Home » Cerita Seks Umum » Ternyata Suamiku Nakal 4

Ternyata Suamiku Nakal 4

POV REVITA (MAMA)

Singkat cerita ku tinggalkan suamiku di dalam kamar dengan keadaan pintu kamar yang terkunci. Aku kini sudah berkumpul dengan Marni dan Susan di kamar Marni. Kami bertiga sangat cepat akrab. Bahkan dalam waktu yang sebentar aku sudah dapat membongkar semua rahasia mereka dengan Suamiku Wijaya.

ÔÇ£Maafin Marni yah, Ma. Marni mencuri Papa dari Mama, padahal Marnikan bukan siapa-siapa di rumah ini. Marni merasa bersalah Ma.ÔÇØnampak ada sedikit penyesalan di mata Marni.

ÔÇ£Susan juga yah Teh, waktu itu Susan penasaran Teh, tahunya jadi keterusan, tapi sumpah Teh, Susan masih perawan. Abang Jay belum sampai memerawani Susan. Susan minta maaf.ÔÇØkata Susan sambil menundukkan kepala.

Ku tatap kedua gadis muda di depanku. Nampak raut muka mereka gelisah dan sedikit ketakutan. Aku sendiri bukan orang yang mudah marah, apalagi menyangkut suamiku. Bagiku apapun tindakan suamiku selama dia masih tetap mencintaiku aku tidak akan menyalahkannya. Semua karena sejak kami pacaran aku pernah berjanji pada suamiku tidak akan pernah menyalahkan dia untuk semua tindakannya asalkan dia tetap mencintai dan menyayangiku.

Ku raih kedua gadis itu ke dalam pelukanku, kemudian keduanya menangis di dadaku. Aku elus kedua rambut gadis itu. Kalau aku pikir-pikir lagi, sebenarnya
usia kami juga selisih tidak jauh. Marni 17 tahun, Susan baru masuk 23 dan aku sendiri sebentar lagi akan masuk usia 26. Ku rasakan dadaku semakin basah, dengan air mata kedua gadis itu. Aku sangat yakin keduanya benar-benar menyayangi suamiku juga seperti aku. Marni, bercerita kalau sampai detik ini sudah belasan cowok di sekolahnya yang dia tolak lantaran sudah terlanjur cinta kepada suamiku, bahkan rahasianya yang sebenarnya aku sudah tahu dia ungkapkan juga. Sementara Susan, mengakui semua perbuatan yang dilakukan dengan suamiku dulu. Susan mengungkapkan bahwa dalam hatinya tidak ada tempat lain selain untuk Suamiku.

Aku merasa gamang, serba salah sebenarnya. Sudahlah mungkin ini memang sudah suratan takdir. Suamiku memang punya kharisma, kalaupun dia mau bukan hanya aku, Susan atau Marni. Puluhan wanita lain di luar sana bahkan sangat mungkin ditaklukan suamiku dengan mudah.
Pikiranku menerawang teringat kembali sewaktu aku masih SMA kelas tiga dan Suamiku waktu itu baru saja diterima kerja di tempat dia kerja sekarang. Dengan penuh perhatian dia selalu memberikan kejutan-kejutan yang tidak pernah ku duga, entah bunga, coklat atau pun hal-hal kecil yang sebenarnya sangat berarti buatku. Bahkan teman SMA-ku Wulan pernah mengatakan kalau saja suamiku belum pacaran denganku, Wulan pasti akan mengejar-ngejar suamiku padahal Wulan adalah primadona di sekolah wakti itu jadi sangat mudah baginya mendapat cowok manapun. Masa pacaran kami memang tidak pernah kami habiskan dengan hal-hal mesum, mungkin inilah yang menjadikan Suamiku melampiaskan kepada sepupunya Susan yang baru saja aku ketahui dari mulut Susan secara langsung detail kejadiannya.

Beginilah hidup, terkadang ada rahasi-rahasia yang sebaiknya tidak kamu tahu. Ketika kamu mengetahuinya, hidupmu bukan lagi hanya milikmu. Akhirnya, ku putuskan hari itu juga, akan ku bagi suamiku dengan kedua gadis ini. Sementara, aku terhanyut dalam lamunan kedua gadis itu masih menangis dalam pelukku.

ÔÇ£Sudah, sudah, Mar, Mama gak marah kok. San, Susan, Teteh ngerti kok perasaan kamu.ÔÇØ

ÔÇ£Serius Teh?ÔÇØSusan nampak mengusap air matanya.

ÔÇ£Mama, gak marah sama Marni?ÔÇØMarni pun menanyakan hal yang sama.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Kedua gadis itu serempak memelukku.

ÔÇ£Makasih Ma….ÔÇØMarni memelukku.

ÔÇ£Makasih Teh…ÔÇØSusan pun demikian.

Aku merasa sesak di peluk begitu erat.

ÔÇ£Sudah…sudah…ÔÇØsambil mencoba melepaskan diri dari pelukan kedua gadis itu. Wajah mereka sudah lebih ceria.

ÔÇ£Tuh, bajuku basah semua, gara-gara kalian nih.ÔÇØ

ÔÇ£Hihihihihi…..ÔÇØkedua gadis itu malah cekikikan.

ÔÇ£Teh, Susan boleh manggil teteh Mama juga, habisnya Susan iri sama Marni?ÔÇØtanya Susan kepadaku aku sempat kaget juga mendengarkanya. Tapi, aku maklum saja.

ÔÇ£Terserah Susan aja….ÔÇØkataku.

ÔÇ£Ma…mama…ÔÇØSusan memanggilku dengan nada manja. Lucu juga, belum hamil tapi kini aku punya dua anak.

ÔÇ£Ma, bajunya di lepas aja, basah gitu kok Ma…ÔÇØkata Marni sambil beranjak mengambil t-shirt dari lemarinya.

ÔÇ£Pakai ini aja deh Ma, all size kok.ÔÇØKata Marni sambil menyodorkan t-shirt berwarna pink kepadaku bertuliskan touch me.

Ku lepas bajuku, di depan kedua gadis itu. Keduanya hanya melihat saja dengan wajah penasaran. Sesaat kemudian yang tersisa hanya BH berwarna merah yang
memang tidak mampu menampung seluruh payudaraku yang besar.

ÔÇ£Wow, Mam…Payudaranya gede banget.ÔÇØKata Susan terkagum.

ÔÇ£Berapa ukurannya Ma?ÔÇØTanya Susan. Aku mulai terbiasa dengan panggilan Mama dari Susan.

ÔÇ£Mmmm…terakhir sih Mama ukur 36D.ÔÇØkataku.

Marni yang dari tadi berdiri disampingku tiba-tiba meraih payudaraku. Kedua tangan Marni memegang payudaraku kiri dan kanan.

ÔÇ£Oh pantes aja Marni ngerasa punya Mama gede banget.ÔÇØkata Marni.

ÔÇ£Ih Marni apaan sih.ÔÇØkataku mencoba melepas tangan Marni dari payudaraku yang masih berbalut BH.

ÔÇ£Ah Mama Marnikan udah tahu semua punya Mama, lepas aja sekalian deh Ma. BH Mama basah juga tuh.ÔÇØkata Marni.

ÔÇ£Tapi lepas dong tangan kamu.ÔÇØsambil ku raih pengait BH di punggungku.

ÔÇ£Sini Susan bantu.ÔÇØtahu-tahu Susan sudah dibelakangku.

BH itu pun segera terlepas dari tubuhku, kini aku setengah telanjang hanya berbalut rok span selutut. Ku rasakan kini dari belakang Susan memainkan
payudara besarku.

ÔÇ£Ah…Susan geli……ÔÇØperasaan enak melanda di kedua payudaraku. Marni pun tidak tinggal diam. Marni, berusaha mencium bibirku seperti tempo hari. Dengan

Sedikit berjingkat Marni meraih kepalaku dan kemudian kami berciuman. Lidah kami saling membelit. Sementara Susan menciumi tengkuk dan leherku. Bulu kudukku meremang, ku rasakan kegelian luar biasa, enak bercampur aduk. Aku benar-benar terangsang terhanyut dalam permainan Marni dan Susan. Aku masih normal, pikirku. Namun, aku akui ini benar-benar sensasi yang luar biasa. Kalau saja, Suamiku melihat kelakuan kami bertiga entah apa yang dia pikirkan.
Ku pejamkan mataku menikmati permainan mereka. Ku rasakan dua buah tangan menjamah pantatku dan ku rasakan rokku meluncur turun. Mereka benar-benar ingin menelanjangiku. Kini ku rasakan dua buah peyudara menempel di punggungku. Jelas sekali, bukan payudara Marni. Sementara, Marni masih berciuman mesra denganku, ku rasakan tangan Marni meremasi payudaraku begitu pula dengan ku ku remas payudara Marni entah kapan Marni menelanjangi dirinya. Tangan Susan tidak mau menganggur begitu saja. Ku rasakan belaian dan gosokan halus di vaginaku yang masih terbungkus celana dalam. Aduh aku tidak kuat lagi. Dengan posisi ditengah-tengah kedua tubuh. Tangan Susan mencoba masuk kedalam celana dalam ku dan aku sungguh tidak dapat menahan lagi ketika jari Susan memasuki lubang vaginaku yang sudah semakin basah.

Aku mendesah tidak karuan.

ÔÇ£Mam….ma…udah mau nyam….pe……ÔÇØsuaraku berakhir dengan keluarnya cairan kewanitaanku. Tubuhku menegang, hampir saja aku terjatuh, namun kedua gadis
itu menopang tubuhku.

ÔÇ£Gimana Ma, enakkan…?ÔÇØtanya Susan dari belakangku.

Aku hanya mengangguk sambil menoleh, kemudian ku rasakan bibiku di pagut dengan mesra oleh Susan.

ÔÇ£Ayo ke ranjang ajaÔÇØAjak Marni.

Aku seperti terhipnotis mengikuti saja kemauan kedua gadis itu. Aku tidak tahu sejak kapan keduanya sudah telanjang bulat. Tinggal aku sendiri masih mengenakan celana dalam yang sangat basah ini. Kedua gadis itu kemudian berciuman bagai sepasang kekasih, mereka saling raba, saling meremas. Aku malah bengong di pinggiran ranjang.

ÔÇ£Loh Ma kok malah bengong?ÔÇØtanya Marni.

ÔÇ£Celana dalamnya di lepas juga dong Ma, udah basah gitu.ÔÇØkata Susan.

Kemudian keduanya saling memainkan jari di lubang vagina mereka bergantian.

ÔÇ£Aduh…S.ssss….San jangan dal….amm…..dalam Mar…..ni…..mass……perawan….ÔÇØKata Marni sambil mendesah merasakan jari-jari Susan semakin dalam.

ÔÇ£Aw…….en….ank Mar……………ÔÇØku lihat Susan menikmati permainan jari Marni di dalam lubang vagina Susan.
Sesaat kemudian tubuh kedua gadis itu menegang.

ÔÇ£Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………………. …ÔÇØdesahan panjang bersamaan terdengar dari kedua gadis itu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

ÔÇ£Ayo dong Ma…gabung……masa cuma lihat ajaÔÇØkata Marni lirih masih menikmati sisa orgasmenya.

ÔÇ£Ayo Mah…ÔÇØSusan sambil menarik tanganku.

Kini aku berada ditengah-tengah kedua gadis yang baru saja merasakan orgasme. Ku pehatikan wajah sayu mereka. Mereka berdua benar-benar dilanda birahi.
Memang ternyata aku sadari payudaraku memang yang paling besar, Marni ukurannya 32D aku pernah mengukurnya saat membelikannya baju dan lagi aku juga pernah terlibat permainan dengannya, Susan aku taksir berukuran 34C.

Aku berciuman bergantian dengan Marni dan Susan, tangan kami saling raba dan saling meremas. Sungguh sebuah permainan yang sungguh baru sekali ini ku rasakan, aku berada di antara dua perawan yang sudah di mabuk birahi.

Entah siapa yang mulai, mulutku kini sedang emncumbui vagina Susan. Sementara Susan mencumbui vagina Marni, marni sendiri mencumbui vaginaku. Sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan, aku membayangan seandainya suamiku melihat kami bertiga dalam keadaan seperti ini aku yakin, dia tidak akan mampu menahan diri. Kami bertiga bagai mesin pencari nafsu, kamar Marni sekarang menjadi medan pertempuran birahi antara tiga wanita. Aku colok vagina Susan dengan jariku, Susan merintih tertahan karena mulutnya masih beradu dengan vagina Marni.

ÔÇ£Nghh…..ÔÇØdesah Susan.

ÔÇ£Agh…..ÔÇØaku pun mendesah ketika jari Marni semakin dalam di dalam vaginaku, bahkan Marni sesekali mengocok jarinya di dalam vaginaku.

ÔÇ£Ah….Sssss…..ÔÇØaku mendesah sambil memainkan lubang vagina Susan.

ÔÇ£Asss……enyak San…..ÔÇØdesah Marni.

Desahan demi desahan bergantian memenuhi ruangan kamar itu. Tidak lama kemudian ku rasakan kedua paha Susan menekan kepalaku. Sepertinya Susan sudah hampir mendapat orgasmenya. Aku pun juga hampir sampai. Dalam hitungan detik aku mendesah, disusul dengan desahan Susan dan juga Marni.

ÔÇ£Ah……………………..ÔÇØkami mengejan bersamaan disertai dengan desahan yang bersamaan pula.

Hari sudah semakin malam. Nampak di luar semakin gelap. Aku baru sadar kalau jendela kamar Marni terbuka tanpa penutup tirai. Untung saja pagar rumah kami
cukup tinggi sehingga orang yang lewat di jalan samping rumah kami tidak akan dapat melihat ke dalam rumah.

Kami bertiga, sama-sama lemas menikmati momen yang baru saja kami rasakan. Ku lirik jam di dinding kamar Marni. Jam 18.30. Cukup lama juga kami bermain hampir 1 setengah jam.

ÔÇ£Makasih yah Ma…ÔÇØkata Marni.

ÔÇ£Thanks Mam.ÔÇØkata Susan sambil mengecup bibirku yang masih menyisakan cairan kewanitaan Susan.

Aku pun tersenyum puas. Ini adalah pengalaman tak terlupakan sepanjang perjalanan seks dalam hidupku. Selain suamiku kedua gadis ini bisa memuaskanku juga, aku sampai 2 kali orgasme. Permainan tanpa penetrasi penis seorang lelaki.

ÔÇ£Mar, San…ÔÇØaku membuka pembicaraan.

Mereka berdua menatapku lekat-lekat.

ÔÇ£Apakah kalian mencintai Papa.ÔÇØtanyaku meyakinkan diri untuk membagi suamiku dengan mereka.

ÔÇ£Marni cinta Papa, Mah….ÔÇØkata Marni penuh keyakinan.

ÔÇ£Susan juga Mam…ÔÇØkata Susan.

ÔÇ£Mama ingin buat sebuah keputusan Mama harap kalian mau menerimanya.ÔÇØkataku.

ÔÇ£Marni ikut kemauan Mama saja.ÔÇØkata Marni.

ÔÇ£Terserah Mama baiknya gimana.ÔÇØkata Susan lebih dewasa dari Marni.

ÔÇ£Begini, karena sekarang kita bertiga sudah slaing tahu rahasia masing-masing, ditambah pula semua rahasia Papa kita bertiga tahu. Mama, sudah memutuskan
untuk membagi Papa dengan kalian.ÔÇØkataku penuh kesabaran.

ÔÇ£Mama yakin?ÔÇØtanya Marni

ÔÇ£Mama serius Mar.ÔÇØjawabku.

ÔÇ£Mama tidak bercandakan?ÔÇØtanya Susan.

ÔÇ£Ya enggaklah Sayang.ÔÇØjawabku.

ÔÇ£Sayang Mama.ÔÇØkata Susan kemudian memelukku.

ÔÇ£Marni juga sayang Mama.ÔÇØsambil ikut memelukku.

Kami berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang. Entah berapa lama kami tertidur. Aku terbangun ketika ku dengar suara ketukan di pintu kamar Marni.

ÔÇ£Tok…tok….tok….ÔÇØ

ÔÇ£Ndoro, Marni sudah waktunya makan malam.ÔÇØjelas itu suara Mbok Imah.

ÔÇ£Iya, Mbok bentar.ÔÇØkataku.

Aku yakin Mbok Imah tidak akan memasalahkan aku berada di kamar Marni karena lumrahlah jika seorang Ibu angkat akrab dengan anak angkatnya. Mungkin yang tidak diketahui Mbok Imah apa yang kami lakukan di dalam kamar ditambah dengan adanya Susan juga.

Aku baru ingat, aku mengunci suamiku di dalam kamar dari tadi sore. Kelaparan tidak yah, aku rasa tidak aku masih menyisakan sandwich di kulkas kecil dikamar. Biar sajalah itung-itung hukuman buat suamiku yang nakal itu.

ÔÇ£Ayo bangun udah waktunya, makan malam.ÔÇØ

Kedua gadis itu kemudian terbangun dari tidur mereka. Wajah mereka nampak sedikit kelelahan.

ÔÇ£Capek Mam…ÔÇØkata Susan.

ÔÇ£Yuk Mandi dulu terus makan.ÔÇØajakku.

Kami bertiga akhirnya Mandi bersama dalam kamar mandi kamar Marni yang sebenarnya tidak muat untuk kami bertiga, alhasil tubuh kami saling berhimpitan,
saling bergesekan.

ÔÇ£Udah ah Mama gak mau lagi. Mama mau main sama Papa aja.ÔÇØkataku sambil ke luar kamar mandi meninggalkan Marni dan Susan yang tengah asyik bercumbu.

ÔÇ£Yah Mama curang.ÔÇØkata Marni dan Susan serempak.

Kau keringkan badan basahku dengan handuk lalu ku baju-bajuku. Ketika ku temukan celana dalam dan BH ku rupanya sangat basah, aku tidak mungkin lagi mengenakan celana dalam dan BH ku yang sudah basah itu, bisa-bisa jamuran vaginaku. Kamar Marni tidak terlalu gelap karena cahaya penerangan di luar cukup bisa memberi sedikit penerangan. Segera ku tutup tirai kamar Marni dan ku nyalakan lampu kamar Marni. Aku pun segera mengenakan rok spanku dan memakai t-shirt warna pink dari Marni. Sesaat kemudian Marni dan Susan keluar kamar mandi berbalut handuk.

ÔÇ£Ma…Marni ikut dong main sama Papa.ÔÇØrengek Marni.

ÔÇ£Hmmm…..gimana yah, papa kan punya Mama…ÔÇØkataku sambil tersenyum.

ÔÇ£Yah Mama tadi bilangnya mau bagi Papa sama kita.ÔÇØkata Marni sewot.

ÔÇ£Iya nih Mama gimana sih. Susan ikutan juga dong.ÔÇØkata Susan.

ÔÇ£Memang kalian gak capek?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Capek sih Mam…tapikan….ÔÇØkata Susan terpotong.

ÔÇ£Tapi apa?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Susan kangen burungnya Papa?ÔÇØkata Susan dengan wajah memerah.

ÔÇ£Ih Susan cuma kangen sama burungnya Papa.ÔÇØkata Marni meledek.

ÔÇ£Susan kangen sama Papa apa burungnya sih?ÔÇØtanyaku menggoda Susan.

ÔÇ£Dua-duanya.ÔÇØKata Susan dengan wajah memerah.

ÔÇ£Marni juga, Marni juga.ÔÇØMarni tidak mau kalah.

ÔÇ£Gampanglah yang penting kita makan dulu.ÔÇØajakku.

Mereka berdua kemudian berpakaian dan akhirnya kami bertiga makan ditemani Mbok Imah di ruang makan. Sedangkan suamiku ku biarkan dalam kamar untung saja Mbok Imah tidak menanyakannya.

ÔÇ£Mbok Imah gak makan?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Sudah Ndoro, daritadi saya nungguin Ndoro dan yang lain karena keburu lapar Simbok makan dulu.ÔÇØkata Mbok Imah, aku tidak masalah dengan itu lagipula memang biasanya juga kalau kami belum datang ku suruh Mbok Imah makan dulu.

ÔÇ£Oh iya Mbok ini sepupu Papa, Susan.ÔÇØkataku memperkenalkan Susan.

ÔÇ£Saya sudah kenalan tadi Ndoro.ÔÇØkata Mbok Imah.

ÔÇ£Oh sudah saling kenal ya sudah.ÔÇØkataku.

ÔÇ£Simbok ke belakang dulu Ndoro.ÔÇØMbok Imah kemudian mengundurkan diri dari ruang makan.

ÔÇ£Jadi gimana Mam….Susan ikut yah?ÔÇØtanya Susan.

ÔÇ£Ikut apaan sih?ÔÇØkataku pura-pura lupa.

ÔÇ£Itu Mam, main sama Papa. Susan udah lama nih gak ngerasain itu lagi.ÔÇØkata Susan.

Marni menatap dengan pandangan mata elang ke arah kami.

ÔÇ£Pokoknya kalau Mama sama Susan main sama Papa, Marni ikut.ÔÇØkata Marni penuh emosi.

ÔÇ£Iya tapi apa kalian tidak capek?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Kalau masalah itu tenang aja Mam. Susan ada solusinya. Bentar yah.ÔÇØ Susan kemudian meninggalkan kami berdua.

ÔÇ£Mau kemana sih, Susan.ÔÇØtanya Marni. Aku hanya mengangkat bahuku kemudian melanjutkan makanku.

Selang beberapa menit kemudian Susan kembali dengan membawa 4 botol seukuran You C bertuliskan Cina. Sebuah berlabel merah, 3 lainnya berwarna biru.

ÔÇ£Apaan itu San?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Ini Susan dapet dari teman kuliah Susan yang kuliah di Aussie, anak Hong Kong. Ini obat penambah stamina seks.ÔÇØkata Susan.

ÔÇ£Hah?ÔÇØaku dan Marni terperanjat.

ÔÇ£Kayak gak pernah denger aja. Gini-gini Susan gaul tahu. Masa yaiya sarjana lulusan Ausie ketinggalan info.ÔÇØkata Marni.

ÔÇ£Mah, Susan niat banget tuh Mah, pengen sama Papa.ÔÇØkata Marni menyindir.

ÔÇ£Kamu mau gak?ÔÇØtanya Susan ke Marni.

ÔÇ£Ya mau.ÔÇØkata Marni.

ÔÇ£Nah, Susan jelasin dulu. Ini yang merah buat laki yang biru buat yang wanita. Berhubung kita bertiga jadi pas satu-satu.ÔÇØkata Susan.

ÔÇ£San, kamu kok kepikiran sih?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Enggak sih Mam, Cuma temen Susan itu pacarnya bule nafsunya gede. Jadi dia cerita gimana cara ngimbangi cowoknya itu.ÔÇØcerita Susan.

ÔÇ£Susan gak main sama Bule juga?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Gak mau, bule-bule rata-rata Cuma mau nikmati tubuh kita cewek asia terus kabur.ÔÇØcerita Susan.

ÔÇ£Nih, Marni. Mama dan Ini buat Susan.ÔÇØkata Susan sambil membagi-bagi ketiga botol berwarna biru.

ÔÇ£Aman gak nih San?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Aman kok Mam, gak bikin ketagihan.ÔÇØkata Susan.

ÔÇ£Tapi reaksinya setengah jam setelah diminum lho.ÔÇØSusan menambahkan.

ÔÇ£Trus yang merah diapaain San?ÔÇØtanya Marni.

ÔÇ£Kasihin Papa aja deh. Kata temen Susan cowok yang minum ini bisa tahan seharian.ÔÇØjelas Susan.

ÔÇ£Serius San?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Serius Mam…ÔÇØkata Susan.

ÔÇ£Mama pikir Papa gak usah dikasih deh San, gak minum kayak gitu aja Papa kuat 2 jam lho.ÔÇØaku menjelaskan.

ÔÇ£Yah Mama, sekarangkan ada tiga orang lawan Papa.ÔÇØkata Susan.

ÔÇ£Lagian kan besok libur, Susan juga udah cukup istirahat tadi.ÔÇØtambah Susan.

ÔÇ£Iya Mah, Marni pengen ngerasain punya Papa lagi….ÔÇØtandas Marni.

ÔÇ£Kalian berdua kan masih perawan? Yakin pengen?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Iya Mam, apa sih yang gak buat Papa.ÔÇØKata Susan.

ÔÇ£Marni relain semua buat Papa.ÔÇØkata Marni

ÔÇ£Ya sudah ya Mama gak tanggung jawab kalau kalian ketagihan. Ya sudah Mana.ÔÇØaku ambil botol itu dan kemudian ku berikan kepada suamiku di dalam kamar.
Setelah yakin diminum oleh suamiku aku kunci lagi dia di dalam kamar.

ÔÇ£Sudah, Mama berikan ke Papa, San.ÔÇØkataku kepada Susan.

ÔÇ£Terus gimana Mah?ÔÇØtanya Marni.

ÔÇ£Ya kita tunggu aja setengah jam lagi.ÔÇØkataku.

ÔÇ£Oh iya Mam, Susan lupa kalau buat cowok itu, reaksinya agak cepet, diminum langsung reaksi.ÔÇØjelas Susan.

ÔÇ£Eh, serius? Pantes Papa langsung gelisah. Biar saja deh biar Papa menderita dulu hahahaha…..Ayo punya kita minum. Lagian Papa udah Mama suruh
Mandi.ÔÇØkami pun menenggak obat penambah stamina itu. Malam ini, kami akan menghabiskan malam dengan bercinta.

ÔÇ£Ayo ke kamar Mama.ÔÇØ

POV: Papa

Preview Last Episode

ÔÇ£Papa kok main sendiri?ÔÇØsuara Istriku terdengar di telingaku.

ÔÇ£Mama…..ah Mama kok genit sih…..ÔÇØkataku. Aku mencoba menebak.

Ku coba melepas tangan itu, namun ku dengar Istriku berkata.

ÔÇ£Eit..tunggu dulu.ÔÇØsuara Istriku.

Kemudian ku rasakan ada yang menjamah penisku. Ku pikir-pikir lagi bagaimana bisa mataku di tutup dengan dua tangan. Kalau yang menutup mataku adalah istriku lalu siapa yang memegang penisku? Aku berspekulasi……

ÔÇ£Ini makan malam istimewa buat Papa…..ÔÇØ

Istriku benar-benar memberikan sesuatu yang sangat mengejutkan, aku tahu pasti dia tidak sendirian di dalam kamar mandi ini. Aku mencoba menebak, Marni atau Susan. Aku benar-benar penasaran. Penisku sudah menegang sangat keras daritadi apalagi setelah ku minum, sebotol minuman dari istriku entah apa. Apalagi ditambah dengan kocokan halus di batang penisku. Rasanya sungguh-sungguh nikmat.

ÔÇ£Sekarang Papa boleh buka mata Papa!ÔÇØsuara Istriku Revita memberi perintah.

Tangan yang tadinya menutup mataku pun akhirnya di lepas dan alangkah terkejutnya aku, ternyata Istriku sudah berada di depanku hanya memakai kaos bertuliskan Touch Me di bagian dada, puting susunya nampak menonjol, kelihatan sekali puting susu itu mengeras ditambah dengan vaginanya yang sepertinya sudah basah.

Marni, rupanya Marni sudah telanjang bulat sedang mengocok penisku di pinggiran bathup. Aku semakin terkejut ketika
menolehkan kepalaku ke belakang. Susan! Bagaimana bisa mereka bertiga ada disini. Tidak habis pikirku.

ÔÇ£Ini rencana Mama, PaÔÇØKata Marni kemudian mencaplok penisku.

ÔÇ£Ah…ÔÇØaku mengerang kaget mendapat serangan mendadak.

Susan yang ada di belakangku pun tidak mau ketinggalan segera saja dia menjilati daun telingaku. Geli dan merinding seluruh urat syaraf di tubuhku. Revita sendiri belum ikut bergabung dengan kami, bayangannya menghilang dari depan mataku. Sambil ku nikmati permainan kedua gadis itu, aku mencari-cari Revita Istriku, namun sosoknya ternyata memang tidak ada di ruangan itu.

Marni semakin asyik dengan permainan mulutnya di batang penisku yang pangkalnya masih tenggelam di dalam air. Sementara Susan telah beradu mulut denganku, tangan Susan mengelus-elus dadaku gemricik air menjadi saksi kemesuman kami bertiga. Kemana Revita, apakah dia membiarkan saja suaminya berlaku nakal.

Aku semakin tidak karuan merasakan kenikmatan yang diberikan kedua gadis belia itu. Marni, yang sedang dalam masa pertumbuhan, payudara,pinggang dan pantatnya benar-benar seksi sekali. Susan sepupuku yang dulu ketika kecil belum memiliki payudara sekarang, aku dapat meremas payudara besarnya itu. Sungguh inikah surga dunia.

Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan permainan mereka. Ku rasakan penisku mulai berkedut-kedut aku merasakan spermaku akan segera muntah keluar. Serangan keduanya semakin intens dan gencar membuat pertahananku semakin lemah.

ÔÇ£Ahmm…ÔÇØaku mendesah bersamaan dengan melesatnya spermaku menembak di dalam rongga mulut Marni. Bibir kecil Marni
jelas tidak dapat menampung semua spermaku. Susan yang sudah tahu aku sudah memperoleh tembakan pertamaku segera menghampiri Marni yang masih membiarkan mulutnya berada di ujung penisku, seakan tidak mau menyisakan spermaku terbuang percuma.

Sungguh mengejutkanku Susan tiba-tiba menarik Marni dan mencium bibir Marni. Keduanya berbagi spermaku dengan mulut mereka. Sungguh gila, sungguh eksotis melihat dua bidadari sedang berciuman berbagi makanan, spermaku. Mereka berdua nampak tenggelam dalam birahi. Aku yang menyaksikan itu hanya tertegun dan sesekali menelan ludah. Barukali ini aku melihat secara langsung dua orang gadis dalam keadaaan sama-sama telanjang berciuman dengan mesra dan kini keduanya malah saling raba dan saling gesek.

Payudara Marni dan Susan kini beradu, keduanya sangat menikmati momen itu. Namun, sungguh menjengkelkan seorang laki-laki dengan penis yang mengacung keras dibiarkan begitu saja. Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu kesenangan mereka namun, apa artinya aku sebagai lelaki.

ÔÇ£Ehmm…ÔÇØaku berdehem sambil kemudian bangkit dari bathup dan segera meraih handuk menutupi selangkanganku yang masih membengkak.

Marni dan Susan terkejut keduanya nampak kebingungan, namun tiba-tiba tersenyum. Mereka berdua kemudian mengikutiku ke luar menuju ke kamar. Sebuah surprise lagi ku dapatkan di atas kasur pembaringan, sebuah tubuh indah dibalut dengan lingerie bermotif macan, yang sangat seksi, rupanya Revita benar-benar sudah menyiapkan segalanya. Yang aku tidak habis pikir adalah bagaimana cara dia membawa Marni dan Susan ke dalam permainan ini.

ÔÇ£Eit…Marni, Susan, keringin dulu badan kalian!ÔÇØkata Istriku ketika kedua gadis itu ingin bergabung dengannya.

Revita kemudian mendekat ke arahku yang masih berdiri, bengong menyaksikan betapa liarnya dirinya. Ku pikir istriku benar-benar binal malam ini, aku baru tahu ternyata istriku nakal juga. Padahal selama ini dia yang ku kenal cukup alim dan kalem.

Istriku, berdiri di depanku mengarahkan tangannya ke depan seperti harimau, sambil mengaum-aum lucu. Justru, gairahku semakin meningkat dengan cepat ku terkam tubuhnya dan kami pun langsung terjatuh ke kasur bertindihan, ku tindih tubuh istriku tepat dibawahku. Penisku seakan-akan tergencet, lumayan sakit, namun hanya sesaat. Dengan setengah merangkak ku ciumi wajahnya dengan rakus, sementara tangan istriku sudah bergerak menyingkap handuk yang menyelimuti selangkanganku.

Handuk itu pun sudah terbang entah kemana. Kini aku sepenuhnya telanjang sedang menggumuli tubuh seksi dihadapanku. Revita nampak terengah-engah menghadapi seranganku, entah mengapa aku merasa sangat perkasa malam ini.
Ku rasakan penisku dijamah tangan halus dari belakang. Aku melihat sekilas rupanya Susan dan Marni sedang memperebutkan penisku. Mereka nampak sangat menggairahkan sekali, apalagi dengan balutan busana yang entah kapan mereka pakai. Marni dengan wajah polos cantiknya entah sejak kapan sudah memakai lingerie warna hitam, Susan pun tidak kalah seksi dalam balutan HEM warna putih tanpa pakaian dalam, karena semuanya tercetak jelas disana. Aku tahu pasti itu adalah baju kerjaku.

Aku sungguh-sungguh jadi seorang raja malam ini. Tiga tubuh wanita cantik akan menjadi makan malamku kali ini. Dua diantaranya ku tahu masih perawan. Namun, Revita Istriku bukan wanita sembarangan sekalipun sudah ku tusuk berkali-kali vaginanya memang tetap rapat seperti perawan.
Ku rasakan kini bahkan ketika ku jilati leher Revita, lubang anusku seperti dijilati sesuatu.

ÔÇ£Ah…ÔÇØaku menggelinjang kegelian. Susan sedang mencumbui lubang analku. Tangannya meremas kuat-kuat pantat kekarku dan Marni asyik menyedoti penisku. Aku benar-benar tidak kuasa menghadapi semua ini. Benar-benar, sebuah permainan seks yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Aku benar-benar tidak tahan lagi aku bangkit dari kasur meninggalkan tubuh istriku yang masih terengah-engah sehabis menerima seranganku, lingerienya nampak sudah berantakan. Aku berdiri dengan angkuh menatap ketiga wanita yang sedang dilanda hawa nafsu. Aku merasa mereka seperti lebih liar-lebih panas dan lebih menggairahkan.

Ku tarik badan mungil Marni dalam pelukanku ku ciumi bibir dan lehernya hingga dia merintih-rintih kegelian. Susan memeluk tubuhku dari belakang menempelkan bukit indahnya ke punggungku sembari tangannya mempermainkan batang penisku dari belakang. Aku bagai sandwich diantara dua roti.

Tubuhku seakan-akan hilang keseimbangan hingga hampir saja kami bertiga menjatuhi tubuh istriku Revita yang masih tergeletak di kasur menanti kenikmatan selanjutnya. Istriku rupanya dengan cepat menghindar dan akhirnya kini aku berada diantara ketiga wanita seksi yang siap disetubuhi dengan batang penisku yang keras bagai tugu monas.

Susan yang bersebelahan dengan Istriku kemudian mendapat serangan dari Istriku Revita, untuk kedua kalinya aku melihat lagi. Dua wanita saling bercumbu dan saling merangsang satu sama lain. Aku sendiri tidak mau ketinggalan hanya menonton segera ku raih tubuh Marni dan segera ku lumat bibir Marni, suara desahan Marni semakin menjadi manakala kedua puting susunya ku pelintir keras. Desahan demi desahan semakin mewarnai ruangan itu. Lingerie marni sungguh sangat seksi dan sangat mudah sekali mengakses area-area vital di tubu Marni tanpa melepas ligerie itu. Aku lihat permainan Istriku dan Revita semakin panas, Susan mengangkangi wajah istriku, sementara istriku mencumbui vagina Susan, aku makin bergairah melihat permainan panas mereka. Tubuh Marni ku posisikan merangkak, dari belakang Marni aku jilati permukaan vagina Marni hingga terkadang menyentuh anusnya. Lubang vagina Marni, semakin basah dan menganga seakan-akan minta untuk segera disetubuhi. Ku tepiskan G-string yang masih menyangkut di selangkan Marni, sangat mudah melepas g-string basah itu. Dengan sigap ku posisikan diriku. Susan dan Revita, sempat berhenti sejenak melihatku yang siap menjebol lubang perawan Marni. Ku tempatkan kepala penisku tepat di depan lubang vaginanya, kali ini aku bersiap memetik keperawanan gadis itu.

Susan dan Revita, sempat tertegun namun keduanya kemudian tenggelam lagi dalam cumbuan mereka. Mereka berdua kini saling jilat dan saling hisap. Rintihan demi rintihan semakin riuh, ketika Marni ikut mendesah-desah karena penisku yang semakin menusuk ke dalam lubang vaginanya. Kepala penisku telah terjepit diantara bibir vaginanya, ku dorong lebih dalam dan lebih dalam, ku tarik keluar lagi. Ku tarik ulur penisku dalam vagina Marni yang sudah basah. Meskipun demikian Marni adalah seorang perawan tidak mudah bagi vagina Marni untuk langsung menerima penis besar di dalam vaginanya.

ÔÇ£Ayo Pa…Lakukan Pa…ÔÇØPinta Marni. Aku semakin bersemangat mendengar itu.
ÔÇ£Sak…kit..Pa…ÔÇØjerit Marni ketika ku lesakkan lebih dalam penisku dalam vaginanya.
Nampaknya hal itu, mengganggu Susan dan Revita. Mereka berdua menghampiri kami dan dengan sigap Revita membentangkan bibir vagina Marni lebih lebar. Sementara Susan menyodorkan payudaranya kepada Marni. Penisku pelan-pelan bisa masuk lebih dalam dengan bantuan dari Istriku. Marni, mengurangi rasa sakitnya dengan menghisap puting susu Susan.

ÔÇ£Bless!ÔÇØku hentakkan penisku kuat, jebol sudah pertahanan Marni. Susan menjerit ketika Marni menggigit puting susunya bersamaan dengan amblasnya seluruh batang penisku. Penisku seakan menyentuh hingga ke rahim Marni. Nampak senyum puas di wajah Istriku. Revita kemudian menciumku. Ku balas ciumannya dengan tidka kalah mesra. Tangan kananku meremas payudara Revita dari luar lingerie tipisnya, sambil ku genjot penisku di dalam lubang vagina Marni.

ÔÇ£Ah….ah….ah….ÔÇØMarni mendesah keenakan. Apalagi Susan kini sudah telentang di bawah Marni menghisapi dan mempermainkan payudara Marni.

ÔÇ£Enyak…ÔÇØMarni menceracau.

Tetesan peluh membasahi tubuh kami berempat. Revita masih asyik bercumbu denganku. Susan pun masih asyik memainkan payudara Marni. Ku genjot terus penisku dalam vagina Marni yang sempit itu. Ku rasakan gesekan demi gesekan membuat pinggul Marni semakin liar.

Ku rasakan vagina Marni berdenyut menandakan dia akan segera mencapai klimaks. Aku semakin cepat memacu penisku hingga akhirnya tubuh Marni menegang.

ÔÇ£Ahhhh….ÔÇØdesahan panjang di sertai dengan semburan panas di dalam vagina Marni. Tubuh Marni ambruk ke samping, ku lihat darah bercampur mani Marni berceceran di selangkangan Marni. Untung saja Marni ambruk ke samping, Susan pasti akan tergencet tubuh Marni. Revita yang masih bergelayut padaku segera ku dorong kepalanya tepat jatuh diatas perut Susan. Jadilah perut Susan menjadi bantal. Dalam posisi itu, ku buka lebar paha Revita, ku rentangkan sangat lebar, celana dalam tipis yang dia kenakan aku tarik hingga sobek. Bret!

Revita sempat terkaget. Namun tak lama karena penisku tiba-tiba aku hujamkan sedalam-dalamnya tanpa peringatan. Revita mengerang keenakan, ketika bagai seorang kesetanan ku genjot vaginanya. Marni nampak mengambil nafas ada raut puas diwajahnya. Susan, aku tidakmembiarkan dia nganggur begitu saja. Tubuh telanjang Susan yang kini menjadi bantal bagi Istriku memudahkanku mempermainkan payudaranya yang besar meskipun punya Revita memang paling besar. Ku hisap dan ku jilati payudara Susan. Tangan kananku memainkan klitoris Susan. Sementara tangan kiriku ku gunakan sebagai tumpuan. Pinggulku dan pinggul Revita masih beradu. Cukup lama, bagiku untuk mengalahkan Revita, entah sejak kapan Istriku menjadi begitu kuat.

Hingga lima belas menit kemudian kaki istriku mengapit pinggangku erat dan kurasakan Susan membenamkan kapalaku di dalam dadanya dalam-dalam. Kedua wanita itu mengerang bersamaan.

ÔÇ£Arghh…..ÔÇØRevita menjerit.

ÔÇ£Awh…..ÔÇØSusan menjerit lebih gila. Cairan vaginanya menyemprot keras. Squirting! Baru kali ini ku lihat itu. Mereka berdua nampak puas sekali. Namun, aku masih belum terkalahkan, masih ada satu lubang perawan yang harus ku bobol malam
ini. Susan. Vagina Susan.

ÔÇ£Plop!ÔÇØbunyi suara ketika penisku terlepas dari vagina Revita.
Nampaknya Revita paham dengan maksudku sehingga dia segera beringsut agak menjauh dari Susan ke dekat Marni yang masih meresapi kenikmatan yang baru saja ia rasakan.

Ku tarik kaki jenjang Susan, ku buka kedua paha mulus itu. Vagina Susan yang baru saja klimaks benar-benar membuatku terangsang. Ku cium vagina itu aromanya lebih kuat dibanding terakhir kali ku ingat. Ku mainkan vagina Susan dengan lidahku, begitu liar dan begitu ganas.

Tangan Susan menjambak-jambak rambutku, aku rasa Susan benar-benar menikmati permainan lidahku. Aku cukup puas memainkan vagina Susan dengan lidahku, namun aku tidak akan membiarkan keperawanan Susan terlalu lama.
Aku pun segera menempatkan diriku diantara kedua pahanya, dengan setengah jongkok ku bimbing kepala penisku mencari lubang kenikmatan Susan.

Ku rasakan vagina Susan begitu ketat seperti vagina Marni. Namun, karena vagina Susan sangat basah, aku tidak terlalu kesulitan memasukkan penisku lebih dalam. Ku dorong lebih dalam ketika penisku sudah sepertiganya masuk. Susan nampak menahan nafas ketika ku dorong semakin dalam. Tanpa aba-aba segera ku tusukkan dengan kuat penisku ke dalam vagina Susan, hingga ku rasakan robekan selaput tipis di dalam vagina Susan.

ÔÇ£Argh…Mmm…ÔÇØSusan meraih bibirku ketika ku hujamkan penisku dalam-dalam.
Pelan-pelan ku biarkan Susan mengambil alih, rupanya Susan sudah terangsang hebat. Pinggulnya ia putar-putar sendiri mencari kenikmatan. Aku pun tidak mau membiarkan dia menderita sendiri, segera ku goyangkan pinggulku di dalam vaginanya.

ÔÇ£Plok…plok…plok…ÔÇØsuara pinggul kami beradu sama seperti ketika ku mainkan penisku di dalam vagina Marni dan Revita.

ÔÇ£Ah…ah…ah…ena…nak….Pa…ÔÇØAku dengar Susan memanggilku Papa, pasti kerjaan Revita, biarlah aku semakin bergairah mendapat sambutan itu. Tidak lama kemudian.

ÔÇ£Papa…Su…su…san…nyampe….Ah…..ÔÇØSusan melenguh disertai cairan menyemprot kuat di dalam vaginanya. Panas. Aku merasakan penisku sangat panas, segera ku cabut saja penisku darinya dan cairan kewanitaan Susan menyemprot mukaku. Wajahku basah kuyup.

ÔÇ£Maaf…Pa…ÔÇØkata Susan lirih.
Segera ku raih tubuh Istriku, dan kemudian ku masukkan penisku dalam vaginanya. Revita yang sudah cukup lelah, hanya pasrah saja tubuh seksinya menjadi bulan-bulananku. Hingga 15 menit kemudian ku semburkan spermaku dalam vagina Istriku.

Aku masih tanggung penisku masih sehat berdiri apa yang salah denganku, namun ketiga wanitaku sudah terkapar kelelahan padahal baru satu babak. Aku pikir mereka kehabisan tenaga karena terlalu bersemangat melayaniku. Aku kehausan ku cari minum di kulkas mini kamar namun ternyata airnya habis.

Ah..padahal aku masih ingin merasakan kenikmatan bersama mereka bertiga. Malam sudah agak naik sudah sekitar jam 11 malam, sudah cukup lama rupanya ketiga bidadarku ini, hampir 3 jam rupanya. Biarlah mereka istirahat sebentar, aku pikir tenaga mereka akan segera pulih. Ku tinggalkan sejenak mereka ke lantai satu menuju dapur. Aku malam itu hanya mengenakan boxer, penisku masih sangat keras dan tegang entah mengapa mungkin karena belum menembakkan sperma lagi. Suasana lantai 1 sudah sangat sepi. Jelas saja karena di lantai hanya ada satu orang saja yaitu Mbok Imah yang kini sudah lelap dalam mimpi. Dia tentu saja tidak tahu, cucunya sudah kehilangan keperawanannya di ujung penis tegangku ini.

Ku raih sebotol air dingin dari kulkas dan ku minum.

ÔÇ£Ah segar.ÔÇØaku membatin.

ÔÇ£Tok…tok..tok…tok…ÔÇØpintu ruang depan di ketuk-ketuk dengan kasar.

ÔÇ£Siapa malam-malam begini? Kasar amat sihÔÇØpikirku.

Aku pun segera menuju ke depan dan ku longok melalui jendela. Seorang gadis dengan pakain seksi, tubuhnya terbalut dres hitam tanpa lengan dengan belahan dada yang rendah, mengetuk-ngetuk pintu. Nampaknya wanita itu mabuk.

Ku dengar dia berkata,ÔÇØPa…bukain pintunya cepet!ÔÇØ

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*