Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 71

Wild Love 71

ÔÇ£minum apa itu de?ÔÇØ ucapku, d pagi yang cerah memandang wanita yang mengenakan tank-top dan celana dalam. Aku merasa pernah melihat minuma itu, tapi lupa yang jelas beberapa hari ini dian selalu meminumnya

ÔÇ£ramuanÔÇØ ucapnya sembari meminumnya

ÔÇ£ramuan apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dari mamanya mas, biar rapet dan jepit! Biar ini nih ndak kemana-manaÔÇØ ucapnya sembari membetet hidungku

ÔÇ£auch… sakit tahu…ÔÇØ ucapku menghindar, aku tak memebrikan komentar masalah ramuan itu daripada mengingat yang lalu

ÔÇ£yang… itu tambah gedhe ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiih dasar mesum, pandangannya itu lho mbok yang lainÔÇØ ucapnya, aku langsung memandang selangkangannya

ÔÇ£iiih… lihatna mesthi dua itu huhÔÇØ ucapnya lagi sembari menggelembungkan pipinya

ÔÇ£ha ha ha…ÔÇØ hening sesaat, aku pandangi wajahnya yang memerah itu. kembali dia tersenyum dan memandangku

ÔÇ£I Love YouÔÇØ ucapku

ÔÇ£me too aryaaa…ÔÇØ ucapnya

Aku selalu ingin mengajaknya jalan-jalan namun dia selalu menolak. Ya, mungkin memang benar aku masih mahasiswanya dan ditambah lagi aku belum meresmikan hubunganku. Bisa saja semua orang di kampus menilai bahwa aku memnfaatkan kekasihku untuk memberiku nilai bagus. Tak apalah, walau setiap hari aku selalu berada dirumah ini bersamanya. Hingga malam menjelang aku mengajaknya ke danau dan dia bersedia. Aku duduk bersamanya memandang danau yang disana ada sebuah keluara dengan seorang anak kecil sedang menghabiskan malam bersama. aku memandang ke arahnya, pandangannya selalu tertuju pada keluarga kecil itu.

ÔÇ£ada apa yang?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak cuma seneng saja lihat mereka, pasti senang sekali wanita itu ya yang?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh, iya pasti…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£aaaaaaah…ÔÇØ desahnya sembari bersandar di bahuku

ÔÇ£kenapa?ÔÇØ ucapku, dia menengok ke arah wajahku

ÔÇ£ndak papa…ÔÇØ ucapnya

Kudekap tubuhnya yang lembut itu dengan kedua tanganku, sembari mengelus kepalanya. Lama kami terdiam hingga keluarga kecil itu kembali ke rumahnya, kulihat jam di taman menunjukan pukul 21:00, pantas jika mereka pulang. Setelah keadaan sepi, dian bangkit dan berjalan ke arah danau. Perlahan memasuki danau hingga air menenggelamkan lututnya. Aku menyusulnya dan mendekatinya.

ÔÇ£Indah ya mas? Lihat itu bulannya ada duaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh, iya ada dua… satu untuk kamu satu untukkuÔÇØ ucapku merayu

ÔÇ£hi hi h isok romantis deh..ÔÇØ ucapnya, aku melihat sebuah guratan mendung di wajahnya. Aku bergerak kebelakangnya dan kupeluk dari belakang

ÔÇ£ada yang kamu pikirkan? Tadi sewaktu berangkat ade senyum-senyum terusÔÇØ ucapku

ÔÇ£sekarang kan juga senyum mas, yeee mas aja itu yang berlebihanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tapi senyummu senyum terpaksa yangÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh…ÔÇØ hening sesaat

ÔÇ£katakan padaku apa yang menjadi beban pikiranmuÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak ada…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kenapa apakah aku belum mampu untuk mendengarnya? Yakinlah aku pasti mampuÔÇØ ucapku

Hening… aku peluk tubuhnya semakin erat…

ÔÇ£kapan…ÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku mendengarnya

ÔÇ£kapan mas mau menikahiku…ÔÇØ ucapnya pelan dan membuat jantungku berdebar dengan kencang. Aku bingung, aku gelisah, bagaimana ini? memang benar jika aku harus menikahinya tapi sekarang aku masih belum mempunyai apa-apa. Jantungku berdebar ketika mengingat kembali pertanyaanya.

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapnya pelan

ÔÇ£eh, secepatnya, yakinlah secepatnya aku akan menikahimuÔÇØ ucapku

ÔÇ£terima kasih…ÔÇØ jawabnya dengan senyuman walau sebenarnya aku bisa melihat kegelisahan hatinya

ÔÇ£kok diem…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh… ndak itu anu… pengen peluk ade sajaÔÇØ ucapku, pikiranku berkecamuk ketika mendengar kata-katanya. Ya, memang benar adanya tidak mungkin selamanya aku hanya berkumpul seperti ini saja. jika terlalu lama pasti dia akan hilang, aku harus secepatnya, secepatnya…

ÔÇ£pulag yuk ade sudah ngantuk banget, habis tadi siang mas ndak ngajakin bobo malah ngajak bercanda mulu sihÔÇØ ucapnya manja

ÔÇ£iya yuk bobo..ÔÇØ ucapku

Aku dan dian keluar dari danau, ku gandeng tangannya menuju rumah.

ÔÇ£gendong?ÔÇØ ucapku, dia mengangguk. Dan dian langsung naik ke atas punggungku.

Dalam perjalanan pikiranku terus berkecamuk atas pertanyaanya. Aku terus berpikir dan berpikir bagaimana caranya, dia sudah bekerja dan aku belum. Mudah saja bagiku meminta ibu dan keluargaku untuk menikahinya tapi makan apa?

ÔÇ£kenapa mas diam? Jangan dipikirakan yang tadi masÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh, tidak yang… Cuma mas kan tahu ade ngantuk jadi ndak mas ajak ngobrol biar boboÔÇØ ucapku mengelak

ÔÇ£tidak usah khawatir, selama apapun itu… ade tetap akan menunggu mas, hingga waktu itu datang dan ade bisa memberi keturunan ke mas hoaamm… ade bobo ya mas…ÔÇØ ucapnya membuatku semakin gelisah, aku hanya mengangguk menjawabnya

Dalam langkah menuju ke rumahnya, aku terus berpikir dan berpikir. Langkahku semakin pelan karena ada beban di otakku, ah lebih sulit dari yang aku duga. Hingga tiba dirumah, tubuhnya langsung aku rebahkan di tempat tidur. Nafasnya teratur kulihat wajahnya yang ayu itu pulas dengan tidurnya. Membuat teh tarik dan kemudian duduk dibelakang, menyulut dunhill untuk berpikir sejenak. Apa yang harus aku lakukan? Sebatang, dua btang, tiga batang hingga beberapa batang habis menjadi asap dengan minumanku masih setengah gelas.

ÔÇ£sruurrrrp… lagi mikirin yang tadi ya?ÔÇØ ucap dian tiba-tiba bersandar di pintu

ÔÇ£eh, kapan ade… tidak hanya ingin merokok sajaÔÇØ ucapku, walau sebenarnya ada ketakutan ketika aku ketahuan merokok

ÔÇ£berpikir boleh tapi jangan pernah meninggalkanku tidur sendiri di kamar tanpa minta ijin, aku benci ituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£maaf tidak bilang tadi karena ade tadi sudah boboÔÇØ ucapku, mencoba tersenyum dalam kegalauan

ÔÇ£tidak usah dipikirkan… itu hanya intermeso saja kok, tidurlah sudah malamÔÇØ ucapnya, tanpa nada manja sedikitpun

ÔÇ£aku belum ngantuk… ade tidur dulu sajaÔÇØ ucapku

Dian kemudian duduk di sandaran tangan kursiku, diletakannya gelas yang ditangannya di meja sebelahku. Kemudian dia memeluk leherku…

ÔÇ£aku tidak memaksa dan jangan kamu berpikir terlalu keras, karena aku adalah wanita yang tidak suka diduakan oleh pikiran-pikiran yang ada dalam pikiranmu. Aku tidak akan meninggalkanmu walau kamu belum siap menjadikanku ibu dari anak-anakmu. Aku akan selalu berada disampingmu selalu, tak peduli apakah kamu memiliki pekerjaan atau tidak, asal kamu mau berusaha untuk mencarinya. Dalam otakku, dalam hatiku, dalam diriku, semua berkata hanya kamu yang bisa membahagiakan aku, aku akan selalu menunggumu… yakinla pada diriku, aku tidak akan kemana-mana…ÔÇØ ucapnya di samping telinga kananku

ÔÇ£baiklah jika kamu masih ingin disini, aku akan tidur lebih dahulu. Tapi jangan kamu korbankan kesehatanmu, dan ingat… aku tidak akan kemana-mana, karena aku sudah memiliki tempat yang nyaman disampingmu dan ingatlah hatiku sudah penuh dengan namamu, cup…ÔÇØ ucapnya mengecup pipiku dan kemudain berdiri mengambil gelasnya, melangkah meninggalkan aku

ÔÇ£tugas akhirku tinggal ujian kan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya…ÔÇØ balasnya membelakangiku

ÔÇ£boleh aku ujian nanti setelah aku tenang… aku ingin berpikir duluÔÇØ ucapku

ÔÇ£kapanpun, aku tunggu dikamar dan jangan lupa mandi atau sikat gigi…ÔÇØ ucapnya mengingatkan aku akan bau rokok

Kini aku sendiri di pekarangan rumahnya, hanya sendiri memandang taman yang remang-remang cahaya lampu. Sebuah dunhill menemaniku lagi dan…

ÔÇ£mbak echa, ya mbak echa dia pernah mengatakan padaku mengenai pekerjaanÔÇØ bathinku dan langsung berdiri dari tempat duduku

Setelah mendapatkan pemikiran mengenai mbak echa, aku malah bingung sendiri karena hari masih malam. Ingin rasanya segera bergerak tapi tetap saja tidak bisa, akhirnya aku duduk lagi. Ah, sial tapi dian pasti nanti pasang wajah cemburunya. Bagaimana caranya memberi pengertian ya, kalau akhirnya aku bekerja di tempat mbak echa pasti dia akan marah-marah terus setiap harinya. Dan curiga, hadeeeeh… mbak echa, mbak ela, kenapa dulu bisa sampai-sampainya aku main bertiga sama mereka. segera ku beranjak dari tempat ini,membersihkan diri dan masuk ke kamar. kulihat dian sudah tidur memeluk guling, aku rebah dan ku peluk tubuhnya dari belakang.

ÔÇ£sudahkah tenang?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh, sedikit…ÔÇØ ucapku terkejut karena dia belum tidur

ÔÇ£jangan terlalu dipikirkan…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya…ÔÇØ ucapku, segera tanganku mengelus susunya dari luar tank-topnya. Entah kapan dian berganti pakaian, kupeluk tubuhnya hingga terlelap.

pagi hari…

ÔÇ£yang, aku..ÔÇØ ucapku disela-sela aku menyuapinya, menceritakan ideku. Wajahnya langsung saja cemberut seperti yang aku pikirkan.

ÔÇ£untuk sementara ade, yang penting untuk pegangan dulu nanti baru mencari yang lainÔÇØ ucapku

ÔÇ£awas kalau macem-macem!ÔÇØ ancamnya

ÔÇ£iya, mas ndak akan macem-macemÔÇØ ucapku

Setelahnya dian berangkat ke kampus dan aku menghubungi mbak echa. Dengan riang mbak echa mempersilahkan aku untuk ke kantornya. Tak perlu waktu lama, aku langsung menuju ke tempat dimana aku PKL dulu bahkan satpamnya saja masih ingat denganku. Langsung aku menuju ke ruang mbak echa, tapi sebelumnya aku menyapa adik-adikku dan mbak ela di laboratorium. Setibanya aku diruang mbak echa, mbak echa senyum-senyum sendiri.

ÔÇ£eh, papah… mau bertiga lagi ndak nih?ÔÇØucapnya

ÔÇ£mbak sudah deh, aku kesini untuk meanyakan pekerjaan. Aku sudah sama dianÔÇØ ucapku

ÔÇ£waaaah dah ndak bisa nih ya hi hi hi sudah tenang saja, aku juga ndak bakal mau seandainya kamu datang minta itu lagi hi hi hi, soalnya nih udah gedhe ditambah lagi suamiku juga sudah bisa memuaskan aku sama ela, tapi beda tuh sama yang dibawah, lebih tahan lama yang dibawah ituÔÇØ ucapnya sambil matanya menunjuk-nunjuk ke arah bawahku

ÔÇ£mbaaaak plis, aku sudah ndak berani mbak. Pasalnya aku sudah cerita semua ke dianÔÇØ ucapku

ÔÇ£HAH?!ÔÇØ dia terkejut, aku kemudian menceritakannya

ÔÇ£oke.. oke.. tapi dian ndak marah kan sama aku? Soalnya ya gimana gitu, tapi ndak papa, yang penting dian bisa menerimamu. Oh iya, kita lurus-lurus saja, gimana ada yang bisa aku bantu?ÔÇØ ucapnya, kembali aku menceritakan niatku untuk bekerja di tempatnya

ÔÇ£Hmmm… gini ar, sebenarnya aku suka kamu kerja disini tapi godaan harus dihilangkan, aku tambah cinta sama suamiku apalagi kehadiran ela tidak menguranginya. Jadi aku tidak bisa menerimamu, tapi…ÔÇØ ucapnya membuat semangatku runtuh

ÔÇ£tapi apa mbak?ÔÇØ ucapku yang sudah tidak bersemangat lagi, mau bagaimana lagi semua telah terjadi

ÔÇ£semangat dong!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya iya semangatÔÇØ ucapku tersenyum,

ÔÇ£gini, untuk urusan laboratorium, analisa dan lain sebagianya kita butuh bahan dan alat. Selama ini di kota kita ini belum ada penyalurnya, semua perusahaan yang bergerak dalam bidang pangan, pengolahan limbah dan yang berbau kimia mengambil langsung ke ibu kota negara. Mungkin itu bisa kamu manfaatkan menjadi ladang bisnis kamu. bagaimana? Tapi aku tidak tahu jalurnya, cobalah kamu membuat perusahaan sendiri, aku yakin kamu bisa. Dem dian dan demi aku dan ella tentunya, ya ya?ÔÇØ ucapnya

Aku pandang mbak echa, memang ada benarnya juga tapi bagaimana jalurnya aku tidak mengerti. Apalagi harus mendirikan perusahaan sendiri.

ÔÇ£okay mbak, terima kasih untuk sarannya. Akan aku coba untuk berjalan kesana. Kalau begitu, aku pamit dulu mbakÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya papah hi hi hi…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£wedew…ÔÇØ jawabku

Aku pulang, dalam perjalanan pulang membuatku terus berpikir. Masih siang masih ada waktu untuk bergerak, aku berhenti dan menyulut dunhill mildku. Ku buka sematpon dan ku lihat kontak pada sematponku, naik turun dengan sentuhan. Ah, pak dhe andi! Segera aku hubungi pak dhe andi, dan aku disuruhnya menemuinya di kantor. Setibanya dikantor, pak andi menemuiku dan mengajakku makan siang bersama. terjadi percakapan dan aku langsung masuk ke dalam tema.

ÔÇ£okay, bisa! Nanti kita urus, masalah perijinan, bisa kita laluui sesuai prosedur. Tapi yang pertama kita harus ke ibukota negara dulu untuk menjalin kerja sama jika semua sudah klir kita buat perijinan pendirian perusahaan. Setelahnya, kamu jalankanÔÇØ ucap pak dhe andi

ÔÇ£terima kasih pak dhe, tapi modalnyaÔÇØ ucapku mulai ragu

ÔÇ£ha ha ha… minta saja sama kakek kamu dulu, nanti kalau sudah untung, kamu ganti… atau ibu kamu tuh banyak duit, ndak tahu kan? Itu ibu kamu selalu nabung, dan kakek selalu mengirim uang ke pak dhe, tante ratna, dan ibu kamu, sekalipun kita sudah menikah. Kalau punya pak dhe, ya sudah ditangan bu dhe, tante ratna kayaknya masih banyak juga itu secara andra om kamu itu bayarannya gedhe juga. Ibu kamu, paling banyak karena dia tidak pernah boros dan paling irit sekeluargaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£oke siap! Tapi pinjam kakek saja, kalau ibu keperluan masih banyakÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya… oke, minggu depan kita langsung ke ibu kotaÔÇØ ucap pak dhe

ÔÇ£lha pak dhe ndak kerja?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£pak dhe sebenarnya ndak berangkat pun ndak masalah, makanya kamu kuliah yang bener biar nanti kerja kaya pak dhe. Ini paling pak dhe pulang, pacaran sama bu dhe kamu lagiÔÇØ ucapnya, wah aku benar-benar kagum dengan pak dhe.

Aku pulang dan pada malam harinya aku ceritakan ke dian. dian sangat mendukungku, dan mempersiapkan semua keperluanku berangkat ke ibu kota. Aku tak sabar menunggu hingga esok hari, segera aku peluk tubuhnya agar aku segera terlelap dan menuju pagi.

Kini aku berangkat dengan menggunakan pesawat 007 ke ibu kota negara untuk menjalin kerjasama dengan distributor utama di negara ini. ya maklum bahan seperti itu diproduksi diluar negeri dan di negara ini distributor utamanya ada di ibu kota. Sesampainya disana, aku dan pak dhe mengajukan proposal kerja sama yang dibuat oleh pak dhe. Dengan nama pimpinan perusahaan adalah Arya Mahesa Wicaksono dengan nama perusahaan PT. Anwar Sejahtera. Setelah perbincangan akhirnya proposal langsung diterima karena memang belum ada penyalur dikota kami, sehingga bisa langsung di terima tinggal menunggu aksi.

Sepulang dari ibu kota, selanng beberapa hari pak dhe kemudian mengajakku kesuatu tampat dan menunjukan tempat berdirinya PT itu.

ÔÇ£pak dhe, sejak kapan ada PT Anwar?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sejak kamu bilang kemarin, pak dhe lagsung buat perijinan dan lain sebagainya. Bangunan ini milik kakek kamu, lumayan besar kan. Bagian depan ada kantor, bagian belakang gudang. Anwar itu kepanjangan Ayu dan Warno. Sekarang kamu cari karyawannya ya, pak dhe sampai disini saja. dan ingat buat selebaran untuk promosi ke perusahaan-perusahaan agar mereka tahu kalau perusahaan kamu sudah berdiri, dan kamu pastikan mereka memesan ditempatmu. Tapi yang jelas mereka akan memesan ditempat kamu ar, karena perusahaan utama di ibu kota pasti akan menyarankan pemesanan barang lewat kamu. dah, kamu sekarang bosnya dan ingat Tugas akhir kamu segera ujian, jangan samapai ini perusahaan terbengkalaiÔÇØ ucapnya meninggalkan aku pergi

ÔÇ£oh iya, cek tabunganmu itu modal awal ya, silahkan kerja sendiri, bangkrut ya rrasakan sendiri ha ha haÔÇØ ucap pakdhe yang naik mobil sambil tertawa. Dasar ndak ada bedanya sama ibu yang sekarang jadi lebai!

Aku berjongkok melihat gedung kosong yang tak ada seorangpun didalamnya. Gedung yang hanya berlantai dua dengan sebuah gudang berada disamping gedung tersebut memanjang hingga kebelakang. Disamping gedung ini ada beberapa bangunan yang memang digunakan untuk perusahaan-perusahaan lainnya. Bagaimana pembukuannya? Bagaimana cara pesannya? Bagaimana promosinya? Bagaimana gaji karyawannya? bagaimana sirkulasi barangnya? orang gudangnya? terus siapa yang ngantar? Bagaimana dan bagaimana? AKU GILA! Dunhill mana dunhill mildku!

To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Gimana ini??? bingung… pengen nangis
From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Kalau bingung ndak usah punya anak saja
Kalau nangis, ade mati saja
To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Tega banget jawabannya…
From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Kalau mas nangis ade bisa apa?
Kamu tumpuanku, coba hubungi kenalan mas
Cari penjaga dulu saja
To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Aku buat hamil baru tahu rasa kamu
From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Kapan nanti malam? Oke :*
Aduh gila bener ini cewek, pacarnya lagi bingung dia-nya malah enak-enakan pengen hamil. Koplak mungkin juga bisa membantuku, hingga akhinya aku menghubungi beberapa temanku tapi tak ada yang bisa membantu. Koplak saja aku ajak bergabung tetepi tidak berminat karena mereka mempunyai usaha sendiri-sendiri. Pak wan, ya aku harus hubungi pak wan mungkin bisa mencarikan aku tenaga kerja untuk urusan yang berat-berat.

Akhirnya aku memulai membagun perusahaan ini benar-benar dari kosong hingga ada orangnya, dari tak ada kerjaan hingga ada kerjaan. Ada tiga orang yang bekerja di kantor, satu orang perempuan sebagai bendahara, satu orang perempuan yang mengurusi stok/ sirkulasi produk (administrasi barang) dan juga satu orang lagi laki-laki yang sebagai orang yang mengurusi marketing (promosi). Pak wan kemudian membawakan beberapa orang yang akhirnya siap bekerja di gudang, aku mencari lagi seorang sebagai kepala gudang. Masih kurang harus ada bagian marketing untuk pemasaran. Dari semuanya hanya itu yang aku tahu, hingga akhirnya aku berkonsultasi kepada pak dhe andi dan juga om-omku, mereka menyarankanku untuk sementara bagian yang lain aku yang memegang.

Hari demi hari aku dan marketing berputar-putar dari satu perusahaan ke perusahaan lain menawarkan kerjasama. Yang pertama adalah perusahaan dimana mbak echa bekerja, dan jelas dia mau. Mulai dari bahan untuk analisa di laboratorium hingga bahan teknis yang digunakan untuk membuat produk. Kemudian berkembang lagi menjual alat-alat laboratorium dari alat gelas hingga alat analisa yang harganya ratusan juta. Diawal memang sempat ada beberapa karyawanku hendak keluar tapi aku tahan agar mereka mau bertahan dan membangun perusahan ini.

Keuagan masih carut marut tapi dengan bantuan dari keluargaku, terutama ibu aku masih bisa menggaji karyawanku, jujur saja pemasukan masih sedikit. Hingga akhirnya dari perusahaan masuk ke instansi pendidikan negeri maupn swasta. Perjalan membangun perusahaan ini membuatku sering berangkat pagi dan pulang malam. Melupakan sejenak kekasihku ini, walau begitu dia tetap tersenyum karena aku selalu memberinya pengertian bahwa ini untuk masa depan kami berdua. Bahkan untuk berkikuk-kikuk dengannya saja jarang sekali tapi sesekali aku melakukannya untuk melepas penat memberi kehangatan pada dian.

Baru beberapa bulan akhirnya banyak sekali pemesanan bahan dan alat di perusahaanku, dan kini perusahaanku mulai memiliki pemasukan yang lumayan. Tidak hanya di kotaku saja, di daerah tetangga juga memesan ke perusahaan yang aku bangun ini karena biaya pengiriman lebih murah dan harga juga lebih murah. Jelaskan, dari sana aku mendapatkan harga reseller ha ha ha. Perusahaan mulai berkembang dan tapi aku masih tetap berada didalamnya. Karyawanpun tidak perlu menambah karena memang itu sudah cukup menangani pesanan yang membludak. Perusahaan kemudian memperbesar wilayahnya dengan membangun gudang baru khusu alat gelas. Jadi klir…. tak terasa teman-temanku sudah banyak yang ujian dan wisda sedangkan aku belum. Telat satu semester dari target yang seharusnya.

ÔÇ£kamu ndak marah kan sering aku tinggal?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak biasa sajaÔÇØ ucapnya sedikit ketus, aku lalu memeluknya

ÔÇ£aku mohon jangan seperti itu, kamu semangatkuÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya maaf sayangku, tapi kalau minggu jangan bobo terus… ade kan jarang dimanjainÔÇØ ucapnya

ÔÇ£habis capek kemarin-kemarin, oia ini perkembangannya kalau ade mau lihatÔÇØ ucapku sembari memperlihatkan data perusahaan

ÔÇ£ciyeee jadi bos nih ciyeee…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kamu jadi nyonya bosnya he he heÔÇØ ucapku

Masih bekerja dilapangan dan didalam perusahaan aku serahkan ke dua orang wanita untuk mengrusi semuanya. Kini bagian marketing juga bertambah satu orang teman kuliahku yang membantuku untuk memasarkan produk ke luar daera yang lainnya. Ketika siang itu, lelah sekali dan aku melewati kampus….

ÔÇ£hei yan, makan sianh yukÔÇØ ucap erna

ÔÇ£iya, ayuk…ÔÇØ ucapku

Kami berdua langsung berangkat bersama dengan erna ditengah jalan ada felix yang ikut makan siang bersama di warung depan kampus. Sejenak kami menunggu makan siang kami saling mengobrol ngalor ngidul bersama. makanan datang dan kami pun akhirnya makan. Mungkinkarena lapar ya, aku jadi sangat lahap makan.

ÔÇ£eh, yan, ada tamu di bibir kamuÔÇØ ucap felix

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku terkejut

Belum sempat aku membersihkan, tangan felix sudah mengelap bibirku yang ada nasinya. Tapi pandanganku terhenti ke sebuah motor REVO merah, pengemudinya melihatku. Melihat ketika tangan felix menyapu bibirku. Aku terdiam tak sadar aku tidak menghalangi tangan felix.

ÔÇ£sudah yan..ÔÇØ ucap felix tapi mataku masih melihat pengemudi REVO merah itu, karena tak salah lagi itu adalah masku, arya

Aku bingung hendak keluar dan berlari ke arahnya tapi tangannya membuka pertanda melarangku mendekatinya. Dia kemudian menjalankan motornya bersama seseorang yang berada dibelakangnya. Aku bingung, aku tahu dia pasti marah karena yang baru saja terjadi. Segera setelah makan siang tanpa banyak bicara aku kembali ke kampus dan mengajar. Setelahnya aku pulang dan mmenunggunya dirumah. malam pukul 20:00 akhirnya dia pulang dengan waah penuh kelelahan.

ÔÇ£hufth…. tadi capek banget, ada barang yang ketinggalan pas diantar jadi aku sama marketing ikutan ngantarÔÇØ ucapnya menghempaskan tubuhnya di sofa tepat disampingku, tapi aku tidak mempedulikannya aku ingin bertanya mengenai yang tadi siang

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£mas marah?ÔÇØ ucapku, dia tersenyum dan tangannya mengucek-ucek kepalaku

ÔÇ£lha tadi sebenarnya bagaimana?ÔÇØucapku

ÔÇ£tadi, itu… ada nasi di bibir terus pas mau ade bersihkan felix tiba-tiba yang membersihkannya. Ade ndak sadar karena pas itu ade lihat mas, jadinya ya ade bengong lihat mas dan ndak menghalangi tangan felix, mas jangan marah… besok lagi ade ndak akan ngulangi janji…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£he he he… siapa yang marah?ÔÇØ ucapnya, membuatku terkejut

ÔÇ£mas ndak marah?ÔÇØ ucapku menggeleng

ÔÇ£mas ndak cemburu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£cemburuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tapi kok mas santai saja?ÔÇØ ucapku heran, tubuhku ditarik kedalam pelukannya. Bau keringatnya tercium, bau keringat yang selalu menemani kenikmatanku

ÔÇ£ade pernah bilang kan, dengarkan dulu baru bertindak, mas memang sebenarnya marah tadi tapi ingat kata-kata ade untuk tidak selalu terbawa emosi. Mas yakin tadi waktu ade hendak berdiri mas melarangnya, itu tandanya ada kesalahan dalam penglihatan mas. Jadi mas posthink saja, karena mas tahu… hatimu sudah terisi olehku… cup….ÔÇØ ucapnya mengecup keningku

ÔÇ£makasih mas…ÔÇØ ucapku memeluknya, erat sangat erat…

Hari berganti, waktu berlalu. Apa yang aku bangun mulai menuai hasil walaupun tidak sebesar yang dibayanngkan namun masih bisa dikatakan bisa menggaji pegawai. Aku tidak lagi pulang malam, sore sekarang aku sudah bisa berada dirumah menemani kekasihku. Tujuanku hanya satu, memiliki waktu yang lama bersamanya. Kini aku memutuskan untuk segera menuntaskan tugas akhirku, selama aku mengurusi tugas akhirku aku menyerahkan kontrol perusahaa kepada pak dhe andi. Pak dhe menyanggupinya.

ÔÇ£yang ini sudah benar semua kan TA-nya?ÔÇØ ucapku dimalam hari sebelum ujian

ÔÇ£iya sudah benar dan jangan tanya apa pertanyaan besok lho, ndak boleh…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£tenang saja, nanti mas jawab semua kok weeeeek…ÔÇØ ucapku

Hari ujian akhirnya tiba, aku berdiri di depan tiga orang yang sudah sanga aku kenal. Pak felix, bu erna dan bu dian. selama 2 jam aku presentasikan hasil penelitianku selama ini, dengan sangat santai aku mempresentasikannya tanpa beban ditambah lagi didepanku ada orang yang aku sayang itu membuatku sangat bahagia. tanya jawab pun berlangsung dengan sangat alot, tapi aku masih bisa menjawabnya walau ada satu pertanyaan dari bu dian yang tak bisa aku jawab. Hingga akhirnya ujianku selesai…

ÔÇ£okay ar, bagus. Bagiku kamu perfect!ÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£aku setuju dengan kamu lix. Kamu yan?ÔÇØ ucap bu erna

ÔÇ£cukup bagus…ÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£oke ar, silahkan tutup ujian kamu dan segera wisudaÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£Tunggu sebentar, masih ada satu pertanyaan…ÔÇØ ucap bu dian, semua pandangan tertuju pada bu dian

ÔÇ£tanya apa lagi yan, sudah saja kasihan tuh dah mandi keringatÔÇØ ucap bu erna

ÔÇ£bentar…ÔÇØ

ÔÇ£kamu siap ar?ÔÇØ ucap bu dian, aku menngangguk

ÔÇ£baiklah…ÔÇØ

ÔÇ£kapan kamu akan menikahiku?ÔÇØ ucap bu dian dihadapan bu erna dan pak felix

ÔÇ£eh, bentar ini ada apa sebenarnya?ÔÇØ ucap bu erna kebingungan

ÔÇ£wow… wow… there is something behind us, ernaÔÇØ ucap pak felix

ÔÇ£secepatnya bu, pasti saya akan menikahi anda tidak lama lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£okay, aku tunggu… silahkan ditutupÔÇØ ucap bu dian tanpa mempedulikan pak felix dan bu erna. Aku kemudian menutup ujianku. Dan sebuah tepuk tangan dari pak felix.

ÔÇ£pantas saja aku kalah, sama pendekar kaya kamu. tapi selamat ar, kamu memang pilihan tepat untuk dianÔÇØ ucap pak felix yang berdiri dan menyalamiku

ÔÇ£bingung dewe (sendiri) aku yan, ternyata kalian jalan dibelakang. Pantes jarang berangkat, ngurusin brondongnya ternyataÔÇØ ucap bu erna

ÔÇ£tapi selamat ya ar, awas kalau kamu macem-macemin dianÔÇØ lanjut bu erna

ÔÇ£dia sudah lulus, jadi ndak perlu ada yang disembunyikanÔÇØ ucap bu dian

Lama kami kemudian mengobrol sebentar di ruang sidang. Pak felix kemudian mengemukakan hiptesisnya tentang aku dan dian, begitu juga bu erna. Mereka juga sangat senang karena dian sebentar lagi melepas lajang tapi kapan itu aku juga belum tahu he he he. Segera aku menyerahkan nilai yang aku dapat ke bagian TU, dibukan disana dan aku menanyakan berapa nilaiku. Pak Felix 90, bu erna 89, dan bu dian 79, aku bertanya-tanya kenapa sesadis itu nilainya ya. sempat aku mampir diwarung dimana dulu aku dan rahman sering nongkrong. Karena penasaran aku bertanya santai dengan maksud sedikit bercanda, toh kalau dirata-rata aku dapat A.

To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Ade… mas mau tanya kok nilainya 79 (B)?
From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Ya, itu sudah bagus kan mas?
Sudah deh ndak usah ditanya-tanya lagi,
Lagian mas tadi juga belum bisa jawab 1 pertanyaan ade
To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Iya, mas kan hanya mau tanya saja
From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Ya sudah, mas itu bawel banget
Itu juga kalau dirata-rata kan A,
Ade tadi sudah lihat nilai dari felix sama erna
Mas ndak usah tanya2 kenapa, yang penting nilai rata-rata A
To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Iya deÔÇÖ iya, mas Cuma pengen ngerti saja
Ade jangan marah
From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Yang marah siapa?!
Mas saja, kenapa harus buka-buka amplop nilai!
To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Mas tadi tanya ke ibu TU adeee…
Mas ndak marah
(aku benar-benar bingung, kenapa balasannya malah marah-marah seperti ini? padahal beberapa hari ini aku selalu memanjakannya…)

From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Ade Cuma ndak cuka mas nanya-nanya nilai saja
Kalau kaya gitu mending tadi ade masukan sendiri ke TU!
To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Ade kok malah marah-marah,
Mas kan Cuma tanya, dan mas tanya juga baik-baik
Ade ndak perlu marah-marah
From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Terus? Mas marah gitu, marah saja!
To : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Ya sudah, TER-SE-RAH!
Marah saja sana!
From : Dian ÔÇ£ My Lovely AngelÔÇØ
Ya Sudah!
Aku bingung dengan ini cewek kenapa tiba-tiba marah, ada hal yang aneh apa dari pertanyaaku. Dan kali ini aku benar-benar marah dengannya. Sama sekali bukan jawaban yang aku inginkan, padahal aku Cuma ingin BBM-an dan bercanda dengannya tapi balasannya, HAH! Mending ke wongso main!

Kalau mau marah, marah saja paling juga nanti pulang kerumah! Aku tidak peduli, aku Cuma tidak suka saja dia buka-buka amplop nilai. Walau sebenarnya nilainya sama dengan nilai felix, tapi aku tidak mau memberikannya karena jika seperti itu dosen-dosen pasti curiga. Khusus felix dan erna pasti masih bisa menjaga rahasia sampai aku sah, karena tadi setelah ujian aku sudah bilang ke mereka. tapi benar juga ya kenapa harus marah sama mas? Pertanyaannya juga tadi santai, apa aku lagi ndak enak hati? Ndak juga, beberapa hari ini dia selalu membuatku tertawa riang. Ah, ndak papalah paling nanti mas pulang kerumah. Kalau aku ingat ada momen bahagia ketika ujian tadi, dia menjawabnya dengan tatapan yang membuatku yakin akan bersanding dengannya.

Setibanya aku dirumah, rumah tampak sepi kalau seharusnya dia sudah pulang terlebih dahulu karena hari ini ujiand ari jam 9 pagi sampai jam 12 kalau tidak salah tadi. Seharusnya dia sudah pulang, sekarang sudah jam 4 sore. Aku hempaskan tubuhku di sofa, kenapa ya tadi aku marah-marah. Bukannya seharusnya aku tidak marah sama mas? Pertanyaannya juga tadi tidak keras, apa karena aku ketakutan ketahuan oleh dosen yang lain. Tapi beberapa dosen juga sudah ada yang mengetahuinya tapi mereka tetap diam saja. aku tekuk kakiku dan kupeluk, kubenamkan wajahku. Kenapa tadi harus marah? Mungkin nanti dia akan pulang, sudah sore sekali sekarang.

Aku masih duduk disofa menunggu kepulangannya tapi tak ada tanda-tanda dia pulang. Rasa khawatir dan gelisah bercampur aduk membuatku malah semakin jengkel kepadanya. Hanya karena masalah tadi saja dia tidak pulang. Walau sebenarnya yang aneh adalah aku, aku ambil sematpon di tasku dan kulihat tak ada pesan darinya.

ÔÇ£terserah kalau mau marah, marah saja!ÔÇØ bathinku

Aku bersihkan diriku, berganti pakaian dan bersantai. Ku buka kulkas dan makan roti isi coklat kesukaanku. Ku tonton televisi, waktu terus berdetak dan tak ada kabar dari dia. Waktu menunjukan pukul 8 malam tapi tak ada tanda-tanda dia akan pulang. Aku mulai gelisah, dan takut. Biasanya jam segini dia memberi kabar akan pulang seperti ketika dia menjalankan usahanya. Tapi kali ini tak ada kabar sedikitpun darinya. Rasa khawatirku, gelisahku, jengkelku bercampur dengan rasa takut menjadi gunung yang meledak dan langsung aku raih sematponku.

ÔÇ£haloÔÇØ

ÔÇ£mas kok ndak pulang? Sudah malam! Kalau memang ndak mau pulang, ndak pulang saja sekalian! Pindah rumah kalau perlu!ÔÇØ

ÔÇ£ya, sudah aku pindah rumah. Besok aku kemasi barang-barangku!ÔÇØ

ÔÇ£ya sudah, pindah saja sana!ÔÇØ

ÔÇ£ya sudah, terus ngapain telepon-telepon! ndak perlu telepon kalau mau ngusir!ÔÇØ

ÔÇ£oh begitu ya! kamu itu ditungguin ndak pulang, ditelepon marah, hanya nilai saja mas marah! Kenapa sih ndak bisa mikir dewasa!ÔÇØ

ÔÇ£yang ndak bisa mikir dewasa itu siapa! Tadi juga tanya baik-baik, pengen ngajak bercanda, kamu itu yang tiba-tiba jawabannya ndak enak sama sekali!ÔÇØ

ÔÇ£ooo jadi kamu nyalahin aku, gitu, sudah bagus dikasih nilai, malah nyolot!ÔÇØ

ÔÇ£ya sudah terus ngapain telepon, tinggal kirim pesan, suruh pindah! Gampang kan!ÔÇØ

ÔÇ£oke, pindah saja sana, bye!ÔÇØ

Aku tutup telepon dan langsung menuju kamarku. Aku marah dengannya benar-benar marah, kenapa dia malah marah ketika aku marah. Apakah aku yang terlalu ketakutan? Rasa sayangnya kepadaku tidak perlu di tanya lagi. Benci sekali aku dimarahi seperti ini, benci sekali sangat benci.

Aku tarik selimutku, dan kulihat jam di dindingn menunjukan pukul 9 malam. Tiba-tiba rasa takut menyelimutiku, entah kenapa aku merasa takut. Dulu aku tinggal sendiran, tak ada rasa takur sama sekali tapi setelah dengannya dan kini aku sendiri lagi merasakan takut. Aku duduk dengan kaki aku tekuk dan kupeluk, tiba-tiba air mataku keluar.

ÔÇ£mas pulang mas… ade takuutt hiks hiks hiksÔÇØ ucapku lirih

I Love the way you love me. Strong and wild. (Eric martin). Ringtone hp. Mama diah.

ÔÇ£halo maÔÇØ

ÔÇ£ini arya dirumah kakeknya, ada apa? Kalian lagi marahan?ÔÇØ

ÔÇ£hiks hiks ma, mas arya suruh pulang ma, dian takut sendrian hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£iya, tapi ini aryanya ndak mau diajak bicara mama. Kalian marahan? Kenapa?ÔÇØ

ÔÇ£tadi dian kasih nilai B ke tugas akhirnya, terus mas arya nanya, dian marah-marah sendiri tadi ndak tahu kenapa… terus mas arya ikutan marah hiks hiks maaaa… mas arya suruh pulang, dian beneran takut..ÔÇØ

ÔÇ£iya, iya sebentar ya…ÔÇØ

(kudengar percakapan mama dengan mas arya)

ÔÇ£ar, pulang dian takut itu, kamu jangan marah gitu to kasihan dianÔÇØ

ÔÇ£endak ya endak! Arya tidur dirumah kakek saja, titik!ÔÇØ

ÔÇ£yan, masmu ndak mau pulang, kamu sendiri dulu ya. kelihatannya dia marah banget, mamam baru kali ini lihat arya marah seperti ituÔÇØ

ÔÇ£hiks hiks maaaa… tapi dian takut maÔÇØ

ÔÇ£iya, mama akan bujuk masmu itu, tapi kalau misal tidak mau, kamu sementara sendiri dulu ya?ÔÇØ

ÔÇ£usahain ma..ÔÇØ

ÔÇ£iya iya sayang…ÔÇØ klek

Aku menunggunya dan menunggunya, aku semakin menangis menyesali marahku hari ini. aku mencoba meneleponnya tapi beberapa kali selalu ditolak oleh mas arya. aku taruh dua guling disamping kanan dan kiriku, dan mulai mencoba tidur. Aku tahu dia sangat marah, dan aku tahu dia pasti tidak mau pulang malam ini.

ÔÇ£ar, tidak seharusnya kamu marah sama dian. kamu itu laki-laki dan harusnya bersikap lebih dewasaÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£dia harusnya lebih dewasa, aku tanya baik-baik dia malah marah-marah. Sudah bu, aku mau tidur saja dikamar pak dhe andiÔÇØ ucapku langsung naik ke atas

ÔÇ£aryaaaa… pulangÔÇØ ucap nenekku

ÔÇ£kalau aku dipaksa pulang terus, aku mau nginap di wongso sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£aryaaa…. aryaaa… ÔÇ£ ucap kakekku

ÔÇ£kakak, kasihan mbak dianÔÇØ ucap eri yang tinggal bersama mereka

ÔÇ£arya mau tidur, capek…ÔÇØ ucapku langsung menuju kamar pak dhe andi ketika mudanya

Bodoh, bodoh, bodoh… aku langsung tidur dan ku kunci kamarku. Marah benar-benar marah….

Aku terbangun dan tak kudapati dirinya disampingku, terasa asing bagiku. Setiap pagi, jika aku terjaga terleih dahulu dia selalu berada disampingku dan mendengkur keras. Kini aku tidak mendengar dengkurannya, seperti ada yang hilang. Aku berharap dia tidur di sofa, ya pasti dia di sofa. aku langsung bangkit, senyumku mengembang tapi yang aku dapati adalah dia tidak ada disana. Perih rasanya tidak melihatnya malam ini, dengan sedikit air mata aku membersihkan diriku.

ÔÇ£biasanya, aku dimandikan olehnya kalau pagi buta seperti iniÔÇØ bathinku membuatku semakin menangis

Setelahnya aku duduk di tempat tidur, menghentak-hentakan kakiku dilantai. Aku menangis sejadi-jadinya, tubuh telanjang biasanya selalu ada yang menggodanya di pagi hari tapi kali ini tidak. Kuraih sematponku.

ÔÇ£halo sayangÔÇØ

ÔÇ£maaa… hiks hiks mas disuruh pulang maaaa….ÔÇØ

ÔÇ£iya ini lagi dibujuk sama kakek dan nenek juga, kelihatanya dia mau pulang kokÔÇØ

ÔÇ£beneran mas hiksÔÇØ

ÔÇ£iya, ini mau pulang tapi mama ndak jamin dia langsung kerumah lho. Kayaknya wajahnya masih muramÔÇØ

ÔÇ£ndak papa ma, yang penting mas sudah mau pulangÔÇØ

ÔÇ£iya, sudah kamu siap-siap saja, terus berangkat kerja dan nanti pas pulang pasti masmu sudah di rumah oke?ÔÇØ

ÔÇ£iya ma…ÔÇØ kelk

Aku pakai pakaianku, tampak asing sendiri memakai pakaian kerja dipagi hari. Bahkan ketika aku makan pagi di meja makan aku juga merasa aneh sendiri, tak biasa aku makan pagi hari dengan memegang sendok. Air mataku keluar lagi, dan kali ini benar-benar deras sekali. Hingga tepat pukul 7, aku berangkat dan ketika keluar melewati pos satpam aku lihat mas arya masuk ke perumahan. Langsung aku hentikan mobilku dan memutar balik tapi disaat bersamaan aku mendapat telepon dari erna, agar menggantikannya mengurusi admnistrasi jurusan untuk audit karena anaknya tiba-tiba jatuh sakit. Erna hendak memeriksakannya terlebih dahulu, baru kemudian berangkat. Kaku disuruhnya menyiapkan berkas saja. Mau tidak mau aku langsung memutar kembali mobilku, dan berharap dia tetap dirumah sampai aku pulang.

Sesampainya di kampus, aku langsung menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk audit. Dan tepat pukul 9, erna datang anaknya sakit panas tapi masih bisa ditinggal karena orang tuanya yang menjaga. Jam setengah sepuluh aku mengajar, pikiranku tidak fokus, selalu aku mengambil sematponku untuk melihat ada pesan masuk atau tidak, kulihat kontaknya pun tidak berubah pada displai pikcur-nya. Statusnya tidak berubah, aku coba ping tapi centang. Setelah seharian mengajar, aku tinggalkan kampus dan langsung pulang kerumah tepat pukul 3 sore. Ku dapati motornya masih berada di garasi, aku tersenyum dan langsung aku berlari masuk. Kulepas semua bajuku dan menyisakan tang-top dan celana dalam. Kucari dia, ternyata masih berada didalam kamar mandi.

Tok tok tok…

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapku dengan penuh kebahagiaan dia pulang

Kleeek…

ÔÇ£yaÔÇØ jawabanya singkat, aku tersenyum dan membuka tanganku tapi dia berlalu ke dapur mengambil makan. Aku jadi sedih melihat sikapnya, kulihat dia tidak memandangku sedikitpun ketika berjalan ke sofa depan TV. aku dekati dan aku duduk disebelahnya, kucoba bermanja kepadanya.

ÔÇ£mas, ade suapin, ade kan juga laper masÔÇØ ucapku manja, tapi kulihat dia cuek saja makannya semakin cepat dan langsung pergi meninggalkan aku setelah makan selesai. Dia kemudian datang membawa sepiring nasi dan lauk, diletakannya di sampingku.

ÔÇ£ini, ade makan sendiri, mas mau ke wongsoÔÇØ ucapnya berlalu meninggalkan aku

ÔÇ£maaaas, mas jangan pergi lagi ade tak..ÔÇØ ucapku berdiri dan tercekat

klek… pintu tertutup dan dia pergi, aku berlari tapi dia sudah keluar dan mengdarai motornya menghilang dari pandanganku. Aku meringkuk di balik pintu, dan menangis, sejahat itukah aku? Hingga dia tidak mau memaafkan aku?

ÔÇ£tidak dia pasti pulang, pasti pulangÔÇØ ucapku kepada diriku sendiri

Detik berganti, jam pun berganti tepat pukul 9 malam. Dia belum juga pulang, akhirnya aku menyusulnya ke rumah wongso. Tapi setibanya aku disana tak ada motor merahnya itu, ku tanyakan ke wongso dan asmi. Memang dia sebelumnya disini dan tampak wajahnya bete sekali, seperti kemarin namun tadi pukul 7 malam dia sudah pergi.

ÔÇ£makasih ya wong, asÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya, lagi marahan apa?ÔÇØ ucap asmi

ÔÇ£iya… kira-kira kalian tahu kemana mas arya pergi?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu to mbak seharusnya yang lebih tahuÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£eh, iya coba aku telepon nantiÔÇØ ucapku

ÔÇ£mbak, biasalah kalau marahan. Dulu mas wongso juga gitu malah ndak pulang 3 hari, kalau ndak dicari ya ndak pulan tuhÔÇØ ucap asmi

ÔÇ£sudah ndak usah dibahas lagiÔÇØ ucap wongso

Aku hanya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua. Kemana aku harus mencarinya, aku sudah mendapatkannya tapi aku malah mengacuhkannya. Aku tidak pernah memanjakannya sekalipun, aku merasa bersalah. Da sudah berusaha mewujudkan impianku menjadi istrinya tapi. Dalam mobil yang berjalan, aku terus berputar-putar kulihat rembulan dan sesaat aku teringat akan sebuah tempat. Langsung aku putar arah mobilku dan menuju tempat itu. sesampainya ditempat itu, aku lihat motornya, aku langsung berlari ketempat itu. dalam nafas terengah-engah aku sampai juga, kulihat dia sedang duduk dan merokok.

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapku pelan, dia menoleh sebentar dan kemudian menghisap rokoknya

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapku sekali lagi, dia mematikan rokoknya dan berdiri

ÔÇ£kalau bangkunya mau dipakai, pakai sajaÔÇØ ucapnya sembari melangkah pergi

Aku langsung berlari kearahnya, tak akan kulepas lagi dia. Aku peluk erat tubuhnya dan menahannya untuk tidak pergi lagi. Aku peluk sangat erat…

ÔÇ£jangan pergi lagi, ade minta maaf hiks hiks hiks ade tahu ade yang salah sudah marah-marah, tapi mas jangan pergi lama hiks hiks..ÔÇØ ucapku, tapi kakinya tetap melangkah

ÔÇ£mas…ade mohon hiks hiksÔÇØ ucapku

ÔÇ£ade kan pengen mas pindah kan? Ya sudah, kenapa dicegah? Daripada bikin sumpek rumah ade, mending mas pergi sajaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ndak hiks hiks ndak sumpek mas… ade mohooon hiks hiks hiks..ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mas itu bingung sama ade, mas tanya baik-baik ade jawabnya ketus seperti itu. salahnya dimana? Katanya tanya dulu sebelum bertindak, terus kenapa marah-marah hanya ditanya nilai. Mas ndak mempermasalahkan nilai, hanya saja tanggapan ade yang berlebihan, membuat mas ndak suka. apalagi ade nyuruh mas pergi, ya sudah berarti memang ade tidak mengharapkan mas lagi kan?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£maaaaaff hiks hiks hiks hiks maaaaaf mas maaaaf… ade ndak akan ngulangi lagi, ade janji hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapku terisak

ÔÇ£mas memang mahasiswa ade, tapi mas sudah punya niat untuk tidak menjadi mahasiswa ade. mewujudkan mimpi kamu dan juga aku…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£maaf, maaafin ade maaas…ÔÇØ ucapku memeluknya semakin erat

ÔÇ£haaaaaash… sudah ndak usah nangis lagi, ya mas maafin dasar cewek manja, dah mas sudah ndak marahÔÇØ ucapnya, tubuhnya berbalik, pelukanku longgar. Aku dipeluknya erat, kurasakan nafasnya di ubun-ubun kepalaku. Cup…

ÔÇ£dah, yuk pulang… sudaaaah mas dah ndak marah ni mas senyum niÔÇØ ucapnya menunjukan senyumnya kepadaku

ÔÇ£jangan pergi lagiiiiii… ade mohoooon… hiks hiks…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya, iya… makanya jangan asal marah-marah lagiÔÇØ ucapnya,

Entah kenapa kulihat didalam dirinya sebuah kedewasaan yang selama ini tak pernah aku lihat. Seorang yang selalu menyelsaikan masalah dengan otot kini berubah. selama beberapa saat aku didiamkan dari tangisku dan kemudain diajak pulang kerumah. Ketika aku lihat mas menaiki motor, aku langsung membonceng di belakangnya.

ÔÇ£lho? Lha itu mobil siapa nanti yang bawa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£nanti mas pergi lagi hiks…ÔÇØ ucapku masih sedikit terisak

ÔÇ£endak, endak, yakin deh… ntar mas ada didepan ade terus. SuwerÔÇØ ucapnya

ÔÇ£janjiiii…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£janjiÔÇØ ucapnya,

Aku kembali ke mobil dan mengikutinya dari belakang hingga sampai dirumah. begitu mas turun dari mobil langsung tangannya aku peluk erat. ku kira akan berjalan bergandengan tangan, aku malah dibopongnya ke ralam rumah.

ÔÇ£bobooooo…ÔÇØ ucapku manja

ÔÇ£iya iya…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£lepasiiiiin…ÔÇØ ucapku lagi memintanya melepaskan pakaianku. Dia langsung saja melepas pakaianku, dan meninggalkan tang-top dan celana dalam.

ÔÇ£mas jugaaaa…ÔÇØ kalau dilihat darimanapun, malu juga aku manja dihadapannya

ÔÇ£peluk… pelukkk cepetaaaan…ÔÇØ ucapkum tubuhnya langsung menarikku rebah dan memasukanku dalam pelukannya. Hangat.

ÔÇ£mas, ade ndak di boboÔÇÖi?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£endak…ÔÇØ jawabny tersenyum

ÔÇ£ade, dah ndak menarik ya??ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau ndak menarik itu batang ndak bakal berdiri adeÔÇØ ucapnya, ku elus bagian selangkangannya dan kurasakan keras di sana

ÔÇ£sudah bobo saja, besok masih ada waktu, okay?ÔÇØ ucapnya aku mengangguk

ÔÇ£ade boleh nangis?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£lho kenapa nangis?ÔÇØ balasnya

ÔÇ£pengen saja, nangis dipeluk sama masÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya iya, boleh, siniÔÇØ ucapnya

Aku langsung saja menangis menyesali semua yang aku lakukan padanya. Tubuhku masuk dan memeluk tubuhnya, kepalaku dielus-elus olehnya. Bibirnya terus mengecup kepalaku dan aku terus menangis hingga lelah dan terlelap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*