Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 65

Wild Love 65

Aku berjalan keluar dari kamar anakku, menuju lift untuk segera berangkat menuju tempatku dulu. Saat masuk lift aku melihat arya yang memanggilku, aku menunjuk-nunjuk ke arah jalan menuju kamar anakku. Karena pintu tertutup aku segera berteriak ke arahnya, agak sedikit ndeso sebenarnya aku ini jadi ketika didalam lift aku masih sedikit bingung ketika harus membuka pintu itu kembali. Maklum, dari dulu setiap naik lift selalu suamiku yang mencet-mencet. Ketika aku sering dibawa kehotel pun juga sama, mereka yang mencet-mencet. Hingga diluar rumah sakit, aku mendekati sebuah taksi dan kutanyakan kepada supir taksi tersebut mengenai pak wan.

ÔÇ£saya sendiri buÔÇØ ucapnya

ÔÇ£benar anda pak wan langganan anak saya dian?ÔÇØ ucapku ragu

ÔÇ£owh dian, pacarnya den arya?ÔÇØ ucap lelaki tersebut

ÔÇ£eh den arya?ÔÇØ aku heran

ÔÇ£iya dia anak majikan saya didesa bu, silahkan masuk nanti akan saya ceritakan. Dari kemarin saya mangkal disini bu, karena ya tahu mbak dian itu disini jadi ya saya berada disini terusÔÇØ ucapnya sembari aku masuk kedalam taksi, setelah itu lelaki yang disebut pak wan masuk

ÔÇ£bapak tidak narik?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak bu, saya disini hanya mengawasi cucu majikan saya saja. saya ndak butuh uang, uang sudah ada Cuma tinggal balas jasa saja sama majikan sayaÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£kakek nenek arya ya pak?ÔÇØ ucapku, mobil taksi kemudian berjalan

ÔÇ£iya, ayah dan ibunya si mahesa ituÔÇØ ucapnya membuaku terkaget

ÔÇ£jadi bapak disini untuk…ÔÇØ ucapku ketakutan

ÔÇ£ibu tenang saja… jangan takut… makanya saya mau cerita ke ibu biar ibu ndak takut. Ini mau kemana bu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh, ke…ÔÇØ ucapku kemudian mengatakan tujuanku, hotel dimana tempat suamiku bekerja

Pak wan kemudian menceritakan semua cerita tentang ayah dan ibu mahesa. Dari kebaikan kepada warga dan lain sebagainya. Aku kemudian percaya kepada dia, ditambah lagi aku sedikit terkejut ketika dia mengatakan kepadku kalau dia yang mengantar arya ke rumah dimana aku selalu berada didalamnya. Dia mengatakan kepadaku, jika dia disini adalah melayani cucu dari tuannya. Bahkan bukan Cuma dia, semua orang dari desanya yang berada disini semuanya selalu memberikan informasi kepadanya tentang arya. aku kemudian menceritakan tenang aku adalah ibu dian dan bagaimana aku harus menjadi tahanan mahesa dan nico tanpa membicarakan seks tentunya. Aku ceritakan juga tujuanku untuk menemui suamiku.

ÔÇ£pasti dia masih ada buat ibu, tenang saja bu. Saya yakin kokÔÇØ ucap pak wan menenangkan aku. Hingga akhirnya taksi berhenti di depan sebuah hotel dimana aku bertemu dengan suamiku dulu, sudah berubah total karena aku sudah tidak pernah lagi datang kemari semenjak aku ditahan oleh mereka berdua.

ÔÇ£hotel ini bu?ÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£iya… tapi apa suamiku masih ada disitu ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah ibu disini saja. biar saya yang tanyaÔÇØ ucap pak wan yang keluar dari taksi kemudian menuju tempat satpam

Akhirnya pak wan kembali tapi satpam tidak tahu menahu mengenai suamiku. Tapi pak wan diberitahu mengenai beberapa orang yang mungkin tahu keberadaan suamiku. Hingga sore hari pak wan membantuku menemukan suamiku, akhirnya ketemu.

ÔÇ£Ibu saya tinggal bu, ini nomor saya jadi kalau butuh apa-apa hubungi saya lagsungÔÇØ ucap pak wan

ÔÇ£berapa pak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£mertua den arya gratis, sudah ya bu saya jalan duluÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh pak jangan…ÔÇØ ucapku terlambat karena pak wan langsung memacu taksinya

Aku memasuki gang, pakaianku sopan. Longga dengan rok hingga menutupi lututku. Aku berjala menuju sebuah rumah yang pak wan ceritakan. Semua mata memandangku tapi aku tidak pedulikan. aku sadar aku menjadi perhatian mereka yang melihatku, tak kupungkiri kalau aku masih terlihat cantiku apalagi kaos longgarku tidak bisa menutupi dadaku yang memang besar. Masa bodoh setelahnya terus berjalan hingga aku menemukan sebuah rumah kecil. Ah… inikah rumahnya, aku takut sekali jika dia tidak mau menerimaku setelah waktu itu. jika aku mengingatnya air mataku menetes dengan sendirinya.

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

ÔÇ£Iya sebentar…ÔÇØ ucap seorang lelaki yang aku kenal

Lama aku menunggu diluar… tapi tak kunjung pintu itu terbuka…

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Kembali aku mengetuk pintu itu kembali…

ÔÇ£Pergi saja kamu! ndak usah kesini! Aku tidak sedang mau menerima tamu!ÔÇØ teriaknya dari dalam, apakah dia tahu kalau itu aku. Aku terisak menangis… segera aku hapus air mataku dan kembali mengetuk pintu

ÔÇ£Arghhhh siapa sih ini! dasar! Aku sedanga tidak mener….ÔÇØ ucap lelaki, dia marah-marah membuka pintu matanya memandangku terbelalak

Tubuhnya kurus, rambutnya kumal. Kulitnya tampak lusuh, tak terawat sama sekali. Matanya seperti mata ada noda hitam meligkar disekitar matanya. Berbanding terbalikd denganku. Matanya terbelalak, melihatku entah terkejut atau marah aku tidak tahu. Dia melepaskan ganggang pintu itu, dan berdiri mematung memandangku. Melihatku seperti melihat hantu. Aku ingin memeluknya sekarang, aku tidak peduli dengan penampilannya sekarang. Dia suamiku, dia pujaan hatiku dia yang selalu bisa memanjakanku. Dia yang selalu membuat marahku menjadi tawa, aku ingin memeluknya, aku inginmenyentuhnya. Aku ingin dimanja olehnya, aku ingin… aku ingin… aku ingin… dia…

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapku pelan

ÔÇ£war… war… da…ÔÇØ ucapnya, tapi respon yang aku dapat berbeda dari yang aku harapkan. Dia menjulurkan tangannya kepadaku. Hanya tangannya saja, ingin aku menangis tapi aku tahan. Inikah yang aku dapatkan setelah aku menantinya selama ini. aku menajabat tangannya, tangannya kasar tapi itulah yang aku inginkan selama ini. kenapa mas? Kenapa kamu tidak memelukku? aku istrimu mas…. hatiku menangis…

ÔÇ£boleh aku masuk…ÔÇØ ucapku pelan, dengan suara sedikit parau

ÔÇ£eh si… si…lahkan….ÔÇØ aku dipersilahkan

ÔÇ£maaf berantakan, rumahnya memang kumuh sekali… maaf da… maaf sekali kotor sekali ya…ÔÇØ ucapnya

Aku berdiri melihatnya memunguti sampah-sampah berserakan di ruang tamu yang kecil ini. membersihkannya, memeluk sampah sembari memutar-mutar keseluruh ruangan yang kotor ini. aku tidak butuh bersih, aku cuma butuh kamu mas. Kenapa kamu malah mengurusi sampah, aku kangen mas kangen sama kamu. aku tutup pintu dan kudekati dia yang sedang memunguti sampah dari belakang tubuhnya. Aku langsung memeluk tubuhnya dari belakag.

ÔÇ£mas… hiks ini warda mas hiks… kenapa mas? hiks Bencikah mas sama warda? Hiks hiks hiksÔÇØ ucapku, tubuhnya tegak melepas semua sampah yang ada ditangannya. Kedua tangannya meremas tanganku

ÔÇ£warda hiks hiks hiks hiks hiks…ÔÇØ isak tangisnya membuatku menangis

ÔÇ£aku kangen banget sama mas hiks hiks… mas… koco… hiks hiks…ÔÇØ isak tangisku, tubuhnya berlik tangaku pelukanku melonggar. Dihadapanku berdiri lelakiku… yang langsung memelukku dengan sangat erat.

ÔÇ£mas kangen… mas rindu… mas… mas hiks hiks hiks mas bener-bener kanget berat… mas kangen sama senyum kamu, kangen sama manja kamu hiks hiks… mas mas mas… hiks hiks cinta sama warda hiks hiks hiks… maafkan masmu ini yang hiks hiks ndak bisa njaga kamu hiks hiks hiks hiks…ÔÇØ isak tangisnya pecah, pelukannya erat sekali. Inilah yang aku inginkan, inilah yang aku rindukan. Tubuhnya tidak seberisi dulu, tapi tubuh inilah yang terindah bagiku.

ÔÇ£warda juga kangen banget hiks hiks hiks sama mas… hiks hiks…ÔÇØ ucapku yang sudah tak sanggup lagi aku berkata-kata

Kami berpelukan sangat lama… inilah yang aku inginkan… lelaki ini yang aku inginkan… lelaki ini… aku angkat wajahku dan memandangnya…

ÔÇ£masihkan aku istrimu mas? Hiks…ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£kamu masih cantik sayang, aku tua keriput dan jelek… dan…ÔÇØ ucapnya kupotong

ÔÇ£masihkah aku istrimu mas? Aku tidak butuh keadaanmu, aku butuh jawabanmuÔÇØ ucapku memandangnya

ÔÇ£YA KAMU ISTRIKU SELAMANYA KAMU ISTRIKU, TAK AKAN AKU BIARKAN KAMU PERGI LAGI! KAMU ISTRIKU, ISTRIKU, WANITA YANG PALING AKU CINTAI!ÔÇØ teriaknya sembari memelukku sangat erat, sangat erat sekali

ÔÇ£Terima kasih mas, terima kasih… aku akan jadi isrtri yang baik buatmu, sekarang hingga akhir hayat kita mas… hiks hiks hiksÔÇØ ucapku terisak

Aku lepas pelukanku, aku pandang lagi wajah lelaki yang memang sudah menua ini tapi bagiku dialah yang terganteng dan termuah dihatiku. Kuusap wajahnya keriput diwajahnya sudah mulai terlihat sangat jelas, rambut putihnya juga sudah mulai menjajah kepalanya, kusapu lembut bibirnya yang kering itu.

ÔÇ£jelek ya? aku sudah tua kan ndut…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£ulangi lagi mas…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£jelek ya? aku sudah tua kan ndut…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£bukan… yang terakhir…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndut…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£lagi mas…ÔÇØ ucapnya, air mataku keluar seperti air terjun

ÔÇ£ndut.. ndutku sayang, ndut cintaku… ndut… ndut… ndut..ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£lagiiiii…ÔÇØ ucapku manja,

ÔÇ£ndut.. ndutku sayang, ndut cintaku… ndut… ndut… ndut..ÔÇØ ucapnya

Aku langsung menarik kepalanya, kudaratkan bibirku dibibirnya. aku melumat bibir keringnya itu, memang telrihat kontras jika dibandingkan denganku. Aku sudah tidak peduli lagi, hanya lelaki ini yang mengerti akan diriku. Aku melumat bibir yang sudah hampir 20 tahun lebih tak aku sentuh, aku kangen… benar-benar kangen dengannya. Bibirnya yang semula diam, mulai membuka terasa sangat kasar di bibirku. Lidahnya mulai masuk kedalam mulutku, aku memjamkan mata hanya bisa meraskan lidahnya menari kembali didalam bibirku. Aku tutup bibirku, dan kubuka mataku kembali aku melihatnya. Aku tarik lagi kepalanya jadi aku tidak perlu berjinjit, keningnya bersatu dengan keningku.

ÔÇ£jele banget ya aku n… ndut…ÔÇØ ucapnya terbata

ÔÇ£iya dari dulu memang hiks kamu cowok jelek… cowok jelek yang suka ngegombal setiap kali aku berlibur… cowok jelek yang suka kirim pesan sok perhatian… kamu jelek hiks hiks jelek bangethhh hiks hiks hiks… jelek banget… banget banget banget… hiks hiks hiksÔÇØ ucapku, entah apa yang sebenarnya aku katakan, tapi di hadapannya aku tidak bisa menyembunyika sifat asliku yang manja. Aku sudah tua, tap aku tetap tak bisa menyembunyikan manjaku dihadapannya. Aku bisa tegar dihadapan orang lain, tahan banting tapi dihadapannya aku, aku seorang wanita yang manja…

ÔÇ£dan kamu cewek ndutku…ÔÇØ ucapnya yang langsung memeluk tubuhku kembali

ÔÇ£mas… aku sayang sekali sama mas… sayang bangethhh cinta mashhh… hiks hiks hiksÔÇØ ucapku sekali lagi

ÔÇ£heÔÇÖem aku juga cinta kamu… hiks hiks hiks ndut hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya

Aku berpelukan lama sekali, tak ingin aku lepaskan. Mataku terpejam seakan ingin tidur dalam pelukannya. Lama sekali hingga dia melepasan pelukannya, aku merasa jengkel ketika dia melepas pelukannya.

ÔÇ£ndut mau bobo? Ndut mau digendong dipunggung ndak? Ndut mau dipuk-puk lagi ndak kaya duluÔÇØ ucapnya, kata-kata itu, kata-kata yang telah lama hilang dari dalam hidupku. Jengkelku hilang, sifat lamaku muncul seakan tidak peduli lagi dengan umur yang sudah aku sandang.

ÔÇ£pengen… pengen digendong… cepetaaan digendooong…ÔÇØ ucapku manja dengan kedua tangan lurus

Ah, aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang selama ini tak pernah aku rasakan. Dirumah kecil ini, aku digendong dipunggungnya. Berputar-putar seperti dulu ketika aku baru menikah bersamanya. Tawaku, terus keluar dari bibirku, walaupun hanya memutari ruang tamu ini aku sangat bahagia. bahagia sekali, lama tak ada yang menggendongku, lama tak ada yang membuatku merasakan diriku sebagai seorang wanita.

ÔÇ£ha ha ha ha…ÔÇØ tawa kami bersama-sama…

Hingga akhirnya aku turun dan langsung menyuruhnya untuk bersantai, seperti dulu. Aku membersihkan rumah ini, membersihkan rumahnya, menyapu, mengepel. Aku melihat rumah ini begitu kecil dan kumuh. Kamarnya pun berantakan, hanya sebuah kasur kapuk dengan satu bantal didalam kamarnya. Penuh dengan puntung rokok, kertas dan sebuah foto seorang wanita menempel di dinding kamarnya.

ÔÇ£hanya itu yang aku punya, hanya itu yang selalu mengingatkanku kepadamuÔÇØ ucap mas koco dari belakang

ÔÇ£eh, mas…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£setiap malam aku turunkan foto itu, berharap kamu selalu hadir dalam mimpiku. Berharap kamu datang ke duniakuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£mas…ÔÇØ ucapku langsung mendekatinya dan merebahkan kepalaku di dadanya

ÔÇ£kini kamu sudah ada disini, inilah aku sekarang. Tua, jelek, keriput dibandingkan dengan kamu yang tidak jauh berbeda dengan masa ketika kita menikah dulu yangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£aku juga sama sudah bertambah tua mas, sama seperti kamu hanya saja mereka mengoperasiku menjadikanku tetap sama. Maafkan aku mas, ini bukan aku yang sebenarnya, disana hiks.. hiks aku …ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sudah jangan kamu katakan kepadaku apa yang terjadi disana, melihatmu dulu ketika itu terjadi dihadapanku sudah cukup membuatku merasakan sakit bertubi-tubi… semua beawal dari kesalahanku, maafkan aku… mungkin sekarang inilah yang aku punya… bahkan untuk menghidupi dan membahagiakanmu kembali mungki ak…ÔÇØ ucapnya aku tutup dengan jariku

ÔÇ£bisa, pasti bisa kita bisa… aku ingin hidup dengan apapun yang terjadi, tak peduli harus hidup di tempat ini, yang terpenting itu denganmu. Kita bisa memulai hidup baru mas dan mas…ÔÇØ aku berbalik menghadap ke arahnya

ÔÇ£ada satu hal yang ingin aku katakan kepada mas, kalau…ÔÇØ ucapku terhenti

ÔÇ£kenapa ndut? …ÔÇØ ucap mas koco yang mendekatkan wajahnya ke wajahku

ÔÇ£anak yang dulu pernah lahir dari m…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ssssttt… aku tidak peduli dia dari aku dari siapa, yang terpenting dia keluar dari rahimku. Yang keluar dari rahimmu berarti anakku. Aku ayahnya, dan dia harus memanggilku ayah, bapak, papa terserah dia. Jangan permasalahkan lagi mengenai anak kita, dia anak kita…ÔÇØ ucap mas koco memelukku

Aku peluk dia lagi, ah walaupun niatnya membersihkan rumah kalau leleki jelek ini berdiri didekatku tetap saja aku ingin memeluknya. Aku lepas pelukannya dan marah-marah kepadanya, ya marah kecil karena mengganggu bersih-bersih rumahku. Senyumnya tidak jauh berbeda seperti duluyang selalu menggodaku ketika aku bersih-bersih rumah. Kutemukan surat nikah, dan foto-foto kenagan bersamanya. Ah… dasar cowok jelek!

Setelah semuanya bersih, aku mengajak mas koco untuk keluar rumah untuk mencari makan. Dengan mesra aku berjalan sambil memeluk tangannya. Berjalan menyusuri gang yang aku lalui sebelumnya.

ÔÇ£woi co, entuk lonthe ndi? Po kuat mbayar kowe ha ha ha rene wenehke aku wae! (woi co, dapat lonthe darimana? Apa kuat kamu bayar kasihkan ke aku saja)ÔÇØ teriak seorang lelaki dari sebuah pos, disana banyak nongkrong lelaki

ÔÇ£jangan asal bic…ÔÇØ ucap mas koco yang terlihat emosi, aku hentikan

ÔÇ£sudah mas…ÔÇØ

ÔÇ£iya mas ku lonthenya tapi juga istrinya!ÔÇØ bentakku

ÔÇ£halah lonthe saja berlagak istrinya, sini mbak punyaku di emutÔÇØ ucap seorang lelaki berdiri

ÔÇ£ndak!ÔÇØ bentakku

ÔÇ£dasar lonthe sok jual mahal!ÔÇØ ucap seorang lelaki yang kemudian berdiri mendekatiku bersama beberapa orang lelaki

ÔÇ£masss….ÔÇØ ucapku ketakutan gara-gara ulahku sendiri, mas koco langsung berdiri di depanku

ÔÇ£jangan sentuh istriku!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£halah co co, apa kamu itu punya istri! Istrimu sudah minggat! Mending kasihkan lonthe itu ke kami biar kami rasakan rame-rame!ÔÇØ ucap seorang lelaki

Tapi mas koco tetap membelaku, dan siap memberikan bukti kalau aku istrinya. Aku tahu mas koco tidak pandai berkelahi, tapi bagaimana ini suasan menjadi panas. mas koco terus melindungiku…

ÔÇ£STOP!ÔÇØ ucap seorang lelaki

ÔÇ£hah… apa ka… eh…ÔÇØ teriak seorang lelaki yang nongkrong tadi. Aku menengok ke depan melihat tiga orang lelaki berdiri gagah

ÔÇ£Jika kalian beran menyentuh pak koco dan bu wardani kalian akan kami penjarakan, atau mungkinakan kami bunuh disini!ÔÇØ ucap lelaki yang baru saja datang

ÔÇ£eh… bro itu beneran istri koco kayaknya mending ndak usah ganggu daripada kita mati, mereka bawa pistol bro..ÔÇØ ucap salah satu lelaki yang nongkrong

Mereka langsung mundur dan lari…

ÔÇ£pak koco dan bu wardani, sudah kalian tenang saja. kasus memang sudah selesai tapi kalian berdua masih dalam pengawasan kami. jadi tenang saja…ÔÇØ ucap lelaki tersebut

ÔÇ£eh, kalian siapa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£anda ingat anton bu? Yang bawa senapan panjang?ÔÇØ ucapnya aku mengangguk

ÔÇ£dia yang meminta kami untuk melindungi mertua dari sahabatnya, jadi tenang saja buÔÇØ ucap mereka yang kemudian pergi menghilang dengan cepat

Mas koco terdiam berpikir, aku katakan kepadanya untuk memikirkan itu nanti saja. bak seorang pengantin baru, aku terus memeluk taangannya. Dengan gagah dia berjalan disampingku, bahkan ketika makan di warung pun aku tak sungkan untuk minta disuapi. Setelahnya aku kembali kerumah bersama mas koco…

ÔÇ£Anton itu siapa ndut?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£dia teman calon mantu kamu masÔÇØ ucapku

ÔÇ£mantu? Siapa?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£namanya arya, dia anak mahesa tapi mas jangan marah dia yang telah menyelematkan aku dan semuanya… dia juga yang menghancurkan ayahnya sendiri, aku pernah bertemu dengannya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ah, arya… anak itu telah menepati janjinya…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£eh, mas kenal arya?ÔÇØ ucapku,

Setelah aku bertanya mas koco menceritakan semua tentang arya. begitupula aku bercerita tentang arya tapi tidak aku ceritakan kalau aku sudah pernah memperkosa calon mantuku sendiri. dipeluknya aku erat, dan didekap kembali bibirnya menyentuh bibirku. Aku kemudian minta digendong ke dalam kamar, aku dorong mas koco hingga rebah di kasur kecil itu. aku buka satu persatu pakaian yang menutupiku hingga tak ada sehelai benangpun menutupi tubuhku. Kulihat wajahnya terlihat takjub…

ÔÇ£mas… maafkan aku, memang ini semua palsu…ÔÇØ ucapku lirih, dia menarikku

ÔÇ£tapi kamu wardani kan?ÔÇØ ucapnya aku mengangguk

ÔÇ£istriku kan?ÔÇØ ucapnya kembali ,aku jawab dengan anggukan

ÔÇ£Aku tidak peduli kamu keriput, aku tidak peduli kamu menjadi tua… yang penting kau adalah istriku, wardaniÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem mas hiks… ini semua untuk mas… ÔÇ£ucapku

Kulumat bibirnya, kupelulk kepalanya. Aku bangkit hingga susu besarku menenggelamkan wajahnya, ah… tangannya yang kasar sudah mulai memainkan jatahnya di vaginaku. Dalam sekali mengobok-obok vaginaku. Aku mendesah tak peduli dengan tetangga-tetanggaku, pinggulku bergerak maju mundur sendiri meminta perlakuan lebih dari jari-jari kasarnya itu. lidahnya sudah bermain-main di puting susuku, ah nikmat sekali. Jarinya mengocok vaginaku, satu tanganya lagi bermain-main di itilku.

ÔÇ£arghhh mashhhh aaku keluaarhhhhhhhh….ÔÇØ jerit kecilku, tubuhku mengejang tak karuan. Sembari mengejang aku memanandang mas koco dan melumat bibirnya.

ÔÇ£cairanmu hangat dek, sudah lama aku tidak merasakannya…ÔÇØ ucapnya, membuatku bertanya-tanya

ÔÇ£apa mas tidak pernah melakukannya dengan mmm…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak dek, tidak… aku pernah punya pemikiran seperti itu tapi setiap kali aku ingin melakukannya dan melihat foto kamu, aku tidak sanggup. Lebih baik aku tidak meraskanya jika tidak dengan kamuÔÇØ ucapnya, membuat hatiku pedih mendengarnya. Aku selalu dijadikan anjing peliharaan oleh mereka, sekalipun banyak yang keluar masuk di vaginaku tapi hanya sekali aku merasakan klimak sebenarnya selama aku menjadi tahanan mereka, dengan calon mantu.

ÔÇ£ah, mas sekarang puaskan dirimu mas… mas ingin apapun akan aku lakukan buat kamuÔÇØ ucapku sembari turun kebawa berlutut dihadapanya yang duduk dikasur kecil tanpa ranjang

ÔÇ£Ah dek… kamulah yang terseksi…ÔÇØ ucapnya,

aku tersenyum dan mas koco kemudian sedikit bangkit dan berlutut diatas kasur seakan mengerti maksudku. Aku tarik celananya sekaligus celana dalamnya, dan…

ÔÇ£mas… ÔÇ£ ucapku terkejut kedua tanganku aku tarik untuk menutupi kedua mulutku. Aku menengadah ke arah mas koco.

ÔÇ£ke kenapa dek?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kenapa jadi lebih besar mas? Dulu tidak seperti ini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£nduuuut ini masih yang dulu nduuuut… ndak berubah, ini yang dulu sering kamu mainin nduuut…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£endak mas, dulu ndak segini…ÔÇØ ucapku masih shock melihat ukuran batangnya,

ÔÇ£coba deh dipegang…ÔÇØ ucapnya

Aku arahkan tanganku memegang batang kemaluan mas koco. dilihat dari manapun batang itu mengingatkan aku dengan batang calon mantuku. Setidaknya hampir sama, walau lebih pendek 1-2 cm dan besarnya hampir sama juga. Seingatku dulu tidak sebesar ini, ah…

ÔÇ£benarkanhhhhh erhhh sama kan nduttt….ÔÇØ ucapnya menahan nikmat karena tanganku naik turun di batangnya

ÔÇ£heÔÇÖem mas sama… maaf mas aku lupaÔÇØ ucapku, mas koco tidak melanjutkan percakapan itu karena mas koco tahu percakapan ini akan berlanjut ke arah masa-masa kelamku disana

ÔÇ£ndut… aku sudah kangen ndut… boleh aku masukan ndut…ÔÇØ ucapnya memohon

ÔÇ£mmmm… ndak boleh, endut kan belum mainan…ÔÇØ ucapku sedikit manja

ÔÇ£ya udah ndut, dimainkan ndut. Ini mainan kesukaanmu ndutÔÇØ ucap mas koco

Aku mengulum dan menjilati batang mas koco dengan sangat buah, ah benar-benar besar dan kuat tidak seperti yang pernah masuk sebelumnya. Mahesa dan nico semuaya hanya kepuasan mereka, aku yakin batang ini akan memuaskanku. Karena batang ini adalah batang kesayanganku semenjak dulu. Aku sudah tidak tahan lagi, aku segera berdiri dan langsung melumat bibir mas koco hingga mas koco terduduk. Aku kangkangi selangkangannya, dan kumasukan.

ÔÇ£Arghhh…..ÔÇØ rintihku

ÔÇ£kenapa sayang?ÔÇØ ucap mas koco

ÔÇ£besar banget mas… ndak bisa masuk…ÔÇØ ucapku manja

ÔÇ£ya sudah, kamu tiduran sayangÔÇØ ucap mas koco

Mas koco langsung menidurkan aku, dibuka lebar pahaku. Perlahan batang mengerikan itu diarahkan ke vaginaku. Terasa nyeri, seperti robek dan sangat penuh. Aku merasakan vaginaku seperti robek seperti ketika batang arya masuk. Ah, tapi batang ini arghhhh sungguh nikmat sekali aku tak mampu menahan semua nafsuku lagi. Mas koco yang semula perlahan memasukan terlihat sudah tidak bisa menahan nafsunya dengan paksa dia memasukannya.

ÔÇ£ah… sayang sempit sekali sayang, ah… inikah rasanya sayang hampir 20 tahun aku tidak merasakannyaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya mas erghhh terus goyang mas enak sekali mas… terushhh mashhh ah ah ah ahÔÇØ ucapku yang sebenarnya berharap batang mas koco tidak langsung menggoyang karena vaginaku terasa sakit, tapi setelah apa yang mas koco katakan kepadaku aku hanya bisa menerima

Mas koco meremas susuku, menggoyang pinggulnya perlahan-perlaha hingga pinggulnya bergoyang sangat cepat sekali. Aku mengaduh mengerang dan tak bisa aku pungkiri lagi kalau aku merasakan nikmat yang tiada tara. Pintu rahimku serasadi sodok-sodok oleh kelaminnya, membuatku merasakan sakit tapi nikmat. Owhhh… yah aku ingin semalaman di sodok oleh penisnya kontolnya.

ÔÇ£ah mas… enak sekali memeku enak banget mas ah ah ah ah terus mas memek ndut kangen berat sama kontol masÔÇØ racauku

ÔÇ£oh ya sayng pasti akan kupuaskan dirimu ah aku akan pejuhi mememu sempitmu iniÔÇØ racaunya

ÔÇ£yah mas terushhh…ÔÇØ racauku

Mas koco terus menggoyang hingga beberapa saat tubuhku melengking sejenak mas koco mengehntikan gerakannya. Aku mengejang beberapa kali, ku atur cepat nafasku dan meminta mas koco untuk memulainya lagi. Aku benar-benar tak sanggup lagi menunggu goyangan pinggulnya.

ÔÇ£ah mas… terusshhh yah lagi massshh terushhh sayang terusshhh ah ah ahÔÇØ racauku

ÔÇ£memekmu enak sayang.. enak sekali ah ah ahÔÇØ racaunya

ÔÇ£memekmu ini mas… kontoli memekmu ini mas… ayo mas, memek ndut ini memekmu mas butuh kontolmu… kontoli terusss ah ah ah kontoli terush mas…ÔÇØ racauku

Selang beberapa saat… aku merasakan puncak yang dekat, mas koco memelukku…

ÔÇ£kita keluar sama-sama mas…. ahÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya sayang aku pejuhi memekmu…ÔÇØ ucapnya

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Terasa hangat sekali pejuhnya, ah untung saja pejuhnya tidak jadi batu. Ku peluk tubuhnya tubuh kami bersatu kembali setelah sekian lama berpisah. Kami berciuman, ku goda masku ini yang staminanya sebenarnya sudah tidak seperti dulu lagi. Tapi batangnya masih bisa bangkit lagi menandakan gairah mudanya belum hilang. Ya, aku melakukannya lagi hingga tubuh kami remuk karena kenikmatan ini. dan terlelap…

Pagi hari, aku dan mas koco berbincang setelah 2 ronde pagi hari…

ÔÇ£mas…ÔÇØ aku berbisik ditelinganya

ÔÇ£jangan dek…ÔÇØ ucapnya melarangku

ÔÇ£please sekali saja, setelah itu ndak lagi…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya tapi jangan hari ini… hari ini kita pacaran dulu ya 3 hari atau 2 hari gitu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem kang maaaaaaasss…ÔÇØ manjaku

ÔÇ£oia dek, ini di operasi jugaÔÇØ ucapnya, memegang susuku

ÔÇ£iya mas..ÔÇØ balasku

ÔÇ£besok dilepas saja silikonnya. Mau kendur atau bagaimana itu lebih aman buat kamu dekÔÇØ ucapnya, aku mengangguk menyetujui agar silikon di susuku dlepas.

Jujur saja susuku sudah masuk dalam kategori besar namun megendur dengan bertambahnya usia tapi mau bagaimana lagi dua bajingan itu mengencangkannya lagi. Aku tinggalkan anakku karena aku yakin anakku aman disana.

ÔÇ£Maaf ya ardha, eh dian… hari ini mama mau jaga papa kamu yang ganteng ini. mama juga pengen dong pacaran sama papamu lagi, apalagi papamu aw nggemesin itunya hi hi hiÔÇØ bathinku sembari memandang wajah mas koco

Masih, masih ada yang harus aku lakukan, aku harus mengobati ÔÇ£lukamuÔÇØ mas…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*