Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 19

Ibuku Cintaku dan Dukaku 19

Tito! Bangun, Nak! Udah pagi nih! seru Ibu dari luar dibarengi ketukan pintu.

Aku hanya menggumam sambil tetap meringkuk malas di pembaringanku. Ibu memang selalu tepat waktu membangunkanku pagi-pagi, dan itu pula yang terkadang membuatku agak dongkol. Aku jadi terpaksa membuka mataku ketika aku masih ingin terlelap. Kurasa jika aku diberi kesempatan beberapa menit saja untuk tidur kembali, aku pasti akan memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Tito! Cepetan bangun, Nak! katanya lagi setengah berteriak.

Iya, Bu! Tito udah bangun nih! jawabku lantang. Aku pun bangkit dan duduk di tepi ranjang.

Langsung mandi, ya! Abis itu sarapan! Udah jam berapa nih?! Ntar telat lho, tandasnya. Setelah itu suara Ibu lenyap. Mungkin dia kembali ke belakang meneruskan rutinitasnya.

Aku menoleh ke belakang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Aku berdecak kesal sambil menghela nafas berat. Entah kenapa hari ini tubuhku sangat malas untuk beraktivitas. Aku seperti tak punya motivasi dan semangat yang cukup untuk menghadapi hari ini. Bukannya langsung bergerak, aku malah asyik mengupil sambil menatap ke arah meja belajar.

Huuffhh Buku pelajaran masih belum dimasukin nih ke dalam tas. Cape deehh, kataku membatin. Kutunggu sejenak sampai tubuhku siap untuk menghadapi kesibukan.

Sesaat kemudian dengan langkah malas aku pun terpaksa menuju ke meja belajar. Membereskan semuanya, lalu menyusul Ibu ke belakang. Sesampainya di belakang, Ibu lagi-lagi menyuruhku lekas mandi dan segera sarapan. Letih sekali batinku mendengar Ibu mengucapkan kalimat-kalimat mubazir itu. Sewaktu dia membangunkanku tadi kalimat itu sudah keluar dari mulutnya, bukan? Untuk apa dia mengucapkannya lagi?

Kendati demikian, aku tetap berusaha beramah-tamah padanya. Aku meredam emosi butaku hingga air dingin mengguyur kepalaku di kamar mandi. Selama di kamar mandi aku terus berpikir. Mengapa aku jadi seperti ini menanggapi Ibu? Bukankah setiap hari aku sangat suka mendengarkan suaranya walaupun itu hanya sekadar basa-basi? Apa aku sudah mulai membencinya?

ÔÇ£Nggak! Nggak boleh!ÔÇØ bantahku dalam hati.

Aku tak boleh membencinya apapun yang terjadi. Bukankah Kak Dina sudah berpesan padaku agar tetap menjadi anak yang baik untuk Ibu? Aku harus bisa memenuhi permintaan Kak Dina. Meskipun harapanku pada Ibu sepertinya sudah sirna, tapi itu bukan berarti aku berhak menaruh dendam padanya. Aku tidak boleh mengingkari kata-kata dan janjiku sejak dulu untuk membahagiakannya. Aku harus bisa membuktikan bahwa aku adalah anak yang kuat dan sanggup mengemban apapun yang telah kuucapkan.

Begitu keluar dari kamar mandi, aku bergegas ke kamar untuk berpakaian. Tidak ada lagi suara-suara yang kudengar ketika aku menghadapi kembaranku di cermin. Dia hanya menatapku diam, tertegun. Walau di matanya ada sedikit kesan cemas, tapi aku meyakinkan padanya bahwa dia dan aku akan baik-baik saja. Kusambar tas sekolahku, dan aku langsung menuju ke belakang.

Seperti biasa, aku dan Ibu sarapan berdua. Dia terlihat senang melihatku yang sepertinya sudah merasa bugar. Ibu memang tak pernah tahu bahwa sebenarnya jiwakulah yang sedang sakit sekarang ini, bukan tubuhku. Segalanya tersimpan dengan baik di dalam hati kecilku.

ÔÇ£Bu, kita nggak jualan hari ini?ÔÇØ tanyaku di tengah acara sarapan kami. ÔÇ£Tito liat kemaren Ibu beli bahan-bahan tuh.ÔÇØ

Oh, kemaren rencananya sih gitu Tapi Ibu liat Tito kemaren kayaknya kecapean banget, jadi Ibu pikir hari Rabu ajalah.

Oh, gitu Ya udah deh, jawabku singkat seraya kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutku.

Tak banyak yang kami bicarakan ketika sarapan maupun setelahnya. Ibu juga tidak menyinggung mengenai mengapa hubungan aku dan Rama sedang tidak akur sekarang. Biasanya kalau dia tahu aku sedang punya masalah dengan Rama, dia akan bergegas menyuruhku untuk segera berbaikan lagi. Kurasa dia takut ketahuan kalau dia kemarin berkunjung ke rumah Rama. Ibu mungkin khawatir kalau aku akan bertanya macam-macam.

Tito pergi dulu ya, Bu, ucapku ketika aku sudah siap pergi ke sekolah. Aku mencium tangannya hendak berpamitan.

Iya, hati-hati ya, balasnya.

Aku mengiyakan saja sambil beranjak keluar dari rumah. Kini tugasku hanya tinggal memastikan Rama sedang menungguku atau tidak. Aku sangat berharap kalau dia tidak menungguku. Sulit rasanya untuk mematahkan suasana canggung dengannya nanti.

Ketika aku berbelok di simpang jalan rumahku, aku tidak melihat adanya sosok Rama yang sedang menungguku di kejauhan. Sepanjang perjalanan aku terus berharap dia tidak muncul, agar aku bisa pergi sendirian saja. Hingga ketika aku sampai di simpang jalan rumahnya, ternyata dugaanku benar. Rama memang tidak kunjung hadir. Sungguh lega hatiku. Itu artinya dia memang sudah pergi sendiri karena merasa masih tidak enak denganku. Dengan perasaan riang, aku pun melenggang bebas pergi ke sekolah. Tapi baru beberapa langkah aku melewati simpang jalan rumahnya, tiba-tiba sesuatu mengganjal pikiranku.

ÔÇ£Apa jangan-jangan Rama masih di rumahnya, ya?ÔÇØ pikirku.

Aku menimbang-nimbang. Kalau Rama memang masih di rumahnya, apa yang harus kulakukan sekarang? Menjemputnya ke sana atau jalan terus? Jika aku jalan terus, bukankah aku meninggalkannya? Bagaimana jika dia memang masih di rumah, lalu menungguku di sini sementara aku sudah pergi? Dia bisa terlambat ke sekolah jika itu terjadi.

Aku mencoba berpikir kritis. Sekejap kemudian aku langsung membuat keputusan. Sambil berdecak kesal, aku terpaksa memutar balik dan masuk ke jalan rumahnya. Aku menyerah untuk hal ini. Kapan pun aku berniat untuk menyengsarakan Rama, entah kenapa di pikiranku selalu saja muncul wajah Bu Aini. Bu Aini juga merupakan dilema dalam hatiku. Sebenci apapun aku pada anaknya itu, aku tak bisa membalasnya dengan kebencian pula. Masalah ini benar-benar memojokkanku.

Gue lakuin ini buat Bu Aini, Rama. Bukan buat lu, ucapku jengkel dalam hati.

Ketika aku sudah sampai di rumahnya, aku hanya melihat Bu Aini yang sedang menyirami bunga-bunga kesayangannya. Bu Aini langsung meletakkan selang airnya dan tersenyum manis saat menyadari kedatanganku. Namun dia menatapku dengan raut muka heran, seperti ada yang ganjil pada diriku.

ÔÇ£Lho? Tito belum pergi ke sekolah, Nak?ÔÇØ tanya Bu Aini ramah seraya mendatangiku yang berdiri di dekat pintu gerbangnya.

Penampilannya tampak cantik dan segar. Ia memakai jilbab paris motif abstrak dengan campuran warna kuning, jingga, dan sedikit garis-garis merah. Jilbab segi empat itu dijadikan jilbab segi tiga bergaya sederhana dan simple seperti biasanya. Bu Aini mengenakan kaos lengan panjang warna merah polos, dan rok panjang warna coklat muda bermotif bunga-bunga.

Aku agak bingung dengan kata-katanya itu. Kuputuskan untuk bertanya balik. ÔÇ£Ini juga mau pergi ke sekolah kok, Bu. Rama mana, Bu? Kok nggak ada di simpang?ÔÇØ

Kening Bu Aini mengernyit, seolah ada yang salah dengan kata-kataku. Tapi sekejap kemudian tersungging senyum simpul di bibirnya. Dielusnya rambutku sambil berkata, ÔÇ£Tito sama Rama lagi marahan, ya?ÔÇØ

Aku agak kaget karena dia ternyata tahu tentang hubunganku dengan anaknya yang sedang tidak harmonis. Aku bertanya, ÔÇ£Ibu tau dari mana?ÔÇØ

Hehe Ibu nebak aja kok. Soalnya tadi malam waktu Ibu tanya-tanya sama Rama tentang kabarnya Tito, Rama kayak nggak semangat gitu. Jadi Ibu pikir kalian berdua memang lagi ada masalah.

Aku mendengarkan sambil tersenyum getir. Ternyata Bu Aini sudah mengetahuinya. Aku cukup lega karena aku tak perlu menyembunyikannya lagi. Tapi kupikir untuk masalah hubungan Rama dengan Ibu sebaiknya memang tak usah kuberitahukan. Masalah yang satu itu punya tingkat sensitivitas yang jauh lebih tinggi. Risikonya sangatlah berbahaya dan tak bisa diprediksi. Lebih baik aku tetap tutup mulut dan membiarkan waktu yang menjawabnya.

ÔÇ£Tito sama Rama lagi ada masalah apa, Nak?ÔÇØ tanya Bu Aini.

Aku pun buru-buru merangkai alasan. Emm Nggak ada kok, Bu. Tito waktu itu cuma lagi nggak mood aja. Terus Tito nggak sengaja ngebentak Rama. Abis dia cerewet amat sih, Bu

Bu Aini tersenyum lebar. Oh, gitu Kalo itu sih Ibu nggak heran. Rama orangnya ya emang kayak gitu. Nggak pernah ngertiin suasana hati orang. Ibu juga sering dibikin kesal sama dia. Kalo orang lain udah ngamuk, baru deh dia diam.

Hehe Gitu ya, Bu? kataku sambil cengengesan.

Bu Aini mengangguk, tersenyum Ramah. ÔÇ£Tapi Tito nggak beneran marah sama Rama kan, Nak?ÔÇØ

ÔÇ£Nggak kok, Bu. Tito nggak marah kok,ÔÇØ ucapku sembari tersenyum pula. Bu Aini tampak senang dengan jawabanku.

ÔÇ£Ya udah, Tito kali ini pergi sendiri aja ya, Nak,ÔÇØ ujarnya. ÔÇ£Soalnya Rama udah pergi dari tadi. Mungkin dia masih ngerasa nggak enak kalo perginya bareng Tito.ÔÇØ

Aku mengangguk memaklumi alasan yang memang sudah terduga itu. Ya udah deh Kalo gitu Tito pamit ya, Bu, ucapku berpamitan seraya mencium tangannya.

ÔÇ£Iya,ÔÇØ sahutnya.

Setelah aku mencium tangannya, tiba-tiba saja Bu Aini merengkuh kepalaku dan mencium lembut keningku. Aku terkejut sekaligus malu dibuatnya. Untung saja tidak ada orang yang lewat di depan rumahnya. Kalau tidak aku pasti akan lebih malu lagi.

Anak Bunda belajar yang rajin, ya, ujar Bu Aini melepas kepergianku.

Aku menatapnya sekejap, membalas tersenyum sambil mencoba mencerna kalimat aneh yang diucapkannya itu. Seumur hidup aku mengenalnya, baru kali ini dia mengucapkan padaku kata ÔÇÿBundaÔÇÖ sebagai panggilan dirinya untukku. Tapi aku tak terlalu menanggapi serius perkataan itu. Kupikir itu mungkin karena dia menganggapku seperti anaknya sendiri. Itu hal yang wajar, bukan? Aku pun berlari kecil meninggalkan rumahnya.

***

Sesampainya di kelas, Rama tampak sedang mengobrol akrab dengan beberapa teman perempuan. Dia tak menyadari kedatanganku karena dia membelakangi pintu kelas. Aku juga tak terlalu mempedulikannya. Kuletakkan tasku dan duduk diam di kursiku. Hanya berselang tak sampai lima menit, bel sekolah pun berbunyi.

Sewaktu Rama kembali ke kursinya, kami berdua sempat bertemu pandang. Dia tak berkata apa-apa meskipun hanya sebuah teguran. Jangankan untuk bersuara, senyum pun tidak dilontarkannya. Itu artinya dia memang ingin mempertahankan kebisuan ini. Aku yang pada dasarnya memang menyimpan dendam yang teramat besar padanya tak ragu mengaminkan iktikad buruknya. Kubalas sikapnya itu dengan tak kalah dingin pula.

Jam pelajaran pun bergulir. Konsentrasiku hari ini terarah penuh. Saat memasuki pelajaran matematika, Kak Dina memberikan soal-soal kepada kami semua sebagai latihan menuju Ujian Nasional. Kak Dina memanggil kami satu persatu ke depan untuk mengerjakan soal-soal yang diberikannya di papan tulis. Entah karena disengaja atau tidak, Kak Dina memberikan soal yang memiliki tingkat kesulitan tertinggi pada Rama. Kak Dina bahkan tak pernah memberikan soal semacam itu sebelumnya pada kami jika hanya untuk latihan. Soal yang diberikannya itu mirip dengan salah satu soal yang kukerjakan di modul Try Out yang diberikannya padaku. Aku juga sempat membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menyelesaikan satu soal itu saja.

ÔÇ£Kalo gue aja sempat kewalahan sama tuh soal, apalagi Rama?ÔÇØ pikirku jeri.

Wajah Rama tampak bingung di depan sana. Belum sampai setengah jalan, dia sudah berhenti menulis. Dia tak tahu kelanjutannya harus diapakan. Teman-teman yang lain yang satu rombongan dengannya sudah duduk dari tadi. Namun Rama terus tertahan di sana bahkan setelah rombongan berikutnya menyelesaikan soal-soal mereka. Hingga akhirnya di hadapan papan tulis sekarang hanya menyisakan dirinya seorang.

ÔÇ£Mau sampai kapan kamu berdiri di situ terus, Rama?! Sampai tua?!ÔÇØ ucap Kak Dina lantang.

Beberapa temanku tertawa menyambut kata-kata Kak Dina itu. Tapi ada juga yang kasihan melihatnya. Soal itu memang terlalu sulit. Sepertinya Kak Dina memang sengaja ingin sedikit memberikan ÔÇÿpelajaranÔÇÖ pada Rama. Dia seperti sedang menyiksa Rama dengan terus-terusan membiarkannya berdiri di situ.

ÔÇ£Kamu bisa nggak ngerjainnya?!ÔÇØ tanya Kak Dina ketus. ÔÇ£Kalau nggak bisa, bilang aja nggak bisa!ÔÇØ

Kata-kata Kak Dina benar-benar memilukan. Dia sukses mempermalukan Rama di depan kelas seperti anak yang tak pernah mengenyam pendidikan dan ilmu pengetahuan. Teman-teman sekelas yang lain sudah memasang wajah ketakutan. Takut jika perkataan ketus Kak Dina itu merupakan awal mula dari naiknya tensi proses belajar mengajar ini.

Namun itu semua tidak berlaku padaku. Aku tahu betul watak Kak Dina yang galak itu hanyalah luarnya saja. Aku malah sangat senang dengan apa yang dilakukannya. Sepertinya Kak Dina mengerti benar apa yang sedang kurasakan. Walaupun apa yang dilakukannya sekarang sangat-sangat tak cukup untuk membalaskan rasa sakit hatiku yang begitu besar, tapi setidaknya ini bisa sedikit menghiburku.

ÔÇ£Udah! Nggak usah diterusin lagi. Berdiri kamu di sana!ÔÇØ sergah Kak Dina sambil menunjuk ke pintu.

Kak Dina menghukum Rama untuk berdiri di depan pintu kelas. Rama menurutinya dan berjalan dengan wajah tertunduk. Sedikit pun Kak Dina tidak menunjukkan wajah belas kasihan. Bahkan kulihat wajahnya seperti sangat geram pada Rama. Seluruh teman-teman sekelas hanya bisa terdiam.

ÔÇ£Berdirinya bukan di situ! Tapi di tengah-tengah pintu!ÔÇØ ucap Kak Dina dengan agak membentak. Kak Dina begitu berang melihat Rama berdiri sambil bersandar pada kusen pintu. Baginya itu merupakan sebuah ejekan akan hukuman yang dijatuhkannya.

Akhirnya Rama berdiri tegak tepat di tengah pintu itu. Tak bisa kubayangkan betapa malunya dia sekarang. Saking malunya, dia bahkan seperti enggan memandang ke arah kami, teman-temannya. Tapi pandangan mata kami sempat beradu sekilas. Sorot matanya menunjukkan semacam penyesalan. Mungkin dia merasa menyesal karena bersikeras menahan gengsinya untuk tidak bersikap dingin padaku. Atau mungkin juga sorot matanya itu sedang menunjukkan penyesalan yang lainnya. Tapi itu kurasa tak mungkin.

ÔÇ£Sekarang, siapa yang bisa ngerjain soal yang ini?ÔÇØ tanya Kak Dina pada kami.

Kami semua terdiam. Saling melihat satu sama lain.

Yang bisa ngerjainnya, Ibu kasih nilai tambahan, timpal Kak Dina. Matanya melirikku sekilas.

Semuanya kelihatan semakin gelisah. Tak satu pun di antara murid Kak Dina yang tak ingin nilai tambahan. Semua ingin iming-iming seperti itu. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Soal yang satu itu mungkin terlalu berat. Mereka dan Ratna yang merupakan juara ke-2 di kelas ini pun hanya bisa melihat ke arahku seolah menyerahkan tampuk harga diri kelas ini padaku.

Aku tersenyum tipis. Dengan semangat yang tinggi, aku pun akhirnya mengangkat tangan. ÔÇ£Saya, Bu!ÔÇØ

Kak Dina menatapku dan dengan bangga mempersilakanku ke depan untuk mencoba. Oke, Tirto maju ke depan

Semua mata mereka terpaku melihatku. Aku bagaikan seorang jenderal yang sedang berjalan di antara prajurit-prajuritnya. Kuambil kapur tulis dari dalam kotak yang ada di atas meja Kak Dina, lalu kukerjakan soal berat itu dengan penuh konsentrasi.

Puluhan detik berlalu dengan sunyi dan hening. Hanya suara goresan kapur tulis di tanganku yang terdengar. Kak Dina di sampingku memperhatikan lamat-lamat setiap alur angka-angka yang kutuliskan. Hingga beberapa saat kemudian aku pun berhasil menuliskan hasil akhir dari soal itu.

Aku berdiri sejenak menunggu Kak Dina memeriksa apa yang sudah kukerjakan. Semua teman-temanku masih terdiam. Hanya beberapa detik Kak Dina memeriksanya, dia langsung menatapku sambil tersenyum.

ÔÇ£Bagus! Jawabannya benar!ÔÇØ serunya lantang kepada seluruh murid yang sedang memperhatikan dalam diam. Kak Dina bahkan menambahkan tepuk tangan menyertai kalimatnya itu.

Seluruh teman sekelasku yang tak kalah kagum pun refleks ikut-ikutan bertepuk tangan menirukan Kak Dina. Aku hanya bisa tersenyum malu sambil berjalan kembali ke tempat dudukku. Sempat kulirik Rama yang menunjukkan wajah kekalahan di posisi pesakitannya itu. Dia seakan tak dianggap lagi sebagai bagian dari kelas ini.

Nah, jadi cara penyelesaiannya seperti ini, ujar Kak Dina kepada murid-muridnya sambil menunjuk ke hasil kerjaku di papan tulis. Soal seperti ini kemungkinan besar bakal keluar di Ujian Nasional. Ibu anggap kalian udah tau cara penyelesaiannya kalau muncul soal seperti ini waktu ujian nanti. Nah, bagi yang mau mencatat, catat sekarang, ya

Iya, Bu! seru kami serentak. Kami pun mulai menggoreskan tinta di atas buku.

ÔÇ£Rama! Sini kamu!ÔÇØ Kak Dina memanggil Rama untuk mendekat padanya.

Kami yang tadinya sedang menulis, mendadak menghentikan gerakan tangan kami dan lebih memilih menonton ke depan kelas. Rama berjalan menunduk seperti narapidana yang hendak digiring ke penjara. Aku penasaran apa yang akan dilakukan Kak Dina padanya kemudian.

ÔÇ£Kamu di rumah ngapain aja?ÔÇØ tanya Kak Dina dengan nada ketus. ÔÇ£Kamu nggak belajar, kan?ÔÇØ

Ngg Belajar kok, Bu, jawab Rama lirih.

ÔÇ£Nggak usah bohong kamu! Kalau memang kamu belajar, kenapa kamu nggak bisa ngerjain soal itu sementara Tirto bisa?!ÔÇØ

Rama diam, tak berkutik dengan kalimat Kak Dina.

Kok diam?! Sekarang jawab yang jujur Kamu belajar atau nggak?! Kak Dina kelihatan semakin marah. Kelas kami hening dan mencekam.

Rama akhirnya menggeleng pelan sambil tetap tertunduk.

Wajah Kak Dina tampak puas melihat pengakuan Rama. Lalu tiba-tiba Kak Dina melihat ke arahku. ÔÇ£Tirto! Kamu jangan pernah mau ngajarin dia lagi, ya! Biar dia belajar sendiri, supaya dia bisa tau diri! Kamu paham?!ÔÇØ

Aku menatap wajah mereka berdua yang melihatku dari depan. Dengan keyakinan kecil, aku pun mengangguk. Iya, Bu

Entah apa gerangan yang mengusikku. Aku sempat kasihan melihat wajah Rama yang tampak lemah tak berdaya itu. Bagaimana bisa aku meninggalkannya sementara Bu Aini menyuruhku untuk mengayominya? Aku juga tak habis pikir kenapa wajah Bu Aini selalu datang ke dalam pikiranku ketika aku melihat anaknya yang sudah sangat merugikanku itu. Aku sangat menyayangi Bu Aini dan tak ingin melihatnya kecewa. Tapi Rama sendiri yang memaksaku untuk menentukan pilihan. Aku tak bisa melupakan kalimat-kalimatnya yang sudah menelanjangi dan menikmati tubuh Ibu. Sungguh menyakitkan dan takkan termaafkan dengan cara apapun juga. Untuk itu aku lebih memilih dendamku daripada rasa kasihanku padanya.

Duduk sana, suruh Kak Dina pada Rama.

Rama berjalan ke kursinya sambil tetap tertunduk. Dia tak bisa menegakkan kepalanya karena malu dengan tatapan mata seluruh teman-teman sekelas. Aku tetap memasang raut wajah sedingin-dinginnya hingga dia duduk di sebelahku.

ÔÇ£Sekarang kalian buka halaman 127!ÔÇØ perintah Kak Dina. Akhirnya pelajaran kembali diteruskan. ÔÇ£Kalian kerjakan latihan 1 dan 2! Nanti waktu bel istirahat langsung dikumpul bukunya!ÔÇØ

Kami pun langsung bergerak cepat karena waktu istirahat akan tiba tak lama lagi. Rama di sebelahku terlihat lesu membuka bukunya. Dia tidak bersemangat karena sudah terpukul oleh rasa malu. Aku tak ingin lagi terlalu cemas apalagi mengasihaninya. Dia yang menggauli Ibuku saja tidak memikirkan tentang perasaanku, buat apa aku repot-repot memikirkan perasaannya? Masa bodoh.

Ketika istirahat tiba, Rama hanya duduk diam di kursinya setelah mengumpulkan buku latihan ke Kak Dina. Mungkin dia agak malu jika harus langsung berkomunikasi dengan teman-teman yang lain. Kulihat dia sibuk merenung. Mungkin sedang merenungi kenapa hari ini dia begitu sial. Atau mungkin juga dia merenungi hubungan kami berdua yang memang dari dulu tak pernah serenggang ini. Perkataanku yang mengiyakan Kak Dina tadi sepertinya semakin mendukung perselisihan kami. Aku tahu aku salah. Tapi aku juga tahu bahwa Rama itu jauh lebih bersalah daripada aku. Tidak ada seorang sahabat yang menusuk sahabatnya dari belakang seperti dia.

Waktu terus berlalu hingga tanpa terasa kegiatan di sekolah pun berakhir. Dengan perintah bel sekolah yang melengking tinggi, seluruh siswa dan siswi pun sigap berhamburan keluar kelas. Aku masih memasukkan buku-bukuku ke dalam tas ketika Rama tanpa mengucapkan sepatah kata pun beranjak pulang meninggalkanku. Kemarin dia masih bisa mengucapkan sepatah kata perpisahan. Tapi kali ini dia tak mengucapkan apa-apa. Ternyata dia memang sudah menganggap serius permusuhan ini.

Namun aku buru-buru mengesampingkan masalah itu, karena sekarang aku dan Kak Dina lagi-lagi menjadi penghuni terakhir di dalam kelas. Dia melempar senyumnya padaku. Agaknya dia memang sengaja berlama-lama karena ada yang ingin diobrolkannya. Setelah memastikan bahwa seluruh teman-teman sekelas benar-benar sudah jauh, aku langsung menarik sebuah kursi untuk duduk di dekatnya.

Dek, gimana tadi? Si Rama Kakak kerjain tuh. Hehe Kak Dina akhirnya mengakui bahwa yang tadi itu memang disengaja olehnya.

Hehe Kakak ada-ada aja. Malu banget tuh, si Rama.

Biarin aja, ucap Kak Dina cuek. Biar dia tau rasa karena udah nyakitin Adeknya Kakak.

Aku tersenyum senang. Kutatap Kakakku yang sangat perhatian ini. Makasih ya, Kak

Iya, sama-sama, ucap Kak Dina sambil mengelus-elus rambutku. Ngomong-ngomong, dia nggak ada nakalin Ibu lagi, kan?

Aku terdiam. Senyum diwajahku ciut seketika mendengar pertanyaan Kak Dina. Kepalaku tertunduk demi mengingat peristiwa menyakitkan yang berlangsung kemarin sore. Dalam waktu singkat otakku langsung memutar ulang segala kesenangan duniawi yang Ibu dan Rama ciptakan di dalam kamar tertutup itu. Sesak sekali rasanya dada ini karena terpaksa menerima kenyataan ini. Apapun ganjaran yang kami berikan untuk Rama, segalanya tidak akan pernah berubah. Ibu sudah menjadi miliknya. Dan itu adalah hal yang mutlak.

ÔÇ£Tito? Tito kenapa, Dek?ÔÇØ Kak Dina ikut tertunduk melihatku. Tangannya mengusap-usap bahuku. ÔÇ£Rama masih nakalin Ibu?ÔÇØ

Aku menghela nafas berat. Kujawab pertanyaan Kak Dina dengan anggukan lemah.

Usapan Kak Dina di bahuku pun terhenti. Dia terdiam seribu bahasa. Tanpa melihat wajahnya aku sudah tahu kalau dia sekarang sangatlah terkejut. Kak Dina pasti merasa tidak menyangka akan hal itu, sama sepertiku.

Beberapa saat kemudian dia bertanya, ÔÇ£Adek kok bisa tau Ibu sama Rama begituan lagi?ÔÇØ

Aku melihat wajahnya sesaat, lalu tertunduk lagi. Kemarin Tito ngikutin Ibu keluar rumah, Kak. Waktu Tito ikutin, rupanya Ibu ke rumah Rama buat begituan sama Rama

ÔÇ£Hah?! Di rumah Rama?! Bukannya di rumahnya ada Ibunya Rama?ÔÇØ Kak Dina terkejut sekali lagi.

ÔÇ£Ibunya Rama itu punya toko, Kak. Waktu itu dia lagi di tokonya,ÔÇØ paparku.

Kak Dina terdiam lagi sebentar. Sepertinya dia memahami dengan baik fakta yang benar-benar menyebalkan itu. Siapa pun pasti akan bebas melakukan segalanya jika tak ada orang di rumah.

Emm Tito nggak coba kasih tau Ibunya Rama aja, Dek? tanya Kak Dina.

Nggak, Kak, jawabku singkat.

ÔÇ£Lho? Kenapa? Bukannya bagus kalo dilaporin sama Ibunya si Rama. Jadi semuanya bakal ketahuan.ÔÇØ

Aku menegakkan kepalaku dan menatapnya lemah. Bukannya Tito nggak mau, Kak, tapi Tito nggak bisa

ÔÇ£Lho? Nggak bisa gimana sih, Dek? Tito takut?ÔÇØ

ÔÇ£Tito bukan takut sama Ibunya Rama, Kak. Tapi Tito takut akibatnya aja. Gara-gara masalah ini, Ibu sama Ibunya Rama bisa berantem. Tito takut kalo Ibunya Rama musuhin Ibu sama Tito, Kak. Jasa Ibunya Rama itu udah banyak banget buat Ibu sama Tito. Lagian bisa aja Ibunya Rama salah paham, terus malah ngaduin Ibu ke Polisi kayak kejadian Kak Dina dulu. Bisa aja kan, Kak?ÔÇØ

Untuk kesekian kalinya Kak Dina terdiam membisu. Dia tampak berpikir. Sepertinya dia sadar betul bahwa apa yang kusampaikan ada benarnya. Itu memang pilihan yang sulit.

Ngg Ngomong-ngomong, Rama kira-kira udah tau nggak kalo Tito udah tau hubungan dia sama Ibu? tanya Kak Dina lagi tak lama kemudian.

Kalo itu sih udah pasti dia belum tau, Kak. Kalo dia udah tau, pasti dia udah nggak berani deketin Ibu lagi

Nah, tunggu apa lagi?! Labrak aja si Rama Suruh dia jauhin Ibu, ujar Kak Dina antusias memberi saran.

Kalo gitu ceritanya, enak buat Rama dong, Kak, jawabku sewot. Paling dia cuma minta maaf, terus ngeloyor gitu aja

Tersungging sedikit senyum di bibir Kak Dina. Sepertinya dia paham sekali apa yang kurasakan. Iya juga, ya? Enak banget dia. Lalu Kak Dina pun berpikir lagi sekejap. Emm Kayaknya nggak ada pilihan lagi, Dek. Tito mesti labrak Ibu di rumah. Cuma itu jalan satu-satunya.

Aku menghela nafas berat lagi. Termenung sebentar, lalu berkata, Tito nggak berani, Kak

ÔÇ£Lho, kok nggak berani, sayang? Kalo keadaannya begitu terus, kan Tito sendiri yang sakit hati?ÔÇØ Kak Dina menatapku dengan wajah prihatin sambil mengusap-usap rambutku.

Iya sih, Kak, kataku lirih mengiyakan.

Nah, ya udah Nggak usah takut. Beberin aja sama Ibu tentang rahasianya itu. Memang Kakak akui itu haknya Ibu kalo emang mau milih pasangan lagi. Tapi nggak kayak Rama juga, kan?

Aku tersenyum tipis. Lucu juga aku mendengarnya menganggap ÔÇÿpenampilanÔÇÖ Rama sebagai bahan lawakan.

ÔÇ£Lagian Kakak bisa jamin kalo Ibu itu cuma lagi nurutin nafsunya aja, Dek,ÔÇØ tandas Kak Dina. ÔÇ£Ibu nggak bakal nganggap Rama itu sebagai siapa-siapanya dia. Percaya deh sama Kakak…ÔÇØ

Ketika Kak Dina melontarkan kalimat itu, aku menatap wajahnya dengan serius. ÔÇ£Kakak yakin?ÔÇØ

Kak Dina nyengir. Ya yakin lah, Dek Jadi Tito pikir Ibu begituan sama Rama karena apa? Karena dia cinta sama Rama? Hihi Itu mustahil banget. Pasti dia cuma lagi pengen lampiasin nafsunya aja

Aku berpikir sejenak. Benar juga apa kata Kak Dina. Kenapa aku tak berpikir ke situ? Walaupun Ibu sudah berhubungan badan dengan Rama, tak sekali pun ada kata cinta yang kudengar terucap dari mulutnya. Mungkin ada baiknya kalau aku memang mengkonfrontir Ibu tentang hubungannya itu. Tidak ada salahnya kalau aku mencoba dulu.

Dek?

ÔÇ£Eh, iya, Kak?ÔÇØ Aku tersadar dari lamunanku.

ÔÇ£Gimana? Adek udah berani, kan?ÔÇØ

Kutatap wajahnya sebentar, lalu mengangguk.

Kak Dina pun tersenyum. Nah, gitu dong Masa Adeknya Kakak kalah sama Rama, ujarnya sembari mengusap-usap rambutku.

Aku tersenyum sambil menghela nafas panjang. Kak Dina benar-benar membangkitkan harapanku. Walaupun tak sepenuhnya menghilangkan rasa sesak di dadaku ini, tapi ini sudah lebih dari cukup.

Tito tau nggak? Kakak salut banget deh sama Tito, ucap Kak Dina sambil menatapku penuh arti.

ÔÇ£Salut kenapa, Kak?ÔÇØ Aku mulai tersipu.

Kakak salut aja liat sikapnya Tito yang menurut Kakak dewasa banget, ungkapnya. Waktu Kakak ngasih usulan-usulan tadi, Tito langsung bisa mikirin akibat-akibatnya. Malah sampe ke Polisi segala lagi Hehehe Padahal Kakak nggak kepikiran tuh sampe ke sana.

Aku tak bisa menahan senyumku. Aku benar-benar tersipu malu akan pujiannya. Ah, Kakak bisa aja. Kalo itu sih udah Tito pikirin dari kemaren, Kak

ÔÇ£Dari kemaren?ÔÇØ tanyanya menyelidik.

ÔÇ£Iya, Kak,ÔÇØ tandasku. ÔÇ£Waktu Tito tau Ibu main sama Rama, Tito udah mikirin itu semua. Tapi Tito masih bingung mau mulai dari mana.ÔÇØ

Kak Dina mengangguk mafhum. ÔÇ£Oh, gitu ya. Tapi sekarang Tito udah tau mau mulai dari mana, kan?ÔÇØ

ÔÇ£Iya, Kak. Tito bakal bilang langsung sama Ibu.ÔÇØ

Bagus deh, kalo gitu, ujarnya.

Lalu tiba-tiba aku terpikir sesuatu. ÔÇ£Eh, tapi Tito mesti gimana bilangnya, Kak?”

Kak Dina berpikir sejenak, lalu berkata, Emm Bilang aja kalo Tito udah tau rahasia Ibu lewat handycam itu. Beres, kan?

Aku menimbang-nimbang sekejap. Gitu ya, Kak? Ya udah deh

ÔÇ£Kakak tunggu kabarnya besok, ya,ÔÇØ katanya sambil tersenyum.

Aku tersenyum tipis, mengangguk yakin.

Ya udah, sekarang Tito pulang dulu, ujar Kak Dina sembari mengelus bahuku. Nanti di rumah bicarain pelan-pelan sama Ibu. Kakak jamin Ibu pasti ngertiin Tito dan nggak bakal ngelakuin itu lagi sama Rama.

Aku mengangguk lagi. Jantungku tiba-tiba berdebar-debar membayangkan diriku yang akan berbicara empat mata dengan Ibu di rumah nanti. Batinku berharap-harap cemas. Ada keyakinan dan ada pula keraguan dalam hatiku. Seperti apa reaksi Ibu nanti? Kuharap akan sejalan dengan apa yang ada di pikiranku.

Aku dan Kak Dina keluar kelas bersama-sama. Dia hendak ke kantor guru, sementara aku akan pulang. Ketika berjalan bersama-sama itu, Kak Dina berulang kali menyemangatiku untuk lebih berani. Mungkin dia melihat ada kegugupan di raut wajahku.

Kak, Tito mau nanya nih

ÔÇ£Tanya apa, Dek?ÔÇØ sahutnya.

Ngg Tadi Kakak kok nggak hukum si Rama lebih berat lagi? tanyaku penasaran.

ÔÇ£Maksud Tito dikasih hukuman yang lain gitu?ÔÇØ dia balas bertanya.

Bukan, Kak Maksud Tito hukuman berdirinya dilamain gitu, ucapku dengan sedikit nyengir.

Kak Dina tersenyum tipis. Oh, itu Kakak memang sengaja nggak mau lama-lama ngehukum dia, Dek. Soalnya Kakak ingat sama Ibunya. Kakak jadi kasihan ngeliatnya. Lagian itu juga kan emang Kakak sendiri yang mau ngerjain dia. Ntar kalo kelamaan malah Kakak yang jadi ngerasa bersalah

Aku mengangguk perlahan, memaklumi alasannya. Ternyata Kak Dina punya perasaan yang sama denganku. Walaupun aku teramat membenci Rama, tapi ketika terlintas ingatan akan Bu Aini aku langsung mengurungkan niatku untuk mencelakainya. Rama memang sangat beruntung punya Ibu yang ÔÇÿberpengaruhÔÇÖ seperti itu. Padahal Kak Dina juga baru sekali bertatap muka dengannya.

ÔÇ£Kenapa, Dek? Pengen ya, Kakak ngehukum si Rama kayak si Andri waktu itu? Ngehadapin tiang bendera?ÔÇØ Kak Dina tersenyum lebar.

ÔÇ£HeheÔǪ Nggak kok, Kak. Tito cuma nanya aja kok.ÔÇØ Aku balas tersenyum. ÔÇ£Kak, ngomong-ngomong Kakak kok manggil si Rama pake panggilan ÔÇÿRamaÔÇÖ aja sekarang? Bukannya Kakak biasa manggil dia Ramadhana?ÔÇØ

Ngg Iya juga, ya? katanya sambil berlagak seperti sedang berpikir. Di bibirnya terukir senyum tertahan yang tak bisa menyembunyikan lesung pipinya. Emm Kalo Kakak rasa sih, Kakak mulai manggil dia begitu semenjak Ibunya ngantar surat sakitnya kalian waktu itu deh Kak Dina mencoba mengingat-ingat.

ÔÇ£Emang kenapa sama Ibunya Rama, Kak?ÔÇØ tanyaku iseng.

ÔÇ£HeheÔǪ Waktu itu Ibunya Rama bilang, ÔÇÿBu, ini saya mau kasih surat keterangan sakitnya Rama sama TitoÔǪÔÇÖ Mungkin karena itu Kakak jadi kebiasaan manggil dia ÔÇÿRamaÔÇÖ aja. HeheÔǪ Lagian lebih singkat, kan?ÔÇØ Kak Dina pun terkekeh dengan alasannya sendiri.

Hehe Gitu ya, Kak? kataku sambil ikut-ikutan tertawa ringan.

Akhirnya kami berdua berpisah di dekat kantor guru. Ketika aku keluar dari gerbang, para pedagang jajanan di depan sekolahku juga turut mengikuti jejakku. Membereskan dagangan mereka, dan pergi mencari nafkah di tempat yang lain. Setiap langkahku menuju ke rumah rasanya semakin berat saja. Aku terpaksa menyiapkan mentalku yang pada dasarnya masih jauh dari siap.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*