Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 66

Wild Love 66

Akhirnya sampai juga aku dirumah kakek dan nenek arya yang tak lain adalah ayah dan ibuku sendiri. tampak sedikit ramai didalam sana, ada apa sebenarnya? Segera aku keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah. Ramai sekali, terdengar suara kakakku andi, adiku ratna dan juga ada asih dan adiknya heri. Ketika aku memasuki ruang tamu suara yang familiar terdengar olehku, aku lanjutkan langkahku menuju ke ruang keluarga dan aku melihat sosok yang sudah tidak asing lagi bagiku.

ÔÇ£TANTE IFAH! TANTE LAILA!ÔÇØ teriakku langsung berlari kecil ke arah mereka. kupeluk mereka dengan erat

ÔÇ£tante kok bisa disini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hiiiiiii… mbak diah kuper, makanya kalau pergi jangan lama-lama… jablai lho entar ha ha haÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£ealah… kaya kamu aja ndak jablay weeeeeek….ÔÇØ balasku

ÔÇ£ih mbak diahÔÇØ ucap ratna ngambek

ÔÇ£maaaaaaaasss….ÔÇØ aku tersenyum karena ratna langsung merajuk ke suaminya

ÔÇ£iya… iya besok ndak pergi-pergi lagi…ÔÇØ ucap suami ratna, andra membuat kami semua tertawa

ÔÇ£kok belum tahu to mbak?ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£ya aku ndak tahu to ya kalau tante sudah datang kesini, benar kan yah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mereka datang sama asih barusan tadi pagiÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£Lho ini siapa? Kok kayanya kenal yaÔÇØ godaku kepada dua wanita cantik

ÔÇ£anu… e…. tante… eh… mbak… aduh susah manggilnya, aku alya…ÔÇØ ucap alya kepadaku, sebenarnya tidak susah mengenali wajah mereka berdua

ÔÇ£alsa…ÔÇØ ucap alsa

ÔÇ£panggil aja mbak, kan aku masih mudaÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah tuek masih saja ngaku mudaÔÇØ ucap mas andi yang dari dulu memang suka ngejek aku dan ratna

ÔÇ£daripada situ… tuaan mana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kalau itu bukan cuma tua udah keriput ha ha haÔÇØ ucap asih, ratna dan herni istri heri bebarengan

ÔÇ£HEH! Enak saja! tua-tua gini juga ganteng kaleeeeÔÇØ bela mbak ika, sambil kedua tangannya berada dipinggangnya

ÔÇ£Yeeee… ratunya ngebelain tuh… marah maraaaaaaaaah… ha ha ha haÔÇØ ucap kami

ÔÇ£hadeeeeeeeeh begini ini kalau rumah banyak ceweknya!ÔÇØ keluh mas andi, Andra, Heri dan juga askha suami asih

ÔÇ£emang situ mau kalau ndak ada ceweknyaÔÇØ celetuk ibuku dan juga tante umi (ibu asih)

ÔÇ£gih mboten ngoten mbah putri (ya ndak gitu)…ÔÇØ mereka berempat kompak membela

ÔÇ£kalian kompak benar ya, dah lama ndak kumpul masih saja kalian suka saling ejek. Ingat tuh sudah ada ekornya lho….ÔÇØ ucap tante ifah

ÔÇ£iya bener, kompak benar mas anak-anak dan mantu kalian iniÔÇØ ucap tante laila

ÔÇ£ya beginilah ha ha haÔÇØ ucap ayahku sembari tertawa terbahak-bahak

Ruang keluarga di rumah ayahku memang yang paling besar diantara ruang keluarga dirumah anak-anaknya. Karena memang tempat berkumpul keluarga bukan, asih dengan askha suaminya beserta anak mereka, ratna dengan andra juga dengan anak mereka, Mas Andi dengan mbak Ika juga dengan anaknya, Heri dengan Herni juga dengan anak mereka. bahkan tante laila dan tante ifah juga dengan anak mereka tapi memang minus ayah dari alya dan alsa. Aku merasa iri dengan mereka, tapi mau bagaimana lagi, keluargaku memang hancur karena mahesa. Seandainya bukan mahesa yang menjadi suamiku mungkin akan berbeda lagi tapi tak akan ada arya jika bukan mahesa. Ah, nak bagaimana kabarmu nak? Ibu ingin berkumpul bersamamu disini sebagai ibu dan anak.

ÔÇ£Diah, anata ga omou mono wa arimasu ka? (Ada yang kamu pikirkan?ÔÇØ Ucap ibuku tiba-tiba

ÔÇ£Watashi wa sore o shitte imasu… (Ibu tahu saja)ÔÇØ balasku

ÔÇ£Haha wa anata no ok─üsan’nanode, haha wa subete o shitte imasu.. (Ibu adalah ibu kamu, jadi ibu tahu segalanya)ÔÇØ ucap ibuku, aku hanya tersenyum ketika ibu seakan tahu yang ada dipikiranku

ÔÇ£Kamu tinggal sama ibu ya sayang…ÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£HeÔÇÖem…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£terus apa rencana mbak?ÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£ya, sesuai dengan apa yang ibu katakan ratÔÇØ ucapku

ÔÇ£maksudnya itu mau nikah lagi?ÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£tidak, belum kepikiran aku… mau membesarkan anak dalam kandunganku saja duluÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£HAAAA?!ÔÇØ teriak mereka bersama-sama, ayah dan ibuku tampak terlihat santai. Mereka tersenyum juga om Wardi dan tante umi.

ÔÇ£biasa saja kali, aku kan punya suami jadi wajar kan kalau aku hamil. Apa? Bingung?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sebentar-sebentar mbak, jadi mbak itu hamil sama si itu tuh…ÔÇØ ucap asih yang mendekatiku dan duduk disampingku. Aku hanya mengangguk sambil menyilangkan kakiku

ÔÇ£bentar-bentar… ada yang aneh ini…ÔÇØ ratna mendekatiku

ÔÇ£aneh gimana? Kamu tuh yang aneh, eits… kakak dan adikku jangan mikir macem-macem lho…ÔÇØ ucapku sambil memandang mereka yang memandangku heran

ÔÇ£kok bisa? Ceritain mbak?!ÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£yeee kalau diceritain parno dong…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ya bukan begitu iiih mbak nyebelin deh!ÔÇØ ratna ngambek

ÔÇ£mbak, pas pulang sebelum jemput aku itu berarti mbak ketemuan sama… bukan sama arya?ÔÇØ ucap asih aku menoleh ke arahku

ÔÇ£kamu mau memperpanjang catatan si baj… eh… si dia?ÔÇØ ucap kak andi yang sadar kalau ada anak-anaknya

ÔÇ£benar kata mas-mu yahÔÇØ ucap mbak ika

ÔÇ£okay daripada kalian mikir yang ndak jelas, waktu itu aku memutuskan untuk pulang kan?ÔÇØ ucapku kepada semua dan mereka semua mengangguk tapi ayah dan ibu serta om wardi dan tante umi tidak, karena mereka sudah aku jelaskan sebelumnya

ÔÇ£aku pulang, kemudian asih menghubungiku. Tapi sebelum aku menjemput asih dihari berikutnya aku menemuinya, ya bilang ini itu dan lain sebagainya, hingga akhirnya aku… itu anak-anak suruh main diatas dulu lah… ndak enak ceritanyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh iya… dika ajak adik-adikmu semua main ke atas yaÔÇØ ucap mbak ika ke dika, anak tertuanya agar mengajak anak-anak dari ratna, asih dan heri juga.

ÔÇ£yah, mama… kan asyik disini rame…ÔÇØ ucap dika, mbak ika mendelik dan langsung dika megajak yang lain naik. Sebenarnya banyak yang malas tapi ketika mata dari ibu mereka melotot semua naik.

ÔÇ£okay… aku lanjutkan…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£setelah bertemu dengannya aku memohon kepadanya agar aku bisa medapatkan keturunan kembali. Awalnya dia tidak setuju tapi ya… gitu deh akhirnya dia mau, dan dalam keadaan setengah sadar, aku suruh dia tanda tangan iniÔÇØ ucapku sembari berdiri dan mengambil secarik kertas di dalam tas yang aku bawa. Ratna langsung merebutnya dan membacanya

ÔÇ£jadi ini surat cerai mbak?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya, tapi tanggalnya tak suruh ngubah…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sama…ÔÇØ ucap asih yang mendekati ratna

ÔÇ£apa sih?ÔÇØ ucap mbak ika yang ikut mendekat

ÔÇ£pengacaranya ayah lah, aku suruh buat tapi tanggalnya… itu tanggal bulan depan, malaslah masih sama dia… tapi ya untungnya jadiÔÇØ ucapku santai sambil merebahkan punggungku di sofa

ÔÇ£nekat kamu ya yah?ÔÇØ ucap mbak ika

ÔÇ£kalau ndak nekat mau bagaimana lagi? Anakku sudah menemukan tambatan hatinya dan sudah tinggal bersama beberapa hari sebelum aksinya dimulai. Jadi aku tidak bisa melarangnya, karena mungkin itu sudah jalan takdirnya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£arya ya…ÔÇØ ucap ayahku

Semua menjadi hening tak ada suara dari siapapun ketika ayah menyebut namanya…

ÔÇ£ini… dasar anak kamu itu memang nekat!ÔÇØ

ÔÇ£tapi kalau bukan dia, mungkin dulu aku sudah…ÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£sudah apa mah?ÔÇØ ucap andra

ÔÇ£iiih papa pengen tahu aja, kan mama sudah pernah ceritaÔÇØ ucapnya memandang ratna yang pada dasarnya dia bangga mempunyai keponakan arya.

Kira-kira 10 tahun yang lalu atau 11 tahun yang lalu ya? ratna memang selalu dibuat jengkel oleh anakku, arya selain nyebelin arya memang suka menggoda tantenya. Ratna selalu marahi anakku, karena mungkin selain jengkel ratna sangat benci terhadap suamiku.

ÔÇ£kamu itu masih SD suka sekali godain tante! Pergi sana! Dasar anak baj… eh sudah.. pergi!ÔÇØ teriak ratna waktu itu, tapi arya tetap tersenyum tak mengerti kenapa tantenya sangat marah sekali walau hanya direbutnya sebuah komik yang sedang dibacanya

ÔÇ£sudah rat, namanya juga anak SDÔÇØ ucapku kala itu

ÔÇ£SD sih SD sama saa seperti bapaknya, huh!ÔÇØ ucap ratna, aku sadar kalau ratna sangat membenci ayah arya karena perlakuan ayahnya kepadaku

ÔÇ£tapi bukan berarti kamu membencinya kan ratÔÇØ ucapku

ÔÇ£alah… mbak ndak usah mbelain arya terus. Mbak sendiri juga dulu mau ngeb…nyaÔÇØ ucap ranta yang aku mengerti maksudnya, ya aku dulu sempat ingin membunuh arya. tiba-tiba….

ÔÇ£Tante… arya minta maaf, arya sayang tante…ÔÇØ ucap arya kala itu yang langsung mengulurkan tangan ke arah ratna, ratna tampak jijik menerima tangan anakku. Aku sadar akan kebencian ratna, tapi mau bagaimana lagi inilah hidupku

Suatu hari ketika itu, aku tidak tahu menahu tapi tiba-tiba ratna masuk kedalam rumah dalam keadaan menangis bahkan tak mau menyapaku. Dia masuk kedalam kamar, dan aku tidak tahu juga yang terjadi didalam kamar. aku cari arya tapi tak ketemu tadi dia memang bilang kalau ingin pinjam komik ratna, apa dia didalam kamar ratna ya?

ÔÇ£DASAR BOCAH BAJINGAN LEPASKAN!ÔÇØ Teriak ratna dari dalam kamar, bocah? Aryakah itu?

ÔÇ£Rat… ratna bukakan pintu kenapa dikunci?ÔÇØ ucap

ÔÇ£AYAHMU BAJINGAN KAMU JUGA BAJINGAN, LEPASKAN DASAR BOCAH BAJINGAN!ÔÇØ teriak ratna tak mendengar. Apa yang dilakukan anakku?

ÔÇ£ratna jangan hentikan rat hentikanÔÇØ ucapku semakin keras

ÔÇ£ada ada dik?ÔÇØ ucap mas andi yang datang dibelakangku

ÔÇ£ratna mas, mas dengar kan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… kenapa ratna?ÔÇØ

ÔÇ£RATNA BUKA PINTUNYA! ATAU MAS AKAN DOBRAK!ÔÇØ teriak mas andi

ÔÇ£DASAR BOCAH BAJINGAN LEPASKAN!ÔÇØ teriak ratna

ÔÇ£TIDAK!ÔÇØ Teriak arya, ya itu arya. apa yang dilakuan arya kepada ratna?!

Mas andi yang terus berteriak tidak digubris, hingga akhirnya pintu di dobrak oleh mas andi. Terlihat pemandangan yang menakutkan. Leher ratna sudah terlilit sebuah selendang yang menggantung dan arya berada dibawahnya memeluk kaki ratna dengan erat. mecoba mengangkat tubuh ratna agar tidak terjatuh ke bawah.

ÔÇ£RATNA APA-APAAN KAMU INI!ÔÇØ teriak mas andi yang langsung membantu arya mengangkat tubuh ratna. Dengan cepat ratna bisa diselamatkan, ibu datang kemudian ayah juga datang. Ratna menangis, terisak tak karuan. Aku peluk anakku dengan erat.

ÔÇ£hiks hiks hiks… ratna mau mati saja…ÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£tante ndak boleh gitu nanti yang nemenin arya siapa?ÔÇØ ucap arya yang tersenyum

ÔÇ£Bodoh! Kamu ini anak seorang bajingan, ayahmu juga seorang bajingan! Aku tidak sudi main denganmu!ÔÇØ ucap ratna kasar

ÔÇ£Ratna jaga omonganmu!ÔÇØ bentak ayah

ÔÇ£ndak papa kok kek, itu tandanya tante ratna sayang sama aryaÔÇØ ucapnya,

Entah dari mana kesabaran seorang anak kecil datang. Arya hanya tersenyum memandang ayah, ayah juga bingung kenapa anak seusianya mempunyai pikiran yang positif. Ratna hanya menangis dalam pelukan ibu, ibu mengelus-elus kepala ratna dan mas andi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ratna kemudian bercerita kalau dia diputus oleh pacarnya, disitu juga ada arya yang mendengarkan. Tiba-tiba arya keluar dari kamar dan kembali lagi mendekati ratna.

ÔÇ£arya sebenarnya tidak suka sama om gayus, tapi arya lebih suka sama om Andra. Om Andra baik kok, kemarin om Andra pas jemput budhe ika ngasih ini ke arya katanya untuk tante ratnaÔÇØ ucap arya memberikan sebuah surat. Ratna kemudian membaca surat itu dan begitulah… setelahnya andra datang dengan kedua orang tuanya, orang tua mbak ika istri dari mas andi. Untuk melamar ratna, ratna sebenarnya masih terjatuh dalam keadaa itu secara emosional ratna pasti akan menjadikan andra sebagai pelampiasan saja tapi yang terjadi berbalik. Ratna menjadi lebih dewasa ketika bersama andra, dan…

ÔÇ£Dasar cowok nyebelin!ÔÇØ teriak ratna setelah melahirkan anak pertamanya dan digoda oleh arya

ÔÇ£idiiih tante marah lagi ni?ÔÇØ ucap arya sambil melet, hingga sekarang dan seterusnya mereka musuh bebuyutan jika bertemu. Hanya gara-gara mengambil komik ratna dan bersembunyi didalam kamarnya karena ratna datang tiba-tiba, arya telah menyelematkan nyawa adikku.
ÔÇ£beda lagi masa SMA, huh anak itu benar-benar hmmmm bikin rusuh sajaÔÇØ ucap asih

ÔÇ£rusuh bagaimana sih?ÔÇØ ucapku bercanda

ÔÇ£iih mbak kaya ndak tahu saja tuh sama koplak!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hi hi hi…ÔÇØ aku dan semua orang tersenyum di ruangan itu

ÔÇ£apaan sih!ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£ha ha ha… sudah lah mah, dulu arya juga yang nyari-nyari mamah waktu muncak. Eh malah ilang… ha ha haÔÇØ ucap askha suami dari asih

ÔÇ£yeee… itu kan salah papah, ninggalin mamaÔÇØ ucap asih

ÔÇ£pi… tuh…ÔÇØ ucap herni istri heri

ÔÇ£dulu juga dia yang tiba-tiba datang waktu aku sama herni pacaran. Pas pacaran dia sama koplak kalau ndak salah waktu itu tapi ndak 12 orang kok. Datang nyelametin om-nya yang ganteng iniÔÇØ ucap heri

ÔÇ£lho kok aku ndak tahu?ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£ya ndak lah, terakhir ketika mereka sudah habis-habisan dan mereka menang. Arya bilang, om jangan bilang smaa tante asih, ntar aku disuruh nyapu halaman lagi. Kalau marah dia seperti monster, ndak Cuma aku om teman-temanku takut juga om, hiiii ngeri om ha ha haÔÇØ ucap heri

ÔÇ£APA! Awas dia kalau sudah balik kesini!ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£tapi bener lho mbak ha ha haÔÇØ ucap heri

ÔÇ£kamu juga ikut-ikutan?ÔÇØ ucap asih membentak heri

ÔÇ£eitss… mbak jangan macem-macem sama suamiku tersayang weeeekÔÇØ ucap herni membela heri

Ha ha ha ha suara tawa akan kenangan bersama arya membuat kami semua tertawa terbahak-bahak…

ÔÇ£mas… ndak ngomong sekalian?ÔÇØ ucap mbak ika dengan lirikan wajah yang sangat sinis ke mas andi. Hanya aku yang tahu…

ÔÇ£mmm… ndak jadi…ÔÇØ ucap mas andi langsung memeluk mbak ika

ÔÇ£ih malu tuh dilihat sama adik-adiknya…ÔÇØ ucap mbak ika kepada mas andi yang membenamkan wajahnya dipunggung mbak ika

ÔÇ£ada apa mbak cerita dongÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£iya tuh…ÔÇØ ucap asih

ÔÇ£hi hi hi hi…ÔÇØ tawaku

ÔÇ£DIAH!ÔÇØ teriak mbak ika dengan mata melotot

ÔÇ£iya… iya ndak cerita, rahasia. Tapi ada uang tutup mulut dong…ÔÇØ ucapku

Ratna membujukku namun aku tetap tidak bercerita. Apa harus aku ceritakan kalau mas andi ketemuan sama karima? Ndak mungkin juga, aku dan keluargaku kini bisa tersenyum bahagia setelah 20 tahun lamanya tidak pernah bisa sebahagia ini. Tiba-tiba anak ratna turun, anak yang paling kecil dan memeluk ratna.

ÔÇ£tapi arya itu memang berbeda dengan waktu anak-anak…ÔÇØ ucap tante laila

ÔÇ£beda bagaimana?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£karena Cuma aku, laila, alsa dan alya yang melihat bagaimana dia menyelamatkan kamiÔÇØ ucap tante ifah

ÔÇ£iya, dulu padahal cengeng banget..ÔÇØ ucap alsa

ÔÇ£beda banget..ÔÇØ ucap alya

ÔÇ£cerita tante,ayo ceritakan…ÔÇØ ucap ratna, yang antusias degan musuh bebuyutannya

ÔÇ£Lho bukannya itu musuh kamu?ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£apaan sih ibu itu, cepetan tante ceritakan jangan dengerkan ibu weeeeeek…ÔÇØ ucap ratna

Kemudian tante laila dan tante ifah menceritakan kejadian berada digedung, betapa heroiknya seorang anak yang melumpuhkan ayahnya sendiri. terdengar sedikit aneh memang tapi tante laila dan tante ifah menceritakannya dengan sangat detail membuat kami yang berada diruangan sangat antusias mendengarnya.

ÔÇ£tatapan mata arya sama persis dengan tatapan mata pak dhe warnoÔÇØ ucap alsa

ÔÇ£tapi kadang tatapan matanya juga berbeda, aku belum pernah melihatnyaÔÇØ ucap alya membuat kami semua bingung tapi aku tahu siapa lelaki yang dimaksud alya

ÔÇ£kaya kakek yang didapur tadi…ÔÇØ ucap anak ratna yang paling kecil ini tiba-tiba saja membuat suasana menjadi hening

ÔÇ£eh… kakek mana sayang?ÔÇØ ucap ratna sedikit terkejut

ÔÇ£tadi ada kakek-kakek di sana, senyum ke adek, terus adek juga senyum tapi kakek itu tiba-tiba hilang ndak ada lagi. Matanya sama persis dengan mata kak aryaÔÇØ ucap anak ratna yang paling kecil

Kami semua menjadi sangat hening, aku juga sedikit bingung dengan keadaan ini. Arya sudah cerita mengenai ayah dan ibu mertuaku, wicaksana dan mahesawati. Semua tampak meandang bahkan tante ifah dan tante laila yang sebelumnya menceritakan betapa heroiknya arya kini mulai terdiam. Semua, semua yang ada dalam ruang keluarga ini terdiam membisu. Apakah ayah mertuaku datang lagi ya? atau memang dia ingin bertemu dengan arya?

ÔÇ£Senyum tante alsa dan tante alya juga sama dengan kakek yang tadi senyum ke adek, kakek tadi senyum di depan pintu lantai dua. Makanya adek turun kesiniÔÇØ ucap anak ratna untuk kedua kalinya membuat kami terkejut

ÔÇ£adek sudah jangan bilang yang tidak-tidak, ndak boleh dari tadi juga kan yang ada disini ade sudah lihat semuaÔÇØ ucap ratna pada anaknya

ÔÇ£iiih mama, beneran ma… tapi kakek yang didapur sama kakek yang di lantai dua tadi berbeda. yang satu kaya mas arya yang satunya lagi mirip tante alsa dan tante alyaÔÇØ ucapnya kembali

Ucapan dari anak ratna membuat mata tante ifah dan tante laila langsung berkaca-kaca. Aku berdiri dan medekati tante laila, mencoba menenangkan mereka berdua. Ibuku juga menghampiri mendekati tante ifah.

ÔÇ£sudah, sudah… jangan dibahas lagiÔÇØ ucap ayahku

ÔÇ£namanya juga kangen kadang ya kelihatan kan…ÔÇØ lanjut ayahku mencoba menenangkan semuanya

ÔÇ£ah… iya benar juga, mungkin hanya halusinasi dari anak ratna saja ha ha haÔÇØ ucap om wardi

ÔÇ£ayo… ayo dimakan lagi ini camilannya, biar tambah berat badannya jarang-jarang lho kita bisa bercanda seperti iniÔÇØ ucap tante umi

ÔÇ£eh… tante ceritakan lagi dong tuh tentang si jomblo itu lagiÔÇØ ucap mbak ika mencoba menghangatkan suasana

ÔÇ£bener si jomblo itu ya, iya tan ceritakan lagi saja. itu anak dari kecil nakal hi hi hiÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£eh… iya yah, sampai kelupaan… hem hem hem…ÔÇØ ucap tante ifah

ÔÇ£yeee… ntar mbak sama kamu dek bakalan bungkam ketika lihat cewek aryaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ariya, b┼ìifurendo o motte imasu ka? (arya sudah punya pacar?)ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Hai, kanari hahaoya ga suki ni narudeshou (iya, cantik sekali ibu pasti suka)ÔÇØ balasku

ÔÇ£Watashi wa sore ga dekinai no b┼ìifurendo o motte iru to wa omoimasen ha ha ha (aku tidak percaya kalau sudah punya pacar, tidak mungkin ha ha ha)ÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£kamu lihat sendiri saja nanti kalau dia pulang ke sini, pasti kamu ndak bakal bisa ngejek dia lagiÔÇØ ucapku

ÔÇ£beneran sudah punya pacar yah? Wah ndak bisa ngejekin anakmu lagiÔÇØ ucap mbak ika

ÔÇ£cantik banget… pas aku sama ibu disandra kan juga ada pacarnya arya dan ibunya jugaÔÇØ ucap alsa

ÔÇ£jadi dua wanita yang dicertakan tadi pacarnya arya?ÔÇØ ucap ratna

ÔÇ£dasar ndak konekan, lemotÔÇØ ucapku

ÔÇ£ih mbak biarin kaliÔÇØ ucap ratna membalas

Tawa riang dan canda berada dalam ruangan ini. aku memang merasakan kehadiaran dari ayah dan ibu mertuaku, kulihat tante ifah dan tante laila juga merasakan kediran suaminya. Mungkin mereka datang untuk menyambut kedatangan pahlawan kecilnya. Ya, pahlawan dalam keluarga ini seorang bocah yang dulu tidak aku harapkan, seorang bocah yang dulu ingin aku lenyapkan dari dunia ini. bocah itu arya, anakku sendiri.

Malam hari setelah semua tertidur, aku terbangun dan menuju dapur untuk menikmati minuman hangat. Kulihat tante ifah dan tante laila berada di pekarangan rumah, melihat sekeliling. Kubuatkan minuman hangat dan kubawa menggunakan nampa.

ÔÇ£teh tante…ÔÇØ ucapku mengejutkan mereka

ÔÇ£oh kamu yah, bikin kaget saja. makasih buat minumannyaÔÇØ ucap tante laila

ÔÇ£kamu kok belum tidur yah?ÔÇØ ucap tante ifah

ÔÇ£tadi bangun, sebenarnya Cuma pengen minum saja tapi lihat tante jadi pengen ngobrolÔÇØ

ÔÇ£tante ifah sama tante laila kenapa belum tidur?ÔÇØ ucapku

Kulihat kedua tanteku ini menghela nafas panjang. Kulihat sebuah tatapan akan kerinduan didalam mata mereka.

ÔÇ£kangen sama om?ÔÇØ ucapku lirih, merea berdua memandangku dan mengangguk

ÔÇ£maafkan diah tan, kalau saja dulu diyah tidak terjebak dalam pertunangan ituÔÇØ ucapku

ÔÇ£bukan kamu yang salah yah, semua berawal dari kami berdua. Dulu mahesa mengear-ngejarku tapi aku tidak mau dan memilih om kamuÔÇØ ucap tante laila

ÔÇ£begitu pula aku, nico, tapi aku sama sekali tidak menyukainyaÔÇØ ucap tante ifah, aku hanya memandang mereka berdua dan melihat penyesalan di mata mereka

ÔÇ£tapi jika tante menerima mereka, tante juga akan menjadi seperti yang sekarang. Bahkan mungkin lebih parah. Jika saja dulu aku menolak dan bersikeras melawan ayah mungkin…ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£tidak, itu diawali dari kami berdua. Aku dan ifah adalah sahabat, ketika kami mengetahui saling menyukai om kamu, kami bersepakat untuk menjadikannya kepala keluara bagi kami. tapi ternyata mahesa dan nico tidak berhenti begitu saja, dia meminangmu entah bagaimana bisa tapi yang jelas itu membuat mereka semakin dekat dengan kami. ifah dan aku ketakutan, maka dari itu kami pergi tapi namanya om kamu tidak bisa jauh dari keluarga angkatnya dia memilih untuk datang kembali. Dan perstiwa itu terjadi, om kamu hiks… ÔÇ£ ucap tante laila mulai terisak dan dipeluk oleh tante ifah

ÔÇ£sudah mbak… dan mayatnya dibuang entah kemana. Mereka menculik kami dan anak-anak kami. untung saja alsa dan alya disekolahkan. Dan mereka tahu perlakuan mahesa dan nico selama ini, tapi mereka diam dan selalu menenangkan aku dan mbak laila. Hingga akhirnya mereka juga tahu akan dijadikan seperti kami… haaaassshhhh hiks…ÔÇØ ucap tante ifah yang juga mulai terisak

ÔÇ£maafkan aku tan…ÔÇØ ucapku sekali lagi, air mataku mengalir

ÔÇ£bukan salahmu… karena kamulah penyelamat keluarga iniÔÇØ ucap tante laila membuatku sedikit terkeut

ÔÇ£Arya… dialah penyelamat yang telah kamu hadirkan, kalau saja tidak ada arya, kalau saja dulu kamu meniadakannya. Mungkin keluarga ini akan hancur, aku minta maaf padamu karena kesalahanku kamu menjadi korbanÔÇØ ucap tante laila, aku hanya tersenyum dan berlutut dihadapan mereka sembari kedua tanganku meraih satu tangan mereka masing-masing

ÔÇ£tante tenang saja, yang terpenting kita semua telah kembali berkumpul. tante bisa melanjutkan hidup kembali, masih banyak peninggalan om tian yang diurusi oleh ibu dan tante bisa melanjutkannya… kita akan tinggal bersama lagi, kami juga tidak peduli jika nanti tante akan menikah lagi. Ibu sudah pernah mengatakannya kepada kami semua, jika tante kembali dan menikah dengan orang lain kami tetap akan menganggap tante sebagai bagian keluarga besar iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak… aku tidak akan menikah lagi… tubuh ini hanya milik tian seorangÔÇØ ucap tante ifah

ÔÇ£begitu pula denganku, tidak ada lagi lelaki selain om kamu yahÔÇØ ucap tante laila

ÔÇ£dan apapun yang terjadi kalian tetap keluarga kamiÔÇØ ucapku, kami saling berpelukan

ÔÇ£Famir─½ eien no kazoku (keluarga selamanya keluarga)ÔÇØ ucap ibuku tiba-tiba muncul

ÔÇ£Ibu… bikin kaget sajaÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh, mbak…ÔÇØ ucap tante ifah dan tante laila

ÔÇ£sudah yang penting kita sudah berkumpul, jadi kita akan selalu bersama lagi. Kalian akan tinggal di perumahan ini, semua keluarga kita akan dijadikan satu oleh mas kamu, fah, lailÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£terima kasih mbak, aku tidak tahu cara berterima kasih kepada kalian semua..ÔÇØ ucap tante ifah

ÔÇ£gampang kok tante…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh,…ÔÇØ mereka berdua terkejut

ÔÇ£caranya, yuk tidur ndak boleh lagi melamun disiniÔÇØ ucapku

Kami berempat tertawa riang dengan suara yang pelan. Hingga kami merasa lelah dan masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan tidurku lagi. Hari yang melelahkan bukan? Hmmm…

Hei kamu, aku masih ingin menemui lagi… sekali lagi… untuk perpisahan kita, perpisahan yang….


(siang hari setelah seorang wanita pergi dari sebuah ruang VVIP, selang beberapa saat)

Siapa?
Siapa yang diluar sana?
Siapa yang ada disana?
Cepatlah masuk aku ingin tahu siapa kamu?

Jika kamu memang bukan siapa-siapa bagiku kenapa kamu lama sekali berada didepan pintu itu?
Jika kamu memang bukan datang untukku kenapa kamu masih berdiri didepan pintu itu?
Masuklah, aku hanya ingin tahu siapa kamu?
Hei… cepatlah masuk…

Apa kamu tidak tahu jika aku ketakutan?
Apa kamu tidak tahu berdetak dengan sangat kencang disini?
Kenapa kamu?
Siapa kamu?
Kenapa kamu berdiri didepan pintu?

Lihatlah, apa kamu tidak melihat hal yang aneh ketika kamu berdiri didepan pintu itu?
Aneh tahu…
Aku takut…
Karena ada bunga yang mulai mengembang disini
Aku takut, bunga tidak seharusnya tumbuh di lantai tempatku berada
Tidak ada disin…
Cepatlah masuk, aku hanya ingin tahu siapa kamu…
Dan aku berharap kamu sesuatu yang ah aku takut…
Bunga itu, yang tumbuh disekeliling kamu…
Cepatlah…
Cepatlah masuk…

Jangan buat aku menunggu
Tak ada teman disini…
Apa kamu tidak lelah berdiri disana?
Kemarilah masuk, aku tahu kamu berdiri disana
Menatap pintu..
Apa tanganmu terlalu lelah untuk memutar daun pintu itu…
Aku mohon masuklah, aku takut….

Kenapa sih lama sekali?
Apa yang kamu tunggu?
Kalau kamu terlalu lama disana aku bisa marah dengan kamu
Kamu yang tidak pernah aku tahu siapa kamu

Uuuuugh!
Kenapa sih?
Ada apa sih?
Mengapa?
Dimana kamu berada aku sudah tahu!
Tapi uuuugh
Masuk kenapa?
Kamu dokter? perawat?
Kamu tahu tidak kalau duduk di tempat tidur,
Memanandang sesuatu yang tidak pasti itu menjenuhkan!

Aku akan berada disini…
Memandang pintu yang kamu pandang sekarang
Aku akan berada disini…
Menunggumu membuka pintu itu
Aku akan berada disini…
Hingga aku tahu siapa kamu
Dan aku berharap kamu adalah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*