Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 64

Wild Love 64

Ke mana pun angin berhembus menuntun langkahku
Memahat takdir hidupku di sini
Masih tertinggal wangi yang sempat engkau titipkan
Mengharumi kisah hidupku ini

Meski kuterbang jauh melintasi sang waktu
Ke mana pun angin berhembus, ku pasti akan kembali

Kulukiskan indah wajahmu di hamparan awan
Biar tak jemu kupandangi selalu
Kubiarkan semua cintamu membius jiwaku
Yang memaksaku merindukan dirimu

Meski langit memikatku dengan sejuta senyum
Aku takkan tergoyahkan, aku pasti akan kembali
Aku paaaaaaaasti akaaaaan kembali

Alunan lagu band lokal kesayanganku yang menemaniku selama perjalanan ke Rumah sakit. Walau band lawas tapi lagu-lagunya bermutu. Bukan lagu mengeja dan tetap berkualitas walau sudah usang. Akhirnya aku sampai di rumah sakit ini, aku segera melangkah menuju resepsionis menanyakan dimana dian berada. Sedikit ingatanku kembali ketika pertama kali bertemu dengan mbak erlina, ya disini ditempat ini. setelah aku mendapatkan informasi, aku segera menuju ke lantai. Ah, seperti biasa aku menggunakan tangga entah kenapa aku mungkin memang orang goblok tapi mau bagaimana lagi naik tangga lebih enak kelihatannya. Bisa menyapa orang ketika bertemu, begitukan dasarnya orang-orang di negara tempatku tinggal. Negara yang selalu ramah… ya begitu pula orang-orang yang berada didalamnya.

Hingga akhirnya aku berada dilantai dimana dian berada, aku lihat tante wardani yang sedang berjalan membelakangiku berbelok. Aku berlari ke arah tante wardani dan tiba-tiba saja sebuah tangan halus menarik tanganku. Aku terhenti sejenak, kulihat ke arah tangan itu menarikku.

ÔÇ£bisa kita bicara sebentarÔÇØ ucap perempuan tersebut

ÔÇ£eh… mbak itu bikin kaget saja, ada apa mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hanya ingin berbicara saja… di ruanganku, sebentarÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya mbak dokteeeeeeeerÔÇØ ucapku mengikutinya keruangannya

Tertulis sebuah ruang dokter bertuliskan , Dr. Ara, simple tidak ada lengkapnya. Aku masuk dan sesaat setelah pintu tertutup mbak ara kemudian berbalik. Tiba-tiba saja memelukku dengan sangat erat.

ÔÇ£terima kasih ar… terima kasih banyak…ÔÇØ ucap mbak ara

ÔÇ£iya mbak sama-sama, jadi yang mau dibicarakan apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Cuma pengen peluk kamu saja, rasanya hatiku bahagia ketika mendengar orang-orang itu telah kaku disanaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£peluk aku, sekali ini saja…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£haaassssh… okayÔÇØ ucapku langsung kupeluk tubuhnya

ÔÇ£kamu ndak mau hadiah?ÔÇØ ucap mbak ara

ÔÇ£mbak tahu wanita yang tertembak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£mbak pengen aku merasakan bersalah?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tidak…ÔÇØ ucap mbak ara, mengangkat tubuhnya dan memandangku tapi kedua tangannya masih memeluk pinggangku

ÔÇ£baiklah… aku tahu, Dian Rahmawati Sukoco ya? Dia sangat beruntung mendapatkan lelaki sepertimu arÔÇØ ucap mbak ara

ÔÇ£eh… kenapa ada nama pak koco sekarang? Kapan dikasihnya?ÔÇØ bathinku

ÔÇ£ya..ÔÇØ ucapku membenarkan walau sebenarnya aku tidak tahu darimana nama sukoco berasal

ÔÇ£aku tidak akan mengangganggumu tapi berikan aku ciuman perpisahan…ÔÇØ ucap mbak ara yang tiba-tiba saja memeluk pinggangku lebih erat, matanya memandangku tajam

ÔÇ£mbaaaak… dian ada disini…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku tidak akan melepaskan tanganku sebelum kamu memberikannya. Tak peduli… ruangan ini sering dimasuki oleh perawat-perawat yang menemuiku jika kamu tidak memberikannya, mereka akan tahu aku memelukmu disini…ÔÇØ ucap mbak ara, mau bagaimana lagi?

Aku daratkan bibirku di bibirnya, mbak ara memiintaku menciumnya dengan melumat bibirnya. Akhirnya aku berciuman dengan mbak ara, lama sekali berciuman mungkin ada sekitar 10 menitan. Walau dedek arya akku tahu bangun tetap saja dia melemas lagi karena otakku memikirkan dian.

ÔÇ£terima kasih… ar…ÔÇØ ucapnya sembari melepas ciumannya

ÔÇ£sama-sama mbak… boleh aku pergi sekarang?ÔÇØ ucapku, mbak ara mengangguk

Ketika aku membuka pintu hendak keluar…

ÔÇ£Ar, terima kasih banyak seandainya saja aku tidak bertemu denganmu, mungkin semuanya sudah menjadi hilang…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£sama-sama mbak, dan terima kasih mau menolong warga saat aku KKNÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya… oh iya, dia ada diruang VVIP. Disana aku sudah tulis namanya di pintu kamarnya…ÔÇØ ucap mbak ara

ÔÇ£oh oke siapÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu ndak tanya nama yang aku tulis disana?ÔÇØ ucap mbak ara

ÔÇ£eh, emang ditulis apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£AryaÔÇÖs LoveÔÇØ ucap mbak ara, aku malu wajahku sedikit memerah

ÔÇ£yeeee dokter galak ternyata romantis juga ya he he heÔÇØ ucapku

Aku memandang mbak ara sejenak, pandangan kami bertemu. Mungkin kami berdua teringat ketika kami pertama kali bertemu di rumah sakit ini..

ÔÇ£hi hi hi he he he he… he…. he…. ha ha ha ha ha ha ha haÔÇØ tawa kami bersama

Setelah pertemuan dengan mbak ara, aku ke kamar mandi sebentar. Mencuci mulutku agar tak tercium bau mbak ara he he. Selepas keluar dari kamar mandi, aku berjalan menuju ruang VVIP, ketika aku melangkah. Tiba-tiba seseorang memanggilku…

ÔÇ£Ar…ÔÇØ panggil lelaki itu

ÔÇ£eh… kamu nton, aku kira siapa?ÔÇØ ucapku

Anton kemudian mengajakku ke atap gedung, ah dunhill…

ÔÇ£nihhh….ÔÇØ ucap anton melempar sesuatu kearahku, sebuah kotak dan aku buka sebuah botol kecil dan sebuah suntikan

ÔÇ£apa ini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£dasar, kamu ndak lulus SD apa, baca tuh keterangannya, goblol!ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£iya pak komandan…ÔÇØ ucapku, aku langsung membacanya

ÔÇ£masih bisa bergerak ndak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£masih tapi terbatas, kalau dikasih itu ya lemes terus, walaupun mereka sehat. Gerakannya pun tidak akan seperti ketika mereka sembuh. Intinya lemas terus lah…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£darimana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£si dokter cantik anaknya pak medita…ÔÇØ ucapnya, ah mbak ara.

ÔÇ£dimana mereka?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£lantai bawah kamar dian, masih terkapar…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£nton, makasih banyak ya…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£makasih… makasih, emang sini ngasih apa ke kamu? suuuudaaaaaahlaaaaaaah…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£oiya kayaknya koplak bakal jarang kumpul ar…ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£lho lho lho… ada apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£aku sudah melamar anti, dan dia sekarnag tinggal bersamaku. Kemarin aku sempat bertemu dengan karyo, hermawan dan udin. Mereka juga sudah melamat pasangannya dan mungkin yang lain juga. Tinggal kamu…ÔÇØ ucapnya, aku hanya tersenyum mendengar kebahagiaan ini.

ÔÇ£aku akan menyusul… tapi….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tapi apa?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£koplak masih ada kan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ha ha ha ha… masih ada tapi hanya jarang kumpul. Kalau aku, tahu sendirilah bagaimana aku dhadapan anti..ÔÇØ ucap anton menunjuk hidungnya sendiri

ÔÇ£aku juga nton, kayaknya harus berdiplomasi jauh-jauh hari kalau mau kumpul. Sekarang aku sudah tinggal bersama dian… ssssssssssshhh aaaaaaashhhhhhhhhh… tapi aku harap kita masih tetap menjadi satuÔÇØ ucapku

ÔÇ£satu ya tetap, tapi kalau dulu kita bisa dari jam 12 malam sampai jam 12 malam lagi sekarang…. paling 30 menit sudah disuruh pulang ha ha ha haÔÇØ ucap anton

Aku dan antoon tertawa bersama, ngakak habis tak habis-habisnya aku berhenti tertawa. Jika di lihat lagi koplak memang sangat mencintai pasangannya. Sampai-sampai diberi label suami takut istri, tapi bukan berarti takut yang sebenarnya. Takut kalau sudah tidak ada yang mengendalikan emosi mereka, karena hanya pasangan mereka saja yang bisa. Aku dan anton kemudian berjalan menuju ke kamar ayah dan om nico. Tepat didepan kamar yang dijaga oleh dua petugas…

ÔÇ£masuk saja…ÔÇØ ucap anton, aku mengangguk dan kemudian masuk ke dalam kamar ini. kulihat dua orang memandangku tajam yng terbaring lemas karena perban dan juga kayu-kayu penyangga pada tangan, kaki dan lehernya. aku hanya tersenyum… melangkah menuju ke arah mereka…

ÔÇ£Apa kabar? Bagaimana rasanya?ÔÇØ ucapku sembari berdiri ditengah-tengah mereka

ÔÇ£bajinganhhh kamuÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£dasar bajinganÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£lho… lho kok malah aku? Bukannya kalian?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£masih ingat ini?ÔÇØ ucapku sembari melepas kalung dileherku

ÔÇ£kamu….ÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£ingat tidak, kan pernah aku perlihatkan ke kalianÔÇØ ucapku, mereka terdiam

ÔÇ£aku mencari mereka, mereka yang selalu merindukan aku. Aku menemukan mereka, dan mereka hidup berbalik sangat berbalik dengan kehidupan kalian. Kalian bisa hidup enak, makan enak, tidur di kasur empuk… hmmmmm… tapi tahu tidak kalau mereka tinggal dirumah yang peyot, makan juga tidak teratur, tidur saja di ranjang dengan kasur papan kayu…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tahu tidak?ÔÇØ ucapku, mereka terdiam

ÔÇ£TAHU TIDAK! SIAPA YANG BAJINGAN! MEREKA ITU YANG BUAT KALIAN JADI ORANG HEBAT! TAHU TIDAK!ÔÇØ seketika emosiku meledak

ÔÇ£eh… kamu searusnya tidak melakukan ini kepada ka…ÔÇØ ucap ayah

ÔÇ£tidak seharusnya? Aku sudah berjanji kepada mereka, janji harus ditepati dan aku akan membuat kalian lebih menderita dari yang mereka rasakan…ÔÇØ ucapku, aku mendekati mereka dan duduk disamping ayahku

ÔÇ£lho ndak bisa gerak ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ergh sialan kamu…ÔÇØ ucap ayah, yang semua tangannya tampak berbalut dengan perban dan juga kayu penyangga

ÔÇ£kakek wicak itu orangnya bijaksana lho yah, bahkan dalam keterasingannya pun mereka masih tetap dianggap sebagai orang nomor satu di banyu biru dan banyu abang, begitu pula nenek mahesawati. Mereka pindah karena memang sudah tidak ingin melihatmu lagi datang, mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Warga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka juga hidup sederhana, mereka tetap membantu kakek dan nenek dalam hal makanan dan lain sebagainya. Bahkan tanpa dibayarpun wara melayani mereka bak raja dan ratu didaerah itu. hmmm… pasangan yang serasi tapi sayang… kamu malah jadi bajingan!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu tidak menceritakan mereka mmmmm….ÔÇØ ucap ayahku dan kututup mulutnya dengan tanganku

ÔÇ£dan ayah tahu, kamu juga hei jangan sok ndak denger! Kamu juga di besarkan oleh merekaÔÇØ ucapku sembari menendang tempatnya berbaring

ÔÇ£arghh… jangan kamu tendang dasar sialan!ÔÇØ ucap om nico

ÔÇ£kamu itu yang sialan, sebut sembarang orang sialan. Dasar bajingan!ÔÇØ ucapku menedang kembali, dia mengaduh kesakitan karena sedikit saja goncangan tubuh mereka merasakan sakit

ÔÇ£Oh iya lupa aku mau melanjutkan dongengku…ÔÇØ kupandangi ayah

ÔÇ£dan ayah tahu, ketika aku datang… mereka menceritakan semuanya, dan kalung ini disimpan ole nenek diberikan kepadaku agar aku bisa menunjukannya ke ayah… anaknya dan juga teman anaknya yang sekarang terbaring lemas…ÔÇØ lanjutku sembari memegang kalung nenek dan aku perlihatkan tepat di wajah ayah, lalu aku berdiri dtengah-tengah mereka dan membelakangi mereka

ÔÇ£oh ya, kalian berpikir tidak kalau aku hanya akan datang dan diam begitu saja?ÔÇØ ucapku, tak ada jawaban

ÔÇ£aku tidak akan membiarkan kalian bisa berdiri tegak lagi…ÔÇØ ucapku

Aku membuka kotak yang diberikan anton, seperti seorang dokter aku memasukan jarum suntik ke botol itu. aku mendekati infus ayah, ayah berteriak-teriak minta tolong.

ÔÇ£percuma yang jaga diluar sana itu temankuÔÇØ ucapku sembari menyuntikan cairan itu di infus ayah

Aku ambil lagi cairan itu dengan menggunakan jarum suntik, dan aku mendekati om nico. Kusuntikan cairan itu ke infus om nico.

ÔÇ£well… selamat menikmati akhir hidup kalian, dan aku beritahu… sekalipun kalian mencoba bunuh diri tak akan aku biarkan, aku akan membuat kalian tetap hidup, dan menderita lebih dari kakek dan nenekÔÇØ ucapku dan berbalik

Teriakan bajingan, segala macam umpatan terdengar keras… aku hanya tersenyum… sembari mengangkat kedua tanganku…

ÔÇ£lebih keras lagi…ÔÇØ ucapku yang membelakangi mereka sembari mengakat kedua tangan bak seorang musisi yang mengatur orkestranya

ÔÇ£ha ha ha ha ha…ÔÇØ tawaku

Aku kemudian diam… aku berbalik dan memandang ayah… yang wajahnya terlihat marah…

ÔÇ£terima kasih telah mendatangkan aku ke dunia ini… karena kamu ada aku, karena aku adalah pemberhentimu… terima kasih…ÔÇØ ucapku tersenyum dan melangkah keluar

ÔÇ£sudah?ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£sudah… dan aku berharap aku masih bisa mengawasi mereka, aku tidak ingin mereka bunuh diri. Mereka harus lebih menderita dariemua orang yang mereka hancurkan…ÔÇØ ucapku dengan tatapan tajam

ÔÇ£celeng! Wajahmu jangan serius gitu kenapa, nakut-nakutin saja!ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… he he he terbawa suasana wan (awan kinton sebutan anton)…ÔÇØ balasku

ÔÇ£wes lek dang, bojomu njalok kelon kae lho (dah cepat, istrimu minta kelon itu lho)ÔÇØ ucap anton

ÔÇ£ah.. yah…ÔÇØ segera aku berlari menuju lantai atas,

ketika itu berlari aku melihat tante war hendak masuk ke dalam lift. Aku berteriak memanggilnya dan tante war melihatku. Dia menunjuk-nunjuk ke jalan yang mengaarah ke kamar dian sambil tersenyum bahagia.

ÔÇ£DIAN SUDAH MENUNGGUMUÔÇØ ucap tante war dan pintu lift tertutup

Aku memandang jalan itu kembali, dan aku melangkah ke arah kamar dian. langkah itu seperti meumbuhkan bunga diantaranya. Langkahku semakin cepat dan berlari hingga aku berada didepan pintu yang bertuliskan ÔÇ£AryaÔÇÖs LoveÔÇØ. Aku tersenyum sejenak…

Didalam sini ya….
Haruskah aku mengetuk pintu?…
Haruskah aku membukanya langsung?…
Kenapa rasanya lebih berat daripada bimbingan skripsi yah?…
Lho… kok tiba-tiba ada bunga tumbuh di pinggiran pintu?…
Adakah yang menanam bibir bunga disini?…
Kenapa gemetar sekali rasanya tubuh ini?…
Tidak dingin, tapi tubuhku kaku…


Malam hari (hari 1)

Setelah aku dibawa oleh ambulan aku dimasukan kedalam ruang perawatan. Aku hanya ditemani ibuku saja, mbak asih mmm tante asih juga terlihat disini bersama dengan kedua nenek arya beserta kedua tantenya yang lebih muda dariku. Tapi hanya sebentar saja mereka bersamaku dan langsung pamitan untuk pulang kerumah. Kini hanya aku dan ibuku saja diruangan ini. Ibu sudah mendapatkan perawatan seharusnya juga berbaring di tempat tidur, tapi ibu bersikeras untuk bersamaku. Wajarlah aku jarang sekali bertemu dengan ibu, walau tubuhku banyak berubah ibu tetap saja mengenaliku. Aku berbaring dikasur dengan tanganku dibalut oleh perban, untung saja ndak di infus.

ÔÇ£ma…ÔÇØ ucapku melihat ibu sedang menyiapkan minuman untukku

ÔÇ£iya ada apa dhaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£kok dha, dian maaaaa…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh maaf, kan kebiasaan sayangÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£mama kok tahu kalau aku anak mama, secara aku kan dah ndak dekil kaya dulu lagi?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£hmmm… kamu mau operasi plastikpun mama bakalan tahu. Suatu saat nanti kamu akan tahu ketika kamu menjadi seorang ibuÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£hmmm… mama so sweet deh, sini mah tidur sama dian. anak mama yang cantik iniÔÇØ ucapku

ÔÇ£bukan cantik tapi manis dan cantik sekali…ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£iya mama juga cantik hi hi hiÔÇØ ucapku

Mama kemudian duduk disebalhku…

ÔÇ£ma, tidur sama dian ya… dian lma banget ndak bobo sama mamaÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya sayang, iya tapi nanti kalau sudah ndak ada perawat yang datang yahÔÇØ ucap ibuku

Kleek…

ÔÇ£hai yan..ÔÇØ ucap seorang perempuan, aku sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum kepadanya. Ibu langsung turun dari tempat tidurku dan berdiri disampingku.

ÔÇ£hai er mmm mbak erlina…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ih pakai mbak segala, wong umurnya juga hampir sama kokÔÇØ ucap erlina

ÔÇ£ndak papalah secara kan kamu…ÔÇØ ucapku tersenyum dan erlina mengerti itu

ÔÇ£iya deh, tapi kamu ndak papa kalau…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak papa, malahan seneng kan punya saudara lagi…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£lho kalian sudah saling kenal?ÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£sudah, ini kan kakak angkatnya ary…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ooowalah… tante ndak tahu…ÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£erlina tante…ÔÇØ ucap erlina

ÔÇ£iya, ini tante ibunya dian, panggil saja tante war, lengkapnya wardaniÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£tante cantik ya sama kaya anaknya…ÔÇØ ucap erlina

ÔÇ£bisa saja kamu mbak, mbak kan juga cantikÔÇØ ucapku memuji erlina, kami semua tertawa bersama

ÔÇ£ini obat diminum ya yan, biar lukamu cepet kering dan juga cepet sembuhnyaÔÇØ ucap erlina

ÔÇ£heÔÇÖem, tapi kan lukanya ndak dalem-dalem banget kan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak, kamu tertembak pada bagian bahu untungnya saja anton cepat mengelurakan peluru kamu jadi ndak perlu operasi. Sebenarnya ya ndak boleh, pasti sakit banget. Tapi kalau dilihat dari robekannya kelihatannya anton sudah ahli dalam membedah, robekannya teratur dan bagusÔÇØ ucap erlina, tidak mungkin aku mengatakan kepada erlina siapa anton

ÔÇ£ndak tahu juga mbak… tapi terima kasih sudah merawatkuÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya sama-sama, dah istirahat ya biar lekas sembuhÔÇØ ucap erlina

Erlina pun berpamitan kepada ibuku, dan keluar dari kamar. ibu kemudian berbaring disamping kirkuku. Aku memiringkan tubuhku ke kiri agar aku bisa berhadapan dengan ibu, tahu sendiri kan kalau bahu kananku tertembak jadi tidak mungkin aku tindih dengan tubuhku. Ibu mengelus wajahku, elusan yang sangt aku rindukan selama ini. Elusan-elusan lembut ibu membuatku mengantuk, tiba-tiba dalam khayalanku, membuat susuku mengeras sendiri ketika teringat seorang lelaki yang selalu aku minta untuk selalu mengelus susuku ketika hendak tidur. Aku tersenyum sendiri dalam tidurku…

Hari-2
Aku bangun siang sekali, kulihat matahari dari jendela tampak sudah menyala-menyala. Kulihat jam dinding dalam kamar ini menunjukan pukul 10 pagi. Tak kudapati ibu disampingku, kulihat sekeliling juga tak ada ibu. beberapa saat kemudian ibu masuk dengan membawa handuk kecil.

ÔÇ£mama dari mana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£tadi minta handuk kecil buat mambasuh tubuh kamu. jadi kamu ndak usah mandi dulu yaÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£nanti kan bau, apa mama ndak kangen mandiin aku?ÔÇØ godaku

ÔÇ£yeee kangen sih kangen tapi…ÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£tapi apa ma?ÔÇØ aku heran

ÔÇ£tapi nanti arya ndak ada kerjaan kalau kamu sudah mandiÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£iiih masa aku disuruh mandi bareng sama aryaÔÇØ ucapku, ibu melihatku dengan pandangan yang bagaiman gitu…

ÔÇ£iiih mama lihatnya gitu deh… iya, dian sudah sama arya… tapi jangan di omongin, dian kan maluÔÇØ ucapku

ÔÇ£siapa yang maksud ke situ? Maksudnya arya yang ngater ke kamar mandi, terus kamu dimandiin sama susternya gitu. Ketahuan ya…ÔÇØ ucap ibuku, membuatku malu sendiri sudah mengakuinya dihadapan ibu

ÔÇ£huh paling ibu juga sudah tahu…ÔÇØ ucapku, sembari pipi kanan dan kiriku menggelembung

ÔÇ£sudah ndak usah dibahas lagi, masalah tahu atau tidak… ya mama kan tahu, secara mama kan ibu kamu… terserah kamu sayang yang penting kamu bahagia, ibu senangÔÇØ ucap ibuku, langsung aku peluk

Aku bercanda dengan mama, dan kemudian tubuhku dibasuhnya. Lucu juga ya, bagaimana nanti kalau mas mandiin aku pasti hiiii… digituin. Tapi itunya gede banget, kemarin saja sakit banget. Aaaaaa… aduh gimana ini… tapi tapi… aaaaaaaaa…. kangeeeeeeennn….

ÔÇ£lagi mikirin apa? Wajahnya kok memerah gitu hayooooÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£rahasia weeeeek…ÔÇØ ucapku, ibu hanya tersenyum kepadaku

ÔÇ£kemarin kamu olesi apa sayang kok orangnya langsung K.OÔÇØ ucap ibu

Aku kemudian menceritakan pertemuanku dengan ibu diah, ibu arya. dari situ aku cerita panjang lear mengenai pertemuanku. Dan disitulah ibu arya mengolesi bagian-bagian sensitifku agar aku tetap terjaga. Ibu Diah juga telah memberitahukan kepadaku kalau cukup dbasuh dengan air saja sudah hilang. Setelah cerita itu, ibu menjutkan membersihkan semua bagian tubuhku hingga benar-benar bersih. Teringat ketika aku masih kecil.

Setelah semua bersih, ibu memakaikan pakaianku kembali. Pakaian lengan panjang yang longgar, membuatku teringat akan kaos panjang yang aku minta paksa dari mahasiswaku. Kalau dulu aku ngebet banget dapat kaos darinya, tapi aneh juga ya kenapa aku harus ngebet banget? Jadi tambah maluuu… apalagi huh! Memang mahasiswa nyebelin masa sama dosennya sendiri mengkritik pakaian yang dikenakannya, pikirannya mesum banget! Tapi benar juga… aaaa pokoknya kamu salah, salah, salah dasar cowok nyebelin!

Setelah bergulat dengan perasaanku sendiri, perasaanku kembali menjadi tenang, entah apakah karena esok aku akan bertemu dengannya. Sudah terlalu rindu aku dibuatnya. Pokoknya kalau besok ketemu, mau aku… erghhh… kangen bangeeeeeeeet. Cepetan datang, eh jangan aku belum mandi, datang saja nanti mandiin aku, eh tapi aku maluuuuuu… dasar cowok nyebeliiiiin!….

ÔÇ£kangen nih yeeeÔÇØ ucap ibuku, menggugah lamunanku

ÔÇ£uh apaa sih mama, godain dian terusÔÇØ ucapku, setelah membalas ibu, pandanganku menjadi sedikit kososng melamun lagi

ÔÇ£ngalamun lagi dah kangen berat ya? berapa kilo?ÔÇØ canda ibu kembali

ÔÇ£eh… mama! Jangan godain dian terus kenapa sih uuuuhÔÇØ ucapku sembari nganmbek

ÔÇ£hmm… ternyata anak mama ini kalau ngambek cantik juga ya? pantesan, si bocah SMP itu terseret-seret…ÔÇØgoda ibuku

ÔÇ£mamaaaaaaa….ÔÇØ ucapku semakin ngambek

ÔÇ£secara kan dah berapa hari ndak ketemu sama ehem ehemnyaÔÇØ ucap ibu, mendekatiku dan mencubit kedua pipiku

ÔÇ£heÔÇÖem… banget ma…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iiih wajahnya merah banget…ÔÇØ ucap ibuk sembari memelukku dari samping. Aku tersipu malu sekali dihadapan ibu, bagaimana ya kabar cowok nyebelin itu!

ÔÇ£ma…ÔÇØ ucapku, tiba-tiba teringat akan papa

ÔÇ£ya…ÔÇØ balas ibuku

ÔÇ£ndak pengen ketemu sama papa?ÔÇØ ucapku

Ibu menghelas nafas panjang dan memandangku…

ÔÇ£iya nanti sayang kalau arya sudah datang yaÔÇØ ucapnya aku tersenyum

ÔÇ£iya ma, temui saja. papa pasti bahagia ketemu sama mama lagi..ÔÇØ bujukku

ÔÇ£mama ndak yakin nak, setelah semua yang terjadi. Walau sebenarnya itu semua… ahh… tidak usah dilanjutkan saja mama, tidak kuat kalau harus mengingat masa lalu… biarkan besok ketika bertemu, papamu mau menerima mama atau tidakÔÇØ ucap ibuku

ÔÇ£yakin deh ma, pasti mau ketemu kokÔÇØ kembali aku meyakinkan ibuku

Hari ini aku lalui dengan bercanda bareng ibuku, mengenang masa-masa indah ketika kami tinggal bersama. ya indah, kalau bajingan itu pas ndak datang kerumah tapi kalau pas datang seperti neraka. Untung dia sekarang sudah tertangkap. Hingga malam hari, erlina datang kemudian erlina meminta waktu kepada ibu agar bisa berbicara kepadaku.

ÔÇ£ada apa mbak?ÔÇØ ucapku, yang duduk diatas tempat tidurku

ÔÇ£sebenarnya ndak papa sih Cuma pengen ngobrol saja…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£wajahnya jangan gitu dong mbak, ada yang mbak pikirkan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh… anu itu… gimana ya yan ngomongnya, susahÔÇØ ucapnya, aku wanita dia juga wanita. Wanita memiliki perasaan yang mungkin seorang lelaki tidak pernah mengetahuinya. Aku merasa dia ingin mengakui sesuatu tetapi takut mengungkapkannya, mungkin aku harus memulainya terlebih dahulu agar suasana tidak canggung seperti ini.

ÔÇ£mbak… arya sudah cerita semuanya, yang terpenting harapanku cuma satu mbak. Biarkan aku yang menjadi satu-satunya untuk diaÔÇØ ucapku, membuatnya sedikit terkejut dengan ucapanku

ÔÇ£haaaaaasssssh…ÔÇØ erlina menghela nafas panjang

ÔÇ£ternyata dia sudah cerita ya? padahal aku dulu memintanya merahasiakannya, maaf yan… sebenarnya aku ingin mengakui semuanya disini bukan untuk merusak hubungan kalian hanya saja aku merasa bersalah kepadamu, hanya itu… kita sama-sama wanita, dan aku juga pasti akan merasakan sakit jika pasanganku melakukan hal yang sama, maka dari itu disini aku hanya ingin minta maaf dan aku pastikan aku akan menjadi kakak perempuannya seperti kakak kandungnya sendiri. aku tidak ingin ketika kelak kamu mengetahuinya kamu akan membencinya, karena semua adalah kesalahankuÔÇØ ucap erlina berdiri di depan ranjangku

ÔÇ£sudah mbak… harapanku ya itu tadi, tak masalah mbak tetap menjad kakak perempuannya. Hanya itu tadi mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya yan, pasti…ÔÇØ ucapnya tersenyum dan mendekatiku dari samping. Dengan hati-hati aku dipeluknya.

ÔÇ£maafkan aku yan, maaf aku tidak akan lagi memperlakukannya seperti dulu. Aku tidak tahu yan sungguh aku tidak tahu jika kamu sangat mengharapkannya, aku juga telah menghianati pacarku sendiri. mulai sekarang dan seterusnya aku akan membahagiakan alan kekasihku, aku harap kamu uga membahagiakan adikku. Hiks hiks….ÔÇØ ucapnya menangis

ÔÇ£iya mbak… hiks…ÔÇØ akupun ikut menangis, dia melepaskan pelukanku

ÔÇ£kalau dia sampai menyakitimu, bilang aku ya… biar aku hajar diaÔÇØ ucapnya, sembari memngusap air matanya

ÔÇ£iya…ÔÇØ ucapku yang ikut menangis

Kami berpelukan kembali…

ÔÇ£oh iya, jadi mau kan jadi kakak iparkuÔÇØ ucapku

ÔÇ£heÔÇÖem… punya adik ipar cantik seneng jugaÔÇØ ucap erlina

Kami kemudian berpisah dan selang beberap saat ibu kembali. Ibu tersenyum kepadaku, dan mengatakan kepadaku kalau aku lebih kuat darinya. Aku membalas ibuku, kalau dia lebih kuat dariku. Canda tawa kami bersama, hingga mengantuk dan ibu tidur bersamaku kembali.

ÔÇ£hati kamu besar juga ya nakÔÇØ ucap ibu sayup-sayup aku dengar

ÔÇ£itu semua ibu yang mengajari…ÔÇØ ucapku yang kemudian tertidur dalam pelukannya

Hari-3

ÔÇ£mama, datangilah papaÔÇØ ucapku sekembalinya ibu dari luar kamarku

ÔÇ£tapi arya belum datang sayangÔÇØ ucapnya

ÔÇ£sudahlah bu, hari ini dia pasti datangÔÇØ ucapku

ÔÇ£kamu yakin?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£heÔÇÖem ibu tenang saja, arya tidak pernah ingkar janjiÔÇØ ucapku

ÔÇ£baiklah kalau begitu, ibu mandi dulu yaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£oia bu, nanti kalau ada taksi diluar rumah sakit bilang sama supir taksinya untuk memanggilkan pak wan, gitu ya bu. Itu langganan taksiku sama aryaÔÇØ ucapku, ibu mengangguk

Setelah beberapa saat ibu mandi, kemudian aku dan ibu mengobrol sejenak. Aku kuatkan hati ibuku agar mau bertemu dengan ayah. Ya, bertemu dengan suaminya walau dia bukan ayahku secara biologis aku akan menganggapnya sebagai ayah kandungku. Setelah lama mengobrol kesana kemari ibu akhirnya meninggalkanku, peluk dan cium darinya membuatku kembali tegar menunggunya. Selepas ibu pergi, aku sendirian didalam kamar. Sejenak aku merasakan rindu yang sulit diobati, ugh jengkel banget sama cowok nyebelin itu huh!

Selang beberapa saat aku merasakan akan kehadiran seseorang didepan pintu kamar rawatku…
Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja mengatakan kepadaku ada seseorang diluar sana…
Apakah seseorang yang aku tunggu…
Mataku terus tertuju pada pintu itu…
Dadaku berdegup dengan kencang…
Kenapa seperti ini rasanya?…
Ah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*