Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 20

Ibuku Cintaku dan Dukaku 20

Sepanjang perjalanan pulang, aku merenung. Entah kenapa sesak di dadaku tetap tidak hilang walaupun aku sudah menemukan harapan menuju jalan keluar. Ucapan-ucapan Kak Dina kini menggiringku ke arah yang lain. Apakah memang benar Ibu tidak mencintai Rama sama sekali? Jika keadaannya memang demikian, bukankah itu artinya Ibu menyerahkan tubuhnya begitu saja pada Rama? Kalau begitu sama saja Ibu sudah melacurkan dirinya sendiri. Sungguh keterlaluan jika Ibu memang seperti itu.

Otakku yang terasa penuh ini terus berpikir, mengartikan semua kemungkinan. Masalah ini memang harus secepatnya diselesaikan. Salah besar jika aku hanya pasrah seiring waktu yang berjalan. Aku takut Ibu akan menjadi lebih parah nantinya. Aku juga tak ingin merasakan sakit hati lagi. Sudah cukup apa yang mereka lakukan padaku.

Kini jarak antara diriku dan rumah sudah semakin dekat. Aku sudah melewati jalan rumah Rama. Tak butuh waktu lama lagi aku akan segera tiba di rumah. Jantungku terus berdebar seiring langkahku. Kucoba memilah-milah rangkaian kata yang akan kugunakan agar tidak menimbulkan masalah nantinya. Aku bingung harus bersikap seperti apa ketika menghadapi Ibu di rumah. Apakah aku harus pura-pura marah? Atau ramah? Atau malah harus mengeluarkan air mata layaknya sinetron di TV? Sulit sekali harus menentukan yang mana. Tapi terlepas dari itu semua, aku sendiri juga harus mengumpulkan keberanian dalam diriku dan menentukan waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan. Aku ingin masalah ini segera tuntas sebaik-baiknya.

Ketika benakku masih mengawang-awang, sebuah mobil menghampiriku. Aku memang sudah melihat kendaraan ini sejak tadi dari kejauhan. Mobil berwarna hitam jenis Pick Up yang di bak belakangnya menampung keranjang-keranjang penuh dengan buah-buahan. Aku kenal siapa pemiliknya.

ÔÇ£Eh, Tito! Baru pulang?!ÔÇØ sapa Bang Baim yang duduk di belakang kemudi mobilnya. Dia menghentikan kendaraannya sejenak tepat di dekatku.

Tumben sekali dia melakukan itu. Biasanya kalaupun kami berpapasan dia pasti hanya lewat begitu saja sambil menegurku ramah.

ÔÇ£Oh, iya nih, Bang!ÔÇØ balasku ramah. Aku tersenyum lebar.

ÔÇ£Ibunya Tito beli perabotan baru, ya?ÔÇØ tanya Bang Baim.

Senyumku hilang seketika. ÔÇ£Hah?! Ibu beli perabotan baru, Bang?ÔÇØ ucapku dengan kening mengernyit. Aku benar-benar terkejut dengan pertanyaan ngawurnya itu.

Iya Tadi ada Bapak-bapak yang nanya sama Abang di mana rumah Bu Yati. Katanya sih mau ngantar barang. Abang liat di mobilnya ada kardus kulkas gitu Emang baru beli ya, To?

Aku semakin bingung. Apa sebenarnya yang sedang dibicarakan pria berambut acak-acakan ini? Untuk apa Ibu membeli kulkas baru? Bukankah kulkas pemberian Bu Aini di rumah masih baik-baik saja? Lagi pula dapat uang dari mana dia membeli barang elektronik mahal seperti itu? Ini ganjil sekali. Aku bahkan tak tahu secuil pun kalau Ibu punya rencana membeli kulkas.

Ngg Tito nggak tau tuh, Bang. Iya kali, jawabku sekenanya sambil nyengir.

Bang Baim terkekeh. Kali ini giliran dia yang bingung. Hehe Gimana sih kamu, To. Masa nggak tau Ibunya beli barang segede itu?

Hehe Iya nih, Bang. Tito beneran nggak tau Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.

Bang Baim tersenyum lucu melihat keluguanku. ÔÇ£Ya udah deh, Abang jalan dulu, ya.ÔÇØ

Oh, iya, Bang Hati-hati ya, Bang

Bang Baim mengangguk dan memberikan senyuman hangatnya untuk yang terakhir kali. Kendaraannya pun melaju meninggalkanku.

Selepas kepergiannya, aku melanjutkan perjalananku. Namun kali ini dibarengi dengan sedikit berlari. Aku penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika aku sudah hampir sampai di rumah, aku melihat sebuah mobil Pick Up berwarna biru sedang terparkir 20 meter tepat di depan tempat tinggalku itu. Kendaraan besar memang tidak bisa mendekati rumahku karena jalan ke dalam lumayan sempit. Ciri-ciri mobilnya sesuai dengan apa yang dijabarkan Bang Baim tadi, ada kardus kulkas yang diikat di bak belakangnya.

Demi menuntaskan rasa penasaranku, aku pun semakin mempercepat langkah. Tetapi sesaat kemudian, ketika aku sedikit lagi hampir mencapai rumah, langkahku langsung terhenti. Pandanganku fokus ke depan sana. Kedua kakiku terkunci di tanah saat rasa penasaranku tiba-tiba menjadi sebuah tanda tanya besar. Sungguh aneh melihat fakta bahwa sebuah mobil sedang teronggok bisu di sini, sementara rumahku yang merupakan tempat tujuannya kini dalam keadaan pintu depan yang tertutup rapat.

Aku refleks melihat ke sekeliling. Tidak ada satu orang pun di sekitarku. Kulihat juga ke bagian depan mobil. Tak kutemukan siapa pun yang sedang duduk di jok supir. Jadi ke manakah pemilik mobil ini? Apakah Bapak-bapak pengantar barang yang diceritakan Bang Baim tadi sedang berada di rumahku? Tapi mengapa pintunya tertutup? Bukankah apabila ada tamu berkunjung pintu depan itu selalu terbuka?

Kakiku yang terkunci di tanah tiba-tiba seperti kehilangan kekuatannya. Mereka gemetar seperti sedang diterpa arus sungai yang kencang. Aku menelan ludah berkali-kali sambil mencoba menenangkan pikiranku. Entah kenapa keadaan ini seperti mengingatkanku kembali akan kejadian di rumah Rama kemarin. Aku benar-benar trauma melihat pintu rumah yang sedang tertutup. Seolah ada misteri besar yang sedang bersembunyi di baliknya. Tapi aku tetap mencoba berpikir positif. Mungkin aku hanya sedang dilanda paranoid. Dengan menarik nafas panjang, aku pun meneruskan langkahku.

Ketika aku sudah dekat dengan teras rumah, aku tak mendengar suara apapun. Yang kutahu setiap pengantar barang seperti ini akan sibuk menjelaskan tentang prosedur penggunaan produk yang dibawanya. Tapi kali ini aku tidak mendengarkan hal itu. Ke mana mereka? Apakah mereka sedang berada di ruang belakang?

Namun akhirnya semua pertanyaan yang muncul di dalam pikiranku mendadak lenyap ketika sepatuku menginjak teras rumah. Di tengah ketenangan lingkungan tempat tinggalku ini, telingaku diperdengarkan sesuatu. Sesuatu yang sangat mengerikan ternyata sedang berlangsung di dalam rumah.

Uukkhhh Mantep banget sepongan nih cewek! Ahh, seorang pria dewasa terdengar merintih nikmat di dalam sana.

Aahh Nggak cuma mulut Tangannya juga halus bener nih, kata seorang pria yang suaranya terdengar berbeda dari sebelumnya.

Saya bilang juga apa, Mas Nggak nyesel deh kalo dengerin omongan saya, ujar seorang pria dengan suara yang berbeda lagi. Dia menanggapi komentar kedua suara pria sebelumnya.

Aku melotot ke arah ventilasi di atas pintu depan yang merupakan celah di mana suara itu keluar dengan jelas. Mulutku menganga dan tubuhku berdiri mematung. Menggelegar rasanya kepalaku mendengar suara-suara itu. Aku tersentak karena ternyata ada lebih dari satu pria sedang berada di dalam sana. Aku juga sangat yakin kalau wanita yang sedang mereka bicarakan adalah Ibu. Tidak perlu berpikir lagi apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Desisan dan keluhan nikmat di samping omongan mesum mereka sudah menjelaskan segalanya.

Jantungku berdegup kian kencang. Dadaku sesak sekali dan kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Aku benar-benar bingung dan panik. Ada apa ini? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini? Siapa mereka? Kenapa mereka datang ke sini? Apakah mereka memang sengaja datang untuk mengincar Ibu? Tidak mungkin mereka berniat mengantarkan kulkas. Karena yang kutahu Ibu tidak pernah punya rencana membeli barang itu. Namun jika dugaan itu memang benar, lantas apa yang sedang Ibu lakukan di dalam bersama mereka sekarang?

Ini tidak mungkin. Kegilaan apa ini? Ibu sendirian di dalam bersama beberapa orang pria dewasa? Apa yang ingin Ibu lakukan bersama mereka? Memuaskan nafsu mereka semua? Yang benar saja. Itu tidak akan pernah terjadi.

Di tengah kekalutanku, aku berusaha memikirkan tindakan selanjutnya. Didengar dari suara mereka, sepertinya mereka tidak berada di ruang tamu. Karena suara itu terdengar agak jauh di dalam. Lagi pula apabila mereka di ruang tamu, pastilah mereka bisa dengan jelas melihat kedatanganku. Tapi kemunculanku di depan pintu sekarang tidak mendapatkan reaksi apa-apa dari mereka. Itu artinya aku bisa mengambil inisiatif untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam.

Aku mengendap-endap ke dekat pintu depan, lalu berdiri tepat di samping jendela nako rumahku yang terbuka. Keadaan tubuhku sudah gemetar menanggung aliran darah yang sangat kencang karena tindakanku ini. Namun dengan keyakinan mantap, aku tetap melakukannya. Kulongokkan wajahku perlahan-lahan hingga mataku benar-benar bisa melirik ke dalam. Ternyata dugaanku memang benar. Tidak ada seorang pun di ruang tamu. Tapi pintu kamar Ibu tampak terbuka, dan ada sedikit bayangan dari dalam sana. Suara-suara pun kedengarannya berasal dari ruangan itu. Aku langsung bisa menyimpulkan kalau mereka sekarang sedang berada di kamar Ibu.

Kutarik segera wajahku dari jendela dan berdiri bersandar di dinding. Aku semakin panik, mencoba menghela nafas yang terasa sesak. Tubuhku tiba-tiba merasa kedinginan, padahal tidak ada angin yang bertiup ke arahku. Apa yang kurasakan saat mengintai rumah Rama kemarin kembali kurasakan lagi sekarang. Tubuhku seperti kehilangan seluruh tenaganya. Kali ini rasanya bahkan berkali-kali lipat lebih parah. Ibu berada di dalam kamarnya bersama beberapa pria sedang menikmati perbuatan gila itu? Aku tak mampu membayangkannya. Ini bencana besar.

Sekarang apa yang harus kulakukan? Apa aku berdiri saja di sini? Tidak mungkin. Aku tidak akan membiarkan mereka semakin larut dalam nafsunya. Tidak akan lagi. Tapi bagaimana dengan pria-pria itu? Mereka pria dewasa dengan jumlah yang aku tak tahu ada berapa. Bunuh diri jika aku menyerang mereka sendirian seperti ini. Lalu bagaimana? Aku tak tahu caranya. Suara para pria itu kini terdengar semakin menikmati. Entah apa yang sedang mereka lakukan sekarang.

Tiba-tiba aku teringat jendela di bagian samping kiri rumah. Saking paniknya, aku baru menyadari kalau dari situ aku akan bisa melihat ke dalam kamar Ibu lebih leluasa. Apalagi kamar Ibu sedang dalam kondisi terbuka seperti ini. Itu akan semakin mudah.

Aku pun mengendap cepat ke samping rumah dan menyembunyikan diri dengan berdiri di sebelah kusen jendela. Tingkahku sekarang seperti sedang mengulang apa yang kulakukan di rumah Rama. Namun ini jauh lebih berat. Nafasku bahkan terdengar agak tersengal karena begitu gugup dan takut. Keringat dingin menghiasi dahiku. Tenggorokanku terus-terusan kering meskipun aku menelan ludah berkali-kali. Aku sangat cemas dengan apa yang akan kuhadapi. Tapi setidaknya aku akan bisa mengetahui ada berapa dan seperti apa pria-pria di dalam sana.

Aku pun mulai melongokkan wajah ke jendela perlahan-lahan. Jantungku berdebar-debar menanggung segala ketegangan. Dengan rintihan kenikmatan mereka yang semakin santer terdengar, akhirnya aku bisa melihat kejadian yang sebenarnya.

Astaga! Ibu! seruku dalam hati.

Betapa terkejutnya aku dengan apa yang sedang berlangsung di kamar Ibu. Mataku terbelalak dan nafasku terhenti seketika demi menyaksikan Ibu yang sedang berjongkok mengulum batang penis seorang pria yang sudah membuka celananya. Batang kemaluan pria itu bergerak keluar masuk di mulut Ibu. Ibu ternyata sedang meladeni tiga orang lelaki di dalam sana. Sungguh mustahil. Apa yang terjadi di sini sudah lebih dari gila!

Ahh Enak banget isapanmu, Neng, ucap pria yang kemaluannya sedang dihisap oleh Ibu. Dari fisiknya sepertinya dia beberapa tahun lebih tua dari Ibu. Perutnya buncit dan kulitnya agak gelap seperti Rama. Kepalanya menengadah dan matanya terpejam menikmati pelayanan yang disuguhkan Ibu.

Ehmm Uhh kocok terus, Mbak, ujar seorang pria yang sedang berdiri di samping pria berkulit terbakar matahari itu. Celananya juga sudah melorot, sama seperti pria di sebelahnya. Kemaluannya sedang diurut maju mundur oleh tangan mulus Ibu, seperti yang pernah dilakukannya padaku di kamar mandi tempo hari. Usianya terlihat lebih muda. Mungkin dia seumuran dengan Bang Baim. Kulitnya sedikit lebih cerah dari pria yang ada di sebelahnya. Matanya terlihat sayu menatap Ibu yang sedang mengulum batang penis rekannya itu.

Penampilan kedua pria yang sedang berdiri dengan kemaluan mengacung itu sangat mirip. Memakai kaos oblong dan celana jeans panjang. Berbeda dengan pria yang satunya lagi. Pria yang ketiga itu punya penampilan lebih segar dan lebih rapi dari mereka berdua. Dia memakai kemeja lengan panjang dan celana panjang bahan silk yang rapi. Wajahnya juga lebih terawat dan rambutnya disisir teratur. Namun apa yang dia lakukan sekarang malah membuatku sakit kepala dan gemetar tak karuan. Dia berlutut di belakang Ibu yang masih sibuk melayani dua orang yang sedang berdiri itu. Kedua tangannya sedang meremas-remas lembut kedua buah dada Ibu dari luar daster yang masih dipakainya.

Dadaku bagai ditusuk sebilah pedang. Nyeri dan rasa sakitnya tak terhingga. Bukan hanya kepalaku, jantungku pun serasa ingin pecah karena adegan terkutuk ini. Betapa perihnya perasaanku melihat Ibu yang melayani mereka tanpa ada penolakan sedikit pun. Dia begitu merelakan tubuhnya dan menerima alat kelamin laki-laki yang tak kukenal itu menerobos bibir indahnya berulang-ulang. Aku memang sangat terangsang ketika mendengar cerita Kak Dina yang menghisap kemaluan anak tetangganya dengan mulutnya. Tapi aku tak pernah membayangkan adegan itu akan sevulgar ini. Apalagi pelakunya adalah Ibuku sendiri yang saat ini sedang melakukannya untuk orang lain. Perasaanku malah berkata sebaliknya. Hatiku sangat terpukul. Ini laksana kutukan bagiku.

Belum lagi aku sempat menurunkan tekanan darahku, pria berpakaian rapi yang berlutut di belakang Ibu itu meraih rok daster Ibu dan memerintahkannya untuk berlutut. Ibu pun menurutinya. Sekejap kemudian pria itu menyuruh Ibu berhenti sebentar meladeni kedua pria yang sedang berdiri itu dan mengangkat daster Ibu hingga terlepas dari tubuhnya. Dilemparkannya daster Ibu itu ke atas ranjang. Kini terpampanglah tubuh mulus Ibu yang masih berbalut BH dan celana dalam warna hitam di depan mata mereka bertiga. Mereka langsung berkomentar akan lekuk tubuh Ibu yang menggiurkan itu.

Wuihh Body-nya bagus banget, Mbak? ujar pria yang penisnya dikocok oleh Ibu. Teteknya bukan cuma gede, tapi bulat banget Jadi gemes saya, Mbak.

Padahal udah punya anak, tapi badannya kok kayak bintang bokep, ya? Hehe, kata pria berkulit legam.

Hehe Kalian tenang aja, ucap pria berpakaian rapi itu. Tangannya kembali meremas payudara Ibu yang kini hanya dilapisi BH. Hari ini kita bisa nikmatin nih cewek sepuasnya

Mereka bertiga tertawa senang sementara Ibu terlihat diam saja menerima dirinya sedang dilecehkan seperti itu. Mereka kembali meneruskan aksinya yang tertunda. Pria berpakaian rapi di belakang Ibu semakin bersemangat meremas-remas buah dada Ibu. Bahkan kemudian tangannya menuju ke bawah dan meraba-raba vagina Ibu dari luar celana dalamnya. Ibu terlihat menikmati segala perlakuan mereka maupun kelakuannya sendiri. Mulutnya pun sudah kembali dijejali penis pria berkulit legam itu. Pria seumuran Bang Baim yang kemaluannya dikocok oleh Ibu tadi kini malah jongkok di dekat pria berpakaian rapi itu dan ikut-ikutan meraba sekujur tubuh Ibu sambil mengocok kemaluannya sendiri.

Aku tak bisa memungkiri kalau aku juga terangsang dari sini melihat Ibu yang setengah telanjang sedang menikmati seks. Penisku sempat bereaksi di balik celanaku. Tapi itu tak berlangsung lama. Rasa sakit hati dan kemarahanku jauh lebih besar hingga mampu menghapus semua perasaan ÔÇÿtertarikÔÇÖ itu. Aku tidak rela Ibuku diperlakukan serendah itu. Aku tidak terima!

Aduh, Neng! Isap terus, Neng! Ahh Mau keluar nih! Pria berkulit legam itu tampak sudah tak tahan lagi.

Keluarin aja, Mas Haha Jangan ditahan-tahan, ujar pria yang berpakaian rapi yang berada di belakang Ibu. Dia tampak riang dengan keadaan ini.

Ahh! Neng! Ahhh! Pria berkulit gelap itu mengerang hebat. Dikeluarkannya penisnya dari mulut Ibu dan disemprotkannya seluruh air maninya di wajah Ibu. Dengan mata dan mulut yang tertutup, Ibu tampak kewalahan menerima setiap ceceran cairan ejakulasi pria itu.

Hampir saja aku berteriak karena keterkejutanku menyaksikan adegan itu. Sungguh tak kusangka, Ibu dengan senang hati melakukan hal hina itu untuk menyenangkan mereka. Air mani pria itu dibiarkannya tertumpah di atas wajah cantiknya. Wajahnya yang menengadah itu sudah penuh dengan cairan kental berwarna putih.

ÔÇ£Wah, puas banget ya, Mas,ÔÇØ sambut pria berpakaian rapi di belakang Ibu. ÔÇ£Udah nggak keluar berapa minggu, Mas? HahaÔǪ Banyak banget nihÔǪ Sampe belepotan muka nih cewek.ÔÇØ Pria itu langsung berinisiatif menyeka wajah Ibu dengan dasternya yang tergeletak di atas tempat tidur. Bagai anak yang penurut, Ibu pun pasrah wajahnya dibersihkan dari genangan cairan pekat itu. Sementara pria berkulit legam yang baru saja mengeluarkan ÔÇÿamunisiÔÇÖ-nya masih berdiri di hadapan Ibu dengan nafas yang agak terengah-engah.

Kok dibersihin, Mas? tanya pria muda yang sedari tadi asyik mengeksplorasi tubuh Ibu dari atas ke bawah. Kan cakep tuh mukanya belepotan pejuh gitu. Hehe

Ntar saya mau ciumin sepuasnya muka nih cewek, balas pria berpakaian rapi yang sedang menyeka wajah Ibu. Jangan sampe gara-gara itu bibir saya jadi belepotan pejuhnya Mas Darma, bisa tetanus ntar

Hahaha Ada-ada aja kamu, Fan. Sahut pria buncit berkulit gelap itu. Mungkin si Ari suka tuh muka cewek yang kena semprot begitu. Biasalah, kebanyakan nonton bokep dia tuh

Hehe Kan dapet videonya dari Mas Taufan juga, ucap pria muda itu sambil nyengir ke arah pria yang sedang menyeka wajah Ibu.

Pria berpakaian rapi itu menyeringai, seolah memaklumi kata-kata pria muda yang bernama Ari itu. Setelah wajah Ibu bersih dari lelehan cairan tadi, pria itu kemudian mengajak Ibu untuk berdiri dari jongkoknya. Direngkuhnya tubuh Ibu merapat ke tubuhnya dan langsung menciumi bibir Ibu dengan buasnya. Kedua rekannya itu pun hanya bisa menonton takjub adegan ciuman panas itu sambil melepaskan celana dan celana dalam yang masih tersangkut di kaki mereka.

Aku terdiam di tempat persembunyianku. Seluruh tubuhku terasa sangat lemas. Hatiku teriris-iris melihat pria berpakaian rapi yang mereka panggil Taufan itu mencium rakus bibir Ibu. Kedua tangannya juga meremas-remas dua bongkahan pantat Ibu yang begitu montok dan sintal. Rasa perih sakit hati ini bahkan terasa berkali-kali lipat karena melihat kenyataan bahwa Ibu di sana juga membalas permainan bibir pria itu dengan tak kalah bernafsu. Dia mengecupi bibir pria itu seakan ingin merasakan setiap bagian permukaan mulut lawan mainnya itu. Mereka seperti pasangan kekasih yang sedang melampiaskan hasrat terpendamnya.

Ibu, ucapku lirih dalam hati.

Kenapa Ibu jadi seperti ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Ibu? Tidak tahukah dia bahwa apa yang sedang dilakukannya ini sudah benar-benar kelewatan? Walaupun aku tidak pernah melihat, tapi kurasa seperti inilah kelakuan seorang pelacur di luar sana. Melayani setiap pria dengan penuh syahwat. Meninggalkan semua kehormatan yang ada di dalam dirinya hanya demi kepuasan pelanggannya. Namun dengan menyaksikan Ibu yang melakukan semua hal itu sungguh terlalu pahit untuk kuterima. Dia adalah Ibuku, orang yang paling kusayangi, orang yang paling kucintai. Dia yang paling berharga bagiku di dunia ini. Dia terlalu suci untuk dijamah oleh orang-orang seperti mereka.

Tidak ada lagi kata-kata yang pantas untuk menggambarkan betapa hancurnya perasaanku. Dada dan kepalaku sakit sekali. Ingin rasanya aku mati saja sekarang. Orang yang paling kucintai dan yang paling berarti dalam hidupku kini sudah tak ada harganya lagi. Ibuku yang selalu tersenyum menyambut hari-hariku, Ibuku yang selalu ada untukku, Ibuku yang akan kubahagiakan kelak, kini sudah hilang digantikan oleh seorang perempuan murahan yang senantiasa dikuasai oleh nafsu.

Aku sadar semuanya tak lebih karena kebodohanku. Jika saja aku cepat bertindak, jika saja aku mengatakan yang sebenarnya pada Ibu sejak berhari-hari yang lalu, jika saja aku pulang dari sekolah lebih cepat, semua ini tidak akan pernah terjadi. Hari seperti ini takkan pernah ada.

Aku juga sadar kalau ini akibat dari rasa cintaku padanya. Aku tahu aku salah. Aku tak boleh menyukai Ibuku sendiri. Itu cuma mimpi. Khayalan bodoh yang terlalu tinggi. Lagi pula aku ini siapa? Apalah artinya diriku di mata Ibu? Apa yang bisa kulakukan? Aku cuma seorang anak kecil. Aku masih berumur 12 tahun. Aku bahkan tak pantas melihat adegan seperti ini. Bukankah aku ini anak yang baik? Seorang anak yang baik memang seharusnya diam saja.

Tekanan di dalam dadaku semakin kuat. Tanpa terasa air mata mulai mengalir di pipiku. Aku akhirnya hanya bisa menangis dalam diam sambil tetap menyaksikan perbuatan mereka. Rasa sesak ini terlalu menyakitkan untuk ditahan. Aku tak punya kemampuan untuk menyimpan luka hati yang seperti ini. Duniaku dengan dunia Ibu sekarang sudah sangat berbeda. Dunia kebahagiaan yang begitu indah antara aku dengannya takkan bisa kudapatkan lagi. Takkan ada lagi tawa dan senyum tulus yang akan diberikan Ibu padaku. Aku hanya akan terus hidup dalam bayang-bayang kemesraan dan keintiman hubungan Ibu dengan orang lain. Mungkin garis hidupku memang sudah seperti ini. Tidak mungkin aku bisa merubahnya.

ÔÇ£Kamu rebah di situ!ÔÇØ suruh pria itu ketika menyudahi ciumannya dengan Ibu.

Aku tersentak dalam tangis bisuku ketika pria yang bernama Taufan itu mendorong Ibu dengan kasar ke atas ranjang. Dia juga menyuruh Ibu berbaring di sana. Ibu masih diam saja tanpa berbicara sepatah kata pun dan menuruti semua keinginan pria itu. Aku sungguh tak habis pikir dengan Ibu yang menerima saja perlakuan tak senonoh mereka. Apa Ibu juga suka diperlakukan begitu? Apa dia sudah tidak peduli lagi siapa dirinya? Apa dia sudah bosan menjadi wanita baik-baik?

Bu Ibu kenapa? rintihku dalam hati. Batinku semakin sakit menerima semua tontonan ini. Namun aku hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa mampu berbuat apa-apa.

ÔÇ£Wah, posisinya udah mantep nih, Mas,ÔÇØ ujar pria bernama Ari sambil tersenyum. ÔÇ£Kalo udah rebahan begini udah enak nih ngentotinnya.ÔÇØ

Ya iyalah Tapi kali ini saya mau puas-puasin nikmatin nih lonte, balas Taufan sembari membuka tiap-tiap kancing kemejanya. Jarang-jarang nih bisa dapat mainan semulus ini.

Haha Emang kamu sering main perempuan, Fan? Yang saya tau kamu tuh paling takut sama istrimu, pria buncit bernama Darma itu menimpali dengan remeh.

ÔÇ£Ah, jangan buka kartu dong, Mas. Bikin malu aja,ÔÇØ jawab Taufan. Dia melemparkan kemejanya yang sudah terbuka ke meja rias Ibu. Setelah itu dia pun membuka tali pinggangnya, bermaksud membuka seluruh celananya.

Hehe Mas Taufan malu ya, sama si lonte cantik? Ari senyum-senyum ke arah Ibu yang sedang berbaring. Ibu hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.

Udah, kamu diam aja, Ri. Si Taufan lagi siap-siap nih buat ngegarap lonte tercantik. Hahaha Pria bernama Darma itu tergelak melihat Taufan yang sedang berusaha melepas celananya. Setelah celana itu lepas dari kakinya, Taufan yang hanya bercelana dalam langsung naik ke atas tempat tidur. Dia menimpa tubuh Ibu yang hanya berpakaian dalam itu dan kembali menciuminya.

Jangan lama-lama ya, Mas. Saya juga udah nggak sabar nih, hehehe, ucap pria muda bernama Ari itu. Dia hanya bisa mengelus-elus penisnya sambil melihat adegan yang semakin panas. Rekannya yang berkulit hitam dan berperut buncit hanya cengengesan melihat Ari yang mulai tak sabar. Pria yang dipanggil Darma itu pun ikut-ikutan mengelusi penisnya yang lambat laun sudah mulai menegang lagi setelah tadi sempat menciut karena ejakulasi.

Semuanya berlangsung tanpa halangan. Mereka begitu bersuka cita menikmati ÔÇÿhidanganÔÇÖ yang sudah tersaji di depan mata. Wanita yang sedang terbaring di atas ranjang itu sebentar lagi akan menjadi bulan-bulanan nafsu birahi mereka. Segala macam khayalan mesum mereka akan mereka curahkan pada wanita itu. Tak bisa terbayangkan betapa tingginya kepuasan yang bisa mereka raih.

Namun di tengah perbuatan terkutuk itu, mereka benar-benar tidak menyadari bahwa di luar sini ada seorang anak yang sedang mengawasi segalanya yang mereka lakukan. Anak yang sedang menanggung rasa sakit hati yang teramat sangat. Anak yang telah kehilangan seluruh harapannya. Anak yang kebahagiaannya telah direnggut dari dirinya. Sedetik pun wajahnya tak berpaling melihat apa yang mereka lakukan terhadap Ibunya. Kepedihan mendalam yang dirasakannya membuat hatinya semakin tenggelam ke dalam lautan emosi.

Kini jiwa anak itu sedang dibakar api amarah yang teramat besar. Air matanya sudah berhenti mengalir. Pandangannya tertuju ke semua lelaki yang ada di dalam kamar Ibunya. Tatapan yang tak pernah ditunjukkannya kepada siapa pun. Sorot mata yang penuh dengan kebencian dan dendam. Kedua tangannya mengepal erat merasakan rasa panas di dadanya. Anak itu adalah diriku.

ÔÇ£Kalian bilang Ibuku apa?! Lonte? Mainan?ÔÇØ ucapku geram dalam hati. Kata-kata mereka benar-benar telah melecehkan Ibuku bahkan lebih rendah daripada seorang pelacur.

Seluruh tubuhku bergetar karena kemarahan yang memuncak. Seiring darahku yang mendidih, akal sehatku pun menurun. Keraguan dan rasa takutku sudah hilang. Kemarahanku memicu semacam kekuatan dalam diriku. Aku yang sudah naik pitam tidak peduli lagi risiko yang akan kuhadapi. Aku hanya ingin menyelamatkan Ibuku yang paling kusayangi. Takkan kubiarkan Ibuku semakin jauh melangkah ke arah yang salah. Tidak akan lagi.

Aku berjalan ke teras dan meletakkan tas sekolahku di atas kursi rotan yang ada di situ. Dengan kemarahan dan tekadku yang bulat, aku melangkah cepat menuju pintu depan dan memutar gagangnya. Ternyata pintu depan sama sekali tidak terkunci. Suara derit pintu yang terbuka pun menjadi pencetus ledakan amarahku.

Aku berlari cepat menuju kamar Ibu dan langsung melihat pria bernama Darma dan Ari yang tercengang ke arahku. Mereka semua tampak begitu terkejut dengan kemunculanku yang tiba-tiba. Aku tak menghentikan lariku dan terus bergerak maju dengan sangat cepat ke arah mereka. Dengan segala emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun, aku pun tanpa ragu melancarkan pukulanku sekeras-kerasnya.

ÔÇ£BUKKK!ÔÇØ hantaman tinjuku dengan telak menerjang pipi kiri pria bernama Darma. Manusia berkulit gelap itu pun langsung terjatuh sambil mengerang kesakitan. Tadinya dia sempat menggerakkan tangannya untuk menangkis, namun terlambat. Pukulanku sudah terlanjur mendarat di wajahnya.

Sedetik setelah aku merobohkan Darma, aku pun langsung beralih ke temannya yang bernama Ari. Ketika aku mencoba memukul wajahnya, ternyata dia sudah siap. Tangannya sukses menangkis pukulanku. Namun aku yang sudah kalap dan dikuasai kemarahan tak berhenti sampai di situ. Tinjuku kulancarkan lagi dengan membabi buta ke bagian perutnya.

ÔÇ£BUKKK!ÔÇØ pukulanku pun sukses mengenai target. Dia roboh dan bersujud kesakitan di lantai sambil memegangi perutnya.

Namun ketika aku berbalik badan hendak menyerang orang ketiga yang bernama Taufan, keberuntungan tidak lagi berpihak padaku. Taufan yang baru saja turun dari ranjang langsung melancarkan serangannya.

ÔÇ£PLAKKK!ÔÇØ dia menampar keras pelipis kiriku. Aku terhuyung dan langsung tumbang karena pandangan yang tiba-tiba memburam. Ibu berteriak histeris melihatku yang terpukul jatuh.

Kepalaku sampai berdenging karena dahsyatnya tamparan pria ini. Seumur hidupku baru kali ini aku mendapat pukulan sekeras ini. Walaupun pukulannya hanya berupa tamparan, tapi ini terasa lebih keras daripada pukulan anak-anak SMP yang pernah berkelahi denganku saat itu. Aku hanya bisa meringkuk di lantai, mencoba memulihkan kondisiku.

Jangan! Ibu berteriak dan turun dari ranjang. Dia berlutut memeluk kaki pria yang memukulku. Tolong Dia cuma anak-anak! Jangan apa-apain dia! Tolong jangan! Dia nggak tau apa-apa! Tolong Ibu mulai menangis.

Pria itu menyeringai melihat Ibu yang setengah telanjang memohon-mohon padanya. Namun dia tak menggubrisnya. ÔÇ£Anak kamu ini udah coba-coba jadi sok jagoan! Sekarang kamu liat apa yang bakal aku lakuin sama dia!ÔÇØ

Jangan! Tolong jangan! Jangan pukul dia lagi! Saya mohon Jangan pukul anak saya Tangisan Ibu semakin meraung-raung demi memohon keselamatanku. Kedua lengannya semakin erat memeluk kaki kiri Taufan yang polos tanpa celana. Hanya celana dalamnya saja yang masih melekat di tubuhnya.

ÔÇ£Lepasin kakiku, lonte!ÔÇØ Taufan mengamuk dan dengan kesal mengayunkan kakinya sekuat tenaga untuk mendorong Ibu yang sedang memeluk kakinya itu. Ibu pun terlempar dan meringkuk di lantai. Dia hanya bisa menangis tersedu-sedu.

Di tengah keadaan terjepit ini, aku masih saja tidak habis pikir dengan sikap dan jalan pikiran Ibu. Sudah jelas-jelas dia terlihat begitu menikmati percintaannya dengan ketiga orang brengsek ini beberapa menit yang lalu. Lantas mengapa sekarang dia menangis memohon pada mereka demi aku? Bukankah semua ini ulahnya? Bukankah dia yang telah memulainya? Apa dia sedang berpura-pura menjadi ÔÇÿpahlawan kesianganÔÇÖ supaya tetap terlihat baik di mataku?

Kamu mau jadi pahlawan, ya? ujar Taufan padaku dengan nada remeh. Kalo mau jadi pahlawan itu harus bisa kena pukul juga, supaya tau rasanya jadi pahlawan Hahaha Taufan meletakkan telapak kakinya di bahuku, bermaksud melecehkanku dengan injakannya.

Kata-kata dan perlakuannya itu sontak membuat amarahku kembali berkobar. Aku yang sepenuhnya sudah pulih langsung menepis kakinya. Aku berdiri dengan cepat dan kembali menyerang dengan membabi buta. Kuarahkan semua pukulanku padanya dengan seluruh kekuatan yang kupunya. Namun ternyata orang ini mampu menangkis semua seranganku. Tak ada satupun pukulanku yang berhasil mengenai tubuh ataupun wajahnya. Semua dimentahkannya begitu saja.

Di tengah seranganku yang bertubi-tubi aku malah mendapatkan satu serangan darinya. Sebuah pukulan mengenai perutku. Padahal aku bisa melihat serangannya itu. Namun karena aku yang terlalu geram padanya, aku jadi lupa membuat pertahanan dan asyik melakukan serangan. Gerakan pukulannya itu tidaklah terlalu kencang, namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bernasib sama seperti Ari. Bersujud di lantai karena merasakan mulas di perut yang luar biasa.

Tito! Ibu menjerit menyebut namaku. Aku sempat melihatnya hendak bergerak mendekat untuk menolongku. Namun Taufan dengan sigap menarik lengannya dan melemparkan tubuhnya kembali untuk menjauh dariku.

ÔÇ£Kalo kamu ikut campur, anak kamu bakal aku bikin babak belur di depanmu!ÔÇØ ancam Taufan pada Ibu.

Ibu pun kembali memeluk kakinya dan memohon. Tolong Jangan sakitin anak saya Tolong kasihani dia Saya mohon

ÔÇ£Aku udah kasih keringanan sama dia,ÔÇØ jawab pria itu. ÔÇ£Pukulan yang tadi itu masih terbilang pelan. Kalo aku serius mungkin anak kamu ini bakal langsung mati.ÔÇØ

Tolong jangan pukul dia lagi Saya mohon Kalian bisa lakuin apa aja sama saya Tapi tolong jangan apa-apain anak saya Jangan pukuli dia Saya mohon Ibu terus-menerus memohon sambil menangis mengharapkan belas kasihan yang sepertinya sangat mustahil untuk didapatkan.

ÔÇ£Yang memulai anak kamu ini, kan? Jadi dia harus terima hukumannya!ÔÇØ Lagi-lagi Taufan menyingkirkan tubuh Ibu dengan ayunan kakinya. ÔÇ£Hei, kalian jangan cuma nonton aja! Kalian udah dihajar sama anak ini, kan?ÔÇØ ucapnya lagi.

Demi mendengar ucapannya itu, aku mengangkat kepalaku. Ternyata pria berkulit legam bernama Darma yang dari tadi meringkuk di sebelah kiri Taufan sudah kembali berdiri. Dia masih mengelusi pipinya yang mungkin masih terasa sakit. Sementara raut wajahnya terlihat menunjukkan rasa geram padaku.

Bertepatan di saat itu pula, Ari yang tadinya masih bersujud kaku di sebelah kiriku kini juga ikut-ikutan berdiri tegak. Dia seakan-akan tak lagi merasakan efek dari pukulanku tadi. Wajahnya sama, menampakkan rasa geram padaku yang sudah memberikan rasa sakit padanya.

Ibu yang ada di dekat Taufan tetap tak bosan-bosannya memohon untuk tidak menyakitiku. Namun kemudian Taufan berkata kalau dia akan benar-benar membunuhku jika Ibu ikut campur. Dia menyuruh Ibu untuk diam saja dan melihat apa yang akan dilakukannya padaku sebagai hukuman atas perbuatanku tadi. Alhasil Ibu hanya bisa pasrah dan menangis sejadi-jadinya.

Ini benar-benar gawat. Kalau keadaannya sudah begini, aku bisa dihabisi oleh mereka. Cara satu-satunya adalah aku harus mengambil senjata sebagai pertahanan diri. Tapi apa? Tidak ada benda yang bisa kugunakan di sini. Aku harus mengambil senjata di tempat lain. Senjata yang bisa menghalau mereka.

ÔÇ£Pisau dapur kayaknya cocok,ÔÇØ pikirku.

Tanpa membuang waktu lagi, aku pun tegak dan beranjak keluar secepatnya dari kamar Ibu untuk mengambil pisau di dapur. Namun sayang, ketika aku berusaha tegak berdiri barusan, aku merasakan perutku masih sedikit nyeri karena pukulan Taufan tadi, dan itu membuat gerakanku sedikit tersendat dan agak lambat. Darma mengetahui dan memanfaatkan kelemahanku itu dengan baik. Dengan sigap dia menarik kerah bajuku hingga aku terjerembab ke belakang.

ÔÇ£Pegangi dia!ÔÇØ seru Taufan ketika aku hendak kembali berdiri lagi.

Ternyata dia menyuruh Darma dan Ari untuk memegangi kedua lenganku agar aku tidak bergerak ke mana-mana. Mereka berdua sudah mengunciku di kanan dan kiri. Akhirnya aku sudah sempurna berada di dalam kuasa mereka. Kini aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Semua harapan sudah sirna.

Tubuhku dihadapkan ke arah Taufan. Dia mendekatiku sambil tersenyum licik. Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya padaku. Tapi aku tahu bahwa itu pasti sesuatu yang buruk. Melihat keadaan yang kujalani ini aku sempat berpikir akan tindakan yang sudah kulakukan. Ada rasa penyesalan yang melingkupi diriku. Seandainya saja aku tadi tidak masuk ke sini, aku pasti tidak akan mengalami hal seperti ini. Tindakanku ini malah memperburuk semuanya. Bukan hanya Ibu, kini diriku juga ikut-ikutan menjadi korban mereka.

Namun aku juga tidak mungkin tidak berbuat sesuatu untuk Ibuku. Tidak mungkin aku membiarkan begitu saja Ibu dilecehkan oleh mereka. Walaupun aku tahu Ibu juga menginginkannya, tapi apa yang mereka lakukan itu sudah melewati batas. Aku memang pantas melakukan semua ini.

Aku sudah salah perkiraan. Seharusnya aku sadar kalau mereka bukanlah tiga orang anak SMP. Mereka adalah tiga orang pria dewasa yang tingkatannya jauh di atasku. Aku terlalu mengikuti kemarahanku sampai-sampai aku tidak berpikir untuk mengambil senjata apapun dari luar rumah. Kalau saja aku sempat mengambil batu atau ranting kayu yang besar, mungkin saja mereka tidak akan bisa bangun lagi. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Tenagaku bahkan sudah terkuras karena emosi yang memuncak dan cara berkelahiku yang menggebu-gebu tadi. Kini aku bahkan tak punya energi yang cukup walau hanya untuk meronta. Berteriak pun pasti hasilnya akan nihil. Tak ada seorang pun yang akan mendengar karena rumah kami yang begitu jauh dari tetangga terdekat. Kelihatannya semua memang sudah berakhir.

ÔÇ£Sekarang kamu nggak bisa ke mana-mana lagi, kan?ÔÇØ ujar Taufan yang kelihatan sangat senang dengan ketidak berdayaanku. ÔÇ£Sekarang enaknya kamu dihukum apa, ya?ÔÇØ

Aku melihat Ibu yang sedang duduk bersimpuh di dekat kaki ranjang. Dia hanya bisa menatapku dengan berlinang air mata. Aku tak tahu apakah dia menyesali apa yang dia perbuat atau tidak. Yang jelas aku benar-benar marah padanya saat ini. Sangat marah hingga nafsuku padanya pun hilang meski penampilannya sekarang begitu terbuka. Aku benar-benar malu punya Ibu seperti dia.

Udah, Fan Hajar aja nih anak, ucap Darma di sebelah kananku menyemangati Taufan.

Betul, Mas! timpal Ari yang mengunci lenganku di sebelah kiri. Masih sakit nih perut gara-gara nih anak! Liat tuh, mukanya Mas Darma Sampe bonyok gitu kena tonjok.

Iya nih Pukulan anak ini keras juga, sambung Darma lagi. Aku nggak peduli lagi dia ini masih anak-anak atau nggak. Pokoknya nih anak mesti dikasih pelajaran.

Taufan cuma nyengir menanggapi teman-temannya.

Tolong, Mas Jangan sakitin anak saya Ibu kembali memohon. Suaranya yang lirih mengindikasikan betapa besar keputus asaannya. Namun Taufan sama sekali tak bergeming dengan kata-kata Ibu.

ÔÇ£PLAKKK!ÔÇØ tamparan keras kembali dilancarkan Taufan padaku. Kali ini dia menggunakan tangan kirinya untuk menghantam kepalaku yang bagian kanan. Rasa pusing dan suara mendenging pun kembali merambat di kepalaku.

Ibu menjerit ngeri melihat aku yang dijadikan bahan siksaan ini. Dia hanya bisa menyebut namaku dalam tangisnya karena begitu tidak berdaya. Seolah tak pernah bosan, Ibu pun kembali memohon kepada Taufan agar berhenti memukuliku. Dia berlutut di sebelah Taufan dan memegangi tangan kirinya. Namun Taufan malah tertawa dan tak menggubris Ibu. Pria ini merasa begitu digdaya akan perbuatannya.

Kamu tenang aja ya, lonte, ucap Taufan. Ntar kalo aku udah puas ngehukum anak kamu ini, aku pasti ngentotin kamu kok Hahaha

Ntar anak kamu ini ikutan nonton juga kok Hehehe, timpal Darma.

Mereka bertiga pun tertawa lepas di tengah tangisan Ibu.

Di saat itulah, ketika aku sudah kehabisan akal dan tenaga, dan Ibu juga hanya bisa menangis dan memohon, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Seseorang ternyata sudah masuk ke dalam rumah kami. Kehadirannya benar-benar tidak kami sadari kalau saja dua orang yang mengunci lenganku tidak tiba-tiba berteriak kesakitan. Aku sempat mendengar bunyi berdebuk di dekatku sebelum kedua orang itu melepaskanku untuk memegangi pinggangnya yang sakit. Mereka berdua baru saja mendapatkan pukulan di punggung bagian bawah mereka. Posisi kami bertiga membelakangi pintu kamar. Jadi pantas saja orang yang baru masuk ke rumah kami itu menjadikan pinggang kedua pria yang memegangiku sebagai sasaran empuk.

Aku cuma bisa tercengang ketika Darma dan Ari yang telah mengunci lenganku diseret keluar dari kamar Ibu oleh seseorang. Aku sempat menoleh ke belakang dan melihat rambut mereka berdua dijambak hingga mereka berdua terpaksa berjalan mundur ke luar kamar. Aku terkejut melihat wajah penyelamat kami itu. Wajah yang kukenal dengan baik. Tak kusangka dia bisa ada di sini.

Hanya dalam hitungan detik, orang itu berhasil melumpuhkan Darma dan Ari. Aku sempat melihat gerakannya yang luar biasa dari sini. Dia begitu tenang dalam memberikan serangan. Namun efek pukulannya tampak sangat parah. Darma dan Ari bahkan tak sempat melakukan serangan. Mereka bergelimpangan begitu saja di lantai ruang tamu. Mulut Darma bahkan mengeluarkan darah segar. Pria berperut buncit itu tergeletak di dekat kursi tempat kami biasa menonton TV.

Namun saking terkesimanya diriku pada cara bertarung orang itu, aku tidak menyadari kalau di sini Taufan melakukan hal lain. Dia mendorong Ibu yang sedari tadi duduk berlutut di dekatnya, dan merogoh saku celananya yang tergeletak di lantai. Ternyata itu adalah sebuah pisau.

Taufan dengan cepat meraih dan memutar tubuhku untuk didekapnya dari belakang. Dia memiting leherku dengan lengan kirinya, sementara lengan kanannya sudah menodongkan pisau itu tepat di dekat leherku. Ibu menjerit melihatku yang sedang dalam keadaan sangat berbahaya. Dia tak berani bergerak menolongku karena ini bisa sangat berisiko terhadap keselamatanku. Orang yang sudah menghajar Darma dan Ari habis-habisan pun hanya berdiri di mulut pintu kamar tanpa bisa berbuat apa-apa.

ÔÇ£Kalian bergerak, anak ini mati!ÔÇØ ancam Taufan.

Perlahan-lahan dia berjalan ke luar sambil menggiringku di dekapannya. Tampaknya dia ingin melarikan diri karena dia merasa kemungkinannya untuk menang dari penyelamat kami itu sangatlah kecil. Dia membawaku sebagai ÔÇÿpemulusÔÇÖ jalannya keluar dari sini.

ÔÇ£Minggir kamu dari pintu!ÔÇØ bentak Taufan pada orang itu. ÔÇ£Jangan coba-coba mendekat!ÔÇØ

Orang itu pun menyingkir dari pintu dan membiarkan Taufan keluar membawaku. Penyelamat kami itu sepertinya memahami situasi ini. Dia tak ingin bertindak gegabah, sama sepertiku. Walaupun aku punya keberanian, tapi aku tak pernah berhadapan dengan orang yang membawa senjata tajam sebelumnya. Bisa fatal akibatnya jika aku melakukan sesuatu yang bodoh. Di samping itu aku juga tak punya tenaga yang banyak. Kini aku hanya berharap pada keberuntungan.

ÔÇ£Tetap di situ! Jangan bergerak!ÔÇØ perintah Taufan kepada penyelamat kami yang tak lain adalah Pak Steven. Dia menyuruh Pak Steven tetap berdiri di dekat tubuh Darma yang tergeletak.

Tito! teriak Ibu yang muncul di pintu kamar. Dia sudah mengenakan dasternya kembali.

Ketika Taufan masih mendekapku bersamanya sambil berjalan mundur perlahan-lahan, Pak Steven bertingkah agak aneh. Dia membuka mulutnya dan memberikan gestur seperti orang yang sedang menggigit. Dia melakukan itu sambil menatapku. Beberapa detik kemudian barulah aku sadar bahwa itu adalah ÔÇÿkodeÔÇÖ agar aku menggigit tangan pria brengsek ini. Aku pun mengikuti instruksinya itu. Untunglah tanganku masih bebas sehingga aku bisa meraih tangan kanannya yang sedang memegang pisau itu ke mulutku.

Aaakkhh! Taufan berteriak lantang kesakitan ketika aku menggigitnya tepat di pangkal jempol tangan kanannya. Pisaunya terlepas dan kuncian lengan kirinya di leherku merenggang.

Aku langsung lari melepaskan diri sementara Pak Steven bergerak sangat cepat untuk melancarkan sebuah tendangan yang luar biasa. Serangan kakinya itu telak menghantam bagian dada Taufan sampai dia jatuh terjengkang. Tak terbayangkan jika aku mendapatkan tendangan seperti itu. Kini di ruang tamu sudah ada tiga orang yang tergeletak tak berdaya. Dan ketiga-tiganya tanpa mengenakan celana.

Pak Steven mendatangi Taufan yang terbaring dan meringis kesakitan sambil memegangi dadanya. Dia jongkok mengangkangi tubuh Taufan dan membisikkan sesuatu di telinganya. Sepertinya mereka berdua sedang berbicara. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan karena aku sedang berdiri di dekat Darma yang tergeletak di lantai dan masih mengeluh kesakitan. Darah yang keluar dari mulutnya itu mengingatkanku akan musuh yang kalah di setiap film laga yang ada di TV.

Ibu yang tampak begitu khawatir langsung mendekatiku dan menanyai keadaanku. Tito nggak apa-apa, Nak? Mana yang sakit? Bilang sama Ibu, Nak Dia mengelusi kepala dan perutku yang sempat terkena pukulan Taufan.

Aku menepis tangan Ibu dan menghindarkan kepalaku sebagai pertanda aku tak ingin disentuh olehnya. Kemarahanku padanya masih belum surut sama sekali. Aku sungguh kecewa dan malu dengan perbuatannya. Namun dia seolah-olah menganggapnya sebagai masalah yang biasa. Tidak tahukah dia bahwa aku hampir mati beberapa menit yang lalu hanya untuk mengarahkannya ke jalan yang benar? Apakah dia menganggap nafsunya itu masih dalam batas kewajaran? Tak bisakah dia memahami perasaanku? Dia memang sudah keterlaluan.

ÔÇ£Tito kenapa, Nak? Kok gitu sama Ibu?ÔÇØ Ibu bertanya dengan nada lirih. Raut wajah sedihnya seakan menjelaskan kalau dia tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku.

Aku cuma melirik Ibu sekilas dan tetap diam seribu bahasa. Aku merasa tak punya keharusan untuk menjawab pertanyaannya itu. Biarlah dia sendiri yang menyimpulkannya. Perhatianku hanya tertuju pada apa yang sedang dilakukan oleh Pak Steven. Dia mengambil pisau Taufan yang terjatuh tadi dan beranjak ke dekatku. Dia berjongkok tepat di samping tubuh Darma, bermaksud menanyakan sesuatu.

Apa benar Anda cuma diajak sama Taufan? tanya Pak Steven pada Darma. Dia sengaja menunjukkan pisau itu tepat di depan mata Darma untuk menakut-nakutinya. Tolong jawab pertanyaan saya

Aku sedikit bingung dengan apa yang dibicarakan Pak Steven. Apa maksud dari Taufan yang mengajak Darma? Apa yang sudah dibicarakan oleh Pak Steven dan Taufan barusan?

Ukkhh Iya, Mas Saya cuma diajak sama dia, jawab Darma dengan suara lemah.

Oke Anda ingat baik-baik kata-kata saya ini Kalau Anda coba-coba datang kemari lagi dan mengganggu keluarga ini, konsekuensinya bakal lebih parah daripada ini. Anda paham?! Pak Steven menatap Darma dengan sorot mata tajam. Ancamannya sepertinya sangat serius.

Iya, Mas Saya ngerti Saya janji, jawab Darma. Dari nada suaranya, sepertinya dia benar-benar kapok dengan perbuatannya.

Bagus, pungkas Pak Steven. Dia menoleh ke kamar Ibu sejenak, lalu mendongak menatap Ibu. Ren Bawa semua pakaian mereka ke sini.

Ibu mengangguk pelan dan berjalan ke kamar menuruti perintah Pak Steven.

ÔÇ£ApaÔǪ?! ÔÇÿRenÔÇÖÔǪ?ÔÇØ ucapku dalam hati. Aku terkejut dengan keanehan ini.

Nama lengkap Ibuku adalah Irena Irmayati. Bagaimana bisa Pak Steven memanggil Ibu dengan nama depannya? Penyebab bagaimana Pak Steven bisa tahu rumah ini saja sudah membuatku sangat bingung. Sekarang dia malah menambah daftar pertanyaan di dalam otakku. Bagaimana dia bisa mengetahui itu semua? Apakah dia sudah kenal dengan Ibu?

Ibu meraup semua pakaian mereka yang bertebaran di kamarnya dan membawanya ke luar. Lalu dia menumpukkan pakaian-pakaian itu tepat di dekat kaki Darma. Sementara itu Pak Steven tegak dan mendatangi Ari yang dari tadi terkapar di sebelah kursi tamu. Begitu dia berjongkok di sebelah pemuda itu, Pak Steven langsung menyodorkan pisau di tangannya dan hendak menyayat wajah Ari yang sudah memar tak karuan. Saat itu juga Ari minta ampun dan memohon belas kasihannya.

Ampun, Mas Ampun, ucap Ari panik. Tolong, Mas Kasihani saya Saya nggak akan ngelakuin ini lagi Saya janji, Mas Saya janji

Melihat Ari yang sudah menyerah, Pak Steven pun mengurungkan niatnya. Dia tegak berdiri dan kembali mendatangi Taufan. Dia menyuruh pria itu untuk segera mengajak kedua temannya pergi dari sini. Taufan yang masih memegangi dadanya pun mencoba tegak dan menuruti perintah Pak Steven. Ari juga perlahan-lahan bangkit dari pembaringannya. Namun Darma tampaknya punya luka yang cukup parah. Dia masih meringkuk dan mengeluh kesakitan.

Taufan dan Ari berjalan tertatih-tatih menuju celananya yang tertumpuk di dekat Ibu. Ibu diam saja melihat mereka yang tampak kesulitan memasukkan celana-celana itu ke kaki mereka. Mereka berdua bahkan tidak berani lagi melihat wajah Ibu. Sesekali pandanganku dan Ibu bertemu. Tapi aku langsung melengos tak peduli. Praktis ruangan ini pun jadi seperti kuburan, sunyi dan senyap. Hanya rintihan dan nafas tersengal dari ketiga orang itu yang terdengar.

Ketika mereka berdua sudah selesai memakai pakaian mereka kembali, mereka pun membantu Darma untuk berdiri. Darma sempat terpekik kesakitan saat mencoba bangkit. Namun akhirnya dia berhasil menegakkan tubuhnya sambil dipapah oleh Taufan dan Ari. Darma memakai celananya dengan susah payah dengan bantuan dari kedua rekannya. Celananya adalah celana jeans panjang, dan Darma punya kaki yang gempal. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk memasukkan celana itu. Sampai ketika semuanya sudah beres, mereka pun berjalan terseok-seok keluar dari rumah ini. Pak Steven mengikuti mereka hingga ke mobil mereka. Mungkin untuk memastikan mereka benar-benar enyah dari sini.

Aku yang ditinggal Pak Steven bersama Ibu di dalam rumah tetap bungkam. Beberapa menit aku lalui bersama Ibu dalam diam. Dia berdiri di dekat pintu kamarnya, sementara aku berdiri di dekat TV. Namun Ibu tampaknya tidak bisa bertahan lama dengan kecanggungan ini. Dia pun mendekatiku dan memegang lenganku bermaksud ingin berkomunikasi. Namun aku menyentakkan lenganku agar tangannya itu terlepas. Seolah tak menyerah, dia pun memegang lenganku lagi. Aku tetap bersikeras dan menyentakkan lenganku lagi hingga tangannya terlepas lagi. Aku benar-benar tak peduli lagi dengan apa yang dirasakan Ibu sekarang. Meskipun dia sedih, kecewa, marah, atau apapun itu, aku tak ingin menanggapinya lagi. Kesalahannya kali ini sudah terlalu fatal.

Tito kenapa, Nak? Tito marah sama Ibu? tanyanya dengan suara bergetar. Ternyata Ibu menangis karena perlakuanku ini.

Tiba-tiba saja aku jadi merasa sangat bersalah. Air mataku membanjir tanpa bisa kutahan. Aku jadi ikut-ikutan menangis karenanya. Perasaanku ini semakin tidak bisa kumengerti. Semarah apapun aku pada Ibu, aku tetap tak bisa bertahan lama mendengar tangisannya. Itu memang sudah menjadi kelemahanku. Aku terlalu sayang padanya. Sampai kapan pun hal itu tidak akan mampu kupungkiri.

Tito? Jawab Ibu dong, Nak tangis Ibu semakin menjadi-jadi. Dia memang tidak pernah sanggup jika kuacuhkan seperti ini.

Pokoknya Tito marah sama Ibu, ucapku singkat tanpa menatapnya. Pandanganku tetap lurus ke depan.

ÔÇ£Iya… Ibu tau Tito marahÔǪ Tapi karena apa, NakÔǪ? Karena masalah tadiÔǪ?ÔÇØ

Aku tak menjawab. Air mataku berhenti mengalir seiring kemarahan yang kembali menguasai diriku. Memang menyakitkan jika aku mengingat kejadian tadi. Semuanya kurekam jelas di otakku, seperti yang kulakukan ketika aku menjadi saksi atas hubungannya dengan Rama. Namun ada sedikit perbedaan mencolok di antara kedua peristiwa itu. Yang dilakukan Ibu bersama pria-pria tadi tidak seperti sedang berhubungan seks. Namun lebih mirip seperti berpesta.

Tito? Jawab dong, Nak Apa gara-gara masalah tadi? Ibu semakin mendesakku.

Belum sempat aku menjawab apapun, Pak Steven sudah kembali masuk ke dalam rumah. Pandangannya langsung tertuju pada kami berdua yang sedang dalam peperangan batin. Mungkin dia bertanya-tanya dalam hatinya mengenai apa yang sedang terjadi di sini sampai-sampai kami berdua berlinang air mata seperti ini.

Ibu buru-buru menghapus air matanya. Mungkin merasa malu pada pria tampan yang sudah ada di depan kami ini. Ternyata hal yang sangat kuhindari akhirnya terjadi juga. Ibu dan Pak Steven kini bertemu. Bahkan pertemuan mereka terjadi di sini, di rumah kami yang sederhana ini. Ini betul-betul tak terduga. Oleh karena itu pula aku punya banyak pertanyaan yang ingin segera kutanyakan pada pria di hadapanku. Pertanyaan-pertanyaan besar yang benar-benar membutuhkan jawaban jujur darinya.

Namun sebelum aku menanyakan segalanya, aku ingin mengucapkan terima kasih padanya karena sudah menyelamatkan kami. Kalau tidak ada dia entah bagaimana nasib kami tadi. Aku pun tersenyum dan mulai membuka pembicaraan. Om

Hmm? sahutnya sambil tersenyum lebar padaku.

Mas Dewo, ujar Ibu tiba-tiba dengan suara lemah.

***

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*