Ce Mimi

Ini kisah awal mula aku mengenal sex.
Dan pertama kali aku mengenalnya dari kakak perempuanku yang biasa dalam kesehariannya kupanggil ce Mimi.

Sedikit tentang latar belakang keluarga ku.
Aku berasal dari keluarga chinese keturunan.
Namaku Jonathan. Biasa dipanggil Jo.
Tinggi 170cm dengan perawakan sedang sedikit kurus dengan rambut agak panjang seperti kebanyakan anak-anak muda awal tahun 2000an yang mengidolakan “Meteor Garden.”
Wajah biasa-biasa saja. Kulit tubuhku sawo matang, tidak putih atau kuning seperti orang-orang chinese kebanyakan.

Ceceku bernama Michele. Biasa ku panggil ce Mimi. Berkulit putih. Sangat putih malah. Tinggi 160 cm dengan berat badan seimbang, rambut yang lurus sedikit melewati bahu, tapi bermata belo.
Dada sedang membulat dan pinggul yang kecil tapi membusung.
Boleh dibilang ce Mimi ku ini cantik, sexy, dan imut. Kalau jaman sekarang mungkin bisa dibilang mirip seperti para personil jkt48.

Aku adalah siswa kelas 3 sma di Tangerang. Baru berumur 17 tahun. Sementara cece ku sudah berumur 20 tahun. Mahasiswi sebuah universitas swasta dijakarta sambil bekerja. Keseharian nya ce Mimi tinggal di rumah kost dekat dengan tempat kerjanya di daerah Mangga Besar. Pusat kehidupan malam daerah Jakarta barat.

Cerita petualangan dugem ku bersama ce Mimi berawal pada suatu hari minggu subuh.

Saat itu para ‘clubbers’ berhamburan keluar dari salah satu diskotik terbaru dan terbesar didaerah mangga besar karena sudah waktunya tutup.
Aku berjalan menuju motorku ditempat parkir saat melihat ada keributan antara seorang pria dengan perempuan.
Awalnya aku tidak begitu tertarik untuk memperhatikannya, namun ketika aku dan kawan-kawanku melewati lebih dekat, salah satu kawan dekatku David berucap,

“Cece lu tuh Jo!”

Aku terkejut dalam hati, lalu segera mendekati keributan tersebut.

“Cece..!!” Teriakku tertahan sambil berusaha mendorong seorang laki-laki setengah baya menjauhi tubuh cece ku yang terduduk ditangga jalanan.

“Cece ngapain ada disini, cece gak apa-apa kan?” Kuangkat tubuh ceceku untuk berdiri.

Sementara 3 orang kawanku menghalau dan mengusir laki-laki yang tadi bersama ceceku.

“Eh lu Jo…koq lu ada disini sih?” Gua gak apa-apa. Itu aja ada cowo rese tuh maksa-maksa gua pergi ama dia.” Ceceku mulai berdiri walau masih sempoyongan.

Kupapah ceceku dan kubawa ia duduk kedekat salah satu warung rokok dekat parkiran dan kuberi ia minum.
Tampak laki-laki yang tadi bersama ceceku sudah pergi. Mungkin ia tidak mau mencari keributan dengan kami berempat.

Cece duduk dan meminum air mineral yang kuberikan perlahan. Tampak ia berusaha menenangkan dirinya. Tangan dan tubuhnya masih bergetar pelan dan nafasnya masih terengah.
Aku pamit kepada kawan-kawanku. Aku bilang kemereka kalau mungkin aku harus menunggu dan mengantar pulang ceceku langsung kerumahku. Tidak mungkin aku meninggalkan cece dalam keadaan seprti ini sendiri. Mereka bisa pulang duluan.
Teman-temanku mengerti.
Setelah basa-basi pamit mereka pun pergi meninggalkan kami.

Setelah teman-temanku pergi kududuk disebelah ce Mimi.

“Kamu sering yah kediskotik?” Ceceku memulai pembicaraan.

“Gak juga. Baru beberapa kali. Sejak mulai masuk kelas 3 saja.” Jawabku pelan. “Cece sendiri?”

“Gua juga baru. Paling baru 3 atau 4 kali saja dengan sekarang. Baru tau tempat ini juga.” Jawabnya sambil kembali meneguk air mineralnya.

“Ooo…Biasa memang pergi sama siapa, sendirian aja?” Tanya ku lagi.

“Gak lah. Gila kali lu. Tadi sebenarnya cece pergi sama kawan satu kost. Perginya juga gak niat, sampe sini udah hampir jam 3an. Karena lagi suntuk aja dikostan. Rencana cuma mau santai aja, eh gak taunya didalam kenalan ama dua orang om-om tuh kasih kita “I” dan ngajak joget bareng. Yah udah kita sih layanin aja.
Ehh..gak taunya tadi pas diskotik tutup dia maksa ngajak cece lanjut check in. Memang dia anggap cece cewe apaan kali. Hadeuh…mana temen cece ilang juga nih. Gak tau kemana, dari tadi coba ditelp gak diangkat-angkat. Rese…!!”

“Ya udah, untung cece gak kenapa-napa. Sekarang kita pulang aja yuk. Jo anter cece deh ke kost.” Kataku sambil beranjak bangun.

Ce Mimi mengikutiku berjalan ke area parkir motor.

“Ehh Jo…gua…gua..” Ce Mimi seperti tampak ragu ketika aku memberikan helm kepadanya.

“Ada apa lagi?” Tanyaku sambil memakai jaketku.

“Gua…gua masih kenceng nih Jo.”

Ku perhatikan ce Mimi. Memang tampak tubuhnya seperti bergetar pelan dan matanya tidak bisa fokus, kesana kemari.

“Waduhh..terus cece mau bagaimana?” Tanyaku khawatir juga.

“Yah gak tau. Yang pasti kalau sampai dikost gua bakal menderita deh kalo begini. Mana diskotik sudah pada tutup lagi yah jam segini.” Jawabnya tampak kebingungan.

Kutermenung sejenak. Kuamati lagi ce Mimi. Saat itu ce Mimi mengenakan pakaian kasual saja, kaos ketat dan rok pendek sedengkul. Dadanya yang sedang namun bulat tampak menantang seperti hendak melompat keluar dibalik kaosnya. Andai saja nih cewe bukan kakakku aku pasti senang banget ada cewe cantik ngajak aku dugem bareng.
Kacau, aku jadi berpikir yang gak-gak.

“Ada sih sebenarnya diskotik yang masih buka sekarang. Bahkan lanjut buka sampai senin pagi. Tapi tempatnya jelek dan kumuh.” Jawabku tak bersemangat.
“Tapi kalau gua nemenin cece, ntar cece aja yang enak. Gua bete. Dan gua dah gak punya duit lagi.”

“Hah..beneran ada, jauh gak? Ya udah kita kesana aja yuk. Ntar gua yang bayar deh masuk dan minumnya. Dan masalah “I”, ini gua masih ada. Tadi dikasih 1 baru gua pake 1/4 doank ama itu om.” Jawab ceceku sambil kegirangan.

“Gak jauh koq, Ek***ik di PangJay” kataku.

“Ya udah ayo kita kesana.” Jawabnya lagi semangat sambil segera memakai helm nya.

Sesampainya disana tak seperti dugaanku yang kukira sudah sepi, ternyata didalam masih sangat ramai. Tapi kita beruntung masih mendapatkan meja dipojokan dekat dinding. Orang-orang dijakarta memang haus akan hiburan. Tempat-tempat seperti ini selalu saja ramai tanpa mengenal waktu.

“Gila ini diskotik apa kuburan. Gelap banget gak bisa lihat apa-apa.” Ceceku tampak agak kaget dengan keadaan didalam diskotik ini yang tentunya berbeda jauh dengan diskotik berkelas yang baru saja kita tinggalkan.

“Yah maklum aja ce. Namanya juga diskotik pinggiran bedalah dengan yang tadi. Yang penting kita bisa enjoy deh daripada kentang. Lagian kalau masalah lagu, disini gak kalah lho dengan lagu-lagu disana. Malah kadang lebih semangat beat nya disini.” Jawabku setengah berteriak didekat telinganya.

Memang tempat ini sangat gelap sekali. Wajah orang-orang sudah pasti tidak akan tampak. Kita hanya bisa tau kalau orang itu perempuan atau laki-laki hanya dari perawakannya saja saat lampu disko berkelebat menerangi sekilas.
Kalaupun ada orang yang joget sambil telanjang pun mungkin tidak akan ada orang yang menyadarinya. Entah kenapa dibuat sedemikian rupa. Mungkin biar para pengunjung bisa bebas bermesum ria.

“Yah udah kita enjoy aja. Nih lu pegang semua I nya. Lu ambil aja 1/2. Gua kalau nambah juga paling 1/4 lagi nanti. Lu pesan juga minuman buat kita ntar gua yang bayar, and lu jagain gua yah. Cece lu nih, jangan sampai di grepe-gepe orang nanti.” Jawabnya teriak-teriak kegirangan sambil langsung menggoyangkan badannya kesana kemari mengikuti irama musik. Reaksi “I” memang jelas masih tinggi didalam tubuh ceceku.

Aku tersenyum sambil kemudian membelah dan meminum hanya sebagian kecil saja obat ecstacy yang diberikan ceceku.
Kududuk dibangku bersender ketembok sambil menunggu pesanan air kami datang dan reaksi obat naik didalam tubuhku. Kumencoba menyatu dengan irama house musik yang menyentak jantung sambil mengamati cece yang bergoyang semakin panas.

Gila, cece ku memang hot. Dalam kegelapan aku melihat ia meliuk-liukan tubuhnya.
Dan tampaknya bukan hanya aku saja yang mulai menyadari akan hal itu. Kuperhatikan ada beberapa laki-laki yang dengan bergoyang-goyang perlahan mulai mendekati cece.
Kutarik ce Mimi mendekat dan kuposisikan ia diantara bangku yang kududuki dan meja bulat tempat minuman kami.

“Jangan jauh-jauh jogetnya, nanti gua susah lindungi lu. Lihat tuh cowo-cowo dah mulai pada deket-deket.” Aku berusaha memberi tahu ce Mimi.

Ce Mimi hanya tertawa-tawa saja. Tapi tampak setuju dengan ku. Ia melanjutkan goyangannya didepanku.
Obat didalam tubuhku pun mulai bereaksi. Tubuhku mulai menuntut untuk digerakkan. Aku mulai turun dari tempat dudukku dan mulai menggoyang tubuh mengikuti irama musik mengimbangi goyangan cece didepanku.

Sempitnya tempat ditambah goyangan kita kadang membuat tubuhku dan tubuh cece bersentuhan. Terutama bagian pantat cece yang senantiasa menekan dan menyentuh langsung penisku.
Awalnya aku canggung, tapi seiring bertambah naiknya pengaruh obat dan kurasa kalau cece juga tidak keberatan lama-lama aku menikmatinya juga. Tanganku bahkan kadang sudah berani memegang pinggang atau perutnya. Dan sebagai laki-laki normal sudah tentu penisku pun perlahan mulai naik menegang.

Goyangan kami semakin lama semakin hot. Kita sudah bukan seperti kakak-adik saja. Terkadang cece sengaja merebahkan seluruh tubuhnya bersandar ketubuhku sambil sesekali menengokkan wajahnya jauh kebelakang kearah wajahku sambil memberi senyuman yang menggoda.
Aku semakin tidak kuasa menahan nafsu. Lama-lama tanganku semakin berani. Sekarang tanganku sudah memeluk dan merabai kulit perut cece langsung dari balik kaos. Sementara penisku yang sudah menegang sempurna kutekan dan goyang kuat-kuat dipantatnya.
Ceceku bukan tak sadar dengan apa yang kulakukan pada dirinya. Satu tangannya memegang tanganku yang membelai perutnya. Bukan untuk melarang, tapi hanya memegang saja sambil mengikuti arah gerak tanganku.

Perlahan tetapi pasti tanganku merayap naik diatas kaos merabai mulusnya perut ce Mimi. Ketika telapak tanganku sampai pada bra bagian bawah, tiba-tiba cece membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan. Aku terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. Aku pikir cece akan marah. Tapi dia hanya tersenyum menggodaku.

“Eits…inget yah. Gua ini cece lu.” Katanya dengan gaya menggoda.

Kami kembali tertawa-tawa sambil tetap menggoyang tubuh kami. Tanganku berada dipinggang, sementara selangkanganku menempel rapat dengan selangkangannya.

“Ahh…sory gua gak kuat ce. Abis cece hot banget sih.” Kataku sambil menurunkan tanganku kepinggulnya.

Kuremas-remas pinggul cece yang bulat menggemaskan sambil kutekan-tekan tubuhnya kearahku kuat-kuat. Penisku menggesek-gesek daerah selangkangannya.

Kuperhatian wajah cece sangat merangsang. Kepalanya bergoyang kekanan dan kiri, matanya setengah terpejam, dan mulutnya setengah terbuka seperti menahan erangan dan desahan.
Kurasakan juga cece menggesek dan menekan daerah selangkangannya keras kearah penisku. Mengarahkan agar penisku menggesek daerah yang tepat disana.

Ada sekitar 10 menitan kami terus begitu, bergoyang sambil berusaha memuaskan hasrat birahi kami yang tak sengaja bangkit. Kenikmatan yang kurasakan pada penisku yang menekan-nekan selangkangan cece semakin naik sampai akhirnya aku tak kuat dan mulai berkelojotan.
Aku ejakulasi oleh ceceku. Kurasakan penisku menembakkan isinya berkali-kali. Kutekan-tekan penisku kuat-kuat keselangkangannya sambil kuremas-remas pantat ceceku.

“Ahh…cece…ahh..gua keluar ce…aduhh..!” Erangku berkali-kali didekat telinganya.

Tangan cece memeluk tubuhku erat-erat. Ia menjatuhkan kepalanya kebahu dan menggigit bahuku sampai kumerasakan sakit tapi juga nikmat.
Terdengar sayup erangan lirih dari mulut ce Mimi sambil tubuhnya bergetar.

“Nngg…nngghhh….ahhh…!”

Ia juga sampai!

Kami terdiam sejenak setelah ledakan dahsyat yang keluar dari kelamin kami. Tak ada suara ataupun komentar. Kami hanya berpelukan sambil bergoyang perlahan mengikuti irama musik.

Kami nikmati sisa pagi itu sambil terus bergoyang besama. Kadang kami saling berpelukan. Kadang kami saling menatap sambil saling tersenyum menggoda.
Tak kuperdulikan lagi celana dalamku yang basah oleh spermaku sendiri.

Sekitar pukul 9 pagi tubuh kami mulai melemas. Pengaruh ecstacy perlahan mulai meninggalkan tubuh kami. Dan kami mengalami fase yang dinamakan “Nge-Drop”.
Kami pulang bersama bergandengan tangan ke tempat kost ce Mimi. Bahkan ketika diatas motor, kurasakan tubuh cece yang lemas tertidur sambil memelukku dari belakang.
Sesampainya dikost kami langsung tertidur pulas. Tak tersisa tenaga ditubuh untuk berbuat apa-apa lagi saat itu.

Tempat kost cece memang terbilang bebas walau tidak bebas sekali. Dan kebanyakan penghuni kost cece juga sudah mengenal aku sebagai adiknya. Jadi mereka tidak terlalu mempermasalahkan aku sebagai laki-laki yang tidur dalam kamar ce Mimi.

Aku terbangun ketika hari sudah sore. Badanku masih terasa lemas. Dan perutku lapar sekali.

“Jo…bangun lu. Mandi dulu sana. Bau banget badan lu tuh. Bau rokok segala macam. Udah mandi sana makan dulu, cece beli nasi uduk nih.”

Aku hanya tersenyum memandang cece yang sudah cantik. Ia tampak baru selesai mandi juga. Rambutnya masih basah dan hanya mengenakan pakaian model baby dol. Daster tanpa tangan + celana pendek nya sedengkul.
Kuberanjak kekamar mandi dan membasuh tubuhku.
Selesai mandi aku duduk disebelah cece langsung menyantap nasi uduk yang sudah disediakannya. Hanya dengan memakai celana jeans tanpa kaos. Kaosku yang bau kugantung dan kuangin-angin didekat jendela kamar.
Sambil makan aku mencuri-curi pandang wajah cece yang asyik menyantap makanannya sambil menonton tv. Tampaknya ia tau kalau aku sedang memandangi wajahnya.

“Apa lihat-lihat terus?” Tegurnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.

“Hehehe…gak. Cece cantik banget.” Jawabku cengengesan. “Apalagi tadi malam. Baru tau cece gua ternyata hot juga.”

“Baru sadar lu punya cece cantik yah? Dah sadar terus dimesumin juga lagi. Dasar adek katro.” Kata cece ku.

Matanya masih terus menatap layar tv, seperti tidak berani menatapku langsung. Tapi tampak dipipinya semburat kemerahan tersipu. Dan ia seperti menahan senyum. Tentu sebagai perempuan ia merasa senang juga dipuji dan disanjung oleh laki-laki. Walau laki-laki itu adiknya.

“Eheheh…sory yah ce. Abis semalam cece hot banget. Gua gak kuat deh nahan diri.” Aku hanya bisa cengengesan saja.

“Tapi asli semalam baru pernah gua ngerasain kayak gitu ce. Sampe keluar begitu. Enak banget deh rasanya.” Sambungku lagi.

Cece perlahan menolehkan kepalanya dan memandangku.
“Emang semalam lu enak yah?” Tanyanya.

“Gila, enak banget lah.” Jawabku lagi semangat.

“Lu keluar yah?…Orgasme yah?”

“Ho oh.” Jawabku pendek. “Emang cece gak? Kayaknya cece semalam kelojotan juga deh kayaknya ke enakan.”

“Gak tau gua.” Jawab cece. “Gua belum pernah ngerasain yang namanya orgasme. Tapi memang semalam rasanya enak banget gitu. Kayak ada yang keluar dari dalam vagina gua. Kayak kencing. Tapi bukan kencing.”

“Iya itu nama nya orgasme ce.” Jawabku berusaha menjelaskan. “Baru digesek aja rasanya udah enak gitu yah. Gimana rasanya kalau dimasukin.”

“Huh…!” Cece melempar kepalaku dengan bantal yang berada dipangkuannya.
“Gak boleh lah lu. Kayak gitu mah nanti aja kalau udah merid. Lagian masa lu mau ajak gua begituan, kita kan kakak-adek. Gila kali lu.”

“Yee…siapa juga yang ngajakin cece begituan. Kan gua cuma bilang digesek aja udah enak banget. Bagaimana kalau dimasukin beneran yah.”

Cece hanya tersenyum saja mendengar kata-kataku. Entah apa arti senyumannya. Senyum yang masih menjadi misteri bagiku sampai saat ini ketika ku mengingat saat-saat itu.

Tidak banyak kejadian seru ditempat kost cece ku sore itu. Kami hanya ngobrol dan bercerita tentang kegiatan kami masing-masing sampai kemudian aku pulang kerumah.

Setidaknya aku jadi lebih banyak mengenal tentang cece ku mulai saat itu.
Berdasar cerita dan pengakuan cece, ternyata cece tidak senakal yang aku kira. Sampai saat ini pengalamannya tentang sex tidak begitu banyak. Ia hanya pernah 2x berpacaran.
Dan selama berpacaran paling jauh ia hanya berciuman dan saling meraba tubuh dengan masih dilapisi pakaian saja.
Pengalaman terangsang dan orgasme malah baru pernah ia rasakan semalam dariku, adiknya sendiri.

Yang menggembirakan adalah saat itu kita membuat sebuah kesepakatan.
Kalau ce Mimi hendak pergi dugem dia akan ajak aku sebagai partnernya dan juga untuk menjaganya. Ia percaya setidaknya aku sebagai adik tidak akan berani berbuat terlalu jauh kepadanya. Kalau untuk peluk-pelukan, pegang-pegang, atau bahkan gesek-gesek seperti kejadian semalam ia tidak berkeberatan. Asalkan kita lakukan saat berada dalam diskotik. Kalau didalam tempat yang gelap ce Mimi merasa lebih lepas dan tak merasa bersalah karena ia tidak dapat melihatku jelas sebagai adiknya.
Dan memang kalau “ritual neken” tanpa partner pasti tidak akan seru. Sedangkan mencari laki-laki lain untuk “partner neken” ce Mimi masih belum berani. Itu menurut pendapat cece.
Dan tentu nya semua ini harus kami rahasiakan dari semua orang dan paling penting orang tua kami.
Kesepakatan yang tentu saja sangat aku setujui. Bagaimana tidak, dugem kemungkinan besar dia yang modalin. Tentu saja karena ia sudah bekerja. Dan aku mempunyai kesempatan memeluk dan memegang tubuh cece ku yang sexy dan sangat menggairahkan

Malam minggu berikutnya ce Mimi benar-benar mengajakku dugem kembali.
Saat itu awal bulan, dia baru saja gajian. Ce Mimi dan kawan-kawannya janjian untuk menyewa “couch” atau area “sofa” di diskotik tempat pertama kali kami berjumpa. Diskotik C***N.
Aku pergi berdua dengan cece dari tempat kost dengan memakai mobil kantornya. Cece yang setir karena saat itu aku belum bisa bawa mobil.
Mulai dimobil saja mataku sudah jelalatan melihat penampilan ce Mimi yang benar-benar sexy. Tank top putih dengan tali bahu yang kecil dan celana jeans ketat. Rambutnya digelung tak beraturan.
Kulit mulus ce Mimi dibagian leher, pundak, dan ketiak benar-benar terekspos bebas mengundang untuk diraba dan dikecup.
Berkali-kali ce Mimi mendorong-dorong wajahku untuk tidak terlalu memelototi tubuhnya sambil tertawa-tawa.

Sesampai nya dilokasi kami saling berkenalan, basa-basi dan mulai sibuk dengan “ritual on” kami masing-masing.
Ada 5 pasangan termasuk aku dan cece saat itu dalam area sofa yang kami sewa. Semuanya teman-teman ce Mimi, tidak ada yang aku kenal sebelumnya.
Ada 1 orang kawan ce Mimi yang betul-betul menarik perhatianku. Namanya Thya. Orangnya kecil mungil. Tingginya mungkin hanya sekitar 150cm an, tapi berdada sangat besar dan bulat. Kulitnya sangat putih seperti ce Mimi, tapi wajahnya terkesan nakal. Dan penampilannya saat itu sangat menantang. Entah pakaian apa, semacam dress kemeja ketat tanpa lengan dipadu dengan rok mini.
Ia datang bersama pacarnya yang bernama Roby yang kupanggil ko Roby karena nampak lebih berumur dibandingkan kami semua. Mungkin sekitar 25 tahunan. Sedikit lebih pendek dariku tapi agak gemuk. Perawakannya seperti om-om.

Aku dan ce Mimi duduk di sofa yang paling pojok biar tidak banyak mengalami gangguan. Sementara Roby dan Thya duduk disebelahku.

Ketika pengaruh obat sudah merasuki tubuh, kami semua mulai menggoyang tubuh mengikuti irama musik dengan berbagai macam gaya kami masing-masing.
Ada yang hanya duduk sambil menggoyang-goyangkan kepala, ada yang break-dance, ada yang memperagakan gerakan kungfu, bahkan ada juga yang hanya saling berpelukan erat sambil menghentak-hentakan tubuhnya seperti orang yang sedang bersetubuh.
Ce Mimi menggoyang badannya secara sensual menghadapku disela dua kaki ku yang kubuka sambil duduk disofa. Cece memang tak bisa hanya duduk diam kalau sedang on. Ia lebih senang berdiri dan bebas menggoyang tubuhnya kesana kemari.
Aku hanya bisa tersenyum-senyum saja memandangi dirinya sambil menggoyang-goyangkan kepalaku.

O ya ce Mimi saat itu memperkenalkan aku sebagai pacarnya kepada kawan-kawannya. Menurut pendapat cece biar semua segan dan tidak berani mencuri-curi kesempatan padanya.

Semakin bertambahnya waktu, semua penghuni diakotik semakin terhanyut oleh irama musik. Goyangan ce Mimi pun semakin berani dan liar. Kadang ia dengan sengaja menyentuhkan dadanya kemukaku menggoda nafsu birahi yang mulai bangkit seiring dengan semakin menyatunya pengaruh obat setan kealiran darah kami semua.
Thya yang berjoget dengan Roby disebelah kami seperti tertantang dan tidak mau kalah dengan ce Mimi. Ia melakukan semua yang ce Mimi lakukan padaku kepada Roby pacarnya. Bahkan terkesan lebih berani. Ia kadang naik menduduki pangkuan Roby sambil meliuk-liukan tubuhnya. Aku dan Roby saat itu tampak seperti raja-raja minyak yang digoda oleh tarian-tarian erotis selir-selir yang sexy.
Tampaknya Roby dan Thya pun sadar kalau aku terkadang memperhatikan mereka. Merekapun kadang memperhatikan kami.

“Bro, cewe lu hot banget jogetnya yah.” Tiba-tiba saja Roby berteriak ditelingaku.

“Iya ko. Sama tuh cewe lu juga hot banget.” Aku menjawab seadanya berusaha basa-basi bersikap sopan kepada ko Roby.

Jujur memang aku bernafsu juga melihat body sexy Thya. Tapi kupikir ia kan datang bersama pacarnya, gak mungkin ada kesempatan bagiku untuk berbuat apa-apa dengan dia. Lagian saat ini partnerku adalah cece ku yang tidak kalah cantik dan sexy nya dengan Thya. Dan aku harus menjaganya.

“Kalau mau gantian pasangan jogetnya bilang aja. Gua santai aja bro. Yang penting kita happy!” Kata-kata yang tak kuduga kudengar dari mulut ko Roby.

Kata-kata yang membuat hatiku tergelitik untuk mencobanya. Tapi bagaimana caranya, tidak mungkin aku dengan tiba-tiba switch pasangan begitu saja. Bagaimana juga kalau cece ku tidak setuju. Aku hanya memberikan senyum dan jempolku kearah ko Roby sementara pikiranku semakin dipenuhi imajinasi liar.

Tiba-tiba ce Mimi menarikku untuk berdiri. Ia memutar badannya membelakangiku dan melingkarkan tanganku diperutnya membuat ku memeluknya rapat dari belakang. Cece sudah ingin merasakan gesekan dan tekanan penisku. Kulayani dia. Pikiranku kembali ketubuh sexy cece ku.
Tapi tak beberapa lama saat aku sedang asyik berjoget dan menikmati setiap sentuhan tubuhku pada tubuh cece, aku terasa hendak kencing.
“Damn..” Umpatku dalam hati. “Mengganggu saja.”

Kupamit pada ce Mimi dan berlalu ketoilet.

Setelah menyelesaikan urusanku ditoilet tiba-tiba aku mendapat sebuah ide nakal.
Aku lepas celana dalam dan kukenakan celana jeansku langsung. Celana dalam kumasukan kantong. Kupikir kalau tanpa celana dalam nanti pasti gesekan dan tekanan tubuh cece ku akan semakin lebih terasa dipenisku.
Hehehe…ku kembali ke sofa kami dengan tanduk yang tumbuh keluar diatas kepalaku.

Tapi tampaknya rencanaku harus berubah. Ketika kukembali kudapati ce Mimi sedang asyik berjoget dipeluk dari belakang oleh ko Roby. Sementara Thya memeluk ko Roby dari belakang.
Ko Roby di “Sandwich” oleh 2 orang gadis sexy.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Kupikir aku akan duduk saja joget sendiri dulu.
Untungnya ketika ku mendekat Thya langsung meenghampiri dan memelukku. Tampaknya benar-benar kejadian kita bertukar partner. Ce Mimi hanya mengerlingkan matanya dan tersenyum kearahku. Aku pun mengikuti alur permainan. Kutaruh kedua lenganku ke pinggang Thya dan mulai mengimbanginya bergoyang.
Thya mungkin mengerti kalau aku masih canggung berjoget dengan dia. Dia menunjukkan keagresifannya agar aku lebih rileks.

“Its okay Jo rileks aja. Saat ini gua partner lu. Lu boleh buat apa aja sama gua. Jangan mau kalah ama Roby tuh. Dia aja berani ama cewe lu.”

Aku melirik sekilas kearah Roby dan ce Mimi. Tangan Roby memeluk erat-erat perut ce Mimi dari belakang sambil bergoyang menekan-nekan penisnya kepantat cece. Sementara ce Mimi tampak pasrah melepaskan tubuhnya bergoyang mengikuti Roby.

“Fuck!” Ada sedikit cemburu yang timbul dalam hatiku melihat mereka.

“Apa aja yah.”

“Kalau berani.” Jawab Thya seakan menantangku.

Kuputar tubuh Thya membelakangiku dan kupeluk erat perutnya. Penisku langsung kutempelkan dan kutekan pada pantatnya yang bulat dan besar.

“Mulai berani dia…hihihi…” Thya berbisik ditelingaku sambil menyandarkan tubuhnya ketubuhku.

Kami berdua bergoyang mengikuti musik. Aku memang sudah sangat bernafsu untuk menggesekkan penisku pada pantatnya yang besar dari tadi.
Sampai aku sengaja sedikit menekukkan lututku agar kedudukan penisku tepat kebagian belahan pantat Thya yang memang bertubuh jauh lebih kecil dari tubuhku.

“Koq kerasa banget?” Tiba-tiba Thya berucap seperti kebingungan.

“Lu…gak pake celana dalam yah?” Tanya nya lagi kemudian ketika otaknya mulai tersadar akan keadaan tubuh bawahku yang menempel kepantatnya.

“Hehehe….sstt..!” Kata ku terkekeh-kekeh memandang wajahnya yang menengadah bersandar didadaku.

“Hahaha…nakal lu.” Katanya lagi tertawa-tawa.

Kemudian ia menarikku. “Sini..!”

“Misi..misi…kita dipojok aja biar bisa senderan.” Katanya sambil menggusur posisi ci Mimi dan ko Roby yang sedang asyik berjoget.

Mau tak mau ci Mimi dan ko Roby bergeser mengalah.

Sekarang aku dan Thya berada didepan sofa yang paling pojok. Tempat yang paling tersembunyi dan paling gelap diarea sofa kami. Sebelah kanan kami tembok. Bersandar ditembok ada beberapa kursi bulat tinggi yang tak terpakai.
Thya menarik salah satu kursi bulat itu dan memposisikannya didepan sofa. Aku yang tak mengerti mengikuti saja arahan Thya.
Ce Mimi dan ko Roby pun tampak memperhatikan dan penasaran dengan apa yang akan diperbuat Thya.
Thya kemudian berdiri dibelakang kursi bulat yang ditariknya dan menarikku untuk kembali memeluknya dari belakang. Oohh…dengan adanya kursi bulat itu sebagai tumpuan, ternyata Thya sekarang bisa lebih bebas membungkukkan tubuhnya dan menungging agar aku bisa lebih maksimal lagi meng-eksplor pantatnya. Pintar juga dia.
Aku semakin bernafsu. Kutempelkan dan kutekan-tekan pantatnya sambil bergoyang mengikuti musik. Lokasi kami yang cukup gelap dipojok ditambah terhalangnya kami dari dunia luar oleh ce Mimi dan Roby membuat aku bertambah berani.
Aku sudah lupa kalau disebelah kami ada pacar Thya dan ce Mimi yang terkadang memperhatikan kami. Hal itu tampaknya tidak terlalu menjadi masalah juga, karena baik ko Roby ataupun Thya tidak berkeberatan.
Thya tampak menikmati juga tekanan-tekanan penisku pada pantatnya. Pantatnya semakin menungging sementara kepalanya terus bergoyang kekanan dan kiri mengikuti irama musik.
Tanganku semakin berani. Perlahan kumasukkan tangan kananku yang berada disisi tembok kebalik baju dan mulai menyentuh kulit perut Thya.
Tanganku meraba, menekan, dan meresapi kemulusan kulitnya. Sambil perlahan-lahan menuju sasaranku diatas perutnya.
Aku berhenti sebentar ketika tanganku menyentuh bagian bawah bra Thya, memastikan kalau ia tidak keberatan akan aksiku.
Thya masih terdiam saja.
Kunaikkan tanganku ke buah dadanya. Dada yang memang besar sekali. Tak cukup telapak tanganku menangkupi seluruh dadanya. Jantungku berdegup sangat kencang saat itu. Jujur ini adalah dada perempuan pertama yang pernah kusentuh secara langsung.
Kumulai dengan remasan perlahan. Masih tak ada reaksi dari Thya. Kuremas agak sedikit kuat. Masih tak ada reaksi apa-apa dari dia. Thya terus asyik menggeleng-gelengkan kepalanya yang agak tertunduk. Aku semakin berani. Kumasukkan tanganku kesela bra dari bawah. Kudorong bra nya keatas hingga dada Thya terbebas. Ketika jariku mulai menyentuh puting nya Thya mengeluh dan mendesah. Kepalanya yang terus bergoyang terdongak keatas sejenak. Mulutnya setengah terbuka dan matanya terpejam.
Nikmat sekali rasa nya meremasi dan meraba dada Thya yang kencang dan mulus. Birahi ku semakin terpancing. Ku tekan-tekan penisku terus kuat-kuat tepat disela pantat Thya. Rasa nya aku ingin segera memacu sperma ku keluar secepat mungkin.
Goyanganku semakin kuat disertai dengusan nafasku yang memburu. Tubuh Thya ikut tergoncang-goncang kesana kemari. Ketika kurasakan tidak lama lagi sperma ku akan keluar tiba-tiba Thya membalikkan tubuhnya menghadapku.
Aku terkejut dan dengan segera melepaskan tanganku dari dadanya. Aku pikir dia akan marah, aku hanya terdiam saat itu. Aku membuang muka mengalihkan pandanganku, tidak berani bertemu tatap dengan Thya.

“Cece..!” Aku terkejut dalam hati ketika aku mengalihkan pandangan aku melihat kearah ce Mimi dan ko Roby yang asyik bergoyang disebelah kami.
Cece sudah mengambil salah satu kursi bulat dan menjadikannya tumpuan juga seperti Thya. Posisi joget mereka pun sama seperti aku dan Thya. Ko Roby memeluk ce Mimi yang agak menungging erat-erat dari belakang.
Yang membuatku terkejut tampak dalam keremangan tangan ko Roby sudah menghilang dibalik baju ce Mimi. Dan tampak siluet seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak dibalik tanktop ce Mimi dibagian dada.
Aku yang masih penasaran akan keberanian ce Mimi tak dapat mengamati mereka lebih jauh lagi. Thya menarikku kembali. Thya tidak marah akan perbuatan ku. Malah tampak lebih bernafsu lagi.
Ia duduk diatas bangku bulat kemudian menarikku untuk joget berhadapan disela kakinya yang menjepit pinggangku.
Kursi bulat agak sedikit diputar posisinya sehingga kini aku sedikit agak bersender ketembok sementara Thya membelakangi orang-orang lainnya menghadapku, sehingga aku terlindung dari pandangan.

“Aku capek berdiri terus.” Katanya.

Aku melanjutkan goyanganku. Kedua tanganku menggenggam tangan Thya dipangkuannya. Kadang wajahku maju kearah wajah Thya, kadang mundur. Thya pun seperti mengikuti arah goyanganku. Ketika aku memajukan wajahku ia pun memajukan wajahnya sampai beberapa kali kening kami bertemu dan bersentuhan. Sementara kurasakan kedua kaki Thya kadang menjepit pinggangku dengan kuat.
Kenakalan Thya terus memancing keberanianku. Disaat kedua kening kami bertemu beberapa kali secara tak sengaja aku memajukan juga bibirku. Yang ternyata disambut juga oleh bibir Thya. Kami berciuman sekilas-sekilas. Tak pernah terlalu lama kami membiarkan bibir kami bersatu. Tak enak juga kalau sampai terlihat orang lain apalagi ko Roby.
Tanganku terlepas dari genggaman Thya dan mulai mengusap-usap pahanya yang mulus. Perlahan semakin keatas menyibak rok mini menuju pusat selangkangannya. Kedua tangan Thya pun mengusap dan membelai kedua pahaku. Perlahan juga menuju selangkanganku. Kami berdua benar-benar terhanyut saat itu.
Disuatu kesempatan kedua pasang mata kami yang sayu karena nafsu bertemu. Dan kami seperti saling mengerti tentang keinginan masing-masing tanpa berkata-kata. Jempolku mulai menekan dan menggosok celana dalam yang membungkus vagina Thya. Terasa dijari-jariku celana dalamnya sudah basah. Mungkin dia sudah terangsang juga sejak dari tadi. Tangan Thya pun merabai penis yang sudah sangat keras menegang dibalik celana jeansku. Mata kami tetap saling bertatapan satu sama lain walau kepala kami terus bergoyang kekanan dan kiri dengan cepatnya.
Beberapa saat kemudian Thya menurunkan retsleting celanaku dan mengeluarkan penisku dari sarangnya. Ia menggenggam, meremas, dan mengocok penisku.
Baru pernah kurasakan ada tangan lembut perempuan yang menyentuh penisku langsung. Rasanya nikmat sekali. Tanganku tak mau kalah mengimbangi keterampilan tangan Thya. Kusibak celana dalam Thya dari samping. Jari-jariku menggesek dan menekan sekitar vagina Thya secara acak. Vaginanya sudah sangat basah membanjir dengan cairan kenikmatannya.

Cukup lama kami bermain dengan jari dan tangan dikelamin kami. Berusaha saling memberi kenikmatan.
Dalam nafsu tanpa sadar perlahan tubuhku semakin maju mendekat ketubuh Thya, berusaha menyentuhkan penisku pada vaginanya.
Tapi walau sudah maksimal kuberusaha penisku tetap tak mampu menyentuh vaginanya. Tubuhku tertahan oleh bangku bulat yang diduduki Thya.
Thya tampaknya mengerti. Dengan gerakan perlahan agar tak diketahui orang lain ia memajukan pantat dan menurunkan tubuhnya dari bangku bulat yang ia duduki.

Aku meremas kuat kedua paha Thya dekat pinggulnya saat penisku mulai menyentuh permukaan vaginanya.

“Ahhh…ggghh..” Sayup kudengar Thya mengerang.

Kedua mata kami tetap saling bertatapan. Aku berusaha mendesakkan terus pantatku kedepan sambil menarik pantat Thya kearahku. Berusaha memasukkan penisku kelubang vaginanya. Tapi memang keadaan dan posisi kami saat itu sangat sulit. Posisi Thya bahkan sudah mengambang, duduk bertumpu pada setengah pantatnya saja dengan kedua tangannya berpegangan erat pada sandaran bangku bulat.
Kurasa kepala penisku saja yang berhasil memasukinya.

Walau baru kepalanya saja kenikmatan yang kurasa sangat tak terkira. Rasanya seperti ada sesuatu yang hangat, lembut, dan basah menyelimuti dan memijat-mijat pelan kepala penisku.
Aku terus mendorong-dorong dan mendesak-desakkan pantatku. Kepala penisku keluar masuk keluar masuk vagina Thya yang sempit seiring goyangan tubuh kami.
Sensasi kenikmatan yang baru pernah kurasakan membuatku tak dapat bertahan terlalu lama. Aku mulai merasakan seluruh aliran darah disekujur tubuhku seperti tersedot terpusat pada penisku.
Kutekan penisku kuat-kuat dan sedalam-dalam yang kubisa ke vagina Thya. Seiring dengan geraman dan remasan kuat tanganku dikedua paha Thya, tubuhku mengejat-ngejat. Aku orgasme!
Penisku menembakkan isinya dengan kuat.
Isi yang sebenarnya kusiapkan untk cece ku malam ini.
Berkali-kali spermaku keluar didalam vagina Thya.
Thya tampak sedikit terkejut dengan keadaan tubuhku yang bergetar. Dan mungkin ia juga merasakan sensasi tembakan-tembakan sperma ku dibawah sana. Tak nampak sedikitpun penolakan dari dirinya. Ia hanya memandangku sayu. Sekilas tangannya membelai pipiku mesra. Mulutnya yang setengah terbuka berusaha tersenyum.

Beberapa saat kami masih melanjutkan goyangan kami dengan posisi itu sambil saling menatap. Penisku yang sudah berkurang ketegangannya sekali-sekali masih bersentuhan dengan vagina Thya.
Cairan spermaku yang banyak mengalir keluar kembali dari lubang vaginanya. Mungkin memang karena penisku hanya masuk sedikit jadi spermaku tidak masuk sempurna dan dengan mudahnya mengalir keluar kembali.
Aku pikir mungkin saat itu aku sudah kehilangan setengah keperjakaanku olehnya. Perempuan yang baru saja aku kenal.

Tubuhku kadang masih bergetar merasakan sisa-sisa kenikmatan ditengah goyangan kami. Sambil bergoyang tanganku dan tangan Thya bekerja sama membersihkan spermaku dengan tissue, sambil sesekali jari-jariku menekan dan mengorek lubang vaginanya. Terus menggoda kenikmatan pada tubuh Thya ketika tiba-tiba ce Mimi datang menghampiri kami.

“Thya,..antar ke wc yuk.”

Kami sedikit terkejut. Untung posisi kami agak terlindung. Dan saat itu kami tidak terlalu terlihat sedang melakukan perbuatan yang mesum.
Thya merapatkan kaki nya dan aku segera menyembunyikan penisku yang masih terbuka dibalik kaos.

“Ayo.” Jawab Thya sambil memutar kursi bulatnya dan menarik ce Mimi pergi.

Saat kesempatan itu juga aku memasukkan “Jo junior” ku yang sudah puas kesarangnya kembali.

Ketika mereka beranjak pergi aku duduk di sofa disebelah ko Roby yang masih tampak asyik dengan goyangannya. Dengkulku terasa lemas dan pegal saat itu. Tapi tubuhku ringan dan lega sekali rasanya.

“Gimana bro? Asyik gak cewe gua goyangannya?” Tiba-tiba ko Roby bertanya padaku saat aku meraih minuman dimeja.

“Mantap ko….top banget.” Jawabku sambil tersenyum.

“Hehehe…” ko Roby cengengesan. “Cewe lu juga oke bro. Tapi kurang berani. Mungkin masih baru kali yah dugemnya?”

“Iya ko. Maklumin aja. Anak baik-baik dia.” Jawabku lagi.

Aku tak terlalu bernafsu untuk berbincang-bincang lebih jauh dengan ko Roby.
Saat itu tubuhku masih tinggi dengan Inex ditambah oleh sisa-sisa rasa kenikmatan orgasme yang baru kuraih tadi.
Aku hanya tersenyum-senyum sendiri sambil menggoyang kepalaku perlahan bermain dengan imajinasi khayalan tentang vagina Thya. Tak mendengar lagi apa yang ko Roby katakan.

Sekembalinya ce Mimi dari wc ia langsung menarikku yang sedang asyik bergoyang sendiri. Tampaknya ia ingin kembali ber-partner denganku. Aku hanya menurut saja. Kita bergoyang berhadapan. Kedua tanganku dipinggangnya, dan kedua tangan ce Mimi dikedua bahuku. Kedua mata ce Mimi tampak memandangi seperti menyelidiki sesuatu diwajahku.

“Ngapain aja lu tadi berdua sama Thya?” Ce Mimi memulai pembicaraan.

“Hehehe..yah joget lah.” Jawabku cengengesan.

“Udah keluar belum?” Tanyanya lagi mengejutkan ku.

“Cece…?”

Pertanyaanku tak mendapat jawaban juga dari ce Mimi.
“Sebentar lagi mau tutup. Mau lanjut ketempat biasa gak? Gua masih kenceng kayaknya.”

“O My God..!” Waktu sungguh tak terasa. Ternyata dari tadi sudah 4 jam lebih kita bergoyang. Kurasakan juga pngaruh I masih kencang ditubuhku.

“Kalau mau ayo mending kita jalan sekarang daripada nanti keluar pas jam tutup ramai orang susah keluarnya.”

Aku menyetujui ajakan ce Mimi. Kita berdua segera pamit kepada kawan-kawan ce Mimi dan segera menuju diskotik “Ek****k” untuk melanjutkan acara “private” kami.

Tetapi peruntungan tidak memihak kami setibanya kami disana. Diskotik telah tutup karena ada keributan yang berujung razia yang terjadi.

“Aduh…bagaimana ini jadinya? Bete deh balik ke kost. Gua harus pindah kost kayaknya kalau mau lanjut begini terus. Kost yang kedap suara, biar gua pasang sound sendiri. Biar bisa lanjut terus.” Ce Mimi mengeluh.

“Sebentar yah ce. Gua usaha dulu.” Kataku mencoba menenangkan ce Mimi.

Aku ingat salah satu kawanku pernah bercerita kalau disekitar daerah itu ada hotel yang dalam kamarnya menyediakan fasilitas “House Music” bagi para pelanggan mesum yang menginginkan private party.
Aku bergegas menuju para penjaga parkir, satpam, dan orang-orang lainnya yang ada disekitar situ mencari-cari informasi. Ketika informasi yang kubutuhkan kudapat aku kembali kepada cece yang menunggu dekat mobil.

“Ada room hotel ce kalau cece mau.” Aku membuka percakapan hati-hati. Tak mau terdengar seperti kalau aku ada niat macam-macam.

“Tempatnya disebelah nih dekat. Didalam room ada house music berikut sound yang cukuplah kalau untuk kita lanjut. Tapi lumayan mahal harganya.”

Ce Mimi nampak berpikir sejenak.
“Memang berapa harganya?”

Aku menyebutkan sejumlah bilangan uang yang pada saat itu cukup lumayan juga.

“Aman gak?” Tanya ce Mimi lagi.

“Mudah-mudahan sih aman. Kan lumayan mahal tuh harganya. Biasanya kalau hotel yang lumayan mahal keamanannya terjamin lah. Lagian tadi didaerah sini baru selesai razia. Gak mungkin lagi kayaknya akan ada razia lagi.” Jawabku mencoba meyakinkannya.

“Ayo deh kita kesana. Tapi lu jangan keterlaluan yah ntar mesumin gua nya. Lu harus jagain gua. Cece lu nih.” Katanya lagi.

“Sip.” Kataku pendek sambil tersenyum.

Setelah menyelesaikan segala urusan administrasi kami pun masuk kekamar kami. Kamar yang lumayan asri. Reseptionis tadi meyakinkan kami juga kalau mereka mempunyai banyak koleksi house musik terbaru dan kami bebas untuk memasang musik kencang-kencang didalam. Dijamin kamar ini kedap suara, jadi tidak akan mengganggu penghuni lainnya.

Memang masa akhir 1990an dan awal tahun 2000an tripping atau on sangat trend sekali. Dan semua pihak termasuk hotel berupaya mencari celah keuntungan dengan memberi fasilitas-fasilitas yang mendukung ritual tersebut.

4 botol mineral water ditambah 2 minuman energy dalam gelas sudah siap dimeja rias kamar. Musik kami putar sesuai dengan vokume yang kami mau. Selain lampu-lampu kecil di 4 sudut ruangan kamar, lampu lainnya ce Mimi padamkan, membuat suasana jadi remang-remang.
Tak lama kemudian tubuh kami mulai naik kembali. Ce Mimi benar-benar seperti terbebas dari kurungannya. Ia bergoyang kesana kemari memutari kamar. Sementara aku yang hanya bergoyang sambil duduk ditepi tempat tidur terus memperhatikannya sambil tertawa-tawa.
Ada sekitar 30 menitan ce Mimi berputar-putar sampai kemudian ia menarikku untuk ikut bergoyang berdiri bersama dia. Aku melayaninya. Kadang kita berhadapan, kadang ku memeluk ce Mimi dari belakang, bahkan kadang ce Mimi yang memelukku dari belakang. Sampai kemudian disuatu kesempatan ce Mimi mulai menyadari kalau dibalik celana jeansku aku tidak memakai celana dalam lagi.

“Lu gak pake cd yah Jo?”

“Ho oh.” Jawabku pendek sambil tersenyum.

“Sejak kapan?”

“Sejak dari tadi di diskotik lah. Cece gak sadar yah?”

“Gila lu. Berarti tadi sampe ngapain aja ama Thya tuh? Lu tadi pasti dah keluar yah ama dia?” Tanya ce Mimi lagi menyelidik sambil memandangi mataku mencari jawaban.

“Iya ngapain lagi, seperti biasa aja cuma pegang-pegang dan gesek-gesek aja lah. Blom sempat keluar koq, rasain aja celana gua gak ada basah-basahnya sedikitpun kan.” Jawabku mencoba mengelak.

Ce Mimi merenggangkan pelukannya sedikit dari tubuhku. Tiba-tiba telapak tangannya langsung meraba selangkanganku merasakan bahkan meremas penisku yang sudah sangat tegang.
“Iya yah. Kasihan donk lu dari tadi belom keluar.”

“Ahh cece….geli kalo diremas begitu.” Lenguhku merasakan ke enakan.
“Gak apa-apa ce. Ntar juga kalau begini terus gak lama lagi Jo bisa keluar nih..hhh.”

“Kalo ce Mimi tadi ngapain aja ama ko Roby? Memang cece tadi dah keluar yah ama ko Roby?” Sambungku lagi sedikit terengah karena tangan cece tak berhenti meremas-remas penisku.

“Hhh…dia nakal Jo. Dia memang dah pengalaman kayaknya.” Ce Mimi melepaskan tangannya dari penisku dan memeluk pantatku. Menempelkan seluruh badannya kebadanku. Terutama bagian selangkamgannya yang ia gesek-gesekkan kuat-kuat ke penisku. Semua dilakukannya ber-sinkronisasi seiring dengan irama musik yang menghentak.

“Cece dipegang-pegang yah?” Tanya ku lagi dekat telinganya.

“Hmm..” Ce Mimi hanya mendesah sambil mengangguk kecil. Ia seperti malas untuk berbicara dan hanya ingin menggerakkan tubuhnya untuk melepaskan gairah. Gairah untuk bergoyang dan gairah untuk orgasme. Tampak jelas dari gerakannya yang selalu menekan-nekankan seluruh bagian tubuhnya yang paling sensitif ketubuhku.

Nafsuku sangat terpancing oleh gerakan-gerakan cece. Kubalik tubuh cece dan kodorong tubuhnya kedepan hingga ia sedikit tertunduk dan menungging. Kedua tangannya bertumpu pada meja rias didepannya.

“Dipegang-pegang apanya?” Tanyaku lagi.

Ia hanya diam tertunduk menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama musik membuatku yang sudah dikuasai nafsu semakin penasaran.

“Dipegang ini nya yah?” Tangan kananku langsung menujuju dada ce Mimi dan meremasnya.

“Ahhh…!” Ce Mimi tampak terkejut dengan kenekatanku. Tapi ia tidak memprotes atau melarangku sama sekali.

Kucondongkan tubuhku hingga dadaku menempel kepunggungnya sementara tanganku sekarang dua-dua nya meraba dan meremas kedua buah dadanya. Panisku kugoyang dan tekan-tekan kepantatnya yang empuk kuat-kuat.

“Dari dalam atau dari luar?” Tanyaku lagi didekat telinga nya.

Ce Mimi diam saja.

“Dari dalam atau dari luar?” Tanyaku lagi sambil meremas kedua buah dadanya dengan kuat.

“Agghhh…!” Ce Mimi mendongakkan wajahnya. Mungkin merasa kesakitan karena remasanku.

“Dari…da..a..lam..!”

Jawaban yang sudah kuduga. Kuingat tadi di diskotik kulihat tangan ko Roby masuk kebalik tank top ce Mimi.

“Seperti ini?” Tanya ku lagi sambil kumasukkan kedua tanganku secepat kilat kebalik tanktop dan bra nya sekaligus. Meremas dua buah dadanya yang bulat dan menggemaskan langsung dengan gemas.

“Ahhh…Jooo..!” Ce Mimi setengah berteriak.

“Oohh..dada ce Mimi betul-betul lembut dan kenyal sekali.” Aku semakin bernafsu. Ukurannya tidak sebesar punya Thya, pas dalam setangkupan tanganku.
Ku belai dan kuremas kedua dada nya terus menerus sesukaku. Dan karena gerakan kedua tanganku tank top ce Mimi perlahan terdorong semakin keatas mengakibatkan kedua dadanya terbuka tanpa penutup apa-apa lagi.

“Ahh..cece…dada lu kenyal sekali ce.” Kataku mengacau.

Kubalik tubuh ce Mimi agar menghadapku kembali. Aku mau melihat dada nya dengan jelas.
Ketika ce Mimi berbalik kutertegun sejenak. Dadanya sangat indah sekali. Bulat hampir sempurna, dengan dihiasi puting yang kecil. Dan sangat kencang.

“Cece….indah banget ce..”
Kumajukan wajahku perlahan. Kutangkap langsung puting ce Mimi yang sudah keras menegang dengan mulutku. Kuhisap dan kugigit-gigit kecil dengan gemasnya kiri dan kanan bergantian.

“Ahh…gila lu Jo..!” Ce Mimi berteriak-teriak.
“Berani lu Jo mesumin gua kayak gini…ahhh….. cece lu sendiri…hhhh….” Tubuh cece menggeliat-geliat.

Aku tak peduli. Aku peluk tubuh cece ku rapat sambil terus kulumat dan permainkan dada nya dengan mulut sampai dadanya penuh dengan air liurku.
Dalam nafsuku tanganku bergerak menurunkan retseleting celana jeansku. Penisku terbebas menekan dan menggosok selangkangan ce Mimi berusaha mencari kenikmatan.

“Ahh…gila lu Jo…aduuh…aduhh…! Ce Mimi terus saja mengerang dan mengaduh. Kepalanya tetap bergoyang kencang kekanan dan kiri. Lengannya memeluk wajahku kuat kedadanya. Sementara pantatnya pun ditekan-tekankan kepenisku. Ce Mimi seperti sedang berada dalam keadaan “Trance”

“Cece..!” Aku sedikit menggeram.

Kuangkat tubuh ce Mimi. Ce Mimi memelukku kuat dengan kedua tangan dan kakinya. Kubawa, dan kurebahkan ia ketempat tidur.

Tubuhku ikut terjatuh menindih tubuhnya. Kucium dan kulumat lagi puting dada ce Mimi. Tak puas-puas aku mengerjai kedua dada nya.
Sambil menciumi dadanya tanganku menarik tank top dan bra ce Mimi keatas. Ce Mimi tak menolak. Bahkan ia mengangkat kedua tangannya keatas kepala memudahkanku melepas pakaiannya.
Kupandangi tubuh cece ku yang sangat indah.
Perlahan wajahku mendekati wajah cece.

“Tubuh cece sexy banget.” Kataku terengah-engah.

Kulihat dalam keremangan cece masih seperti berada dalam keadaan sadar tapi tak sadar. Rambutnya acak-acakan sudah. Wajahnya menengadah keatas masih terus bergoyang kekiri dan kanan sedikit basah oleh peluhnya. Matanya setengah terbuka. Erangan dan desahan yang merdu merangsang keluar dari mulutnya yang setengah terbuka.

Nafsuku sebenarnya sudah diujung tanduk menuntut untuk dikeluarkan. Dan kemungkinan bila kugesek-gesekan penisku dalam keadaan sekarang ini tidak lama juga aku akan keluar. Tapi ada niatan dalam hatiku ingin berusaha semaksimal mungkin dalam kesempatan ini. Aku ingin membuka bagian bawah tubuh cece ku.

“Terus tadi ko Roby megang-megang bagian mana lagi ce?” Aku memajukan wajahku dan berbisik ditelinganya memainkan muslihatku.

Cece awalnya terdiam saja seperti tidak mau menjawab. Mungkin masih malu. Tapi kemudian kuulangi lagi pertanyaanku berbisik sambil dengan sengaja sedikit meniup-niup menggelitik kupingnya.

“Hhh…bawahnya.” Akhirnya keluar juga suara dari mulut cece ku. Pelan.

“Bawahnya apanya?” Tanyaku memancing.

“Memek gua.” Katanya lagi pelan sekali.

“Kayak begini!” Tanyaku lagi sambil tanganku bergerak menggosok dan menekan selangkangannya.

“Aduhh….i..iya…hhhh….nakal lu Jo.” Jawab ce Mimi terengah-engah. Kurasakan pantatnya terangkat-angkat seperti melawan rabaan telapak tanganku diselangkangannya.

Perlahan-lahan sambil menggosok dan menekan selangkangannya tanganku pun dengan kreatif membuka kancing dan seleting celana ce Mimi.
“Dari luar atau dari dalam?” Tanyaku kembali memancing.

“Hhh… Jooo….”

“Dari dalam atau dari luar?” Ku ulangi pertanyaanku.

“Dari…dari…dalam…”

“Shit..!” Jawaban yang lumayan mengejutkanku.
Ternyata ko Roby tadi juga sudah berhasil merabai vagina cece ku secara langsung. Hebat juga dia. Baru kenal sudah bisa meng-akses semua perabotan ce Mimi.

Ketika kancing dan seleting celana ce Mimi sudah terbuka, kumasukkan tanganku secara perlahan. Merayap melalui bulu-bulu halus mencari lubang kenikmatan ce Mimi.

“Kayak begini?” Tanyaku lagi ketika jariku akhirnya sampai pada tujuannya. Terasa lubang itu sudah penuh dengan cairan kenikmatan yang lengket.

“Aaahhh…..Joooo…!” Ce Mimi setengah berteriak kembali. Tubuhnya seperti mengejat sesaat terkejut. Tapi tetap tak ada penolakan ataupun usaha untuk menghentikan tanganku dari dirinya.
Wajah ce Mimi masih menengadah sambil bergoyang kekanan dan kiri. Dua tangannya terpentang jauh keatas kepalanya meremas seprei. Sementara kedua kakinya malah perlahan membuka mengangkang. Seakan memberi akses untuk jariku meng-explor lebih jauh lubang kenikmatannya.

Sambil kumainkan jariku pada vagina kuciumi dan jilati lagi kedua dada ce Mimi. Perlahan-lahan mulutku turun menyusuri kelembutan kulit tubuh ce Mimi. Saat ciumanku semakin turun keperutnya kubarengi dengan aksi tanganku yang menarik turun celana ce Mimi. Perlahan-lahan celana jeans berikut celana dalam ce Mimi turun membuka. Mataku yang sudah sangat terbiasa dengan keremangan menikmati pemandangan indah yang tersaji dihadapanku. Kulit putih mulus ce Mimi disekitar paha, perut, dan pusat selangkangannya. Hutan pubik diarea kecil diatas lubang kenikmatan. Walau area yang ditumbuhi bulu sedikit, tapi bulu nya sangat lebat dan hitam. Serta aroma samar-samar vagina basah yang keluar.

“Fuck!” Semuanya membuat jantungku yang sudah berdetak sangat cepat menjadi lebih cepat lagi. Sampai tubuhku gemetar karena saking semangatnya.

Tapi ketika celana ce Mimi sudah hampir sampai kedengkulnya ce Mimi tersentak bangun.

“Jo sudah Jo….kita sudah terlalu jauh. Jangan sampai begini.” Ce Mimi menahan celananya. Tampaknya ia tersadar.

“Gak apa-apa ce. Jo cuma mau lihat.” Kataku berusaha membujuknya sambil terus berusaha menurunkan celananya.

Terjadi adu kekuatan antara aku yang bernafsu menurunkan dan ce Mimi yang berusaha mempertahankan celananya beberapa saat.

“Please Jo..ingat kita kakak-adik.” Ce Mimi terengah-engah memelas berusaha bertahan dengan sisa-sisa kekuatannya.
Ia bahkan sudah mulai menangis.

Seperti diguyur air yang dingin dikepala aku tersadar dari nafsu ketika melihat ce Mimi menangis.
Kulepas tanganku dari celananya.

“Maaf ce…maafn gua. Jo sudah kelewatan.” Kataku sambil terduduk terdiam. Nafasku masih terengah-engah.

Ce Mimi merapikan celananya kembali. Ia masih menangis sesegukan menutup mukanya.

Kuambil dan minum sebotol mineral water sampai habis.

“Gila!” Rutukku dalam hati.

Bertepatan dengan itu kurasakan pengaruh pil setan dalam tubuhku menghilang. Aku memasuki fase “nge-drop.” Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Dan seluruh nafsu yang menguasai hilang begitu saja.

Kuberanjak bangun kekamar mandi untuk kencing dan juga membasuh wajahku. Aku sempat terdiam sejenak merenungi apa yang baru saja terjadi tadi.
Sisi baikku mempertanyakan dan mengutuk perbuatanku. Mengapa aku tega berbuat seperti itu kepada cece ku sendiri. Tapi sisi jahatku mengatakan sayang sekali. Sedikit lagi saja, mungkin aku bisa merasakan kenikmatan vagina cece ku.
Ahh…sudahlah, apapun yang sudah terjadi sekarang percuma juga. Tubuhku lemas sudah dan nafsuku yang menggebu-gebu pun hilang entah kemana.
Kumainkan dan kukocok-kocok penisku sambil membayangkan tubuh ce Mimi secara percuma. Penisku tak mau terbangun dari tidurnya, layu tak bertenaga lagi.
Masih sempat kumerenung, mungkin seperti ini rasa nya kalau menjadi impoten.

Mungkin aku terlalu lama berada didalam kamar mandi. Ketika kukembali kudapati ce Mimi sudah tertidur pulas. Ia masih bertelanjang dada.
Aku memandanginya sejenak. Pemandangan yang begitu indah. Karya cipta Tuhan yang begitu sempurna.
Kudekati perlahan dan kubelai rambut ce Mimi. Wajahnya berantakan dan masih basah karena peluh dan air mata nya.
kuturunkan kembali tanganku kebawah. Membelai leher dan dadanya.
Sungguh lembut dan halus kulit ce Mimi.

Otak iblisku sempat berpikir, ini kesempatan emas ku untuk kembali memesuminya. Tapi tubuhku sudah tak bertenaga untuk mengikuti perintah otakku.
Dan “Jo Junior” yang tertidur pulas dibawah sana tak mengindahkan lagi panggilan tuannya.

“Damn u…junior!”

Kumengambil tempat disebelah ce Mimi dan jatuh tertidur.

Singkat cerita, kami terbangun dan kembali ke kost. Aku mengambil motorku langsung pulang kerumah. Tak ada percakapan apa-apa antara kami. Ce Mimi bahkan terkesan sengaja mendiami aku. Mungkin ia masih malu dengan apa yang baru saja terjadi diantara kami.

Sampai kemudian berhari-hari, bahkan berminggu-minggu ce Mimi mendiami aku.
Aku mulai kesal dan uring-uringan. Aku terus-menerus sms dan telp ce Mimi, berusaha meminta maaf, dan mencairkan suasana. Membujuk-bujuk ce Mimi agar tidak malu kepadaku. Aku akan jaga rahasia dia, aku masih mau ikut dugem dengannya dan tidak akan kelewatan, dan lain-lain nya lagi.

Sampai 2 bulan kemudian ketika aku mulai berputus asa, ce Mimi menelpon aku.

Saat itu malam minggu. Malam dimana rasa rinduku memuncak jika mengingat semua pengalaman-pengalamanku dengan ce Mimi. Mungkin saat itu ce Mimi sedang teringat juga akan aku.
Kami ngobrol dan ce Mimi bercerita panjang lebar. Ia bilang awalnya ia sangat malu dengan apa yang sudah kita lakukan. Ia merasa bersalah sebagai kakak, dan lain sebagainya. Tapi ternyata dalam beberapa hari terakhir saat ia pergi dugem dengan kawan-kawannya ia merindukan aku. Ia berterus terang pernah mencoba mengajak pergi dugem kawan cowoknya yang sebenarnya diam-diam dalam masa pendekatan dengannya dua kali. Tapi hasilnya kurang memuaskan.
Yang satu terlalu jaim dan over-protective. Yang satu terlalu kurang ajar dan grasak-grusuk.

Aku tertawa-tawa mendengar semua cerita ce Mimi. Dan juga mengatakan kalau aku sangat kangen padanya. Kangen pada masa-masa kita berpelukan, saling sentuh, dan saling memuaskan.

“Dasar lu,…lu mah kangen ama badan gua. Bukan sama gua nya.” Kata ce Mimi saat itu mengejekku.

Aku juga merengek-rengek untuk meminta dia mengajakku lagi ke diskotik. Ce Mimi berjanji akan mengajak aku lagi malam minggu depan karena hari itu sudah terlalu malam. Dan juga tidak ada siapa-siapa lagi kawannya yang mau berangkat malam itu. Tapi karena rengekanku akhirnya dia mengalah dan berjanji untuk pergi berdua saja denganku esok pagi kediskotik “kuburan.”
Kebetulan ia masih mempunyai simpanan “I” 1 butir yang belum terpakai, sehingga kita tidak perlu repot cari-cari lagi sebelum ritual.

Aku tak sabar menunggu pagi malam itu sampai berharap dan berdoa kepada dewa mesum agar tiada halangan yang akan mengacaukan rencana kami esok pagi.

Jam 7 pagi aku sudah tiba dikost ce Mimi. Aku sudah siap sekali untuk ber “Mesum ria”. Aku memakai kemeja tangan pendek dan celana bahan. Tentu saja tanpa celana dalam. Kupikir celana bahan yang lebih tipis dari pada jeans tentulah akan memberikan rasa lebih saat nanti aku menggesek-gesekkan penisku pada pantat ce Mimi.
Ce Mimi pun berpenampilan sangat segar dan menggoda. Kaos ketat tanpa lengan “u can see” dipadu dengan rok mini yang sebenarnya tidak terlalu pendek. Sedikit diatas dengkul, tapi tidak ketat, malah terkesan melebar dibawah. Rambutnya dikuncir kuda. Panampilannya seperti anak-anak abg di komik Hentai Jepang.

Ketika dimobil aku meminta ce Mimi untuk segera membelah dan menelan pil “vitamin” kami dengan sedikit menakut-nakuti kalau berbahaya membawa barang semacam itu dimobil. Takut kena razia.
Padahal dalam otakku biar rencana kita tidak ada kata batal, walau misalnya ternyata diskotik yang kita tuju tutup seperti saat sebelumnya, ce Mimi yang sudah on akan terpaksa mencari tempat alternatif lain. Seperti hotel kemarin.

Ce Mimi sempat menggoda ketika ia melihat aku memakai celana bahan tidak seperti penampilanku sehari-hari biasanya. Dan ia pun menebak kalau aku tidak memakai celana dalam, karena memang sudah tampak tonjolan dipangkal celanaku.
Aku tertawa-tawa saja balas menggoda nya. Aku bahkan menantang dia untuk tidak memakai bra. Aku bilang cobain saja, sensasinya pasti lebih berbeda. Dag dig dug serem-serem takut ketauan orang tapi menantang.
Ia hanya tersenyum-senyum saja.

Sesampainya di TKP keberuntungan memihak kami. Keadaan diskotik tidak terlalu ramai dan kami mendapat tempat sangat dipojok yang gelap agak jauh dari orang-orang terdekat. Yang terdekat dengan kami hanya tampak para perempuan-perempuan malam yang sedang menari bersenang-senang bersama.
Mungkin mereka baru mendapatkan hasil yang lumayan semalam.

Aku dan ce Mimi memulai ritual kami dengan bebas gembira. Mungkin karena sudah lama tak bertemu, jadi kami seperti melepaskan rindu yang tertahan. Seakan diskotik ini hanya milik kami berdua.
Entah mengapa, apa karena tubuhku yang sudah mulai tebiasa dengan kegelapan diskotik atau mungkin karena saat itu badanku memang fit dan aku begitu bersemangat. Mataku seperti bisa melihat sangat jelas gerak tubuh dan ekspresi wajah ce Mimi pagi itu. Dan aku begitu sangat menikmatinya.

1 jam pertama sudah lewat, aku semakin berani. Tanganku sudah meremas-remas kedua buah dada ce Mimi bergantian. Awalnya memang ce Mimi menghindar-menghindar. Tapi karena “ke-kekeuhan” aku yang terus menerus mencoba, lama-lama ia biarkan juga.

Memasuki 2 jam keadaan kami semakin hot. Tanganku sudah masuk kebalik baju dan rok ce Mimi. Mempermainkan puting buah dada ce Mimi. Tapi belum berjaya menyentuh vagina nya langsung. Ia masih saja menghindar-menghindar terus.

Suatu saat aku sedang berjoget berhadapan dengan ce Mimi kuturunkan seleting celanaku dan kukeluarkan penisku yang sudah sangat keras.
Kemudian kutarik dan kubimbing tangan kiri ce Mimi untuk memegangnya.

“Gila lu Jo!” Ia terkejut. Tapi tak melepaskan tangannya yang menggenggam penisku.

“Ngapain lu keluarin? Nekat yah.”

Secara perlahan ce Mimi merabai dan meremas-remas penisku. Sepertinya ia penasaran. Mungkin ini penis pertama yang baru pernah ia sentuh secara langsung.
Kupeluk ce Mimi dan kudekatkan wajahku kesamping wajahnya.

“Ahh…enak ce. Terus remes nya turun naik gitu.” Kataku dekat telinganya.

“Bener-bener mesum lu.” Kata ce Mimi. Tapi tangannya terus mengikuti arahanku.

Beberapa saat kita bergoyang dengan tangan ce Mimi terus mengurut dan meremas penisku.

“Coba aja ce, berani gak buka juga. Sensasi nya mantap deh.” Kataku terengah-engah mencoba memancing gairahnya.

Ce Mimi tersenyum menggoda. Perlahan ia bergoyang sedikit menjauhi tubuhku. Dan dengan gerakan-gerakan yang sensual ia merabai tubuhnya sendiri seperti seorang penari striptis yang menggoda pelanggannya.
Entah bagaimana cara nya, tau-tau bra ce Mimi sudah dimukaku.
Ia tertawa-tawa melihat wajahku yang sedikit menganga karena keheranan.

“Yah…kalo sekarang cuma atasnya doank sih basi lah.” Kataku mengejeknya berusaha menutupi kebingunganku.

Ce Mimi malah kembali mengejekku. Ia memeletkan lidahnya kedepan wajahku kemudian melengos membelakangi. Memasukkan bra nya kedalam tas tangan dimeja sambil menggoyang pantatnya yang menungging.

Saat itu aku melakukan sesuatu yang membuat akupun terkejut akan diriku sendiri.
Saat ce Mimi menungging-nunggingkan pantatnya mengejekku tanganku bergerak dengan cepat, menelusup kebalik rok nya dan menarik celana dalam ce Mimi kebawah. Sampai jatuh kelantai walau masih tertahan dimata kakinya.
Ce Mimi yang terkejut dengan perbuatanku reflek bukan menarik dan merapikan celana dalamnya, tapi malah melepas seluruhnya dan langsung memasukkannya juga kedalam tas tangannya.

“Sedeng lu ade mesum. Kalo ketauan orang bagaimana?” Gerutunya.

Aku hanya tertawa-tawa saja kesenangan. Sampai berjingkrak-jingkrak melompat-lompat dengan kedua tangan keatas. Puas sekali rasanya bisa membalas godaan ce Mimi.

Ce Mimi yang melihat tingkah laku ku yang kegirangan seperti anak kecil tersenyum kemudian memelukku.

“Dasar adek gila!” Wajahnya yang merajuk disembunyikan kedadaku.

Aku merasa saat itu kami mesra sekali. Seperti orang pacaran saja.

Kami melanjutkan goyangan kami. Saling menekan-nekankan bagian tubuh kami mencari kenikmatan. Terkadang tangan ce Mimi meremas dan mengocok penisku. Terkadang tanganku juga memainkan buah dada dan bahkan vagina nya juga. Ce Mimi sudah tidak menolak lagi.

Keadaan dan suasana mesra saat itu telah membutakan akal sehat kami berdua. Dalam goyangannya ce Mimi senantiasa mendesah dan merintih-rintih memanggil namaku.
Entahlah…saat itu sepertinya ce Mimi benar-benar lepas. Sepertinya ia benar-benar baru merasakan kembali kenikmatan yang telah lama hilang. Hal itu memancing diriku untuk lebih berani lagi.

Setelah bosan dengan gaya berhadapan kubalik tubuh ce Mimi membelakangiku. Kudorong punggungnya agar ia sedikit menungging dengan kedua tangan bertumpu pada meja. Kutempelkan selangkanganku pada pantatnya, kuangkat rok bagian belakang dan kuselipkan penisku diantara kedua paha ce Mimi dekat pangkal pahanya.

“Ehh..!” Ce Mimi tampak terkejut dengan perbuatanku. Ia berusaha bangun dan membalik tubuhnya.
Kutahan dan segera kupeluk tubuhnya.

“Gak apa-apa ce. Gua cuma mau dijepit dipaha aja trus digesek-gesek.” Kataku berusaha menenangkannya.

Kumasukkan tanganku kebalik kaosnya dan kuremas buah dada ce Mimi.

“Aagghhh” Ce Mimi mendesah dan mendongakkan wajahnya yang kemudian digoyang kekanan dan kiri. Pose nya benar-benar sangat indah.
Kumaju mundurkan penisku yang terjepit diantara pahanya perlahan-lahan. Terasa nikmat sekali. Apalagi ketika batang penisku menyentuh-nyentuh bibir vaginanya yang sudah sangat basah, aku semakin bernafsu.
Terus kumaju mundurkan penisku semakin cepat seiring irama musik.
Tapi semakin lama jepitan pahanya semakin renggang. Tanpa sadar ce Mimi malah semakin membuka pahanya. Aku yang sedang bernafsu mencari sensasi jepitan pada penisku semakin memajukan tubuhku mencari-cari bagian mana dari tubuh ce Mimi yang bisa menjepit penisku. Hingga suatu saat kepala penisku terasa terselip ke lubang kecil yang hangat dan lembut.

“Aduh enak sekali rasanya.” Aku bergumam dalam hati. “Apa ini lubang vagina ce Mimi….sempit sekali. Sensasi nya jauh lebih nikmat dari lubang vagina Thya dulu.” Aku menerka-nerka dalam hati.

Aku yang sudah dipenuhi nafsu tak lagi perduli penisku terjepit dalam lubang apa dibawah sana. Yang aku tau baru sedikit saja yang terjepit rasa nya nikmat sekali. Bagaimana kalau semua.
Aku terus mendorong berusaha mendesakkan lebih maju lagi dan lagi perlahan-lahan. Menyicil-nyicil. Mulai dari ujung kepala penis yang awalnya kurasakan terselimuti sesuatu yang lembut, basah, lengket, dan hangat dibawah sana, perlahan masuk lagi sampai seluruh kepala penis, sampai sekarang sensasinya sampai pada leher batang penisku.
Perlahan-lahan penisku keluar masuk. “Cleck…Plop…celeck…plop…celeck…plop. ..” sensasi suaranya yang sebenarya tidak akan dapat terdengar sama sekali didalam diskotik yang berisik, tapi bergema dengan jelas dalam hatiku.

Sampai saat ini tak ada upaya penolakan sedikitpun dari ce Mimi atas perbuatanku. Kepalanya terus bergoyang menengadah. Matanya terpejam. Mulutnya setengah terbuka, ia mungkin merasakan kenikmatan juga dibawah sana.
Terkadang ditolehkan wajahnya jauh kebelakang memandangku dengan sayu, sementara pantatnya terasa semakin naik menungging seakan memberikan akses bagiku untuk berbuat lebih jauh.

Sedikit demi sedikit kutambah tenaga pada tekanan penisku dibawah sana. Tapi seperti ada sesuatu yang menahan laju penisku untuk bisa masuk lebih jauh lagi. Sampai saat ini maksimal penisku hanya mampu masuk sampai lehernya saja.
Hal ini benar-benar membuat ku yang sudah sangat bernafsu penasaran sekali.
Kuposisikan pantat ce Mimi agar menungging sempurna sesuai kehendakku. Tubuhnya sudah terdesak maksimal bersandar pada meja, tak mungkin lagi untuk maju.
Kuatur juga kuda-kudaku.

Setelah semua kurasa pas, dengan sekuat tenaga kudesakkan penisku dengan sekali dorongan panjang. Perlahan tetapi pasti kurasa penisku mulai meluncur masuk membuka liang yang sempit dibawah sana.
Sakit kurasakan saat penisku berusaha menerobos suatu tahanan. Tapi aku tak berhenti, terus kudorong.
Dalam otakku saat itu hanya satu hal. Penisku harus masuk sempurna.
Ce Mimi seperti tersengat dan terkejut merasakan dorongan dibagian bawah tubuhnya. Ia memberontak menggoyang tubuh nya kesana kemari menggeliat berusaha bangun dari posisinya. Tapi tanganku dengan kuat menahan. Tangan kananku menekan punggungnya dengan kuat, sementara tangan kiriku memeluk perutnya membuat posisinya terkunci tak dapat lari kemana-mana. Terdengar sayup-sayup teriakan ce Mimi yang tak lagi kuperdulikan.

“Jo…jangan Jo…jangan Jo…!”

Hampir 1 menit kemudian akhirnya kurasakan sensasi daging lembut, basah, dan hangat menyelimuti seluruh penisku sampai pangkalnya. Entah mengapa aku seperti merasakan suatu kelegaan dihati. Perasaan yang sama ketika kuberhasil mendaki puncak semeru dan menikmati keindahan sunset nya.

Kudiamkan sejenak dan meresapi betapa daging lembut itu seperti meremas dan menyedot penisku. Tubuh ce Mimi kurasakan melemas terkadang sedikit bergetar dibawah pelukanku. Tak ada lagi pemberontakan dari dirinya. Wajahnya terjatuh telungkup ke kedua tangannya yang bertumpu pada meja.

Kutarik penisku perlahan kebelakang sampai pada lehernya. Kudorongkan kembali kedalam semaksimal mungkin yang kubisa. Rasanya sungguh tak terkira. Penisku terus menerus seperti disedot dan diremas oleh sesuatu yang lembut dan hangat.
Terus kudorong keluar masuk keluar masuk. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang kuat, kadang lembut. Tangan kiriku memegang dan meremas pantat ceceku. Sementara tangan kanan meremas-remas buah dadanya.

“Agghh…cece…..enak banget cece…!” Berkali kali mulutku mengerang-erang memanggil-manggil ceceku.

Ce Mimi tampak sudah pasrah dan hanya mengikuti goyanganku. Ia lebih sering menyembunyikan menundukkan wajahnya. Namun sekali-sekali ia mendongak dengan mulut terbuka. Saat ce Mimi mendongak dapat kulihat secara samar wajahnya penuh air mata. Ce Mimi menangis.

Nafasku terus memburu mendengus-dengus seiring semakin cepat dan kuatnya sodokanku pada vagina ceceku sampai tak lama kemudian aku merasakan sensasi menggelitik yang mengalir dari seluruh aliran darahku. Dari ujung rambut keujung kaki. Semua seperti mengalir cepat tersedot berpusat kepenisku. Aku tekan penisku sedalam-dalamnya, dan aku menggeram. Penisku meledak!
Aku keluar. Aku orgasme didalam vagina ceceku. Berkali-kali penisku menembakkan isinya dengan kuat seperti tak mau berhenti.

“Agghh…cece….cece….ceceeee..!” Tak sadar tanganku meremas kuat dada dan pantat ceceku. Dan punggungnya pun menjadi sasaran gigitanku.

“Aaahhhg….Jooo…Joo..!” Ceceku juga menjerit -jerit dalam tangisnya..
Entah apa ia juga orgasme atau karena merasakan kesakitan.

Beberapa saat kemudian tubuh lemasku jatuh terduduk ke bangku bulat bersandar pada tembok dibelakangku. Kubiarkan penisku yang masih setengah keras basah dan berkilat terbuka menantang dengan gagahnya, bagaikan prajurit yang berdiri bangga karena telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Aku merasa puas sekali. Sensasi menggelitik mengalirkan kenikmatan ke seluruh aliran darah ditubuhku. Kepalaku yang terasa ringan bergoyang perlahan mengikuti musik. Bibirku tersenyum dengan sendirinya.

Mataku memperhatikan ce Mimi yang perlahan bangun tertatih dari posisinya.

Perlahan ce Mimi mendekatiku, masuk diantara kedua kakiku yang terduduk mengangkang. Ia masih menangis terisak. Wajahnya basah oleh air mata dan peluh. Rambutnya acak-acakan tak karuan. Ia hanya terdiam memandangiku. Entah apa yang ada dipikirannya.
Perlahan kurengkuh ce Mimi dalam pelukan dan kurebahkan kepalanya didadaku. Ku usap lembut rambutnya.
Tak ada kata-kata yang terucap.
Kami bergoyang terus perlahan.
sampai kira-kira 1 jam kemudian kita merasakan pengaruh obat mulai menghilang ditubuh.

“Thanks dan sory yah ce.
Ayo kita pulang.” Ajakku sambil mengecup kening ce Mimi.

The End.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*