Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 69

Wild Love 69

ÔÇ£ugh hoaaam….ÔÇØ aku terbangun di tengah malam

ÔÇ£mas… mas bangun…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£egh… ngantuk adeeee…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£langitnya bagus tuhÔÇØ ucapku sembari melihat keluar jendela

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku terkejut ketika tubuh itu memelukku, kepalanya berada di bahu kiriku

ÔÇ£emmmh… cupÔÇØ kecupan medarat di pipi kiriku

Kuraih bagian belakang kepalanya dan kudorng kedapan, aku daratkan bibirku ke bibirnya. Hanya menyentuhkan saja tanpa harus melumatnya, terasa lebih romantis. Kluihat dia berdiri dan menggeser dua sofa, satu sofa menghadap ke jendela satunya tepat berada didepan sofa satunya lagi. Dia kemudan beranjak dan mematikan lampu kamar, kemudian dibopongnya aku menuju sofa itu. aku duduk menghadap ke jendela menikmati pemandangan langit malam serta cahaya rembulan, dia duduk tepat berada dibelakangku.

ÔÇ£bagus ya mas langitnya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mereka selalu sama, bahkan bulan itu pun sama… maafkan aku jika aku terlalu banyak berbuat kesalahan selama iniÔÇØ ucapnya memelukku. kuremas tangnnya dengan tangan kiriku

ÔÇ£memang sama… aaaah…ÔÇØ aku menyandarkan tubuhku kebelakang, kepalaku tepat didadanya

ÔÇ£semua sama hanya nama yang berbeda, kesalahan adalah hal yang wajar. Tapi ada hal yang berbeda dalam diriku tapi entah dalam dirimu…ÔÇØ

ÔÇ£rasa sayangku, rasa cintaku, tidak sama seperti ketika kita bertemu mereka bertambah setiap harinya untukmu yang selalu mencoba untuk memperbaiki diri untukku…ÔÇØ ucapku lirih sembari melihat ke wajahnya

ÔÇ£rasa sayangku, rasa cintaku kepadamu, berada disamping rasa sayangmu, rasa cintaku kepadaku… the feeling inside you is feeling like i doÔÇØ ucapnya, aku tersenyum mendengarnya

Bibir kami berpagutan, saling mengecup beberapa kali dibawah sinar rembulan yang menjadi saksi kembali tentang kami berdua…

Pagi Hari…

ÔÇ£Ade jangan ngambek gitu toÔÇØ ucapnya, aku benar-benar ngambek dengan sikapnya huh…

ÔÇ£ade… ayo pakai baju dulu, masa mau kerumah kakek dan nenek ndak pakai baju?ÔÇØ lanjutnya lagi

ÔÇ£Adeeeee….ÔÇØ sembari wajahnya mengejar untuk menatapku, aku membuang mukaku

ÔÇ£jangan marah dong, kan sudah ditunggu ndak enak kan, yuk pakai bajuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ade pakai sendiri! ndak dipakaikan jua bisa sendiriÔÇØ jawabku ketus sambil merebut pakaian dalam dan pakaianku

ÔÇ£senyum dong adeeee, jangan marah mas kan malah jadi bingung kalau begini…ÔÇØ ucapnya sekali lagi

ÔÇ£habis mas! Ade kan mau bantu ngeluarin punya mas, mas bilangnya ndak usah ndak usah, sebel tahu ndak!ÔÇØ jawabku ketus sambil menyerahkan pakaianku lagi

ÔÇ£lha ntar kelamaan, katanya takut ma itunya mas… kan masih banyak waktu sayangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya atut tapi seneng…ÔÇØ ucapku kurasakan wajahku memerah

ÔÇ£masih banyak waktu okay, cup…ÔÇØ ucapnya sambil mengecup bibirku, aku tersenyum

Aneh ya kalau aku suka mainan itunya mas? Walau sebenarnya ada rasa takut ketika itu masuk. Tapi mau bagaimana lagi coba, kalau lihat ngeri kalau dimasukkan juga ngeri tapi kalau pegang kok ndak ya? hmmm…

ÔÇ£tangannya diangkat sayangÔÇØ ucapnya, aku angkat kedua tanganku dan dipakaikan tengtop sekaligus kaos lengan panjang. Entah dari mana dia mendapatkan semua pakaianku.

ÔÇ£kok pakaian ade lengkap?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tadi pagi pak wan nganterin, katanya kemarin sebelum mengantar pulang dari RS. Ibunya ade membelikan beberapa pakaian untuk adeÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kok ndak jenguk ade sih mama?ÔÇØ ucapku sedikit jengkel

ÔÇ£biarkan mereka berbulan madu sayangÔÇØ ucapnya membuatku tersadar kalau ibu dan ayahku memang butuh waktu untuk bersama

ÔÇ£tapi mama kok tahu ukurannya ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak tahu sebenarnya…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£lho lha terus kok ini bisa pas?ÔÇØ ucapku sembari memegang payudaraku

ÔÇ£tuh, ada banyak ukuran..ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iiih berarti mas ukuran punya ade kan? Pikiran mas jorok!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£yeee… kan sudah pernah pegang, apalagi kalau tidurÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ngeres!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£beneran? Ndak boleh pegang lagi? Ya sudah, ndak pegang lagi daripada dikira pikirannya ngeresÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aaaaa… boleeeeeh…. pegang cepetaaaaanÔÇØ manjaku

ÔÇ£sudah beres semua tuh tinggal kita berangkat masa mau gituan, ndak kasihan sama kakek dan nenek?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, tapi kalau bobo dirumah nenek… mas bobo sama adeÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau boleh, yuk berangkat…ÔÇØ ucapnya

Dengan menenteng tas mas menggangdeng tangan kiriku dengan tangan kanannya. Aku berhenti sejenak melihat kamar ini, kamar yang menjadi tempat dimana aku selalu berdua dengan kekasihku. Dia kemuadian menyadarkan aku untuk segera berangkat karena waktu sudah menunjukan pukul 08.30 pagi. Lantai demi lantai aku peluk tangannya hingga di lantai bawah.

ÔÇ£mesranyaaaa…ÔÇØ ucap seorang wanita

ÔÇ£mbak erlinÔÇØ ucap kami berdua, mbak erlina langsung datang dan memelukku

ÔÇ£semoga lekas sembuh ya, dan ingat nanti kalau adikku ini macem-macem bilang sama mbak yaÔÇØ ucapnya, aku mengangguk dan cipika-cipiki sebelum berpisah

ÔÇ£dik, jagain dian. awas kalau diapa-apain!ÔÇØ ucap mbak erlina kepada kekasihku

ÔÇ£boleh yan?ÔÇØ ucapnya, aku mengangguk. Dikecupnya kening kekasihku..

Kami kemudian berpisah di lantai dasar rumah sakit. Cemburu? Mungkin iya dulu, tapi sekarang tidak dia sudah menjadi kakak perempuanku. Di tempat parkir motor, kulihat motor yang dulu pernah menemaniku bersamanya. Kini aku membonceng lagi di jok belakang, suara mesinnya masih sama dengan yang dulu.

ÔÇ£kok ndak jalan-jalan masÔÇØ ucapku

ÔÇ£motor ini butuh bensin sebagai bahan bakar, tapi kalau pengemudinya butuh pelukan sebagai bahan bakarÔÇØ ucapnya

ÔÇ£dasar sok romantis!ÔÇØ ucapku yang tersenyum dan memeluknya

Kami menuju ke rumah kakek dan nenek kekasihku…

Ah, mereka sudah pulang. Semoga mereka menjadi pasangan yang langgeng hingga akhir hayat mereka. Sudah saatnya aku pulang karena aku mendapat shift malam. Mataku sudah mulai mengnatuk didalam Bis yang aku naiki ini. hingga akhirnya aku sudah sampai di kosku, ingin segera aku rebah didalam kamar dan menikmati tidur seharian.

ÔÇ£baru pulang mbak?ÔÇØ ucap adik kosku

ÔÇ£iya, ndak kuliah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£bentar lagi, lagi nunggu pertunjukanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£pertunjukan apa?ÔÇØ ucapk

ÔÇ£ada deh…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya iya, aku tidur dulu dek dah ngantukÔÇØ ucapku sambil membuka pintu kamarku

ÔÇ£heÔÇÖe mbakÔÇØ ucapnya

Setibanya aku didalam kamar aku lempar tas yang aku bawa ke kasur kosku. Aku berlari dan langsung aku terjun ke kasur sepring bed empuk ini.

Dugh… suara hantaman pada pintuku, aneh… masa bodoh ah

Dugh… suara hantaman terdengar lagi, seperti benda yang dilempar ke pintuku

Dugh… jengkel rasanya

ÔÇ£siapa sih ndak usah iseng kenapa?!ÔÇØ teriakku, aku berdiri dan berjalan ke pintu. Aku buka pintu kamar kosku…

ÔÇ£Erlina pujaan hatiku, maukah kau… bret!ÔÇØ ucapnya

Ya, itu ucap seorang lelaki yang berlutut kurang lebih 3 meter dari pintu kamarku. Bajunya dirobek dan terlihat kaos putih yang bertuliskan ÔÇ£Will you Marry me?ÔÇØ. Aku terkejut melihatnya, dadaku serasa berdetak sangat keras ketika melihat tulisan itu. aku langsung masuk kembali dan kututup pintu kamarku, aku bersandar pada pintu kamarku. Laki-laki itu..

ÔÇ£Erlin… erlin sayang…ÔÇØ ucap lelaki itu sekali lagi

ÔÇ£hiks hiks hiks…ÔÇØ aku menangis dan langsung aku buka pintu dan berlari kearahnya

Aku melompat dan memeluknya, tubuhku ditangkap oleh lelaki ini. lelaki yang selama ini menjadi kekasihku, tubuhnya terhuyung kebelakang dan jatuh terduduk. Semua penghuni kos menyaksikan itu dan bertepuk tangan serta berteriak mengucapkan selamat.

ÔÇ£mau kan?ÔÇØ ucap alan, aku hanya mengangguk pelan

ÔÇ£bener?ÔÇØ ucapnya lagi, aku mengangguk sekali lagi

Aku dibopong ke dalam kamar disertai teriakan-teriakan yang membuatku sangat malu. Ada juga yang menghadang langkah alan, mengatakan ÔÇ£iiih merah tuh merah hi hiÔÇØ, aku hanya diam dan senyum-senyum sendiri. Hingga suasana reda, satu persatu memberiku selamat. Tapi aku tetap saja tak turun dari gendongan alan. Didalam kamar, aku direbahkan di tempat tidur. Kutarik kepalanya dan aku melumat bibirnya. Alan mengerti akan maksudku, tubuhnya sekarang menindihku. Aku rasakan tangannya mulai meremas payudaraku, tanpa menunggu lama bajuku suah terlepas dari tubuhku. Rokku sudah tersibak ke atas, celana dalamku sudah, dan kerudungku sudah terlepas dari kepalaku. Kudorong alan, dan kulepas celana sekaligus celana dalamnya. Aku rebah kembali di tempat tidur, alan kemudian mengakangi tubuhku, aku angkat tubuhku dan kupegang penisnya. Ya ini adalah posisi kesukaan alan, aku mengulum penisnya dalam keadaan aku dikangknginya.

ÔÇ£Sayang…ÔÇØ ucapnya ketika mulutku terbuka, hanya beberapa senti dari penisnya

ÔÇ£ini…ÔÇØ ucapnya, aku kaget dan ambruk lagi ke bantal. Kuliha tangan kiriku diraihnya dan dipasangkan cincin emas di jari manisku. Kulihat dan air mataku berlinang, kulihat senyumannya… tanpa berlama-lama lagi, aku bangkit dan langsung melahap penisnya

ÔÇ£argh sayang pelan sayang ugh… bibirmu seksi, nikmat sekali sayangku ough…ÔÇØ racaunya menikmati kulumanku, aku bersemangat entah di mana rasa kantukku yang tadi menyuruhku untuk segera tidur

ÔÇ£sayang sudah, aku sudah pengen sayang…ÔÇØ ucapnya, aku lepaskan kulumanku

ÔÇ£tapi nanti yang lama lho…ÔÇØ protesku, tubuhnya beringsut dan membuka pahaku

ÔÇ£iya sayang iya… ugh… sempitnya punya kekasihku ini, oueghhh enak sekali…ÔÇØ racaunya

ÔÇ£pelan sayang ugh… pelanhhhhh… ah!ÔÇØ rintihku, ketika hentakan keras di vaginaku. Tubuhnya turun dan memelukku

ÔÇ£kalau mau lama pemanasannya oke, kapanpun kamu mau sayang… sekarang aku sudah pindah kesini, tempat kerjaku sudah pindah karena aku tidak ingin jauh dari istriku yang sedang aku entot iniÔÇØ ucapnya dengan penis yang bersarang di vaginaku

ÔÇ£eh, mas sekarang sudah disini?ÔÇØ ucapku, sebuah kebahagiaan karena aku tidak akan sendiri

ÔÇ£iya, mau sampe nanti sore? Pagi? Atau begini terus berhari-hari, oke, siapa takut… akan aku buat sayangku ini minta tambah terus… mas libur sampe besok mingguÔÇØ ucapnya, aku tersenyum

ÔÇ£hmm… satu ronde dulu sayang, habis itu istirahat terus… mungkin harus minta libur dulu beberapa hari karena si timun naga itu kan sudah ndak dapat jatah lama sekaliÔÇØ godaku

ÔÇ£harus…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aw… pelanhhh ugh… ahh ahh ahh ahhh sayang itunya mentok sayangÔÇØ ucapku

ÔÇ£itu apa ah ah ah enak sekali didalam sayang ugh…ÔÇØ racaunya

ÔÇ£kontol, kontol sayang mentok dipintu rahim ayang, ugh sayang mmmhhhh… arghhh… terus sayang terus… kontoli, entot memek ayang ini ughÔÇØ racauku

Dengan posisi konvensional, aku dihajar habis-habisan oleh nafsu yang selama ini tidak tersalurkan. Tubuhku bermandi keringat, bersatu dengan keringat yang menetes dari tubuhnya. Tubuhku bergoyang sangat terasa ketika susuku naik turun di atas dadaku.

ÔÇ£arghh… sayang, ayang mau keluar oghh….ÔÇØ rintih nikmatku

ÔÇ£aku juga ayang, aku pejuhi, aku hamili kamu ugh…ÔÇØ racaunya

ÔÇ£iya sayang hamili ayangmuhhh… oughh….ÔÇØ racauku

Croot crooot crooot crooot crooot

Siraman hangat membasahi vaginaku, bersatu dengan cairan kenikmatanku. Walau dia sudah mencapai puncaknya… Bibirku di ciumnya, turun ke leher dan tangannya mengelus tubuhku. Pipiku dielusnya dengan ujung jari-jarinya.keningku kemudian dikecup lembut, beberapa kali kecupan terasa mengelilinigi wajahku. Sembari mengecupi wajahku, rambutku dimainkannya helai demi helai. Sangat nyaman sekali, hamil? Aku mau….

Hingga aku merasakan elusan-elusannya membuatku terbuai dan kemudian kurasakan tubuhnya bergeser di sampingku. Ditariknya tubuhk dan masuk ke dalam pelukannya. Selimut tipis ditariknya untuk menutupi ketelanjangan kami berdua. Tangan kanannya menjadi bantalan kepalaku dan tangan kirinya terus mengelus kepala bagian belakangku hingga punggungku, kurasakan nafasnya berhembus di ubun-ubun kepalaku berbarengan dengan setiap kecupan yang dia daratkan. Aku tertidur dan hari-hari berikutnya adalah hari dimana aku akan belajar menjadi istri yang baik untuknya, untuk kekasihk, Alan…

ÔÇ£Sudah sampaiÔÇØ ucapku kepada kekasihku yang memelukku erat, tapi kulihat rumah kakek sepi dengan pintu rumah yang terbuka

ÔÇ£ini rumah kakek dan nenek mas?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, sebentar mas buka pintu gerbang dulu. Ade diatas motor sajaÔÇØ ucapku

Aku membuka motor dan kemudian aku kembali lagi, kunaiki lagi motorku dan kumasukan kedalam rumah. Dian kemudian turun, segera aku tutup kembali pintu gerbang rumah kakek.

ÔÇ£ayo…ÔÇØ ucapku sembari mengulurkan tangan kananku untuk menggandenga tangan kirinya

ÔÇ£eh, anu mas itu..ÔÇØ ucapnya gugup

ÔÇ£Sudah tidak usah takut, mereka juga keluarga ade…ÔÇØ ucapku mencoba menenangkan. Wajahnya kemudian tersenyum, dihirupnya nafas dalam-dalam dan dikeluarkannya

Aku menggandenganya masuk ke dalam rumah kakek dan nenekku, tepat didepan pintu kulihat adik-adikku yang langsung mberlari kearahku. Mereka melompat dan langsung aku tangkap dan kuangkat tubuh mereka keatas, tapi khusu yang masih kecil sedangkan adik-adikku yang sudah gede-gede hanya aku peluk.

ÔÇ£Siapa kak?ÔÇØ ucap anak tante ratna paling kecil

ÔÇ£kakak ipar kamuÔÇØ dengan pede aku menjawab, satu persatu memeluk dian dengan senyuman manisnya

ÔÇ£dimana yang lain?ÔÇØ ucapku kepada dika

ÔÇ£tuh dah ditunggu dari tadiÔÇØ ucap anak budhe ika yang pertama

Adik-adikku berhamburan masuk dan berteriak ÔÇ£kak arya sudah datangÔÇØ. Ah, seperti apa saja aku ini, aku langusng mengikuti mereka masuk kedalam rumah.

ÔÇ£KakaaaaaaaakÔÇØ ucap rani dan eri yang membuat aku terkejut, mereka langsung saja memelukku

ÔÇ£yeee lama banget sih…ÔÇØ ucap rani

ÔÇ£hayo ngapain aja…ÔÇØ ejek eri

ÔÇ£bangun gedung, ngaspal jalan, ngatur lalu lintas weeeekÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu itu ditunggu kok lama bangetÔÇØucap ibu

ÔÇ£hey mblo sini…ÔÇØ ucap tante ratna membuka tangannya

ÔÇ£yeee pemain sinetron…ÔÇØ jawabku, langsung memeluk tante ratna

ÔÇ£igh igh igh… ih ih ih ihÔÇØ tante ratna memnarik kedua pipiku kasar

ÔÇ£ew ew ew… sakit tahu tan…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ratna itu, sini sayang sama budhe, ini nih keponakan budhe yang paling gantengÔÇØ ucapnya langsung aku memeluk budhe

ÔÇ£kamu itu bisa-bisa, selalu bikin khawatir…ÔÇØ ucap budhe sambil mengecup pipi kanan dan kiriku

ÔÇ£hebat kamu… sekarang kamu ksatrianyaÔÇØ ucap pak dhe andi yang bergantian memelukku

ÔÇ£kurir cinta…ÔÇØ ucap om andra

ÔÇ£eh om…ÔÇØ ucapku memeluknya

ÔÇ£Ini nih pak dhe yang selalu bikin onar kota kita hi hi hi hiÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£ah, tante apaan sih daripada tante weeeek…ÔÇØ ucapku sambil memeluknya

ÔÇ£apa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ih takut…ÔÇØ ucapku yang langsung saja kena jewer

ÔÇ£sudah to mah, gini-gini yang nyari kamu lho tul gak arÔÇØ ucap om askha yang bergantian memelukku

ÔÇ£Nah ini yang selalu megang daerah kita pak dhe ha ha haÔÇØ ucap om heri memelukku

ÔÇ£lucunya keponakanku ..ÔÇØ ucap tante herni memeluku

ÔÇ£eh bocah cengeng… huuu tantenya di lupakan!ÔÇØ ucap mbak alya

ÔÇ£sini…ÔÇØ ucap mbak alsa

ÔÇ£yeee… aku kan kemarin ndak nangis situ tuh yang hiks hiks hiksÔÇØ ejekku, mereka hanya tersenyum dan memelukku

ÔÇ£dasar!ÔÇØ ucap mereka berdua menjitak kepalaku

ÔÇ£cucu nenek yang ganteng…ÔÇØ ucap nenek ifah memelukku

ÔÇ£manis lagi..ÔÇØ ucap nenek laila

ÔÇ£nurun dari ibu nek he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£kakek wardi, nenek umi…ÔÇØ ucapku memeluk mereka berdua

ÔÇ£kakek, nenek…ÔÇØ bergantian aku memeluk kakek dan nenekku

Kulihat ibu sudah membuka kedua tangannya, langsung aku memeluknya. Kupeluk dengan erat ibu, dikecupnya keningku.

ÔÇ£kamu itu ditunggu kok ya lama bangetÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£biasalah bu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ehem… ehem…ÔÇØ tante asih berdehem

ÔÇ£tanteeeee….ÔÇØ ucapku memohon kepada tante agar tutup mulut

ÔÇ£iya… iya…ÔÇØ ucapku

semuanya hadir disini, tertawa riuh dan bersendau gurau sejenak.

ÔÇ£lho sayang, dian mana?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£eh… lho, dian ada di lho… dimana? Aduh ketinggalan…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu itu anak orang lho ituÔÇØ ucap tante asih

ÔÇ£sebentar-sebentar…ÔÇØ ucapku yang langsung berlari keluar

Kulihat dian hampir menangis karena ku benar-benar lupa, mungkin karena saking senengnya ketemu dengan keluarga.

ÔÇ£maaf… kelupaan sayangÔÇØ ucapku

ÔÇ£gini saja sudah lupa, nanti gimana hiks…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya maaf… habis tadi adik-adik juga he he he, saking senengnya sayangÔÇØ ucapku

Segera aku gandeng dian, tepat setelah ruang tamu aku berdiri dan meliha ke ruang keluarga. kulihat mereka semua tersenyum kepadaku. Dian malah bersembunyi di balik punggungku.

ÔÇ£yang, itu kok malah sembunyiÔÇØ ucapku

ÔÇ£malu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£siapa tuuuuh… dah ndak jomblo ya?ÔÇØ ucap tante ratna

ÔÇ£ada keluarga baru harus di plonco nihÔÇØ goda bu dhe ika

ÔÇ£bu dhe, jangan di takut-takutinÔÇØ belaku

ÔÇ£sayaaang… siniÔÇØ ucap ibu memanggil dian

Dian kemudian beranjak dari tempat sembunyinya, muncul dengan wajah merahnya…

ÔÇ£nah nih… mbakku dan adikku yang cantik, nih calon mantukuÔÇØ ucap ibu sambil memeluk dian

ÔÇ£mama… malu mah…ÔÇØ ucap dian, aku hanya berdiri dan tersenyum dibelakang mereka berdua

ÔÇ£mana, mana… iiih cantiknyaÔÇØ ucap tante ratna yang langsung memgang kedua pipi dian setelha dipeluk oleh ibu

ÔÇ£aku tantenya arya, tante ratna, oia kamu ndak mabuk kan sayang?ÔÇØ ucap tante ratna kepada dian

ÔÇ£maksud tante?ÔÇØ dian nampak heran, aku juga

ÔÇ£sadar kan?ÔÇØ ucap tante

ÔÇ£sadar dan ndak mabuk tanÔÇØ ucap dian

ÔÇ£ndak percaya deh, pasti lagi mabuk ini. kok mau ya cewek secantik kamu jadi pacarnya aryaÔÇØ ucap tante ratna, dian hanya menunduk malu

ÔÇ£apaan sih tante… ya jelas mau lah kan aku ganteng gitu, ya kan yang?ÔÇØ ucapku, dian mengangguk pelan

ÔÇ£benar-benar jomblo yang beruntung…ÔÇØ ucap bu dhe ika

ÔÇ£huh, ini masalah lagi, jagan didengerin yangÔÇØ ucapku, melihat mereka berdua berpelukan

ÔÇ£Dian sayang…ÔÇØ ucap tante asih memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan dian

ÔÇ£calon mantu mbak diah nih yaÔÇØ ucap tante herni. Satu persatu mereka memberika pelukan kepada dian, khusus yang cewek ya nenek ifah, nenek laila, mbak alsa, mbak alya, eri, rani. Mereka berkerumun berdiri didepanku.

ÔÇ£masih misteri ini kenapa dian mau sama arya hi hi hiÔÇØ ucap tante ratna

ÔÇ£Tashika ni yakusoku shi, seijitsuna ai ni narimasu (karena yakin akan janji dan cinta yang tulus)ÔÇØ ucap nenek ayu tiba-tiba. Semua diam dan melihat nenek, mereka terbengong-bengong.

ÔÇ£Sobo?! (nenek?!)ÔÇØ teriak dian

Dian langsung berlari ke arah nenek yang tengah duduk disamping kakek. Aku heran kenapa dian bisa tahu tentang nenek? Kalau orang tahu karena nenek adalah istri dari kepala daerah itu wajar. Tapi kelihatannya mereka pernah bertemu. Aku dan semua orang yang berada disana tampak kebingungan ketika melihat dian memeluk nenek dengan eratnya. Ibu langsung mendekati dian dan duduk disebelah nenek menggeser duduk kakek.

ÔÇ£N┼ìhau sobo? (bagaimana kabar nenek?) ÔÇ£ucap dian yang benar-benar tidak aku mengerti

ÔÇ£Yoku, dono y┼ì ni anata wa watashi no ch─½sana tenshidesu ka? (bagaimana kabar kamu malaikat kecilku)ÔÇØ ucap nenek yang semakin aku bingung percakapan mereka

ÔÇ£Mama wa kanojo ni atta koto wa arimasen (Ibu pernah bertemu dengannya?)ÔÇØ ucap ibu sama sekali aku tidak mengerti

ÔÇ£ada, ada cerita tapi biarkan menjadi cerita antara aku dan malaikat kecilku iniÔÇØ ucap nenek

ÔÇ£nenek masih cantik sajaÔÇØ ucap dian

ÔÇ£kamu juga tambah cantikÔÇØ ucap nenek

ÔÇ£waaaah… kamu pintar bahasa jepang juga ya sayang?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£aku belajar ma, karena dulu waktu nenek bicara pakai bahasa jepang aku ndak mudengÔÇØ ucap dian

ÔÇ£berarti tambah satu keluarga kita yang bisaÔÇØ ucap tante ratna

ÔÇ£tapi dari satu keluarga ini Cuma tuh… mantan jomblo yang ndak bisaÔÇØ ucap bu dhe ika, jujur saja di keluargaku hanya aku yang tidak bisa bahasa jepang

ÔÇ£kakak ternyata ndak bisa snediri… hiiii…ÔÇØ ucap eri, jelaslah dia tahu bukan anak sains dia

ÔÇ£malu-maluin..ÔÇØ ucap rani

Om dan tanteku tampak bahagia dengan kehadiran dian didalam keluarga ini. dian masih saja memeluk nenek dengan erat. aku masih berdiri di sini memandang keluargaku kembali berkumpul. adik-adikku juga tampak bahagia disni. Tak akan ada lagi cerita seram dikeluarga ini.

ÔÇ£bau ini, aku pernah menciumnyaÔÇØ bathinku, kulihat semua orang memandangku dengan tatapan terkejut

ÔÇ£ada apa sih? Kok lihat aku seperti lihat hantu saja?ÔÇØ ucapku, tapi semua terdiam

Aku melihat kakekku mengacungkan jempol ke arahku. Aku jadi bingung sendiri, tiba-tiba saja kulihat nenek ifah dan nenek laila meneteskan air matanya.

ÔÇ£ada apa sih?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£arya…ÔÇØ kudengar suara dibelakangku

Aku membalikan badanku dan melihat kakek wicak dan juga nenek mahesawati berdiri disana. Melambaikan tangannya ke arahku, aku tahan tangisku dan kulambaikan tanganku kepada mereka. ditengah-tengah mereka muncul seorang yang sudah tidak asing lagi, kakek tian memberi salam hormat kepadaku. Sekelebat bayangan mereka datang lalu menghilang. Tiba-tiba tubuhku lemas, dan tak bisa aku gerakan hanya teriakan-teriakan memanggil namaku setelah itu aku tidak mendengarnya lagi.

Didalam kamar setelah tubuh anakku dibopong oleh mas andi dan juga heri. Aku dan dian kini berada didalam kamar menemani anakku yang tiba-tiba saja hilang kesadaran. Kami sekeluarga baru saja melihat bayangan orang yang telah pergi jauh dari kami, mertuaku dan juga om tian. Kulihat wajah dian tampak sedih ketika melihat arya terbaring lemas diatas kasur. Kata heri dan asih, tidak apa tinggal menunggu sadar saja.

ÔÇ£sudah kamu jangan sedih yaÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya ma, Cuma khawatir sajaÔÇØ ucap dian yang tersenyum kearahku

ÔÇ£sayang, kemarilah…ÔÇØ ucapku membuka kedua tanganku

ÔÇ£iya ma…ÔÇØ ucap dian yang kemudian berada dalam pelukanku

ÔÇ£mama… minta maaf sekali lagi ya, mama mohon jangan sampai ketika kalian ada masalah jangan mengungkit masa lalu arya lagi, hiks… mama yang bersalah jadi jangan salahkan masmu itu yaÔÇØ ucapku yang menangis. Dian bangkit dari pelukanku

ÔÇ£ma… sudah… semua sudah selesai… sekarang mama adalah mama dian begitu pula untuk mas arya, ya… pokoknya ndak usah di ungkit-ungkit lagiÔÇØ ucapnya yang langsung memelukku

Aku memelukknya dengan tetesan air mata dipipiku. Kuangkat wajahnya dan kuusap air matanya. Ah, betapa bahagianya aku memiliki seorang menantu yang cantik seperti dian.

ÔÇ£mah…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ya….ÔÇØ jawabku

ÔÇ£mmm… ajari dian maÔÇØ ucapnya tampak sedikit malu

ÔÇ£ajari apa sayang?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£buat jaga tubu biar ndak melar kaya mama iniÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hi hi hi kamu itu ada-ada saja, tubuh mama bakal melar ditambah lagi mama kan lagi hamilÔÇØ ucapku

ÔÇ£lho mama hamil?ÔÇØ ucap dian heran

ÔÇ£hamil sama ayahnya arya, kemarin setelah berangkat mama ketemu sama ayahnya. minta oleh-oleh sebelum pisah sayang. Percaya sama mama… ÔÇØ ucap

ÔÇ£dian percaya, mas sudah pernah cerita kalau mama didalam mobil bareng sama itu, tapi dian diajari ya maÔÇØ ucapnya kembali

Aku kemudian bercerita bagaimana menjaga tubuhku, menjaga kecantikan bagi seorang wanita kepadanya. Panjang lebar dian dengan antusias, mungkin karena dia ingin mengikat anakku dirumah terus hi hi hi

ÔÇ£dimana ini? lho ini kan kamar ibu? tapi kenapa berbeda?ÔÇØ bathinku melihat kamar ibu dengan tatanan yang pernah aku lihat tapi itu sudah sangat lama

ÔÇ£bayi?ÔÇØ bathinku, tiba-tiba ada dua orang masuk ke dalam kamar

ÔÇ£ah.. nenek mahesawati dan kakek wicakÔÇØ bathinku, aku melihat mereka mendekati bayi itu

ÔÇ£cucuku… kamu hadir didunia ini karena anakku. Nenek dan kakek mohon maaf jika kamu hadir dengan cara yang salah, tapi nenek yakin kamu akan tumbuuh tidak seperti ayahmu. Dengarkan nenek ya cucuku, tumbuhlah menjadi seorang ksatria, hentikan semua yang harus dihentikan terutama ayahmu. Kamu adalah ksatria penolong bagi keluarga ini, hentikan dia karena nenek dan kakek sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi… cup…ÔÇØ ucap nenek yang disusul kecupan kakek di dahi bayi itu

ÔÇ£itu aku…ÔÇØ bathinku, kemudian bayangan itu menghilang menjadi gelap dan aku merasakan pelukan tiba-tiba

ÔÇ£kakek nenek hiks hiks hiksÔÇØ ucapku, memeluk mereka berdua yang tiba-tiba muncul dan memelukku

ÔÇ£terima kasih arya, cucuku…ÔÇØ ucap nenek

ÔÇ£kamu benar-benar hebat…ÔÇØ ucap kakek

ÔÇ£kakeeeek neneeeeek…ÔÇØ aku memeluk dan menangis

ÔÇ£jaga keluarga ini, jaga agar tetap utuh selama-lamanyaÔÇØ ucap mereka dan kemudian mereka menghilang

Aku terjatuh dan terduduk, menangis sejadi-jadinya. Bayangan gelap berubah menjadi suasan di taman. Kulihat seorang anak lelaki yang menangis, dan itu adalah aku…

ÔÇ£nenek laila hiks mbak alsa jahat, es krimku di makan mbak alsa huuuu huuuu huuu…ÔÇØ rengekku ketika aku masih kecil

ÔÇ£iiih…. kamu cowok kok cengeng banget!ÔÇØ ucap mbak alsa

ÔÇ£sudah, alya kamu ndak boleh begitu dongÔÇØ ucap nenek laila

ÔÇ£alsa, jangan dimarahin dong adik kamu itu. sudah jangan nangis nanti nenek belikan es krim lagiÔÇØ ucap nenek ifah

ÔÇ£terima kasih ar… telah menyatukan mereka kembaliÔÇØ ucap seorang lelaki di sampingku, aku menengok ke sampingku

ÔÇ£kakek… hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah jangan menangis, kamu itu sudah besar kok ya tambah cengengÔÇØ ucap kakek tian

ÔÇ£kakeeeeek…. hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapku kembali terisak dan memeluknya

ÔÇ£jaga mereka semua ya, jaga tante-tantemu yang suka nakal sama kamuÔÇØ ucap kakek tian, ak mengangguk dalam pelukan kakek tian

Semua gelap…. gelap dan…

ÔÇ£hah… hah hah hah…ÔÇØ

Aku terbangun dan kudapati kamar tempatku berada dalam keadaan kosong. Kulihat sekitar ruangan ini, ya ini kamar ibuku. Aku hanya diam dan tersenyum walau tangis ingin keluar dari diriku. Aku bangkit dan melangkah keluar kamar.

Kleeek….

Semua orang melihatku, dian langsung beranjak dan mendekatiku. Ingin memeluk namun malu karena ada keluargaku disana. Aku mengucek-ngucek rambutnya dan berjalan ke arah kakek. Aku berlutut di depan kakek dan meraih tangan kanannya. Semua melihatku dan masih diam saja, Kubuka telapak tangannya dan ku tampar dengan dengan telapak tanganku. Kemudian punggung tangannya aku tampar dengan punggung tanganku, ku kepalkan tangan kakek. Kupukul naik turun dengan kepalan tanganku. Dan kupulkan kepalan tanganku ke depan tepat di kepalan tangan kakek.

ÔÇ£dari kakek wicak…ÔÇØ ucapku, kakek langsung menangis dan memelukku

ÔÇ£dasar, masih saja dia ingat..ÔÇØ ucap kakek, sembari melepas pelukannya

ÔÇ£nek…ÔÇØ ucapku berpindah kedepan nenekku,

Kupeluk tubuh neneku dan ku tempelkan pipi kiriku dan kugerak-gerakan memur, begitu sama halnya ketika pipi kananku menempel di pipi kanan nenek. Nenek langsung memelukku dengan erat. dipandanginya wajahku dan aku tersenyum kepada nenek. Kulihat nenek ifah dan nenek laila.

ÔÇ£oh iya, nenek ikut arya…ÔÇØ ucapku kepada nenek ayu

Ku dudukan nenek ayu dtengah-tengah nenek ifah dan nenek laila. Kurangkulkan tangan nenek ayu dan tangan nenek ayu aku letakan di telinga nenek ifah dan nenek laila satu-satu. Ku genggamkan tangan nenek ayu ke telinga nenek ifah dan nenek laila, sedikit kutarik seperti menjewer. Nenek ifah dan nenek laila seakan teringat sesuatu dan langsung memelukku. ya itu semua salam perpisahan dari mereka, aku dekati dian dan ku duduk disampingnya. Selepasnya kami memulai acara yang tertunda. Berpesta seperti halnya kita tidak pernah berpesta sebelumnya. Senyum ibu,adalah senyum yang sangat lepas sekali begitu pula senyum mereka.

ÔÇ£sini sayang jangan sama arya terus nanti ketularan jeleknya lhoÔÇØ ucap ibu, membuatku terheran-heran

ÔÇ£jangan yan, sini sama budhe ika yang cantik ini saja… biar ketularan cantiknya bu dhe ikaÔÇØ ucap bu dhe

ÔÇ£yeee… cantikan aku kali mbakÔÇØ jawab ibu, aneh juga melihat ibu lebay seperti ini

ÔÇ£kenapa ar, bingung lihat ibu kamu?ÔÇØ ucap tante ratna, aku mengangguk

ÔÇ£ibu kamu itu dari SMP juga kaya gitu itu… sok cantik, didepan kamu saja sok alimÔÇØ ucap tante ratna

Aku dan dian berpandangan, lalu melihat ibu…

ÔÇ£apa? Kaget ya?ÔÇØ ucap ibu, kami berdua mengangguk

ÔÇ£anehÔÇØ ucap kami berdua

ÔÇ£kalian yang aneh, lagi seneng-seneng kok mala pacaran… kayak ndak pernah pacaran saja hi hi hi… makanya jomblo itu jangan kelamaan sayangÔÇØ ucap ibu, membuatku serasa tertimpa beba 100 Kg

ÔÇ£Ibuuuu… kenapa jadi… ibu aneh ah!ÔÇØ teriakku

Semua orang yang melihat tertawa terbahak-bahak. Jelas saja, cara bicara ibu sangat berbeda dan malah sekarang mengejek kejombloanku dulu. Ugh… dian tampak tertawa, dan ikut masuk dalam gerombolan para wanita yang menyudutkan aku. Belum lagi ada rani dan eri, hadeeeeh… pesta kehancuranku….

ÔÇ£ssst…ÔÇØ ucap mama diah membangunkan aku yang mencoba tidur sedari tadi tapi tetap saja tak bisa tidur

ÔÇ£mama… kok belum tidurÔÇØ ucapku

ÔÇ£mama sudah tidur, Cuma terjaga saja dan lihat kamu belum tidur…. sanaÔÇØ ucap mama diah menyuruhku keluar

ÔÇ£eh, maksudnya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£masmu tidur di ruang tamu, tapi jangan keras-keras ya, ntar pada bangunÔÇØ ucap mama diah

ÔÇ£tapi ma…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah sana cepetan… mama tidur sendiri saja ndak papa. Yang lain paling tidur dilantai atas, yang cewek dikamar tante ratna dan yang cowok di kamar pak dhe andi, tapi masmu tadi tidur di ruang tamu… sudah sana cepetanÔÇØ ucap mama diah

ÔÇ£eh, anu itu…ÔÇØ ucapku yang langsung didorong mama diah

Mau tidak mau aku keluar dari kamar, ruang keluarga tampak sepi. Klek, pintu kamar tertutup dan kunci menggantung, segera aku kunci sesuai perintah mama. Aku melangkah menuju ruang tamu, kulihat mas-ku tertidur dengan pulasnya. Aku dekati dan kubangunkan…

ÔÇ£ugh… ad.. mmmppph…ÔÇØ ucap mas arya yang kututup mulutnya

ÔÇ£ssst… diam…ÔÇØ ucapku dan langsung aku buka mulutnya dan kucium

ÔÇ£ade kok ada disini?ÔÇØ ucapnya berbisik

ÔÇ£kangen… pengen mainan mmmpphhÔÇØ ucapku langsung mencium bibirnya, kekasihku mencoba untuk berontak tapi aku menahannya untuk mengikuti permainanku

Ciumanku kemudian turun ke leher kekasihku, turun semakin turun. Setiap kali mas mencoba untuk mencegahku aku selalu menapiknya dengan tangaku. Celananya aku lorotkan dan aku kini bersimpuh dibawahnya, kulihat ÔÇ£ituÔÇØ yang menakutkanku tapi kangen.

ÔÇ£ade… ugh… mmmhhh… pelan… mmmhhÔÇØ kulihat mas menikmati tetapi kepalanya selalu menoleh ke arah ruang keluarga takut ada orang

Kepalaku maju mundur, entah kenapa aku menyukai memainkan penis kekasihku ini. kujilati setiap sentimeter batangnya, kumainkan lidah dikepala penis mas. Dia mencoba melenguh tapi tetap ditahan, aku terus melakukan aktifitkasku. Aku tidak bisa tidur, entah kenapa setelah bertemu dengannya aku tidak bisa tidur sendiri. bibirku melahap kembali batang penisnya dan langsung menyedot dengan kuat penis itu.

ÔÇ£mas mau… erghhh keluar…ÔÇØ racaunya

Dan kepalaku ditahan mas, aku terdiam ku tahan nafasku. Kurasakan semburan cairan panas muncrat didalam mulutku. Kulepas penis mas arya secara perlahan-lahan dan langsung aku menelan spermanya.

ÔÇ£ade… nekat banget…ÔÇØ bisiknya

ÔÇ£habis kangen banget sama mas…ÔÇØ ucapku. Kuusap mulutku dengan menggunakan kaosnya, aku berdiri dan mengecup keningnya.

ÔÇ£ade bobo dulu ya masku sayangÔÇØ ucapku, mas hanya melihatku sesaat

Aku kemudian melangkah menuju kamar kembali, tiba-tiba kurasakan pelukan kerasa diperutku. Aku dipeluk dan kemudian ditarik kebelakang. Aku dipeluk dari belakang.

ÔÇ£mas pengen banget de…ÔÇØ bisiknya membuatku terkejut

ÔÇ£eh… tapi mas, nanti kedengeran dari…ÔÇØ ucapku terhenti, terkejut karena mas sudah menurunkan celana pendekku sekaligus celana dalamku, membuatku membungkuk dan kedua tanganku bertumpu pada sofa

ÔÇ£ade sudah basah…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eghh… mas besok saj… erghhh… jelas basah tadi kan ade mainin punya masÔÇØ ucapku

ÔÇ£Awmmmmmmmpphhh….ÔÇØ aku terkejut ketika batang mas arya masuk secara tiba-tiba

ÔÇ£pelannh mas sakithhh… ughhh….ÔÇØ bisikku

Pelan, aku rasakan batang besar yang baru saja aku mainkan masuk ke dalam liang vaginaku. Walau sudah basah oleh cairan tetap terasa sedikit sesak pada vaginaku, aku memejamkan mata dan menutup mulutku dengan tanganku. Kedua tangnya meremas payudaraku yang masih terbungkus tangtop. Penisnya kurasakan mulai keluar masuk di vaginaku, aku merintih tertahan suaraku tak berani aku lepaskan. Semakin lama semakin cepat goyangan pinggul mas arya, remasannya pada payudarak semakin keras. Aku sendiri hanya bisa berdiri dan merasakan perih kenikmatan di vaginaku.

ÔÇ£mas mau keluar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£adeh jugah…ÔÇØ ucapku

Croot crooot crooot crooot crooot crooot

Tubuhnya memeluku, kedua lututku lemas sudah tidak bisa lagi menahan tubuhku dan ambruk ke sofa. Tubuhku mengejang beberapa kali, kami beristirahat dan mengatur nafas kami berdua. Setelah beberapa saat, tubuhku ditarik hingga aku terduduk miring dan mas arya ada dibelakangku. Aku rasakan elusan-elusan lembut di payudaraku, naik keleher dan ciuman-ciuman pada tengkuk leherku. Aku merasa nyaman ketika tangan kanannya memeluk lembut perutku dan tangan kirinya mengelus-elus rambutku. Dibalikannya tubuhku dan bibirku diciumnya dengan lembut. Wajahku dielus dengan ujung-ujung jarinya.

ÔÇ£terima kasih ya sayangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£dasar ndak bisa tahan..ÔÇØ ucapku berbisik

Setelah kemesraan itu aku pakai kembali celana dalamku dan pastinya ada sisa sperma yang menetes. Aku kecup keningnya sebelum aku tinggalkan sendiri diruang tamu. Terasa sakit bagian bahu kananku ketika melakukan gaya anjing tadi. Aku kemudian kembali ke kamar mama diah dan langsung menuju ke kamar mandi. Setelah nya aku tertidur lagi…

ÔÇ£sudah?ÔÇØ ucap mama diah tiba-tiba

ÔÇ£eh…ÔÇØ aku malu

ÔÇ£sini mama pelukÔÇØ ucapnya, aku tertidur dalam pelukan mama baruku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*