingat kamu sama akuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£masih lah… ha ha haÔÇØ ucap ratna kemudian kami mengobrol, selang beberapa saat aku dan yang lainnya melangkah menuju ke tempat parkir. Aku berjalan berdampingan dengan arya anakku, tapi ariya kemudian meminta anakku untuk jalan terlebih dahulu.

ÔÇ£yah, apa sekarang kamu benar-benar sudah tidak…. itu anu apa itu….ÔÇØ ucapnya sedikit gugup

ÔÇ£apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak memiliki suamiÔÇØ ucapnya, terlihat sangat lega ketika seudah berucap

ÔÇ£iya, memang kenapa? lha kamu sendiri bagaimana? Aku tidak percaya deh kalau kamu itu lajang? Ndak mungkin cowok seperti kamu masih ting-tingÔÇØ ledekku, memang perawakannya putih tinggi tapi jika dibanding anak lelakiku lebih tinggi anak lelakiku

ÔÇ£yah… aku sudah bilangkan tadi kalau aku tidak pernah berbohong kepadamuÔÇØ ucapnya memandangku, dan kali ini aku yakin kalau dia serius

ÔÇ£iya deh percaya. Aneh juga cowok seperti kamu ndak nikahÔÇØ ucapku

ÔÇ£karena kamu…ÔÇØ ucapnya membuat langkahku terhenti dan memandangnya

ÔÇ£semua karena kamu yah, seandainya saja dulu tak ada kejadian itu pasti aku akan tetap tinggal di kota ini. haaassshhh… aku masih terlalu sulit melupakanmuÔÇØ ucapnya membuatku tercekat

ÔÇ£aku sudah janda dan akan mempunyai anak lagi, umurku sudah tua dan tidak menarik lagi. Jangan ungkit lagi janji dimasa lalumu itu, kita sudah terlalu tuaÔÇØ ucapku melanjutkan langkahku. Dadaku berdegup kencang jika mengingat wajahnya yang masih SMA waktu itu.

ÔÇ£yah… bisa kita bicara sebentar yah?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ibuuuuu….ÔÇØ ucap arya yang memanggilku

ÔÇ£anakku sudah memanggil, maaf kapan-kapan kita lanjut lagiÔÇØ ucapku sambil tersenyum ke arahnya

ÔÇ£baiklah, hati-hati ya…ÔÇØ ucapnya

Aku tak menyangka akan bertemu dengannya disini. dulu setelah kejadian yang menimpaku, kulihat wajahnya meneteskan air mata. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Kata teman-temanku dia pindah entah kemana dan aku tidak pernah mendengarnya.

ÔÇ£bu tadi siapa?ÔÇØ ucap arya

ÔÇ£kan tadi sudah bilang si om, kalau dia teman sekolah ibuÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi aneh, kok namanya sama ya dengan namaku, kalau pas dipanggil walaupun tulisannya bedaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£heÔÇÖem ma, tapi ndak tahu dingÔÇØ ucap dian

ÔÇ£kebetulan sayangÔÇØ ucapku

Setelah pertemuan itu, aku kembali ke kehidupanku. Kehamilanku semakin membesar, anak lelakiku dan kekasihnya sering sekali menjengukku. Kadang malah tidur besamaku walau ada eri yang selalu menemaniku. Hingga pada suatu hari, Ariya datang kerumah.

ÔÇ£lho ada angin apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bapak sama ibu kamu ada?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ada, duduk dulu sebentar. Ku panggilkanÔÇØ ucapku tanpa menaruh curiga

Selang beberapa saat, ibu dan ayahku menemuinya. Aku buatkan minum, kulihat wajahnya sedikit grogi. Aku letakan minuman dan hendak pergi ke belakang.

ÔÇ£yah, bisa disini sebentar saja?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£sebenarnya kamu mau menemui siapa ar? Diah atau bapak sama ibu?ÔÇØ ucap ayahku, aku mengangguk dan duduk disamping ibu

ÔÇ£ke…ketiga-tiganyaÔÇØ ucapnya, tampak grogi

ÔÇ£eh om A-RI-YA, he he he ada apa ini om?ÔÇØ ucap anakku yang tiba-tiba datang dari belakang bersama dian. tak ada eri karena eri sedang pergi dengan rino.

ÔÇ£ndak papa arÔÇØ ucapnya

ÔÇ£arya, kamu itu datang tiba-tiba langsung buat gempar saja… Oh iya kok kamu tiba-tiba muncul? Dulu kamu pindah ya?ÔÇØ ucap ayahku dan anakku hanya cengengesan

ÔÇ£iya pak… eee anu pak, boleh saya memulai?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£wah kok serius sekali ada apa?ÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£begini, maksdu kedatangan saya yang pertama adalah menjalin tali silaturahmi. Dan yang kedua adalah untuk… anu… eh…melamar diah pak, untuk menjadi istri sayaÔÇØ ucapnya

Kamisemua tercengang mendengar ucapannya. Bahkan anakku saja sampai membuka mulutnya, juga dian tampak kebingungan.

ÔÇ£baiklah, kalau ini kamu langsung bicara saja sama diah. Bapak dan ibu mau kebelakang dulu. Ayo bu, tadi ibu mau mijitin bapak kan?ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£oh iya lupa, nak arya ibu kebelakang dulu, silahkan bicara sama diah langsung. Ar kamu ndak ikutÔÇØ ucap ibuku, anakku menggelengkan kepala dan masih duduk dengan dian bersandar dibelakang punggungnya menatap teman sekolahku ini.

ÔÇ£yah, bagaimana?ÔÇØ ucapnya menyadarkan aku

ÔÇ£ar, maaf bukannya aku menolak. Tapi aku seorang janda dan aku mengandung anak dari suamiku. Aku tidak mau kamu menanggung bebankuÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku siap menjadi ayahnya, dan jika anak itu lahir katakan kepadanya aku ayah kandungnya. Aku tidak tahu semua masalahmu yah, yang aku tahu aku terluka ketika kejadian saat itu dan aku pergi agar aku bisa menenangkan diriku. Aku tidak bisa melupakanmu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£jangan bodoh! Banyak wanita yang lebih baik dari aku dan ban….ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£ini, kamu masih ingat ini kan?ÔÇØ ucapnya dihadapan anakku, menyerahkan kalung. Ingatanku kembali ke masa yang lampau.

ÔÇ£hei yah, aku akan mengalahkanmu dan aku akan menjadi juara satu pararel sesekolahanÔÇØ ucap ariya

ÔÇ£coba saja, emang aku diem saja gitu!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau aku menang aku mau kalung kamu ituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh eh jangan seenaknya buat peraturan ya! taruhan sendiri, ya menang urus sendiri dong!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bilang saja kamu takut!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£HUH! Apa kamu bilang, oke kalau begitu. Tapi kalau aku menang, kamu harus merangkak pulang dari sekolahan kerumahmu!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£siap!ÔÇØ ucap ariya

Setelah semesteran…

ÔÇ£manaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£nih, beruntung kamu menang, kalau besok aku menang kembalikan kalungku!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak, aku akan kembalikan kalau aku melamarmu nantiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£siapa juga yang mau sama kamuÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku akan menunggumu sampai kamu mau, dan baru kalung ini aku kembalikanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£yah…ÔÇØ ucapnya menyadarkan aku, anakku bahkan hanya diam memandang kami berdua

ÔÇ£sudahlah lupakan janjimu ituÔÇØ ucapku, ketika kalung itu jaruh dan menggantung kulihat sebuah cincin yang bersanding dengan liontin kalungku

ÔÇ£jika kamu memang tidak mau, aku akan menyimpannya sampai kamu mauÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hiks hiks… dasar kamu cowok jelek! Kenapa kamu mau sama janda seperti aku, janda yang sedang hamil!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£karena aku selalu mengagumimu dan mencintaimu walau tak pernah aku ungkapkan, tapi sekarang aku benar-benar mengungkapkannya dihadapanmu dan juga anakmuÔÇØ ucapnya

Aku lihat dian hendak mendekatiku tapi arya anakku mencegahnya. Wajah arya tersenyum dan mengangguk ke arahku. Aku memang jengkel dengan lelaki ini sejak dulu, tapi ada perasaan sayang kepada sainganku ini. semejak dia menghilang dan aku melahirkan, aku merasa kehilangan. Aku tidak pernah menceritakannya kepada siapapun itu. bahkan anakku sendiri. tentang cinta yang terpendam kepada lelaki jelek.

ÔÇ£cewek galak, kamu mau kan?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£dasar cowok jelek!ÔÇØ ucapku sambil menyodorkan tangan kiriku, aku tidak bisa menolaknya. Perlahan dia memasangkan cincin itu, dan kalung itu dipakaian lagi setelah 20 tahun lebih dia menyimpannya

ÔÇ£tapi aku hamil, kamu harus menunggu hiks hiks…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£apa perlu aku ulangi lagi, sampai kamu mauÔÇØ ucapnya

Tiba-tiba arya berdiri dan melompat kearah ariya. Melompat dan memeluk lelaki itu.

ÔÇ£Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh…ÔÇØ teriak arya keras, wajahnya sangat gembira

ÔÇ£sekarang aku tahu kenapa namaku arya, itu adalah nama panggilan dari cintanya ibu ha ha haÔÇØ canda anakku

ÔÇ£sudah?ÔÇØ ucap ayah tiba-tiba datang, ariya mengangguk

ÔÇ£kamu bisa menerima diah?ÔÇØ ucap ayahku kembali

ÔÇ£asal bapak mengijinkan, saya akan selalu menerimanyaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tunggu 3 bulan setelah anak itu lahir, baru kamu boleh menikahinyaÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£tapi, saya harap nama ayah di akte itu adalah nama sayaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£bagaimana yah?ÔÇØ ucap ayah dan aku mengangguk

Arya tampak gembira sekali ketika tahu aku dilamar oleh ariya. Sebuah kebencian karena dulu aku dikalahkan kepadanya sebenarnya adalah rasa sayang kepadanya. Sempat dulu aku memikirkannya karena dia satu-satunya lelaki yang bisa mengalahkan aku. Ariya kemudian pergi dan akan datang lagi bersama kedua orang tuanya. Ayah dan ibuku tersenyum bahagia, memelukku.

ÔÇ£ciyeee ciyeee ditembak nih yeeee…ÔÇØ ledek anakku didalam kamar

ÔÇ£wajah mama merah tuhÔÇØ ucap dian

ÔÇ£sudah kalian itu malah ngeledekin ibu terusÔÇØ ucapku

ÔÇ£benerkan apa yang arya bilang, masa muda ibu kaya dian, judes dan galak he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£apa hmmmm hmmm hmmmmÔÇØ ucap dian sambil mencubit arya

ÔÇ£aduh sayang ampuuuuun ampuuuuunÔÇØ ucap anakku

ÔÇ£bisa ibu sendiri dulu?ÔÇØ ucapku, dan arya-dian melangkah keluar

ÔÇ£oia bu, kalau nanti ibu sudah menikah. Boleh arya minta sesuatu?ÔÇØ ucap anakku

ÔÇ£iya, apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tolong ibu ngomong ke ayah baruku…. lamarkan aku, karena aku ndak bisa ngomong seperti calon ayahku tadiÔÇØ ucap arya tersenyum, aku mengangguk. kulihat dia langsung ambruk di punggung anakku dan memeluknya. Mereka kemudian keluar dari kamar.

Tak kusangka waktu begitu cepat berlalu tapi kamu masih saja menepati janjimu. Aaaah, aku masih laku juga ternyata hi hi hi. Ariya… ariya, gara-gara kamu anaku juga memiliki nama yang sama denganmu. Tapi maafkan aku, semua keperawananku telah hilang oleh mantan suamiku dan anakku sendiri. tapi tenang saja, sisa hidupku untukmu.

Selang beberap bulan aku melahirkan normal, bayi perempuan dengan panjang 50 cm dan bobot 3,2 kg. Wajahnya putih, khas keturunan jepang, hidungnya lumayan mancung menurutku. Semua keluargaku hadir menyaksikan kelahiran anak keduaku. Aku langsung memebri nama sesuai keinginanku, Marta Undi Pitaloka. Memang aneh, tapi kelihatannya dari semua keluargaku hanya anak lelakiku saja yang tahu arti nama itu.

ÔÇ£Mas Ariya Untuk Diah Pitaloka, iya kan bu?ÔÇØ ucap arya berbisik kepadaku

ÔÇ£kamu tahu saja, yang lain jangan diberitahuÔÇØ ucapku

ÔÇ£yeee dian sudah tahu tadiÔÇØ ucapnya

3 bulan kemudian aku menikah untuk kedua kalinya dengan lelaki yang memang aku cintai. Sebelumnya aku pernah berjanji pada anakku untuk tidak merawat tubuhku tapi sekarang aku harus merawat tubuhku lagi untuk suamiku tercinta. Pernikahan sederhana, semua teman SD-SMA aku panggil semua. Tampak sekali mereka semua senang dan selalu berbisik kepadaku ÔÇ£ini yang aku setujui yahÔÇØ. Walau lelah meladeni tamu yang datang silih berganti padaal acara pernikahan hanya sederhana saja tidak ada resepsi besar-besaran tapi karena ayahku adalah mantan kepala daerah wajar jika semua temannya datang. Masih dengan pakaian kebayaku, Malam pertama aku tampak canggung, karena ini malam yang belum pernah aku rasakan. Aku masih memakai kebaya, dan dia masih memakai jas lengkap. Aku juga bingung harus bagaimana.

ÔÇ£boleh aku cium kamu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ndak bolehÔÇØ ucapku, dia langsung bingung garuk-garuk kepala, lucu melihat suamiku satu ini

ÔÇ£ya bolehlah, sini sayangku cintakuÔÇØ ucapku manja, apa aku harus menunjukan kebinalanku seperti ketika bersama anakku? Ah, aku rasa tidak… aku akan menurut sesuai dengan bagaimana dia memperlakukanku. Jika dia memperlakukanku dengan liar aku akan menjadi liar, kalau lembut ya jadi lembut. Perempuan kan sesuai dengan laki-lakinya kan?

Bibirnya menciumku tampak sekali dia canggung dan tak pernah berciuman. Kulihat keriput sudah ada dibagian wajahnya, rambutnya sedikit ada yang memutih. Tapi secara keseluruhan dia gagah seperti anakku, tapi sekarang dialah yang paling gagah, anakku nomor 2.

ÔÇ£aku milikmu jadi jangan pernah meminta ijin, karena kita tidak sedang sekolahÔÇØ ucapku, dia mengangguk

Bibirnya kembali menciumku, tangannya mulai meremas susuku. Ah, sudah lama aku tidak merasakannya ingin rasanya aku menungganginya. Tanganku kemudian mengelus dadanya, turun dan turun. Hingga akhirnya aku mengelus selangkangannya, kuelus dan kuremas kurasakan sebuah batang besar sedang tegang. Lama aku melakukannya dan tiba-tiba saja dia memelukku hingga aku rebah di tempat tidur.

ÔÇ£ke kenapa mas?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku keluar, maaf…ÔÇØ ucapnya, membuatku seakan tak percaya. Sebenarnya aku ragu dia masih perjaka. Langsung aku memutar tubuhnya dan membuka celananya, kulihat penisnya sebesar milik anakku walau sedikit pendek, ya 1 cm mungkin. Kulihat lagi, masih tegang sempurna.

ÔÇ£mas beneran belum pernah?ÔÇØ ucapku, yang tampak lebih agresif

ÔÇ£belum de, yakin mas belum pernah sama sekaliÔÇØ ucapnya, aku tersenyum

ÔÇ£haruskah ade yang mulai?ÔÇØ ucapku, dia menaikan bahunya. Langsung aku menjilati penisnya itu, aku kangen sekali dengan barang lelaki

ÔÇ£ah, de itu jijik sekali, arghhh… sayang nikmat banget sayangÔÇØ ucapnya,

hmmm… memang benar dia masih perjaka dilubang kencing tidak seperti kulit yang terbakar. Kalau dulu punya arya, sama masih merah jambu dan halus tapi setelah dia sering kesana-kesini bagian lubang kencingnya seperti bekas terakar. Apa mungkin karena sering mengeluarkan mani ya?

Aku masih terus menjilatinya dan kemudian mengulumnya, kepalaku naik turun dan hingga akhirnya kurasakan penisnya tegang maksimal. Segera aku masukan penis besar ini ke dalam mulutku seluruhnya hingga terasa ditenggorokanku. Kulanjutkan lagi dengan kuluman dengan sedotan pada penisnya.

ÔÇ£arghhh yang, mas mau keluar lagi yang ughhh…ÔÇØ ucapnya tapi aku tidak mempedulikannya

Croot crooot crooot crooot crooot crooot

Beberapa tembakan aku rasakan masuk kedalam mulutku, dan tanpa jijik aku langsung menelannya. Aku kemudian merangkak naik ke atas tubuhnya kutatap wajanhya yang teerlihat memerah merasakan kenikmatan yang ditutupi oleh salah satu lengannya. Wajar saja dia belum pernah meraskan bagaimana bersetubuh.

ÔÇ£mas harus jujur sama ade, benar mas belum pernah sama sekali dan ade yang pertama?ÔÇØ ucapku,

ÔÇ£benar yang, mas berani sumpahÔÇØ ucapnya sambil membuka tangannya

ÔÇ£mas yakin mau gituan sama ade?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hash.. hash… hash…yakin, mas pengen ade yang pertama, setelahnya,seterusnya dan yang terakhirÔÇØ ucapnya, membuatku tersenyum

ÔÇ£terus kenapa diam saja? ternyata mas itu cuma sekali ngalahin ade waktu SMA dulu, selebihnya kalah yaÔÇØ ejekku, tiba-tiba saja dia langsung memutar tubuhku dan langsung berada diatasku

ÔÇ£tidak, mas ndak mau kalah, ade yang harus kalahÔÇØ ucapnya dan aku hanya tersenyum mendengarnya

ÔÇ£ade, cintanya mas memang benar-benar cantik dan seksi kalau pakai kebayaÔÇØ ucapnya memujiku

ÔÇ£ndak pengen llihat dalamnya? Udah kendor lho mas, ntas mas jijikÔÇØ ucapku

ÔÇ£masa bodoh, yang penting kamu itu diah yang aku cintaiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£maskuuuu cintakuuu… ade mau bobo saja ya, dari pada diajak ngobrol terusÔÇØ godaku sambil memegang kedua pipinya

Tiba-tiba saja dia langsung mencium bibirku, tampak tidak profesional tapi mencoba profesional. Bibirku disedot dengan kasar, lidahnya mulait menjiilati bibirku. Bibirku kubuka dan lidahku juga ikut bergerak,tangannya meremas-remas susu yang masih berbalut kebaya ini. tak lama kemudian dia turun dan menarik jarik yang aku kenakan, aku mengangkat sedikit pinggangku sehingga jarik itu bisa naik hingga pinggangku. Ditariknya dengan kasar celana dalam yang aku pakai, pahaku di bukanya lebar. Diarahkannya penis itu ke arah vaginaku, tapi beberapa kali meleset. Aku malah geli sendiri ketika melihatnya, jadi ingat ketika arya mencoba masuk ke dalam. Aku raih penisnya dan arahkan ke vaginaku.

ÔÇ£pelan mas, punya mas besarhhhh erghhhh…ÔÇØ rintihku

ÔÇ£iya sayang, mas pelan…ÔÇØ ucapnya dengan nafas yang tidak teratur, tapi pelan apanya dia langsung menekan dengan sangat kasar padahal vaginaku belum licin betul

ÔÇ£arghhh aryaaaaaa pelannhhhhhh…. tarik dulu suamikuuuuuhhhh… sakiiitÔÇØ rintihku saki

ÔÇ£eh maaf yang hash hash…ÔÇØ ucapnya dengan nafas penuh nafsu

ÔÇ£tarik dulu, masukan tarik masukan gitu…. ade ndak kemana-mana, mas rileks saja yaÔÇØ ucapku

Perlaha dia memaju mundurkan penis besarnya itu, ah sensasinya benar-benar berbeda. inikah rasanya malam pertama, aku dulu tidka pernah benar-benar meraskannya. Penis besarnya keluar masuk secara teratut walau tidak sepenuhnya masuk baru ujungya saja. keluar masuk sesuai ritme, setelahnya masuk lagi lebih dalam, keluar lagi, masuk lagi lebih dalam keluar lagi hingga vaginaku terasa sangat licin sekali. Kini aku merasakan penisnya telah masuk dengan sempurna, keluar masuk memompa tubuhku.

ÔÇ£ahhh mas… mas besar sekali, penuh mas mas ahhhh… mashhh mas mentok sampai didalam mashhh… ah ah ah ah terus mas pompa istrimu mashhh ahhhhhÔÇØ racauku memejamkan mata

ÔÇ£ah, diah inikah nikmatnya… akhirnya aku bisa merasakannya bersamamu, cintaku nikmat sekali punyamu ini, burungku enak sekali didalamÔÇØ racaunya

ÔÇ£ah, itu tempik mas, bukan punyaku tapi punyamu… kontol mas, kontol bukan burunghhh ah terus mas goyang terushhhÔÇØ racauku yang mulai memancingnya untuk mengatakan kata-kata nakal

ÔÇ£iya sayang, aku akan puaskan kamu sayangku…ah inikah yang sering dikatakan teaman-temanku istilah sempit ohhh sayang aku suka seklali…. yah enak sekali sayang kenthu sayang ohh… yah… ah tempikkmu benar-benar ahhhhh aku senang sekali sayangÔÇØ racaunya, terpancing oleh kata-kataku

Mas ariya terus memompa terus, dengan gaya konvensional ini aku merasakan nikmat luar biasa. Sudah beberapa bulan setelah persetubuhan terakhirku dengan anakku sendiri aku tidak pernah meraskaannya lagi. Pompaannya begitu cepat, membuatku mendekati puncak.

ÔÇ£mas mau keluar lagi sayang…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ade juga…ÔÇØ jawabku

Crooot. Croot crooot Croot crooot

Tubuhnya langsung memelukku dan menghentakan keras ke dalam liang vaginaku. Aku memeluknya dan terus memeluknya, oh nikmat sekali. Aku megejang beberapa kali, hingga aku merasakan nafas mas ariya tampak masih tersengal-sengal.

ÔÇ£ah… ah… ah… yang enak banget yang, besok lagi yang…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kapanpun mas mauÔÇØ ucapku, kami kemudian berciuman

ÔÇ£mas kalau ciuman jangan tergesa-gesa mas, ade pengen mas menikmatinyaÔÇØ ucapku, dia hanya mengangguk

Selama berciumana, batangnya masih berada didalam vaginaku. Kurasakan elusan lembut dikepalaku, dikecupnya beberapa kali keningku, pipiku hingga wajahku. Teringat akan anakku sendiri, aku harus bisa menghilangkan ingatan ini.

ÔÇ£mas ndak pengen lihat dalemnya iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku masih ingin melihatmu memakai kebaya sayang, kalau bisa setiap hari kamu pakai kebaya seksi yang membuatku ingin menyetubuhimu terus. Bahkan kalau ade mau, ade pakai pakaian-pakaian seksi di dalam rumah yaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kalau diluar juga pakai seksi?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak boleh, kesesksianmu hanya untukku!ÔÇØ ucapnya tegas, kembali aku teringat akan ucapannya di villa, ucapan anakku. Aku tersenyum dan mengangguk pelan.

Aku ditariknya bangkit dan kemudian, aku disuruh berdiri dihadapannya yang duduk di tepian tempat tidur. Disuruhnya aku menelanjanginya, kulihat dadanya yang bidang dan juga tubuhnya seperti tubuh seorang remaja. Bergantian aku ditelanjanginya, pelan satu persatu kebaya yang aku kenakan lepas dari tubuhku. Langsung dipeluknya aku dan diusap-usapkannya wajahnya ditengah-tengah susuku.

ÔÇ£jelek ya mas?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bagus yang, sangat bagus. Masih kenceng dan bulat yang, besar sekali terus ndakbegitu kendor yangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hayooo… pernah lihat pasti kok bisa bilang bagusÔÇØ ucapku

ÔÇ£di video porno yang, tapi mas ndak pernah onani, beneran yakin? Cuma lihat, itu saja…ÔÇØ ucapnya, aku tersenyum mendengar kata-katanya

ÔÇ£mau nambah atau mau bobo?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bobo yuk yang, aku pegen ngeloni teman SMA-ku yang galak iniÔÇØ ucapnya, aku mengangguk sudah tak mau aku mengatakan jelek, walau ada sedikit rambut putih di kepalanya tetap saja kelihatan ganteng. Kurasakan tubuhnyamasiih menyisakan ke keuatan masa mudanya, kekar dan hangat. Aku nyaman berada dalam pelukannya, sangat nyaman sekali.

Aku rebah dan menghadap kearahnya, kepalanya disangga oleh tangan kirinya dan tangan kanannya mengelus kepalaku, lengan, susu hingga pinggangku. Kadang dengan gemas dia meremas pantatku. aku semakin memasukan tubuhku ke dalam tubuhnya, hangat sangat hangat ditambah lagi tangannya berpindah dipunggungku dan mendorongnya semakin dekat dengannya.

Hari-hari berikutnya aku menempati rumah yang sudah disediakan untukku. Eri, langsung meminta untuk tinggal bersama dengan kakek dan nenek, seakan tahu kalau dia ada dirumah pasti akan membuat kekakuan. Sebenarnya aku menolak tapi eri, berbisik ÔÇ£sudah ma, eri juga sadar kok kalau mama juga pengen malam pertama terus. Secara, dia yang mama cintaiÔÇØ. Aku tersenyum ketika mendengarnya, kini aku tinggal bersama mas ariya suamiku. Tapi beberapa hari mas tidak menyentuhku, yang jelas aku tahu dia sedang menonton video saat aku ingin menonton bersamanya dia melarangku. Persis.. persis dengan arya, walau aku sudah pernah menontonnya diam-diam. Dan sangat berbeda dengan pernikahanku dulu, kalau dulu aku sering ditinggal sana-sini karena pekerjaan yang ndak jelas. Sekarang malah pekerjaannya sering ditinggal, setelah aku tanyai, dia hanya menjawab ÔÇ£Mas kesana cuma ngecek, paling 1-2 jam, setelah itu mereka bisa jalan sendiri, sekarang aku tidak ingin jauh darimu sampai akhir hayatku, aku tidak akan kemana-mana, aku akan menetap disini sekarangÔÇØ. Aku tersenyum mendengarnya, betapa bahagiannya aku selalu ditemani orang yang aku cintai. Laki-laki yang dulu aku benci karena mengalahkan rankingku tapi didalam beci ada benih cinta kepadanya, buktinya dia hilang aku juga sempat kecewa walau tak ada satupun orang yang tahu bahkan ibuku sendiri.

ÔÇ£yang, boleh minta sesuatu ndak??ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£coba yang pakai BH yang modelnya kaya gini terus celana dalamnya seperti ini, sayang mau?ÔÇØ ucapnya, aku mengangguk melihat gambar di sematponnya. Dia langsung mengambil sesuatu dan menyerahkannya kepadaku

ÔÇ£Lho mas sudah beli to?ÔÇØ ucapku, dia menceritakan kalau waktu pulang mampir ke toko pakaian dalam

ÔÇ£ndak maluÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak, ngapain malu wong beli buat istrinyaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£sebentar ya sayang, ade boboin dulu marta terus itu pintu gerbang sama pintu depan dikunciÔÇØ ucapku

Bra hitam, yang membuat susu besarku semakin membusung dan juga celana dalam yang hanya menutupi bagian vaginaku serta bagian belakang benar-benar mengekspose pantatku, sama sekali tidak tertutupi. Mas yang masuk ke dalam rumah melihatku, tanpa berlama-lama langsung dia melepas semua pakaiannnya. Penisnya tegang mengarah kearahku.

ÔÇ£marta bobo yang lama ya sayang, ibu sibuk, ayah kamu nih pengen terusÔÇØ ucapku berlutut didepan penisnya, walau marta didalam kamar

ÔÇ£gimana ndak pengen? Punya istri secantik dan seseksi kamu… dijaga lho sayang buat aku sajaÔÇØ ucapnya aku mengangguk

ÔÇ£ayo sayang, kamu benar-benar seksi, kapan-kapan mas mau perkosa kamu ya sayangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£perkosa boleh, tapi ndak boleh kasar-kasar lhoÔÇØ ucapku dia mengangguk

Tanpa berlama-lama aku langsung menjilati bagian bawah zakarnya dan ke atas hingga ke ujung penisnya. Aku ulangi berulang-ulang hingga kukulum penisnya yang besar ini. kepalaku maju mundur, tangannya mengelus kepalaku.

ÔÇ£ah, sudah sayang nanti keluar… ÔÇ£ ucapnya menarikku keatas dan langsung melumat bibirku

Tangannya tak tinggal diam, meremas dan memainkan susuku, bra ku dilepasnya dan putingku dipencet dan ditarik. Susuku keluar sedikit demi sedikit. Membuatku mendesah geli, tanganku masih aktif mengocok penisnya. Puas dengan berdiri, suamiku menyuruh menungging di atas sofa. dia kemudian berlutut di belakangku, celana dalamku digeser dan lidahnya mulai menjilati vaginaku. Memang masih belum sempurna tapi sudah membuatku mabuk kepayang.

ÔÇ£ah, sayang itilnya juga dijilat sayanng… ughhh nah gitu sayang, kocok dengan jari juga sayangÔÇØ ucapku

ÔÇ£ah, kamu ternyata liar juga ya sayangkuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£liarku untukmu… arghhh yah syaang… mmmmhhhhÔÇØ ucapku

ÔÇ£harus kamu hanya untuku slurrrppp dan aku untukmuhh sluuuurpÔÇØ ucapnya

Kocokannya semakin deras menghujam vaginaku dan aku semakin mendesah keras. Semakin keras dan semakin keras hingga aku keluar dan orgasme untuk pertama kalinya dengan jari-jarinya. Aku pipis, air mengucur dari vaginaku. Dia berdiri dan memelukku, mencium tengkuk leherku.

ÔÇ£sudah gede kok pipis sembaranganÔÇØ ucapnya, aku menoleh kebelakang dan melihatany tersenyum puas, tangannya meremas pantatku

ÔÇ£mashhhh masukin masshhh ade sudah ndak tahan… masukin kontol masshhh…ÔÇØ ucapku memohon

ÔÇ£ini sayang…ÔÇØ ucapnya, dengan bantuan tanganku dari belakang penisnya masuk sempurna kedalam vaginaku

Aku tersentak dan membuatku menengadahkan kepalaku ke atas. sensasi yang benar-benar membuatku semakin liar dan tak terkendali. Aku kembali dimana masa arya memperlakukanku, bayangan akan anakku terus muncul namun semakin lama semakin tergerus berganti dengan suami baruku ini. hantaman penisnya membuatku semakin menggila, aku mekenguh, merintih, mendesah. Didalam rumah dimana hanya aku dan suamiku yang sedang sibuk mengejar kenikmatan.

ÔÇ£mmmhhhh erghhh arhhhh yahhh engghhhhhh mmmhhhh…ÔÇØ desahku tak mampu berkata-kata lagi akan kenikmatan yang aku rasakan

ÔÇ£ah sayang, enak sekali… aku ingin setiap hari…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£mmmhhh akuhhh jugahhh sayanghhhh… ehhhhÔÇØ balasku

Tubuhku mengejang, mas ariya berhenti sejenak mengetahui aku telah sampai pada puncak kenikmatanku. Aku rubuh di atas sofa seperti anjing yang sedang tertidur, tubuhku kemudian dibaliknya dan tanpa berlama-lama vaginaku ditnacap kembali dengan panisnya. Mulutnya menyusu kepadaku, pinggulnya terus bergoyang.

ÔÇ£terushhh mashhh ade, nikmat sekali masshhhh mimi susu yang banyakhhhh ekkhhhhÔÇØ racauku

Tubuhku semakin tak terkendali, hantaman penisnya membuatku mabuk. Kakiku mengapit tubuhnya, memohon kepadanya untuk beristirahat sejenak tapi suamiku terus menghantam kemaluanku ini terus menerus.

ÔÇ£ah mas, aku mau keluar… arghhh…ÔÇØ racauku

ÔÇ£aku juga sayangh kuh….ÔÇØ racaunya

Tubuhku melengking, penisnya menghantam sangat dalam di rahimku. Aku mengejang dan mas ariya memelukku dengan sangat erat. selang beberapa saat aku mendapat perlakuan bak ratu, wajahku diciuminya, kepalaku dielusnya dengan rambutku di mainkan. Bibirnya menciumku, ah benar-benar sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari suami pertamaku.

ÔÇ£kalau didlaam rumah, pakai pakaian yang mas belikan ya?ÔÇØ ucapnya, dan aku mengangguk

Marta bangun dan aku langsung berlari kerahnya, ku susui marta dimana ada bekas bibir ayahnya. tiba-tiba saja dari belakang, mas ariya memelukku dan mengangkat satu kakiku. Dimasukannya penis itu kembali, oh benar-benar nakal suamiku ini. sususku sedang dikenyot oleh anakku dan vaginaku sedang dihantam oleh penisnya. Aku kembali terkapar, benar-benar berat bagiku tapi aku menikmatinya.

ÔÇ£yang, kamu masih bisa hamil tidak?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£bisa, tapi resikonya besarÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku ingin punya anak dari kamu, buat adik marta juga biar ndak sepiÔÇØ ucapnya, aku mengangguk

ÔÇ£kasih jarak ya sayangÔÇØ ucapku

ÔÇ£1 tahun saja ya, ndak papa kan?ÔÇØ ucapnya, aku mengagguk

Hari-hari aku lalaui dengan kebahagiaan sendiri, suamiku tidak pernah yang namannya pulang malam atau bahkan keluar. Hanya keluar dari kamar dan menyuruhku melayaninya, dari memakai pakaian renang, kebaya yang sangat seksi hingga belahan dadaku terlihat sebagian dan ada lagi kadang aku disuruh telanjang setiap hari. Untung saja marta masih kecil dan dia tidak tahu apa-apa. Di dapur, di halaman belakang, di garasi, di dalam mobil, di kamar mandi semua sudut rumah menjadi tempat persetubuhanku.

Pernah suatu ketika aku keluar bersamanya, tanganku digandengnya dengan mesra. Dengan marta dalam gendonganku dan kepalku menyandar pada lengannya.

ÔÇ£yang kamu ndak malu jalan sama mas?ÔÇØ ucapnya, aku tarik tangnnya dan berhenti sejenak

ÔÇ£kenapa harus malu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku kan sudah tua, ndak ganteng, lihat aku sudah keriput dibandingkan kamu masih saja terlihat seperti anak SMAÔÇØ ucapnya

ÔÇ£baguslah kalau begitu kan mas? Mas kelihatan tua dan jelekÔÇØ ucapku tersenyum

ÔÇ£lho kok gitu jawabnya?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£itu tandanya yang mau sama mas cuma aku, dan syukur deh kalau jelek ndak ada yang lirik masÔÇØ ucapku

ÔÇ£terus kalau kamu masih cantik, banyak dong yang nglirik kamu, huhÔÇØ ucapnya

ÔÇ£makannya, sembunyiin dong istrik cantiknya biar ndak dilihat orang…ÔÇØ aku tarik tangannya kebawa dan dia sedikit membungku wajahnya dekat denganku ketika kita berada ditengah-tengah keramaian

ÔÇ£aku bahagia berada disisimu, buat aku senyaman mungkin bersamamu yang, hingga anak cucu kita… hingga kita berhenti bernafas, aku sudah menunggu ini, dan aku tidak peduli berapa mata yang melirikku… karena aku disini untuk menjaga matamu, dan kamu disini untuk melindungiku dari mata-mata itu… aku cinta kamuÔÇØ ucapku pelan didekat wajahnya

ÔÇ£aku juga sayang…ÔÇØ ucapnya mengecup bibirku, hampir saja kelewatan tapi unntung marta bergerak-gerak dan menyadarkan aku kalau kami berada di keramaian

Aku kadang melamun sendiri dirumah ketika suamiku masih berada dikantor saat pagi hari. Sambil menyusui marta, anakku aku teringat akan semua cerita arya. arya pernah bercerita tentang wanita-wanita yang tidur bersamanya. Dan dari wanita-wanita itu… erlina, kehilangan perawannya di arya, Ajeng juga sama kehilangan perawannya di arya, yang terkahir adalah dian yang sudah jelas dan tidak bisa ditolak sudah kehilangan keperawanannya. Tiga, tiga orang wanita kehilangan keperawanan di anakku, sedangkan aku sendiri. benar sih dapat perjaka mahesa, terus arya, yang ini ketiga ariya suami keduaku. Anaknya dapat tiga, ternyata ibunya juga dapat tiga, ah… aku akan menjalani hidup ini dengan benar tak lagi seperti dulu lagi. Sudah cukup semua kesalahan yang aku perbuat, aku sayang anakku, arya dan marta dan aku mencintaimu suamiku, Ariya.

Perusahaanku mulai berkemban dengan pesat, pemesanan beberapa perusahaan dan juga instansi pendidikan sudah mulai menjali kerja sama dengan perusahaanku. Perusahaanku kecil, tidak seperti perusahaan-perusahaan lainnya. Dan kini aku bisa leluasa pulang pergi dari kantor untuk pulang kerumah. Aku bahagia ibu telah menemukan tambatan hatinya, tepat 3 hari sebelum ibu menikah aku di wisuda. Aku kira dian tidak akan datang menemaniku, karena di awal aku hanya melihat ibuku dan ayah baruku walau sebelumnya belum resmi tapi aku menginginkannya. Tapi tak disangka dia menunggu diluar gedung dikarenakan memang hanya orang tua yang boleh masuk ke dalam. Ketika aku keluar, aku langsung disambutnya dengan pelukan dan kecupan pada pipiku, beberapa teman kuliahku tampak sedikit bingung dengan yang terjadi. Walau pada akhirnya mereka tahu, dian adalah pacarku.

Waktu berjalan aku sudah bisa mengurus perusahaan dengan baik, pernikahan ibu yang telah dilaksanakan membuatku dan dian berjanji untuk tidak melakukan hubungan terlebih dahulu sampai kami menikah. Hanya bermnja-manja saja tapi terkadang aku memintanya walau pada akhirnya berakhir penolakan. Mau tidak mau tanpa sepenetahuannya aku cokli di kamar mandi, ngenes juga rasanya. Setelah melihat perkembangan dari perusahaan ku, aku kemudian mengajak dian menjenguk orang tua dian.

ÔÇ£Arya, ada apa ini?ÔÇØ ucap pak koco

ÔÇ£main pak, tuh anak bapak juga kangen sama ibunyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya pa, kangen mama. Mama mana pa?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£tuh…ÔÇØ ucap pak koco

ÔÇ£halo sayaaaaang….ÔÇØ ucap tante wardani

ÔÇ£MAMA?!ÔÇØ teriak dian melihat, aku dan dian terkejut tatkala melihat perut buncit ibunya dian

ÔÇ£ini?ÔÇØ ucap dian

ÔÇ£ndak usah bingung dong sayang, mama lagi pengen dedek bayi, tuh papa kamu katanya pengen nimang bayi lagiÔÇØ ucap tante war

ÔÇ£tapi kan resiko di usia mamaÔÇØ ucap dian

ÔÇ£sudah, doakan saja semuanya lancarÔÇØ ucap tante war

Kami berempat kemudian duduuk di ruang tamu, begitu aku langsung menyampaikan niatku.

ÔÇ£gini om, pertama yang silatrahmi, terus yang kedua itu om… boleh ndak saya nikahi dian?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dasar anak muda, ndak boleh!ÔÇØ ucap pak koco

ÔÇ£papa…ÔÇØ ucap dian dan tante wardani bersamaan

ÔÇ£ndak boleh lama-lama maksudnya ha ha ha haÔÇØ teriak pak koco, dian kemudian duduk disampingku dan memeluk tanganku

ÔÇ£dasar ndak romantis, ndak kaya ayah kamu huuuuÔÇØ ucapnya, aku hanya nyengir-nyengir saja tapi dian kemudian memandangku dan tersenyum kepadaku

Kami mengobrol, dan kami bercakap-cakap sejenak. Pak koco menceritakan secara detail pertemuanku dengannya, aku hanyasenyum-senyum sendiri. bahkan tante wardani juga menceritakan pertemuannya denganku tanpa adegan seks tentunya karena tidak mungkin dia menceritakannya ke suaminya. Beliau juga menceritakan tentang kehamilan istrinya memang cukup beresiko tapi mau bagaimana lagi, pak koco memang ingi merasakan mempunyai anak kecil. Setelah cukup lelah, aku memutuskan untuk pulang kerumah walau sebenarnya aku disuruh menginap tapi dian yang malah menolak. Dalam perjalanan pulang dian memelukku dengan sangat erat.

ÔÇ£secepatnya yang, ade dah ndak tahanÔÇØ ucapnya dibelakangku

ÔÇ£sama…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£terima kasihÔÇØ balasnya

ÔÇ£yang, kalau sudah menikah… mau kan anu itu… eeeÔÇØ ucapku gugup

ÔÇ£apa, nurutin imajinasi mas itu kan? Kaya perkosa dosennya sendiri, main di halaman rumah, di atas meja makan gitu? iiih mesum dehÔÇØ ucapnya, walau sebenarnya aku telah melakukan semuanya

ÔÇ£kan ndak papa, sama istri sendiri kok weeeeekÔÇØ ledekku

ÔÇ£makanya cepetan!ÔÇØ paksanya dan memelukku dengan erat

ÔÇ£yang, kenapa to kok kamu pengen cepet banget?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku pengen beri kamu keturunan yang, pengen nimang dedek bayi kaya mama gendong marta. Sekarang mamaku juga sudah mengandung adikku walau sebenarya resikonya besar, tapi aku yakin mamaku selamat. Aku pengen beri kamu banyak keturunan, sebanya-banyaknya sampai kamu terus berada dirumah mengurus buah hati kita bersamaÔÇØ ucapnya, aku melamun sebentar, banyak anak? Bayanganku melambung tinggi jauh di awan, membuatku mellihat masa depan dimana arghhhh… satu mainan didapur, satu mainan di belakang, satu mainan di garasi, satu mainan di ruang tamu berantakan rumah aaaaaaaaaaaaaaa….

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapnya menyadarkan aku

ÔÇ£eh… iya tapi jangan banyak-banyak yang, ntar kamu ndak ngurusin akuÔÇØ ucapku

ÔÇ£lha berapa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£2 atau 3 gituÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak mau, lebih dari itu. keluarga kita itu kecil, mamaku mau punya dua, mamamu dua ndak tahu itu nambah lagi atau tidak. Masa kita cuma 2-3, kalah sama papa dan ayahÔÇØ ejeknya

ÔÇ£hadeeeh… ya deh, terserah kamu. tapi dukung aku kembangkan perusahaan. Buat makan, ya?ÔÇØ ucapku, dia langsung memeluk erat tanpa menjawab pertanyaanku. Cenggur… cenggur… sampai nanti nikah, hadeeeeh… udah bangun ndak bisa keluar ini. maaf ya dedek arya.

ÔÇ£okay kakak… tenang saja bisa tahan kok, tapi jangan cokli kakak. Ndak enak, ha ha haÔÇØ ucap dedek arya (tumben dia keluar ngomong)

Kemudian ada pertemuan keluarga antara keluarga diah denganku, semua telah disetujui tanggal pernikahannya. Dalam masa menunggu hari itu, aku disibukkan dengan perusahaanku walau tidak sesibuk di awal dan juga disibukan dengan persiapan pernikahanku. Aku sendiri masih bingung dengan biaya yang wow besarnya. Bagaimanapun aku tetap harus meminta bantuan dari ibu dan ayahku, kalau hanya aku sendiri mana mampu menggelar acara sebesar yang mereka bicarakan. Aku kemudian datang kerumah ibu tanpa sepengetahuan dian.

Tok… tok… tok…

ÔÇ£bu ini arya…ÔÇØ ucapku dengan suara lantang

ÔÇ£iya sebentar…ÔÇØ teriak ibu dari dalam rumah

ÔÇ£lama banget sih, sebentar apanya kalau begini ini?ÔÇØ bathinku

Kleeek…

ÔÇ£eh, sayang.. masuk, ada apa?ÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£lama benar buka pintunya bu? Lagian kenapa juga dikunci, wong sederet juga rumah saudara semua?ÔÇØ ucapku dengan wajah kesal, masuk kedalam rumah

ÔÇ£siapa yang?ÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£Arya sayangÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£ciyeee ayang-ayang nih? Apa ndak salah, harusnya eyang-eyangan dong buÔÇØ ledekku

ÔÇ£hush… kamu itu, memang kamu saja yang bisa sayang-sayangan sama dian?ÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£wajar dong, masih mudaÔÇØ belaku

ÔÇ£halah… jomblo lama saja dipelihara…ÔÇØ jawab ibuku judes

ÔÇ£Bu tahu ndak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ibu itu ndak pantes ngomong kaya gitu, image berubah 180 derajat dimataku buÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya… iya… jomblo! Hi hi hiÔÇØ jawab ibuku

ÔÇ£tadi kenapa lama?ÔÇØ balasku

ÔÇ£mmmm… sini… ayahmu itu kan ndak pernah dulunya, jadi sekarang habis nikah full time dirumah, paling kelua jam 7 puang jam 12. Habis itu ibu disuruh inilah, itulah, kamu tahu sendirikan, pengantin baru…ÔÇØ bisik ibu, aku langsung tepuk jidat

ÔÇ£alah kaya kamu ndak pernah saja ngrasainÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ibu, ndak usah diingetin kenapa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sama dian maksudnya sayang. Oia ibu buatkan minum dulu sayangÔÇØ ucap ibu, langsung ke akang dan aku duduk diruang tengah

ÔÇ£SHIT! ini bau sperma sama muncratannya ibu, aku masih bisa mengenalinya. Wah… ternyata liar juga ibu dan ayahkuÔÇØ bathinku

ÔÇ£ada apa nak?ÔÇØ ucap ayahku yang duduk disebelahku

ÔÇ£eh, anu yah itu….ÔÇØ ucapku gugup dan terkejut

ÔÇ£apa? Ngomong dong ngomong…ÔÇØ canda ayahku

ÔÇ£yah, ngomongnya dibelakang yuk yah, sekalian ngrokokÔÇØ ucapku, ayahku meyetujuinya kami kemudian pindah di halaman belakang

ÔÇ£tapi ayah ndak ngrokok lho, dari dulu ndak ngrokokÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, gini yah anu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ooo…. kebelakang Cuma mau ngrokok! Mas ndak usah ngrokok! Arya, mending kamu matikan atau ibu lapor ke dian!ÔÇØ bentak bu membawakan minuman

ÔÇ£ayolah bu, bingung iniÔÇØ jawabku

ÔÇ£kalau bingung pegangan!ÔÇØ ucap ibu judes, benar-benar tidak suka aku kalau ibu kaya gitu sebenarnya

ÔÇ£sudah-sudah, ndak papa. Biarkan saja dek, kelihatanya arya memang benar-benar pusingÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£ya sudah, ada apa?ÔÇØ ucap ibu duduk disamping ayah

ÔÇ£mau minta uang yah, buÔÇØ ucapku

ÔÇ£bos kok minta uangÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ayolah, pernikahan seperti itu butuh banyak bu. Perusahaan saja surplus tapi belum cukup untuk biaya itu. kalau dipakai semua bubar perusahaanku buÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi ganti ya?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£pelit amat jadi orang, dikasih napaÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya, nanti ayah kasihÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£mas itu ndak boleh, arya itu sudah dikasih banyak kemarin sama ade. masa dikasih lagi, ndak pokoknya dia harus gantiÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£ya… ya… aku ganti… ntar kalau dah untung banyak tuh usahakuÔÇØ jawabku dengan wajah males, ku minum segelas teh hangat

Ayah setuju, dan harus dikembalikan karena desakan dari ibu. kami kemudian mengobrol tapi jujur saja jadi males ngobrol. Selang beberapa saat, Ayah mendapat telepon dari karyawannya dan sekarang tinggal aku dan ibu.

ÔÇ£ibu, itu malesin sekarang. Punya suami jadi pelit! Kuliah dulu juga arya nyari beasiswa, ndak minta ibu uang saku saja juga kadang-kadang ibu kasih. Dasar ibu pelit, galak! Huh, arya mau pulangÔÇØ ucapku ngambek

ÔÇ£sayang ndak boleh ngambek gitu dong, kan biar kamu itu mandiri. Kamu itu sukanya marah-marah, huh sama saja de…ÔÇØ ucap ibuku, aku memandang ibu sesaat dan mata kami berpandangan sesaat

ÔÇ£eh sayang, maaf… iya ndak usah diganti…ÔÇØ ucap ibu, aku langsung pergi saja ketika ibu mengingatkan aku kepada ayah biologisku

ÔÇ£ndak, santai saja bu, ntar aku ganti…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sayaaaang, ibu ndak maksud gitu maaf ya sayang ya. ndak usah diganti ndak papa…ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£fyuuuh… tenang saja bu, ntar arya ganti. Cuma buat nembel kekurangan saja kokÔÇØ ucapku tersenyum

ÔÇ£ya sudah, arya pulang dulu buÔÇØ ucapku, ibu mencoba menahanku karena mungkin dia merasa tidak enak denganku atas ucapannya. Aku kemudian pamit ke ayah tanpa memperlihatkan wajah kesalku dan langsung pulang. Selang beberapa hari ketika dikantor ibu meneleponku…

ÔÇ£sayang, ini ayah kamu kamu transfer. Rekening kamu berapa?ÔÇØ

ÔÇ£ndak jadi bu, sudah dapat pinjaman kok tenang saja okay?ÔÇØ (nada tersenyum, dan berbohong)

ÔÇ£kamu masih marah sama ibu?ÔÇØ

ÔÇ£marah kenapa bu? Sudah lupakan saja bu, mau ndak mau sifat pemarahnya memang menurun padaku he he he…. namanya juga sedarahÔÇØ

ÔÇ£sayaaang jangan marah ya, jangan buat ibu sedihÔÇØ

ÔÇ£endak bu endak, tenang sajaÔÇØ

ÔÇ£hiks jangan marah to nak…ÔÇØ

ÔÇ£lho bu… arya ndak marah ibuuuu… hadeeeh ibu jangan nangis to, iya nanti aku kirim nomor rekeningkuÔÇØ

ÔÇ£janji, pokoknya jangan marasama ibu… adik kamu masih kecil nanti juga kamu yan bakal didik dia, jadi jangan marah sama ibu ya hiksÔÇØ

ÔÇ£janji, arya ndak marah kok sama ibu. ibu juga jangan nangis yaÔÇØ

ÔÇ£ya sudah ibu tunggu no.rekeningnyaÔÇØ

ÔÇ£heÔÇÖem… bu…ÔÇØ

ÔÇ£iya…ÔÇØ

ÔÇ£kalau habis gituan mbok yaho dibersihkan, bau tahu he he heÔÇØ

ÔÇ£dasar kamu itu, ndak sempet kamunya aja datang tiba-tiba. Besok lagi kalau mau datang kabar-kabar dulu yaÔÇØ

ÔÇ£iya ibu…ÔÇØ

Hadeeeh… hampir saja ibu nangis-nangis. Setelahnya aku mendapatkan dana bantuan dari Ibu dan ayahku. Sepulang dari kantor aku langsung menuju kerumah, dian sudah ada dirumah. kami mengobrol sejenak dan aku menceritakan kejadian yang beberapa hari terjadi.

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hmmm…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£mas itu kalau marah bikin bingung, jangan sering marah-marah lagi ya. sabar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, maaf ya…ÔÇØ ucapku dan memeluknya

Ah, salahku juga. Apapun yang terjadi dia memang anak dari suami pertamaku dan pasti ada sifat yang menurun darinya ke anakku. Kenapa aku harus mengungkitnya waktu itu, benar-benar bodoh aku ini. untung saja aku tidak merusak kebahagiaanya dengan mulutku yang asal ceplos ini. maafkan ibu nak jika keceplosan, setelah ini ibu akan menjadi ibu yang baik buat kamu. dia adalah masa lalu kita berdua, laki-laki itu sudah tidak akan lagi bisa berjalan di tanah ini dengan leluasa.

Heri mengatakan kepadaku kalau ada perubahan yang aneh pada tubuh mahesa dan nico. Tubunya bisa digerakan tapi tak bisa senormal biasanya. Sedikit-sedikit langsung lemas, ada kemungkinan arya yang melakukannya. Mungkin karena kebenciannya yang membuat dia melakukannya. Ayah wicaksono dan Ibu Mahesawati, aku tidak tahu apa yang pernah kamu katakan kepada arya tapi anak itu telah tumbuh menjadi lelaki yang sangat dikagumi oleh banyak orang.

Hari berganti dan waktupun berlallau. Beberapa anggota koplak sudah menikah mendahuliku, Wongso + asmi, Dewo + Dewi, Aris + Risa, Dira + Eko, Tugiyo + Ana, Udin + Ani, Joko + Ita, Paijo + Falah, Karyo + Yati, Hermawan + ninda, Anton + Anti. Aku datang semua kepesta pernikahannya, menjadi saksi ketika proses ijab dan qabulnya. Selalu aku yang menjadi saksi pernikahan meraka. Tapi hanya satu yang tidak pernah kami semua datangi, dira + eko, entah dmana mereka menikah. Yang jelas setelah mereka melangsungkan pernikahan di luar negeri merek kembali ke negara tercinta ini. ketika kami para koplak dan keluarga koplak, hanya itu saja, datang kerumahnya karena mendengar kabar dira + eko pulang kami semua terkejut. Dira benar-benar berbeda dengan dira sebelumnya, dira memang benar-benar seperti perempuan. aku tarik dira bersama dengan koplak yang lainnya.

ÔÇ£iih ada apa ini? dira ndak mau lho kalau di gang bangÔÇØ ucap dira

ÔÇ£gundulmu su! Aku mau tanya su, itu kenapa jakun kamu hilang?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£koyo cewek tenanan kowe su (mirip cewek tenanan kamu njing)ÔÇØ ucap karyo

ÔÇ£iiih… operasi dong, jaman modernÔÇØ ucap dira, tiba-tiba

ÔÇ£sayang, anaknya nangis dikasih susu dulu sayangÔÇØ ucap eko, semua yang datang nampak kebingungan

Dira menggendong seorang bayi cewek yang seumuran dengan marta, sedang meminum susu formula yang diberikan dira. Semua keluarga koplak sudah tahu kalau dira itu laki, bukan cewek. Ibu juga sudah memeberitahukan ke ayah sebelum berangkat ke rumah dira.

ÔÇ£itu anak kamu dir?ÔÇØ ucapku, dira mengangguk

ÔÇ£siapa namanya?ÔÇØ ucap tugiyo

ÔÇ£Eldira Estianti Blezinski, panggilannya Eldira hi hi hiÔÇØ ucap dira

ÔÇ£yaelah, nama artis dibawa-bawaÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£biarin idolaku, emang kenapa? oia… kalian jangan ngomong yang sebenarnya sama eldira, biar aku yang ngomong sama eldira kalausudah besar nanti tentang aku sebenarnya, awas kalau kalian ngomong duluan!ÔÇØ ancam dira

ÔÇ£ndak bakalan kaleee… ÔÇ£ ucap kami bersama

Dira, seorang lelaki ganteng yang pernah aku temui di semak-semak saat itu. kini berubah menjadi seorang perempuan, sudah berkali-kali kami semua menyadarkannya tapi namanya dira tetap saja tidak pernah mau. Dia adalah yang terkuat dari kami semua, tak ada yang berani dengannya apalagi kalau marah. Terkuatnya hilang tersembunyi dibalik kelembutan sifat perempuannya itu, tapi tetap saja kami semua takut. Karyo yang bertubuh besar saja pernah keyok sama dira, dewo, wongso yang lainnya bahkan aku pernah kewalahan ketika dira marah dan mengamuk. Butuh 11 orang koplak menghentikannya, yang terkuat tapi dia yang selalu membuat kami tertawa dan menggoda kami.

ÔÇ£maaaas…ÔÇØ ucap dian didalam kamar, kini dia selalu memakai pakaian lengkap, tidur pun tak mau di elus

ÔÇ£iya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£lama bangetÔÇØ ucapnya

ÔÇ£apanya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£nikahnyaÔÇØ balasnya

ÔÇ£ya kan bulan depan sayang, sabar dong, mas juga sebenarya dah ndak kuatÔÇØ ucapku

ÔÇ£dira dah punya momongan, kemarin asmi bilang sudah 2 strip, terus risa juga ada juga sih yang belumÔÇØ ucapnya, aku semakin bingung menghadapi dian

ÔÇ£sabar… ÔÇ£ ucapku memeluknya, dan kuelus kepalanya hingga dia tertidur

Pikiranku melayang menambah beban dalam otakku, semua memang sudah dipersiapkan tapi yang namanya jiwa anak muda pastinya belum begitu siap dengan semua ini. Waktu berganti dengan rintangan akan ngaceng naganggur telah aku lewati. Prosesi pernikahan dari awal hingga akhir telah aku lewati, hanya resepsi yang belum. Satu persatu teman kuliah dan teman SMA-ku datang begitu juga dengan teman sekolah dan kerja dian. Aku memakai pakaian adat yang memeperlihatkan dadaku dan dian memekai pakaian adat yang hanya menutupi sebagian tubuhnya dan berbalut jarik. Aku dan dian mejadi ratu sehari di gedung pernikahan ini. Dan…

ÔÇ£yo yo yo… aryaaaa… akhirnya tidak jomblo ha ha haÔÇØ ucap rahman yang menggendong bayi perempuan

ÔÇ£kang? Gila bener! Hamil semua itu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£5 hamil, satu dah jadi nihÔÇØ ucapnya bersalaman denganku di atas panggung kehormatan

ÔÇ£yang ini???ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mama aku bro, kamu diem saja ya broÔÇØ bisiknya

ÔÇ£beneran kamu kuat kang?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya kuatlah, 1 hari 6 wanita, masing-masing 2 ronde. Ha ha haÔÇØ ucapnya bangga

ÔÇ£hai ar… akhirnya ndak jomblo juga kamu yahÔÇØ ucap ana

Satu persatu istri rahman meyalamiku dan berfoto bersama, tampak tante ima juga datang menyalamiku. Selama aku ngobrol lama dengan rahman, tante ima ngobrol bareng dengan ibu dan ayahku.

ÔÇ£diyaaaah… muach muachÔÇØ ucap sahabatku ini, karima, mencium pipi kiri dan kananku, kemudian langsung aku peluk tubuhnya

ÔÇ£wah, jadinya sama ariya nih? Seneng banget tuh diah, dulu sering banget curhat tentang kamu arÔÇØ ucap ima

ÔÇ£apaan sih kamu ma, sudah dehÔÇØ ucapku

ÔÇ£maaf kemarin ndak bisa datang, biasa ngurusi anakku satu-satunyaÔÇØ ucapnya, aku sudah tahu semua kalau dia menjadi bagian dari hidup anaknya

ÔÇ£lha ndak nikah lagi saja ma?ÔÇØ ucap masku

ÔÇ£ndak ah, males ngurus anak saja sama istri-istrinya, tuh besok mau lahiran jugaÔÇØ ucap ima

ÔÇ£oh iya… sekali lagi selamat ya yah, dan ar, jagain tuh diah. Hi hi hiÔÇØ canda ima

ÔÇ£kamu juga ya selamat dah mau jadi nenekÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ ucapnya

Akul ihat ima kemudian menyalami arya dan diah anakku, tiba-tiba…

ÔÇ£hai tante, aku ajeg temennya arya kalau ini felix temannya dianÔÇØ ucapnya, dengan perut sedikit membesar

ÔÇ£eh, oh iya, kalian sudah menikah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sah nya sih sudah, tapi resepsinya nunggu ini lahir duluÔÇØ ucap ajeng

ÔÇ£oh iya, ya sudah tuh arya sama dianÔÇØ ucapku kemudian memandang mereka bergerak menuju arya dan dian

ÔÇ£mamaaaaa…ÔÇØ ucap seorang perempuan, aku seakan tidak asing tapi aku tidak ingat

ÔÇ£eh, iya…ÔÇØ ucapku, kenapa memanggilku mama?

ÔÇ£selamat buat pernikahanya kemarin, maaf tidak bisa datang dan selamat juga adikku sudah menikah sekarangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£oh iya ma, kenalin ini alan mantu mama juga. Maaf kemarin pas nikahan ndak undang-undang habis, mas alan ndak ada liburnya, jadi nikahnya sederhana sajaÔÇØ ucapnya,

ÔÇ£om, tante. Maaf ya ndak bisa ngundang..ÔÇØ ucap alan

ÔÇ£eh, ndak papa, tapi mama jadi bingung dehÔÇØ ucapku

ÔÇ£erlina, kakak angkatnya arya, ndak keberatan kan ma?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£oh iya iya… ndak keberatan dong punya anak cewek lagi, sudah empat sama kamu berartiÔÇØ ucapku

ÔÇ£makasih mama…ÔÇØ ucap erlina dan kemudian melangkah ke arah arya-dian, mereka berenam berfoto bersama.

Anakku… anakku… kamu foto sama cewek-cewek yang kamu perawani, dasar!

ÔÇ£ajeng? lho kok? Pak felix?ÔÇØ aku terkejut ketika melihat ajeng dan pak felix

ÔÇ£felix, kamu ituÔÇØ ucap istriku dian

ÔÇ£santai yan, sah dulu kok terus baru besar tapi resepsinya nanti setelah lahiranÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£hadeeeeeh…ÔÇØ ucapku bareng dengan istriku

ÔÇ£selamat yah, besok gantian lho kalau aku resepsiÔÇØ ucap ajeng dan kami mengangguk

ÔÇ£adikkuuuuuuu…ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£mbakkuuuu…ÔÇØ ucapku menirukan

ÔÇ£kecil-kecil udah nikah ya hi hi hi selamat ya dik, yan..ÔÇØ ucap mbak erlina

ÔÇ£iya mbak sama-sama, lha ini calon suami?ÔÇØ ucap dian setelah memeluk mbak erlina

ÔÇ£suami kaliii, maaf kemarin ndak undang-undang sederhana saja, tapi kalau mau ngado ndak papa sih hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£arya, selamat ya?ÔÇØ ucap alan

ÔÇ£eh, mas sama-sama… wah tapi sayang ndak undang-undangÔÇØ ucapku

Kami berenam kemudian mengobrol bersama, dan berfoto bersama. Aku dicubit oleh dian ketika aku melamun, jelas saja perawan mereka hilang di dedek arya.

ÔÇ£gila lu kak, foto sama vagina berdarah ha ha ha haÔÇØ ucap dedek arya

ÔÇ£diem kamu!ÔÇØ bentakku ke dedek arya

Setelah mereka pergi…

ÔÇ£seneng ya ketemu sama yang dulu… yang dapet pertama kalinya, tiga-tiganya lagi, gitu ya sampe bengong… heghhh…ÔÇØ ucapnya sembari mencubitku

ÔÇ£auchh… sakit cinta…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£tapi sekarang kan kamu cintakuÔÇØ lanjutku

ÔÇ£dasar… cinta….ÔÇØ ucapnya sembari memeluk lenganku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*