Home » Cerita Seks Ayah Anak » Kisah Keluarga Citra 12

Kisah Keluarga Citra 12

Cerita Sebelumnya : Kisah Keluarga Citra 11

Semenjak kejadian beberapa hari lalu, pikiran Ciello semakin gelisah. Berulangkali ia hanya mendapat tatapan ibunya tanpa ada satu pembicaraan apapun. Bahkan ketika mereka saling berpapasan, Ciello dan Citra hanya saling melirik dan mengadu tatapan. Tak ada sapaan, tak ada komunikasi. Mereka berdua sama-sama diam.

Hingga suatu pagi, ketika mereka berpapasan di dapur. Ciello memberanikan dirinya untuk memulai percakapan dengan ibunya.

“Maa … ” Ucap Ciello lirih

Citra tak menjawab, ia masih saja sibuk memasak. Memotong daun-daun sayur dan memasukkannya dalam panci panas.

“………Sepertinya kita perlu bicara tentang hal kemarin Maa…. ” Ucap Ciello lagi.

Sejenak, Citra menghentikan aktifitasnya. Ia lalu mencuci tangannya ke wastafel dan mengusapkan telapak tangan basahnya kebongkahan pantatnya yang seksi.

“Uuuhh….. Pantat bulat Mama….” Kagum Ciello ketika melihat bulatan pantat ibunya.

Semenjak kejadian kemarin entah kenapa, pikiran mesum Ciello semakin menjadi-jadi. Walau Citra masih mengenakan pakaian lengkap, tetap saja otak mesum Ciello selalu berpikiran ngeres terhadapnya. Kilasan memory dimana ibunya sedang mengocoki vaginanya dalam-dalam sambil menyebut-nyebut namanya, selalu berkelebat hebat di pikirannya.

“Hmmm…. Iya Sayang… Sepertinya kita harus bicara…. Banyak….” Balas Citra pelan dan tegas, sembari mengambil kursi yang ada disamping Ciello.
“Maa… Ciello…..” Ucap Ciello.
“Ssssttt…” Tutup jari Citra pada bibir putranya, “Mama ngerti Sayang… Maafin Mama ya…” Ucap Citra singkat sambil tersenyum.

“Loh… Kok….?” Heran Ciello.

“Sayang… ” Ucap Citra sambil mengusap dahi Ciello, “Kamu adalah anak lelaki Mama satu-satunya… Dan kamu tahu…? Mama begitu sayang padamu Nak….” Jelas Citra, “Kita tidak bisa membiarkan hal aneh ini menjadi semakin berkepanjangan…”
“Maa….” Gumam Ciello tak meneruskan kata-katanya. Matanya menatap turun, kearah kaki mulus Citra, kejemari lentik di kaki ibunya, kelantai yang ia tapaki. “Ciello….. Ciello malu Maa…”

“Iya…. Pastinya…. Mama tahu hal itu Sayang…. ” Usap Citra lagi kedahi Ciello sembari menggeser kursi makannya, mendekat kearah Ciello duduk. “Kamu pasti diomongin teman-temanmu ya…..?”

Ciello mengangguk.

“Maafin Mama ya Nak….” Ucap Citra lagi. Ia lalu menarik kepala Ciello mendekat kearah payudaranya, kemudian ia mendekap putranya dalam-dalam di dadanya. “Mama tahu Nak…. Pasti teman-temanmu tak henti-hentinya berkata cabul tentang Mama ya Nak…?”
“I… Iya…. Maa…. ” Jawab Ciello menganggukkan kepalanya. Sambil membalas dekapan Citra dengan memeluk pinggang ramping ibunya. Sembari memeluk, Ciello juga semakin membenamkan kepalanya ketengah-tengah payudara besar Citra. Mencoba meraih kehangatan kasih Sayang yang tak ia rasakan selama beberapa hari ini, “Ciello…. Malu Maa… Tapi…. Sekaligus bangga…”

“Looohh….? Kok bangga….?” Heran Citra.
“Iya Maa… Ciello bangga jadi anak Mama…” Jelas Ciello, “Mama benar-benar jujur…”
“Maksud kamu apa Sayang…?” Tanya Citra yang kemudian menatap wajah Ciello erat-erat.

“Iya… Mama nggak munafik… Apa yang Mama rasakan… Mama langsung ungkapin saat itu juga….”
“Hhmmm… Maksudnya gimana sih….? Mama masih nggak mudeng….”

“Nnggg…. Inget nggak waktu Mama…. Nggg….Sedang ngobel… Nggg… Memek Mama…?”
“Nggg…. Yang mana ya Sayang…?” Tanya Citra sambil melirikkan bola matanya kelangit-langit, mencoba mengingat apa maksud perkataan Ciello.
“Waktu Mama…. Nggg… Sebelum orgasme….?” Jelas Ciello lagi. “Yang waktu Mama menyebut-nyebut nama Ciello….?”
“Oooww.. Ituu….? Hhmmm…. Iiii… Ya….? Emang kenapa….?”
“Disitu Ciello bisa langsung tahu Maa… Betapa sayangnya Mama ama Ciello….”
“Ooowwwalaaaahhhh…. Hihihihi…..”
“Dan dari situ… Ciello tahu… Jika Mama juga memiliki rasa yang sama dengan apa yang Ciello rasakan selama ini…. Ciello juga Sayang mama….”

“Ya Ampuuunnnn…. Sayaaaanggg….” Peluk Citra lagi. “Gantian Mama nih yang jadi maluuuu….”
“Malu karena Mama orgasme karena aku ya Maa….?” Tanya Ciello, “Nggak perlu Maa…. Justru Mama sudah bikin aku seneng….”
“Looooh..? Kok bisa…?” Heran Citra lagi.
“Iya Maa… Karena pertunjukan Mama kemaren… Sudah bikin semua temen-temen aku iri Maa….”

“Seriuuuussss….? ” Kaget Citra, “Temen-temen kamu iri kenapa…?”
“Ya iri aja ama Ciello Maa….”
“Hihihi…. Mungkin mereka iri karena kamu punya Mama yang nakal ya Sayang…? Hihihihihi….” Tawa Citra bercanda sambil mencubit ujung hidung Ciello.
“Hehehe…. Aku Sayang Mama…” Ucap Ciello sambil kembali membenamkan wajahnya dalam-dalam ke belahan dada Citra.
“Mama juga sayang kamu Nak….”
“Jadi Maa… Kita sekarang impas ya…?” Ucap Ciello.
“Impas gimana maksudnya…?”
“Iya impas… Mama udah pernah liat Ciello onani…. Dan Ciello juga udah pernah liat mama masturbasi…”
“Ooohh.. Hihihihihi… Iya Sayang… Kita impas…”

Dalam dekapan dada Citra, Ciello mendongak dan menemukan tatapan mata coklat Citra saat mereka saling berpandangan dalam sebuah rasa baru. Rasa saling memiliki antara satu dan lainnya.

“Wooooooooooooooooooooow…! ” Pikir Ciello tiba-tiba. “Baru sadar… Ternyata Mama benar-benar cantik….. Kenapa aku tidak pernah melihat kecantikan Mamaku sebelumnya ya…? Dan tetek ini…. Hhhhh… Benar-benar empuk… Benar-benar nyaman untuk ditiduri…. ”

Sejenak, Ciello menggeleng-gelengkan kepala untuk membersihkan pikiran itu. Dia tidak bisa membiarkan hal-hal mesum seperti itu menyelinap ke dalam otaknya. Citra adalah ibunya. Dan sebagai seorang anak, tak wajar jika ia berpikiran mesum tentang ibunya.

Namun, walaupun otaknya mampu mengalihkan pikiran mesumnya, tak begitu dengan penisnya. Karena pelan tapi pasti, penis Ciello perlahan mulai menegang.

“Apa yang kita lakukan kemarin tuh normal Sayang…. Kita semua pasti memiliki keinginan untuk dapat memuaskan diri sendiri…” Jelas Citra sambil tersenyum simpul, “Bahkan… Mama juga memiliki keinginan seksual juga…. ”
“Ngg… Memangnya Mama… Nnggg… Nnggak dikasih ama Papa….?”
“Hihihihihi…. Pertanyaanmu kok begitu Sayang…?” Tanya Citra, “Hhhhhhh…. Mama dikasih kok…” Tambahnya sambil menghela nafas, “Cuman…. Ada kalanya Mama juga perlu melakukan masturbasi untuk memuaskan nafsu birahi Mama Sayang… Yaaahhh… Seperti yang kamu dan teman-temanmu lihat kemaren…”

“Oooww… Kirain… Dengan adanya Papa… Semua… Nnnggg… Nafsu birahi Mama bisa terlampiaskan….”
“Hihihihi…. Papamu cuman ngebantu sedikit aja Sayang… Sediikiiittt aja…..” Ucap Citra sambil mengecup kening Ciello, “Ada banyak nafsu birahi Mama yang… Yaaah… Tak bisa didapatkan Mama hanya dari kontol Papamu….”

Mendengar Citra menyebut birahi, masturbasi, kontol, membuat Ciello lagi-lagi membayangkan kejadian kemaren. Dan efeknya, membuat batang penisnya semakin mengeras.

“Maa….?” Panggil Ciello manja.
“Yaa Sayang…..?”
“Kalo boleh tahu….”
“Yaa….? Kenapa Sayang…?”
“Nnggg…. Kemaren…. Waktu Mama nyebut nama Ciello……” Tanya Ciello ragu ,”Mama sedang mikirin apa sih…?”
“Hihhihihi…. Kamu mau tahu….?”
“Nnggg… Kalo boleh sih….”
“Mama mikirin…. Hihihihi… Jangan ketawa ya….?”
“Kenapa harus ketawa Maa….?”
“Hihihihi…. Ya kali aja kamu ketawa setelah ngedenger jawaban Mama….”
“Ya nggak lah….”
“Mama…. Mikirin…. Hmmmm…… ” Jawab Citra sepotong-sepotong, sengaja membuat Ciello semakin penasaran.
“Mikirin apa Maa…?” Tanya Ciello tak sabaran.
“Mama mikirin… Kontol kamu ini Sayang…. Hihihi….” Jelas Citra sambil menjulurkan tangannya kearah selangkangan Ciello. Kemudian ia segera mendekapnya kuat tonjolan kolor yang sudah yang terlihat menggembung keras.

“Loohhh….? Aasssstagaaaa… Naaak…. Ini kontol kamu… Kok… Udah ngaceng aja yaaa…?” Kaget Citra.
“Hehehe… Habisan… Mama cantik sih….” Goda Ciello.
“Halaaaah…. Gombal….” Ucap Citra.
“Kok gombal sih…? Beneran Maa…. Mama cantik….”
“Preeettt…. ” Canda Citra lagi, “Tapi kamu juga sering khan ngelakuin seperti yang Mama lakuin…. ?”
“Lakuin gimana Maa…?”
“Kamu sering ngebayangin mama ketika ngocok kontolmu setiap kali kamu onani…?”
“Aaah… Nggak juga Maa….”
“Jangan bohooong…. Kata Clara… Kamu sering banget tuh nyebut nama Mama kalo kamu sedang ngocok kontol… Yaa khaaaannn….?”

“Dasar Wewe Gombel… Nggak pernah bisa ya nutup mulut….” Batin Ciello dongkol terhadap adiknya, “Awas aja ya… Rasain aja pembalasanku nanti….”

“Hehehe…. Iya Maa….” Jawab Ciello malu-malu.
“Jadi…. Mulai sekarang… Sepertinya nggak ada lagi yang Mama perlu sembunyikan darimu ya Sayang…” Ucap Citra santai sambil mengusapi rambut Ciello, “Tak ada lagi yang perlu disembunyikan…”
“Hhmmm… Iya Maa…. ” Jawab Ciello, “Maafin Ciello juga ya Maa… Kalo sering bikin masalah….”
“Hehehe… Kalo soal itu… Mama udah biasa kok Sayang…. CUUUP…” Ucap Citra yang kemudian menutup percakapan mereka dengan kecupan erat di kening Ciello.

“Lega sekali rasanya…. Udah bisa ngeluarin penat dihati….” Batin Ciello yang kembali membenamkan kepalanya kepayudara ibu kandungnya sembari membiarkan jemari lentik Citra terus mengusap tonjolan besar di selangkangannya. Dihirupnya aroma tubuh Citra dalam-dalam sembari mencoba meraih kehangatan kasih sayang rasa baru ibunya.

“Makasih ya Maa… Udah mau jadi ibu terbaik buat Ciello….” Ucap Ciello lirih sambil semakin mendekap tubuh semok Citra erat-erat.
“Iya Sayang… Mama juga makasih kalo kamu udah ngertiin Mama….” Ucap Citra membalas dekapan Ciello. “Omong-omong… Ini kontol kok makin keras aja ya Sayang….?”
“Hehehe… Itu karena Ciello punya Mama secantik bidadari….”
“Haaallllaaaaahhh…. Tiipuuuu….. Masa ama Mama sendiri ngaceng…. Hihihihi….”
“Emang nggak boleh ya Maa….?”
“Ngggg…. Boleh aja sih….” Ucap Citra dengan tak menghentikan gerakan tangan lentiknya di selangkangan putranya. Dari yang semula mengusap penis Ciello, menjadi mengurutnya perlahan dari luar celana kolornya.
“Uuuhhh.. Enak Maaa….” Lenguh Ciello keenakan. “Jari Mama memang nikmat Maa….”
“Enak ya Sayang….?”
“Sumpah enak banget Maa….”
“Enak mana Sayang….? Enakan kontolmu dikocokin jari Mama…. ? Atau kamu ngocok kontol sendiri…?”
“Ya jelas enakan dikocokin jari Mama laaaahh…..”
“Hihihihi… Dasar anak Mama…. Mesumnya amit-amit daaahhh….” Canda Citra, “Udah ahhhh… Mama mau kerja lagi nih…. Ntar kalo ini diterusin… Ada yang muncrat-muncrat nih…..” Tambah Citra sambil melepas usapan tangannya dari penis Ciello.

“Ahhh. Mamaaa…. Bentaran ah Maa… Ciello pengen meluk Mama lebih lamaan….”
“Pengen meluk apa pengen ngusel tetek Mama….?”
“Hehehehe… Pengen itu juga Maa….”
“Dasar anak supeeer meeeesuuuum…..” Ucap Citra yang kemudian meremas keras-keras buah pelir Ciello, membuat putra kandungnya langsung berjingkat bangkit dari duduknya sambil loncat-loncat.

“Waaadaaaauuuwww… Maaaamaaaaa…..” Teriak Ciello kesakitan karena mendapat siksaan dadakan dari ibu kandungnya.
“Hihihi… Biarin…. Makanya…. Jangan suka membantah perintah Mama….” Ejek Citra sambil menjulurkan lidahnya, “Kalo kamu mau ngocok kontol…. Kocok sana aja sendiri… Mama mau kerja lagi….”

Akhirnya, setelah mereka bericara panjang lebar, Citra dan Ciello memutuskan untuk menghilangkan semua pembatas tabu yang memisahkan hubungan diantaranya. Mereka membuka semua perasaan yang mereka miliki. Termasuk hasrat seksual baru yang ada dalam pikiran ibu dan anak itu.

***

Beberapa hari kemudian, Ciello merasa begitu tenang dan bahagia dengan kesepakatan baru dari Mamanya, yang telah memberikan kebebasan kepada dirinya untuk dapat mengeksplor kegiatan seksualnya di dalam rumah. Sekarang, ia tak perlu lagi malu jika kedapatan sedang beronani ria di depan Citra, bahkan terkadang, Citra juga membantu Ciello untuk segera mencapai puncak kepuasannya.

Kebersamaan ibu dan anak itu membuat rasa Sayang Ciello kepada Citra semakin meluap. Ia ingin memiliki ibunya seutuhnya, tanpa memperbolehkan siapapun merenggutnya. Termasuk Mike, ayah sekaligus suami Citra.

***

Siang itu, Ciello pulang dari arena olahraga lebih cepat daripada biasanya. Jika biasanya ia pulang sekitar jam tiga sore, hari itu ia pulang sebelum jam makan siang.

Karena merasa begitu lelah, ia langsung menuju ke kamarnya. Melepas semua pakaiannya yang telah basah karena keringat, dan menghempaskan tubuhnya keatas empuknya kasur. Sejenak, Ciello merasa begitu lapar. Dengan hanya mengenakan boxer, ia melangkah gontai, menuruni tangga rumah lalu berjalan kearah dapur.

“Maaa… Mamaaaa…. Aku udah pulang….” Panggil Ciello yang baru mendapati jika rumahnya terasa begitu sepi. Tak seperti biasanya, “Mamaa…? Mama dimana….?” Panggilnya lagi.

Tak mendengar jawaban dari ibu kandungnya, Ciello segera bergegas ke kamar Citra. Dan ketika ia berdiri di depan pintu kamar tidur ibunya, terdengar lirih keran air dan shower yang mengalir deras.
“Apa Mama sedang mandi….?” Tanya Ciello dalam hati sembari membuka pintu kamar Citra dan melangkah masuk, mendekat ke pintu kamar mandi Citra.

Membayangkan ibunya mandi, mendadak penis Ciello menggeliat. Menegang dan mengeras dengan perlahan.

“Jadi…. Mulai sekarang… Nggak ada yang perlu Mama sembunyikan darimu ya Sayang….” Seketika, Ciello membayangkan tentang percakapannya dengan Citra beberapa hari kemaren.

“Benar nggak ya kalimat Mama kemarin….?” Tanya Ciello dalam hati, “Kalo memang benar… Kira-kira…. Mama bakalan marah nggak ya kalo aku onani sambil melihat tubuh telanjangnya…?”

“Pasti akan sangat menyenangkan bisa ngecrotin pejuhku di depan mata Mama… Ohhh… Ngecrotin wajah Mama…. Ngecrotin tetek Mama…. Syukur-syukur bisa ngecrotin memek Mama…. Uuuhh…. Pasti bakalan seru sekali…. ” Pikir Ciello sambil membuka sedikit pintu kamar mandi Citra.

CKLEK
Pintu kamar mandi Citra terbuka.

“Maaa….? Mama didalam…?” Tanya Ciello sambil menjulurkan kepalanya masuk kedalam kamar mandi.
“Eh… Ciello…..?” Kaget Citra karena mendapati pintu kamar mandinya tiba-tiba terbuka.
“Astaga Mama….?” Kaget Ciello, begitu mendapati Citra yang berada didalam kamar mandi dengan tanpa mengenakan pakaian apapun. Rupanya, ibu Ciello itu baru akan mulai mandi.

“Eehh.. I.. Iya sayang…? A…Ada apa…?” Jawab Citra kikuk sambil buru-buru berusaha menutupi tubuh telanjangnya sebisa mungkin. Namun, karena handuk berada jauh di dekat Ciello berdiri, Citra tak jadi mengambil handuk itu. Ia hanya menyilangkan tangannya menutupi payudara dan vaginanya.

Maaf Maa.. Ciello nggak tahu kalo Mama mau mandi Alasan bodoh Ciello terucap lancar sambil menutup pintu kamar mandi Citra.
Ehh.. Iya sayang Tak apa-apa Ucap Citra yang ketika ia mendapati Ciello hanya mengenakan boxer, entah kenapa tiba-tiba perasaan malu yang semula ada di dadanya, perlahan berangsur menghilang. Bahkan ketika Citra melihat batang penis putra kandungnya yang jelas menonjol dibalik boxer tipisnya, ia lupa akan rasa malu dan ketelanjangan dirinya.

“A… Ada apa Sayang…?” Tanya Citra dengan nada yang dibuat setenang mungkin sambil mulai mengguyur tubuh semoknya dengan shower.
“Hmmm… Ng… Nggak ada apa-apa Ma….” Jawab Ciello dengan nada yang juga terdengar tegang, ÔÇ£Ciello… Cuman sedikit laparÔǪ.ÔÇØ
“WaduhÔǪ Mama belum masak sayangÔǪÔÇØ Jelas Citra, ÔÇ£Apa kamu mau nunggu bentarÔǪ?ÔÇØ
“HmmmÔǪ Boleh deh MaaÔǪÔÇØ Jawab Ciello yang alih-alih keluar kamar mandi, ia malah berdiri mematung di depan tubuh telanjang ibunya. “Ciello nunggu disini aja ya….?” Tambah Ciello mencoba peruntungannya.

Sejenak, kedua insan ini saling berpandangan satu dengan lainnya. Saling menatap tubuh lawan bicaranya. Ciello, dengan hanya mengenakan celana kolor tipis tak mamapu menyembunyikan batang penisnya yang sudah benar-benar tegang. Sedangkan Citra, yang juga sudah tak mengenakan sehelai pakaianpun, juga tak mampu menyembunyikan desah nafasnya yang mulai memburu.

“Ciello…. Pasti badan kamu gerah ya…? Habis bersepeda siang-siang seperti ini…” Tanya Citra dengan ekor mata yang menatap erat ke tubuh tegap putranya yang berkilauan karena keringat. “Wajah ganteng Ciello…. Dada bidang Ciello…. Perut sixpack Ciello…. Dan oohhh… Kontol besar Ciello….” Seru Citra dalam hati sambil tak mampu mengalihkan perhatiannya kearah tonjolan batang kelamin putranya.

“I… Iya Ma… Gerah banget….” Jawab Ciello dengan nada yang serupa dengan ibunya. Nada tegang penuh rasa penasaran karena menatap tubuh basah ibunya. “Wajahnya Mama cantik sekali…. Mata sayu Mama… Bibir mungil Mama… Dan Astagaaa…. Tetek besar Mamaaa… BasahÔǪ.” Jerit Ciello yang tak henti-hentinya menatap tubuh telanjang Citra. “Kaki mulus Mama… Dan juga…. Ohhh… Memek gundul Mamaaa….”

Untuk beberapa saat, mereka berdua tenggelam dalam keheningan yang muncul diantara mereka.

“Ciello…. ApaÔǪ Kamu…. Mau…. Nggg…. ” Sejenak, Citra menghentikan kalimatnya. Antara bingung dan penasaran. Antara malu dan mau. Antara ingin tahu dan tak mampu menahan gejolak birahi.

“Ya Maa….?” Jawab Ciello pelan.

“ApaÔǪ Kamu… Mau….Mandi bareng Mama….?” Akhirnya, Citra memberanikan diri untuk mengatakan isi hatinya.

“Murahan sekali kau Citra….” Tiba-tiba, suara hatinya berteriak lantang.
“Ahhh… Ini khan cuman sebuah tawaran mandi…. Sudah biasalah itu… Seorang ibu mandi bareng anaknya….” Jawab suara hatinya yang lain.
“Iya… Sudah biasa… Tapi khan kalau itu anaknya masih balita…. Nah ini…. Si anak sudah lulus SMA…. Sudah beranjak dewasa…. Sudah tahu mengenai nafsu birahiÔǪ.”
“Aaaaahhh…. Emang kenapa kalo sudah beranjak dewasa…. Toh dia masih tetap anakku….”
“Iya… Itu memang anakmu… Tapi khan ga wajar saja jika kamu mandi bersamanya….”
“Aaaaahhh… Masa bodo… Lihat tuh tonjolan kontolnya…. Apa kamu tak penasaran bagaimana bentuknyaÔǪ? Bagaimana rasanya….? Bagaimana kenikmatannyaÔǪ?”
“Astaga Citra…. Emang kontol suamimu sudah tak mampu memberikan rasa kenikmatannya…?”
“Itu beda…. Kontol Mike berbeda dengan kontol Ciello….” Jerit Citra dalam hati, “Iya…. Kontol Mike berbeda dengan kontol Ciello….”

Akhirnya, perseteruan hati Citra terkalahkan oleh birahinya. Entah mengapa, melihat sosok putranya, Citra ingin sekali melangkahkan hatinya ke arah hubungan terlarang antara ibu dan anak yang semakin jauh lagi.

“Ma…Mandi ba… Bareng Mama….?” Taya Ciello gugup.
“Iya Nak…. Kamu mau nggak….?” Tawar Citra.
“Nnnnnggg…..” Terlihat sebuah kebingungan di mata Ciello.

Namun, sebagai seorang ibu, Citra pasti tahu, Ciello pasti tak akan menolak tawarannya itu. Namun supaya tawarannya tak terlihat murahan, Citra harus akal supaya Ciello pun tak menganggapnya murahan.

“Tapi kalo kamu nggak mau…. Yaudah nggak apa-apa…. Kamu bisa nunggu Mama bentaran… Duduk aja dulu disana Sayang… ” Ucap Citra sembari menunjuk kearah toilet. ÔÇ£Biar Mama selesein dulu mandi MamaÔǪÔÇØ

Ciello menuruti apa perkataan ibunya. Duduk di toilet yang menghadap kearah ibunya. Duduk di tempat yang hanya berjarak satu meter dari tubuh telanjang ibunya.

“Udara panas begini memang enaknya mandi loh SayangÔǪ. ” Ucap Citra berusaha cuek, membiarkan putra kandungnya melihat aktifitas mandinya. Dengan santai, Citra lalu mengambil sabun cair dan mengusapkannya ke seluruh permukaan kulitnya. Tangannya, perutnya, payudaranya, pantatnya, kaki hingga selangkangannya, tak luput dari baluran sabun yang makin lama makin berbusa. Apalagi ketika Citra menaikkan satu kakinya ke tepi dudukan toilet yang sedang Ciello dudukin, vaginanya terlihat begitu jelas merekah. Membuat Ciello mendadak kesulitan untuk bernafas dan mengedipkan matanya.

“ANNNNJJRRRRIIIIITTTTTRRRR….. Memek Mama merraaah bangeeett….” Batin Ciello dengan mata melotot, “Pantesan… Papa tak henti-hentinya ngentotin tuh memek Mama…” Tambahnya lagi ketika melihat betapa indahnya tubuh ibunya. Payudaranya yang besar begitu menggoda untuk dapat ia remas, pinggul ramping yang begitu menggiurkan untuk dapat dipeluk, dan vaginanya yang begitu merekah untuk dapat disodok-sodok dengan penis besarnya.

“Kenapa Sayang…? Kok kamu melihat Mama seperti itu…?” Tanya Citra sambil terus menggosok selangkangannya. Kali ini ia memindahkan kaki satunya untuk ia naikkan ke tepi dudukan toilet sembari menggosok bibir vaginanya. Berusaha memperlihatkan kerapatan liang kewanitaannya yang mulus tanpa rambut sedikitpun. Setelah selesai menggosok bibir vaginanya, Citra kemudian membalikkan tubuhnya dan sedikit menungging-nunggingkan pinggulnya. Memamerkan goyangan pinggang, pantat dan payudaranya yang bergelantungan kesana-kemari seiring gerakan tubuhnya. “Kamu suka dengan apa yang kamu lihat… Sayang….?”

Ciello mengangguk, sambil berusaha membetulkan selangkangannya.

“Hihihihi… Mukamu kok merah Sayang…. ? Kamu pasti horny ya…. ? Kamu makin ngaceng ya…?” Tanya Citra dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin. Padahal Citra tahu jika suaranya saat itu begitu gemetar karena birahinya yang semakin memuncak.

“Hihihi….. Kontolmu nggak sopan sekali Sayang….Masa nunjuk-nunjuk Mama….?” Goda Citra lagi sembari tersenyum melihat wajah kikuk Ciello ketika menahan nafsu akibat melihat tubuh telanjangnya.

“Nnggg… Iya Ma….” Jawab Ciello gugup.
“Awas ketekuk loh kontolnya…. Nanti jadi sakit….” Ucap Citra dengan intonasi nakal yang semakin menjadi-jadi.

“Nggg… Mama tahu aja….” Jawab Ciello lagi yang kali ini terang-terangan membetulkan batang penisnya yang sudah benar-benar tegang.

“Hihihi….Kalo kontolmu sakit… Keluarin aja Sayang…. Nggak apa-apa kok….” Kata Citra yang kemudian menyiram tumpukan busa dari tubuh seksinya, “Bahkan kalo kamu mau… Kamu boleh kokÔǪ NgggÔǪ Ngocok kontolmu disini sayang…”

“Ngocok kontol…? Disini…?” Kaget Ciello, “Beneran Maa…?”
“Iya…. Sok aja kalo kamu mau….”
“Serius…?”

Citra menanggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Tubuh ini khan yang selalu ada di pikiranmu…? Tubuh ini khan yang selalu bikin kontolmu tegang? Selalu bikin kamu onani…? Selalu bikin pejuhmu muncrat berali-kali…?”
“Nggg… I… Iya Maa….”
“Yaudah…. Sok… Kocok aja kontolmu Sayang… Sok aja kalau kamu pengen onani… Mumpung kamu sedang ngelihat Mama telanjang….” Jawab Citra enteng, “Kamu suka khan ngelihat Mama seperti ini…?”
“Uuhhmmm… Su… Suka banget Ma… ” Jawab Ciello sambil lagi-lagi membetulkan penisnya

“Hihihi….Uudaaah… Keluarin aja kontolmu Sayang… Mama tahu kok… Kalo kamu memang suka onani…. Hihihi…..”
“Nnggg.. Iya Mah… ” Jawab Ciello sembari menurunkan boxernya cepat-cepat. Membebaskan batang penisnya yang sudah menegang keras.

TUUUIIINGGG…

“Hihihihi… Tuh… Lihat… Kasihan banget tuh kontol… Sampe merah gitu…. Hihihi… ” Goda Citra, “Kocok aja Sayang kalo kamu mau….”
“Nnggg.. Iya Maa…”

Tak lama, tangan Ciello terlihat sibuk bergoyang naik turun. Mengocok batang penisnya naik turun sembari menatap tubuh telanjang ibunya.

“Hihihi… Muka kamu kalo lagi horny keliatan makin ganteng sayang….” Goda Citra sembari terus melempar senyum genit ke putranya. “Enak nggak…? Coli sambil lihat tubuh bugil Mama…?”
“Nngg… Enak Maa…. ” Ucap Ciello, “Mama keliatan makin cantik… Makin seksi….”
“Seksi…? Emang kamu paling suka ngeliat badan mama yang mana Sayang…?”
“Nnggg… Bagian tetek ama…. Memek Mama….”
“Hmmm… Kalo gitu… Sini deh… Ngedeket ke Mama….”

Mendengar permintaan mamanya, Ciello pun segera bangun dari toliet dan mendekat kearah Citra. Sambil terus mengocoki penisnya, ia menatap tajam kearah tubuh seksi ibu kandungnya itu. Berulang kali, Ciello harus membasahi kerongkongannya, menelan ludah birahi yang tak henti-hentinya membasahi mulutnya

“Sssshhh… Ssumpah… Mama seksi banget Maaa… Ooohhhhh….”
“Hihihihii… Masa Sih….?”
“Ssshh.. Iya Maa.. Badan Mama nafsuin banget….”
“Ahh.. Sayang… Bisa aja…. Kamu udah mau keluar Sayang…?”
“Belum Maa… Masih lama…”
“Hihihihi… Kalo kamu mau… Sok aja kamu pegang tetek mama Sayang…”
“Ooooohh.. Serius….? Beneran Maa..?”
“Atau kalo kurang… Kamu duduk aja dilantai… Didepan selangkangan Mama… ” Kata Citra yang kemudian gantian, duduk di dudukan toilet sembari menarik tangan Ciello turun dan duduk di depannya. “Ayo… Kamu duduk aja Sayang…. Biar bisa liat memek Mama lebih jelas….” Tambah Citra yang setelah itu membuka kedua paha mulusnya dan menyibakkan bibir vaginanya lebih lebar kehadapan putra kandungnya.

“AASSTAAAGAAAA… Maa… Mee.. Memek Mama cantik bener….”
“Aaahh…. Masa sih…?”
“Iya Ma… Memek Mama…. Mirip memek-memek pemain film porno… Bersih….”
“Iiiiiihh.. Kok kamu nyamain Mama kaya pemain film porno sih…?”
“Hehehehe.. Habisan… Kecantikan dan keseksian Mama… Mirip ama mereka Maa… ”

Melihat kelakuan nakal Citra, membuat Ciello tak dapat menahan nafsu birahinya. Lelaki yang mudali beranjak dewasa itupun segera mengocok penisnya naik turun dengan bersemangat.
“Hihihihi…. Kamu suka ya dengan apa yang Mama lakukan sekarang….?” Tanya Citra sambil semakin membuka kakinya lebar-lebar, memperlihatkan lipatan daging yang ada di celah vaginanya lebar-lebar.

“Ssshhh… Iya Ma…. Mama terlihat begitu seksi…. Oooohh….. Bikin Ciello pengen ngocok kontol ini kenceng-kenceng Maa… Ooohh… Mamaa…..” Lenguh Ciello sambil semakin mempercepat kocokan tangannya.
“Hihihi… Masa sih Sayang….?” Goda Citra terus. Tak puas dengan hanya mempermainkan bibir vaginanya, Citra kemudian mulai menyemprotkan shower kearah vaginanya. “Kalo seperti ini… Mama makin mirip pemain bokep nggak Sayang….?” Tambah Citra dengan jemari lentiknya yang mulai terbenam dalam vaginanya. Menggelitik liang peranakannya pelan..
“I… Iya Maa…. Mirip banget….”

“Sssshhh…..Nakal mana Sayang….? Eeehmmm….Pemain bokep atau…. Sssshhh… Mama….?” Tanya Citra yang mau tak mau, mulai ikut-ikutan menggelijang geli akibat kobelan jari pada vaginanya.
“Oooohhh…. Nakalaan Mamaa….. Ssshh… Ooohhh… Maaa… Ciello pengen ngecrot Ma….”
“Looohhh….? Cepet sekali Sayang….?”

“Kalo bisa cepet dapet enak…. Buat apa lama-lama Ma…?” Seru putra kandung Citra yang semakin mempercepat kocokan tangannya. Membuat kulit leher batang penis itu terhentak-hentak begitu keras.

TEK TEK TEK TEK TEK

“Uuuuhh… Cielloooo… Kontolmu juga terlihat seksi Sayang… Pasti rasanya enak banget ya kamu kocok-kocok seperti itu…?” Tanya Citra dengan lenguhan yang terbakar birahi.
“Enak banget Maa…. Rasanya enak banget…. Apalagi disuguhi pemandangan badan telanjang dan memek Mama yang begitu seksi… Oohhh…. Sumpah…. Bikin Ciello pengen cepet-cepet ngecrot aja Maa…”

Mendengar pujian putra kandungnya, Citra pun semakin memperkuat semburan shower pada vaginanya, tak lupa, Citra juga semakin dalam menusuk-nusuk celah peranakannya dengan jarinya.

CLOK CLOK CLOK CLOK….

Hingga tak lama kemudian, vagina Citra tiba-tiba mulai berdenyut hebat, disertai dengan hentakan otot-otot rahim yang memompa gelombang orgasmenya.

“Ohhh… Sayang…. Ooohhh… Mama juga mau keluar Sayang…. ooohhh…. ooohh… Mama mau keluaaaarrr…. ” Lenguh Citra sambil meliuk-liukkan tubuh seksinya, menggelijang hebat kedepan dan kebelakang. “Ohhh… Ohhh…Saayaaaanggg…. Ciellloooo Saaayaaaannggg… Mama…. Ohhh… Mau keeelluuuaaarr….” Tambah Citra yang kemudian melepas shower dari tangannya dan menstimulus titik birahi tubuhnya. Tangan kanannya terus mengocoki vagina, sementara tangan kirinya meremasi kedua payudara dan puting merah mudanya kuat-kuat.

“Tunggu bentaar Maaa…. Ciello juga pengen keluar Maaaa….”
“Kita keluar bareng yuk Sayang…. Ooohh.. Ciellooo… Mama uuuhhh… Maaau kelluuaarrr….” Jerit Citra yang tiba-tiba membeliakkan matanya. Kedua pupil matanya menghilang keatas hingga hanya terlihat mata putihnya saja. Mulutnya juga menganga lebar dengan disertai desahan-desahan kenikmatan.

CREET CREET CREECEEETTT CREETT CREETT…

Vagina Citra mengedut dengan kuat, meremas jemari lentiknya yang masih tertancap erat di vaginanya.
“Oooohhh…. Nggggeeennnntttoooootttt…… Ciiieeeelllooooo…. Maaamaaaa Keeeeeeeeeelllluaaar Saaayyyaaaanngg… Oooohhh…. Oooohhh…. Oooohhh…. ” Lenguh Citra sambil membungkuk-bungkukkan tubuhnya kedepan.

CREET CREET CREECEEETTT CREETT CREETT…

” Ooohh… Ooohh… Saaayaang…. Enak…. Hhhh…. Hhhh…. Hhhh….” Ucap Citra dengan nafas terengah-engah. Gelombang orgasme Citra kali ini terasa begitu hebat. Bahkan, ibu dua anak itu merasa jika orgasme barusan adalah orgasme terkuat yang bisa ia dapatkan dari mastubasinya selama ini.

“Ooohh… Astagaa …. Maaaaa….. Mamaa seksi sekali Maaa…..” Lenguh Ciello, “Mamaa bikin kontol Ciello pengen keluar aja maaa….!”
“Oooh… Kamu mau ngecrot Sayang….?”
“Iya Maa… Ooooohhh… Ciello pengen ngecrooott…”

Mendengar putranya akan mendapat orgasmenya, sebuah ide aneh tiba-tiba muncul di otak Citra. Dan entah darimana, birahinya mendadak muncul kembali. Sensasi aneh ini sama sekali tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Jika biasanya Citra orgasme, perlu waktu beberapa menit sebelum ia dapat mulai merasakan lagi gatal birahi pada vaginanya. Namun, ketika melihat putra kandungnya mengocok penisnya yang super besar itu, gatal birahi Citra entah kenapa sudah kembali datang menggelitik dinding vaginanya.

Citra merasakan jika vaginanya sama sekali tak geli, ngilu ataupun sakit. Yang ada, hanya rasa gatal birahi yang amat sangat.

CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK….
Suara jemari tangan Citra kembali keluar masuk mengobel-kobel vaginanya.

“Sssshhh…. Ooohh… Sayaaang…. Buruan kesini Sayang…. Cepat…. ” Pinta Citra,” Ayo… Ciello… Bangun sini…. Mendekat ke Mama… ” Tambah Citra sembari terus menyodok-nyodokkan jari lentiknya ke liang kewanitaannya.

“Tapi Maa….Kalo Ciello ngedeket… Nanti… Sssshhh… Pejuh Ciello kena Mama…”
“Iyaaaa…. Nggak apa-apa Sayang… Sinnniiiiihhh…..” Jawab Citra yang dengan satu tangan, meraih lengan putranya dan memintanya berdiri. “Semprotin aja pejuhmu di tubuh Mama Sayang…. Buruaan….”

CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK….

“Dibadan Mama….?”
“Iya Sayang…. Dibadan Mama….”
“Ditetek ya Maaa…..?”
“I…Iya Sayang… Semprotin pejuhmu di tetek mama…”

“WWWOOOWWWWW…. Mama minta aku muncratin pejuh badan Mama…?” Girang Ciello dalam hati sambil terus mengocok batang penisnya kuat-kuat.
TEK TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK TEK….

” Oooooohhhh…. Ayo Sayang…. Buruan semprotin pejuhmu ke badan telanjang Mamaa…. Ooohh… ” Lenguh Citra dengan wajah sayu menahan birahi.

“AAYOOO MAAAJUU CIEELLOOO…. Ayo maju…! Buruan kamu ngecrotin tetek Mama yang super besar itu…. Ayo buruaan…. Kapan lagi kamu bisa dapat tawaran seseksi itu…”

Tak ingin mengecewakan permintaan Mamanya seperti waktu itu, Ciello pun segera bangkit dan berdiri tepat di depan ibunya. Dengan gerakan yang super cepat, putra kandung Citra itupun terus mengocok dan membetoti batang penisnya yang sudah begitu merah itu kuat-kuat.

TEK TEK TEK TEK…. TEK TEK TEK TEK….
“Maaa… Ciello mau keluar Maaa…. Ciello mau keluaaar….”

“Oooohh… Iya Sayang…. Sini… Tumpahin pejuhmu disini…. ” Pinta Citra sambil meremas-remas kedua bulatan payudara besarnya, “Semprot tetek Mama dengan pejuh panasmu Sayang…. Semprot disini….” Goda Citra sambil tak menghentikan kobelan jarinya.
CLOK CLOK CLOK… CLOK CLOK CLOK….

“Oooohh.. Oooohh.. Maaamaaa… Oooohh.. ” Lenguh Ciello sambil menatap tajam kearah wajah sayu Citra, “Mama…. Seksi sekali maaa…. Seksi sekaaaliii…. Ooooohhh… Maa… Ciello nggak kuat lagi Maaa… ”
“Ooohhh…. Mama juga Sayang…. Sshhh… Ooohhh…. Ooohhh…. Mama juga mau keluaaar…..” ”
“AAARRRRGGGGHHHHHH… Mmmmaaaaammmmaaaaaaaa…… Kontol Cieeellooo ngecrooot Maaaa…. Cieeloooo keluuuaar Maaa…. Oooohhhhhhh Oooohhhhhhh ”

CROT CROT CROTCROT CROOOT CROOOCOOOOOT CROOOT CROTCROT CROT….

Semburan super kuat, tiba-tiba keluar dari ujung mulut penis Ciello. Menyembur kuat kesegala arah. Bahkan saking kuatnya, sperma Ciello sampai menyembur jauh diatas payudaranya. Kearah mulut, hidung, mata, hingga rambut Citra.

“Ooohh Sayaaangg…. Iyaaahhh… Iyaaahhh… Terus Sayang…. Iyaaahhh… Teeeruuusss…. Mandiin Mama dengan pejuh panasmu Saaayaaaannnggg…. Ooohhhhhh…. Ngggeeeenttttooooooottttt…. Maaaamaaa keeelluuuaaar laaaagggiiiii Saaaaaaaaaayyyyaaaaaannnnnnggggggg……. Ooooooohhhhhh…. Ngggeeeenttttooooooottttt…. ”

CREET CREET CREECEEETTT CREETT CREETT…

“Ooohhhhhh…. Saaaaayyyyaaaannngggg……. Maaaamaaa keeelluuuaaar Sssaaaayyyaannnnnngggg…. Ooooooohhhhhh…. Maaaamaaa keeelluuuaaar…. Ooohhh… Ooohhh Ngggeeeenttttooooooottttt…. ” Lenguh Citra yang lagi-lagi menggelijang hebat sembari menerima siraman sperma Ciello di sekujur tubuhnya.

“Ooohh… Mamaaa… Sumpah… Mama seksi banget Maaa….” Erang Ciello sembari terus mengocok batang penisnya.
“Hihihihi…. Mama jadi seperti mandi pejuh sayaang…. Mama bergelimang pejuh kamu inihhh……”
“Hehehe… Maaf ya Maaa….” Jawab Ciello cengengesan sambil terus mengocoki batang penisnya, memuntahkan sisa-sisa spermanya ke tubuh ibu kandungnya.

“Gilaa…. Banyak banget pejuhmu Sayang…. Ga rambut… Dahi… Mata… Hidung… Mulut… Dagu… Leher… Tetek… Sampe perut Mama… Semua kena semprotan pejuhmu….Hihihi…. ” Kekeh Citra yang kemudian menyeka wajahnya, berusaha membersihkan semua semprotan sperma hangat, tebal dan kental milik anaknya.

Ketika tangan Citra penuh sperma, entah kenapa, tiba-tiba Citra menjulurkan lidahnya dan mengecapi tangan dan jemari lentiknya. SLUURPP… NYCAP…NYCAP…NYAM…NYCAP….

“ASSTAAAGAAAA…. MAMAAAAA…. ” Kaget Ciello
“Eeehh……? Kenapa Sayang….?” Tanya Citra heran, ”
“SUMPAAAAAHHH…..Mama bener-bener terlihat seperti bintang film porno deh…. ” Celetuk Ciello sembari menghentak-hentakkan penisnya guna memeras penisnya hingga tetes sperma terakhir, “Saking seksinya… Mama sampe ngejilatin pejuh Ciello….”
“Hihihi…. Looohh… Kok…. Eh Iyaa yaaa….?” Bingung Citra ketika sadar akan kelakuan mesumnya. “Kok Mama sampe nyicipin pejuh kamu ya…?”
“Enak nggak Maa…?”
“Hihihihi… Enak….”
“Sumpah Maaa…. Mama kalo misal jadi bintang film bokep… Pasti film Mama laku keras Maaa….”

“Ahhhh… Masa sih Sayang….?”
“Sumpah…. Iya Maaa… Sumpah…Mama super seksi loh… Menggairahkan bangeeet….” Puji Ciello, “Emang Mama udah sering ya ngejilat pejuh Papa….?”
“Hihihi…. Nggg…. Sering juga sih…. ”
“Pantesan… Mama nggak jijik….”
“Hihihihi.. Habisan… Mama penasaran ama rasa pejuh kamu Sayang…. ” Jawab Citra, “Lagian…. Kontol kamu juga sepertina mirip bintang film porno… Nyemburin pejuhnya nggak abis-abis….” Sahut Citra yang kemudian meraup beberapa tetesan sperma Ciello yang ada di payudara dengan jarinya. Kemudian tanpa perasaan geli sedikitpun, Citra menjilat jemarinya hingga bersih.

SLUURPP… NYCAP…NYCAP…NYAM…NYCAP….

“AAAARRRRGGGGHHHH….. Asstagaaaa….. Mama…. Sumpaaah…. Mama nakal bangeeet….”
“Hihihi…. Masa jilat pejuh gini nakal sih Sayang….?” Tambah Citra lagi yang kali ini tanpa malu, mencolek kepala penis Ciello dengan jarinya dan kembali mencicipi sisa-sisa sperma putranya itu. “Hmmm… pejuhmu asin Sayang… dan kentel sekali… hihihi….”

“Ciello jadi pusing Maaa….”
“Loohh….? Pusing kenapa….?”
“Pusing mbayangin kenakalan Mama…. ”
“Nakal….?”
“Iya Ma…. Mama NAKAL…. Mama Miriiippp LONTE Maa…… Iya…. Mama NAKAL mirip lonte…..CUP…” Ucap Ciello sambil mengecup lutut putih mulus Citra yang ada dihadapannya.

“Apaaaa….?? Aku mirip LONTE…?” Tanya Citra dalam hati, “Kurang ajar sekali anak ini…”

Walau perkataan Ciello barusan memecut perasaannya. Namun anehnya, Citra sama sekali tak tersinggung. Karena memang, hanya lonte yang bertingkah senakal itu. Dan tak sepatutnya ia menyalahkan Ciello atas sebutannya barusan.

Setelah selesai meraup dan menjilati semua sperma Ciello yang membasahi tubuhnya, Citra segera meraih selang shower dan membilas tubuhnya.

“Gimana rasanya ngecrotin badan Mama barusan Sayang….?” Tanya Citra dengan nada keibuan, nada yang tenang dan menyejukkan hati. “Enak…?” Tambah Citra sambil melihat penis Ciello yang sudah melemas turun, namun masih dengan ukuran yang menakjubkan.
“Iya Maa… Enak….” Jawab Ciello singkat.

“Suka kamu mejuhi badan Mama kandungmu ini Sayang…?”

“Hehehe…. ” Ciello hanya tersenyum dan mengangguk.
“Hhmmm…. Mama anggap senyuman tadi itu artinya iya ya Sayang….?” Jawab terus menyemprot tubuh telanjangnya dengan air dingin.

“Ehhh…. Sayang…. ?” Panggil Citra sambil menyentuh kepala penis Ciello.
“Ya Maa….?” Jawab Ciello.
“Ini rahasian kita ya Sayang…. ” Ucap Citra sambil menatap mata putranya dalam-dalam.
“Iya Ma… Pasti….”

“Mama harap… Kamu bisa menjaga rahasia kita ini….”
“Iya Maa….”
“Kamu tahukan…? Kalau hal ini sampai ketahuan orang lain… Papa… Ataupun Clara…. Kita pasti bakal mendapat banyak masalah….?”

“Iyaa Maamaaaa Saaayaaang…. CUP…” Kecup Ciello pada kening Citra disertai senyum penuh arti.
“Kenapa kamu tersenyum Sayang….?”
“Hehehehe…. ”
“Astaga….? Kontolmu sudah keras lagi Sayang….?”
“Hehehe… Mama sih cantik banget…. Mana tangannya ngocok-ngocok kontol Ciello terus….”
“Hhalaaah… Goombaaaalll….”
“Mama juga seksi banget….”

“Udah-udah… Rayuanmu.. Udah nggak berlaku buat Mama…. Hihihihi….”
“Habisan… Badan Mama bener-bener buat Ciello selalu terangsang Maa….”
“Ssshhh…. Stop….” Tunjuk jemari Citra menutup bibir Ciello supaya tak meneruskan kalimatnya, “Kamu mau ngocok kontolmu lagi Sayang….?”

Ciello menganggukkan kepala.
“Yaudah…. Ayo sekarang kita ke bathup aja yuk…. Trus… Kamu duduk disamping Mama….” Ajak Citra sembari mengamit batang penis putranya, “Kita masturbasi bareng yuk…. Kamu mau nggak….?”

Ciello lagi-lagi tak menjawab, ia kembali menganggukkan kepala sembari tersenyum.
“Hihihiihi… Baguss…. Ngeliat kontol besarmu yang ngaceng terus…. Mama juga pengen ngecrit lagi…”

Bersambung,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*