Home » Cerita Seks Umum » Ternyata Suamiku Nakal 3

Ternyata Suamiku Nakal 3

Kedua tanganku memegang pinggul Marni bersiap melakukan serangan.

ÔÇ£Ayo Pa….Marni enak……ah….ÔÇØdesah Marni sambil memutar-mutar bokong seksinya.

Aku sudah sangat bernafsu sekali. Seperempat penisku sudah tenggelam di telan vagina Marni. Sementara Marni nungging pasrah dengan kepala ditaruh di bantal dan bokong yang mencuat tinggi siap digempur.

Tiba tiba….

ÔÇ£Papa!ÔÇØ

—-

Point of View: Revita

Malam itu, aku terbangun dari tidurku aku merasa sangat gerah, rasa-rasanya AC di kamarku tidak berfungsi. Suamiku? Semalam usai bercinta dia memelukku tapi sekarang entah dia dimana. Mungkin sedang sibuk di ruang kerjanya pikirku.

Sejenak ku ingat permainan suamiku tadi malam. Ah…puas sekali. Benar-benar tiada duanya. Ku nyalakan lampu di kamar, ku lihat sendiri tubuh telanjangku masih menyisakan banyak bekas cupang kemerah-merahan di payudaraku. Jadi, kepengen lagi. Sepintas ku lihat jam di dinding. Masih jam 01.23.

ÔÇ£Haus.ÔÇØaku membatin segera ku kenakan daster tanpa pakaian dalam. Lagipula satu-satunya pria di rumah ini hanya suamiku saja.

Aku beranjak menuju dapur di lantai 1. Ketika ku ambil air dari kulkas aku mendengar desahan-desahan aneh dari kamar Marni. Seperti suara desahan orang sedang bercinta pikirku. Ku hampiri kamar Marni yang memang tidak jauh dari dapur.

ÔÇ£Aneh.ÔÇØpikirku.

Ku dengar desahan-desahan semakin jelas ketika aku semakin dekat dengan pintu kamar Marni. Ku lihat ada cahaya keluar dari balik daun pintu kamar Marni. Untung saja penerangan kamar Marni jauh lebih terang daripada di luar kamar. Memang kami punya kebiasaan mematikan lampu-lampu utama dan hanya menggunakan
lampu tidur saja.

Pelan-pelan ku dekati pintu itu, agar tidak menimbulkan kekagetan. Astaga, apa ini. Ku lihat Marni sedang menggoyangkan bokongnya nungging.

ÔÇ£Ayo Pa….Marni enak……ah….ÔÇØdesah Marni.

ÔÇ£Papa!ÔÇØ

Suaraku tercekat.

Rupanya laki-laki yang sedang berdiri dibelakang menyetubuhi Marni adalah suamiku sendiri. Aku baru tahu ternyata suamiku nakal. Benar-benar nakal. Selama ini aku memang menutup mata perihal hubungan suamiku dengan wanita-wanita di luar rumah, selama perhatian dan kasih sayangnya tetap dicurahkan kepadaku. Tapi, apa yang ku lihat kini benar-benar menyesakkan. Gadis yang menjadi pelampiasan nafsu suamiku adalah Marni. Gadis yang selama ini ku kenal cukup baik. Apakah dia telah menjadi selingkuhan suamiku. Aku hanya menduga-duga. Entah siapa yang menggoda duluan. Entah, suamiku atau Marni yang memulai. Yang jelas kini ku lihat Marni dalam posisi nungging sementara suamiku dibelakang Marni memegang pinggul Marni. Bersiap-siap melakukan penetrasi lebih dalam.
Aku merasa jengah juga mengintip dari celah pintu yang terbuka. Ingin rasanya ku labrak, namun entah mengapa nyaliku ciut melakukannya. Apa yang bisa ku lakukan kini hanyalah menyaksikan suamiku menyetubuhi Marni.

ÔÇ£Ayo Pa, masukin lebih dalam…ÔÇØMarni merajuk pada Suamiku.

Ku lihat suamiku hanya tersenyum saja. Nampak suamiku memegang batang penisnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memegang pinggul Marni. Pelan-pelan suamiku menggerakkan bokongnya maju, kemudian mundur begitu seterusnya. Berkali-kali, hingga membuat Marni mendesah-desah tidak karuan. Aku yang menyaksikan pemandangan itu menjadi panas dingin. Terasa ada yang meleleh dari vaginaku, ya ampun aku terangsang melihat suamiku selingkuh di depan mataku.

ÔÇ£Ah…enak Pa…ah…shs…ÔÇØMarni mendesah tidak karuan.

Aku sendiri menggosok vaginaku dengan jariku sambil tetap mengintip permainan suamiku dengan Marni.

ÔÇ£Ah..ÔÇØaku mendesah tertahan saat jari-jariku menggesek kelentit vaginaku.

Aku hanya heran kenapa suamiku masih memegangi penisnya. Aku hanya menduga suamiku belum mau menjebol keperawanan Marni. Aku yakin itu. Beberapa menit berlalu. Suamiku mencabut batang penisnya dari vagina Marni, kemudian membalik tubuh Marni telentang.

Ku lihat Suamiku mementangkan kedua kaki Marni lebar-lebar. Sehingga nampak kini vagina tembem Marni begitu merangsang. Aku pun tidak kalah, ku masukkan jari tengahku ke dalam vaginaku sendiri.

ÔÇ£Ah…shsh….ÔÇØaku hanya mendesah tertahan.

Kali ini, ku lihat suamiku sudah berjongkok menempatkan dirinya di antara paha Marni. Penis besar suamiku nampak gagah. Mengangguk-angguk mencari mangsanya. Marni sendiri nampak sudah pasrah.

Suamiku dengan lembut, menggosokkan kepala penisnya di bibir vagina Marni.

ÔÇ£Ssss….ashss….ss.sss….en…anyak….Pa….Sh shshsh…ÔÇØMarni mendesah tak karuan.

Sementara aku semakin kelojotan merasakan sensasi masturbasi sambil mengintip. Apa aku kelainan? Tanyaku sendiri.
Kini bukan hanya gosokan lagi, Papah suamiku mulai mendorong penisnya.

ÔÇ£ClepÔÇØkepala penis suamiku sudah menancap di lubang vagina Marni.

ÔÇ£Egh…ÔÇØSuara Marni tertahan.

Dengan posisi seperti itu, suamiku dengan mudah menggerakkan penisnya maju mundur. Marni sepertinya benar-benar sudah tidak tahan. Kedua kakinya mengapit pinggang suamiku seakan tidak rela melepas penis suamiku dari vaginanya.

ÔÇ£Ssss…sss…ah….ssss…ÔÇØMarni terus mendesah tidak karuan.

Aku semakin banjir dan semakin panas dingin menyaksikan persetubuhan suamiku. Tidak berapa lama aku pun merasakan ada yang akan segera keluar.

ÔÇ£Ah……..ÔÇØaku mendesah lirih merasakan orgasmeku. Gila baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini.

Sementara di dalam kamar ku lihat tubuh Marni menegang. Tangan Marni memeluk erat suamiku. Kedua kaki Marni tampak mencengkram erat pinggul suamiku.

ÔÇ£Ah…..Pa…pa…..ÔÇØMarni mendesah merasakan orgasmenya.

Beberapa saat kemudian, nampak tubuh Marni melemas, kedua kaki yang tadinya mencengkeram erat pinggul suamiku melemas, lepas dari pinggul suamiku.

Sementara disana aku yang sedikit lemas akibat orgasme hasil masturbasiku. Ku lihat jelas penis suamiku masih menegang dan hanya seperempatnya saja yang
tenggelam di dalam kemaluan Marni. Dugaanku benar, suamiku belum berani memerawani Marni. Terbukti dia tidak memasukkan seluruh penis besarnya ke dalam lubang vagina Marni.

Suamiku kemudian mencabut penisnya dari lubang vagina Marni, dengan setengah jongkok ku lihat suamiku mengocok sendiri penisnya dengan tangannya. Tidak beberapa lama suamiku mengangkangi wajah Marni.

ÔÇ£Astaga….ÔÇØBatinku.

Marni menelan penis suamiku, menelan sperma suamiku. Nampak jelas bibir mungil Marni tidak dapat menampung penis besar suamiku. Hanya kepala penis suamiku yang masuk ke dalam mulut Marni. Ku lihat dengan jelas, dari bibir Marni menetes sperma suamiku. Suamiku pun nampak puas. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di samping Marni. Keduanya kemudian berciuman sangat lama dan kemudian tubuh keduanya diam. Ku rasa mereka tertidur.
Aku benar-benar merasa cemburu, marah namun juga bergairah. Ingin rasanya aku melihat persetubuhan itu lagi.

ÔÇ£Ah sudahlah biar saja. Suamiku adalah orang yang bertanggung jawab.ÔÇØpikirku.

Aku segera kembali menuju kamarku, setelah ku bersihkan vaginaku aku beranjak tidur lagi. Jam 3 pagi. Sudah hampir pagi. Aku memejamkan mata dengan sangat sulit namun akhirnya aku pun terlelap.

Ku dengar jam weker di kamarku berdering sangat keras. Aku masih telungkap di kasur, tanganku mencari-cari jam weker tersebut, dapat. Ku matikan alarmnya dan ku lirik jam weker itu. Sudah jam 6 pagi. Aku menggeliatkan badanku, dan ku lihat suamiku sudah ada di sampingku masih tertidur. Kapan dia pindah ya. Ku tatap wajah suamiku dengan masih tiduran di kasur. Sebel, gemas, cemburu, marah rasanya melihat wajah tanpa dosa suamiku ini.Padahal jelas-jelas semalam dia berselingkuh dengan Marni. Bisa-bisanya tidur disebelahku seolah tidak terjadi sesuatu. Dengan gemas ku cubit pipi suamiku.

ÔÇ£Aduduh…..Mam…..ma…mmama….ÔÇØSuamiku mengaduh.

ÔÇ£Sakit Ma!ÔÇØsuamiku terbangun dengan nada kesal.

ÔÇ£Sudah pagi Papa, tuh lihat Matahari udah mau sarapan.ÔÇØaku beralasan.

Sebelum suamiku beranjak ke kamar mandi sempat dia merayuku.

ÔÇ£Mama, semalem luar biasa deh, mau lagi dong.ÔÇØrayu Suamiku.

ÔÇ£Ogah….ÔÇØjawabku.

ÔÇ£Ah mama…ÔÇØSuamiku agak ngambek.

ÔÇ£Minta aja sama yang lain weks…ÔÇØaku ejek suamiku, sengaja menyindir tapi suamiku tetap bersikap biasa.

ÔÇ£Ya sudah deh Papa mandi aja. Huft.ÔÇØsuamiku beranjak ke kamar mandi.

Suamiku nampak ganteng dan gagah dengan baju kebesarannya siap berangkat ke kantor. Sementara aku masih mengeringkan rambut basahku. Hari ini aku ada pembukaan butik lagi di daerah Sudirman.

ÔÇ£Pa, papa sarapan dulu deh.ÔÇØkataku pada suamiku.

ÔÇ£Iya deh Papa turun duluan yah Mah.ÔÇØkata suamiku.

15 menit aku pun turun menuju ruang makan.

ÔÇ£Kok sepi Mbok, Papa sama Marni mana Mbok?ÔÇØtanyaku pada Mbok Imah.

ÔÇ£Tadi habis sarapan terus ke depan Ndoro.ÔÇØJawab Mbok Imah.

Ku pikir Mbok Imah pun tak tahu hubungan cucunya dengan suamiku. Ku sambar segelas susu dan ku habiskan dengan cepat. Aku segera beranjak ke ruang depan. Ku lihat suamiku sedang memangku Marni. Suamiku maupun Marni tidak menyadari keberadaanku karena aku sengaja pelan-pelan mengendap-endap. Aku penasaran sampai dimana hubungan keduanya.

ÔÇ£Gila…ÔÇØpikirku.

Rupanya bukan sebuah pangkuan biasa. Ku lihat rok Marni tersingkap dan penis suamiku berada tepat di vagina Marni. Aku yakin penis itu sudah masuk ke dalam sana. Tidak semuanya memang paling tidak kepalanya saja. Ku lihat Marni mendesah desah dalam pangkuan suamiku. Sungguh pemandangan yang menggairahkan melihat seorang remaja duduk di pangku seorang yang cocok di panggil Om.
Aku tidak akan membiarkan kali ini. Dengan sengaja ku panggil mereka berdua.

ÔÇ£Papa, Marni, cepat berangkat entar telat.ÔÇØkataku.

Aku seakan-akan berjalan dari ruang tengah. Ku lihat suamiku membelakangiku. Marni sendiri membenahi rok seragamnya. Mereka berdua nampak salah tingkah.

ÔÇ£Sudah sana berangkat.ÔÇØAku menyuruh suamiku berangkat.

Aku sendiri sudah siap berangkat ke Butik. Tapi aku masih tidak menyangka suamiku senekat itu.

ÔÇ£Huft….sebel.ÔÇØaku mengumpat sendiri.

Bagaimana tidak di satu sisi aku cemburu. Marah. Kecewa. Namun, di satu sisi aku sangat mencintai suamiku. Sejelek apapun kelakuan dia tetap dia suamiku.

Tidak terasa pembukaan Butik di daerah Sudirman cukup lancar. Jam 2 siang aku sudah sampai di rumah. Aku cukup lelah dan ketika aku hendak menuju kamarku. Mbok Imah mengagetkanku.

ÔÇ£Ndoro!ÔÇØMbok Imah heboh.

ÔÇ£Kenapa sih Mbok?ÔÇØtanyaku kalem.

ÔÇ£Tadi ada cewek yang ngaku anaknya Bapak Sudjarwo datang kesini.ÔÇØcerita Mbok Imah.

ÔÇ£Terus sekarang dimana Mbok?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Simbok suruh istirahat di ruang kerja Ndoro Wijaya. Lha wong kamar Marni di kunci, kamar satunya kuncinya Simbok lupa dimana. Maklum sudah tua Ndoro.ÔÇØ

ÔÇ£Ya sudah ga papa Mbok, dia sepupunya Papa Wijaya kok, adik sepupu. Lagian Papa juga aneh adik Bapaknya dipanggilnya Pak Dhe.ÔÇØceritaku memang suamiku agak aneh memanggil saudara muda Bapaknya Pak Dhe harusnya kan Om atau Pak Lik.

ÔÇ£Oh yawis Ndoro simbok ke belakang lagi.ÔÇØujar Mbok Imah.

Aku segera beranjak ke lantai dua. Ku tengok sebentar ruang kerja suamiku. Ku lihat sesosok gadis remaja seumuran Marni sedang tidur telentang di kasur yang ada di ruang kerja suamiku dia mengenakan rok hitam selutut di padu dengan atasan yang sesuai.

ÔÇ£Cantik.ÔÇØpikirku.

Nampak, nafas gadis itu naik turun beraturan seirama dengan gerakan dadanya. Aku menatap payudaraku sendiri.

ÔÇ£Masih gedean punyaku.ÔÇØ Aku berbangga diri.

Aku kemudian beranjak ke kamarku, beristirahat melepas lelah.

Jam 4 sore, biasanya suamiku sudah pulang dari kantor kadang lebih cepat malah. Bukan makan gaji buta, tapi karena kebanyakan tugas lapangan jadi suamiku
bisa pulang lebih cepat kalau sudah selesai. Aku turun ke bawah, ku lihat suamiku, Marni dan Mbok Imah sedang duduk di meja makan sambil minum es jeruk, mereka bertiga.

Aku sambar Es jeruk suamiku ketika tangan suamiku akan menjangkaunya namun aku lebih cepat. Segera ku tenggak habis es jeruk suamiku.

ÔÇ£Ah…seger.ÔÇØ

ÔÇ£Mama…itukan punya Papa.ÔÇØ

ÔÇ£Eh siapa bilang. Bukannya punyamu punyaku juga dan punyaku tetap punyaku.ÔÇØjawabku.

Marni dan Mbok Imah tertawa saja mendengar ucapanku. Sejenak aku maupun Mbok Imah lupa kalau ada tamu di rumah ini.

ÔÇ£Ma Papa ke atas dulu yah.ÔÇØkata suamiku

ÔÇ£Marni, Bi Imah saya ke atas dulu.ÔÇØsambung suamiku. Jangan heran kadang kami memanggil Mbok Imah dengan Bi Imah tapi lebih sering Mbok Imah sih.

Ketika suamiku sudah menghilang dari pandangan mataku. Aku baru ingat kalau ada tamu di ruang kerja suamiku. Suamiku sendiri lebih sering pulang langsung istirahat di ruang kerjanya.

Segera aku naik ke lantai 2. Aku segera membuka pintu ruang kerjanya. Ku lihat suamiku sedang menggesek-gesekkan penisnya di belahan vagina gadis yang masih terlelap itu.

ÔÇ£Heh Pa, ngapain?ÔÇØtanyaku.

POV: WIJAYA (PAPA)

Ku tatap seorang gadis cantik sedang terbaring telentang dengan rok yang tersingkap hingga ke perut dan mengenakan sebuah dres yang serasi dengan warna rok yang dipakai. Ku kenali wajah gadis itu, Susan sepupuku, anak gadis Pak Dhe Jarwo.

Sudah sangat berbeda dengan terakhir kali aku bertemu dengannya. Kini dia telah tumbuh menjadi gadis cantik yang sangat seksi. Kedua paha Susan benar-benar mulus, ditambah dengan buah dada Susan yang nampak bergerak naik turun mengikuti setiap hembusan nafasnya. Aku masih laki-laki sama seperti yang lain.
Mumpung ada kesempatan, segera ku keluarkan penisku yang telah tegang terangsang melihat kemolekan tubuh Susan. Dengan hati-hati ku sibakkan celana dalam warna hitam Susan dan pelan-pelan ku gesek-gesekkan penisku ke vagina Susan. Namun, belum sempat ku nikmati momen itu.Tiba-tiba…..

ÔÇ£Heh Pa, ngapain?ÔÇØ.

Jantungku seakan copot mendengar suara Istriku dari belakang. Aku tidak tahu harus berkata apa. Kepalang tanggung dan ketahuan. Penisku yang tadinya menegang keras dan sempat ku gesekkan ke bibir vagina Susan sepupuku mendadak lemas. Segera ku masukkan penisku ke dalam celanaku dan ku tutup selangkangan Susan dengan roknya. Dengan kebingungan aku menjawab pertanyaan istriku.

ÔÇ£Eng…enggak Ma. Papa sedang….ÔÇØjawabku gagu.

Susan pun rupanya terbangun mendengar suara berisik atau mungkin karena sudah lama dia tidur. Dengan penuh tanda tanya Susan mengucek matanya dan sempat menggeliat seksi di depanku.

ÔÇ£Hoam….ÔÇØSusan menguap.

Raut wajahnya jelas dipenuhi tenda tanya melihatku dan juga istriku dalam satu ruangan dengannya. Namun, kemudian Susan memelukku erat dan mencium bibirku tepat di depan Istriku. Tiba-tiba, sebuah tangan menarik telingaku dan menyeretku keluar dari ruang kerjaku. Rupanya istriku benar-benar marah.

ÔÇ£Sakit Ma….ÔÇØaku mengaduh kesakitan, namun Revita istriku terus saja menarik daun telinga kananku dan membawaku masuk ke kamar kami.

ÔÇ£Papa! Duduk!ÔÇØperintah Istriku seraya kemudian melepas tangannya dari daun telingaku.

ÔÇ£Apa-apaan kelakuan Papa tadi? Papa jelasin sekarang!ÔÇØ istriku marah-marah sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku shock hingga terduduk di tepian ranjang.

ÔÇ£Bukankah Susan sepupu Papa!ÔÇØIstriku menambahkan.

ÔÇ£Kenapa Pa, kenapa?!ÔÇØIstriku kemudian melipat tangannya memalingkan mukanya seolah tidak mau melihatku lagi.

Aku kebingungan bagaimana aku harus menjelaskan kejadian tadi. Sudah jelas aku tertangkap basah sedang memainkan penisku di belahan vagina Susan. Apalagi
ditambah dengan Susan yang tiba-tiba memagut bibirku. Aku bingung. Aku hanya bisa duduk terdiam menyesali kecerobohanku.

ÔÇ£Pa, kok diem! Mana penjelasan Papa!ÔÇØIstriku menagih penjelasan.

Sekilas ku tatap wajah Istriku, kemudian aku berdiri memandang Istriku kemudian memeluk erat Revita.

ÔÇ£Maafin Papa Mah.ÔÇØ

Istriku mencoba melepaskan diri dari pelukanku.

ÔÇ£Pa, lepasin Mama. Mama mau denger dulu penjelasan Papa!ÔÇØkata Istriku.

Aku masih belum mau melepas pelukanku sekalipun Revita mencoba berkali-kali mendorong tubuhku.

ÔÇ£Tapi Mama janji dulu ya gak bakal ninggalin Papa.ÔÇØkataku.

ÔÇ£Papa……ÔÇØmendadak suara Istriku menjadi lembut seperti biasa.

ÔÇ£Sudah berapa lama kita bersama? Apa pernah Mama menyalahkan Papa? Apa pernah Mama marah? Apa pernah Mama berpikir ninggalin Papa?ÔÇØkata Istriku balik
bertanya padaku.

Aku terkejut mendengar itu. Ku pikir Revita bakal membentak-bentak, marah dan kemudian minta cerai.

ÔÇ£Pah…Mama sebenarnya gak papa kalau memang Papa merasa belum cukup dengan pelayanan Mama, Mama sadar Pa, Mama gak pernah cukup mampu untuk muasin Papa.ÔÇØtambah Revita.

Aku justru semakin mempererat pelukanku.

ÔÇ£Pah, sakit! Peluknya kenceng amat!ÔÇØIstriku mengeluh sakit karena pelukanku.

Pelan-pelan ku longgarkan pelukanku dan kemudian ku lepas tubuh Istriku, namun tangannya tetap aku pegangi. Aku masih takut Revita bakal kabur.

ÔÇ£Jadi, Mama gak marah?ÔÇØtanyaku agak ragu.

ÔÇ£Ya gak lah Pa. Cuma Mama mau tahu kenapa Susan juga Pa? Diakan sepupu Papa!ÔÇØkata Revita Istriku.

ÔÇ£Gimana jelasinnya ya Ma…ÔÇØaku kebingungan sambil menggaruk-garuk kepala.

ÔÇ£Jelasin ke Mama sekarang atau pulangkan saja Mama ke orang tua Mama!ÔÇØKata Istriku dengan nada marah.

ÔÇ£Jangan dong Ma, oke Papa jelasin!ÔÇØ

ÔÇ£Mmmmmm…..ÔÇØaku masih bingung bagaimana menjelaskan.

ÔÇ£Gimana? Ya sudah Mama pulang ke rumah Mama di Bandung!ÔÇØsambil mencoba melepas tangannya dariku.

ÔÇ£Jangan pergi, Papa jelasin sekarang. Jadi, sebenarnya Papa sama Susan udah gituan Ma.ÔÇØ

ÔÇ£Apa?!ÔÇØIstriku kaget.

ÔÇ£Belum selesai Ma.ÔÇØkataku.

ÔÇ£Jadi Papa dan Susan uda pernah petting. Waktu itu, Susan masih umur 12 tahun Ma. Waktu kuliahkan Papa pernah cerita ke Mama kalau Papa tinggal di rumah
Pak Dhe Jarwo di bandung.ÔÇØ

ÔÇ£Terus?ÔÇØIstriku penasaran.

ÔÇ£Ya kan Papa disana selama 3,5 tahun. Selama disana Papa sering telanjang-telanjangan sama Susan.ÔÇØ Ceritaku berputar-putar karena aku memang bingung harus
cerita bagaimana.

ÔÇ£Oh jadi gitu Pa, kelakuan Papa selama ini? Pas waktu kita pacaran juga berarti?ÔÇØtanya Istriku.

ÔÇ£I..i…iya Ma.ÔÇØkataku.

ÔÇ£Lalu kan Pak Dhe Jarwo pindah Ma, sampai akhirnya Papa ketemu dua bulan lalu.ÔÇØtambahku.

Istriku, sendiri kemudian malah tersenyum. Sungguh aneh, baru kali ini aku tahu ada seorang Istri yang menangkap basah suaminya kemudian mendapati suaminya
bermain dengan wanita lain, tapi tidak marah. Malah justru tersenyum. Ada apa dengannya, pikirku.

ÔÇ£Sudah Papa perawani juga Susan?ÔÇØtanya Istriku.

ÔÇ£Ya belumlah Ma, Papa gak tega waktu itukan dia masih kecil.ÔÇØ

ÔÇ£Oh masih kecil. Kalau sekarang apa Papa masih mau merawani dia?ÔÇØtanya Istriku.

ÔÇ£Gak, gak, gaklah Ma, diakan sepupu Papa.ÔÇØjawabku sekenanya. Padahal sebenarnya aku memang ada niat kesana karena memang sekarang Susan benar-benar sudah
cantik, seksi dan menggiurkan, apalagi waktu dia tidur tadi pahanya benar-benar mulus, dadanya besar pas dengan postur tubuh Susan. Jadi keingetin waktu
dia masih umur 13 tahun, vaginanya masih gundul. Sekarang, aku yakin banyak laki-laki yang ingin menjamah tubuh Susan.

ÔÇ£Hayo, Papa bayangin apa? Susan? Atau………………ÔÇØsuara Istriku dipotong dengan sengaja membuat aku penasaran.

ÔÇ£Atau Papa mikirin Marni?ÔÇØsambung Istriku Tidak habis pikir darimana Revita tahu.

Aku menelan ludah. Rupa-rupanya Istriku sudah tahu semua kelakuan nakalku. Harus bagaimana sudah kepalang basah.

ÔÇ£Gaklah Ma, papa lagi mikirin Mama kok. Istriku yang cantik dan seksi.ÔÇØaku coba merayu.

ÔÇ£Halah, dasar laki-laki gombal. Mama sudah lihat sendiri kelakuaan mesum Papa. Mama baru tahu sekarang ternyata suamiku benar-benar nakal.ÔÇØkata Istriku.

ÔÇ£Jadi Papa, apa Papa ada niat memerawani Marni dan Susan?ÔÇØtanya Istriku.

ÔÇ£Niat sih ada Ma. Tapi, resikonya itu, bisa-bisa Papa diceraiin Mama. Papa gak mau.ÔÇØkataku.

ÔÇ£Baiklah Papa, kali ini Papa Mama maafin tapi ada syaratnya.ÔÇØkata Istriku.

ÔÇ£Kok pake syarat segala sih Ma.ÔÇØprotesku.

ÔÇ£Mau gak?ÔÇØtanya Istriku.

ÔÇ£Ya sudah Papa mau.ÔÇØkataku pasrah.

ÔÇ£Pertama, Papa harus nuruti semua kata Mama, gimana Pa?ÔÇØujar Revita, Istriku.

ÔÇ£Iya.ÔÇØjawabku.

ÔÇ£Kedua, Papa harus bilang Mama kalau ada wanita selain Marni dan Susan.ÔÇØ

ÔÇ£Iya Ma.ÔÇØjawabku sedikit lega. Artinya ada sinyal hijau.

ÔÇ£Yang ketiga, malam ini sampai besok pagi, Papa gak boleh keluar dari kamar.ÔÇØ

ÔÇ£Lho lho masa Papa disuruh di dalam kamar sih Ma?ÔÇØ

ÔÇ£Protes?ÔÇØsambil menatap tajam ke arahku.

ÔÇ£Iya iya iya.ÔÇØjawabku pura-pura ketakutan.

ÔÇ£Sekarang lepasin tangan Mama.ÔÇØkata Istriku.

Kemudian tidak lama berselang istriku meninggalkanku di dalam kamar.

ÔÇ£Dah Papa……ÔÇØIstriku melambaikan tangan di depan pintu.

ÔÇ£Cekrek..ÔÇØrupanya pintu kamar dikunci dari luar. Aduh, aku terjebak dalam kamar. Tidak bisa kemana-mana lagi selain melihat tv di dalam kamar. Oh iya HP.

Aku baru kepikiran dengan handphoneku. Ku raba-raba saku celanaku namun hasilnya nihil. Aku kemudian teringat kalau handphonek ketinggalan di ruang kerja.
Aku teringat dengan hasil spy cam waktu aku main dengan Marni tempo hari. Pikiranku galau, takut kalau Revita, membuka handphoneku dan melihat video itu. Tapi, aku justru lebih takut kalau Susan yang membukanya.

Akhirnya aku rebahkan saja tubuhku di ranjang sambil menonton tanyangan TV Syfy. Sedikit aku bisa melupakan kejadian barusan. Namun, sial ternyata dalam adegan film ada adegan kissing yang cukup panas. Dasar laki-laki dimanapun sama. Otakku jadi ngeres, aku kepikiran lagi beberapa tahun silam ketika aku masih nebeng di rumah Pak Dhe Jarwo.

Beberapa tahun lalu, ketika Susan masih berumur 13. Waktu itu, Susan mendapat PR IPA dari gurunya untuk mempejari masalah reproduksi hewan.

ÔÇ£Bang Jay, bantuin Susan dong.ÔÇØSusan memang memanggilku Jay.

ÔÇ£Bantuin apaan sih San?ÔÇØtanyaku, aku sendiri sedang telungkap dalam kamar membaca majalah bisnis hanya berbalut celana kolor,dan kaos oblong tanpa pakaian
dalam.

Aku sendiri sempat melihat Susan yang hanya berbalut rok warna biru dengan tanktop. Baru pulang sekolah pikirku.

ÔÇ£Ini Susan ada PR IPA tentang reproduksi. Tapi Susan gak ngerti nih.ÔÇØkata Susan polos.

ÔÇ£Ya sudah sini.ÔÇØAkhirnya Susan ikut tengkurap disampingku.

ÔÇ£Nih, tadi Susan sempet pinjem buku ke temen Susan.ÔÇØkata Susan sambil menunjukkan sebuah buku bersampul lambang pria dan wanita di depannya.

ÔÇ£Buku apaan tuh San?ÔÇØtanyaku. Langsung ku rebut buku itu dari tangan Susan kemudian ku buka isinya. Astaga ini bukan buku pelajaran SMP tapi buku porno, isinya benar-benar vulgar. Berbagai posisi seks dan juga foto-foto alat kelamin pria dan wanita bertebaran di dalam buku itu.

ÔÇ£Ini namanya penis yang Bang?ÔÇØtanya Susan sambil menunjuk gambar penis di buku.

Aku kaget ketika Susan mengatakan hal tersebut segera aku tutup buku itu.

ÔÇ£Jangan, buku ini bukan buat kamu yang belum cukup umur!ÔÇØaku melarang Susan membuka buku itu.

ÔÇ£Susan udah lihat semua kok.ÔÇØkata Susan polos.

ÔÇ£Biasa aja. Kayak Ayah sama Mama waktu malem-malem kemarin.ÔÇØcerita Susan.

Ini bocah ternyata. Susan kembali merebut buku itu kemudian dia buka buku itu.

ÔÇ£Ini kata Ani, namanya ngentot. Bener gaksih Bang?ÔÇØtanya Susan.

ÔÇ£Waduh, darimana kamu tahu kata macam gitu.?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Dari Ani Bang, Ani malah cerita kalau dia pernah di entot sama papanya lho.ÔÇØucap Susan.ÔÇØ

ÔÇ£Seriusan San?ÔÇØtanyaku.

ÔÇ£Serius sumpehÔÇØkata Susan sambil masih membuka buku itu, yang belakangan aku tahu kalau itu adalah buku Kamasutra.

Aku pun hanya terdiam membayangkan sosok gadis remaja umur 13 tahunan dientot oleh orang berusia setengah abad. Penisku mengeras dibawah sana. Apalagi kini
di sampingku ada sosok bidadari kecil yang cantik, Susan sepupuku.

ÔÇ£Bang Jay, Susan boleh lihat punya abang?ÔÇØ

Aku sempat kaget mendengarnya tapi juga kegirangan.

ÔÇ£Boleh sih tapi lihat aja yah.ÔÇØaku kemudian berbalik badan telentang di ranjang kemudian ku plorotkan celanaku hingga selutut.

ÔÇ£Bang, ini to yang namanya burung.ÔÇØSusan memperhatikan Penisku dengan seksama.

ÔÇ£Kok gede sih?ÔÇØtanya Susan sambil kemudian memegang-megang penisku yang sudah ereksi seratus persen.

ÔÇ£Iya dong, apalagi dipegangin sama gadis secantik Susan.ÔÇØaku merayu Susan.

ÔÇ£Ah Abang bohong, Susan kan masih anak-anak. Tetek Susan aja belum ada.ÔÇØSusan nampak malu.

Aku malah merasa keenakan mendapat rabaan dari gadis kecil seperti Susan. Aku sendiri terus terang waktu itu, aku pacaran dengan Revita pun hanya sebatas
cium pipi. Namun, kini gadis kecil itu malah memegang-megang batang penisku.

Malah kemudian tanganku membimbing tangan Susan mengerakkan tangannya naik turun di batang penisku. Rasanya sungguh nikmat dan enak sekali. Baru kali ini aku merasakan sensasi kocokan tangan seorang gadis.

ÔÇ£Lho abang kok merem melek gitu? Geli yah Bang?ÔÇØSusan bertanya dengan wajah polosnya.

ÔÇ£Iya San, habisnya enak.ÔÇØkataku.

ÔÇ£Masa sih.ÔÇØSusan kemudian malah semakin cepat mengocok penisku dengan tangan mungilnya yang tidak mampu menggenggam penuh batang penisku. Aku semakin
kegelian dan keenakan.

ÔÇ£Udah San, udah Abang gak tahan geli.ÔÇØaku mencoba melepaskan tangan Susan dari batang penisku dan tanpa ku pikir lagi.

ÔÇ£San, emut dong burung Abang, kayak kamu ngemut es krimÔÇØpermintaan yang aneh sebenarnya untuk gadis seusia Susan.

Alangkah senangnya aku ketika Susan mencoba memasukkan kepala penisku ke dalam bibir mungilnya.

ÔÇ£Bang Hak Hisa Massu….kehedean.ÔÇØSusan ngomong tidak jelas karena bibirnya sudah melahap kepala penisku. Jelas saja gak bakal muat Penisku terlalu besar
untuknya.

Enak juga bibir Susan, sensasinya benar-benar membuatku melayang keenakan. Cukup lama Susan mengoral penisku bahkan tanpa ku tahu Susan sangat lihat
mengoral penisku. Entah dia belajar darimana.

ÔÇ£San kok kamu…ah…enaknya.ÔÇØAku semakin keenakan ketika Susan menjilati kedua biji pelerku.

Susan kemudian duduk disampingku yang masih telentang dengan celana terbuka. Penisku nampak mengkilap.

ÔÇ£Susankan pernah bilang lihat Ayah sama Mama. Mama jilati burung Ayah sampai Ayah merem melek gitu BangÔÇØkata Susan polos.

Pikiranku sudah gelap, aku sudah dilanda birahi tanpa banyak kata ku terkam tubuh mungil itu.

ÔÇ£Ah…abang geli….ÔÇØSusan menggeliat ketika lehernya aku ciumi dan aku jilati. Sedangkan tanganku sibuk mengelus-elus sekujur tubuhnya.

Sambil melepas celana yang masih nyangkut dilututku aku telanjangi Susan hingga benar-benar telanjang bulat. Kini di ranjang itu, nampak sosok gadis kecil dan seorang laki-laki dewasa dalam kondisi telanjang. Bedanya aku masih mengenakan kaos oblong. Aku perhatikan Susan yang kini telentang dibawahku, ku pandangi sejenak dan kemudian ku lepas kaosku. Susan nampak bingung dan malu, wajahnya merona. Entah malu atau bernafsu yang jelas penisku sudah mengangguk-angguk mencari pasangan.

Tanpa menunggu lama segera ku sosor bibir mungil Susan. Meskipun aku juga termasuk perjaka, dan minim pengalaman setidaknya pengalaman melihat film porno ku praktekan disini. Susan masih sangat pasif bahkan ketika kumainkan lidahku di dalam mulutnya Susan masih tidak bereaksi. Kaget mungkin, ku lepas pagutanku dan sejenak ku tatap wajahnya sambil membelai-belai rambutnya. Aku setengah merangkat di atas tubuh mungil Susan. Pelan-pelan kini bibirku beralih ke leher Susan. Susan menggeliat-liat kegelian.

ÔÇ£Bang…geli….ÔÇØ

Aku meneruskan permainan lidahku. Aku tidak bodoh dengan meninggalkan cupangan di leher Susan. Untung saja hari ini rumah sepi, hanya ada aku dan Susan
saja.

Ciumanku kemudian ku alihkan ke dadanya yang baru mulai tumbuh. Puting susu Susan masih sangat imut, berwarna merah kecoklatan. Aku hisap puting susu itu bergantian. Reaksi tubuh Susan benar-benar luar biasa.

ÔÇ£Aduh Bang, geli…..enak….ÔÇØ

Aku lihat tubuh Susan tidak saja menggeliat-liat. Tangan Susan meremas rambut kepalaku, bahkan sesekali menjambak rambutku. Sakit memang tapi aku benar-benar menikmatinya. Sesaat ku alihkan lidahku ke bagian dalam paha Susan, kiri dan kanan bergantian. Susan semakin merintih tidak karuan karena kegelian. Ciumanku akhirnya ku arahkan ke vagina mungil Susan yang mash gundul dan polos itu. Ku buka lebar kedua paha Susan hingga vagina Susan yang tadinya nampak hanya sebuah garis kini terlihat ada lubang mungil di dalamnya.

ÔÇ£Ah….abang geli….Sss…..enak…bang….ÔÇØSusan merintih semakin keras ketika lidahku menjilati permukaan vaginanya.
Susan benar-benar telah terhanyut dalam nafsu birahi mendadak kepalaku dibenamkan ke dalam vaginanya hingga aku kesulitan bernafas dan Susan mendesah tubuhnya pun menegang.

ÔÇ£Ahhhhh……………………ÔÇØ

Tiba-tiba ku rasakan cairan asin-asin gurih di lidahku, cairan itu semakin membanjir mau tidak mau ku hisap sekalian cairan itu. Beransgur-angsur tubuh mungil Susan melemah dan tangan Susan juga sudah lepas dari kepalaku. Ku tatap wajah Susan nampak lelah namun cukup puas sangat kelihatan sekali di matanya.
Penisku sendiri masih sangat tegang dan keras. Aku berpikir sejenak apakah harus ku renggut keperawanan Susan. Aku menimbang-nimbang sendiri dalam hati, di satu sisi aku memang ingin sekali merasakan vagina seorang wanita. Apalagi selama ini Revita hanya mengijinkanku untuk menciumnya saja. Tapi, Susan masih kecil, apa muat vaginanya, pikirku.

Aku mendapat ide lain. Ku buka lebar lagi kedua paha Susan. Kemudian ku arahkan kepala penisku tepat ke vagina Susan dan pelan-pelan ku bimbing kepala penisku di belahan bibir vagina Susan.

ÔÇ£Agh…Abang sakit.ÔÇØSusan mengaduh ketika ku tekan penisku di depan liang vaginanya. Beberapa kali ku coba, namun Susan mengaduh kesakitan. Aku bisa memakluminya karena memang penisku cukup besar.

Akhirnya, yang dapat ku lakukan hanyalah menggesek-gesekkan saja kepala penisku di belahan bibir vagina Susan. Ku pikir rasanya akan berbeda. Namun, ternyata rasanya cukup nikmat juga. Beberapa lama masih kegesek-gesekkan penisku di vagina Susan. Susan pun kini sudah dapat menikmatinya juga.

ÔÇ£Asss…sh….ssss…..enak bang…..ÔÇØdesah Susan.

Mendengar Susan mendesah aku coba lagi menekan penisku ke dalam liang senggamanya, kali ini Susan masih diam, bahkan menikmati benda asing di dalam
vaginanya. Walaupun baru kepalanya saja yang masuk penisku seakan-akan diurut oleh dinding ketat vagina Susan. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Ku dorong maju mundur penisku di dalam vagina Susan, rasanya sangat enak sungguh nikmat. Kepala penisku ku dorong semakin dalam, namun tangan Susan mendorong pinggulku.

ÔÇ£Abang jangan dalam-dalam Susan sakit.ÔÇØcegah Susan. Ku rasakan penghalang di dalam lubang vagina Susan.

ÔÇ£Ya sudah kalo gitu segini aja yah.ÔÇØAku sebenarnya tidak tahan tapi aku tidak mungkin menyakiti sepupuku ini. Akhirnya, seks pertamaku dengan Susan ku
lakukan dengan hanya menggesek-gesekkan kepala penisku di liang senggamanya.

ÔÇ£Yah…gitu Bang…enak Susan enak……ÔÇØ

Tidak berapa lama aku pun merasakan ada cairan yang akan keluar dari penisku. Segera ku pegangi penisku dan ku kangkangi Susan.

ÔÇ£Crot…crot…crot…..ÔÇØspermaku tumpah menyemprot muka dan dada Susan sebagian mengenai rambut sebahu Susan.

ÔÇ£Ah…abang apaan nih……bau….ÔÇØSusan mencium aroma sperma di wajahnya.

Aku lemas, dan kemudian berbaring di sampingnya.

ÔÇ£Itu….namanya sperma Sayang.ÔÇØaku menjelaskan.

ÔÇ£Kalo masuk ke dalam sini, kamu bisa hamil.ÔÇØterangku sambil memegang vaginanya.

ÔÇ£Masa sih bang, Susan bisa hamil dong?ÔÇØtanya Susan.

ÔÇ£Ya gak lah kan tadi gak masuk.ÔÇØjelasku.

Kami pun akhirnya tertidur pulas dalam keadaan bugil hingga malam tiba. Untungnya kami terbangun tepat sebelum orang rumah lainnya pulang. Aku dan Susan semenjak kejadian itu, seringkali melakukannya. Hingga akhirnya aku pun lulus kuliah dan diterima kerja di Jakarta. Setelah itu, kami jarang ketemu,
apalagi kemudian Pak Dhe Jarwo pindah rumah. Sudah hampir 10 tahun aku tidak ketemu.
Kenanganku dengan Susan, tiba-tiba buyar ketika pintu kamar itu terbuka.

ÔÇ£Cekretk…ÔÇØ

ÔÇ£Papa….ÔÇØternyata Istriku Revita datang. Anehnya, Revita sudah mengganti bajunya dengan t-shirt bertuliskan touch me, nampak puting susunya tercetak di
t-shirt itu, pasti dia tidak memakai BH. Payudaranya nampak bergoyang-goyang ketika Istriku menghampiriku. Tidak habis pikir bukannya t-shirt itu, aku yang
beli buat Marni. Sudahlah namanya juga keluarga bertukar baju hal wajar pikirku.

ÔÇ£Nih, Papa minum ini.ÔÇØRevita menyodorkan sebotol minuman yang aku tak tahu apa sebenarnya.

ÔÇ£Apaan nih Ma?ÔÇØtanyaku. Ku amati botol itu, tidak ada tulisan latin di situ, tapi sangat jelas aku kenal itu tulisan cina mandarin berwarna merah.

ÔÇ£Sudah minum aja, nanti Papa juga tahu.ÔÇØkata Istriku.

ÔÇ£Papa kan laper nih Ma, masa yaiya malah disuruh minum mana cuma ada sandwich doang di kulkas.ÔÇØaku menggerutu.

ÔÇ£Minum dulu aja. Entar mama kasih makan malam istimewa.ÔÇØkata Istriku.

Aku tenggak habis minuman seukuran botol M150 itu. Rasanya manis agak pahit.

ÔÇ£Apaan sih ini Ma, rasanya aneh gini.ÔÇØaku penasaran. Tubuhku menjadi panas dilanda birahi sesaat setelah ku tenggak minuman itu.

ÔÇ£Papa mandi sana udah malam.ÔÇØkata Revita.

ÔÇ£Nanti Mama nyusul.ÔÇØsambung Istriku sambil kemudian keluar kamar dan lagi-lagi pintu kamar di kunci. Aku pun penasaran juga dengan makan malam istimewa
yang dimaksud istriku.

Aku sempat menatap istriku dari belakang, bokong itu memang masih sama, masih terlihat menggoda di balut rok span warna abu-abu selutut. Ku biarkan Istriku berlalu, namun kini aku kelabakan sendiri penisku rupanya menggembung, semakin mengeras.

Entah apa yang ku pikirkan entah Marni, entah Susan, entah juga Revita. Apalagi ditambah bayangan tentang Susan, Enaknya vaginanya Marni dan Payudara istriku yang menggodaku. Segera aku menuju ke dalam kamar mandi di dalam kamar untuk meredam birahiku yang tiba-tiba meledak-ledak. Ku lepas semua bajuku dan sesaat kemudian aku sudah bertelanjang. Aku melepas penat dan beban pikiranku dengan menceburkan diriku ke dalam bathup. Penisku benar-benar telah menegang sempurna hingga muncul ke permukaan air bath up. Ku pegang dan ku elus-elus penisku sendiri. Tiba-tiba ada yang menutup mataku dari belakang dan ku rasakan gundukan yang sangat familiar menempel di kepalaku begitu kenyal dan empuk tidak salah lagi. Sepasang Payudara. Tapi, aku yakin sekali ini bukan payudara Istriku, aku hanya berspekulasi. Aku tahu persis payudara Istriku ukuran dan juga bentuknya.

ÔÇ£Papa kok main sendiri?ÔÇØsuara Istriku terdengar di telingaku.

ÔÇ£Mama…..ah Mama kok genit sih…..ÔÇØkataku. Aku mencoba menebak.

Ku coba melepas tangan itu, namun ku dengar Istriku berkata.

ÔÇ£Eit..tunggu dulu.ÔÇØsuara Istriku.

Kemudian ku rasakan ada yang menjamah penisku. Ku pikir-pikir lagi bagaimana bisa mataku di tutup dengan dua tangan. Kalau yang menutup mataku adalah
istriku lalu siapa yang memegang penisku? Aku berspekulasi……

ÔÇ£Ini makan malam istimewa buat Papa…..ÔÇØ

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*